19 September 2014

Resensi THE DANCER - "Menari Bersama Hidup"



Judul Buku                   : The Dancer
Penulis                          : Arthasalina
Tebal                             : 236 halaman
Penerbit/cetakan           : Mazola/Cetakan pertama, September 2014
ISBN                             : 978-602-296-022-5

“Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian.” – Ajeng (halaman 156)

Ini Bukan “Sang Penari” yang Itu….

Apalagi penari yang ini—boyband Infinite dengan gerakan “Scorpion Dance” yang terkenal…. Jujur saja, kalau mendengar kata “penari”, tarian jenis apa yang muncul pertama kali di pikiran kalian? Tarian unyu-munyu punya Cheribelle? Atau unyu-munyu yang lebih keren dan apik ala SNSD? Atau tarian balet “Swan Lake”? 
Scorpion Dance dalam lagu "Before The Dawn", saat Music Bank di Jakarta, Maret 2013
Tarian SNSD dalam video klip "Dancing Queen".

Bagaimana kalau penari tarian tradisional Jawa? 
http://gandringproduction.com/wp-content/uploads/2013/12/eo-pameran-sang-penari.jpg


Misalnya, kamu adalah mahasiswa calon dokter yang sedang kuliah di Universitas Diponegoro Semarang. Masa depan yang cerah menantimu, sebagai seorang dokter muda dan pintar, serta menjadi kebanggaan ayah-bunda, seperti Oh Jin-hee dalam serial drama Korea “Emergency Couple”. Tapi, kamu punya mimpi tersendiri, yang berbeda jalur dengan kuliah jurusan kedokteran. Apakah kamu rela melepas kesempatan menjadi dokter sungguhan (tak sekadar Sarjana Kedokteran) untuk meraih mimpimu? Kalau kamu tidak rela, mungkin berarti kamu sedikit pengecut, atau kurang nekat, atau…. berarti ambisimu tak sekuat Ajeng, tokoh utama novel ini.

“Maaf, ya, Bu, mungkin Ajeng akan kecewakan Bapak lagi setelah ini. Bapak minta Ajeng melanjutkan koas untuk gelar dokter. Tapi Ajeng tidak sanggup lagi. Ajeng masih punya mimpi yang harus diwujudkan.” – Ajeng (halaman 19)
Bakat menari yang bercokol dalam gen Ajeng warisan almarhum ibunya mengubahnya menjadi sosok yang berani membangkang terhadap Bapaknya yang memaksanya  kuliah di jurusan kedokteran. Setelah berhasil lulus dalam waktu yang sangat mepet, 7 tahun, dengan IPK yang mepet pula, Ajeng memutuskan untuk bergumul kembali dengan dunia tari-menari yang telah lama ia tinggalkan. Ia berangkat ke Yogyakarta dan bertemu dengan Dewi, temannya yang adalah seorang penari Sanggar Pawestri—sanggar milik keluarga besar almarhum ibu Ajeng yang telah lama tak menjadi “macan panggung”. Di sanalah pertama kalinya Ajeng “come back”, menari bersama murid tari binaan Dewi di lereng Merapi. Melalui sebuah kejadian, Ajeng bertemu dengan seorang laki-laki asal Bandung bernama Deden. Laki-laki itu mahasiswa semester tujuh jurusan Teknik Mesin yang seharusnya sedang menggarap Tugas Akhir, bukannya malah mengambil cuti untuk menjelajah Jawa Tengah.

Pertemuan mereka tak berhenti sampai di situ. Mereka berdua makin dekat setelah tinggal bertetangga di Solo. Di sana, Ajeng berusaha menghidupkan kembali Sanggar Pawestri dengan melatih para muridnya dan tampil di berbagai acara. Kariernya menjadi penari dimuluskan oleh Bu Aini, seorang dosen seni tari. Berkat bantuan Bu Aini, Ajeng bisa tampil menari di berbagai acara bergengsi. Namun, siapa tahu, ternyata Bu Aini memiliki maksud tersendiri…. Apalagi, kesan bahwa Bapak Ajeng mendadak berubah pikiran dan mendukung keinginannya menjadi penari, tentunya menimbulkan kecurigaan tersendiri. Belum lagi keinginan bapaknya untuk mengenalkannya dengan Rianti, wanita muda yang dicurigai Ajeng sebagai calon ibu barunya. Ajeng juga dibikin resah oleh hubungan “nanggung”-nya dengan Deden, dan juga insiden yang menyebabkannya menarik diri dari murid-murid sanggar asuhannya.

“Novel Profesi” yang Profesional

Ini adalah novel kedua bertagar “novel profesi” terbitan Mazola yang saya resensi. Sebelumnya, The Violinist telah saya resensi, dan jujur saja, saya kecewa akan kualitas novel tersebut yang tak memenuhi kriteria sebagai “novel profesi”. Oleh karena itu, saya agak was-was ketika disodori lagi novel sejenis oleh Divapress. Di sinilah, pepatah lama nan klise, “jangan lihat buku dari tagarnya doang”, terbukti benar.

Sang penulis, Arthasalina—meskipun penulis pemula—mampu menunjukkan bakat dan kesungguhan menulisnya melalui novel ini. Riset seputar tarian tradisional pasti telah dilakoninya sehingga dapat menyuguhkan profesionalisme seorang penari dalam tokoh Ajeng. Seperti ditunjukkan melalui kisah sejarah di balik pementasan tarian Ajeng: tarian dengan lakon Srikandi (halaman 93-95), Roro Jonggrang (halaman 107), hingga tarian sintren  yang diwarnai unsur gaib (halaman 170-171).

Saya pun dibikin jatuh cinta dengan pemilihan latar tempat dan suasana yang sangat njawani, sebagian besar di kota Solo. Tak usahlah, muluk-muluk bikin latar tempat di luar negeri dan hasilnya tidak optimal, kalau di tanah sendiri pun masih banyak yang bisa digali. Suasana keramahan khas Jawa, dengan masyarakatnya yang ramah dan rendah hati (btw, di zaman sekarang pun makin langka orang-orang Jawa yang seperti ini), membuat saya merasa ingin pulang kampung. Meskipun di kampung saya (FYI¸ Jawa Tengah bagian utara agak ke timur) suasananya tidak seramah itu juga, sih, sehingga penggambaran suasana Jawa dalam novel ini terasa terlalu ideal. Hehehe.

Isu tentang MIMPI versus KARIER yang sudah sering diangkat oleh penulis lain pun diulas kembali oleh penulis, melalui tokoh Ajeng dan Edo. Ajeng, yang dipaksa Bapaknya kuliah di jurusan kedokteran, padahal ia punya mimpi menjadi penari. Edo, yang dipaksa orangtuanya menjadi sarjana Teknik Mesin, padahal jiwanya berada di dunia jurnalistik. Isu semacam ini memang tak pernah ketinggalan zaman untuk ditaburkan sebagai penyedap cerita.

Kalau tidak salah, ini adalah pertama kalinya novel terbitan Divapress yang saya resensi, yang benar-benar anti-typo! Prok, prok, prok! *standing ovation*. Ketepatan penggunaan EYD, tanda baca, dan anti-typo adalah salah satu aspek yang tidak sepele bagi saya, yang bikin hati saya adem waktu membaca sebuah karya. Kalau hati pembaca adem, mau bagaimanapun gantung ceritanya, tetap bakal agak dimaklumi, bah!

Tentang penokohan, saya suka watak tokoh Deden. Meskipun humoris—“Penyesalan memang harus datang di akhir. Kalo datang di awal ntar penjara penuh.” – Deden (halaman 178)—dan kepedean (halaman 215), ia adalah sosok lelaki dewasa—“Kalo gue berani milih, ya harus berani juga tanggung risikonya.” – Deden (halaman 56).

Kemampuan penulis untuk menjelma menjadi seorang cowok melalui tokoh Deden pasti berperan besar dalam suksesnya penokohan ini, yang terkesan “cowok banget”. Soalnya, seringkali tokoh cowok kurang terkesan “cowok” ketika digambarkan oleh penulis cewek. Namun, dalam novel ini, sang penulis sukses menghidupkan seorang cowok bernama Deden, yang “cowok banget”. Misalnya saja, cara berpikirnya seperti di halaman 212.

Karena hati saya adem waktu membaca novel ini, maka serangkaian kebetulan yang dibikin penulis pun dapat saya maklumi.


Pelajaran Moral dari Penduduk Pribumi

Banyak pelajaran kehidupan yang saya dapatkan melalui novel ini, mulai dari penuturan Ajeng, hingga kalimat-kalimat sederhana namun berbobot milik Mas Anto dan Mas Joko.

“Bagaimanapun juga, pernah mengenyam pendidikan tinggi akan mengubah cara bicara seseorang. Bicaranya lebih tertata dan tidak sembarangan.” – Ajeng (halaman 56)

“Perbedaan itu ada untuk diterima dan dihargai. Bukan dipaksakan menjadi sama.” – Ajeng (halaman 57)

“Kepintaran itu nomor sekian, Mas, yang penting punya modal niat, sungguh-sungguh sama tahan banting.” – Mas Joko (halaman 143)







Karena sudah bikin hati saya adem dan menambah pengetahuan saya tentang tari tradisional Jawa, maka saya kasih bintang 3 untuk novel ini! Saya berharap, novel-novel yang mengangkat budaya tradisional Indonesia seperti ini terus bermunculan—semoga saya bisa menyumbang karya juga. Hihihi.


Reaksi:

4 comments:

  1. terima kasih, Mbak :) maaf mau mengoreksi, tokoh utama prianya Deden bukan Edo hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, Mbak penulisnya nongol hehehe
      hmm, saya nggak bilang Edo sebagai tokoh utama lhooo...

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets