Showing posts with label jacob julian. Show all posts
Showing posts with label jacob julian. Show all posts

24 April 2016

Jamie, Kau Memang Kurang Lucu! (Resensi "You're Not Funny Enough")

image
Judul Buku: You’re Not Funny Enough
Penulis: Jacob Julian
Tebal: 280 halaman
Penerbit: PING!!!
Cetakan: Cetakan pertama, Juni 2014
ISBN: 978-602-255-617-6
Harga: Rp 
Pernahkah timbul pikiran di benak kalian keinginan untuk pindah? Pindah kosan karena tarifnya dinaikin terus, padahal kamar mandi tersumbat aja nggak dibener-benerin? *curhat*
Atau pindah jurusan karena tidak sesuai dengan impian—sampai ikut SNMPTN, lalu SBM, lalu—apa lagi, tuh, namanya? Atau sekadar pindah tempat duduk saat ujian untuk menghindari sorotan CCTV (seandainya bisa, haha)?
Pasti pernah, kan? Atau mungkin pernah berpikiran untuk pindah kota, seperti si Jamie?
image
(Jembatan gantung Dusun Marendeng, ketika hendak menyeberang menuju Desa Hlibuei, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat)

Nah, tapi kalau pindah dari Pulau Jawa ke Kalimantan, pengin, nggak?
image
Anak-anak SDN 2 Sebujit, yang sepulang sekolah harus membantu orangtua mereka di ladang.

Ya, saya sudah pernah menjadi orang pedalaman Kalimantan Barat selama dua bulan *mentang-mentang baru pulang dari Kuliah Kerja Nyata*. But, it’s the most livable life I’ve ever experienced! Waktu membaca bagian di mana si Jamie sedang berada di atas kapal menuju Kalimantan, mendadak saya déjà vu.

Comic? Apa itu Comic?

Well, ini novel tentunya, bukan komik! Tapi, tokoh utamanya, Jamie, adalah seorang comic. Ya, comic, sang pelawak stand-up comedy, di kota Madiun. Saat itu, stand-up comedy sudah tidak nge-tren; tinggal Jamie seorang sebagai comic di kotanya. Memang, dia pernah tampil di dua show, tapi itu bersama comic-comic lain, dan itu dulu, saat seni lawakan itu masih banyak digemari orang. Kini, setelah sebulan bekerja sebagai penghibur tetapdi kafe milik sahabatnya, Beni, Jamie merasa terpuruk, lantaran sudah sebulan juga para penontonnya tidak menertawakan leluconnya. Selain itu juga karena ia ditinggal pergi oleh sumber inspirasinya, Sonya, pacarnya dulu.
Nyatanya, melawak adalah seni yang tidak mudah.
“...setiap orang mempunyai kadar humor yang tidak gampang ditebak. Membuat orang lain tertawa adalah sebuah seni yang sulit, dan Jamie tahu itu.” – Jamie (halaman 26)
Kalau sang pelawak gagal membuat penontonnya tertawa, lantas untuk apa ia tetap berada di atas panggung? Jamie pun sadar, jika tetap seperti itu, maka kariernya akan tamat. Oleh karena itu, ia memutuskan akan mengadakan show tunggal pertamanya di kafe Beni, dengan sebuah taruhan yang ia buat sendiri.
“Ya. Terakhir kali. Aku akan bertaruh kali ini. Kalau ini berhasil, maka aku akan tetap bekerja di sini. Kalau tidak..., aku pergi dari sini.” – Jamie (halaman 12)
Namun, ternyata takdir belum menghendaki Jamie untuk sukses saat itu juga. Show­-nya gagal total, alpa dari penonton. Kali ini, Jamie benar-benar akan hengkang dari kota itu, meninggalkan rumah orangtuanya yang sudah lama tak ia sambangi, sejak dirinya memutuskan untuk putus kuliah demi membangun karier sebagai pelawak. Dengan berat hati, Beni dan Mila, istrinya, melepas Jamie pergi ke Kalimantan. Di atas kapal menuju kota Banjarmasin, Jamie bertemu dengan sepasang tunangan yang aneh, Fey dan Luka. Tak diduga, Fey, seorang backpacker cewek yang berasal dari kota Madiun juga, ternyata penggemar stand-up comedy! Dan, tahu bagaimana reaksinya setelah Jamie berkata bahwa ia adalah seorang comic?
Tidak hanya minta foto bareng. Fey juga meminta sesuatu dari Jamie—sesuatu yang membuat Jamie galau setengah mati.
“Aku tidak ingin barang darimu. Yang kuinginkan adalah... kau stand-up hari ini untuk kami.” – Fey (halaman 94)
Bagaimana Jamie tidak bimbang, jika ia diminta untuk stand-up, padahal tujuannya pergi ke Kalimantan adalah untuk meninggalkan pekerjaan itu? Siapa yang menyangka bahwa pertemuan tidak sengaja dengan Fey itu meniupkan peluang baru pada Jamie? Namun, semuanya tetap bergantung pada diri Jamie, apakah ia mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
“Tidak. Jamie tidak akan melakukan stand-up lagi dengan alasan apa pun mulai malam itu.” (halaman 75)

Dunia Stand-up Comedy yang Sesungguhnya?

Ternyata, menjadi seorang stand-up comedian tidak gampang. Pasalnya, mereka adalah pelawak yang ngelawaknya bukan asal njeplak. Seperti kata penulis novel ini, bahwa stand-up comedian adalah penulis juga, yang ngelawaknya menggunakan teknik tertentu. Penulis menyuguhkan tema cerita yang baru, dan itu menambah pengetahuan pembaca seputar dunia stand-up comedy. Jujur saja, saya baru tahu bahwa untuk melawak ada tekniknya—rule of three, call back, riffing.... Lalu ada juga istilah-istilah punch line dan bit. Mungkin novel ini cocok juga dikategorikan menjadi “novel profesi”.
Bicara tentang tokoh utama, Jamie, saya berhasil dibuat kagum oleh sosoknya yang sangat membumi dan gigih meraih mimpinya. Karakter terasa sangat nyata, di mana dia sering galau tiap teringat Sonya, mantannya. Terlebih, bagaimana si penulis menggambarkan perasaan Jamie ketika guyonannya tidak ditanggapi penonton, sehingga berhasil membikin saya merasa miris sekali ketika membacanya.

Jamie Memang Kurang Lucu

Saya akui, si penulis berhasil membangun kesan saya terhadap Jamie sebagai “pelawak yang kurang lucu”. Bisa dikatakan, saya nyaris tidak tertawa sama sekali sepanjang membaca novel yang sarat dengan guyonan khas stand-up comedy. Ini memang karena guyonannya susah dicerna, saya yang kelewat bebal, atau saya kelewat lemot? Padahal, saya juga sering menonton stand-up comedy di MetroTV. Ini kesengajaan penulis—untuk membuat agar Jamie benar-benar terlihat sebagai pelawak yang tidak lucu—atau tidak?
Malah, saya tertawa ketika Jamie tidak sedang melawak, akibat kalimat ini.
“Luka mencium ubun-ubun kepala gadisnya, sementara Jamie mencium ranselnya. Bau.” (halaman 92)
(Dan, Upin-Ipin pun berkata sambil menggelengkan kepala, “Kasian, kasian, kasian!”)
Sepanjang membaca novel ini, penulis sukses bikin saya kelelahan dengan dialog-dialog yang panjang dan kadang susah dimengerti. Mungkin ini gara-gara editornya terburu-buru melakukan tugasnya, sehingga banyak kesalahan pemilihan kata, kalimat tidak efektif, dan logika yang terpeleset.
“Sekitar hampir sepuluh orang memadati kafe Beni dan itu merupakan kapasitas penuh kafenya. Sebuah pencapaian dan hasilnya adalah kamar kontrakan ini.” (halaman 16)
Saya agak bingung membaca kalimat tersebut. Beneran cuma sepuluh orang? Tapi, kalau dikaitkan dengan kalimat di bawah ini, kok jadi aneh? Sepuluh banding seratus lima puluh! Bayangkan, sesesak apa kafenya! Dan katanya, hanya “BEBERAPA pengunjung yang berdiri”.
“...dan berhasil mendatangkan seratus lima puluh orang pada acara itu, yang berarti kafe Beni membludak dan beberapa pengunjung dibiarkan berdiri untuk menikmati acara.” (halaman 16)
Selanjutnya, logika cerita juga tergelincir di bagian ini.
“Lalu kenapa kau membagikan kepada orang-orang yang mau pergi dari sini? Bukankah seharusnya membagikan kepada kereta yang baru datang?” – Jamie (halaman 175)
Ceritanya, adegan tersebut terjadi ketika Jamie sedang berada di pelabuhan, hendak berangkat kembali ke Jawa. Eh, tapi, kok “KERETA”, bukan “KAPAL”?
Selain itu, berikut ini adalah beberapa kalimat yang kurang efektif.
“Dia seorang pria berkeluarga, tapi masih bersahabat dengan teman semasa kecilnya yang tingkah masih seperti anak kecil.” (halaman 18)
(.... yang tingkahnya masih seperti anak kecil.)
“Jamie terlihat ceria, walau rasanya di dalam pikirannya beraduk dengan praduga yang dikhawatirkan teman setianya, Beni juga tampak seperti itu.” (halaman 20)
(Akan lebih baik jika dipisah menjadi dua kalimat.)
“...Jamie masih belum mengerti apa alasan sebenarnya dari Sonya pergi dari Jamie.” (halaman 29)
(...apa alasan sebenarnya mengapa Sonya pergi darinya.)
 “Bar masih belum buka karena masih ada anak kecil yang berlarian. Petugas mungkin tahu sekitar pukul sepuluh baru dibuka.” (halaman 92)
(Petugas mungkin tahu sekitar pukul sepuluh baru dibuka.)
“Dia malah asyik makan sarapan dari nasi bungkusnya saat Jamie meninggalkannya.” (halaman 139)
(Dia malah asyik memakan nasi bungkusnya...)
“Tinggal sehari lagi, Jamie berada di kamarnya dengan di rumah Tyson.” (halaman 191)
(...Jamie berada di kamarnya di rumah Tyson.)
“Aku tahu kau hebat. Pertunjukan yang kau buat apalagi orang sekelas Gaiman yang merekomendasikanmu...” – Tyson (halaman 195)
(Aku tahu kau hebat, Pertunjukan yang kau buat apalagi orang sekelas Gaiman yang merekomendasikanmu.)
Mendekati akhir cerita, saya juga kurang puas dengan kisah Fey yang anehnya kebetulan bertemu lagi dengan Jamie, dan saat itu ia sudah tidak bersama Luka. Itu terlalu tiba-tiba dan aneh. Menurut saya, akan lebih bagus jika diselipkan sedikit cerita mengapa Luka meninggalkan Fey.
Namun, saya banyak mendapatkan petuah dari sosok Gaiman, terlebih kata-katanya yang berikut:
image 

Catatan:
Resensi ini sebelumnya saya unggah di Tumblr, karena waktu itu saya harus segera mengunggahnya, tapi koneksi ke blogspot susah. Nah, demi kerapian arsip resensi, resensi ini sekarang saya unggah juga di blogspot.

22 August 2015

[Resensi CARAPHERNELIA] What If I Can't Forget You?

Judul: Caraphernelia
Penulis: Jacob Julian
Editor: Ambra
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 196 halaman
ISBN: 978-602-279-178-2
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 2/5

"Tidak ingat apa-apa adalah hal yang paling dibenci orang." 
(hal. 6)
Begitu pula yang dialami oleh Jona, ketika ia terbangun dalam sebuah kamar kos yang terkunci. Tubuhnya terasa lemah dan sikunya berdarah. Di dalam kantong jaketnya, ia temukan sebilah silet, yang kemungkinan telah ia gunakan untuk menyayat sikunya. Di atas meja dan di dalam kantong jaket ia temukan kertas-kertas serupa resep obat.
“Jona, kau masih di sana?”
Jona… dia mendengar nama itu. Jona… apa itu namanya?
“Jona? Dengarkan aku! Aku sudah menunggu—”
“Siapa ini?” Suara Jona terasa berat.
“Aku Alvin! Ini Jona, bukan? Siapa kau?!”
“A…aku… tak tahu siapa diriku.”
 
(hal. 15 – 16)
Setelah Alvin meneleponnya, ia perlahan ingat bahwa kamar kos yang ia tempati adalah milik temannya itu. Niat baik Alvin untuk menolong Jona tolak dengan keras kepala. Setelah itu, Jona benar-benar sendiri dalam keadaannya yang menyedihkan. Ia berjalan menyusuri jalanan. Rasa lapar mengantarnya masuk ke dalam minimarket. Nasib mengantarnya bertemu dengan seorang perempuan yang mengenalinya, Alana. Tak ingin menyakiti temannya lagi, Jona menerima uluran bantuan Alana. Selama beberapa hari, Jona tinggal di apartemen Alana. Sampai sebuah suara milik perempuan bernama Mae menyapanya lewat telepon, dan mengingatkannya bahwa perempuan itulah alasannya menghilangkan ingatan.
***

Sejak bab pertama, novel ini membuat saya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Bahkan sejak membaca judulnya yang bikin dahi berkerut dan lidah keseleo itu--meski sampul depannya menarik dan enak dipandang, sih.

Mengapa Jona lupa ingatan? Lantas, saya mengantisipasi apabila nantinya alur novel ini akan mengungkapkan bahwa ingatan Jona dihapus oleh sebuah sistem komputer di suatu masa depan yang penuh dystopia. Haha, ini hanya khayalan saya akibat terlalu terkontaminasi oleh genre dystopian young adult. Hmm, ternyata penulis membawa saya ke permasalahan putus cinta yang mampu membuat seseorang melakukan hal bodoh dan berbahaya. Yah, agak kecewa sebenarnya (ya, udah, kamu bikin cerita sendiri aja, Cung!). Adalah hal lebay menurut saya, ketika putus cinta dan melakukan hal bodoh. (Saya juga pernah patah hati, tapi nggak sampai gitu juga, kali -_-)

Selain menggunakan alur maju untuk menceritakan apa yang Jona lakukan selanjutnya, penulis menggunakan alur balik untuk menceritakan ketika Jona bertemu seseorang yang menjual obat pelupa ingatan padanya. Setelah itu, alur balik muncul saat beberapa fragmen ingatan Jona pulih. Pemilihan kombinasi dan proporsi alur seperti ini sudah pas, untuk menjelaskan apa yang perlu penulis jelaskan.

Novel ini berlatarkan waktu dengan rentang yang cukup sempit, hanya beberapa hari (kalau tidak salah dua hari, maaf kalau ternyata salah, hehe), sehingga padat peristiwa. Suasana “gelap” mewarnai sepanjang novel.

Sebagai tokoh sentral, pemikiran dan perasaan Jona terdeskripsikan secara memadai. Terutama saat ia terbangun dari tidur dan mendapati ingatannya terhapus. Meski menggunakan sudut pandang orang ketiga, kekacauan pikirannya tergambar dengan baik. Pun ketika ia berhalusinasi dikejar segerombolan laki-laki di jalan. Membaca ini saya menyimpulkan bahwa Jona adalah lelaki pengecut, yang tidak berani menghadapi masalahnya.

“Aku lakukan ini hanya karena ingin melupakan sesuatu!” 
(Jona, hal. 28) 
“Manusia diberi masalah bukan untuk dilupakan. Tapi dihadapi.” 
(Alvin, hal. 29)

Namun, menurut penuturan Alana, dulu Jona tidak seperti itu. Jadi, masalah putus cinta telah mengubah sikapnya jadi negatif.

“Aku dulu tidak mengenalmu seperti ini. Kamu bukan orang yang gampang menyerah.” 
(Alana, hal. 74)


Pada masa nebengnya di apartemen Alana, saya mendapati satu lagi bukti kepengecutan Jona. Ketika Alana sedang tidur, diam-diam dia mengambil uang dari dompet perempuan itu. Saya bisa memahami bahwa hidupnya sedang terpuruk dan ia tak punya uang (uangnya yang berjumlah mepet telah dibelikan minuman dan roti kedaluwarsa di minimarket). Perbuatan Jona ini mengesankan “aji mumpung”. Namun, jika saja ia mengurangi gengsinya dan meminta baik-baik, pasti Alana bersedia meminjamkan uang.

Jona juga memiliki kegengsian tingkat tinggi. Terbukti dengan penolakan yang ia lakukan terhadap bantuan Alvin. Namun, ketika yang menolongnya adalah seorang perempuan cantik (baca: Alana), ia berusaha menekan gengsinya, dan cukup berhasil.

“Aku lebih baik untuknya daripada siapa pun.” 
(Jona, hal. 114)


Itu kalimat yang dilontarkan Jona setelah ingat bahwa yang membuatnya terpuruk adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Mae, gadis yang dicintainya, malah memilih teman Jona. Kalimat itu mengesankan bahwa Jona adalah orang yang terlalu pede, tapi tidak bertindak positif dengan pedenya itu.

Ada satu lagi sifat negatif Jona: licik. Awalnya, ia selalu menolak saran Alana untuk menemui Mae dan membereskan masalahnya. Tapi, tiba-tiba Jona berubah sikap, setelah ia mendapatkan senjata untuk menghadapi Mae nanti.

Alana adalah tokoh pendukung yang cukup banyak berperan dalam cerita. Penulis menciptakan kekontrasan dalam tokoh ini. Ia digambarkan sebagai perempuan cantik yang memiliki banyak pacar (sebut: bukan cewek baik-baik). Di sisi lain, ia peduli dan perhatian terhadap Jona, sehingga memprioritaskan pemulihan Jona. Namun terlalu cepat ketika di akhir cerita tiba-tiba Alana jatuh cinta terhadap Jona. Hmm, meski tak dipungkiri bahwa tak tertebak kapan cinta akan jatuh. Cukup masuk akal sebenarnya, karena selama beberapa hari itu hubungan Alana – Jona berlangsung sangat intens.

Sementara itu, tokoh Alvin dan Mae mengambil secuil porsi dalam novel ini, meski peran mereka juga penting di masa lalu Jona.

Kini waktunya mengkaji novel ini. Ada beberapa poin yang ingin saya elaborasikan.
  1. Mengenai penggunaan kata “bergeming”. Selama ini banyak kesalahan penggunaan kata tersebut, karena salah pengartian. Menurut KBBI, “bergeming” = tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Jelas, maknanya salah ketika Jacob Julian menulis seperti ini “… sehingga kini yang dirasakannya adalah sebuah hantaman pada lemari yang tidak bergeming” (hal. 4-5). Sepanjang membaca, saya menemukan tak hanya satu “bergeming” sejenis itu.
  2. Kebanyakan struktur kalimatnya berbelit dan kaku. Ini bukan karya pertama Jacob Julian yang saya baca. Sebelumnya ada You’re Not Funny Enough. Yang membuat saya tercenung, membaca gaya penulisan Caraphernelia tidak seperti tulisan Jacob Julian. Mungkin karena novel ini sudah cukup lama ditulis, yaitu tahun 2013, jadi gayanya yang sekarang sudah berubah. Menurut observasi saya, kalimat-kalimat yang ia jalin di sini kaku dan kadang sulit dimengerti maksudnya. Novel ini sulit dinikmati. Belum lagi beberapa typo yang mengganggu. Berikut ini adalah contohnya.
    “Lalu secara berurutan dengan memacu napas yang tersengal, pertanyaan yang lain keluar dari pikirannya satu per satu, ingin dia teriakkan tapi tak bisa.” (hal. 7) 
    “Tapi tidak ada di dalam diri Jona untuk segera meminta maaf kepadanya.” (hal. 76) 
    “Kalau tempat pelampiasanku adalah… kamu. Apakah itu berarti saat kamu punya masalah, kamu bisa saja tidak datang padaku?” (hal. 83)
  3. Ada kalimat yang tidak pas. Berikut ini adalah contohnya.
    “Orang baik tidak akan membiarkan tangannya terluka seperti itu.” (hal. 57)
    Apa hubungannya? Mungkin “orang baik” lebih cocok jika diganti “orang waras”, wkwk >,<
    “Kami bahkan tidak mencintai.” (hal. 113)
    Makna kalimat ini akan lebih pas jika diselipi kata “saling”.
    “Seperti topeng yang dikenakan oleh orang dari masa lampau untuk mengganti identitasnya.” (hal. 127)
    Hmm, topeng yang mana, ya? Hehe.
  4. Ketidaklogisan cerita. Dari mana Jona punya uang untuk membeli lagi obat pelupa ingatan? Setahu saya, saat itu ia sedang tak punya uang dan ia belum mencuri uang Alana.
  5. Sebenarnya obat apa, sih, itu? Apa benar ada obat seperti itu? Setelah melakukan studi pustaka (studi pustaka skripsimu aja belum ditulis, Cung!), ternyata memang benar ada obat macam itu!

    WebMD menyebutkan bahwa jenis obat antidepresan, antihistamin, anti-kecemasan, perelaks otot, obat penenang, obat tidur, dan pengurang rasa sakit pascaoperasi bisa turut berperan dalam hilangnya ingatan seseorang.

    Medical Daily menyebutkan jenis obat serupa, tapi lebih lengkap beserta contoh nama obatnya dan cara kerja obat-obatan tersebut yang bisa menyebabkan lupa ingatan. Selain itu, ia juga menambahkan jenis obat chlolesterol, obat hipertensi,
     
  6. Mengapa judulnya CarapherneliaSaya menemukan bahwa Caraphernelia adalah judul lagu oleh Pierce The Veil (kamu bisa baca liriknya di sini). Dari lagu tersebut, populerlah istilah ini untuk menyebut (menurut Urban Dictionary):

    Ah, saya dapat satu kosakata gaul baru! Hahaha :D
  7. Mungkin ini ketidaktelitian saya, tapi mengapa Jona harus menyilet sikunya, sih?


Bagian akhir novel ini cukup meresahkan, karena nggantung nggak ketulungan! Meski pembaca mungkin bisa menebak, sih, siapa sebenarnya “pria bermulut manis” yang dicintai Mae itu. Sebuah akhir yang cukup memuaskan.

Amanat novel ini adalah tak ada yang salah dengan patah hati, tapi yang salah adalah membiarkan diri sendiri berbuat bodoh karena alasan tersebut. Apalagi sampai mencelakakan orang lain. Adalah perbuatan sia-sia melupakan ingatan sendiri, karena cepat atau lambat ingatan itu pasti kembali. Lupa lagi? Lama-lama pasti akan kembali lagi! Kecuali setelah menelan obat pelupa ingatan, Jona mengasingkan di sebuah pulau tak berpenghuni, sehingga nyaris tak mungkin bertemu orang-orang dari masa lalunya.

8 August 2015

August Book Haul



You can find this on Goodreads.
The first book I started to read early this month was Sputnik Sweetheart, a book by Haruki Murakami, which first published in 1999. I am reading the e-book version (still isn't finished yet), and I can't read this as fast as when I read a physical book. This is the second work of Murakami I read, the first one was Blind Willow, Sleeping Woman. Though, this is the first of his novels that I read. Using his specific characteristic of writing style, Murakami told about Sumire, a girl who fell in love with a girl too, Miu. He used the first person point of view, but the narrator wasn't the main characters. Previously, I also found his tendency to use this kind of point of views in several short stories in Blind Willow, Sleeping Woman.

You can find this on Goodreads.
The second book I read concurrently with Sputnik Sweetheart is The Hundred-year-old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared by Jonas Jonasson. I borrowed this book from my friend's book shelf, Halimah (she's the one who's a die-hard fan of Ika Natassa). She got this book from a blended package from Litbox. It was a long time since I saw the Indonesian-translated version of this book at several book stores, despite of the fact that I was attracted by its long title about a long-lived old man, I never decided to buy it. Actually, I have had the e-book version, but as you've known it before, I prefer to read a physical book than a digital one. (Although I have read e-book version of some books). I hope I can finished those two books soon, since I have another three books I need to review, from Divapress.


Beside those two (which I haven't finished yet), I have finished reading Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan, one of the Indonesian influential writers. He was given a nickname as "the next Pramoedya Ananta Toer".


Then, I've got these three new-released books from Divapress.

You can find this on Goodreads.

You can find this on Goodreads.


I like the cover of Kafe Serabi and Caraphernelia. The latter has a title that make me wonder what it is about. While, the The Architect is one of a book series called Novel Profesi (a genre published by Divapress which tells story about the main character's profession.) Previously, I have read another books of this genre, included The Violinist, The Dancer, and The Doctor.

That's my August Book Haul. How about yours? Let me know by submitting your comment below! ^^

bloggerwidgets