Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

29 September 2015

[Resensi] Simple Thinking About Blood Type #3

Judul: Simple Thinking About Blood Type #3
Penulis: Park Dong-Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-774-251-2
Harga: Rp 67.500,00
Rating saya: 4/5

A Simple Intro for Simple Thinking About Blood Type


Ketika mengulas novel Insomnia, saya menulis bahwa tidak jarang, orang Indonesia tidak tahu golongan darahnya. Namun, tidak begitu di Korea Selatan dan Jepang. Di sana, "apa golongan darahmu?" adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan pada seseorang, mungkin nyaris sewajar menanyakan nama. Fenomena hubungan sifat manusia dengan golongan darahnya yang ngetren di Korsel dan Jepang bukanlah semacam ramalan, melainkan stereotip. Meski tak selalu tepat, secara umum sifat dari masing-masing golongan darah bisa dikategorisasikan, sehingga bisa membantu kita untuk membangun pergaulan yang menyenangkan dengan semua golongan darah. Nah, apa yang ditulis oleh Park Dong-Sun melalui komik Simple Thinking about Blood Type adalah menurut pengalaman dan pengamatannya terhadap orang-orang. Si penulis sendiri pun memberi pesan pada pembaca, adalah kurang sopan jika langsung men-judge sifat orang "begini-begitu" hanya berdasarkan informasi golongan darahnya apa. Apa yang dia tulis melalui Simple Thinking about Blood Type adalah terutama untuk hiburan saja.

Sebelumnya, saya sudah membaca Simple Thinking about Blood Type yang pertama dan kedua, tapi tidak pernah saya resensi, karena saya terlalu menikmatinya :'). Kali ini, saya mencoba mengulas buku yang ketiga.

***

(Still) Simple yet Funny Tales of the Four Blood Types



Masih bertokoh-utamakan empat bocah A, B, O, dan AB, buku-komik seri ketiga ini terbagi menjadi empat bagian, sebagai berikut:

Bagian 1: Cerita Sederhana tentang Kehidupan Sehari-hari



"Omonganku benar, omonganmu juga benar. Aku netral. Ini masalah sepele, kenapa harus begitu?" (AB, hal. 76)

Bagian pertama terdiri dari 18 episode, yang dibuka dengan episode tentang kesalahpahaman tentang golongan darah. Selama ini si tokoh utama sangat mengagumi pacarnya yang bergolongan darah A. Namun, setelah diperiksa ternyata pacarnya itu bergolongan darah B. Sejak itu, pacarnya berubah, menjadi bersikap sangat "B". Dalam cerita ini, penulis menonjolkan kecerdasan AB, yang berceramah tentang Pygmalion effect, Labelling effect, dan Barnum effect.

Episode-episode selanjutnya ditulis dengan mengambil sudut penceritaan setiap golongan darah terhadap suatu kasus. Ada juga episode yang menunjukkan hubungan antara dua golongan darah, kemudian bagaimana cerita berantai yang disampaikan satu golongan darah ke golongan darah yg lain bisa menyebabkan kesalahpahaman.

"Setiap golongan darah mempunyai watak tersendiri, tetapi walaupun golongan darahnya sama, bukan berarti watak mereka juga sama." (hal. 81)

Episode favorit: Bagian yang menggambarkan tentang betapa tidak-tahu-dirinya si B terhadap A. Contohnya, ketika mereka berempat pergi berenang. Si O, yang lupa membawa peralatan mandi, meminjam B. Padahal, B juga tidak membawa apa-apa. Maka dari itu, si B meminjam dari A (yang membawa segalanya) untuk dipinjamkan ke O. Hal ini juga yang terjadi ketika seseorang minta obat flu ke B, yang lalu memintanya dari A. Si AB menyebutnya sebagai kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut" :D

Bagian 2: Cerita Sederhana tentang Kehidupan di Sekolah


"Kenapa kalian hidup dengan berat seperti itu, sih?" (B, hal. 95)

Sesuai dengan judulnya, 14 episode dalam bagian ini secara garis besar terjadi di lingkungan sekolah. Setiap golongan darah menunjukkan sikap yang khas dalam menghadapi permasalahan di dunia sekolah. Mulai dari mengejar bus sekolah, pemilihan wakil kelas untuk pekan olahraga, mengerjakan ujian, meminjam buku perpustakaan, sampai bermain batu.

Si B dan O hobi saling mengolok, yang lama-lama akan menjadi pertengkaran, seperti di cerita "Wisuda". Si B dan O versi cewek juga mudah terlibat perkelahian, seperti di cerita "Pelajaran Kesenian" dan "Bermain Batu".


Episode favorit: "Semester Baru", yang bercerita tentang si O yang telat masuk kelas di semester baru. Lalu si B menyombongkan diri krn ia datang awal. Tapi ternyata si B sejak tadi berada di kelas yang salah. Hahaha.

Bagian 3: Cerita Sederhana tentang Kehidupan di Kantor

(termasuk episode yang belum pernah diterbitkan)



"Aku adalah pekerja yang kesepian. Walaupun begitu, hidup itu memang dijalani sendiri." (O, hal. 211)

Bagian ketiga terdiri dari 18 episode. Hampir semua episode dalam bagian ini memusatkan cerita pada satu golongan darah, sehingga bisa jadi panduan (yang dikemas dengan unyu dan lucu) bagaimana cara bergaul dengan rekan kerja/atasan/bawahan yang berbeda-beda golongan darah. Ada karakter karyawan untuk tiap golongan darah, asisten yang cocok untuk bos bergolongan darah tertentu, cara memperoleh kepercayaan dari bos bergolongan darah tertentu, cara menghadapi karyawan bergolongan darah tertentu.

Episode favorit: "Asisten untuk Bos Golongan Darah B" bisa menjadi panduan untuk saya kelak jika sudah jadi bos dan hendak merekrut asisten pribadi. Hahaha.

Bagian 4: Cerita Sederhana tentang Keluarga dan Percintaan



"Uuughh! Dasar, aku ingin membunuhnya!" (A, hanya di dalam hati, hal. 277)

Bagian keempat terdiri dari 13 episode. Ada dua episode khusus untuk mendeskripsikan apa yang akan terjadi jika dalam satu keluarga, anggotanya bergolongan darah: 1) semua B, 2) semua A, dan 3) O-AB-A-B. Selain itu ada episode-episode lain yang tak kalah seru.

Lalu, dalam hal percintaan, penulis menggambarkan bagaimana hubungan antara cewek A dan cowok O, cewek O dan cowok O, cewek A dan cowok AB. Ada juga episode yang menunjukkan reaksi tiap golongan darah untuk mempersiapkan acara spesial peringatan jadian.

"Cowok yang membawakan tas ceweknya" seingat saya pernah muncul di buku sebelumnya (entah pertama atau kedua).

Episode favorit: "Pindahan", yang bercerita tentang satu keluarga yang terdiri dari semua gol. darah sedang bersiap-siap untuk pindah rumah.

***

Are There Anything Special in this 3rd Book?


Dibandingkan dengan kedua buku pertama, ada beberapa hal spesial di buku ketiga ini.
  1. Pada tiap pembukaan bagian, pihak penerbit menyelipkan foto-foto unik dari pembaca beserta pesan-kesan mereka terhadap buku Simple Thinking about Blood Type.
  2. Ada 13 episode yang ditulis oleh Park Dong-Sun berdasarkan cerita kiriman orang.
  3. Ada episode yang belum pernah diterbitkan (di bagian 3).
  4. Di bagian belakang, ada surat dari Park Dong-Sun khusus untuk para pembaca di Indonesia. Oh iya, bulan Desember 2013 ia pernah datang ke Indonesia dan mengadakan book signing, lho.
  5. Jika di buku kedua si O adalah yang paling "hina", maka di buku ketiga ini netral. Tapi saya merasa bahwa si AB lebih menonjol di sini. Ia jugalah golongan darah favorit saya, karena otak kritis, rasionalitas, dan kecerdasannya. Contohnya, ketika golongan darah yang lain curhat atau cuek pada guru konseling, si AB malah bertindak seolah-olah dia guru konseling bagi si guru konseling (hal. 122-26).

(1)
(4)

Sementara itu, ada hal-hal yang abadi sejak buku pertama hingga ketiga ini.
  1. Ajaibnya, dari buku pertama sampai ketiga, posisi bermalasan gol. darah B selalu konsisten: duduk di sofa sambil mainin kucing, tak peduli apa pun yang terjadi ROFL. 
  2. Pola penulisan: keempat gol. darah dihadapkan pada kasus serupa, lalu dilihat reaksi mereka masing-masing.
  3. Meski sudah sampai buku ketiga, cerita-cerita di dalamnya tetap menawarkan pengetahuan baru, terutama tentang kehidupan di dunia kerja yang sangat bermanfaat bagi saya (yang masih beradaptasi dengan dunia kantor dan tak lama lagi akan jadi fresh graduate).
  4. Tetap konyol dan bikin saya ngakak (meski nggak semua episode seperti itu).

(1)

Mungkin bagi beberapa pembaca, buku ini mulai basi. Tapi, bagi saya, buku ini selalu bisa memberikan kesegaran tersendiri di tengah kepenatan rutinitas, dan semoga tidak membuat saya makin "blood-type oriented" dalam "membaca" seseorang. Haha. Saya juga jadi makin menyadari, meski bergolongan darah B, tapi saya punya fragmen sifat A dan AB.

Jadi, apa golongan darahmu? :^)

14 September 2015

[Resensi] How to Win Friends and Influence People in the Digital Age

Judul: How to Win Friends and Influence People in the Digital Age
Penulis: Dale Carnegie & Associates, Inc., bersama Brent Cole
Penerjemah: Nengah Krisnarini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesembilan, September 2014
Tebal: xxviii + 324 halaman
ISBN: 978-979-22-8250-4
Harga: Rp 75.000,00
Rating saya: 3/5

 “Dengan sangat mengandalkan komunikasi digital, kita kehilangan aspek penting dalam interaksi manusia: petunjuk-petunjuk nonverbal.” (hal. xxv)
“Kemungkinan besar, masalah terbesar yang Anda hadapi adalah berurusan dengan orang lain.” (Dale Carnegie, 1963)

Pernyataan tersebutlah yang menjadi landasan Carnegie memberikan pelatihan dan menulis buku tentang How to Win Friends and Influence People. Bagi Anda yang tidak punya masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sebaiknya Anda tidak membaca buku ini.

Saya membeli buku ini karena merasa saya lebih mahir berhubungan dengan mesin ketimbang manusia. Tapi, untuk menjadi seorang insinyur yang sukses, komunikasi dengan orang lain juga sangat diperlukan, seperti kata Dale Carnegie,

“Orang yang memiliki pengetahuan teknis ditambah dengan kemampuan untuk mengekspresikan ide, untuk mengambil posisi sebagai pemimpin dan membangkitkan antusiasme di antara orang-orang—orang itu berada dalam jalan menuju kekuasaan yang lebih tinggi.” (hal. xxviii, sebagaimana dikatakan Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People, terbitan Binarupa Aksara tahin 1995, hal. 6)
Sebenarnya saya punya buku ini versi asli, terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Binarupa Aksara. Buku ini adalah warisan dari kakak saya, dan saya belum membacanya. Tapi, saya malah membeli lagi yang versi “in the digital age”. Mengapa? Karena saya pikir tips-tips dari Carnegie akan lebih relevan jika disesuaikan dengan dunia digital zaman sekarang. (Mengingat bahwa buku versi aslinya diterbitkan pertama kali pada tahun 1937, di zaman yang bisa dibilang belum terdigitalisasi.)

Buku yang saya resensi ini tidak ditulis oleh Carnegie, tapi oleh lembaga Dale Carnegie bersama Brent Cole. Meski begitu, mereka tetap menulis berdasarkan ide-ide orisinil Carnegie dan tidak jarang mengutip pernyataan Carnegie dari buku aslinya. Terdiri dari empat bagian, buku ini mencoba menjabarkan secara bertahap cara-cara mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain.

-------------------------------------------------

Bagian pertama:

Yang Perlu Dilakukan dalam Keterlibatan


  1. Bagaimana kita seharusnya berpikir panjang sebelum melontarkan kritik (terlebih lewat media sosial dunia maya). Penulis memberi contoh-contoh nyata akibat buruk dari “mengekspresikan kekesalan ke seluruh dunia” (hal. 5). Orang-orang tersebut didenda, dan bahkan dipecat dari pekerjaannya. Lewat berita nasional, kita juga sering mendengar orang dituntut atas pencemaran nama baik setelah mengkritik seseorang atau sebuah organisasi lewat media sosial.
  2. Mengapa menegaskan kebaikan dalam diri setiap orang itu penting
    Bagaimana memengaruhi orang lain dengan menyentuh keinginan inti mereka. Ini penting karena “kita hanya bergerak ke arah sesuatu yang menggerakkan kita” (hal. 49)


Bagian kedua:

Enam Cara untuk Memberikan Kesan yang Tahan Lama


  1. Menaruh minat terhadap minat orang lain -- yang terpenting bukanlah berapa banyak follower Twitter kita, berapa pengikut blog kita, tapi bagaimana kita memerhatikan minat orang lain.
    “[...] Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam hitungan menit jika Anda dengan tulus tertarik dengan minat orang lain ketimbang dalam hitungan berbulan-bulan mencoba membuat orang lain tertarik kepada Anda... perjuangan terbesar kita adalah egoisme kita...” (hal. 54)
  2. Betapa pentingnya senyuman
    Saya setuju dengan bagian ini, bahwa senyuman bisa memberi pengaruh positif bagi diri sendiri dan orang lain. Namun, ada kalanya saat saya benar-benar tidak bisa berpura-pura tersenyum, dan karena saya orang yang sulit menyembunyikan emosi, maka jangan kaget jika tak ada senyum di wajah saya. Itu bukan berarti saya galak, lho.

    “Senyuman memperkaya mereka yang menerimanya tanpa membuat orang yang memberikannya menjadi lebih miskin. Senyuman hanya membutuhkan waktu sekejap, tetapi memori yang ditinggalkannya bertahan selamanya.”(hal. 79-80)

  3. Pentingnya mengingat nama orang lain, karena dengan memanggil nama, kita bisa meningkatkan level hubungan dengan orang lain. Penulis memberikan contoh penerapannya di bidang bisnis. Saya berlangganan sebuah web lewat e-mail, yang mengirimkan newsletter secara rutin kepada saya. Nah, uniknya, setiap e-mail diawali dengan sapaan yang menyebut nama saya. Jika melihat secara sekilas, saya langsung mengira bahwa ini e-mail dari seseorang yang mengenal saya. Eh, ternyata dari web langganan. Dengan memanggil nama saya, saya menjadi merasa dekat dengan si pengelola web. Jelas sekali, si pengelola web tahu bagaimana caranya membangun hubungan, karena inti bisnis adalah "hubungan seseorang dengan orang lain” (hal. 86). Nah, dengan begitu, sebagai pelanggan, saya pun jadi mengingat mereka.
    “Nama adalah bunyi paling manis dan penting di dalam bahasa apa pun.” (hal. 94)
  4. Menyimak orang lain lebih lama -- menyimak berbeda dengan mendengar. Ego kita menyebabkan kita lebih sering berbicara daripada mendengar. Mendengar saja jarang, apalagi menyimak?“Jika kita mendengar dan belajar, kita akan hidup dengan lebih harmonis lagi.” (hal. 104)
  5. Ketahui apa yang penting bagi orang lain
  6. Membuat orang lain merasa lebih baik
“Ada dua cara untuk menjadi signifikan: lakukan sesuatu dengan begitu baik atau lakukan sesuatu dengan begitu buruk. Sayangnya, keburukan adalah cara termudah untuk menjadi terkenal pada zaman sekarang. [...] Kunci sebenarnya untuk mendapatkan teman dan memengaruhi orang pada zaman sekarang adalah mengubah hubungan dari manipulatif menjadi bermakna.” (Tony Robbins, hal. 124-5)


Bagian ketiga:

Cara Mendapatkan dan Menjaga Kepercayaan Orang Lain


  1. Hindari argumen (yang mengarah ke ketegangan dan konflik)
  2. Jangan pernah mengatakan, “Kau salah” Alih-alih, “tunjukkan sikap yang ramah, pandang situasi dari sudut pandang orang lain dan tunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.” (hal. 150)
  3. Akui kesalahan dengan cepat dan sungguh-sungguh
    “Kita semua terkadang lupa bahwa ada semacam kepuasan dengan memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan.” (hal. 157)“Memang hebat kekuatan dua kata yang dapat mengubah segalanya ini: ‘Lo siento. Maafkan aku.’" (hal. 162)
  4. Awali dengan sikap ramah
    “Mendapatkan teman dimulai dengan sikap ramah.” (hal. 172)
  5. Akses afinitasMenurut KBBI, afinitas adalah "ketertarikan atau simpati yg ditandai oleh persamaan kepentingan".
  6. Biarkan orang lain mendapatkan pengakuan
    “Kesuksesan Anda selalu sepadan dengan jumlah orang yang ingin menyaksikan Anda sukses. Jika Anda menginginkan kesuksesan untuk orang-orang yang sudah berteman dengan Anda (bukan malah berusaha menjalin pertemanan dengan mereka yang sudah sukses), Anda bisa menjamin bahwa orang-orang ini juga menginginkan Anda sukses.” (hal. 187)
  7. Terlibat secara empatik“Empati adalah kekuatan yang tidak terelakkan dari pendekatan berdasarkan kemurahan hati dan pengertian.” (hal. 198)
  8. Gugah sifat mulia/baik di dalam diri orang-orang yang ingin Anda pengaruhiPendekatan semacam ini menuntun kita pada hubungan sejati dengan orang lain, bukan hubungan yang sekadar alat untuk transaksi.
  9. Berbagi perjalananDalam hal bisnis, pendekatan ini bisa digambarkan dengan bisnis one-on-one, di mana kehidupan personal dan profesional bertemu. Bagaimana perusahaan melakukan pendekatan personal dengan konsumennya. Bagikan kisah dengan orang lain, maka orang lain pun akan membagikan kisahnya dengan Anda, sehingga terciptalah dunia milik bersama.
  10. Berikan tantangan pada orang lain untuk membantu menuju perubahan positif, sebaiknya tantangan itu juga melibatkan Anda, sehingga kita tidak hanya berkhotbah, tapi juga melakukan.


Bagian keempat:

Cara Menuntun Perubahan Tanpa Penolakan atau Kebencian


  1. Awali dengan positif
  2. Akui kekurangan Anda

    “Agar dapat meninggalkan jalan kegagalan yang berkesinambungan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menuturkan dua kata yang paling sulit untuk dituturkan: ‘Saya salah.’” (hal. 239)
  3. Tunjukkan kesalahan tanpa menarik perhatian
  4. Lebih baik mengajukan pertanyaan daripada memberi perintah secara langsung
  5. Ringankan kesalahan
  6. Membantu seseorang menyelamatkan muka -- saran yang paling sulit saya lakukan (hal. 268-270)
  7. Berfokus pada kemajuan
  8. Sematkan reputasi yang baik kepada orang lain
  9. Terus terhubung pada pijakan yang sama

-------------------------------------------------

Ide-ide Carnegie memang memberikan pencerahan bagaimana cara-cara bergaul dengan baik. Namun, ada beberapa hal yang tidak begitu cocok dengan prinsip saya. Menurut saya, jika saya menuruti dan melakukan semua saran Carnegie yang ada di buku ini, maka saya akan menjadi such a nobleman. Seorang yang terlalu baik. Pasalnya, pemikiran saya sudah berubah. Dulu, saya memang menganggap bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik, sehingga saya berusaha bersikap baik pada semua orang. Tapi, setelah banyak makan garam sampai keasinan hingga saraf pengecap lidah tidak terlalu peka lagi, pemikiran saya berubah. Sikap baik saya ada batasnya.

Salah satu ide khas Carnegie adalah prinsip komunikasi berdasarkan empati dan menaruh perhatian pada lawan bicara. Dalam konteks tertentu prinsip ini menjadi tidak relevan, dalam artian kita juga harus bersikap egois kadang-kadang. Saya pribadi, tidak bisa terus-terusan bersikap baik dan rendah hati dengan mengorbankan diri sendiri untuk mendengarkan ocehan lawan bicara tentang hal-hal yg sebenarnya saya sudah tahu, atau tidak ingin saya dengar *jangan ditiru*.

Penulis memang memberikan cukup banyak contoh di dalam buku ini, tapi bagi saya contoh itu kurang mengena. Mungkin karena kecenderungannya untuk memberi contoh pengalaman orang-orang/lembaga/organisasi yang mungkin terkenal di negara penulisnya, tapi saya tidak terlalu tahu, sehingga saya merasa kurang "dekat" dan "akrab" dengan contoh-contoh tersebut. Lain halnya dengan buku ini versi asli tulisan Dale Carnegie, yang banyak menggunakan pengalaman beliau pribadi (ia menggunakan kata ganti saya dan Anda). Atau buku Personality Plus karya Florence Littauer, yang diselipi pengalaman-pengalaman pribadi penulis atau orang-orang terdekatnya (keluarga, teman, dll). 

Buku ini akan jauh lebih komunikatif jika menggunakan gambar-gambar, seperti pada buku Eneagram karya Baron dan Wagele. Terlepas dari itu semua, buku ini memberikan pencerahan bagaimana mencari teman dan memengaruhi orang lain dengan cara empatik dan rendah hati, di zaman digital.

22 August 2015

[Resensi CARAPHERNELIA] What If I Can't Forget You?

Judul: Caraphernelia
Penulis: Jacob Julian
Editor: Ambra
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 196 halaman
ISBN: 978-602-279-178-2
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 2/5

"Tidak ingat apa-apa adalah hal yang paling dibenci orang." 
(hal. 6)
Begitu pula yang dialami oleh Jona, ketika ia terbangun dalam sebuah kamar kos yang terkunci. Tubuhnya terasa lemah dan sikunya berdarah. Di dalam kantong jaketnya, ia temukan sebilah silet, yang kemungkinan telah ia gunakan untuk menyayat sikunya. Di atas meja dan di dalam kantong jaket ia temukan kertas-kertas serupa resep obat.
“Jona, kau masih di sana?”
Jona… dia mendengar nama itu. Jona… apa itu namanya?
“Jona? Dengarkan aku! Aku sudah menunggu—”
“Siapa ini?” Suara Jona terasa berat.
“Aku Alvin! Ini Jona, bukan? Siapa kau?!”
“A…aku… tak tahu siapa diriku.”
 
(hal. 15 – 16)
Setelah Alvin meneleponnya, ia perlahan ingat bahwa kamar kos yang ia tempati adalah milik temannya itu. Niat baik Alvin untuk menolong Jona tolak dengan keras kepala. Setelah itu, Jona benar-benar sendiri dalam keadaannya yang menyedihkan. Ia berjalan menyusuri jalanan. Rasa lapar mengantarnya masuk ke dalam minimarket. Nasib mengantarnya bertemu dengan seorang perempuan yang mengenalinya, Alana. Tak ingin menyakiti temannya lagi, Jona menerima uluran bantuan Alana. Selama beberapa hari, Jona tinggal di apartemen Alana. Sampai sebuah suara milik perempuan bernama Mae menyapanya lewat telepon, dan mengingatkannya bahwa perempuan itulah alasannya menghilangkan ingatan.
***

Sejak bab pertama, novel ini membuat saya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Bahkan sejak membaca judulnya yang bikin dahi berkerut dan lidah keseleo itu--meski sampul depannya menarik dan enak dipandang, sih.

Mengapa Jona lupa ingatan? Lantas, saya mengantisipasi apabila nantinya alur novel ini akan mengungkapkan bahwa ingatan Jona dihapus oleh sebuah sistem komputer di suatu masa depan yang penuh dystopia. Haha, ini hanya khayalan saya akibat terlalu terkontaminasi oleh genre dystopian young adult. Hmm, ternyata penulis membawa saya ke permasalahan putus cinta yang mampu membuat seseorang melakukan hal bodoh dan berbahaya. Yah, agak kecewa sebenarnya (ya, udah, kamu bikin cerita sendiri aja, Cung!). Adalah hal lebay menurut saya, ketika putus cinta dan melakukan hal bodoh. (Saya juga pernah patah hati, tapi nggak sampai gitu juga, kali -_-)

Selain menggunakan alur maju untuk menceritakan apa yang Jona lakukan selanjutnya, penulis menggunakan alur balik untuk menceritakan ketika Jona bertemu seseorang yang menjual obat pelupa ingatan padanya. Setelah itu, alur balik muncul saat beberapa fragmen ingatan Jona pulih. Pemilihan kombinasi dan proporsi alur seperti ini sudah pas, untuk menjelaskan apa yang perlu penulis jelaskan.

Novel ini berlatarkan waktu dengan rentang yang cukup sempit, hanya beberapa hari (kalau tidak salah dua hari, maaf kalau ternyata salah, hehe), sehingga padat peristiwa. Suasana “gelap” mewarnai sepanjang novel.

Sebagai tokoh sentral, pemikiran dan perasaan Jona terdeskripsikan secara memadai. Terutama saat ia terbangun dari tidur dan mendapati ingatannya terhapus. Meski menggunakan sudut pandang orang ketiga, kekacauan pikirannya tergambar dengan baik. Pun ketika ia berhalusinasi dikejar segerombolan laki-laki di jalan. Membaca ini saya menyimpulkan bahwa Jona adalah lelaki pengecut, yang tidak berani menghadapi masalahnya.

“Aku lakukan ini hanya karena ingin melupakan sesuatu!” 
(Jona, hal. 28) 
“Manusia diberi masalah bukan untuk dilupakan. Tapi dihadapi.” 
(Alvin, hal. 29)

Namun, menurut penuturan Alana, dulu Jona tidak seperti itu. Jadi, masalah putus cinta telah mengubah sikapnya jadi negatif.

“Aku dulu tidak mengenalmu seperti ini. Kamu bukan orang yang gampang menyerah.” 
(Alana, hal. 74)


Pada masa nebengnya di apartemen Alana, saya mendapati satu lagi bukti kepengecutan Jona. Ketika Alana sedang tidur, diam-diam dia mengambil uang dari dompet perempuan itu. Saya bisa memahami bahwa hidupnya sedang terpuruk dan ia tak punya uang (uangnya yang berjumlah mepet telah dibelikan minuman dan roti kedaluwarsa di minimarket). Perbuatan Jona ini mengesankan “aji mumpung”. Namun, jika saja ia mengurangi gengsinya dan meminta baik-baik, pasti Alana bersedia meminjamkan uang.

Jona juga memiliki kegengsian tingkat tinggi. Terbukti dengan penolakan yang ia lakukan terhadap bantuan Alvin. Namun, ketika yang menolongnya adalah seorang perempuan cantik (baca: Alana), ia berusaha menekan gengsinya, dan cukup berhasil.

“Aku lebih baik untuknya daripada siapa pun.” 
(Jona, hal. 114)


Itu kalimat yang dilontarkan Jona setelah ingat bahwa yang membuatnya terpuruk adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Mae, gadis yang dicintainya, malah memilih teman Jona. Kalimat itu mengesankan bahwa Jona adalah orang yang terlalu pede, tapi tidak bertindak positif dengan pedenya itu.

Ada satu lagi sifat negatif Jona: licik. Awalnya, ia selalu menolak saran Alana untuk menemui Mae dan membereskan masalahnya. Tapi, tiba-tiba Jona berubah sikap, setelah ia mendapatkan senjata untuk menghadapi Mae nanti.

Alana adalah tokoh pendukung yang cukup banyak berperan dalam cerita. Penulis menciptakan kekontrasan dalam tokoh ini. Ia digambarkan sebagai perempuan cantik yang memiliki banyak pacar (sebut: bukan cewek baik-baik). Di sisi lain, ia peduli dan perhatian terhadap Jona, sehingga memprioritaskan pemulihan Jona. Namun terlalu cepat ketika di akhir cerita tiba-tiba Alana jatuh cinta terhadap Jona. Hmm, meski tak dipungkiri bahwa tak tertebak kapan cinta akan jatuh. Cukup masuk akal sebenarnya, karena selama beberapa hari itu hubungan Alana – Jona berlangsung sangat intens.

Sementara itu, tokoh Alvin dan Mae mengambil secuil porsi dalam novel ini, meski peran mereka juga penting di masa lalu Jona.

Kini waktunya mengkaji novel ini. Ada beberapa poin yang ingin saya elaborasikan.
  1. Mengenai penggunaan kata “bergeming”. Selama ini banyak kesalahan penggunaan kata tersebut, karena salah pengartian. Menurut KBBI, “bergeming” = tidak bergerak sedikit juga; diam saja. Jelas, maknanya salah ketika Jacob Julian menulis seperti ini “… sehingga kini yang dirasakannya adalah sebuah hantaman pada lemari yang tidak bergeming” (hal. 4-5). Sepanjang membaca, saya menemukan tak hanya satu “bergeming” sejenis itu.
  2. Kebanyakan struktur kalimatnya berbelit dan kaku. Ini bukan karya pertama Jacob Julian yang saya baca. Sebelumnya ada You’re Not Funny Enough. Yang membuat saya tercenung, membaca gaya penulisan Caraphernelia tidak seperti tulisan Jacob Julian. Mungkin karena novel ini sudah cukup lama ditulis, yaitu tahun 2013, jadi gayanya yang sekarang sudah berubah. Menurut observasi saya, kalimat-kalimat yang ia jalin di sini kaku dan kadang sulit dimengerti maksudnya. Novel ini sulit dinikmati. Belum lagi beberapa typo yang mengganggu. Berikut ini adalah contohnya.
    “Lalu secara berurutan dengan memacu napas yang tersengal, pertanyaan yang lain keluar dari pikirannya satu per satu, ingin dia teriakkan tapi tak bisa.” (hal. 7) 
    “Tapi tidak ada di dalam diri Jona untuk segera meminta maaf kepadanya.” (hal. 76) 
    “Kalau tempat pelampiasanku adalah… kamu. Apakah itu berarti saat kamu punya masalah, kamu bisa saja tidak datang padaku?” (hal. 83)
  3. Ada kalimat yang tidak pas. Berikut ini adalah contohnya.
    “Orang baik tidak akan membiarkan tangannya terluka seperti itu.” (hal. 57)
    Apa hubungannya? Mungkin “orang baik” lebih cocok jika diganti “orang waras”, wkwk >,<
    “Kami bahkan tidak mencintai.” (hal. 113)
    Makna kalimat ini akan lebih pas jika diselipi kata “saling”.
    “Seperti topeng yang dikenakan oleh orang dari masa lampau untuk mengganti identitasnya.” (hal. 127)
    Hmm, topeng yang mana, ya? Hehe.
  4. Ketidaklogisan cerita. Dari mana Jona punya uang untuk membeli lagi obat pelupa ingatan? Setahu saya, saat itu ia sedang tak punya uang dan ia belum mencuri uang Alana.
  5. Sebenarnya obat apa, sih, itu? Apa benar ada obat seperti itu? Setelah melakukan studi pustaka (studi pustaka skripsimu aja belum ditulis, Cung!), ternyata memang benar ada obat macam itu!

    WebMD menyebutkan bahwa jenis obat antidepresan, antihistamin, anti-kecemasan, perelaks otot, obat penenang, obat tidur, dan pengurang rasa sakit pascaoperasi bisa turut berperan dalam hilangnya ingatan seseorang.

    Medical Daily menyebutkan jenis obat serupa, tapi lebih lengkap beserta contoh nama obatnya dan cara kerja obat-obatan tersebut yang bisa menyebabkan lupa ingatan. Selain itu, ia juga menambahkan jenis obat chlolesterol, obat hipertensi,
     
  6. Mengapa judulnya CarapherneliaSaya menemukan bahwa Caraphernelia adalah judul lagu oleh Pierce The Veil (kamu bisa baca liriknya di sini). Dari lagu tersebut, populerlah istilah ini untuk menyebut (menurut Urban Dictionary):

    Ah, saya dapat satu kosakata gaul baru! Hahaha :D
  7. Mungkin ini ketidaktelitian saya, tapi mengapa Jona harus menyilet sikunya, sih?


Bagian akhir novel ini cukup meresahkan, karena nggantung nggak ketulungan! Meski pembaca mungkin bisa menebak, sih, siapa sebenarnya “pria bermulut manis” yang dicintai Mae itu. Sebuah akhir yang cukup memuaskan.

Amanat novel ini adalah tak ada yang salah dengan patah hati, tapi yang salah adalah membiarkan diri sendiri berbuat bodoh karena alasan tersebut. Apalagi sampai mencelakakan orang lain. Adalah perbuatan sia-sia melupakan ingatan sendiri, karena cepat atau lambat ingatan itu pasti kembali. Lupa lagi? Lama-lama pasti akan kembali lagi! Kecuali setelah menelan obat pelupa ingatan, Jona mengasingkan di sebuah pulau tak berpenghuni, sehingga nyaris tak mungkin bertemu orang-orang dari masa lalunya.

8 July 2015

[Resensi KAHVE] Selamat Datang di Dunia Tasseografi

Judul: Kahve
Penulis: Yuu Sasih
Editor: Avifah Vé
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-255-894-1
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 4/5


Tahun 2005

Saras meninggal karena bunuh diri dengan terjun dari lantai empat kampusnya, Universitas Tunas Bangsa. Kencana, adiknya, yang selama ini terbiasa mengikuti jejak kakaknya, berusaha mencari sisa-sisa jejak Saras. Kemudian ia membaca diari kakaknya. Empat bulan sebelum meninggal, Saras menuliskan tentang kedai kopi Black Dreams. Di sana, cangkirnya dibaca oleh seorang tasseografer. Katanya, ia mendapatkan shamrock, yang merupakan pertanda keinginan terbesarnya akan terkabul.
Kencana pergi ke Jakarta untuk mencari Black Dreams. Di sana ia bertemu dengan Farran, si pemilik sekaligus barista kedai itu. Saat itu, Kencana yang awam soal kopi, mendapatkan kahve pertamanya.
“(Kahve) Turkish coffee. Kopi yang dibuat dengan metode khas Turki, spesialisasi kedai ini. Gratis camilan khas Turki juga untuk pelanggan yang baru pertama datang, dan oh, gratis pembacaan juga.” 
(Farran, hal. 19)
Di tahun yang sama, Kencana masuk kuliah Sastra Inggris di universitas yang sama dengan kakaknya. Secara implisit, ia mengemban misi untuk menyelidiki kematian Saras, lantaran orang tuanya ingin mengungkap kebenaran, apakah ia benar-benar bunuh diri atau dibunuh. Saat ospek, Kencana berkenalan dengan Linda pertama kali, si mahasiswa pindahan dari jurusan kedokteran. Butuh dua tahun untuknya memutuskan itu. Alasannya sesederhana karena selama kuliah di kedokteran ia merasa jadi manusia bohongan.

Linda yang supel dan cerewet itu kemudian mengenalkannya dengan Rasy, yang adalah mantan pacar Saras. Berikutnya, lelaki penyuka kopi Gayo itu juga menceritakan bahwa ia mendapat kiriman SMS dari Saras sebelum gadis itu bunuh diri. Mengapa hanya ia yang mendapat pesan selamat tinggal?

Beberapa minggu kemudian, setelah meminjamkan buku The Picture of Dorian Gray pada Kencana, Linda menjauhi gadis itu. Seolah belum cukup dikecewakan oleh hal itu, Farran memberitahunya bahwa sebenarnya ada simbol raven (melambangkan kematian) dalam cangkir terakhir Saras. Sebelumnya Farran gagal melihat simbol raven itu, hanya karena masalah prinsip, katanya.
Kenapa kamu nggak terbiasa membaca bagian kiri cangkir? (Kencana)
Karena aku fortune reader. Pembaca peruntungan. (Farran) 
(hal. 90)
Setelah Kencana menjadi pegawai di Black Dreams, Farran mengajarinya tentang kopi dan tasseografi.

Tahun 2006

Linda menghilang. Anehnya, buku The Picture of Dorian Gray kembali ke tangan Kencana, padahal seingatnya ia sudah mengembalikannya. Bersama Rasy, ia berusaha mencari petunjuk ke mana Linda. Setelah itu, giliran Farran yang menghilang. Sehari sebelumnya, Kencana membaca cangkir Farran. Sebelum menghilang, Farran mengatakan bahwa ia menemukan petunjuk tentang Linda, yang mungkin ada hubungannya dengan Saras.

Tahun 2013

Kencana meneruskan bisnis Black Dreams setelah Farran menghilang. Sekarang Rasy telah menjadi dosen di Universitas Tunas Bangsa. Setiap pagi sebelum kedai buka, Rasy selalu mengunjunginya. Kemudian setiap malam setelah kedai tutup, giliran Linda yang ke kedai. Selama delapan tahun Kencana belum berani keluar dari persembunyiannya, ia tidak melanjutkan pencariannya akan kebenaran di balik kematian Saras.

Lalu seorang mahasiswi bimbingan Rasy di kampus ditemukan meninggal dalam kamar kosnya karena pendarahan akibat aborsi. Peristiwa ini memojokkan Rasy, menjadi orang yang paling dicurigai bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu. Kemudian Rasy mengakui sesuatu pada Kencana, berkaitan dengan kematian Saras. Peristiwa yang seperti berkaitan dengan menghilangnya Linda dan kematian Saras itu membuka jalan untuk mengungkap siapa orang yang bertanggung jawab.
***

Kopi dan Tasseografi

Ini bukan kali pertama saya membaca novel bernuansa kopi. Sebelumnya ada Kopiss, yang menurut saya kental aroma kopinya. Lantas, ketika mencari tentang Kahve di Goodreads, saya menemukan satu ulasan yang menobatkannya "lebih terasa kopinya" dibandingkan dengan Filosofi Kopi. Saya sendiri belum pernah baca karya Dee tersebut, jadi saya tidak hendak menghakimi. Namun, penilaian bahwa Kahve sangat kental nuansa kopinya bisa saya terima. Sepanjang mengikuti alur cerita, kopi berbagai varian muncul di sana-sini, bukan sekadar tempelan, melainkan membentuk sebuah nyawa tersendiri. Kopi Gayo kesukaan Rasy. Kopi mandailing kesukaan Kencana. Dan kopi Turki yang disajikan secara kahve dan jadi kebanggan kedai Black Dreams. Tanpa kopi, saya rasa novel ini akan jadi hambar.

Tunggu sebentar.

Sumber di sini.
Sebelum baca buku ini, saya tidak tahu sama sekali tentang tasseografi. Mungkin ada beberapa dari pengunjung blog ini yang juga belum tahu, jadi saya ingin menjelaskannya sedikit. Tasseografi adalah seni meramal menggunakan daun teh, atau cangkir bekas kopi (ini bagian dari budaya Turki). Oleh karena itu, biasanya tasseografi kopi menggunakan kopi khas Turki yang meninggalkan ampas di bagian bawah cangkir. Pembacaan ini melingkupi masa lalu, masa depan yang dekat, dan masa depan yang jauh. Posisi pembacaan simbol dapat dilihat pada ilustrasi di samping. 

Jika cangkir dibagi dua secara membujur (imajinatif) dan menghasilkan belahan kanan dan kiri, dengan pegangan cangkir menjadi titik pusat, maka simbol di bagian kiri kemungkinan besar menandakan sesuatu yang negatif. Sebaliknya, simbol di sebelah kanan menandakan sesuatu yang positif [1]. Oleh karena itu, sesuai prinsipnya sebagai pembaca keberuntungan, Farran enggan membaca simbol di bagian kiri cangkir.

Fenomena Pemerkosaan secara Halus

Tak heran, di bagian awal novel penulis menuliskan ucapan persembahan "untuk perempuan". Pasalnya, penulis ingin mengangkat tentang isu seputar pelecehan perempuan di dalam novelnya. Inilah yang menjadi misteri yang harus diungkap oleh Kencana, karena melibatkan kakaknya dan Linda. Pemerkosaan ini dilakukan oleh orang yang memanfaatkan kedudukan dan status sosialnya untuk memerkosa secara halus. Ketika membaca ini, saya jadi teringat akan kasus pertama (kalau nggak salah) yang ditangani oleh tokoh utama detektif wanita yang bisa melihat hantu di serial drama Korea Who Are You. Di dalam drama tersebut, seorang dokter memanfaatkan kedudukannya untuk memerkosa seorang gadis bisu yang adalah pasiennya.

Fenomena Spiritual Kencana


"Di dunia ini hanya ada dua golongan manusia. Kencana menyebutnya sebagai golongan resah dan golongan ikut arus. Dirinya adalah golongan terakhir. baginya, menjalani hidup adalah perkara cara melewati hari dari awal membuka mata hingga kembali menutupnya. Tak pernah ada tujuan spesifik dalam hidupnya. [...] Berkebalikan dengannya, Saras termasuk dalam golongan resah. Orang-orang yang selalu gelisah tentang segala hal yang terjadi di sekitar mereka." 
(hal. 24)
Penulis memusatkan cerita pada perkembangan spiritual dan mental Kencana pasca-meninggalnya Saras. Sebagai sosok introvert yang terbiasa mengekor kakaknya (ia menyebut dirinya golongan ikut arus), Kencana menjadi takut untuk menerima kenyataan buruk yang terjadi di sekitarnya. Hal ini menyebabkan hilangnya memori tentang kejadian itu, karena ia tak mau mengingatnya. Sifat keras kepalanya mendukung hal ini, seperti yang terjadi pada tahun 2006 setelah Linda menghilang. Kencana tetap ngotot tidak mau membaca cangkir terakhir Linda.
“Kalau kamu ingin cari petunjuk, mungkin di situ ada sesuatu.” 
(Farran, hal. 121)
Dia juga belum menonton film yang diceritakan Linda padanya, Night on the Galactic Railroad, karena takut akan menemukan sesuatu yang tak ia sukai. Kedua hal ini menunjukkan betapa ngototnya Kencana untuk tetap menolak melihat kenyataan, padahal ia penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Sebenarnya Linda sudah memberi petunjuk-petunjuk pada Kencana untuk menyadarkannya bahwa ia harus berhenti menolak kenyataan.

Kencana juga memiliki perasaan insecure akan eksistensi dirinya di hadapan orang lain, seperti ditunjukkan oleh kutipan berikut.

Dia tidak terlalu suka diperkenalkan sebagai Nana. Rasanya seperti gumaman saat menyanyikan lagu yang lupa liriknya—na na naa na na na naa. 
(hal. 75)
Mungkin dengan dipanggil Nana, ia jadi merasa seperti si lagu yang terlupakan. Selain itu, Kencana juga memiliki kemampuan indera keenam, yang kadang menemuinya lewat mimpi atau ketika sedang melakukan tasseografi. Oleh karena itu, menurut Farran, ia akan menjadi tasseografer yang hebat karena ia bisa memasuki dunia nasib, bukan sekadar membaca simbol dengan mata telanjang.

La Campanella, Night on the Galactic Railroad,

dan The Picture of Dorian Gray


Terkadang, hal-hal kecil lebih berperan besar dalam perkembangan cerita ketimbang hal-hal besar. Contohnya seperti tiga komponen berikut:

  1. lagu La Campanella oleh Liszt, dari Paganini etude No. 3



    Di dalam novel, Kencana pertama kali mendengar lagu ini di rumah Om Linda. Lagu itu adalah lagu favorit Om-nya, karena judulnya seperti nama lengkap Linda, Linda Ningtyas. Dalam bahasa Italia, La Campanella berarti lonceng kecil, sementara "Linda Ningtyas" berarti "perempuan cantik dengan hati yang berdenting seperti lonceng kecil" (hal. 108)
  2. film Night on the Galactic Railroad



    Ini adalah film kartun Jepang yang diadaptasi pada tahun 1985, berdasarkan novel fantasi klasik karya Kenji Miyazawa, yang ditulis sekitar tahun 1927. Film ini memegang peran penting juga dalam cerita, karena Linda sering mengutip kata-kata dari film ini, dan menganalogikan kondisi hubungannya dengan Kencana dengan kereta api, seperti dalam film itu.
    “Tapi perjalanan kereta kita suatu saat akan berhenti, entah di stasiun akhir atau di stasiun sebelumnya. Dan kamu harus menerimanya, cepat atau lambat. Dalam kasus kita, kamu yang harus menentukan di mana kamu akan berhenti.” 
    (Linda, hal. 111)
  3. novel The Picture of Dorian Gray
    (resensi versi terjemahan Indonesia-nya bisa dibaca di sini)

    Novel klasik ini juga merupakan salah satu favorit saya. Ada tiga tokoh utama dalam novel ini, yang masing-masing dianalogikan oleh Linda. Basil Hallward, si pelukis yang hidupnya lurus dan baik hati, dianalogikan dengan Rasy. Lord Henry Wotton, si bangsawan hedon, penganut paham estetika, yang pintar berkata-kata, sehingga bisa memengaruhi atau meracuni orang dengan mudah. Dalam novel karya Oscar Wilde itu, Dorian Gray adalah sosok pemuda yang memiliki fisik sempurna, tapi lugu, sehingga mudah dipengaruhi oleh Henry. Oleh karena Kencana juga teramat lugu, Linda menganalogikannya dengan Dorian Gray. Sementara itu, Linda menganggap dirinya sendiri adalah Henry.

    “Kamu bukan Basil. Kamu lebih mirip Dorian Gray.” 
    (Linda, hal. 103)
Di dalam novel Dorian Gray ada unsur homoseksualitas, yang dialami Basil terhadap Dorian. Di dalam novel Kahve, penulis menganalogikan ini dalam bentuk lesbianisme Linda - Kencana yang diceritakan secara implisit, seperti dalam dialog berikut.

Kencana : Karena kamu mengira dirimu mirip Lord Henry Wotton, bangsawan hedon yang bisa memengaruhi Dorian dengan pola pikir estetisnya. 

Linda: Kamu cantik karena kamu lugu, Sayangku. Intinya kamu terlalu murni untuk kucemari. [...] Rasy itu seperti Basil Hallward. Tapi dia orang baik. Dia akan menjagamu. 

Kencana: Tapi aku suka Lord Henry. 

Linda: Benar-benar mirip Dorian Gray, kan? 

(hal. 106-7) 
Selain melalui dialog tersebut, pesan lesbianisme ini juga tersirat dalam tatapan Kencana pada Linda saat mereka berada di rumah Om Hendra. Selain itu juga dalam pembacaan cangkir Kencana, sebelum gadis itu bertemu dengan Linda. Saat itu, Linda seperti menjauhinya dengan sengaja. Farran menemukan simbol perahu dan malaikat.

“Mm... perahu, itu tanda seseorang akan datang mengunjungimu. Malaikat artinya kabar baik. Terutama kabar baik dalam percintaan.” 
(Farran, hal. 101)
Mungkin yang dimaksud adalah percintaan antara Linda dan Kencana?

Pohon Yew dalam Cangkir Farran

Cangkir Farran yang dibaca Kencana menunjukkan simbol shamrock dan pohon yew raksasa. Karena sampai akhir penulis tidak menyinggung ke mana Farran menghilang, saya jadi menafsirkan sendiri karena penasaran. Petunjuk mungkin bisa diterjemahkan dari pembacaan cangkir Farran. Arti shamrock sudah jelas dalam buku, “keinginan terbesar akan terkabul”. Ketika Kencana bertanya pada Farran, apa keinginannya, lelaki itu menyuruhnya untuk membaca lebih jauh lagi. Muncullah pohon yew. Berarti keinginan Farran ada kaitannya dengan simbol pohon yew itu. Bedanya dengan pohon biasa?

  • Pohon biasa berarti "good luck; prosperity and happiness; if surrounded by dots, fortune will be found in the country" (sumber di sini).
  • Pohon yew berarti kemungkinan yang bersangkutan akan mencapai kedudukan yang menonjol, dan mendapat warisan dari sanak yang lanjut umurnya atau teman (sumber di sini).
Hmm, mungkinkah Farran kembali ke keluarganya yang entah ada di mana? Entahlah. Haha.


Terlepas dari unsur-unsur tersebut, tema yang diangkat novel ini bisa dibilang unik, karena banyak hal baru yang belum saya tahu. Plotnya yang disusun secara bolak-balik dari tahun 2013 ke tahun 2005, kemudian tahun 2006, lalu balik lagi ke tahun 2013, dan seterusnya, membuat saya tidak bosan dan terus penasaran. Terlebih penulis mampu menghadirkan suasana remang-remang (bukan dark) dan menebar teka-teki di mana-mana. Seperti ketika Linda muncul di tahun 2013, padahal di tahun 2006 ia menghilang. Saya jadi bingung dan makin tertarik.

Sangat disayangkan, karena penulis memusatkan cerita pada Kencana, pengungkapan misteri kematian Saras dan menghilangnya Linda menjadi kurang seru. Sampai di 2/3 tebal novel, tokoh Rasy mengakui sesuatu tentang kematian Saras pada Kencana, dan karenanya mengungkap semuanya sekaligus. Teka-teki yang tertinggal hanyalah ke mana Farran dan apa arti pohon yew. Tapi perkembangan mental tokoh Kencana juga menarik diikuti.

Tokoh utamanya, Kencana, Linda, Rasy, dan Farran, terbangun dengan baik. Linda yang cerewet, supel, dan cantik. Rasy yang baik hati dan penakut. Farran yang supel tapi misterius. Awalnya, saya kira akan ada kisah percintaan antara Kencana dan Farran... Eh, ternyata tidak, hiks.
Yang paling terbangun karakternya pastilah Kencana, karena penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas Kencana. Seandainya penulis menggunakan sudut pandang berganti-ganti tiap tokoh, maka tingkat misteriusnya akan kurang nampol.

Gaya bahasa yang digunakan penulis masih agak kaku, terutama di bagian dialog. Juga ada beberapa analogi yang kurang mengena ke maksudnya, seperti ini.
“Hubunganku dengan lagu ini kayak hubungan anjing dengan makanan resep dari dokter hewan.” 
(Kencana, hal. 8)
Saya percaya, di novel penulis yang berikutnya, gaya bahasa penulis pasti akan jadi lebih luwes lagi, karena novel debutnya saja sekeren ini ^^. Kelihatan sekali kalau penulisnya mahasiswa psikologi, hehe.



14 June 2015

[Resensi ENEAGRAM] Dari Kesembilan Tipe Manusia, yang Manakah Anda?

Eneagram: Mengenal 9 Tipe Kepribadian Manusia dengan Lebih Asyik
Penulis : Renee Baron & Elizabeth Wagele
Penerjemah : Leinofar Bahfein
Penerbit : Serambi
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : 174+x halaman
ISBN : 978-602-290-016-0
Harga : Rp 39.000,00

Kategorisasi kepribadian  manusia dengan sistem Eneagram adalah pengetahuan baru bagi saya, yg sebelumnya cuma tahu 4 tipe kepribadian dari buku Personality Plus karangan Flaurence Littauer, dan kepribadian berdasarkan golongan darah dari buku-semi-komiknya Park Dong Sun. Ketimbang dua sistem kategorisasi tersebut, Eneagram lebih spesifik (yah, gampangnya, karena ada 9 tipe, jadi lebih spesifik daripada 4 tipe). Disebutkan bahwa "cikal bakal Eneagram telah ada sejak ratusan tahun lalu" (hal. 1). Sistem Eneagram digambarkan sebagai berikut. Gambar ini memiliki komponen penting untuk "membaca" kepribadian, yaitu panah dan sayap.
"Tiap titik pada Eneagram berhubungan dengan dua titik lainnya. Dua titik ini atau tipe ini disebut panah Anda." (hal. 4)
Panah ini merujuk pada karakter negatif dan positif mana yang secara sadar atau pun tidak Anda ambil dari dua tipe lain.

"Tipe-tipe yang bersebelahan dengan tipe Anda ini dinamakan sayap Anda." (hal. 5)
Sayap ini menunjukkan percampuran atau pengaruh dari dua tipe yang mengapit tipe Anda.



Kesembilan tipe kepribadian dalam Eneagram adalah sebagai berikut.
  1. Perfeksionis
  2. Penolong
  3. Pengejar Prestasi
  4. Romantis
  5. Pengamat
  6. Pencemas
  7. Petualang
  8. Pejuang
  9. Pendamai.
Buku ini memang tergolong tipis untuk menjelaskan kesembilan tipe kepribadian tersebut, karena hanya sebatas memberi pengenalan tentang Eneagram. Ilustrasi yang ada di dalamnya cukup mewakili penjelasan dan membuat buku ini lebih menarik untuk dibaca. Terlebih, penulis juga menyertakan sedikit penjelasan tentang tipe kepribadian MBTI dan Jungian, dan mencocokkannya dengan sistem Eneagram.

Di beberapa bagian saya berharap mendapat ilustrasi berupa contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, karena yang tertulis kadang terlalu abstrak untuk bisa saya mengerti. Kalau di Personality Plus, kan, penulis banyak menunjukkan dengan contoh sehari-hari sebagai hasil pengamatannya terhadap manusia, jadi lebih mudah dipahami.

Namun pendataan kepribadian yang selalu ada di awal tiap bab tipe kepribadian sangat membantu untuk mengategorikan kepribadian diri sendiri. Saya menemukan bahwa saya adalah manusia tipe 3, si Pengejar Prestasi, yang memiliki sayap cenderung ke tipe 4 (si Romantis), karena kreatif, memiliki kepekaan estetis, melankolis, dan suka menulis. Namun, jika mengikuti panah, saya mengambil sisi positif tipe 9 (si Pendamai), sehingga saya jadi lebih santai, lebih mudah menerima keadaan, dan memandang hidup dari beberapa sudut pandang. Saya mengambil sisi positif ini secara sadar lantaran terpengaruh oleh salah satu sahabat saya yang berkepribadian santai. Saya juga mulai berusaha mengambil sisi positif tipe 6 (si Pencemas) dengan meluangkan waktu untuk keluarga dan teman (kau tahu, ini sangat susah dilakukan, karena pikiran khas tipe 3 saya selalu memperingatkan bahwa waktu jauh lebih berharga ketimbang emas, sehingga 'lebih baik mengerjakan tulisan saya untuk lomba cerpen misalnya, ketimbang nongkrong untuk bersosialisasi ke kamar kos sebelah' hohoho). Tapi, kadang saya tanpa sadar mengambil sisi negatif tipe 6, yaitu susah mengambil keputusan, biasanya adalah masalah 'mau makan di mana'. Suatu saat, saya dan sahabat saya kelaparan dan bingung mau makan di mana. Sampai kami berdua ketiduran selama beberapa saat dan terbangun, keputusan belum diambil, haha.

Selain itu, berdasarkan jawaban saya atas pertanyaan tes, saya memiliki cukup banyak sifat tipe 7 (si Petualang). Di sini saya mulai sedikit bingung, mungkinkah tipe 3 bercampur dengan tipe 7, karena panah maupun sayap tipe 3 tidak terhubung dengan tipe 7. Kalau berdasarkan sistem MBTI, saya cenderung berada di antara INTJ (umum untuk tipe 3) dan ENTP (umum untuk tipe 7).

Buku ini cukup bermanfaat bagi pembaca yang ingin lebih mengenal diri sendiri dan orang lain dalam pergaulan maupun kehidupan secara umum. Jadi, tipe manakah dirimu? ^^ 



bloggerwidgets