13 December 2015

[Resensi UNFORGETTABLE STORIES] Meretas Rindu Dongeng Masa Lalu

Judul: Unforgettable Stories
Penulis: Mulyadi Al-Gunsary, dkk.
Editor: Miz
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, November 2015
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-255-952-8
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 3/5


Sebuah dongeng yang benar-benar mencengkeram benak akan membangkitkan sisi delusional dalam diri, atau justru memberikan inspirasi. Setujukah kau? Mungkin saya kurang beruntung dibandingkan teman-teman penulis cerpen bertema "dongeng masa kecil inspirasiku" yang terkompilasi dalam Unforgettable Stories, yang beberapa menulis berdasarkan pengalaman masa kecil mereka yang sarat dongeng-dongeng teruar manis dari bibir ayah atau ibu. Pasalnya, ayah atau pun ibu saya tak pernah mendongengi saya. Dongeng-dongeng, seperti Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Si Kancil, dsb., saya dapatkan dari cerita Bu Guru TK dan SD, yang... yah, mendongeng ala kadarnya. Pastilah akan lebih menarik jika mereka mendongeng dengan permainan intonasi, gaya, dan ilustrasi, kan? Namun, saya cukup beruntung karena sejak saya bisa membaca, ibu saya menyediakan setumpuk buku cerita bergambar yang tiada habisnya. Dari situlah, saya berkenalan dengan para putri Disney. Lalu, saya juga kerap meminjam dari perpustakaan buku kumpulan dongeng dari berbagai daerah di Indonesia.

Saat menulis prolog resensi ini, saya sibuk berpikir, dongeng apa yang menjadi inspirasi saya?

Saya mencongkeli sudut-sudut memori, berharap menemukan sesuatu dari masa kecil, tapi dengan sangat menyesal, saya menjawab diri saya sendiri: tidak ada.

Kalau buku, banyak, yang jadi inspirasi saya, tapi kalau dongeng, tidak ada.

Bagaimana denganmu?
 
***

Lima belas cerpen terbaik dari Lomba "Dongeng Masa Kecil Inspirasiku" menyusun buku ini. Bertajuk "Unforgettable Stories: Meretas Rindu Cerita Ibu", kelima belas ceritanya memang berisi dongeng masa kecil yang tak terlupakan oleh para tokohnya, yang memengaruhi kehidupan mereka selanjutnya, bahkan membentuk kepribadian mereka. Dalam cerpen Pandiman Pulang, kepribadian seseorang dan dongeng masa kecil ternyata mampu saling memengaruhi. Bagi si "aku", dongeng Kendiririsik paling membekas di ingatannya. Dongeng itu menjadikannya pribadi yang penakut. Lain dengan Daham, teman si "aku". Bagi Daham, dongeng yang akan selalu lekat di benaknya adalah tentang Pandiman yang pemberani. Di kemudian hari, si "aku" dan Daham dewasa bertemu lagi. Si "aku" kini adalah seorang guru, dan Daham adalah perwira tentara. Dua pribadi yang saling berseberangan itu disimbolkan dengan perbedaan fisik telapak tangan mereka.

"Kami berpandangan cukup lama sambil tersenyum teringat kenangan di masa kecil. Dan saya pun menjabat tangannya yang begitu keras dan terasa tebal. Sangat berbeda dengan telapak saya yang lebih putih, mulus, dan lembek." (hlm. 23)

Cerpen pembuka tersebut cukup berkesan bagi saya. Namun, ternyata cerpen yang menyusulnya lebih berkesan. Penyihir Manis(an) berkisah tentang Cendana, si gadis buruk rupa dengan luka bakar menghiasi wajahnya. Mungkin kau mengira ia akan menjadi gadis yang minder, tapi tidak nyatanya. Ia memang berbeda. Ketika mendengar dongeng Hansel dan Gretel, orang kebanyakan akan mengidolakan Hansel dan Gretel. Namun, Cendana malah terinspirasi oleh penyihir yang menculik dua bersaudara itu dan memberi mereka permen-permen. Dari situ, didukung oleh hobi dan kepiawaiannya memasak dan berkreasi, Cendana berhasil membuka toko permen dan cokelat "Sweet Wizard" dengan kerja kerasnya. Kemudian keikutsertaannya dalam sebuah acara televisi semacam Master Chef tapi khusus untuk pastry, membawa perubahan dalam kariernya sebagai koki. Tokoh Cendana, sebagai sosok wanita pekerja keras, pejuang peraih mimpi, dan percaya diri meski wajahnya buruk rupa, sangat saya kagumi. Terlebih pembawaan santainya tiap menghadapi orang yang takjub atau bahkan menghina keburukrupaannya. 

"But, in the end it's showbiz. Dan kamu tidak memiliki kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi host acara masak di televisi."
Sebuah pencerahan merasuk ke dalam kepala Dana. "Karena wajah saya jelek, begitu?" tanyanya sambi tertawa. (hlm. 40)

Dengan munculnya tokoh Edo, penulis memaparkan suatu paradoks. Di balik sosoknya yang terlihat galak dan membenci Dana, ternyata ialah satu-satunya orang yang memperjuangkan kemenangan Dana dalam kompetisi koki itu. Sebaliknya, para juri yang lain, yang biasanya memuji-muji masakan Dana, ternyata berlaku sebaliknya.

Ada dua cerpen lain yang juga mengusung kisah gadis yang merasa diri buruk rupa. Dongeng The Ugly Duckling sama-sama disebut di dua cerpen berikut, Beautiful Inside dan Perempuan dalam Cermin. Di cerpen yang pertama, Elsa adalah gadis albino yang merasa buruk rupa karena berbeda dengan teman-temannya. Untunglah, dalam menghadapi tiap ejekan, ia memiliki si "aku", sahabat yang selalu membelanya. Akhirnya, ia menyadari bahwa ia punya kelebihan: kecerdasannya. Dalam Perempuan dalam Cermin, Aya harus menghadapi berbagai olok-olok semasa sekolah karena wajahnya yang jauh dari cantik. Ia membiarkan dirinya digerogoti oleh olok-olok orang, sehingga ia tumbuh jadi sosok yang minder.

"Dari puluhan dongeng yang pernah dibaca Aya, semua putri kerajaan digambarkan sebagai wanita cantik dan biasanya akan berjodoh dengan pangeran atau kesatria tampan di akhir cerita." (hlm. 159)

Penulis menyebutkan beberapa dongeng dalam cerpen ini, salah satu yang sangat menarik bagi saya (karena saya belum pernah dengar sebelumnya) adalah si Kuncung Riquet karya Charles Perrault, yang menurut Aya sangat menyebalkan karena "memperkuat keyakinan Aya bahwa tak akan ada kisah bahagia bagi si buruk rupa. Bahwa kebahagiaan hanyalah milik mereka yang cantik dan menawan." (hlm. 162). Namun kemudian, perlahan, tumbuh rasa percaya diri dalam diri Aya. Saya menyukai ide penulis untuk menggunakan elemen cermin sebagai sarana penggambaran fisik maupun kondisi psikologis Aya, selain permainan sudut pandang tokoh utama.

"Akhirnya Aya mengerti, bahwa senyum yang bermuara dari hati bahagialah yang membuat senyum perempuan dalam cermin yang kerap dilihatnya tampak begitu menawan." (hlm. 168)

Sisi paradoks, selain saya temukan di Penyihir Manis(an), juga ada di Ayahku Seorang Pendongeng. Si "aku" menceritakan bahwa ayahnya yang gemar mendongeng itu, sangat vokal dalam menentang rencana pembangunan vila dan tempat hiburan di kampung mereka. Sebelumnya, si "aku" memang menyebutkan bahwa ayahnya seorang perokok, yang hobi meracik rokok sendiri dari tembakau dan cengkih dibungkus daun nipah. Nah, menurut saya, ini paradoks. Sang ayah yang membenci orang-orang kota yang ia anggap tak berakhlak:

"Aku tahu persis kelakuan orang-orang kota. Mereka yang suka menenggak minuman keras [...] Lambat laun, anak-anak akan meniru mereka. Belakar dari mereka menenggak minuman beralkohol." (hlm. 75)

tapi dia sendiri tak merasa bersalah merokok di depan anaknya. Bahkan, ia menyuruh anaknya untuk membeli cengkih di warung (hlm. 80) untuk racikan rokoknya. Tahu tidak, seorang ayah perokok yang gemar menyuruh anaknya membeli rokok, sama saja mengajari anaknya untuk merokok.

Selain memberikan inspirasi untuk berkarya dalam hidup, dongeng, atau lebih tepatnya mite dan epos bisa membentuk seseorang jadi mencintai sejarah bangsa sendiri. Seperti yang dialami tokoh "saya" dalam cerpen Dongeng-dongeng Saat Mati Lampu. Oleh karena sang ayah gemar bercerita tentang mite dan epos berlatarkan sejarah nusantara, si "saya" jadi menyukai pelajaran sejarah. Sepertinya sangat jarang ada anak yang menyukai pelajaran itu, bahkan sampai ingin kuliah di jurusan Arkeologi. Namun, sangat disayangkan, "Akhirnya minatku terhadap sejarah dikalahkan oleh keinginan menemukan pekerjaan yang sekiranya memberikan nilai materi lebih bagiku." (hlm. 101-2) Yah, idealisme si "saya" dikalahkan sikap realistisnya. Penulis cerpen ini tidak konsisten dalam penggunaan kata ganti "saya", karena untuk kata ganti kepemilikan, penulis menggunakan "-ku".

Selain Cendana dalam cerpen Penyihir Manis(an) dan Aya dalam cerpen Perempuan dalam Cermin, tokoh Neli dalam Kuping Caplang juga menarik bagi saya. Neli tumbuh menjadi wanita yang sebisa mungkin selalu jujur. Profesinya sebagai seorang polwan lalu lintas, yang cukup dekat dengan kegiatan suap-menyuap, tentu menjadi tantangan berat baginya. Namun, justru, sikapnya yang tidak pernah bohong itu membimbingnya menjadi seorang polantas yang jujur dan berintegrasi tinggi, tidak seperti rekan-rekannya. Semuanya karena dongeng Kuping Caplang yang ia dengar waktu kecil dari ayahnya, tentang "anak yang telinganya berubah menjadi panjang, gara-gara ia suka berbohong" (hlm. 149).

"Aku selalu ingat pesan terakhir ayahku sebelum meninggal. Aku harus selalu berlaku jujur, apalagi sebagai pamong negara. Jangan seperti si Kuping Caplang." (hlm. 153)

Namun, sayang, kekerenan sosok Neli ambyar seketika, saat ia curhat pada si "aku" tentang hubungannya dengan Dimas, pacarnya. Akibat sikapnya yang terlalu jujur, hubungannya agak bermasalah saat itu. Jadi, kesimpulannya, jujur itu wajib, tapi jangan terlalu polos. Tidak semuanya harus dikatakan.

Kebanyakan cerpen dalam buku ini menyediakan sebagian kecil porsi untuk menceritakan dongeng masa kecil si tokoh. Sebagian besar porsi sisanya menceritakan perjalanan kehidupan atau perjuangan si tokoh mencapai impiannya, dan kaitannya dengan dongeng itu. Namun, ada satu dongeng yang tidak mengikuti jalur yang sama. Delapan dari sepuluh halaman cerpen Gadis Penjaja Waktu berisi dongeng Gadis Penjual Korek Api yang diceritakan oleh seorang ibu kepada anaknya. Implikasi dongeng tersebut terhadap si anak hanya diceritakan pada dua halaman terakhir. Akan lebih baik jika implikasi dongeng dalam kehidupan si anak diceritakan lebih banyak.

Kalau dari tadi saya banyak bicara tentang paradoks, itu bukan salah saya. Buku ini pun, secara keseluruhan, dari tagline yang terpampang di kover depannya, merupakan paradoks. "Meretas Rindu Cerita Ibu" tertulis di bawah judul buku. Padahal, hanya empat cerpen yang berisi dongeng yang diceritakan oleh ibu. Tiga yang lain, sang ayahlah yang mendongeng. Sementara lima cerpen mengangkat dongeng yang dibaca oleh si tokoh utama dari buku atau sumber lainnya. Tiga lainnya, ada yang bersumber dari cerita guru, cerita drama sekolah, dan dari seorang paman. 


Mungkin seharusnya "Meretas Rindu Dongeng Masa Lalu", hehehe. Terlepas dari itu, buku kumpulan cerpen ini menghangatkan ingatan saya akan dongeng-dongeng yang pernah saya baca dulu. Berbagai tokoh inspiratif di dalamnya juga menyadarkan saya, bahwa saya tidak sendiri dalam perjuangan menggapai mimpi di dunia ini. Dari manapun inspirasinya, adalah penting untuk tetap bertahan dan berjuang. Fighting!
Reaksi:

1 comment:

  1. Nasib-nasib. Gue juga enggak pernah didongengin sama ibu dan bapak. Kalo pun ibu bapak bercerita, pasti bercerita soal mereka kecil hingga muda. Atau kalau bukan soal mereka, ibu bapak suka cerita horor yang dialami rekan-rekannya.

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets