Showing posts with label korea selatan. Show all posts
Showing posts with label korea selatan. Show all posts

29 September 2015

[Resensi] Simple Thinking About Blood Type #3

Judul: Simple Thinking About Blood Type #3
Penulis: Park Dong-Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-774-251-2
Harga: Rp 67.500,00
Rating saya: 4/5

A Simple Intro for Simple Thinking About Blood Type


Ketika mengulas novel Insomnia, saya menulis bahwa tidak jarang, orang Indonesia tidak tahu golongan darahnya. Namun, tidak begitu di Korea Selatan dan Jepang. Di sana, "apa golongan darahmu?" adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan pada seseorang, mungkin nyaris sewajar menanyakan nama. Fenomena hubungan sifat manusia dengan golongan darahnya yang ngetren di Korsel dan Jepang bukanlah semacam ramalan, melainkan stereotip. Meski tak selalu tepat, secara umum sifat dari masing-masing golongan darah bisa dikategorisasikan, sehingga bisa membantu kita untuk membangun pergaulan yang menyenangkan dengan semua golongan darah. Nah, apa yang ditulis oleh Park Dong-Sun melalui komik Simple Thinking about Blood Type adalah menurut pengalaman dan pengamatannya terhadap orang-orang. Si penulis sendiri pun memberi pesan pada pembaca, adalah kurang sopan jika langsung men-judge sifat orang "begini-begitu" hanya berdasarkan informasi golongan darahnya apa. Apa yang dia tulis melalui Simple Thinking about Blood Type adalah terutama untuk hiburan saja.

Sebelumnya, saya sudah membaca Simple Thinking about Blood Type yang pertama dan kedua, tapi tidak pernah saya resensi, karena saya terlalu menikmatinya :'). Kali ini, saya mencoba mengulas buku yang ketiga.

***

(Still) Simple yet Funny Tales of the Four Blood Types



Masih bertokoh-utamakan empat bocah A, B, O, dan AB, buku-komik seri ketiga ini terbagi menjadi empat bagian, sebagai berikut:

Bagian 1: Cerita Sederhana tentang Kehidupan Sehari-hari



"Omonganku benar, omonganmu juga benar. Aku netral. Ini masalah sepele, kenapa harus begitu?" (AB, hal. 76)

Bagian pertama terdiri dari 18 episode, yang dibuka dengan episode tentang kesalahpahaman tentang golongan darah. Selama ini si tokoh utama sangat mengagumi pacarnya yang bergolongan darah A. Namun, setelah diperiksa ternyata pacarnya itu bergolongan darah B. Sejak itu, pacarnya berubah, menjadi bersikap sangat "B". Dalam cerita ini, penulis menonjolkan kecerdasan AB, yang berceramah tentang Pygmalion effect, Labelling effect, dan Barnum effect.

Episode-episode selanjutnya ditulis dengan mengambil sudut penceritaan setiap golongan darah terhadap suatu kasus. Ada juga episode yang menunjukkan hubungan antara dua golongan darah, kemudian bagaimana cerita berantai yang disampaikan satu golongan darah ke golongan darah yg lain bisa menyebabkan kesalahpahaman.

"Setiap golongan darah mempunyai watak tersendiri, tetapi walaupun golongan darahnya sama, bukan berarti watak mereka juga sama." (hal. 81)

Episode favorit: Bagian yang menggambarkan tentang betapa tidak-tahu-dirinya si B terhadap A. Contohnya, ketika mereka berempat pergi berenang. Si O, yang lupa membawa peralatan mandi, meminjam B. Padahal, B juga tidak membawa apa-apa. Maka dari itu, si B meminjam dari A (yang membawa segalanya) untuk dipinjamkan ke O. Hal ini juga yang terjadi ketika seseorang minta obat flu ke B, yang lalu memintanya dari A. Si AB menyebutnya sebagai kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut" :D

Bagian 2: Cerita Sederhana tentang Kehidupan di Sekolah


"Kenapa kalian hidup dengan berat seperti itu, sih?" (B, hal. 95)

Sesuai dengan judulnya, 14 episode dalam bagian ini secara garis besar terjadi di lingkungan sekolah. Setiap golongan darah menunjukkan sikap yang khas dalam menghadapi permasalahan di dunia sekolah. Mulai dari mengejar bus sekolah, pemilihan wakil kelas untuk pekan olahraga, mengerjakan ujian, meminjam buku perpustakaan, sampai bermain batu.

Si B dan O hobi saling mengolok, yang lama-lama akan menjadi pertengkaran, seperti di cerita "Wisuda". Si B dan O versi cewek juga mudah terlibat perkelahian, seperti di cerita "Pelajaran Kesenian" dan "Bermain Batu".


Episode favorit: "Semester Baru", yang bercerita tentang si O yang telat masuk kelas di semester baru. Lalu si B menyombongkan diri krn ia datang awal. Tapi ternyata si B sejak tadi berada di kelas yang salah. Hahaha.

Bagian 3: Cerita Sederhana tentang Kehidupan di Kantor

(termasuk episode yang belum pernah diterbitkan)



"Aku adalah pekerja yang kesepian. Walaupun begitu, hidup itu memang dijalani sendiri." (O, hal. 211)

Bagian ketiga terdiri dari 18 episode. Hampir semua episode dalam bagian ini memusatkan cerita pada satu golongan darah, sehingga bisa jadi panduan (yang dikemas dengan unyu dan lucu) bagaimana cara bergaul dengan rekan kerja/atasan/bawahan yang berbeda-beda golongan darah. Ada karakter karyawan untuk tiap golongan darah, asisten yang cocok untuk bos bergolongan darah tertentu, cara memperoleh kepercayaan dari bos bergolongan darah tertentu, cara menghadapi karyawan bergolongan darah tertentu.

Episode favorit: "Asisten untuk Bos Golongan Darah B" bisa menjadi panduan untuk saya kelak jika sudah jadi bos dan hendak merekrut asisten pribadi. Hahaha.

Bagian 4: Cerita Sederhana tentang Keluarga dan Percintaan



"Uuughh! Dasar, aku ingin membunuhnya!" (A, hanya di dalam hati, hal. 277)

Bagian keempat terdiri dari 13 episode. Ada dua episode khusus untuk mendeskripsikan apa yang akan terjadi jika dalam satu keluarga, anggotanya bergolongan darah: 1) semua B, 2) semua A, dan 3) O-AB-A-B. Selain itu ada episode-episode lain yang tak kalah seru.

Lalu, dalam hal percintaan, penulis menggambarkan bagaimana hubungan antara cewek A dan cowok O, cewek O dan cowok O, cewek A dan cowok AB. Ada juga episode yang menunjukkan reaksi tiap golongan darah untuk mempersiapkan acara spesial peringatan jadian.

"Cowok yang membawakan tas ceweknya" seingat saya pernah muncul di buku sebelumnya (entah pertama atau kedua).

Episode favorit: "Pindahan", yang bercerita tentang satu keluarga yang terdiri dari semua gol. darah sedang bersiap-siap untuk pindah rumah.

***

Are There Anything Special in this 3rd Book?


Dibandingkan dengan kedua buku pertama, ada beberapa hal spesial di buku ketiga ini.
  1. Pada tiap pembukaan bagian, pihak penerbit menyelipkan foto-foto unik dari pembaca beserta pesan-kesan mereka terhadap buku Simple Thinking about Blood Type.
  2. Ada 13 episode yang ditulis oleh Park Dong-Sun berdasarkan cerita kiriman orang.
  3. Ada episode yang belum pernah diterbitkan (di bagian 3).
  4. Di bagian belakang, ada surat dari Park Dong-Sun khusus untuk para pembaca di Indonesia. Oh iya, bulan Desember 2013 ia pernah datang ke Indonesia dan mengadakan book signing, lho.
  5. Jika di buku kedua si O adalah yang paling "hina", maka di buku ketiga ini netral. Tapi saya merasa bahwa si AB lebih menonjol di sini. Ia jugalah golongan darah favorit saya, karena otak kritis, rasionalitas, dan kecerdasannya. Contohnya, ketika golongan darah yang lain curhat atau cuek pada guru konseling, si AB malah bertindak seolah-olah dia guru konseling bagi si guru konseling (hal. 122-26).

(1)
(4)

Sementara itu, ada hal-hal yang abadi sejak buku pertama hingga ketiga ini.
  1. Ajaibnya, dari buku pertama sampai ketiga, posisi bermalasan gol. darah B selalu konsisten: duduk di sofa sambil mainin kucing, tak peduli apa pun yang terjadi ROFL. 
  2. Pola penulisan: keempat gol. darah dihadapkan pada kasus serupa, lalu dilihat reaksi mereka masing-masing.
  3. Meski sudah sampai buku ketiga, cerita-cerita di dalamnya tetap menawarkan pengetahuan baru, terutama tentang kehidupan di dunia kerja yang sangat bermanfaat bagi saya (yang masih beradaptasi dengan dunia kantor dan tak lama lagi akan jadi fresh graduate).
  4. Tetap konyol dan bikin saya ngakak (meski nggak semua episode seperti itu).

(1)

Mungkin bagi beberapa pembaca, buku ini mulai basi. Tapi, bagi saya, buku ini selalu bisa memberikan kesegaran tersendiri di tengah kepenatan rutinitas, dan semoga tidak membuat saya makin "blood-type oriented" dalam "membaca" seseorang. Haha. Saya juga jadi makin menyadari, meski bergolongan darah B, tapi saya punya fragmen sifat A dan AB.

Jadi, apa golongan darahmu? :^)

11 April 2015

[Resensi MARRIED, SINGLE, AND IN BETWEEN] Rahasia-rahasia Gelap Sahabat


Tutup
Penulis: Ca
Editor: Misni Parjiati
Tebal: 460 halaman
Penerbit: Divapress
Cetakan: Pertama, Desember 2014
ISBN: 978-602-255-773-9
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: ****
"Park Yookwon bergerak bagai bidak catur yang arah gerak dan banyak langkahnya ditetapkan tangan-tangan penguasa. Itulah yang ia namakan kebahagiaan. Berada dalam permainan tanpa cacat. Pernikahan itu tak berarti apa-apa selain uang."
(halaman 17-18)

"Jaeho menganggap bantuan kita mengolok-oloknya di depan Remi. Mungkin... sebenarnya kita memang agak berlebihan memperlakukan kondisi Jaeho. Bagaimana bila ia sesungguhnya tak membutuhkan bantuan?"
(Hyesung, halaman 169)

"Karena jika kau ingin mencapai tujuan di seberang lautan itu, mau tak mau kau harus membangun sebuah perahu. Perahu yang kokoh agar sampai dengan selamat." (Hyesung pada Chunhee, halaman 256)
  
"Maaf, selama ini menipu kalian semua... aku pantas mati. Aku lelah..., aku ingin mengakhiri hidup penuh kebohongan ini."
(Shiyoon, halaman 424, 426)
 
Semenjak dunia novel berlatarkan Korea ataupun yang bertokohkan idola K-Pop telah runtuh, saya agak membatasi diri terhadap kontaminasi novel sejenis. Paradigma yang telanjur terbentuk berkat novel-novel K-Pop yang dulu pernah mendominasi pasar fiksi Indonesia (dan sulit menemukan yang berkualitas di antara mereka) membuat saya berhati-hati dalam membaca novel tentang Korea. Novel ini pun awalnya membersitkan sedikit rasa cemas pada saya, bahwa ceritanya akan klise. Hmm, ternyata tidak juga. Paradigma saya tidak selalu benar.
 
Pertama kali menengok sampulnya yang terkesan feminin, saya kira buku ini akan bertokoh-utamakan perempuan. Hmmph, ternyata dugaan saya dimentahkan. Buku ini bercerita tentang lima laki-laki satu geng, yang terdiri dari Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon. Meski mereka telah bersahabat sejak lima tahun lalu, dan sudah saling membagi cerita dan rahasia sejak itu, tak berarti bahwa tak ada lagi rahasia yang tersisa. Nyatanya, kehamilan Gain, istri Yookwon masih menjadi rahasia, sampai Yookwon mengatakannya pada Hyesung. Ketidakharmonisan rumah tangga Chunhee yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja pun akhirnya terbuka di hadapan Hyesung. Permasalahan pernikahan Jaeho dengan Moonhye yang tidak disetujui oleh keluarga sang istri pun muncul kembali ke permukaan. Belum lagi munculnya orang dari masa lalu yang hendak merebut Moonhye dari Jaeho dan berisiko membahayakan nyawa Remi, putri mereka. Namun, barangkali, rahasia terbesar dan tergelap selama ini berhasil disimpan rapi oleh Shiyoon, sebelum pertemuannya dengan Shin diketahui oleh Hyesung.

"Rahasia-rahasia sahabat yang dititipkan padamu" sangat cocok menjadi tagline novel ini. Sebagai satu-satunya yang belum menikah di dalam gengnya, Hyesung turut terseret permasalahan rumah tangga para sahabatnya karena rahasia yang mereka bocorkan (secara sukarela maupun tidak) padanya. Persahabatan mereka, mungkinkah terus bertahan ketika masalah pribadi mengguncangnya? 

***
Buku ini bagaikan empat novelet yang digabung menjadi satu, dengan narator 'aku' Oh Hyesung. Bab 1 didedikasikan untuk Yookwon, bab 2 untuk Jaeho, bab 3 untuk Chunhee, dan bab 4 untuk Shiyoon. Sementara itu, kisah Hyesung memiliki porsi tersendiri yang menggentayangi cerita dari awal hingga akhir. Di bagian awal, penulis langsung menantang pembaca dengan konflik pertemuan Hyesung dengan seorang gadis mencurigakan bernama Nam Sooni, dalam suasana yang tidak menyenangkan pula. Di bagian ini, saya curiga jika nantinya gadis ini malah akan menjadi kekasih Hyesung. Hmm, ternyata benar, tapi proses menuju ke sana dan kejadian-kejadian setelahnya masih tak terduga. 
 
Untuk mengeksplorasi cara berpikir dan bersikap tiap tokoh utama dalam tiap bab, penulis menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga serba-tahu. Di bagian-bagian tertentu, sudut pandang orang pertama Oh Hyesung digunakan. Perpindahan sudut pandang ini berjalan mulus, sama sekali tidak membingungkan. Malah, yang membuat saya bingung adalah informasi setting waktu yang tidak memadai. Saya sering bertanya-tanya, kejadian ini terjadi kapan, ya? Pagi setelah kejadian sebelumnya, atau siang? Parahnya, saya juga bingung, kejadian sebelumnya itu terjadinya kapan (-__-).

Lain halnya dengan setting tempat. Meski tidak terlalu detail, suasana Korea Selatan terasa sangat kental. Kalau menyertakan tempat, pun, misalnya rumah sakit atau hotel atau restoran, penulis tidak menyertakan deskripsi tempat secara berlebihan. Hanya hotel. Hanya rumah sakit. Suasana yang terasa sangat "Korea" itu saya rasa berhasil dibangun oleh dialog, deskripsi, dan perilaku tokoh. Seperti formalitas lintas-umur yang sangat dijunjung tinggi di sana. Juga lewat tokoh-tokoh klise seperti dalam serial drama Korea, misalnya tokoh Chunji (adik Chunhee) yang mewarisi perusahaan ayahnya. Masalah kehidupan materalistis, isu homoseksualitas, dan tren laki-laki Korea menjalin hubungan dengan noona (perempuan yang lebih tua) turut membangun nuansa Korea.

Sayangnya, banyak saya jumpai typo dan kalimat membingungkan nan kurang efektif.
  1. Bekal pengalaman di klub atletik semasa SMU yang dibanggakannya, memberi kemudahan dalam menggerakkan tubuh jangkung yang bagi sebagian orang adalah minus kelincahan. (halaman 14).
    Mungkin lebih jelas jika "tubuh jangkung yang bagi sebagian orang dianggap minus kelincahan".
  2. Yookwon menjatuhkan duduk di lantai lift.... (halaman 15) Lebih baik jika "menjatuhkan" dihilangkan saja.
  3. Setidaknya masih ada tiga perempat bulan lagi sampai mereka cukup besar untuk mewujudkan keinginan tersebut. (halaman 53) Kalimat ini kurang jelas, "tiga perempat bulan" sampai apa? Siapa yang cukup besar? Anak pertama Yookwon bahkan baru berumur beberapa minggu dalam kandungan.
  4. Kalimat racauan Hyesung saat memakan daging rebus yang amat panas di halaman 184 itu sama sekali tidak perlu ditulis, karena pembaca tidak mengerti apa maksudnya? Pun setelahnya, dialog Sooni-Hyesung tak ada kaitannya dengan racauan itu.

Ada juga bagian yang cacat logika. Di halaman 131, ketika Jaeho datang ke kantor Hyesung untuk meminta bantuannya, untuk menjaga Remi sementara sang ayah mencari kerja, ada satu hal aneh. Sejak awal kedatangan Jaeho, tak disebutkan keberadaan Remi. Ketika Jaeho berlutut memohon pada Hyesung pun, anak itu belum disebut (saya bingung, ditaruh mana tuh anak? Digendong ayahnya, atau didudukkan di kursi?). Lalu tiba-tiba "gadis kecil itu tak meronta saat dipindahtangankan pada Hyesung....". Lho, jadi, dari tadi ada Remi?

Mantan pacar Sooni itu Jaehyuk atau Jihyuk? Namanya berubah-ubah sepanjang cerita, mungkin penulisnya ngantuk, hehehe. Pemikiran Hyesung ada yang aneh. Sejak kapan "jalanan bisa jadi sangat licin dan embun yang timbul di kaca mobilku agak mengganggu pandangan" (halaman 304) menjadi alasan untuk membeli mobil baru? Saya juga kurang beruntung, mendapatkan novel ini dengan banyak halaman terlewat dan halaman kosong (ada lebih dari 20 halaman), sehingga saya kelewatan bagian masa lalu Moonhye dengan Sungyeol (duh, jadi teringat anggota boyband Infinite). Ada juga beberapa kata asing yang tidak dilengkapi keterangan. Untungnya, saya cukup mengerti bahasa Korea berkat kefasihan dalam dunia K-Drama dan K-Pop, hehehe.

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang puas.
  1. Bagian akhir bab empat, tentang Shiyoon. Bagian "ayahnya juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kyujong padanya" itu sebenarnya apa, sih? Dugaan saya bisa saja meleset, kan. Mungkin penulis sengaja menyamarkannya, atau membuatnya implisit. Tapi, se-implisit apa pun, seharusnya ia cukup jelas, dong. (Sebenernya, sih, aku sebel karena penasaran, yang kupikirin bener nggak, haha).
  2. I need more details! Terutama tentang deskripsi fisik para tokoh (terutama kelima laki-laki itu). Yah, karena, penggambaran fisiknya sangat hambar. Misalnya, Shin hanya digambarkan sebagai laki-laki muda berkulit gelap yang punya aura membius dan memesona. Mungkin akan lebih terasa "nyata" kalau digambarkan bentuk wajahnya, sorot matanya ketika memandang seseorang....
Persahabatan kelima orang ini mengingatkan saya akan boyband Shinhwa (minus satu orang), entah mengapa. (Mungkin karena ada yang namanya Hyesung, hehehe.) Yang jelas, persahabatan mereka sungguh manis, meski tak luput dengan rahasia-rahasia dan berbagai masalah. Yang paling mencengangkan tentu saja bab terakhir. Saya tak menduga, lho, kalau ternyata Shiyoon tidak menyimpan rasa pada Shin, tapi malah.... 

Penulis berhasil menghidupkan sudut pandang "aku" Hyesung sebagai laki-laki. Terkadang, penulis perempuan mengalami kesulitan dalam menciptakan tokoh "aku" laki-laki yang benar-benar terdengar seperti laki-laki. Berbagai cara berpikir Hyesung, seperti kebingungannya menghadapi Sooni ketika gadis itu ngambek di halaman 231, itu cowok banget. Hahaha.

Saya puas dengan ending-nya yg amat manis! (Ternyata persahabatan para cowok bisa semanis ini, ya?) Saya, kok malah ingin Hyesung dengan Shiyoon saja, ya, soalnya mereka berdua manis sekali hihihi (digampar massa).

"Setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain, dengan kekurangan dan kelebihan sama banyaknya."
(halaman 102)

"Sejak mendeklarasikan pertemanan, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi." (Hyesung, halaman 313)

1 February 2015

(Resensi "Hujanlah Lain Hari") Hujan yang Bikin Fobia, Hujan yang Bikin Jatuh Cinta

Judul Buku                     : Hujanlah Lain Hari
Penulis                           : Lindaisy
Editor                             : Diara Oso
Tebal                              : 356 halaman
Penerbit/cetakan           : Divapress/Cetakan I, November 2014
ISBN                              : 978-602-296-050-8
Harga                            : Rp 44.000,00
Rating                           :




Dalam bahasa Korea, geum janhwa berarti bunga marigold. Dalam novel ini, Geum Janhwa adalah seorang gadis muda yang harus berjuang menghidupi dirinya sendiri dan juga adiknya, yang sudah setahun dirawat di rumah sakit. Sejak kematian kedua orangtuanya, ia menjadi gadis yang serius—terlalu serius—menjalani tiap aktivitasnya. Mengelola kedai ramyun peninggalan ayahnya. Kuliah di jurusan Kimia di Universitas Pohang, yang berjarak sekitar 3 jam dari rumahnya. Merawat adiknya di rumah sakit. Dan tentunya, masalah finansial membuatnya pusing. Kau tahu, biaya rumah sakit sangat mahal, dan belum tentu adiknya bisa sembuh…. Apakah adiknya akan sembuh?

Hampir saja, Janhwa menjual kedainya, tapi ia urungkan niatnya. Dan ternyata keputusannya itu berbuah pencurian sebuah dokumen penting miliknya, dan Jangwoo menjadi tertuduh.

Jangwoo juga kehilangan kedua orangtuanya saat ia masih remaja, dan kematian mereka ada hubungannya dengan orangtua Sunho, si bocah gemuk, kaya, dan sombong. Suatu kejadian mempertemukan Jangwoo dengan Kakek Bae, yang kemudian merawatnya seperti cucu sendiri. Untuk menghidupi dirinya, Jangwoo dewasa bekerja sebagai penyanyi kafe, berbekal gitar legendaris miliknya. Tampaknya ia tak akan merelakan gitarnya demi apapun, begitu juga dengan rambut gondrong kebanggaannya. Sepertinya ia juga tak akan memotongnya demi apapun. Namun, sebuah kedai ramyun mengubah hidupnya. Bryan, sang koki kedai itu, akan mengundurkan diri, dan bosnya menyuruhnya mencari pengganti dalam waktu satu minggu. Bryan, yang beberapa kali melayani Jangwoo  yang makan di kedai itu, menaruh minat padanya. Ia meminta Jangwoo menggantikannya, tapi ternyata si pemilik memintanya memotong rambut sebagai syarat. Apakah Jangwoo menyanggupinya? Apakah ia akan melepaskan pekerjaannya sebagai penyanyi hanya untuk bekerja di kedai ramyun? Yah, meskipun si pemilik adalah gadis yang cukup menarik dan misterius…

Janhwa si melankolis dan Jangwoo si sanguinis, tanpa saling tahu, di masa yang lalu menjadikan satu sama lain alasan untuk berubah. Tapi, saat beranjak dewasa, Janhwa menemukan seseorang yang ia sukai, Woohyun. Ketika akhirnya mereka dipertemukan, siapa yang akan Janhwa pilih?

***

Mungkin ini terdengar lebay, tapi saya merasa cemas ketika diharuskan membaca novel ke-”Korea-korea”-an macam begini. Saya khawatir harus menghadapi kisah romansa yang membosankan (saya pernah membeli sebuah novel macam begitu dan kecewa setelah membacanya). Ya, memang kisah romansa menyesaki novel Hujanlah Lain Hari, tapi saya tidak kecewa, karena ada pesan mendalam yang berusaha disampaikan penulis melalui kisah romansa itu.

Ada yang pernah menonton serial melodrama Korea berjudul I Miss You, yang dibintangi Yoochun JYJ dan Yoon Eunhye? Bagian awal novel ini sedikit mengingatkan saya akan episode-episode awal serial tersebut. Tentang hujan dan payung, juga teman masa kecil yang akhirnya bertemu kembali. Di serial itu, Jung-woo (Yoo-chun) menyimpan payung kuning milik Soo-yeon (Yoon Eun-hye). Kalau di novel ini, Jangwoo meminjam payung Janhwa yang bertuliskan inisial GJH. Inisial ini pula yang nantinya mengingatkannya akan seorang gadis menyebalkan di masa lalu.

Jangwoo mengidap ombrophobia, suatu fobia unik di mana penderitanya takut akan hujan. Tiap turun hujan, meski tidak kehujanan, Jangwoo selalu merasa pusing. Ini disebabkan kenangan tentang peristiwa pembunuhan orangtuanya yang terjadi saat hujan. Melalui tokoh Jangwoo, penulis hendak menyampaikan pesan punya segalanya bukan jaminan kebahagiaan”. Meski hidup miskin, keluarga Jangwoo selalu mengutamakan kejujuran dan harga diri. Inilah yang membuat Jangwoo membenci orang kaya yang sombong. Mungkin juga, penulis ingin menyindir kelakuan para orang kaya yang sebenarnya koruptor, yang diwakili oleh keluarga Sunho.

Penulis juga menunjukkan bahwa metamorfosis kepribadian seseorang dapat terjadi karena sesuatu terjadi hingga ia tak bisa bertahan hidup jika tidak berubah. Mungkin juga karena seseorang. Inilah yang terjadi pada Janhwa.


Plot yang dibangun sebenarnya cukup rapi, diceritakan mulai dari Jangwoo dan Janhwa saat masih kecil, hingga mereka dewasa dan bertemu di kedai ramyun. Sayangnya, penulis mengeksekusi adegan kilas balik secara mendadak, hingga merusak tatanan plot. Tiba-tiba diceritakan Jangwoo sedang di bandara, lalu mendengar pembicaraan Janhwa dengan Woohyun. Saya tidak mengantisipasi sehingga bingung. Ini kok tiba-tiba Jangwoo di bandara? Lain halnya jika penulis menambahkan keterangan “Jangwoo remaja”, misalnya, atau keterangan waktu. Untungnya, di adegan kilas balik selanjutnya, penulis cukup berbaik hati menyediakan keterangan semacam itu.

Gaya bahasa yang digunakan penulis ringan, dan tidak menggunakan bahasa Korea berlebihan dalam percakapan. Penulis hanya menggunakan bahasa Korea untuk istilah-istilah yang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Seperti dialek “ya!” (hei!) atau penyebutan “oppa” (cara perempuan memanggil kakak laki-laki). Sayangnya, penulis tidak pernah memberikan catatan kaki untuk menjelaskan arti istilah asing yang ia gunakan. Jika pembacanya familiar dengan dunia per-Korea-an, maka itu tak masalah.  Selain itu juga ada beberapa kesalahan penulisan istilah asing dan penggunaan kata yang kurang tepat.[1]

Meski begitu, saya mengapresiasi karena banyak penulis lain tak sanggup menahan kecenderungan untuk pamer kemampuan bahasa yang ia kuasai, sehingga banyak sekali dialog berbahasa asing[2]. Well, tolong diingat, ini novel berbahasa Indonesia, kecuali jika memang ingin menerbitkannya dalam bahasa asing. Hehehe. Perlu diingat juga, biasanya ketika membaca fiksi berlatarkan luar negeri, secara otomatis, pikiran pembaca akan tersetel bahwa dialog-dialog berbahasa Indonesia di dalamnya itu berarti dilakukan dalam bahasa asing.[3]

Sepanjang cerita, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga serba-tahu [4], tapi anehnya, penulis sering ikut campur bicara dalam cerita. Saya tidak tahu, ini memang gaya yang selalu dipakai penulis secara sengaja, atau ia tak sadar menggunakannya. Kebawelan penulis ini cukup mengganggu. Misalnya, ketika penulis tiba-tiba nimbrung bicara pada pembaca saat mendeskripsikan penampilan Kakek Bae (hal. 130).
“Ia sengaja membuat jambulnya berdiri seperti anak punk. Bisa dibayangkan? Kau pasti bingung. Sama!
Nah! Mending sekalian dibikin sudut pandang orang pertama saja, hehehe.

Tindak pencurian dokumen milik Janhwa yang dilakukan oleh Sunho membuat saya bingung. Saya bertanya-tanya, mungkinkah ada kaitannya dengan pria yang sebelumnya hendak membeli kedai+rumah Janhwa, tapi dibatalkan secara sepihak oleh Janhwa itu? Awalnya, saya kira malah yang mencuri itu anak buah si pria, untuk membalaskan rasa malunya akibat transaksi yang dibatalkan Janhwa. Tapi ternyata malah si Sunho. Barang bukti berupa pisau lipat yang katanya dapat memberatkan posisi Jangwoo juga kurang jelas.
Polisi menemukan pisau lipat yang sama dengan yang digunakan pelaku untuk menusuk Janhwa (hal. 230).
Pada waktu kejadian, salah satu dari dua orang pencuri tanpa sengaja menusuk bahu Janhwa dengan pisau lipat. Karena buru-buru, pencuri itu meninggalkan TKP dan juga pisau yang masih tertancap di bahu Janhwa. Kemudian Jangwoo mencabut dan melemparnya. Jadi, pisau lipat itu seharusnya masih berada di TKP. Jika polisi menemukan pisau itu, mungkin mereka akan menuduh Jangwoo karena ada sidik jarinya di gagang pisau. Tapi tidak dituliskan, apakah si penjahat menggunakan sarung tangan atau tidak. Jika tidak, berarti sidik jari penjahat juga ada di gagang pisau. Apakah hanya dengan berbekal tuduhan dari Sunho (bahwa Jangwoo bekerja sama dengannya) dan sidik jari di pisau itu lantas polisi memberatkan posisi Jangwoo? Jangwoo kan punya hak untuk menjelaskan bahwa ia memegang pisau itu karena berusaha mencabutnya…. Entahlah, sejak awal penulis memang memaksudkan ini novel romansa, bukan novel detektif. Saya hanya ingin berbagi kebingungan saya. Hehehe.

Secara keseluruhan, penulis berhasil menyampaikan pesan-pesan moral (yang sudah saya tuliskan sebelumnya) dengan baik. Bisa dibilang, ini salah satu jenis kisah yang cocok untuk pembaca yang ingin hiburan; tidak terlampau ringan, tapi juga tidak berat.



[1] Misalnya, "mendengus aroma" (hal. 98), yang lebih cocok jika diganti dengan "mengendus aroma".
[2] Ini kecenderungan yang tampaknya diderita Dee baru-baru ini, dalam seri Supernova terbaru, Gelombang. Saya capek baca percakapan dengan bahasa yang gonta-ganti.
[3] Misalnya, nih, saya sedang baca Blind Willow, Sleeping Woman-nya Haruki Murakami versi terjemahan bahasa Inggris. Tentu saja, dialognya semua berbahasa Inggris, tapi dalam otak saya ada kesadaran dan pengertian bahwa sesungguhnya dialog itu diucapkan dalam bahasa Jepang.
[4] Karena ia dapat secara magis mengetahui perasaan-perasaan para tokohnya.

bloggerwidgets