3 December 2017

[Resensi LUKA DALAM BARA] Sehimpun Curhatan




“Mungkin saja, yang kamu perlukan hanyalah jatuh cinta lagi.”
(Menulis dan Mencintai, hlm. 69)
Tak jarang, aku menjelma impulsif saat membeli buku. Luka dalam Bara adalah salah satu contohnya. Semata karena sampul dan ilustrasinya yang cantik, serta jilidan hardcover dengan harga yang murah, aku memutuskan ikut pre-order edisi bertanda tangan di Bukabuku.
Apakah aku menyesal setelah membaca buku kumpulan curhatan Bara ini?

Tidak juga, meski aku berharap Bara bisa lebih elegan dalam menuliskan curhatannya seputar hubungan percintaannya—tidak sementah dan sebiasa ini. Yah, itulah salah satu untungnya menjadi penulis ternama. Namun, tak bisa juga aku menghakimi lantaran di kata pengantar Untuk Apa Saya Menulis? Bara memang sudah mengatakan bahwa tulisan-tulisannya di buku ini—yang awalnya ia tampilkan di blog—adalah “fragmen-fragmen perasaan aktual” yang “terlalu personal dan jujur untuk saya bagi dalam bentuk sebuah buku utuh” (hlm. 2). Namun, kalau dia menuliskannya ke dalam bentuk puisi nan penuh umpama, apakah itu lantas tidak jujur namanya? Nah, apakah curhatan yang “terlalu personal dan jujur untuk dibagi dalam bentuk sebuah buku utuh” ini tidak terlalu personal dan jujur juga untuk dibagi ke khalayak lewat blog? Mungkin kesannya beda, ya. Entahlah.

Untung, sampul dan ilustrasinya cantik. Untung dapat bonus pouch lucu buat tempat alat tulis.


Untung, di beberapa bagian aku bisa menemukan rasa terkoneksi dengan tulisannya, misalnya bagaimana cara salah satu tokoh menangani patah hatinya (Menangani Patah Hati, hlm. 62-64). Ini mirip dengan caraku menyembuhkan diri pasca-patah-hati: memeras kesedihan sampai kering kemripik, lalu menggorengnya dan memakannya bak kerupuk, yang pada akhirnya kukeluarkan di toilet dan kusirami sampai lenyap dari pandangan. Mampus kau kenangan. (Seandainya bisa seperti itu.) Lalu aku bangun dan menjalani kembali hidup yang tak akan pernah seperti semula (tentunya setelah tak lupa cebok dan memakai celana); hidup yang aku telah berdamai dengannya.

Atau bagaimana juga aku merasa terkoneksi dengan Bara karena kami memiliki beberapa kesamaan dalam hal aktivitas menulis. Menulis untuk menumpahkan perasaan, karena aku lebih bisa menulis daripada berkata-kata.
“Sesuatu yang membuatku mencintai seorang begitu lama adalah, karena garis waktuku dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu yang terulur, cinta semakin dalam terpancang.”
(Surat-surat untuk J
(#6), hlm. 53)
Yah, begitulah. Oleh karena itu, masa-masa paling menyenangkan adalah saat pedekate. (Ada hubungannya nggak, sih? 😕)

Ada kalimat Bara yang membuatku tercenung, yaitu dalam Ikatan. Ikatan dan/atau komitmen adalah salah satu ketakutan terbesarku. Saat ketakutan itu menyerang, aku selalu mengingat petikan dalam Madre karya Dee,
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”
Nah, Bara mengingatkanku lagi dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana bisa kita terbebas dan terlepas dari ikatan, sementara kita sendiri tercipta dan terbentuk melalui ikatan-ikatan?”
(hlm. 81)
Ya, bagaimana aku bisa lupa kalau tubuhku terdiri dari ikatan-ikatan molekul? Yah, atau mungkin karena sudah terlalu banyak ikatan dalam tubuhku sehingga aku tak menginginkan tambahan lagi....
Selain itu aku juga suka tulisan berjudul Rumah.
“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata....”
(hlm. 7)
Yah, reading is sexy indeed. Selebihnya, isi buku ini tak meninggalkan kesan yang kuharapkan padaku. The best part is, I learned this: judge a book by its cover but don't judge a book by "who's its author". Or even, judge nothing.[]

identitas buku
Judul: Luka dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Teguh Afandi
Penerbit: Noura
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-385-232-1
Harga: Rp 49.000,00
Ratingku: ⭐⭐ (1 bintang untuk konten dan 1 bintang untuk ilustrasi yang ciamik)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets