Showing posts with label realisme magis. Show all posts
Showing posts with label realisme magis. Show all posts

21 October 2016

[Semacam Resensi A MONSTER CALLS] MONSTER ITU ADA DALAM DIRIMU


Judul buku: A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)
Penulis: Patrick Ness
Ilustrator: Jim Kay
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 216 halaman
Harga: Rp 97.000,00 (di Gramedia Bandar Lampung)
Rating saya: 5/5
Kategori: Young adult
Genre: fantasi, drama, realisme-magis

Seorang perempuan sedang duduk dengan kedua kaki diluruskan di atas pembatas semen, di sudut balkon lantai dua sebuah rumah. Di kejauhan depan sana, mengabaikan atap-atap rumah bersembulan rapat, tiang-tiang dan kabel, plang-plang, tampaklah permukaan laut berkelap-kelip dibasuh sinar keemasan matahari sore. Jika ia menoleh ke belakang, menjulang tinggi di sana adalah Gunung Tanggamus, dengan jubah kabut yang jarang ia tanggalkan.
Di tangannya terbuka sebuah buku...
"Conor, seorang bocah laki-laki berumur 13 tahun, adalah tokoh utama buku ini. Patrick Ness membekalinya dengan masalah-masalah: ibunya sakit kanker, kemoterapi membuat kepalanya botak dan tubuhnya lemah sehingga Conor harus dan menjadi terbiasa mengurus dirinya sendiri. Ayahnya, yang tinggal di Amerika bersama istri barunya, hanya menghubunginya sesekali (telepon dwi-mingguan). Neneknya sangat mengintimidasi dan menyebalkan, sehingga Conor sangat ngeri ketika suatu kali ibunya mengumumkan bahwa neneknya akan tinggal di rumah untuk mengurusnya selama sang ibu menjalani perawatan di rumah sakit," ujar perempuan bernama Fri itu pada lubang mikrofon di earphone yang terpasang pada ponselnya.
"Bagaimana dengan kehidupan sekolahnya?" tanya laki-laki di pulau seberang, suaranya menelusup melalui earphone.
"Ah, iya, Conor mengalami pem-bully-an oleh Harry dan kedua anteknya, Sully dan Anton. Yang selalu mereka jadikan bahan ledekan adalah perihal ibunya yang sakit. Seisi sekolah mengetahui hal ini, teman-temannya memandangnya dengan aneh, guru-gurunya memandangnya dengan sorot mata mengasihani. Suatu saat, Conor menjadi marah terhadap Lily, teman dekatnya, karena secara tidak langsung, Lily-lah yang menyebarkan berita tentang ibu Conor ke seisi sekolah. Conor sering mengalami mimpi buruk di malam hari: 'mimpi yang berisi kegelapan, angin, dan jeritan'. Suatu malam, pada pukul 00.07, sang monster muncul pertama kali. Monster yang mewujud dari pohon yew di halaman gereja di atas bukit di belakang rumah Conor."
"Jadi, sebenarnya untuk apa sang monster mendatangi Conor?"
"Di satu titik, Conor menyadari bahwa pasti sang monster 'datang berjalan' kepadanya untuk menyelamatkan ibunya. Sang monster, kan, berwujud pohon yew raksasa. Tahukah kau bahwa pohon itu bisa dijadikan obat kanker? Conor menduga seperti itu setelah ibunya menjalani kemoterapi dengan jenis obat yang baru, obat dari pohon yew..."
"Sebentar, aku sedang Googling..."
"Ya?" dahi Fri berkerut. Ia menunggu beberapa saat sambil membiarkan imajinasinya berkelana bersama ilustrasi monokrom dalam buku yang dipegangnya itu. Nuansa hitam-putih tersebut sangat membantu menggambarkan kemuraman, kesedihan mendalam Conor. Goresan-goresan dalam sketsa itu sungguh fantastis dan melambangkan "keliaran" tertentu, yang bisa merujuk pada sang monster, Conor, ataupun kisah itu sendiri. Bagaimana jika buku ini tak berilustrasi? Fri pasti akan berusaha keras membayangkan sendiri bagaimana sosok sang monster. Ilustrasi itu memang membantu, tapi di sisi lain ia mendikte pikiran pembaca: memenjarakannya dari dunia liar imajinasi.
Tangan Fri membalik ke halaman 45. Ia membaca dalam hati, "Kisah adalah sesuatu yang paling liar, derum sang monster. Kisah itu mengejar, menggigit, dan memburu."
"Halo, Fri? Aku telah menemukannya," ujar laki-laki itusebut saja dia "Mbung".
"Menemukan apa?"
"Taxol. Mungkin itu nama obat kemoterapi yang dimaksud oleh ibu Conor; yang terbuat dari kulit pohon yew. Oh, oh, sebentar..., tadi katamu Patrick Ness menulis novel ini berdasarkan ide dari Siobhan Dowd, kan?"
"Ya, lalu?"
"Taxol itu jugalah yang dikonsumsi oleh Dowd sebelum ia akhirnya meninggal karena kanker yang dideritanya."
Fri tertawa. "Wow, riset yang bagus, Mbung!"
"Lanjutkan ceritanya," sahut Mbung.
"Ya, tapi ternyata tidak begitu. Sang monster datang bukan untuk menyembuhkan ibu Conor, melainkan untuk menyembuhkan Conor sendiri; agar dia mengungkapkan kebenaran yang selama ini menekannya dalam diam. Sang monster akan mendatangi Conor untuk menceritakan tiga kisah padanya, dan Conor harus menceritakan kisah keempat. Kisahnya
kebenarannya."
"Sebentar, sang monster itu benar-benar ada, atau hanya fantasi Conor?" tanya Mbung, suaranya berbinar-binar.
"Awalnya Conor mengira sang monster sekadar bagian dari mimpinya. Tiap bangun tidur selesai bertemu dengan sang monster di belakang rumahnya, Conor terbangun di tempat tidurnya. Tapi, ada bukti-bukti bahwa yang terjadi itu nyata: daun-daun yewyang memenuhi lantai kamarnya, buah beri, tunas pohon yang tumbuh dari mata kayu di papan lantai."
"Jadi dia nyata?"
"Lebih tepatnya, menurutku, sang monster adalah superego Conor..."
"Buktinya, Fri?"
"Saat sang monster mengisahkan kisah kedua, ia mengajak Conor menghancurkan rumah sang pendeta dalam kisah itu. Di titik inilah, Conor melampiaskan kemarahannya. Begitu sadar, Conor menemukan dirinya, kelelahan, tangan berdarah, di antara ruang duduk Grandma yang telah hancur. Pelampiasan kemarahan" Conor terjadi lagi pada kisah ketiga tentang pria tak kasatmata. Kisah itu mencerminkan Conor sendiri, yang akhir-akhir itu nyaris tak pernah berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya, hingga ia merasa seolah tak kasatmata. 'Bukan berarti dia benar-benar tak kasatmata. Orang-oranglah yang telah terbiasa untuk tidak melihat dirinya. Dan jika tak seorang pun melihatmu, apa artinya kau benar-benar ada?' kata sang monster. Sang monster lalu menyerang Harry, yang baru saja menganggap Conor tak ada. Dalam kenyataannya, Conor telah membuat Harry babak-belur."
"Bisa dibilang bahwa sang monster adalah sisi gelap dalam diri Conor? Sisi yang memiliki kualitas buas, liar, menyeramkan seperti monster, begitu, Fri?"
Fri mengangguk tanpa sadar, meski Mbung di seberang sana tak bisa melihat anggukannya."Ya, benar sekali, Mbung! Yang lebih menarik lagi, kisah-kisah sang monster, terutama yang pertama dan kedua, penuh karakter abu-abu dan twist, yang saking tak terduganya membuat Conor marah."
"Yang mana kisah favoritmu, Fri?"
"Yang pertama, Mbung, tentang pangeran, gadis yang dicintainya, dan sang ratu yang adalah penyihir. Yang lebih menarik lagi, novel ini memang berpusat pada kesedihan mendalam Conor dan pergolakan dalam dirinya untuk sampai pada tahap penerimaan: merelakan ibunya, tapi kau tak akan menemukan satu pun kata 'meninggal', 'kanker', 'cinta'. Patrick Ness mengolah narasinya tanpa menggunakan kata-kata tersebut tapi mampu menunjukkan; membuat pembaca merasakan kesedihan, kemarahan Conor. Dua kali aku dibuatnya menangis, salah satunya saat membaca halaman 177."
Fri lalu membalik ke halaman 202, membaca dalam hati.
Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakukan," 
"Kesedihan mendalam, tahap penerimaan... mengingatkanku akan 'lima tahap kesedihan' yang pertama kali disebutkan oleh Elisabeth Kubler-Ross: penyangkalan, kemarahan, pengharapan, depresi, dan akhirnya... penerimaan."
"Ah, iya, setelah kupikir-pikir, narasi A Monster Calls mewakili kelima tahap itu, Mbung. Awalnya Conor menyangkal, seperti dalam dialognya dengan Grandma di halaman 52:'Dia akan tampak seakan-akan lebih baik besok, tapi kenyataannya tidak, Conor.''Perawatan itu membuatnya lebih baik. Itulah sebabnya Mum menjalaninya.'"
"Hmm, lalu tahap 'kemarahan' telah kaubeberkan sebelumnya, ya, Fri. Tahap 'pengharapan'?"
"Nah, itu ketika Conor berharap bahkan meyakini bahwa sang monster datang untuk menyelamatkan ibunya. 'Monster itu datang berjalan sebagai pohon penyembuh, pohon serupa yang menjadi obat bagi ibunya, jadi untuk apa lagi?' begitulah pikir Conor di halaman 153."
"Bentuk depresi Conor, mungkin bisa diwakili oleh mimpi buruknya yang terus berulang..."
"Ya, lalu akhirnya adalah tahap penerimaan, yang terjadi saat Conor mengungkapkan kebenarannya."
"Ngomong-ngomong, Fri, bukan kebetulan pohon yew dipilih oleh Ness... Pohon itu memiliki sebutan 'the tree of the dead', di samping kegunaannya sebagai obat kanker, kemampuannya untuk menyembuhkan..."
"Menyembuhkan Conor. Ya... Dengan begitu, berakhirlah tuturanku, Mbung. A Monster Calls sudah pasti menjadi salah satu novel favoritku."
"Aku tak sabar ingin meminjam buku itu darimu."
Dan, obrolan via telepon itu pun terus berlanjut, mengalirlah tuturan tentang apa saja, hingga waktu pun jatuh dan bergulir. Sebulan-dua bulan tak akan terlalu terasa.

22 October 2015

[Review SPUTNIK SWEETHEART] Traveling Companion

Title: Sputnik Sweetheart
Author: Haruki Murakami
Translator: Philip Gabriel
Publisher: Vintage
Edition: 2002
Pages: 113 (e-book edition)
ISBN: 978-009-944-847-1
My rating: 4/5


What if you're a 22-year-old girl, and at such age, you're falling in love for the first time? Wait, it maybe sounds pretty normal, but what if the person you fall in love with is 17 years older than you and is married? Yeah, nothing is impossible. And, I should add that the person you fall in love is a woman. Voila!

It happenned to Sumire, who found herself falling in love with Miu. I want to begin with who Sumire was. Well, she was a kind of girl you maybe never wanted to be. She dropped out from college, because for her, it was a waste of time to ever have been in a "totally out of touch, a lukewarm, dispirited place" called college, with "hopelessly dull, second-rate specimens" called "fellow students" (p. 6). After that, she has nothing to do despite writing, since she always wanted to be a writer, but until that time, her writing carrier was deadlocked.
"Maybe I'm lacking something. Something you absolutely must have to be a novelist." (Sumire, p. 12)

A conversation about Jack Kerouac's novels and Sputnik with Miu, at a wedding reception, amended to an absorbing private conversation, and brought them close. Then, Miu offered a job to Sumire, to work in her own private business. Sumire finally took that offer, and it changed her almost-monotonous life. Say, like the Europe trip she had with Miu. Everything was going right, until one day Sumire went missing when they're in a small Greek island, near the Turkish border.

"Sumire has disappeared. Like smoke." (Miu, p. 53)

In her confusion, from Greek island, Miu phoned the narrator "I" and asked him to come all the way to that place to help her find Sumire. But, at such a small island, they still couldn't find her. What had happenned to her actually?

***

Why "Sputnik"?


This is the second book of Murakami's that I read. Yeah, there are still plenty of his books stacked in my tablet, that I haven't read yet. Though, I have been able to grasp his writing style. He wrote word by word intelligibly, ah, thank to Philip Gabriel, who had translated this novel perfectly. (It is not that I am good at Japanese, but I just believe that an easy-understandable translation, which can deliver the original writer's message well, is a perfect translation.) Furthermore, Murakami tended to put a certain deep meaning inside his story. As one of the masters of surrealism and magical-realism genre, actually one of my favorites, his writing engulfed me to his-very-real-story, and then it threw me up to the surreal world.

Besides, Murakami often put songs and belleslettres, some facts, news, and other references, in his story. These elements always improve my knowledge. Sometimes, they become the center of gravity of the story, just like "Sputnik" in Sputnik Sweetheart. Sputnik, which was formerly I've known as the world's first man-made satellite, in Murakami's hands, it became more, more than that!

On 4 October 1957, the Soviet Union launched the world's first man-made satellite, Sputnik I, from the Baikanor Space Centre in the Republic of Kazakhstan. Sputnik was 58 cm in diameter, weighed 83.6 kilograms, and orbited the Earth in 96 minutes and 12 seconds.
On 3 November of the same year, Sputnik II was successfully launched, with the dog Laika on board. Laika became the first living being to leave the Earth's atmosphere, but the satellite was never recovered, and Laika ended up sacrificed for the sake of biological research in space.

(p. 5)
Traveling companion (Pinterest)
Actually, and I have known that when reading this novel, in Russian, sputnik means "travelling companion", just like who Sumire was for Miu.

"That we were wonderful travelling companions, but in the end no more than lonely lumps of metal on their own separate orbits. From far off they look like beautiful shooting stars, but in reality they're nothing more than prisons, where each of us is locked up alone, going nowhere." (Miu, p. 65, after Sumire has disappeared)

And it's kind of a strange coincidence, since long before Miu knew the meaning behind "Sputnik", Sumire had had "Sputnik Sweetheart" as private name for Miu.

Ever since that day, Sumire's private name for Miu was Sputnik Sweetheart. She loved the sound of it. It made her think of Laika, the dog. The man-made satellite streaking soundlessly across the blackness of outer space. The dark, lustrous eyes of the dog gazing out of the tiny window. In the infinite loneliness of space, what could Laika possibly be looking at? (p. 8)


Another new stuff that is new to me was the term of  "Beatnik writers", thank to Miu, who mistook the word "Beatnik" as "Sputnik" at the first conversation she had with Sumire. Beatnik is a literary movement arose in America, in 1950s. The Beatnik writers "fashioned a literature that was more bold, straightforward, and expressive than anything that had come before" (The Beat Generation).

As I said before, Murakami loved to use songs and belleslettres to enrich his story. In this novel, he mentioned Jack Kerouac's novel, entitled On the Road, and Sumire's favorite quote from it,

"No man should go through life without once experiencing healthy, even bored solitude in the wilderness, finding himself depending solely on himself and thereby learning his true and hidden strength." (p. 7)

And you know what? Jack Kerouac, together with Allen Ginsberg, formed the core of Beatnik's initial group. More surprising, according to Smashinglists.com, On the Road is the no. 1 out of "Top 10 Beatnik Novels"!

Murakami also mentioned another author, i.e. Paul Nizan. The narrator "I" of this novel claimed that Paul Nizan's novel marked the first meeting between Sumire and him. Furthermore, Murakami put one of Groucho Marx's quote on page 38 (Groucho Marx was an American comedian and film and television star),

"She's so in love with me she doesn't know anything. That's why she's in love with me."
Apart from that, Murakami wrote many interesting and meaningful yet casually-presented dialogues, between his characters. For examples, the dialogues between the narrator and Sumire about the difference between a sign and a symbol (p. 18-20); which was triggered by Miu's strange question to Sumire:
"All right--can you explain, in 200 words or less, the difference between a sign and a symbol?" (Miu, p. 15)
***

Impressive Characters

This story was narrated by a man, using first person point of view. So, I will start this section by elaborating his characters.

The Narrator

What if you're a man who falls in love with your friend, but she is falling in love with someone else, who is a woman? What will you do?

"What's important is being attentive. Staying calm, being alert to things around you. [...] The part about being alert. Not predjuging things, listening to what's going on, keeping your ears, heart, and mind open." (p. 24, 25)

  • He loved books so much. This was the first thing that both Sumire and him loved to do. "Devouring books came as naturally to us as breathing." (p. 11) And, in his opinion, "Novels should be for pure personal enjoyment, I decided, not part of your work or study." (p. 33) Whoa, I am on the opposite side to him!
  • He was a teacher, and apparently a good teacher, since he was very good in composing analogies to explain something hard to be understood into more understandable one. For example, the analogy between "writing novels and how Chinese built their city gates" (p. 12). I found a number of unique and artistic metaphors in Sputnik Sweetheart, and since this whole story was narrated by him, those metaphors were made by him.

  1. "It sruck me, at the time, as something straight out of the opening of Soseki's novel Sansiro." (p. 24)
  2. "What I could understand was that it was dark all around and close to Fitzgerald's 'Dark Night of the Soul'." (p. 17)
  3. "Imagine The Greatest Hits of Bobby Darin minus 'Mack the Knife'. That's what my life would be like without you." (p. 37)
  4. When he described Sumire's handwriting: "Hieroglyphic writing, compact, hard, uncompromising. Writing that reminded me of the beetles they discovered inside the pyramids of Egypt. Like it's going to start crawling and disappear back into the darkness of history." (p. 40)
  • He was a practical and realistic man, as could be seen by his comment to Sumire's imagination in page 7. Sumire said, "Every day you stand on top of a mountain, make a 360 degrees sweep, checking to see if there are any fires. And that's it. You're done for the day. The rest of the time you can read, write, whatever you want. At night scruffy bears hang around your cabin. That's the life! Compared to that, studying literature in college is like biting down on the bitter end of a cucumber." (Well, another unique metaphor.) And, he commented realistically, "Okay, but someday you'll have to come down off that mountain."
  • He was falling in love with Sumire, but buried his feeling, for the sake of their close friendship and Sumire's feeling towards Miu. He slept with many women, with his head full of Sumire. All of those women were older than him, and either married or had fiances or had steady boyfriends. "My most recent partner was the mother of one of my pupils. We slept together about twice a month." (p. 34)
  • A kind of an observer person, who maintained a set distance to other people, even with his parents and sister, he hardly ever had a heart-to-heart conversation.
  • He maintained a organized life, as described by Sumire: "[he was] living an early-to-bed-early-to-rise farmer's lifestyle." (p. 41).

Sumire

"And what sort of experience can a writer have if she doesn't feel passion? It'd be like a chef without an appetite." (Sumire, p. 12)

  • In Japanese, "sumire" stands for "violet". Her mother gave her that name based on Mozart's song's title. At first, Sumire didn't understand the lyrics, but from the graceful motif she felt sure the song was a paean to the beautiful violets blooming in a field. Then, finally she knew that "the lyrics told of a callous sheperd's daughter trampling down a hapless little violet in a field. The girl didn't even notice she'd flattened the flower. It was based on a Goethe poem, and Sumire found nothing redeeming about it, no lesson to be learned." (p. 13)
  • A paradoxical character: she insisted to become a novelist ("no matter how many choices life might bring her way, it was novelist or nothing" - p.6), but conversely, she wasn't sure that she can be a novelist ("Sumire wrote some works that had a beginning. And some that had an end. But never one that had both a beginning and an end." - p. 10). Concerning her confusion, the narrator told her that the ones she needed were "time and experience", while Miu said, "You've got the talent. I'm sure someday you'll be an extraordinary writer... But now's not the time." (p. 23) Essentially, it was about time.
  • She loved freedom and was brave enough to take the risk to guarantee her freedom. You can see it through her action when decided to drop out of college.
  • A big fan of classical music.
  • She often interpret the narrator's metaphors literally.
  • A heavy smoker (she smoked 2 packs of Marlboro a day). But then she tried to stop smoking since "Miu didn't allow smoking in her office and hated people to smoke in front of her." (p. 28).

Miu

"What happened after I met Miu was I stopped thinking." (Sumire, p. 73)

  • Loved classical music, and has similar tastes with Sumire's.
  • My paradigm was enlightened by Miu's opinion about why she left half-remained wine behind (p. 27).
Sumire: It's such a waste to order a whole bottle of wine for just the two of us. We can barely finish half.
Miu: Don't worry. The more we leave behind, the more people in the restaurant will be able to try it. The sommelier, the headwaiter, all the way down to the waiter who fills the water glasses. That way a lot of people will start to acquire a taste for good wine. Which is why leaving expensive wine is never a waste.

  •  Fourteen years ago, Miu's hair turned white. This nearly-magical happening was related to "The Tale of Miu and the Ferris Wheel" (as written by Sumire, which was later found by the narrator after Sumire was gone). Whoa, finally the surreal element of Murakami's story has appeared!
"I was still on this side, here. But another me, maybe half of me, had gone over to the other side. Taking with it my black hair, my sexual desire, my periods, my ovulation, perhaps even the will to live." (Miu, p. 85)
"I understood--that something was missing from me." (Miu, p. 86)
***

Milestones of the Day When Sumire Disappeared

The Man-eating Cats and Other Stories About Cats

At the small Greek island, Sumire once read a newspaper article to Miu, about a 70-year-old lady who was eaten by her cats. Actually, this part then appeared a short story in Blind Willow, Sleeping Woman.
"One day the woman collapsed face down on her sofa from a heart attack and expired. It wasn't known how much time had elapsed between her attack and her death. At any rate, the woman's soul passed through all the set stages to bid farewell to its old companion, the body it had inhabited for 70 years. She didn't have any relatives or friends who visited her regularly, and her body wasn't discovered until a week later. The doors were shut, the windows shuttered, and the cats couldn't get out after the death of their owner. There wasn't any food in the apartment. There must have been something in the refrigerator, but cats don't possess the necessary skill to open fridge doors. Starving, they devoured the flesh of their owner." (p. 57)
After that, Miu told Sumire an interesting paradoxical story about cat too, which she got from her teacher at Catholic girls' school (where she had been a student in the past). "The nun, despite of morality and religiousity which she happenned to have, she said like this:"

"You're washed up on a deserted island with a cat. This is a solitary island in the middle of nowhere. It's almost impossible that someone would rescue you within ten days. When your food and water run out, you may very well die. Well, what would you do? Since the cat is suffering as you are, shoud you divide your meagre food with it? I want you to understand that dividing your food with the cat would be wrong. The reason being that you are precious beings, chosen by God, and the cat is not. That's why you should eat all the food yourself." (p. 58)
Furthermore, Sumire continued her story about her cat which she got when she when she was at second grade of school. The cat was interested by something Sumire couldn't see, and it turned crazy around the large pine tree in the garden. The cat finally climbed the tree to the peak, and never went down since.
"It just disappeared. Like smoke." (Sumire, p. 59)
All those three stories are real, but nearly-magical. The first and third ones grasped my attention so hard. Even more, Sumire's quote when she told Miu about her former cat, is then quoted by Miu when Sumire disappeared.

Document 1 and Document 2

After Sumire has disappeared, while searching through something suspicious or cautious things around Sumire's room at the villa in Greek island, the narrator found two documents, written by Sumire, stored in a floopy disk. Those two documents were have no titles, they were just named Document 1 and Document 2. The significant thing he found in Document 1 was Sumire's dream about her mother. While, in Document 2 he read the terrible tale of Miu and the ferris wheel. And then, he found that the common thread of these two stories are 2 different worlds; this side, the other side (p.89). These drove the narrator to the hypothesis that Sumire went over to the other side (p. 89). Entering the world of dreams, and never coming out. Living there for the rest of time.

The Miu's surreal tale was really terrible for me, terrible enough to make me get goosebumps. As always, Murakami's surreal stories left me musing about what they mean.

***



Murakami did talk about lesbianism through the tale of Sumire and Miu. Once, he made us discussed whether lesbianism is genetic or not, through Sumire's quote.
"It said that lesbians are born that way; there's a tiny bone in the inner ear that's completely different from other women's and that makes all the difference. Some small bone with a complicated name. So being a lesbian isn't acquired; it's genetic." (Sumire - p. 30, as she quoted an article about an American doctor's invention)
I appreciated that in spite of her strange feeling towards Miu, Sumire was confident enough to tell the narrator about it; about the way she became a lesbian. This novel was packed with mystery, which made me read page by page gluttonously. While reading this, I found many intriguing things.

Oh, one more, the part when Miu asked Sumire to wear beautiful clothes, which she got from her rich friend's leftover clothes (they were happened to be matched with Sumire's size), put in my mind of a short story from Blind Willow, Sleeping Woman, entitled Tony Takitani. It told that Tony Takitani's wife "kept on buying new clothes almost every day". So, when his wife got killed by an accident, he was left with a room full of size 7 dresses and 112 pairs of shoes. He had no idea what to do with them, so he put an advertisement in the newspaper to offer all of the clothes to a woman, for free.

Well, Sputnik Sweetheart is a worth-read novel, with engaging plot, impressive characters, and intriguing elements.


21 September 2015

[SiPiLis #2] Yuu Sasih: Konsisten dengan Surealisme dan Realisme Magis, Gender, dan Seksualitas

Halo, semuanya! Jumpa lagi di SiPiLis episode 2!
Sebelumnya, saya minta maaf karena seharusnya ini posting bulan kemarin... Maaf, saya belum menepati janji untuk menerbitkan rubrik ini secara bulanan >,<

Di episode ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Yuu Sasih, penulis novel Kahve, yang ramah dan menyenangkan ^^. (Dan tidak keberatan saya sodori pertanyaan yang panjang-panjang.) Hayoo, sudah baca bukunya belum? Kahve adalah novel debut recommended, menurut saya. Tema yang diusungnya cukup kompleks dan berat. Ada isu pemerkosaan subtil, tasseografi, LGBT, dan tentu saja ruh psikologi menyokong dari latar belakang.

Oke, langsung saja kita mulai sesi ngopi bareng Yuu Sasih.

1. Latar belakang pendidikan Mbak, yang adalah psikologi, saya yakin berperan banyak dalam memotivasi lahirnya Kahve. Tolong, dong, ceritakan peran ilmu psikologi Mbak dalam membantu menciptakan para tokoh dan alur cerita Kahve.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari belajar psikologi adalah cakupan pembahasannya yang begitu luas, bukan hanya di seputar kesehatan jiwa seperti yang sering diasumsikan orang-orang. Dari psikologi, saya mengenal dan mendalami banyak bidang-bidang lain. Saya belajar filsafat, politik, sastra, hingga hal-hal teknis macam arsitektur dan kesehatan masyarakat. Tapi dari semua itu, yang paling menarik perhatian saya adalah kajian gender dan seksualitas. Dan saya sangat bersyukur bisa memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu orang-orang hebat dalam ranah tersebut. Bisa dibilang Kahve merupakan leburan dari segala pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan selama mendalami isu gender dan seksualitas.

2. Ada isu LGBT yang Mbak angkat, meski tidak secara mayor menduduki porsi cerita, tapi berperan penting dalam perkembangan karakter Kencana. Apa motivasi Mbak memasukkan unsur lesbianisme?

Hmm, motivasi memasukkan lesbianisme ke dalam cerita.... Motivasi utama saya, yang menurut saya lebih kepada idealisme menulis saya sendiri, adalah membuat kisah dengan diverse and non-stereotyping characters. Karena warga Indonesia, kan, bukan cuma orang-orang Jawa dan heteroseksual. Makanya ada juga Farran yang Arab-Cina. Rasy yang bukan, bisa dibilang, jenis laki-laki yang memenuhi stereotip maskulinitas. Kencana yang biseksual, dan Linda yang (bukan stereotip) lesbian.

3. Akhir-akhir ini isu LGBT cukup hangat dibicarakan di Indonesia, termasuk di kalangan penulis. Cukup banyak novel yang mengangkat isu ini. Apakah Mbak pernah membaca salah satu dari karya tersebut? Adakah yang berkesan? Bagaimana tanggapan Mbak?

Novel LGBT Indonesia? Oh, ya, saya baca cukup banyak. Sebenarnya saya juga menerbitkan novel gay romance secara self-publish, sebulan setelah Kahve terbit. Jadi sekitar tahun 2012--2013 saya banyak baca novel LGBT Indonesia untuk cari tahu jenis-jenisnya. Sebelumnya, saya sendiri sudah banyak baca novel gay romance Barat, jadi waktu baca novel LGBT Indonesia, yah, kulturnya beda. Haha.

Kalau novel LGBT Indonesia, sepanjang yang saya baca, belum ada yang berkesan. Trope-nya masih sama, yaitu "kisah cinta terlarang" dengan, kalau bukan salah satu atau keduanya menikah dengan perempuan dan "kembali ke jalan yang lurus" demi keluarga, pasti salah satu atau keduanya mati mengenaskan. Walau mungkin saja cerita-cerita macam ini lebih sesuai dengan realitas kaum LGBT di Indonesia, tapi hal ini jadi semacam mencitrakan bahwa menjadi LGBT di Indonesia sama saja dengan "doomed for life". Kisah-kisah macam ini tidak memberikan perspektif lain--bahwa sebenarnya kaum LGBT bisa dan boleh bahagia, bahwa sebenarnya mereka memiliki serangkaian cara lain untuk memperoleh kebahagiaan--dan seolah mengeset jawaban bahwa jalan kebahagiaan bagi LGBT khususnya--dan seluruh manusia pada umumnya--adalah "conform or die".

Karena itu, saya dan rekan saya akhirnya membuat novel LGBT yang berusaha memberikan perspektif lain terhadap kaum LGBT dan potensi-potensi yang bisa mereka gali, meski tidak sepenuhnya mengabaikan kultur Indonesia. Bukunya merupakan rangkaian trilogi, buku pertamanya, Pencarian, terbit sebulan setelah Kahve dan sampai sejauh ini masih mendapatkan respon yang sangat baik. Don't forget to check that out, too! ;) #promositerselubung #lol

Wah, sepertinya menarik, nih... Belinya di mana, Mbak? Dapet tanda tangan, nggak? :^)

4. Mungkin ada penulis yang mengangkat isu LGBT karena 'aji mumpung', karena lagi hangat-hangatnya isu tersebut, maka diharapkan karyanya akan meledak. Bagaimana pendapat Mbak tentang hal ini?

Secara objektif, saya akan bilang kalau motivasi penulis itu berbeda-beda, jadi itu terserah pada mereka masing-masing. Secara personal, saya tidak menyukai jenis penulis yang seperti itu. Penulis seperti itu biasanya hanya menggali sisi kontroversial dari suatu isu dan tidak berusaha mendalami isu tersebut dengan riset dan pemahaman yang sungguh-sungguh. Istilahnya, sama seperti acara gosip. Begitu ada yang kontroversial, mereka kejar dan poles demi rating, tapi pembahasannya one-dimensional dan "main aman", bahkan kadang sampai melukai narasumber demi mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Jadi, saya pribadi tidak menghargai hal seperti itu. Jika saya tahu ada penulis yang seperti itu, saya akan memutuskan untuk tidak pernah membaca karya mereka. Masih banyak penulis lain yang menulis dengan sungguh-sungguh, yang menghadirkan suatu tema unik karena mereka memang ingin tema itu dipahami oleh pembacanya. Penulis seperti itu yang akan mendapatkan apresiasi penuh dari saya.


5. Tasseografi sangat unik menurut saya (karena sebelumnya saya nggak tahu tentang ini, hehe). Apakah Mbak memang sudah lama tertarik dengan kopi dan tasseografi, atau memelajarinya hanya untuk keperluan penulisan Kahve?

Saya coffee addict sejak lama, tapi tasseo sendiri memang baru saya pelajari untuk kepentingan Kahve. Sejak awal saya sudah memutuskan bahwa Kahve akan menjadi karya dengan genre realisme magis, karena itu brainstorming saya dimulai dengan hal-hal magis apa saja yang bisa dikaitkan dengan kopi? Jawabannya, as you can see, tasseografi.


6. Membaca bagian di mana Farran tiba-tiba menghilang, dan bagian kisah Kencana--Linda, saya jadi teringat akan novel Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami. Apakah Mbak memang terinspirasi dari Murakami?
- Kalau iya, tolong ceritakan seberapa besar pengaruh gaya penulisan Murakami terhadap gaya Mbak sendiri.
- Kalau tidak, tolong ceritakan karya sastra/penulis yang paling berpengaruh terhadap gaya penulisan ataupun memotivasi Mbak untuk menulis.
Oh yesss! Murakami is my literary god! Kahve memang sebagian terinspirasi dari karya Murakami, tapi bukan Sputnik Sweetheart secara spesifik. Tapi hampir benar! Better luck next time! Lol.

Pengaruh Murakami terhadap gaya menulis saya bisa dibilang cukup besar. Murakami yang pertama memperkenalkan saya pada sastra surealisme dan realisme magis, dua genre yang hampir selalu jadi dasar setiap karya saya sekarang. Murakami juga yang membuat saya mencoba untuk melihat suatu karya fiksi di luar konteks yang disajikan. Murakami sering memasukkan lagu-lagu dan karya sastra di dalam cerita-ceritanya, dan jika kita membaca latar belakang semua referensi yang dimasukkannya, akan ada semacam apresiasi baru terhadap cerita tersebut yang tidak akan kita dapatkan kalau kita hanya membaca apa yang disampaikan secara literer! Referensi-referensi Murakami dalam karya-karya buatannya selalu menambah pengetahuan saya, dan saya ingin memberikan yang serupa bagi pembaca Kahve. Makanya saya senang sekali saat membaca ulasan Mbak Frida, yang ternyata sangat detil dengan memasukkan unsur-unsur yang sengaja saya selipkan untuk menambah kelezatan Kahve. I feel so happy and honored!

Yaaay, tebakan saya agak sedikit benar >,< Pasalnya saya baru selesai baca Sputnik Sweetheart, jadi langsung nyantol, hehe. Ah, dan saya juga menyukai genre realisme-magis, Mbak. Uh, I feel so happy too, Mbak, to have ever read Kahve.

7. Ada La Campanella, Night on The Galactic Railroad, dan The Picture of Dorian Gray dalam Kahve. Apakah tiga karya seni tersebut memang favorit Mbak secara pribadi? Tolong ceritakan, dong, Mbak, soalnya saya penasaran. Hehe.

Night on the Galactic Railroad memang film terfavorit saya sepanjang masa. Sama seperti karya-karya Murakami, Night on the Galactic Railroad dari luar hanya seperti cerita anak-anak biasa, tapi jika digali lebih dalam, ada makna-makna lain yang sangat menarik, bahkan bagi penonton usia dewasa (dan dua kucing Campanella dan Giovanni itu imutnya bukan main). La Campanella sendiri baru saya temukan saat masa brainstorming Kahve. Begitu mendengarnya, antusiasme saya langsung meledak, "Oh! Ini harus ada di novel!"

Sementara itu, saya suka The Picture of Dorian Gray, tapi bukan bisa dibilang favorit secara pribadi. Saya suka dengan apa yang disampaikan oleh cerita itu. Saat brainstorming Kahve, karya klasik itu langsung muncul begitu saja di kepala. Dan ternyata memang pas dengan tema Kahve pada akhirnya. :)


8. Saya yakin di balik penulisan Kahve, Mbak melakukan serangkaian riset. Tolong ceritakan metode riset seperti apa yang Mbak gunakan, dan riset bagian mana yang paling berkesan untuk Mbak.

Kahve dibuat dengan tujuan awal untuk meningkatkan awareness pembaca terhadap isu pemerkosaan subtil (subtle rape). Saya merasa masih banyak orang di Indonesia yang menganggap pemerkosaan itu dilakukan oleh orang asing sama sekali dan dengan menggunakan kekerasan. Padahal tidak selalu demikian. Pemerkosaan sebagian besar dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengan korban dan seringkali dilakukan tidak dengan kekerasan, tetapi dengan ancaman yang dibalut oleh rayuan. 

Untuk menggali isu tersebut, saya mendatangi seminar-seminar tentang kekerasan seksual berbasis gender dan forum-forum kesaksian korban. Kasus yang saya jadikan model, seperti yang mungkin sebagian orang sudah bisa tebak, adalah kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Sitok Srengenge terhadap seorang mahasiswi. Kebetulan salah satu teman saya kenal secara pribadi dengan korban, karena itu saya mengetahui kisah lengkapnya dari teman tersebut, juga dari grup khusus yang dibuat untuk menegakkan keadilan bagi korban. Selain itu, saya juga mewawancarai beberapa kenalan yang pernah terlibat dalam subtle rape dengan pacar dan bahkan anggota keluarga mereka sendiri. Saya rasa mendengarkan kisah mereka merupakan salah satu yang paling berkesan dalam rangkaian riset saya. Rasanya menyedihkan mengetahui bahwa banyak orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang kita sayangi, ternyata pernah mengalami kekerasan seksual dan tidak mampu melaporkannya karena stigma yang ditempelkan pada korban, dan bahkan banyak yang tidak sadar mereka telah mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual! Orang-orang ini yang menjadi alasan saya menulis Kahve

Tapi yang paling menyenangkan, tentu saja riset tentang kopinya. Walau saya penggemar kopi, kopi Nusantara--sayangnya--adalah jenis kopi yang baru saya ketahui keberadaannya beberapa tahun lalu (thank you, Kedai Kopi CTI!). Setelah itu, saya akhirnya berniat untuk memperkenalkan kopi Nusantara ini kepada banyak orang, karena jenis-jenis kopi lokal kita ternyata enaknya bukan main! Jadi, untuk risetnya, saya menggeret salah satu sahabat saya dari kedai satu ke kedai lain dan memesan segala jenis kopi Nusantara, mengendusi setiap cangkir seperti anjing dan berusaha mendeskripsikan serta membedakan setiap jenis kopi. Tidak lupa SKSD sama barista-baristanya, pasang muka bantal waktu ditertawai karena tanya hal-hal bodoh, dan berusaha minta coba pegang coffeemaker-nya. It's really fun!

Awww, saya adalah jenis orang yang selalu melakukan riset untuk tulisan apa pun, dan mendengar cerita Mbak, saya jadi kagum akan totalitas yang Mbak lakukan. I really appreciate it, and it sounds funny too! Tak heran, begitu membaca Kahve, saya langsung bisa merasakan bahwa ia ditulis dengan segenap riset memadai.

9. Menurut kaca mata saya yang minus lima sebagai peresensi, Kahve adalah novel debut yang recommended. Untuk karya selanjutnya, kira-kira tema apa yang ingin Mbak angkat? 

Aww, terima kasih banyak! Saya tersanjung sekali ^^. Untuk selanjutnya, saya rasa untuk beberapa saat saya tetap akan bermain di tema-tema sekitar gender dan seksualitas. Masih banyak sisi yang belum dieksplor dari tema ini karena sebagian besar masih dianggap tabu. Beberapa rencana yang sedang atau akan dikerjakan antara lain tema stereotip LGBT, isu slut shamingdan radical feminism. Entah yang mana yang bisa terealisasi lebih dulu. Wish me luck!

Wah, sangat menarik! Semoga bisa terealisasi semuanya, ya, Mbak! Saya akan menunggu karya selanjutnya :D Dan hmm, radical feminism? Saya jadi teringat Ayu Utami, meski mungkin tidak sepenuhnya benar, hehe.

(Catatan: 'slut shaming' adalah fenomena yang mana orang-orang memandang rendah dan menghina seorang perempuan karena ia gila seks, menikmati seks, atau bahkan hanya dirumorkan berpartisipasi dalam aktivitas seksual [Urban Dictionary])

Terima kasih, Mbak Ayu, atas waktu yang disisihkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kepo saya. Saya takjub, lho, karena Mbak Ayu ini fast-response akan tawaran dari saya untuk mengisi rubrik SiPiLis. Well, sampai jumpa lagi, dan semoga sukses!

Demikianlah perbincangan seru (dan cukup berat) saya dengan Mbak Yuu Sasih alias Ayu. Semoga memberikan wawasan baru bagi para pembaca, dan secara khusus, bagi para pembaca Kahve, yang penasaran seperti saya. Hehehe.

Mbak Yuu Sasih bisa dijumpai di Facebook.

Sampai jumpa di SiPiLis #3!



bloggerwidgets