Showing posts with label yuu sasih. Show all posts
Showing posts with label yuu sasih. Show all posts

21 September 2015

[SiPiLis #2] Yuu Sasih: Konsisten dengan Surealisme dan Realisme Magis, Gender, dan Seksualitas

Halo, semuanya! Jumpa lagi di SiPiLis episode 2!
Sebelumnya, saya minta maaf karena seharusnya ini posting bulan kemarin... Maaf, saya belum menepati janji untuk menerbitkan rubrik ini secara bulanan >,<

Di episode ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Yuu Sasih, penulis novel Kahve, yang ramah dan menyenangkan ^^. (Dan tidak keberatan saya sodori pertanyaan yang panjang-panjang.) Hayoo, sudah baca bukunya belum? Kahve adalah novel debut recommended, menurut saya. Tema yang diusungnya cukup kompleks dan berat. Ada isu pemerkosaan subtil, tasseografi, LGBT, dan tentu saja ruh psikologi menyokong dari latar belakang.

Oke, langsung saja kita mulai sesi ngopi bareng Yuu Sasih.

1. Latar belakang pendidikan Mbak, yang adalah psikologi, saya yakin berperan banyak dalam memotivasi lahirnya Kahve. Tolong, dong, ceritakan peran ilmu psikologi Mbak dalam membantu menciptakan para tokoh dan alur cerita Kahve.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari belajar psikologi adalah cakupan pembahasannya yang begitu luas, bukan hanya di seputar kesehatan jiwa seperti yang sering diasumsikan orang-orang. Dari psikologi, saya mengenal dan mendalami banyak bidang-bidang lain. Saya belajar filsafat, politik, sastra, hingga hal-hal teknis macam arsitektur dan kesehatan masyarakat. Tapi dari semua itu, yang paling menarik perhatian saya adalah kajian gender dan seksualitas. Dan saya sangat bersyukur bisa memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu orang-orang hebat dalam ranah tersebut. Bisa dibilang Kahve merupakan leburan dari segala pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan selama mendalami isu gender dan seksualitas.

2. Ada isu LGBT yang Mbak angkat, meski tidak secara mayor menduduki porsi cerita, tapi berperan penting dalam perkembangan karakter Kencana. Apa motivasi Mbak memasukkan unsur lesbianisme?

Hmm, motivasi memasukkan lesbianisme ke dalam cerita.... Motivasi utama saya, yang menurut saya lebih kepada idealisme menulis saya sendiri, adalah membuat kisah dengan diverse and non-stereotyping characters. Karena warga Indonesia, kan, bukan cuma orang-orang Jawa dan heteroseksual. Makanya ada juga Farran yang Arab-Cina. Rasy yang bukan, bisa dibilang, jenis laki-laki yang memenuhi stereotip maskulinitas. Kencana yang biseksual, dan Linda yang (bukan stereotip) lesbian.

3. Akhir-akhir ini isu LGBT cukup hangat dibicarakan di Indonesia, termasuk di kalangan penulis. Cukup banyak novel yang mengangkat isu ini. Apakah Mbak pernah membaca salah satu dari karya tersebut? Adakah yang berkesan? Bagaimana tanggapan Mbak?

Novel LGBT Indonesia? Oh, ya, saya baca cukup banyak. Sebenarnya saya juga menerbitkan novel gay romance secara self-publish, sebulan setelah Kahve terbit. Jadi sekitar tahun 2012--2013 saya banyak baca novel LGBT Indonesia untuk cari tahu jenis-jenisnya. Sebelumnya, saya sendiri sudah banyak baca novel gay romance Barat, jadi waktu baca novel LGBT Indonesia, yah, kulturnya beda. Haha.

Kalau novel LGBT Indonesia, sepanjang yang saya baca, belum ada yang berkesan. Trope-nya masih sama, yaitu "kisah cinta terlarang" dengan, kalau bukan salah satu atau keduanya menikah dengan perempuan dan "kembali ke jalan yang lurus" demi keluarga, pasti salah satu atau keduanya mati mengenaskan. Walau mungkin saja cerita-cerita macam ini lebih sesuai dengan realitas kaum LGBT di Indonesia, tapi hal ini jadi semacam mencitrakan bahwa menjadi LGBT di Indonesia sama saja dengan "doomed for life". Kisah-kisah macam ini tidak memberikan perspektif lain--bahwa sebenarnya kaum LGBT bisa dan boleh bahagia, bahwa sebenarnya mereka memiliki serangkaian cara lain untuk memperoleh kebahagiaan--dan seolah mengeset jawaban bahwa jalan kebahagiaan bagi LGBT khususnya--dan seluruh manusia pada umumnya--adalah "conform or die".

Karena itu, saya dan rekan saya akhirnya membuat novel LGBT yang berusaha memberikan perspektif lain terhadap kaum LGBT dan potensi-potensi yang bisa mereka gali, meski tidak sepenuhnya mengabaikan kultur Indonesia. Bukunya merupakan rangkaian trilogi, buku pertamanya, Pencarian, terbit sebulan setelah Kahve dan sampai sejauh ini masih mendapatkan respon yang sangat baik. Don't forget to check that out, too! ;) #promositerselubung #lol

Wah, sepertinya menarik, nih... Belinya di mana, Mbak? Dapet tanda tangan, nggak? :^)

4. Mungkin ada penulis yang mengangkat isu LGBT karena 'aji mumpung', karena lagi hangat-hangatnya isu tersebut, maka diharapkan karyanya akan meledak. Bagaimana pendapat Mbak tentang hal ini?

Secara objektif, saya akan bilang kalau motivasi penulis itu berbeda-beda, jadi itu terserah pada mereka masing-masing. Secara personal, saya tidak menyukai jenis penulis yang seperti itu. Penulis seperti itu biasanya hanya menggali sisi kontroversial dari suatu isu dan tidak berusaha mendalami isu tersebut dengan riset dan pemahaman yang sungguh-sungguh. Istilahnya, sama seperti acara gosip. Begitu ada yang kontroversial, mereka kejar dan poles demi rating, tapi pembahasannya one-dimensional dan "main aman", bahkan kadang sampai melukai narasumber demi mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Jadi, saya pribadi tidak menghargai hal seperti itu. Jika saya tahu ada penulis yang seperti itu, saya akan memutuskan untuk tidak pernah membaca karya mereka. Masih banyak penulis lain yang menulis dengan sungguh-sungguh, yang menghadirkan suatu tema unik karena mereka memang ingin tema itu dipahami oleh pembacanya. Penulis seperti itu yang akan mendapatkan apresiasi penuh dari saya.


5. Tasseografi sangat unik menurut saya (karena sebelumnya saya nggak tahu tentang ini, hehe). Apakah Mbak memang sudah lama tertarik dengan kopi dan tasseografi, atau memelajarinya hanya untuk keperluan penulisan Kahve?

Saya coffee addict sejak lama, tapi tasseo sendiri memang baru saya pelajari untuk kepentingan Kahve. Sejak awal saya sudah memutuskan bahwa Kahve akan menjadi karya dengan genre realisme magis, karena itu brainstorming saya dimulai dengan hal-hal magis apa saja yang bisa dikaitkan dengan kopi? Jawabannya, as you can see, tasseografi.


6. Membaca bagian di mana Farran tiba-tiba menghilang, dan bagian kisah Kencana--Linda, saya jadi teringat akan novel Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami. Apakah Mbak memang terinspirasi dari Murakami?
- Kalau iya, tolong ceritakan seberapa besar pengaruh gaya penulisan Murakami terhadap gaya Mbak sendiri.
- Kalau tidak, tolong ceritakan karya sastra/penulis yang paling berpengaruh terhadap gaya penulisan ataupun memotivasi Mbak untuk menulis.
Oh yesss! Murakami is my literary god! Kahve memang sebagian terinspirasi dari karya Murakami, tapi bukan Sputnik Sweetheart secara spesifik. Tapi hampir benar! Better luck next time! Lol.

Pengaruh Murakami terhadap gaya menulis saya bisa dibilang cukup besar. Murakami yang pertama memperkenalkan saya pada sastra surealisme dan realisme magis, dua genre yang hampir selalu jadi dasar setiap karya saya sekarang. Murakami juga yang membuat saya mencoba untuk melihat suatu karya fiksi di luar konteks yang disajikan. Murakami sering memasukkan lagu-lagu dan karya sastra di dalam cerita-ceritanya, dan jika kita membaca latar belakang semua referensi yang dimasukkannya, akan ada semacam apresiasi baru terhadap cerita tersebut yang tidak akan kita dapatkan kalau kita hanya membaca apa yang disampaikan secara literer! Referensi-referensi Murakami dalam karya-karya buatannya selalu menambah pengetahuan saya, dan saya ingin memberikan yang serupa bagi pembaca Kahve. Makanya saya senang sekali saat membaca ulasan Mbak Frida, yang ternyata sangat detil dengan memasukkan unsur-unsur yang sengaja saya selipkan untuk menambah kelezatan Kahve. I feel so happy and honored!

Yaaay, tebakan saya agak sedikit benar >,< Pasalnya saya baru selesai baca Sputnik Sweetheart, jadi langsung nyantol, hehe. Ah, dan saya juga menyukai genre realisme-magis, Mbak. Uh, I feel so happy too, Mbak, to have ever read Kahve.

7. Ada La Campanella, Night on The Galactic Railroad, dan The Picture of Dorian Gray dalam Kahve. Apakah tiga karya seni tersebut memang favorit Mbak secara pribadi? Tolong ceritakan, dong, Mbak, soalnya saya penasaran. Hehe.

Night on the Galactic Railroad memang film terfavorit saya sepanjang masa. Sama seperti karya-karya Murakami, Night on the Galactic Railroad dari luar hanya seperti cerita anak-anak biasa, tapi jika digali lebih dalam, ada makna-makna lain yang sangat menarik, bahkan bagi penonton usia dewasa (dan dua kucing Campanella dan Giovanni itu imutnya bukan main). La Campanella sendiri baru saya temukan saat masa brainstorming Kahve. Begitu mendengarnya, antusiasme saya langsung meledak, "Oh! Ini harus ada di novel!"

Sementara itu, saya suka The Picture of Dorian Gray, tapi bukan bisa dibilang favorit secara pribadi. Saya suka dengan apa yang disampaikan oleh cerita itu. Saat brainstorming Kahve, karya klasik itu langsung muncul begitu saja di kepala. Dan ternyata memang pas dengan tema Kahve pada akhirnya. :)


8. Saya yakin di balik penulisan Kahve, Mbak melakukan serangkaian riset. Tolong ceritakan metode riset seperti apa yang Mbak gunakan, dan riset bagian mana yang paling berkesan untuk Mbak.

Kahve dibuat dengan tujuan awal untuk meningkatkan awareness pembaca terhadap isu pemerkosaan subtil (subtle rape). Saya merasa masih banyak orang di Indonesia yang menganggap pemerkosaan itu dilakukan oleh orang asing sama sekali dan dengan menggunakan kekerasan. Padahal tidak selalu demikian. Pemerkosaan sebagian besar dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengan korban dan seringkali dilakukan tidak dengan kekerasan, tetapi dengan ancaman yang dibalut oleh rayuan. 

Untuk menggali isu tersebut, saya mendatangi seminar-seminar tentang kekerasan seksual berbasis gender dan forum-forum kesaksian korban. Kasus yang saya jadikan model, seperti yang mungkin sebagian orang sudah bisa tebak, adalah kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Sitok Srengenge terhadap seorang mahasiswi. Kebetulan salah satu teman saya kenal secara pribadi dengan korban, karena itu saya mengetahui kisah lengkapnya dari teman tersebut, juga dari grup khusus yang dibuat untuk menegakkan keadilan bagi korban. Selain itu, saya juga mewawancarai beberapa kenalan yang pernah terlibat dalam subtle rape dengan pacar dan bahkan anggota keluarga mereka sendiri. Saya rasa mendengarkan kisah mereka merupakan salah satu yang paling berkesan dalam rangkaian riset saya. Rasanya menyedihkan mengetahui bahwa banyak orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang kita sayangi, ternyata pernah mengalami kekerasan seksual dan tidak mampu melaporkannya karena stigma yang ditempelkan pada korban, dan bahkan banyak yang tidak sadar mereka telah mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual! Orang-orang ini yang menjadi alasan saya menulis Kahve

Tapi yang paling menyenangkan, tentu saja riset tentang kopinya. Walau saya penggemar kopi, kopi Nusantara--sayangnya--adalah jenis kopi yang baru saya ketahui keberadaannya beberapa tahun lalu (thank you, Kedai Kopi CTI!). Setelah itu, saya akhirnya berniat untuk memperkenalkan kopi Nusantara ini kepada banyak orang, karena jenis-jenis kopi lokal kita ternyata enaknya bukan main! Jadi, untuk risetnya, saya menggeret salah satu sahabat saya dari kedai satu ke kedai lain dan memesan segala jenis kopi Nusantara, mengendusi setiap cangkir seperti anjing dan berusaha mendeskripsikan serta membedakan setiap jenis kopi. Tidak lupa SKSD sama barista-baristanya, pasang muka bantal waktu ditertawai karena tanya hal-hal bodoh, dan berusaha minta coba pegang coffeemaker-nya. It's really fun!

Awww, saya adalah jenis orang yang selalu melakukan riset untuk tulisan apa pun, dan mendengar cerita Mbak, saya jadi kagum akan totalitas yang Mbak lakukan. I really appreciate it, and it sounds funny too! Tak heran, begitu membaca Kahve, saya langsung bisa merasakan bahwa ia ditulis dengan segenap riset memadai.

9. Menurut kaca mata saya yang minus lima sebagai peresensi, Kahve adalah novel debut yang recommended. Untuk karya selanjutnya, kira-kira tema apa yang ingin Mbak angkat? 

Aww, terima kasih banyak! Saya tersanjung sekali ^^. Untuk selanjutnya, saya rasa untuk beberapa saat saya tetap akan bermain di tema-tema sekitar gender dan seksualitas. Masih banyak sisi yang belum dieksplor dari tema ini karena sebagian besar masih dianggap tabu. Beberapa rencana yang sedang atau akan dikerjakan antara lain tema stereotip LGBT, isu slut shamingdan radical feminism. Entah yang mana yang bisa terealisasi lebih dulu. Wish me luck!

Wah, sangat menarik! Semoga bisa terealisasi semuanya, ya, Mbak! Saya akan menunggu karya selanjutnya :D Dan hmm, radical feminism? Saya jadi teringat Ayu Utami, meski mungkin tidak sepenuhnya benar, hehe.

(Catatan: 'slut shaming' adalah fenomena yang mana orang-orang memandang rendah dan menghina seorang perempuan karena ia gila seks, menikmati seks, atau bahkan hanya dirumorkan berpartisipasi dalam aktivitas seksual [Urban Dictionary])

Terima kasih, Mbak Ayu, atas waktu yang disisihkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kepo saya. Saya takjub, lho, karena Mbak Ayu ini fast-response akan tawaran dari saya untuk mengisi rubrik SiPiLis. Well, sampai jumpa lagi, dan semoga sukses!

Demikianlah perbincangan seru (dan cukup berat) saya dengan Mbak Yuu Sasih alias Ayu. Semoga memberikan wawasan baru bagi para pembaca, dan secara khusus, bagi para pembaca Kahve, yang penasaran seperti saya. Hehehe.

Mbak Yuu Sasih bisa dijumpai di Facebook.

Sampai jumpa di SiPiLis #3!



8 July 2015

[Resensi KAHVE] Selamat Datang di Dunia Tasseografi

Judul: Kahve
Penulis: Yuu Sasih
Editor: Avifah Vé
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-255-894-1
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 4/5


Tahun 2005

Saras meninggal karena bunuh diri dengan terjun dari lantai empat kampusnya, Universitas Tunas Bangsa. Kencana, adiknya, yang selama ini terbiasa mengikuti jejak kakaknya, berusaha mencari sisa-sisa jejak Saras. Kemudian ia membaca diari kakaknya. Empat bulan sebelum meninggal, Saras menuliskan tentang kedai kopi Black Dreams. Di sana, cangkirnya dibaca oleh seorang tasseografer. Katanya, ia mendapatkan shamrock, yang merupakan pertanda keinginan terbesarnya akan terkabul.
Kencana pergi ke Jakarta untuk mencari Black Dreams. Di sana ia bertemu dengan Farran, si pemilik sekaligus barista kedai itu. Saat itu, Kencana yang awam soal kopi, mendapatkan kahve pertamanya.
“(Kahve) Turkish coffee. Kopi yang dibuat dengan metode khas Turki, spesialisasi kedai ini. Gratis camilan khas Turki juga untuk pelanggan yang baru pertama datang, dan oh, gratis pembacaan juga.” 
(Farran, hal. 19)
Di tahun yang sama, Kencana masuk kuliah Sastra Inggris di universitas yang sama dengan kakaknya. Secara implisit, ia mengemban misi untuk menyelidiki kematian Saras, lantaran orang tuanya ingin mengungkap kebenaran, apakah ia benar-benar bunuh diri atau dibunuh. Saat ospek, Kencana berkenalan dengan Linda pertama kali, si mahasiswa pindahan dari jurusan kedokteran. Butuh dua tahun untuknya memutuskan itu. Alasannya sesederhana karena selama kuliah di kedokteran ia merasa jadi manusia bohongan.

Linda yang supel dan cerewet itu kemudian mengenalkannya dengan Rasy, yang adalah mantan pacar Saras. Berikutnya, lelaki penyuka kopi Gayo itu juga menceritakan bahwa ia mendapat kiriman SMS dari Saras sebelum gadis itu bunuh diri. Mengapa hanya ia yang mendapat pesan selamat tinggal?

Beberapa minggu kemudian, setelah meminjamkan buku The Picture of Dorian Gray pada Kencana, Linda menjauhi gadis itu. Seolah belum cukup dikecewakan oleh hal itu, Farran memberitahunya bahwa sebenarnya ada simbol raven (melambangkan kematian) dalam cangkir terakhir Saras. Sebelumnya Farran gagal melihat simbol raven itu, hanya karena masalah prinsip, katanya.
Kenapa kamu nggak terbiasa membaca bagian kiri cangkir? (Kencana)
Karena aku fortune reader. Pembaca peruntungan. (Farran) 
(hal. 90)
Setelah Kencana menjadi pegawai di Black Dreams, Farran mengajarinya tentang kopi dan tasseografi.

Tahun 2006

Linda menghilang. Anehnya, buku The Picture of Dorian Gray kembali ke tangan Kencana, padahal seingatnya ia sudah mengembalikannya. Bersama Rasy, ia berusaha mencari petunjuk ke mana Linda. Setelah itu, giliran Farran yang menghilang. Sehari sebelumnya, Kencana membaca cangkir Farran. Sebelum menghilang, Farran mengatakan bahwa ia menemukan petunjuk tentang Linda, yang mungkin ada hubungannya dengan Saras.

Tahun 2013

Kencana meneruskan bisnis Black Dreams setelah Farran menghilang. Sekarang Rasy telah menjadi dosen di Universitas Tunas Bangsa. Setiap pagi sebelum kedai buka, Rasy selalu mengunjunginya. Kemudian setiap malam setelah kedai tutup, giliran Linda yang ke kedai. Selama delapan tahun Kencana belum berani keluar dari persembunyiannya, ia tidak melanjutkan pencariannya akan kebenaran di balik kematian Saras.

Lalu seorang mahasiswi bimbingan Rasy di kampus ditemukan meninggal dalam kamar kosnya karena pendarahan akibat aborsi. Peristiwa ini memojokkan Rasy, menjadi orang yang paling dicurigai bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu. Kemudian Rasy mengakui sesuatu pada Kencana, berkaitan dengan kematian Saras. Peristiwa yang seperti berkaitan dengan menghilangnya Linda dan kematian Saras itu membuka jalan untuk mengungkap siapa orang yang bertanggung jawab.
***

Kopi dan Tasseografi

Ini bukan kali pertama saya membaca novel bernuansa kopi. Sebelumnya ada Kopiss, yang menurut saya kental aroma kopinya. Lantas, ketika mencari tentang Kahve di Goodreads, saya menemukan satu ulasan yang menobatkannya "lebih terasa kopinya" dibandingkan dengan Filosofi Kopi. Saya sendiri belum pernah baca karya Dee tersebut, jadi saya tidak hendak menghakimi. Namun, penilaian bahwa Kahve sangat kental nuansa kopinya bisa saya terima. Sepanjang mengikuti alur cerita, kopi berbagai varian muncul di sana-sini, bukan sekadar tempelan, melainkan membentuk sebuah nyawa tersendiri. Kopi Gayo kesukaan Rasy. Kopi mandailing kesukaan Kencana. Dan kopi Turki yang disajikan secara kahve dan jadi kebanggan kedai Black Dreams. Tanpa kopi, saya rasa novel ini akan jadi hambar.

Tunggu sebentar.

Sumber di sini.
Sebelum baca buku ini, saya tidak tahu sama sekali tentang tasseografi. Mungkin ada beberapa dari pengunjung blog ini yang juga belum tahu, jadi saya ingin menjelaskannya sedikit. Tasseografi adalah seni meramal menggunakan daun teh, atau cangkir bekas kopi (ini bagian dari budaya Turki). Oleh karena itu, biasanya tasseografi kopi menggunakan kopi khas Turki yang meninggalkan ampas di bagian bawah cangkir. Pembacaan ini melingkupi masa lalu, masa depan yang dekat, dan masa depan yang jauh. Posisi pembacaan simbol dapat dilihat pada ilustrasi di samping. 

Jika cangkir dibagi dua secara membujur (imajinatif) dan menghasilkan belahan kanan dan kiri, dengan pegangan cangkir menjadi titik pusat, maka simbol di bagian kiri kemungkinan besar menandakan sesuatu yang negatif. Sebaliknya, simbol di sebelah kanan menandakan sesuatu yang positif [1]. Oleh karena itu, sesuai prinsipnya sebagai pembaca keberuntungan, Farran enggan membaca simbol di bagian kiri cangkir.

Fenomena Pemerkosaan secara Halus

Tak heran, di bagian awal novel penulis menuliskan ucapan persembahan "untuk perempuan". Pasalnya, penulis ingin mengangkat tentang isu seputar pelecehan perempuan di dalam novelnya. Inilah yang menjadi misteri yang harus diungkap oleh Kencana, karena melibatkan kakaknya dan Linda. Pemerkosaan ini dilakukan oleh orang yang memanfaatkan kedudukan dan status sosialnya untuk memerkosa secara halus. Ketika membaca ini, saya jadi teringat akan kasus pertama (kalau nggak salah) yang ditangani oleh tokoh utama detektif wanita yang bisa melihat hantu di serial drama Korea Who Are You. Di dalam drama tersebut, seorang dokter memanfaatkan kedudukannya untuk memerkosa seorang gadis bisu yang adalah pasiennya.

Fenomena Spiritual Kencana


"Di dunia ini hanya ada dua golongan manusia. Kencana menyebutnya sebagai golongan resah dan golongan ikut arus. Dirinya adalah golongan terakhir. baginya, menjalani hidup adalah perkara cara melewati hari dari awal membuka mata hingga kembali menutupnya. Tak pernah ada tujuan spesifik dalam hidupnya. [...] Berkebalikan dengannya, Saras termasuk dalam golongan resah. Orang-orang yang selalu gelisah tentang segala hal yang terjadi di sekitar mereka." 
(hal. 24)
Penulis memusatkan cerita pada perkembangan spiritual dan mental Kencana pasca-meninggalnya Saras. Sebagai sosok introvert yang terbiasa mengekor kakaknya (ia menyebut dirinya golongan ikut arus), Kencana menjadi takut untuk menerima kenyataan buruk yang terjadi di sekitarnya. Hal ini menyebabkan hilangnya memori tentang kejadian itu, karena ia tak mau mengingatnya. Sifat keras kepalanya mendukung hal ini, seperti yang terjadi pada tahun 2006 setelah Linda menghilang. Kencana tetap ngotot tidak mau membaca cangkir terakhir Linda.
“Kalau kamu ingin cari petunjuk, mungkin di situ ada sesuatu.” 
(Farran, hal. 121)
Dia juga belum menonton film yang diceritakan Linda padanya, Night on the Galactic Railroad, karena takut akan menemukan sesuatu yang tak ia sukai. Kedua hal ini menunjukkan betapa ngototnya Kencana untuk tetap menolak melihat kenyataan, padahal ia penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Sebenarnya Linda sudah memberi petunjuk-petunjuk pada Kencana untuk menyadarkannya bahwa ia harus berhenti menolak kenyataan.

Kencana juga memiliki perasaan insecure akan eksistensi dirinya di hadapan orang lain, seperti ditunjukkan oleh kutipan berikut.

Dia tidak terlalu suka diperkenalkan sebagai Nana. Rasanya seperti gumaman saat menyanyikan lagu yang lupa liriknya—na na naa na na na naa. 
(hal. 75)
Mungkin dengan dipanggil Nana, ia jadi merasa seperti si lagu yang terlupakan. Selain itu, Kencana juga memiliki kemampuan indera keenam, yang kadang menemuinya lewat mimpi atau ketika sedang melakukan tasseografi. Oleh karena itu, menurut Farran, ia akan menjadi tasseografer yang hebat karena ia bisa memasuki dunia nasib, bukan sekadar membaca simbol dengan mata telanjang.

La Campanella, Night on the Galactic Railroad,

dan The Picture of Dorian Gray


Terkadang, hal-hal kecil lebih berperan besar dalam perkembangan cerita ketimbang hal-hal besar. Contohnya seperti tiga komponen berikut:

  1. lagu La Campanella oleh Liszt, dari Paganini etude No. 3



    Di dalam novel, Kencana pertama kali mendengar lagu ini di rumah Om Linda. Lagu itu adalah lagu favorit Om-nya, karena judulnya seperti nama lengkap Linda, Linda Ningtyas. Dalam bahasa Italia, La Campanella berarti lonceng kecil, sementara "Linda Ningtyas" berarti "perempuan cantik dengan hati yang berdenting seperti lonceng kecil" (hal. 108)
  2. film Night on the Galactic Railroad



    Ini adalah film kartun Jepang yang diadaptasi pada tahun 1985, berdasarkan novel fantasi klasik karya Kenji Miyazawa, yang ditulis sekitar tahun 1927. Film ini memegang peran penting juga dalam cerita, karena Linda sering mengutip kata-kata dari film ini, dan menganalogikan kondisi hubungannya dengan Kencana dengan kereta api, seperti dalam film itu.
    “Tapi perjalanan kereta kita suatu saat akan berhenti, entah di stasiun akhir atau di stasiun sebelumnya. Dan kamu harus menerimanya, cepat atau lambat. Dalam kasus kita, kamu yang harus menentukan di mana kamu akan berhenti.” 
    (Linda, hal. 111)
  3. novel The Picture of Dorian Gray
    (resensi versi terjemahan Indonesia-nya bisa dibaca di sini)

    Novel klasik ini juga merupakan salah satu favorit saya. Ada tiga tokoh utama dalam novel ini, yang masing-masing dianalogikan oleh Linda. Basil Hallward, si pelukis yang hidupnya lurus dan baik hati, dianalogikan dengan Rasy. Lord Henry Wotton, si bangsawan hedon, penganut paham estetika, yang pintar berkata-kata, sehingga bisa memengaruhi atau meracuni orang dengan mudah. Dalam novel karya Oscar Wilde itu, Dorian Gray adalah sosok pemuda yang memiliki fisik sempurna, tapi lugu, sehingga mudah dipengaruhi oleh Henry. Oleh karena Kencana juga teramat lugu, Linda menganalogikannya dengan Dorian Gray. Sementara itu, Linda menganggap dirinya sendiri adalah Henry.

    “Kamu bukan Basil. Kamu lebih mirip Dorian Gray.” 
    (Linda, hal. 103)
Di dalam novel Dorian Gray ada unsur homoseksualitas, yang dialami Basil terhadap Dorian. Di dalam novel Kahve, penulis menganalogikan ini dalam bentuk lesbianisme Linda - Kencana yang diceritakan secara implisit, seperti dalam dialog berikut.

Kencana : Karena kamu mengira dirimu mirip Lord Henry Wotton, bangsawan hedon yang bisa memengaruhi Dorian dengan pola pikir estetisnya. 

Linda: Kamu cantik karena kamu lugu, Sayangku. Intinya kamu terlalu murni untuk kucemari. [...] Rasy itu seperti Basil Hallward. Tapi dia orang baik. Dia akan menjagamu. 

Kencana: Tapi aku suka Lord Henry. 

Linda: Benar-benar mirip Dorian Gray, kan? 

(hal. 106-7) 
Selain melalui dialog tersebut, pesan lesbianisme ini juga tersirat dalam tatapan Kencana pada Linda saat mereka berada di rumah Om Hendra. Selain itu juga dalam pembacaan cangkir Kencana, sebelum gadis itu bertemu dengan Linda. Saat itu, Linda seperti menjauhinya dengan sengaja. Farran menemukan simbol perahu dan malaikat.

“Mm... perahu, itu tanda seseorang akan datang mengunjungimu. Malaikat artinya kabar baik. Terutama kabar baik dalam percintaan.” 
(Farran, hal. 101)
Mungkin yang dimaksud adalah percintaan antara Linda dan Kencana?

Pohon Yew dalam Cangkir Farran

Cangkir Farran yang dibaca Kencana menunjukkan simbol shamrock dan pohon yew raksasa. Karena sampai akhir penulis tidak menyinggung ke mana Farran menghilang, saya jadi menafsirkan sendiri karena penasaran. Petunjuk mungkin bisa diterjemahkan dari pembacaan cangkir Farran. Arti shamrock sudah jelas dalam buku, “keinginan terbesar akan terkabul”. Ketika Kencana bertanya pada Farran, apa keinginannya, lelaki itu menyuruhnya untuk membaca lebih jauh lagi. Muncullah pohon yew. Berarti keinginan Farran ada kaitannya dengan simbol pohon yew itu. Bedanya dengan pohon biasa?

  • Pohon biasa berarti "good luck; prosperity and happiness; if surrounded by dots, fortune will be found in the country" (sumber di sini).
  • Pohon yew berarti kemungkinan yang bersangkutan akan mencapai kedudukan yang menonjol, dan mendapat warisan dari sanak yang lanjut umurnya atau teman (sumber di sini).
Hmm, mungkinkah Farran kembali ke keluarganya yang entah ada di mana? Entahlah. Haha.


Terlepas dari unsur-unsur tersebut, tema yang diangkat novel ini bisa dibilang unik, karena banyak hal baru yang belum saya tahu. Plotnya yang disusun secara bolak-balik dari tahun 2013 ke tahun 2005, kemudian tahun 2006, lalu balik lagi ke tahun 2013, dan seterusnya, membuat saya tidak bosan dan terus penasaran. Terlebih penulis mampu menghadirkan suasana remang-remang (bukan dark) dan menebar teka-teki di mana-mana. Seperti ketika Linda muncul di tahun 2013, padahal di tahun 2006 ia menghilang. Saya jadi bingung dan makin tertarik.

Sangat disayangkan, karena penulis memusatkan cerita pada Kencana, pengungkapan misteri kematian Saras dan menghilangnya Linda menjadi kurang seru. Sampai di 2/3 tebal novel, tokoh Rasy mengakui sesuatu tentang kematian Saras pada Kencana, dan karenanya mengungkap semuanya sekaligus. Teka-teki yang tertinggal hanyalah ke mana Farran dan apa arti pohon yew. Tapi perkembangan mental tokoh Kencana juga menarik diikuti.

Tokoh utamanya, Kencana, Linda, Rasy, dan Farran, terbangun dengan baik. Linda yang cerewet, supel, dan cantik. Rasy yang baik hati dan penakut. Farran yang supel tapi misterius. Awalnya, saya kira akan ada kisah percintaan antara Kencana dan Farran... Eh, ternyata tidak, hiks.
Yang paling terbangun karakternya pastilah Kencana, karena penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas Kencana. Seandainya penulis menggunakan sudut pandang berganti-ganti tiap tokoh, maka tingkat misteriusnya akan kurang nampol.

Gaya bahasa yang digunakan penulis masih agak kaku, terutama di bagian dialog. Juga ada beberapa analogi yang kurang mengena ke maksudnya, seperti ini.
“Hubunganku dengan lagu ini kayak hubungan anjing dengan makanan resep dari dokter hewan.” 
(Kencana, hal. 8)
Saya percaya, di novel penulis yang berikutnya, gaya bahasa penulis pasti akan jadi lebih luwes lagi, karena novel debutnya saja sekeren ini ^^. Kelihatan sekali kalau penulisnya mahasiswa psikologi, hehe.



bloggerwidgets