Showing posts with label mazola. Show all posts
Showing posts with label mazola. Show all posts

27 April 2016

[Resensi "The Violinist"] Violino, si Violinis

Judul Buku: The Violinist
Penulis: D.S.M. Dedelidae
Tebal: 264 halaman
Penerbit/cetakan: Mazola/Cetakan pertama, Juni 2014
ISBN: 978-602-255-620-6
Harga: Rp 38.000,00

“Kita? Sejak kapan aku dan kamu menjadi kita? Bukannya dulu kau membenci kata kita di antara aku dan kamu?” – Alle (halaman 260)
(By the way, pada penulisan kalimat tersebut, seharusnya kata “kita” diapit tanda petik *tangan usil reviewer*).

The Violinist. Judulnya sudah mengindikasikan cerita apa yang akan dijalin oleh penulis. Tentang seorang violinis bernama Violino Adriano yang masih belum bisa membebaskan diri dari jerat bayang-bayang mantan kekasihnya, Aleffra, yang telah meninggal tertabrak kereta api. Ia jadi suka mengurung diri dari lingkungan sekitar dan bersikap dingin dengan siapapun, kecuali kakaknya, Rea, dan sahabatnya, Ale. Hampir setiap malam ia memainkan alunan menyanyat hati dengan violinnya, di Stasiun Termini (sambil berdiri sangat mepet dengan rel kereta) atau di puncak atap rumah.

Lain dengan Violino alias Vio, permainan violin Alla masih sangat jelek, jika dibandingkan dengan permainan Dita, teman sekaligus musuhnya yang suka menyombongkan diri. Tapi, kemampuannya cukup berkembang dengan baik saat ia les violin dengan Kak Rea. Ke mana-mana ia membawa violinnya yang ia beri nama Vio, tapi belum percaya diri untuk memainkannya di tempat umum. Setelah Kak Rea kembali ke Roma, Alla bagai bulan yang ditinggalkan matahari. Ia mencari guru les ke sana-sini, tapi tak ada yang seramah, selembut, dan sebersahabat Kak Rea. Makin gilalah dia lantaran tanpa pikir panjang ia menerima tantangan Dita untuk berkompetisi memainkan violin pada bulan September.

Liburan semester itu Alla habiskan di Roma untuk mengunjungi sahabatnya Ale. Begitu sampai di Roma, di Stasiun Termini tepatnya, alunan violin membuai telinganya. Membuatnya penasaran akan sosok laki-laki yang sedang bermain violin sambil berdiri di tepi rel kereta. Alunan nada itu membuat Alla jatuh cinta, dan ia makin penasaran siapakah sosok lelaki itu. Kisah klise “dari benci jadi cinta” tercipta pula di sini.
***

Novel Profesi Ini Kurang Profesional

Kategorinya saja #novelprofesi, pasti saya langsung membayangkan cerita seorang violinis yang menggelar pertunjukan, tentang saingannya yang ingin menjatuhkan, tentang kisah pribadinya.... Mungkin seperti novel Galila, yang bisa disebut novel profesi artis. Sayangnya, kisah violinis sebagai profesi kurang mewarnai novel ini. Profesi, kan, berarti “bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu”[1], sehingga tokohnya saya harapkan memiliki pekerjaan sebagai violinis beneran. Kenapa tadi saya bilang “kurang profesional”?

Tokoh utama novel ini, Alla, hanyalah seorang gadis yang sedang belajar menjadi violinis. Bukan violinis beneran. Tokoh utama lainnya, Violino, memang seorang violinis, tapi kurang ditonjolkan elemen-elemen pendukung pekerjaannya, seperti ketika dia membuat komposisi, misalnya. Atau ketika dia membaca partitur, atau hanya mengalunkan nada-nada dengan kunci tertentu.... Penulis hanya sekali menyinggung hal teknis tentang violin, yaitu ketika Kak Rea menjelaskan nada dasar masing-masing senar violin (halaman 36). Oke, mungkin penulis memaksudkan pekerjaan  Kak Rea sebagai guru les violin juga termasuk sisi “profesi”. Tapi, tokoh Kak Rea di sini hanya tokoh pendukung, kehadirannya hanya samar-samar mewarnai cerita. Seluruh isi cerita malah berfokus pada kisah Alla yang mengejar-ngejar Vio, dan Ale yang berada di antara mereka. Dengan begini, embel-embel “violinis” itu hanya menjadi tempelan, bukan ide utama cerita.

Bicara masalah setting tempat—kota Roma. Bukankah Roma itu kota yang indah? Seharusnya jauh lebih indah jika penulis lebih mau mendeskripsikan keindahannya. Yang cukup tergambar dengan baik hanyalah Fontana di Trevi. Adegan kebanyakan bertempat di Stasiun Termini (apa lagi yang bisa dideskripsikan dari sebuah stasiun?), di rumah Vio, dan di rumah Ale. Beberapa adegan mengambil tempat di jalanan, Fontana di Trevi, dan Juliet’s House (eh, saya jadi pengin nonton lagi film “Letters to Juliet”). Di tengah-tengah cerita, saya jadi bosan karena kejadian tertentu sering berulang, jadi seperti rutinitas (adegan di Stasiun Termini itu, lho). Nuansa kota Roma akan lebih hidup jika misalnya penulis menyelipkan deskripsi di mana lokasi tempat tinggal Ale dan Vio. Di kota Roma sebelah mananya, sih? Bahkan, novel “Partitur Dua Musim” (yang sama-sama berkisah tentang alat musik gesek itu, dan sama-sama ber-setting luar negeri) saya rasa lebih “profesional”, padahal novel itu tidak berjuluk “novel profesi”.

Bicara tentang tokoh, kelakuan tokoh Alla bikin saya gemas. Sudah tahu kalau dia sebal menerima SMS usil Dita terus menerus, kok, tetap dibalas? Bahkan dia sendiri bilang kalau “aku sengaja tidak membalas pesan singkat Dita. Aku sudah kenal kebiasaannya. Dia akan terus membalas pesan singkatku sebelum aku yang mengakhirinya sendiri.” (halaman 115), tetapi setelah itu pun dia membalas pesan Dita (-_-). Penulis juga seperti menganggap para pembaca sering lupa ingatan, sehingga harus terus diulang bahwa “Dita itu sombong”, bla-bla-bla.
Saya juga menemukan beberapa hal yang kurang logis dan atau kurang bisa saya pahami maksudnya.
1. “Matahari yang tepat berada beribu-ribu mil, mungkin juga berjuta-juta mil di atas kepalaku...” (halaman 76)
FYI, jarak antara matahari dan bumi sekitar 150 juta km, yang juga disebut sebagai satu tahun cahaya.
2. Sepuluh soal dengan jawaban yang sudah cukup membuat kepala ini ingin aku jedorin ke dinding. (halaman 45)
Maafkan kelemotan saya, tapi saya lebih bisa mengerti jika kalimat itu diubah menjadi begini, misalnya: “Sepuluh soal dengan jawaban rumit nan panjang itu membuatku frustasi hingga ingin menjedorkan kepala ke dinding.”
3. Ah, matanya memang tajam.“Hei, sedang apa kamu di sana? Tak usah bersembunyi!Ia memergoki aku. (halaman 150)
Urutan peletakan tiga kalimat tersebut terbalik, harusnya kalimat pertama dipindah setelah kalimat ketiga, sehingga menjadi lebih koheren.
4. Empat puluh lima hari berarti 540 jam, berarti juga 32.400 detik. (halaman 168)
Pernyataan itu benar, sampai “540 jam”. Seharusnya, 540 jam itu sama dengan (lingkari jawaban yang salah, hihihi):
a. 32.400 detik
b. 32.400 menit
c. 1.944.000 detik         
Saya pernah bilang di ulasan novel “Bukan Salah Waktu”, bahwa semakin detail tulisan, semakin banyak pula kesempatan untuk salah.
5. “Aku tidak bisa mengatur suhu matahari yang menerpa tubuhku lagi. (halaman 173)
6. Tidak ada Vio di sini, sekalipun aku mengedarkan mata. Di dinding sekitar balkon pun dipenuhi surat-surat cinta. (halaman 218)
Dua kalimat di atas tidak berhubungan sama sekali.
7. Iya, bagaimanapun berubahnya seseorang kalau yang dicintainya hanya satu orang, dia akan mencintai orang itu dengan tulus. (halaman 253)
Nah, ini juga saya sangat tidak mengerti maksudnya. Saya coba baca berkali-kali, coba saya ubah-ubah kalimatnya…. saya tetap tidak menangkap esensinya.

image
Sumber di sini.
8. Ada beberapa istilah asing (terutama judul bab) yang tidak dilengkapi footnote atau penjelasan artinya di dalam narasi. Seperti, “oblique fringe X itu apa, sih? (halaman 8) Eh, maaf, ini kayaknya saya yang kuper ><.

9. Adegan di halaman 122 yang membuat saya bertafakur cukup lama hanya untuk mencoba membayangkan kejadian itu, yang terasa janggal di otak saya. Akhirnya saya mencoba menggambarkan skema kejadian seperti berikut.
image
Setelah  menggambarkan itu, saya tetap bingung. Sepertinya ini karena adegan yang tertulis di novel itu miskin detail aksi. Semestinya penulis bisa lebih “menunjukkan (show)” seperti apa, sih, adegan itu, hingga pembaca tidak kebingungan. Memang, sih,  tidak semua adegan harus didetailkan…. *menunduk dalam, ampuni saya*
***
Awalnya, ketika membaca adegan dengan sudut pandang Violino, saya jadi tertarik ingin melanjutkan. Saya memang suka membaca kisah orang-orang kelainan mental seperti itu (menurut saya, depresi dan tak bisa move on dari masa lalu itu juga merupakan kelainan mental, hehehe), apalagi tokohnya laki-laki. Karena saya perempuan, maka saya tertarik membaca sudut pandang laki-laki. Just as simple as that. Eh, tapi, ternyata… belakangan malah penulis lebih banyak menuliskan sudut pandang Alla.

Bagian akhir novel ini juga kurang memuaskan. Terlalu mendadak, menurut saya, Vio tiba-tiba berubah begitu saja. Karena beberapa kelemahan tersebut, saya cuma berani memberi 2 bintang buat novel ini.


[1] Ambil dari KBBI.

5 September 2015

[Resensi THE ARCHITECT] Gulungan Sketsa Kehidupan dalam Tabung Angan

Judul: The Architect
Penulis: Ariesta F. Firdyatama
Editor: Miz
Penerbit: Mazola
Cetakan: I, 2015
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-255-859-0
Harga: Rp 45.000,00
Rating saya: 4/5

(Disclaimer: saya ingin membuka resensi ini dengan petikan menarik dari dalam buku, tapi sayangnya saya tak menemukan satu pun. Dari sini saya belajar, sering kali buku bagus dinilai bukan dari jumlah petikan menariknya. )

Saya bukan mahasiswa arsitektur, pun tak pernah berkeinginan menjadi arsitek. Namun, saya tahu bagaimana beratnya tugas-tugas kuliah mereka. Di hari-hari biasa kuliah, di selasar Kantor Pusat Fakultas Teknik, selalu bisa saya jumpai beberapa dari mereka: nggak siang, sore, malam, menggelar kertas A0 di pelataran. Tabung-tabung terbuka, mulutnya menampilkan gulungan tebal kertas, alat-alat tulis berserakan. Ketika musim penghujan datang dan angin kencang meneriaki setiap sisi selasar yang memang terbuka, mereka berloncatan gesit menyelamatkan kertas-kertas berisi gambar arsitektur yang harganya semahal gelar sarjana teknik. Anditio Wirawan, alias Tio, sudah mengalami itu semua, hingga bergelar sarjana teknik di belakang namanya. Memang tak salah jika orang bilang kebahagiaan menyambut kelulusan hanya berlangsung satu hari. Setelah acara seremonial berakhir, terasalah kegalauan bagi Tio: ke mana setelah ini? 

Bagi seorang arsitek yang masih fresh, baru diangkat dari panci sup perkuliahan, dunia pekerjaan tak selalu ramah. Mendapat pekerjaan di kantor kontraktor lokal skala kecil pun sudah menjadi berkah baginya. Namun tantangan kerja yang lebih berat justru berasal dari rekan kerjanya yang korup dan melukai idealismenya. Sebuah percekcokan yang tak terbendung akhirnya membuat Tio memutuskan untuk hengkang dari kantor tersebut. Jadi pengangguran lagi. Tangan nasib baik menyentuh pundaknya dalam wujud tawaran  Pak Broto, seorang laki-laki paruh baya yang baik dan murah hati. Tawaran untuk merancang sebuah rumah, sekaligus memimpin pembangunannya pasti tak akan dilewatkan oleh Tio! 

Tantangan tak berhenti sampai di situ. Tangan nakal si nasib mengulurkan pilihan kedua: panggilan kerja sebagai arsitek junior di sebuah konsultan arsitektur yang cukup ternama di Jakarta, PT Prima Adhi Karya. Ketika pilihan telah dibuat, tangan nasib masih punya kejutan untuk Tio. Akankah mimpinya membangun kantor konsultan arsitektur sendiri tercapai?

***

Ini adalah buku keempat seri #NovelProfesi dari Penerbit Mazola yang saya baca, dan sejauh ini, menurut penilaian saya ini adalah yang paling saya nikmati. The Doctor juga tak kalah bagus, tapi terlalu dramatis bagi saya.

Baca resensi ketiga buku yang lain di sini:

Alurnya bergerak dengan tempo yang pas. Meski terbilang cukup tebal, buku ini tak ditebal-tebalkan. Gaya bercerita penulis lincah dan berbobot. Maksudnya nggak ringan banget, gitu. Ada metafora-metafora unik (salah satu contohnya ada di bawah) dan pengetahuan-pengetahuan baru tentang dunia arsitektur.

Sebagai tokoh utama, karakter Tio tergambar sangat artistik, ups, maksudnya "arsitek". Penulis berhasil menggambarkan secara totalitas pemikiran dan jiwa seorang arsitek dalam diri Tio. Pemikiran khas arsitek sangat pekat melingkupi isi otak Tio, misalnya ketika ia merancang rumah hijau Pak Broto di hal. 30. Setiap pertama kali memasuki sebuah gedung, secara otomatis ia pasti mengamati arsitektur bangunan tersebut dan mengomentarinya.

Melalui karakter Tio yang pantang menyerah dan penuh gairah dalam menggapai cita-citanya, penulis menggambarkan seperti apa sejatinya "passion" itu. Pernah saya dengar dari seminar-seminar motivasi yang dulu saya hadiri, bahwa passion adalah sesuatu yang kaukerjakan dengan sukacita; kau menikmatinya sampai lupa waktu. Seperti halnya arsitektur bagi Tio.

"Jam dinding berdentang dua belas kali. Satu hari telah habis menjadi bangkai waktu. Membuai Tio dalam kekhusyukan membuat desain maket digital itu. Seperti seorang Kamajaya yang jatuh cinta berat pada Kamaratih." 
(hal. 30)

(Ini contoh metafora unik yang saya singgung tadi. "Seperti seorang Kamajaya yang jatuh cinta berat pada Kamaratih." Siapa Kamajaya dan Kamaratih?)

Dalam coaching clinic yang diadakan oleh Bentang Pustaka, dan saya beruntung jadi salah satu pesertanya, Dee pernah berpetuah: ciptakanlah tokoh utama yang kuat, lewat aksi-aksinya yang menggerakkan alur cerita. Bukan malah alur yang menyeret tokoh utama dalam arusnya. Dalam hal ini, Tio cukup berhasil menjadi tokoh utama yang kuat. Berbagai tindakan dan keputusannya atas pilihan-pilihan dalam hidup mampu menggerakkan alur cerita dan bahkan hati pembaca. Ketika harus memilih di antara proyek rumah Pak Broto atau kerja di PT Prima Adhi Karya. Ketika harus memilih: menyerah sebelum mencoba ikut kompetisi arsitektur se-Asia Tenggara atau tetap mengikutinya meski waktunya mepet. Hal-hal semacam ini sungguh pernah saya alami, sehingga sosok Tio terasa nyata.

Namun, ada saat ketika sikap Tio agak munafik (terhadap selera Vira akan baju-baju mahal). Awalnya ia mencerca Vira karena membeli baju couple yang harganya setengah juta (pakai uang Tio, lagi). Namun setelahnya, ketika memakai kemeja kembaran itu, ia menyadari bahwa "selera Vira soal mode memang bagus" dan kemeja itu "seperti menyuntik kadar kegantengan Tio hingga bertambah sekian persen; tampak pas badan, jelas beda dengan produk baju konveksi Pasar Klewer atau Tanah Abang" (hal. 102).

Padahal, sebelumnya Tio berkata pada Vira, "Sebagus apa pun, yang namanya baju ya cuma dari sehelai kain. Mau yang limited edition atau keluaran Tanah Abang fungsinya sama, kan?" (hal. 97)

Tokoh Rasti sangat lovable. Keceriaan dan keluguan berpadu dengan kesederhanaan, sikap pantang menyerah, dan kerelaan berkorban demi adik dan bapaknya. Lantas apa kekurangan Rasti? Nggak suka bikin model 3D, padahal ia sekolah di SMK jurusan desain! Tapi belakangan ia mau belajar.

Awalnya saya pesimis akan kisah cinta Tio-Rasti. Pasalnya, Rasti masih SMK, sedangkan Tio sudah 25-an. Hmm, tapi ternyata kisah cinta mereka cukup cute. Hehehe. Sementara itu, kisah Tio-Vira mirip script sinetron, deh. Saya sempat terbawa emosi ketika Vira memfitnah Tio di depan Rasti yang sedang hamil tua. Tapi saya lega karena perselisihan ini tak berlangsung lama-lama. Vira akhirnya sadar dan mengakui kesalahannya. Huft.

Tokoh lain yang bikin saya tertarik adalah Pak Broto. Ia digambarkan Tio sebagai "bukan tipikal bos rewel yang begitu hobi menguliti karyawan yang melakukan kesalahan dengan serentetetan kata-kata yang bisa saja bikin kuping budek; merangkul karyawan; tak perlu banyak cakap, berikan saja contoh dan pendekatan secara pribadi" (hal. 43). Wah, saya akan selalu baik-baikin bos saya (kalau bos saya kayak Pak Broto).

Di halaman yang sama, saya menemukan satu kalimat ganjil:
"Kalaupun boleh meminta, sangatlah ingin Tio memiliki seorang pimpinan macam Pak Broto. Hari gini, perbandingan bos yang tidak memperlakukan para buruh layaknya mesin mungkin seribu dibanding satu." 
(hal. 43)
Mungkin saya akan lebih menangkap maksudnya jika begini: perbandingan bos yang tidak memperlakukan para buruh layaknya mesin dengan sebaliknya mungkin satu banding seribu.

Kemudian, saya juga menemukan inkonsistensi nama. Pak Rayhan di halaman 248 tertulis Pak Reyham, tapi selanjutnya Pak Rayhan. Hmm, jadi memang Rayhan--mungkin hanya typo atau lupa.

***

The Architect menyuguhkan pembelajaran tentang kehidupan kerja dengan tidak menggurui. (Ini penting terutama bagi para mahasiswa galau skripsi dan fresh graduate yang masih pengangguran. Hayo tebak, saya yang mana 
  • Idealisme mahasiswa vs realita dunia kerja | Kuliah penuh kerja keras selama empat-lima tahun. Setelah lulus ternyata dunia kerja tak bisa diraih semudah rencana idealis. Lingkungan kerja terkadang kurang mendukung perkembangan karier. Misal, adanya rekan kerja yang lebih senior sehingga merasa lebih segalanya daripada kita yang fresh graduate (meski level pendidikan kita lebih tinggi daripada senior tersebut, sering sekali kita dianggap tidak tahu apa-apa karena kalah dalam pengalaman kerja). Penulis menggambarkan ini melalui sikap ngotot dan sok tahu Mandor Yanto vs keteguhan pemikiran ilmiah Tio.
  • Perusahaan/kantor impian tak selalu seindah kenyataan | Ketika bekerja di PT Prima Adhi Karya, Tio memang bergaji besar, tapi itu harus dibayar dengan lingkungan kerja yang kurang nyaman. Lain ketika ia bekerja di CV Angkasa Karya, konsultan arsitektur lokal di Solo. Gajinya memang hanya sekitar 30% dari gaji sebelumnya, tapi lingkungan dan rekan-rekannya sangat ramah dan menyenangkan.
  • Pantang menyerah, terus optimis, pandai membaca dan memanfaatkan peluang secara positif | Selain terpatri pada tokoh Tio, sikap pantang menyerah dan terus optimis juga terlihat dari sikap Rasti dalam menghadapi berbagai tantangan. Bicara tentang peluang, saya merujuk pada saat Tio dan Pak Danang memanfaatkan peluang dari "sampah" CV Angkasa Karya. Dari situ, akhirnya mereka berdua bisa mendirikan kantor konsultan sendiri.
    N
    amun, ada juga yang memanfaatkan peluang secara tidak fairLihatlah yang telah dilakukan Mandor Yanto dan Febrian. Mandor Yanto mengorupsi bahan-bahan bangunan untuk dijual lagi, sedangkan Febrian "mencuri" klien-klien perusahaan tempatnya bekerja.

Novel ini menggambarkan dengan baik bagaimana profesi arsitek, jadi memang layak menyandang gelar #NovelProfesi. Pesan dan teladan yang tersampaikan lewat aksi para tokohnya menjadikan buku ini tak hanya berperan sebagai hiburan, tapi juga pembelajaran hidup. Sayangnya, buku ini belum nongol di Goodreads, jadi saya nggak bisa kasih rating di sana. 

8 August 2015

August Book Haul



You can find this on Goodreads.
The first book I started to read early this month was Sputnik Sweetheart, a book by Haruki Murakami, which first published in 1999. I am reading the e-book version (still isn't finished yet), and I can't read this as fast as when I read a physical book. This is the second work of Murakami I read, the first one was Blind Willow, Sleeping Woman. Though, this is the first of his novels that I read. Using his specific characteristic of writing style, Murakami told about Sumire, a girl who fell in love with a girl too, Miu. He used the first person point of view, but the narrator wasn't the main characters. Previously, I also found his tendency to use this kind of point of views in several short stories in Blind Willow, Sleeping Woman.

You can find this on Goodreads.
The second book I read concurrently with Sputnik Sweetheart is The Hundred-year-old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared by Jonas Jonasson. I borrowed this book from my friend's book shelf, Halimah (she's the one who's a die-hard fan of Ika Natassa). She got this book from a blended package from Litbox. It was a long time since I saw the Indonesian-translated version of this book at several book stores, despite of the fact that I was attracted by its long title about a long-lived old man, I never decided to buy it. Actually, I have had the e-book version, but as you've known it before, I prefer to read a physical book than a digital one. (Although I have read e-book version of some books). I hope I can finished those two books soon, since I have another three books I need to review, from Divapress.


Beside those two (which I haven't finished yet), I have finished reading Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan, one of the Indonesian influential writers. He was given a nickname as "the next Pramoedya Ananta Toer".


Then, I've got these three new-released books from Divapress.

You can find this on Goodreads.

You can find this on Goodreads.


I like the cover of Kafe Serabi and Caraphernelia. The latter has a title that make me wonder what it is about. While, the The Architect is one of a book series called Novel Profesi (a genre published by Divapress which tells story about the main character's profession.) Previously, I have read another books of this genre, included The Violinist, The Dancer, and The Doctor.

That's my August Book Haul. How about yours? Let me know by submitting your comment below! ^^

18 May 2015

[Giveaway Marathon] The Winner Announcement of Episode 5


Halo, selamat berjumpa kembali bagi semua yang sudah menantikan pengumuman pemenang episode 5! Sebelumnya, saya mau minta maaf karena ada beberapa (atau mungkin banyak sebenarnya?) pengunjung Giveaway Marathon #5 ini yang mengeluhkan penggunaan form Rafflecopter. Memang, sih, lebih berat daripada Google forms, sehingga yang koneksinya nggak kuat--meskipun tahu jawabannya--jadi nggak bisa ikutan. Namun, perlu dipahami juga, bahwa saya beralih ke Rafflecopter (sebelumnya saya juga sudah pernah pakai Rafflecopter, sih) karena suatu alasan. Antarmuka form Rafflecopter lebih enak digunakan dan efisien bagi saya maupun bagi para pejuang kuis, tentunya di luar bobotnya yang berat itu, ya, dibandingkan Google forms. Ini sekadar pendapat saya, pastinya banyak orang lain yang merasa bahwa Google forms lebih enak digunakan daripada Rafflecopter.

Sebenarnya tebak-tebakan episode 5 ini gampang, kan? Keenam buku itu sudah pernah saya resensi, jadi kalian bisa mengintip di resensi saya, apa sih genre dari tiap-tiap buku. Atau kalian bisa cari di internet. Atau, kalau malas, ya dikira-kira aja dari judulnya. Hehehe. Mungkin ada dari pejuang kuis yang punya jawaban lain dari jawaban saya, jadi saya minta maaf. Karena kuis ini yang ngadain saya, jadi jawaban yang paling benar adalah yang sesuai dengan jawaban saya.

Jawaban yang paling benar adalah:

1b, 2b, 3d, 4a, 5c, 6c.


Buku "Lukisan Dorian Gray" memang ada unsur thriller-nya, tapi ia lebih digolongkan ke genre sastra Eropa yang sangat berpengaruh pada masa itu. Sementara itu, buku "Miminlicious" itu memang menyoroti profesi sebagai admin media sosial, tapi ia bukan novel, sehingga saya tidak menggolongkannya ke dalam novel profesi. "Miminlicious" ini lebih ke genre komedi dan personal literature.

Ternyata, ada 5 orang yang jawabannya benar, sehingga saya harus mengundinya untuk mendapatkan 2 pemenang. Dan, setelah undian dikocok, keluarlah 2 nama berikut ini.

Ananda Nur Fitriani
@anandanf07

Ratna Wahyu Wulandari
@ratna_wewe

Selamat untuk para pemenang!
Kedua pemenang akan saya hubungi segera. Tunggu, ya!

Untuk tiga pejuang lain yang jawabannya benar, sebenarnya saya ingin memberi hadiah juga. Tapi karena saya harus menepati kata-kata saya sebelumnya, maka saya hanya bisa memberi hadiah untuk 2 orang di antara kalian. Maaf >,<
Untuk para pejuang lain, tetap semangat! Masih ada giveaway berikutnya! ^^



7 February 2015

[Resensi THE DOCTOR] Kebenaran yang Ironis dan Paradoksal di Balik Stestoskop dan Jas Putih


Judul Buku                     : The Doctor
Penulis                           : Rahadi W. Pandoyo
Editor                             : Itanov
Tebal                              : 291 halaman
Penerbit/cetakan           : Mazola/Cetakan I, 2015
ISBN                              : 978-602-255-778-4
Harga                             : Rp 44.000,00



Rating                            : 


Dokter. Presiden. Artis. Salah satu persamaan dari ketiganya: mereka selalu dielu-elukan, tapi sekalinya gagal menjaga imej, mati pun terlihat lebih indah daripada terus hidup dengan menyandang profesi mereka.
Dokter adalah profesi yang dipenuhi paradoks. Di satu sisi, ia dipuja-puji para orang tua di seluruh penjuru negeri, yang memaksa anaknya kuliah di jurusan Kedokteran. Apapun akan dilakukan. SNMPTN Undangan tak lulus, maka SNMPTN Tulis jadi sasaran, atau segenap Ujian Masuk lainnya yang diadakan secara mandiri oleh perguruan tinggi. Tak lolos semuanya (yah, mau bagaimana lagi, passing grade jurusan ini amat tinggi, dan otak anaknya pas-pasan), maka jalur belakang diusahakan, meski itu harus menggadaikan sertifikat tanah dan rumah. Entah apa yang menjadi pertimbangan para orang tua keranjingan gelar kedokteran itu. Apakah sedemikian mulia dan fantastisnya pekerjaan dokter? Apakah semua dokter, begitu berhasil menyelipkan gelar “dr.” di depan namanya, lantas jadi kaya dengan memeras uang pasien yang memelas? Mungkin itulah yang selama ini ada di pikiran orang awam mengenai profesi dokter. Maka tak heran, bahkan Anton Chekov pun bilang bahwa dokter itu kerjaannya kalau nggak memeras, ya membunuh. Ouch, ini sungguh mengerikan.
Tapi, melalui novel ini, Rahadi W. Pandoyo menyingkapkan tabir yang selama ini menyembunyikan sisi paradoksal dari profesi dokter. Jelas, dokter tidak sama dengan sarjana hukum. Malah, bisa dibilang, sarjana hukum adalah predator bagi para dokter.

Siapkah dirimu untuk masuk ke dalam gua amat gelap dalam sudut batin seorang dokter?


***
“Hari sial memang tidak berwarna, tidak seperti hari libur yang berwarna merah.”
(hal. 130)
Adib, sang dokter muda yang baru beberapa bulan bekerja sebagai dokter jaga di RS Kiara Medika, tidak tahu bahwa hari itu gigi-geligi sang nasib akan mulai mencuili ujung lolipop manis kehidupannya. Sejauh ini, hidupnya berkecukupan, dibanding dulu ketika masih kuliah di jurusan kedokteran. Ia mampu menikahi Nirmala, yang sekarang sedang hamil muda, mengontrak rumah, dan membeli sebuah motor butut. Hari itu, seorang pasien wanita berambut cokelat yang datang ke UGD, akhirnya kehilangan nyawanya di meja operasi. Tidak adanya informed consent (surat persetujuan operasi) menghantarkan Adib keluar Kiara Medika dengan menyandang status “dipecat”.
Menjadi dokter di klinik biasa tentunya tak dapat memenuhi kebutuhan keuangannya, apalagi Nirmala sedang hamil. Menjadi tukang parkir pun dilakoninya. Timbulnya alergi pada seorang pasien wanita berambut cokelat membuatnya dipecat lagi, hingga akhirnya ia membungkus rapi stetoskop ke dalam peti kenangan. Dengan bantuan Mitha, dokter muda nan cantik jelita mantan adik tingkat Adib di Universitas Brawijaya, Adib bisa mendapat pekerjaan menjadi staf gudang supermarket milik pamannya. Melihat Mitha kembali, yang dulu pernah ia sukai diam-diam, membuat hati Adib bergetar kembali. Lingkungan kerjanya kini cukup ramah dan cocok dengannya, dibandingkan saat menjadi dokter di Kiara Medika. Namun, sang nasib masih ingin menggerogoti lolipopnya ternyata. Bayinya meninggal di dalam kandungan. Nirmala diculik dari sang suami, dan disandera oleh keluarganya sendiri, karena Adib dianggap suami yang tidak bertanggungjawab.
Akankah datang masanya kabar baik datang kepada Adib? Akankah datang masanya stetoskop itu kembali bergelayut di atas jas dokter putihnya?
***

Novel ini adalah #novelprofesi ketiga yang saya baca, setelah The Violinist dan The Dancer. Dari ketiga novel ini, The Doctor adalah yang paling sukses menyingkapkan kerja keras di balik sebuah profesi, dengan jujur dan apa adanya. Ketika melihat seorang dokter berjalan kaki di sepanjang jalan sekitar RS Sardjito, di mata saya, penampilan eksteriornya merefleksikan gelombang prestise dan kemapanan. Namun, ternyata, selama ini saya berada di dalam ruang interogasi dan berusaha memandang lewat cermin satu-arah ke luar, ke arah para dokter yang mengamati saya dari luar. Saya tidak bisa melihat mereka, tapi mereka melihat saya. Nah, melalui novel ini, Rahadi W. Pandoyo seolah-olah mematikan lampu dalam ruang interogasi saya, sehingga sekarang cermin satu-arah itu berubah jadi kaca jendela biasa. Pada akhirnya, saya mampu melihat dengan jelas seperti apa sebenarnya kehidupan profesi dokter.
Dengan plotnya yang melaju lincah, dan terkadang tak membiarkan saya untuk sekadar menepuk nyamuk yang menancap di paha, penulis mampu membawa emosi saya mengikuti arus yang ia inginkan. Masalah demi masalah mengguyur tokoh utama tanpa henti, dan perlakuan-perlakuan tidak adil yang ia terima membuat saya mengertakkan gigi. Ingin sekali saya lempar buku ini lantas saya injak-injak dengan gemas atau saya duduki dan saya kentuti. Perlakuan keluarga pasien yang menuntutnya hanya karena ia terkena alergi pada kulit (padahal Adib sudah memberinya obat dengan benar), dan juga pihak LSM siluman yang tanpa basa-basi merampok berjuta-juta dengan dalih tuntutan ini-itu. Mereka mengira semua dokter adalah orang kaya, yang hobinya memeras uang pasien. Padahal, saat itu, gaji Adib lebih rendah dibanding penghasilan sebulan tukang parkir.
Sebagian masyarakat pelosok juga masih menganggap dokter bukan manusia. Mereka maunya dilayani setiap saat, lalu kalau ada salah sedikit, dokter yang disalahkan. Ini adalah cerita Adib ketika ia melaksanakan tugas pengabdian di luar Jawa. Keistimewaan tokoh utama adalah ia jujur; berani berterus-terang meski banyak orang menutupinya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa ia lebih memilih bekerja di rumah sakit terkenal, di mana ia akan digaji dengan pantas, dibandingkan melakukan pengabdian di pelosok negeri, dan terancam membusuk di sana karena tidak ada dokter pengganti. (Padahal mungkin dokter lain akan sok pencitraan mengutamakan pengabdian). Alasannya, selain karirnya tak bisa menanjak, para warga di sana tidak tahu terima kasih dan tidak menghargai pengabdian seorang dokter.[1]
Di balik segala kerja keras, teguh pendirian, dan idealisme seorang Adib, saya mendapati bahwa kepribadiannya juga paradoksal. (Yah, meski Adib berhasil tetap teguh dan menolak mentah-mentah tawaran sebagai dokter aborsi yang penghasilannya menggiurkan.)
Pertama, saat masih kuliah, berasal dari keluarga miskin membuat Adib hidup mandiri dan bahkan sering tidak makan agar bisa membeli buku kuliah. Tapi, anehnya, ia mau mencari uang dengan cara mengerjakan tugas-tugas kuliah teman-temannya. Saya rasa, seorang yang sedemikian idealisnya seperti Adib tak akan melakukan hal itu.
Kedua, ketika bertemu Mitha kembali, seorang yang sedemikian dewasa dan teguh-pendirian seperti Adib terguncang pikiran dan perasaannya. Untungnya, ia ingat akan istri dan calon anaknya.
Ketiga, Adib sempat galau parah akan keyakinan-dirinya. Saat jatuh, ia merasa pekerjaan dokter memang tidak cocok untuknya, yang hanya anak seorang buruh pabrik tahu miskin. (Haloooo, Adib, Adib, masih sadar (sambil menampar-nampar pipi Adib)? Di mana keteguhan hatimu (plak!)? Tidakkah kauingat perjuanganmu selama kuliah kedokteran (plak!)?) Untunglah, akhirnya Adib sadar kembali bahwa ia memang dilahirkan untuk menjadi seorang dokter. Dari sini, saya bisa melihat bahwa penulis berhasil menggambarkan keresahan dan perang batin dalam pribadi tokoh utama dengan baik.
Yang bikin saya muak adalah perlakuan keluarga Nirmala terhadap Adib, yang sangat mempersalahkan Adib, seolah-olah ia bukan siapa-siapa. Memang keluarga Nirmala keluarga kerajaan Inggris, apa? Sok banget, aha!. Dan menurut saya, mereka bersikap lebay. Untunglah, akhirnya penulis berhasil menyadarkan Nirmala untuk minggat dari sanderaan keluarganya dan kembali pada suaminya.
“Berikan aku anak lagi, Bang. Aku tidak bisa mendapatkannya dari orang lain, bukan?” (hal. 286)[2]
Melalui The Doctor, penulis tidak hanya mengorek pahitnya kehidupan seorang dokter, tapi juga mengangkat isu-isu penuh ironi di negeri ini.
“Pemerintah megap-megap membayar 8,29 triliun untuk pengobatan gratis rakyat miskin, tapi orang-orang ini malah menghabiskan 151 triliun untuk merokok.” (hal. 60)
Adib adalah tokoh yang kuat, menjadi makin kuat berkat masalah-masalah yang tak henti menimpanya. Tapi, pada akhirnya selalu terbentuk sixpack berkat latihan keras dan disiplin. Pesan moral yang hendak disampaikan melalui tokoh Adib mungkin dapat diwakili oleh pesan dari Ben Carson, seorang ahli bedah saraf terkemuka, yang berhasil menaklukkan tantangan-tantangan dalam hidupnya. 


Dan, ingat bahwa:
“Di dunia ini banyak orang menyebalkan, seolah-olah misinya hidup di dunia hanya untuk menyusahkan kita. Tapi, percayalah, orang-orang baik juga ada dan banyak. Hanya saja Tuhan belum mempertemukan kita dengan mereka hingga waktunya tiba. Barangkali, begitulah cara Tuhan mengajarkan pada kita apa yang disebut dengan kesabaran.” – Irham (hal. 264)
The last, ini adalah salah satu novel yang mampu menghibur sekaligus memberikan pembelajaran bagi pembacanya. Oya, kaver depannya menarik, dan mengesankan bahwa ini novel misteri-thriller...., padahal ini novel drama. Hehehe.



[1] Saya yakin, tidak semua warga daerah bersikap seperti itu. Tapi, saya juga pernah merasakan sedikit seperti yang dialami Adib, ketika saya Kuliah Kerja Nyata di Kalimantan Barat. Seringkali, niat baik kami untuk membangun desa itu kurang dihargai, padahal semua yang kami lakukan, kan, demi pembangunan desa itu sendiri.
[2] Ini memang perkataan sederhana, tapi menurut saya manis sekali. Hehehe.

19 September 2014

Resensi THE DANCER - "Menari Bersama Hidup"



Judul Buku                   : The Dancer
Penulis                          : Arthasalina
Tebal                             : 236 halaman
Penerbit/cetakan           : Mazola/Cetakan pertama, September 2014
ISBN                             : 978-602-296-022-5

“Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian.” – Ajeng (halaman 156)

Ini Bukan “Sang Penari” yang Itu….

Apalagi penari yang ini—boyband Infinite dengan gerakan “Scorpion Dance” yang terkenal…. Jujur saja, kalau mendengar kata “penari”, tarian jenis apa yang muncul pertama kali di pikiran kalian? Tarian unyu-munyu punya Cheribelle? Atau unyu-munyu yang lebih keren dan apik ala SNSD? Atau tarian balet “Swan Lake”? 
Scorpion Dance dalam lagu "Before The Dawn", saat Music Bank di Jakarta, Maret 2013
Tarian SNSD dalam video klip "Dancing Queen".

Bagaimana kalau penari tarian tradisional Jawa? 
http://gandringproduction.com/wp-content/uploads/2013/12/eo-pameran-sang-penari.jpg


Misalnya, kamu adalah mahasiswa calon dokter yang sedang kuliah di Universitas Diponegoro Semarang. Masa depan yang cerah menantimu, sebagai seorang dokter muda dan pintar, serta menjadi kebanggaan ayah-bunda, seperti Oh Jin-hee dalam serial drama Korea “Emergency Couple”. Tapi, kamu punya mimpi tersendiri, yang berbeda jalur dengan kuliah jurusan kedokteran. Apakah kamu rela melepas kesempatan menjadi dokter sungguhan (tak sekadar Sarjana Kedokteran) untuk meraih mimpimu? Kalau kamu tidak rela, mungkin berarti kamu sedikit pengecut, atau kurang nekat, atau…. berarti ambisimu tak sekuat Ajeng, tokoh utama novel ini.

“Maaf, ya, Bu, mungkin Ajeng akan kecewakan Bapak lagi setelah ini. Bapak minta Ajeng melanjutkan koas untuk gelar dokter. Tapi Ajeng tidak sanggup lagi. Ajeng masih punya mimpi yang harus diwujudkan.” – Ajeng (halaman 19)
Bakat menari yang bercokol dalam gen Ajeng warisan almarhum ibunya mengubahnya menjadi sosok yang berani membangkang terhadap Bapaknya yang memaksanya  kuliah di jurusan kedokteran. Setelah berhasil lulus dalam waktu yang sangat mepet, 7 tahun, dengan IPK yang mepet pula, Ajeng memutuskan untuk bergumul kembali dengan dunia tari-menari yang telah lama ia tinggalkan. Ia berangkat ke Yogyakarta dan bertemu dengan Dewi, temannya yang adalah seorang penari Sanggar Pawestri—sanggar milik keluarga besar almarhum ibu Ajeng yang telah lama tak menjadi “macan panggung”. Di sanalah pertama kalinya Ajeng “come back”, menari bersama murid tari binaan Dewi di lereng Merapi. Melalui sebuah kejadian, Ajeng bertemu dengan seorang laki-laki asal Bandung bernama Deden. Laki-laki itu mahasiswa semester tujuh jurusan Teknik Mesin yang seharusnya sedang menggarap Tugas Akhir, bukannya malah mengambil cuti untuk menjelajah Jawa Tengah.

Pertemuan mereka tak berhenti sampai di situ. Mereka berdua makin dekat setelah tinggal bertetangga di Solo. Di sana, Ajeng berusaha menghidupkan kembali Sanggar Pawestri dengan melatih para muridnya dan tampil di berbagai acara. Kariernya menjadi penari dimuluskan oleh Bu Aini, seorang dosen seni tari. Berkat bantuan Bu Aini, Ajeng bisa tampil menari di berbagai acara bergengsi. Namun, siapa tahu, ternyata Bu Aini memiliki maksud tersendiri…. Apalagi, kesan bahwa Bapak Ajeng mendadak berubah pikiran dan mendukung keinginannya menjadi penari, tentunya menimbulkan kecurigaan tersendiri. Belum lagi keinginan bapaknya untuk mengenalkannya dengan Rianti, wanita muda yang dicurigai Ajeng sebagai calon ibu barunya. Ajeng juga dibikin resah oleh hubungan “nanggung”-nya dengan Deden, dan juga insiden yang menyebabkannya menarik diri dari murid-murid sanggar asuhannya.

“Novel Profesi” yang Profesional

Ini adalah novel kedua bertagar “novel profesi” terbitan Mazola yang saya resensi. Sebelumnya, The Violinist telah saya resensi, dan jujur saja, saya kecewa akan kualitas novel tersebut yang tak memenuhi kriteria sebagai “novel profesi”. Oleh karena itu, saya agak was-was ketika disodori lagi novel sejenis oleh Divapress. Di sinilah, pepatah lama nan klise, “jangan lihat buku dari tagarnya doang”, terbukti benar.

Sang penulis, Arthasalina—meskipun penulis pemula—mampu menunjukkan bakat dan kesungguhan menulisnya melalui novel ini. Riset seputar tarian tradisional pasti telah dilakoninya sehingga dapat menyuguhkan profesionalisme seorang penari dalam tokoh Ajeng. Seperti ditunjukkan melalui kisah sejarah di balik pementasan tarian Ajeng: tarian dengan lakon Srikandi (halaman 93-95), Roro Jonggrang (halaman 107), hingga tarian sintren  yang diwarnai unsur gaib (halaman 170-171).

Saya pun dibikin jatuh cinta dengan pemilihan latar tempat dan suasana yang sangat njawani, sebagian besar di kota Solo. Tak usahlah, muluk-muluk bikin latar tempat di luar negeri dan hasilnya tidak optimal, kalau di tanah sendiri pun masih banyak yang bisa digali. Suasana keramahan khas Jawa, dengan masyarakatnya yang ramah dan rendah hati (btw, di zaman sekarang pun makin langka orang-orang Jawa yang seperti ini), membuat saya merasa ingin pulang kampung. Meskipun di kampung saya (FYI¸ Jawa Tengah bagian utara agak ke timur) suasananya tidak seramah itu juga, sih, sehingga penggambaran suasana Jawa dalam novel ini terasa terlalu ideal. Hehehe.

Isu tentang MIMPI versus KARIER yang sudah sering diangkat oleh penulis lain pun diulas kembali oleh penulis, melalui tokoh Ajeng dan Edo. Ajeng, yang dipaksa Bapaknya kuliah di jurusan kedokteran, padahal ia punya mimpi menjadi penari. Edo, yang dipaksa orangtuanya menjadi sarjana Teknik Mesin, padahal jiwanya berada di dunia jurnalistik. Isu semacam ini memang tak pernah ketinggalan zaman untuk ditaburkan sebagai penyedap cerita.

Kalau tidak salah, ini adalah pertama kalinya novel terbitan Divapress yang saya resensi, yang benar-benar anti-typo! Prok, prok, prok! *standing ovation*. Ketepatan penggunaan EYD, tanda baca, dan anti-typo adalah salah satu aspek yang tidak sepele bagi saya, yang bikin hati saya adem waktu membaca sebuah karya. Kalau hati pembaca adem, mau bagaimanapun gantung ceritanya, tetap bakal agak dimaklumi, bah!

Tentang penokohan, saya suka watak tokoh Deden. Meskipun humoris—“Penyesalan memang harus datang di akhir. Kalo datang di awal ntar penjara penuh.” – Deden (halaman 178)—dan kepedean (halaman 215), ia adalah sosok lelaki dewasa—“Kalo gue berani milih, ya harus berani juga tanggung risikonya.” – Deden (halaman 56).

Kemampuan penulis untuk menjelma menjadi seorang cowok melalui tokoh Deden pasti berperan besar dalam suksesnya penokohan ini, yang terkesan “cowok banget”. Soalnya, seringkali tokoh cowok kurang terkesan “cowok” ketika digambarkan oleh penulis cewek. Namun, dalam novel ini, sang penulis sukses menghidupkan seorang cowok bernama Deden, yang “cowok banget”. Misalnya saja, cara berpikirnya seperti di halaman 212.

Karena hati saya adem waktu membaca novel ini, maka serangkaian kebetulan yang dibikin penulis pun dapat saya maklumi.


Pelajaran Moral dari Penduduk Pribumi

Banyak pelajaran kehidupan yang saya dapatkan melalui novel ini, mulai dari penuturan Ajeng, hingga kalimat-kalimat sederhana namun berbobot milik Mas Anto dan Mas Joko.

“Bagaimanapun juga, pernah mengenyam pendidikan tinggi akan mengubah cara bicara seseorang. Bicaranya lebih tertata dan tidak sembarangan.” – Ajeng (halaman 56)

“Perbedaan itu ada untuk diterima dan dihargai. Bukan dipaksakan menjadi sama.” – Ajeng (halaman 57)

“Kepintaran itu nomor sekian, Mas, yang penting punya modal niat, sungguh-sungguh sama tahan banting.” – Mas Joko (halaman 143)







Karena sudah bikin hati saya adem dan menambah pengetahuan saya tentang tari tradisional Jawa, maka saya kasih bintang 3 untuk novel ini! Saya berharap, novel-novel yang mengangkat budaya tradisional Indonesia seperti ini terus bermunculan—semoga saya bisa menyumbang karya juga. Hihihi.



bloggerwidgets