21 September 2015

[SiPiLis #2] Yuu Sasih: Konsisten dengan Surealisme dan Realisme Magis, Gender, dan Seksualitas

Halo, semuanya! Jumpa lagi di SiPiLis episode 2!
Sebelumnya, saya minta maaf karena seharusnya ini posting bulan kemarin... Maaf, saya belum menepati janji untuk menerbitkan rubrik ini secara bulanan >,<

Di episode ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Yuu Sasih, penulis novel Kahve, yang ramah dan menyenangkan ^^. (Dan tidak keberatan saya sodori pertanyaan yang panjang-panjang.) Hayoo, sudah baca bukunya belum? Kahve adalah novel debut recommended, menurut saya. Tema yang diusungnya cukup kompleks dan berat. Ada isu pemerkosaan subtil, tasseografi, LGBT, dan tentu saja ruh psikologi menyokong dari latar belakang.

Oke, langsung saja kita mulai sesi ngopi bareng Yuu Sasih.

1. Latar belakang pendidikan Mbak, yang adalah psikologi, saya yakin berperan banyak dalam memotivasi lahirnya Kahve. Tolong, dong, ceritakan peran ilmu psikologi Mbak dalam membantu menciptakan para tokoh dan alur cerita Kahve.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari belajar psikologi adalah cakupan pembahasannya yang begitu luas, bukan hanya di seputar kesehatan jiwa seperti yang sering diasumsikan orang-orang. Dari psikologi, saya mengenal dan mendalami banyak bidang-bidang lain. Saya belajar filsafat, politik, sastra, hingga hal-hal teknis macam arsitektur dan kesehatan masyarakat. Tapi dari semua itu, yang paling menarik perhatian saya adalah kajian gender dan seksualitas. Dan saya sangat bersyukur bisa memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu orang-orang hebat dalam ranah tersebut. Bisa dibilang Kahve merupakan leburan dari segala pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan selama mendalami isu gender dan seksualitas.

2. Ada isu LGBT yang Mbak angkat, meski tidak secara mayor menduduki porsi cerita, tapi berperan penting dalam perkembangan karakter Kencana. Apa motivasi Mbak memasukkan unsur lesbianisme?

Hmm, motivasi memasukkan lesbianisme ke dalam cerita.... Motivasi utama saya, yang menurut saya lebih kepada idealisme menulis saya sendiri, adalah membuat kisah dengan diverse and non-stereotyping characters. Karena warga Indonesia, kan, bukan cuma orang-orang Jawa dan heteroseksual. Makanya ada juga Farran yang Arab-Cina. Rasy yang bukan, bisa dibilang, jenis laki-laki yang memenuhi stereotip maskulinitas. Kencana yang biseksual, dan Linda yang (bukan stereotip) lesbian.

3. Akhir-akhir ini isu LGBT cukup hangat dibicarakan di Indonesia, termasuk di kalangan penulis. Cukup banyak novel yang mengangkat isu ini. Apakah Mbak pernah membaca salah satu dari karya tersebut? Adakah yang berkesan? Bagaimana tanggapan Mbak?

Novel LGBT Indonesia? Oh, ya, saya baca cukup banyak. Sebenarnya saya juga menerbitkan novel gay romance secara self-publish, sebulan setelah Kahve terbit. Jadi sekitar tahun 2012--2013 saya banyak baca novel LGBT Indonesia untuk cari tahu jenis-jenisnya. Sebelumnya, saya sendiri sudah banyak baca novel gay romance Barat, jadi waktu baca novel LGBT Indonesia, yah, kulturnya beda. Haha.

Kalau novel LGBT Indonesia, sepanjang yang saya baca, belum ada yang berkesan. Trope-nya masih sama, yaitu "kisah cinta terlarang" dengan, kalau bukan salah satu atau keduanya menikah dengan perempuan dan "kembali ke jalan yang lurus" demi keluarga, pasti salah satu atau keduanya mati mengenaskan. Walau mungkin saja cerita-cerita macam ini lebih sesuai dengan realitas kaum LGBT di Indonesia, tapi hal ini jadi semacam mencitrakan bahwa menjadi LGBT di Indonesia sama saja dengan "doomed for life". Kisah-kisah macam ini tidak memberikan perspektif lain--bahwa sebenarnya kaum LGBT bisa dan boleh bahagia, bahwa sebenarnya mereka memiliki serangkaian cara lain untuk memperoleh kebahagiaan--dan seolah mengeset jawaban bahwa jalan kebahagiaan bagi LGBT khususnya--dan seluruh manusia pada umumnya--adalah "conform or die".

Karena itu, saya dan rekan saya akhirnya membuat novel LGBT yang berusaha memberikan perspektif lain terhadap kaum LGBT dan potensi-potensi yang bisa mereka gali, meski tidak sepenuhnya mengabaikan kultur Indonesia. Bukunya merupakan rangkaian trilogi, buku pertamanya, Pencarian, terbit sebulan setelah Kahve dan sampai sejauh ini masih mendapatkan respon yang sangat baik. Don't forget to check that out, too! ;) #promositerselubung #lol

Wah, sepertinya menarik, nih... Belinya di mana, Mbak? Dapet tanda tangan, nggak? :^)

4. Mungkin ada penulis yang mengangkat isu LGBT karena 'aji mumpung', karena lagi hangat-hangatnya isu tersebut, maka diharapkan karyanya akan meledak. Bagaimana pendapat Mbak tentang hal ini?

Secara objektif, saya akan bilang kalau motivasi penulis itu berbeda-beda, jadi itu terserah pada mereka masing-masing. Secara personal, saya tidak menyukai jenis penulis yang seperti itu. Penulis seperti itu biasanya hanya menggali sisi kontroversial dari suatu isu dan tidak berusaha mendalami isu tersebut dengan riset dan pemahaman yang sungguh-sungguh. Istilahnya, sama seperti acara gosip. Begitu ada yang kontroversial, mereka kejar dan poles demi rating, tapi pembahasannya one-dimensional dan "main aman", bahkan kadang sampai melukai narasumber demi mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Jadi, saya pribadi tidak menghargai hal seperti itu. Jika saya tahu ada penulis yang seperti itu, saya akan memutuskan untuk tidak pernah membaca karya mereka. Masih banyak penulis lain yang menulis dengan sungguh-sungguh, yang menghadirkan suatu tema unik karena mereka memang ingin tema itu dipahami oleh pembacanya. Penulis seperti itu yang akan mendapatkan apresiasi penuh dari saya.


5. Tasseografi sangat unik menurut saya (karena sebelumnya saya nggak tahu tentang ini, hehe). Apakah Mbak memang sudah lama tertarik dengan kopi dan tasseografi, atau memelajarinya hanya untuk keperluan penulisan Kahve?

Saya coffee addict sejak lama, tapi tasseo sendiri memang baru saya pelajari untuk kepentingan Kahve. Sejak awal saya sudah memutuskan bahwa Kahve akan menjadi karya dengan genre realisme magis, karena itu brainstorming saya dimulai dengan hal-hal magis apa saja yang bisa dikaitkan dengan kopi? Jawabannya, as you can see, tasseografi.


6. Membaca bagian di mana Farran tiba-tiba menghilang, dan bagian kisah Kencana--Linda, saya jadi teringat akan novel Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami. Apakah Mbak memang terinspirasi dari Murakami?
- Kalau iya, tolong ceritakan seberapa besar pengaruh gaya penulisan Murakami terhadap gaya Mbak sendiri.
- Kalau tidak, tolong ceritakan karya sastra/penulis yang paling berpengaruh terhadap gaya penulisan ataupun memotivasi Mbak untuk menulis.
Oh yesss! Murakami is my literary god! Kahve memang sebagian terinspirasi dari karya Murakami, tapi bukan Sputnik Sweetheart secara spesifik. Tapi hampir benar! Better luck next time! Lol.

Pengaruh Murakami terhadap gaya menulis saya bisa dibilang cukup besar. Murakami yang pertama memperkenalkan saya pada sastra surealisme dan realisme magis, dua genre yang hampir selalu jadi dasar setiap karya saya sekarang. Murakami juga yang membuat saya mencoba untuk melihat suatu karya fiksi di luar konteks yang disajikan. Murakami sering memasukkan lagu-lagu dan karya sastra di dalam cerita-ceritanya, dan jika kita membaca latar belakang semua referensi yang dimasukkannya, akan ada semacam apresiasi baru terhadap cerita tersebut yang tidak akan kita dapatkan kalau kita hanya membaca apa yang disampaikan secara literer! Referensi-referensi Murakami dalam karya-karya buatannya selalu menambah pengetahuan saya, dan saya ingin memberikan yang serupa bagi pembaca Kahve. Makanya saya senang sekali saat membaca ulasan Mbak Frida, yang ternyata sangat detil dengan memasukkan unsur-unsur yang sengaja saya selipkan untuk menambah kelezatan Kahve. I feel so happy and honored!

Yaaay, tebakan saya agak sedikit benar >,< Pasalnya saya baru selesai baca Sputnik Sweetheart, jadi langsung nyantol, hehe. Ah, dan saya juga menyukai genre realisme-magis, Mbak. Uh, I feel so happy too, Mbak, to have ever read Kahve.

7. Ada La Campanella, Night on The Galactic Railroad, dan The Picture of Dorian Gray dalam Kahve. Apakah tiga karya seni tersebut memang favorit Mbak secara pribadi? Tolong ceritakan, dong, Mbak, soalnya saya penasaran. Hehe.

Night on the Galactic Railroad memang film terfavorit saya sepanjang masa. Sama seperti karya-karya Murakami, Night on the Galactic Railroad dari luar hanya seperti cerita anak-anak biasa, tapi jika digali lebih dalam, ada makna-makna lain yang sangat menarik, bahkan bagi penonton usia dewasa (dan dua kucing Campanella dan Giovanni itu imutnya bukan main). La Campanella sendiri baru saya temukan saat masa brainstorming Kahve. Begitu mendengarnya, antusiasme saya langsung meledak, "Oh! Ini harus ada di novel!"

Sementara itu, saya suka The Picture of Dorian Gray, tapi bukan bisa dibilang favorit secara pribadi. Saya suka dengan apa yang disampaikan oleh cerita itu. Saat brainstorming Kahve, karya klasik itu langsung muncul begitu saja di kepala. Dan ternyata memang pas dengan tema Kahve pada akhirnya. :)


8. Saya yakin di balik penulisan Kahve, Mbak melakukan serangkaian riset. Tolong ceritakan metode riset seperti apa yang Mbak gunakan, dan riset bagian mana yang paling berkesan untuk Mbak.

Kahve dibuat dengan tujuan awal untuk meningkatkan awareness pembaca terhadap isu pemerkosaan subtil (subtle rape). Saya merasa masih banyak orang di Indonesia yang menganggap pemerkosaan itu dilakukan oleh orang asing sama sekali dan dengan menggunakan kekerasan. Padahal tidak selalu demikian. Pemerkosaan sebagian besar dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengan korban dan seringkali dilakukan tidak dengan kekerasan, tetapi dengan ancaman yang dibalut oleh rayuan. 

Untuk menggali isu tersebut, saya mendatangi seminar-seminar tentang kekerasan seksual berbasis gender dan forum-forum kesaksian korban. Kasus yang saya jadikan model, seperti yang mungkin sebagian orang sudah bisa tebak, adalah kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Sitok Srengenge terhadap seorang mahasiswi. Kebetulan salah satu teman saya kenal secara pribadi dengan korban, karena itu saya mengetahui kisah lengkapnya dari teman tersebut, juga dari grup khusus yang dibuat untuk menegakkan keadilan bagi korban. Selain itu, saya juga mewawancarai beberapa kenalan yang pernah terlibat dalam subtle rape dengan pacar dan bahkan anggota keluarga mereka sendiri. Saya rasa mendengarkan kisah mereka merupakan salah satu yang paling berkesan dalam rangkaian riset saya. Rasanya menyedihkan mengetahui bahwa banyak orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang kita sayangi, ternyata pernah mengalami kekerasan seksual dan tidak mampu melaporkannya karena stigma yang ditempelkan pada korban, dan bahkan banyak yang tidak sadar mereka telah mendapat perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual! Orang-orang ini yang menjadi alasan saya menulis Kahve

Tapi yang paling menyenangkan, tentu saja riset tentang kopinya. Walau saya penggemar kopi, kopi Nusantara--sayangnya--adalah jenis kopi yang baru saya ketahui keberadaannya beberapa tahun lalu (thank you, Kedai Kopi CTI!). Setelah itu, saya akhirnya berniat untuk memperkenalkan kopi Nusantara ini kepada banyak orang, karena jenis-jenis kopi lokal kita ternyata enaknya bukan main! Jadi, untuk risetnya, saya menggeret salah satu sahabat saya dari kedai satu ke kedai lain dan memesan segala jenis kopi Nusantara, mengendusi setiap cangkir seperti anjing dan berusaha mendeskripsikan serta membedakan setiap jenis kopi. Tidak lupa SKSD sama barista-baristanya, pasang muka bantal waktu ditertawai karena tanya hal-hal bodoh, dan berusaha minta coba pegang coffeemaker-nya. It's really fun!

Awww, saya adalah jenis orang yang selalu melakukan riset untuk tulisan apa pun, dan mendengar cerita Mbak, saya jadi kagum akan totalitas yang Mbak lakukan. I really appreciate it, and it sounds funny too! Tak heran, begitu membaca Kahve, saya langsung bisa merasakan bahwa ia ditulis dengan segenap riset memadai.

9. Menurut kaca mata saya yang minus lima sebagai peresensi, Kahve adalah novel debut yang recommended. Untuk karya selanjutnya, kira-kira tema apa yang ingin Mbak angkat? 

Aww, terima kasih banyak! Saya tersanjung sekali ^^. Untuk selanjutnya, saya rasa untuk beberapa saat saya tetap akan bermain di tema-tema sekitar gender dan seksualitas. Masih banyak sisi yang belum dieksplor dari tema ini karena sebagian besar masih dianggap tabu. Beberapa rencana yang sedang atau akan dikerjakan antara lain tema stereotip LGBT, isu slut shamingdan radical feminism. Entah yang mana yang bisa terealisasi lebih dulu. Wish me luck!

Wah, sangat menarik! Semoga bisa terealisasi semuanya, ya, Mbak! Saya akan menunggu karya selanjutnya :D Dan hmm, radical feminism? Saya jadi teringat Ayu Utami, meski mungkin tidak sepenuhnya benar, hehe.

(Catatan: 'slut shaming' adalah fenomena yang mana orang-orang memandang rendah dan menghina seorang perempuan karena ia gila seks, menikmati seks, atau bahkan hanya dirumorkan berpartisipasi dalam aktivitas seksual [Urban Dictionary])

Terima kasih, Mbak Ayu, atas waktu yang disisihkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kepo saya. Saya takjub, lho, karena Mbak Ayu ini fast-response akan tawaran dari saya untuk mengisi rubrik SiPiLis. Well, sampai jumpa lagi, dan semoga sukses!

Demikianlah perbincangan seru (dan cukup berat) saya dengan Mbak Yuu Sasih alias Ayu. Semoga memberikan wawasan baru bagi para pembaca, dan secara khusus, bagi para pembaca Kahve, yang penasaran seperti saya. Hehehe.

Mbak Yuu Sasih bisa dijumpai di Facebook.

Sampai jumpa di SiPiLis #3!


Reaksi:

2 comments:

  1. Saya selalu suka dengan artikel di blog ini. Terasa sekali banyak detail dari novel yang kemudian lolos masuk resensi. Padahal hal tersebut penting disampaikan. Ahh. Seru penyajian resensinya. Dan SiPiLis ini juga keren. Saya kira Kahve tidak ada apa-apanya. Tapi saya salah. Kahve memiliki banyak sisi. Jadi masuk list ini novel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih krn menikmati blog ini :d
      Selamat berburu Kahve, dan jangan bosan2 kunjungi blog saya ya hehehe
      Nanti saya akan mengadakan giveaway, yg salah satu hadiah bukunya adalah Kahve.

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets