7 December 2017

[Resensi JATUH 7 KALI BANGKIT 8 KALI] Kisah Guru yang Menuai Pelajaran dari Berbagai Keterbatasan

Catatan:
1. Resensi ini tayang juga di Goodreads.
2. Buku ini salah satu hadiah dari Penerbit Mizan saat blio berulang tahun ke-34 (berbulan-bulan yang lalu).

Bila kita bersyukur atas uang yang kita miliki, betapa pun sedikit jumlahnya, kita akan menerima uang lebih banyak lagi. Bila kita bersyukur atas suatu relasi, meski hubungan itu tidak sempurna, relasi itu bakal sempurna. Bila kita bersyukur atas pekerjaan kita saat ini, meski itu bukan pekerjaan idaman, kita akan memperoleh lebih banyak peluang mengejutkan dalam pekerjaan.
(hlm. 38)
Salah satu hal yang paling sering aku lupa lakukan adalah bersyukur. Selalu ingin yang lebih dan lebih lagi hingga lupa ada banyak hal yang seharusnya disyukuri.

Ada inspirasi yang bisa kita petik dari kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan kita sendiri kalau kita mau melihatnya lebih terperinci. Seperti yang disebut Stephen R. Covey, “everyday greatness” (hlm. xv). J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto dan juga penulis, berawal dari acara pelatihan spiritual guru-guru yayasan sekolah, bertemu dengan Sutarto, guru senior SMA Kolese Kanisius Jakarta. Kita tidak tahu ke mana pertemuan-pertemuan dengan orang-orang akan membawa kita, tapi setiap pertemuan itu pasti berdampak di masa depan. Buku Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali ini pun lahir dari pertemuan semacam itu, yang juga adalah hasil dari pengembangan pelatihan spiritual yang mereka ikuti itu. Sumardianta menemukan dan mencoba menyoroti “everyday greatness” sosok Sutarto yang telah tampak sejak kecil. Ingatan-ingatan dalam kepala Sutarto itu menemukan “pensieve”-nya saat dirangkai oleh Sumardianta dengan pembukaan berupa anekdot dan penutup mengandung hikmah pada setiap bab menjadi buku (yang katanya) inspiratif ini.
*
Tarto lahir di sebuah dusun di Karanganyar, Jawa Tengah, di keluarga yang serba-kekurangan. Hari-hari ia lewati sering dengan perut keroncongan. Maka, bubur gurih tanpa lauk dari beras hasil nempil tetangga pun layak disyukuri, apa lagi nasi selamatan dari tetangga (bahkan nasi, sayur lodeh, dan ikan asin adalah makan malam terbaik yang pernah Tarto santap di masa belia (hlm. 40-41). Sejak kecil mental dan fisiknya terlatih oleh aktivitas membantu orang tua: angon ternak, mengurus sawah, menyapu sekolah menggantikan ayahnya yang berhalangan (yang kerap membuatnya jadi bahan perundungan teman-teman sekolah), bersepeda puluhan kilometer. Lantas, kekurangan finansial membuatnya jadi kreatif. Berjualan daun tebu kering, jualan sabun buatan sendiri, jualan jasa bikin undangan, dan lain-lain, yang berperan mengembangkan jiwa kewirausahaan yang ditekuninya sampai kini.
Saudara itu orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah. Saudara berdimensi fisik. Persaudaraan itu artinya orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati. Persaudaraan berdimensi spiritual.
(hlm. 76)
Dari orang-orang di sekitarnya dan kebaikan-kebaikan kecil yang mereka berikan, Tarto memetik inspirasi. Inspirasi ini berperan dalam menguatkan mentalnya dan membantunya memilih jadi pribadi yang positif meski kerap dirundung ketidakadilan dan kesulitan hidup. Ia tak lantas jadi pribadi yang menyimpan dendam, malah ia jadi pribadi yang penuh semangat dan gigih menggapai cita-cita. Orang-orang itu, antara lain adalah Pak Rajimin, guru kelas IV-nya, yang membantunya berani mengeluarkan pendapat; Pak Suwito, guru kelas VI-nya, yang membangkitkan cita-citanya untuk sekolah tinggi; dan tentu saja—Ayah dan Simbok, yang meski kekurangan secara material, tetap ngotot menyekolahkan anaknya, dan dengan cara mereka sendiri membangun mental tahan banting Tarto.
*
Terbagi menjadi tiga bagian, “Mensyukuri Keuntungan Tak Adil”, “3M: Menemani, Melayani, dan Membela”, dan “Stay Hungry, Stay Foolish”, buku ini mencoba menarasikan kehidupan Sutarto. Bagian pertama menyoroti masa kecil hingga remaja yang penuh kesulitan, yang membentuk Tarto jadi orang dewasa yang hebat. Bagian kedua menyoroti kontribusi-kontribusi besar dari orang-orang di sekitar Tarto yang penting bagi keberhasilannya. Bagian ketiga, yang judulnya dikutip dari Steve Jobs, menyoroti bagaimana Tarto terus menjadi manusia pembelajar. Di bagian terakhir ini Sumardianta menganyam pendapat-pendapat orang-orang dekat Tarto tentang sosoknya; dari sudut pandang anaknya, muridnya, rekan kerjanya…. Ketika menyoroti hubungan Tarto dengan anak sulungnya, hal yang menyentuh adalah daftar “tiga belas permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan” di halaman 204. Kupikir setiap orang tua harus memahami ini.
Buku ini terdiri dari bab-bab pendek yang masing-masing mengikuti pola konten: anekdot – kisah hidup Sutarto – hikmah. Namun ada beberapa bab yang hanya dihuni kisah inspiratif klise tanpa kisah hidup Tarto. Secara keseluruhan, aku malah menemukan lebih banyak inspirasi dari bagian anekdot ketimbang kisah hidup Tarto. Salah satu yang paling mengena ada di Bab 20, yaitu kata-kata Margaret, istri John Maxwell,
…tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.
(hlm. 153)
Bisa dibilang, anekdotnyalah yang menghidupkan buku ini. Banyak anekdot yang menarik, (meski mungkin beberapa pembaca akan menganggap ini klise) seperti kisah tentang Don Quixote. Aku juga menemukan beberapa bab yang antara anekdot dan inti serta penutup bab tidak berkaitan, sehingga terkesan penulis memaksakan keberadaan anekdot demi mengikuti pola penulisan konten yang telah dijanjikan kepada pembaca, tak peduli anekdot itu tak terlalu—atau hanya “tidak”—berkaitan dengan inti cerita. Aku gagal menemukan kaitan antara “tidak perlunya berdebat sia-sia” dengan perjuangan Tarto membuat SIM dan celetukannya mengenai percaloan. Apakah mungkin ada kaitannya dengan Tarto yang kesal karena tidak kunjung lulus tes SIM, lalu berteriak pada petugas, tapi lantas ia tidak melanjutkan dengan mengajak debat petugas itu? Hm, kupikir tidak. Konteksnya tidak cocok.

Lantas, aku juga menemukan ketidaksesuaian antara subjudul dengan isi buku. Tak ada yang salah dengan “Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali”, tapi aku kurang sreg dengan “Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan”. Pertama, kisah hidup Sumardianta hanya menempati satu bab penuh lebih sedikit. Frasa “para guru” itu terasa kurang adil bagi Sumardianta. Lebih pas kalau “guru” saja, dan seluruh buku ini tentang Sutarto. Menjadi agak aneh ketika tiba-tiba Sumardianta menyempilkan sedikit kisah hidupnya di salah satu bab dan lalu memenuhi bab terakhir buku. Kedua, “menuai keuntungan” kupikir lebih pas jika diganti dengan semacam “menuai pelajaran”. Ketiga, kata “ketidakadilan” kupikir tidak pas digunakan sebagai subjudul buku yang ditulis oleh dua insan yang telah berdamai dengan masa lalunya, bahkan telah berhasil menjadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran yang mengantarkan mereka pada kesuksesan. Masa orang-orang seperti Sutarto dan Sumardianta menganggap masa lalu yang penuh kesulitan itu sebagai ketidakadilan? Kesannya seperti para pengeluh yang manja. Lebih pas jika “ketidakadilan” itu diubah menjadi, misalnya, keterbatasan.

Kupikir Bab 29, Keunggulan Generasi Baby Boomers sangat potensial dikembangkan menjadi ruh utama buku ini. Tujuan penulisan buku ini apa, sih? Sekadar berbagi inspirasi dari kisah hidup guru yang berhasil mengubah kesulitan dan keterbatasan hidup jadi kesuksesan? Kalau hanya itu, buku ini kurang punya keistimewaan. Coba jika tujuannya dijadikan lebih spesifik: berbagi inspirasi tersebut untuk menunjukkan keunggulan generasi baby boomers ketimbang generasi Y dan generasi Z, sehingga generasi baby boomers berhenti memanjakan anak-anaknya (generasi Y dan Z) karena tak ingin mereka mengalami kesusahan hidup seperti yang dulu mereka alami, dan generasi Y dan Z itu sendiri pun terpacu semangatnya (hlm. 219-220).

Terlepas dari itu semua, buku ini telah menebarkan inspirasi dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur, menjadikan tantangan dan keterbatasan sebagai batu pijakan menuju kesuksesan, dan selalu menghargai relasi-relasi.
Para pemenang memikirkan hal-hal yang sama. Mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
(hlm. 163)
identitas buku

Judul: Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali: Kisah Para Guru Pemberani yang Menuai Keuntungan dari Ketidakadilan
Penulis: G. Sutarto & J. Sumardianta
Editor: Ikhdah Henny & Nurjannah Intan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: xxxvi + 248 halaman
ISBN: 978-602-291-373-3
Harga: Rp 54.000,00
Ratingku: ⭐⭐1/2
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets