Showing posts with label dewasa. Show all posts
Showing posts with label dewasa. Show all posts

11 August 2015

[Resensi] Burung Ajo Kawir yang Berhibernasi, Akankah Bangun Lagi?

Follow my blog with Bloglovin

Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Editor: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 243 halaman
Harga: Rp 58.000,00
ISBN: 978-602-03-0393-2
Rating saya: 3/5

Si Burung Ngambek, Lalu Tertidur Lelap

Ketika masih berumur belasan, bersama Tokek, Ajo Kawir yang sedang mengintip seorang perempuan gila, Rona Merah, di dalam rumahnya, malah mendapat penglihatan mengejutkan. Mereka menjadi saksi atas pemerkosaan yang dilakukan dua orang polisi terhadap si perempuan. Ajo Kawir, yang telat bersembunyi, tertangkap basah oleh si polisi. Sejak saat itu, kemaluannya ngambek, meringkuk, dan tak bangun-bangun sampai bertahun-tahun kemudian. Segala usaha telah dilakukan, tapi si burung tetap terdiam. Suatu kali, Ajo bertemu dengan Iteung, seorang gadis yang mahir bela diri. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ya, menikah, meski keduanya tahu bahwa si burung masih tertidur. Maka, tak heran, Ajo Kawir murka ketika mengetahui bahwa Iteung hamil. Ajo pergi dan memulai hidup baru sebagai sopir sekaligus pemilik truk.

Filosofi Burung dan Ketabuannya


Sejak memandang sampul depannya, insting saya mengatakan bahwa ini novel dewasa. Eh, setelah membaca beberapa halaman saya baru tahu, di sampul belakang ada label 21+. Wow, 21+ ini tidak main-main kedengarannya, ya? Hmm, tenang saja, saya sudah 22 tahun, dan menurut saya label itu terlalu lebay. Orang Indonesia sering terlambat dalam banyak hal dibandingkan orang-orang di negara maju. Di saat ilmuwan Belanda sudah menciptakan turbin angin tanpa baling-baling, dan ada lulusan Royal College of Art London asli Cape Town menemukan lembaran plastik yang mampu memanen energi angin, di bangku kuliah saya baru belajar merancang turbin angin konvensional. Di saat para remaja AS menerima pendidikan seks, para orang tua di Indonesia malah menabukan hal-hal berbau seks pada anak-anak remajanya. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor mengapa remaja seperti Ajo Kawir dan Tokek, digiring rasa penasaran, malah terjerumus dalam penyimpangan sosial. (Sebelum punya hobi baru mengintip Rona Merah, mereka suka mengintip Pak Kepala Desa dan istrinya ketika sedang berhubungan badan.)

Saya mengapresiasi keberanian penulis untuk mengangkat hal-hal yang umumnya ditabukan tersebut ke dalam karyanya (plus penggunaan istilah-istilah vulgar, seperti "kontol" dan "memek"). Dikarenakan anggapan tabu, maka seolah burung selalu salah, padahal ia hanya melakukan tugasnya sebagaimana tujuannya diciptakan oleh Sang Pencipta. Nah, akhirnya, burung pun yang harus menanggung semua ketika Ajo Kawir diam saja melihat tindak kriminal dilakukan di hadapannya oleh penegak hukum. Setelah itu, burung tetap tidur selama Ajo hidup dengan melakukan hal-hal buruk (menghajar orang tak bersalah tiap dia kesal, membunuh si Macan). Ketika berumur tiga puluhan, Ajo telah mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan setelah meniduri perempuan buruk rupa, burungnya bangun lagi. Dalam konteks ini, burung merupakan simbol nurani.

"Si Burung menempuh jalan sunyi. Tidur lelap dalam damai, dan aku belajar darinya. […] Aku berhenti berkelahi untuk apa pun. Aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung." 
(Ajo Kawir, hal. 123)
Burung Ajo Kawir seolah menyindir burung-burung lain yang digunakan dengan tidak semestinya, misalnya untuk memperkosa. Bahwasanya masih ada burung seperti milik Ajo Kawir, yang lebih memilih untuk bertapa setelah menjadi saksi perbuatan asusila.

Bagi Ajo Kawir, kemaluan adalah otak kedua manusia. Ada benarnya, bukan? Kalau sudah terbimbing nafsu, maka gelaplah mata dan logika. Tubuh manusia tahu apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara menuntutnya, tak peduli sesuci apa pun manusianya. Penegak hukum pun tak luput dari nafsu berahi (seperti dinyatakan melalui dua orang polisi yang memerkosa Rona Merah).

"Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun ini." 
(Ajo Kawir, hal. 126)

Rezim Kekerasan

Pernah menonton atau membaca Game of Thrones? Novel ini agak mirip dengannya dalam hal menggambarkan segala keburukan dunia (meski tidak sekejam dalam Game of Thrones). Bayangkan, tiga tokoh perempuan dalam novel ini pernah mengalami hal-hal buruk. Pertama, Rona Merah. Setelah suaminya meninggal dan jadi gila, ia diperkosa. Kedua, Iteung. Saat remaja, ia pernah dijadikan pemuas nafsu berahi sang guru. Namun, tak seperti Rona Merah, Iteung punya kekuatan untuk melawan. Setelah menguasai ilmu bela diri, ia membalas dendam pada sang guru. Ketiga, Nina, gadis yang disukai Mono Ompong. Dalam konteks Nina, ia memang menjerumuskan diri sendiri pada aneka jenis burung.

Kekerasan menjadi menu utama di dalam cerita. Tokoh-tokohnya bertindak seolah segala hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Untuk membalas dendam atas perlakuan tidak senonoh yang dilakukan Si Kumbang terhadap Mono Ompong, Mono Ompong sengaja mencelakakan lelaki itu dan truknya. Bahkan, menjadi jagoan adalah obsesi kedua Mono Ompong (obsesi pertamanya adalah Nina).

Para sopir truk juga senang melihat perkelahian duel yang dijadikan tontonan. Ironisnya, pertunjukan kekerasan itu dilegalkan dan diawasi oleh para tentara.

Teknik yang Unik dan atau Pelik

Ini novel pertama Eka Kurniawan yang saya baca. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana jika saya menghakimi gaya penulisan beliau hanya dari satu novel ini saja. Namun, izinkan saya membagi apa yang saya temukan, tanpa menghakimi.

Novel ini tersusun atas kalimat-kalimat berdiksi sederhana, dan bahkan terkesan kaku. Seolah kalimat yang digunakan seorang guru untuk mengajar pola kalimat SPOK pada murid-murid sekolah dasar. Miskin metafora dan diksi yang nyeni. Saya menduga, penulis memang sengaja menggunakan gaya bahasa seperti ini, mungkin agar tulisannya unik.

Kemudian, awalnya saya agak terganggu akan kecenderungan penulis untuk melenyapkan tanda petik yang menandai ucapan langsung. Namun, lama-lama saya terbiasa dan hal itu tak menjadi masalah lagi. Meski begitu, bagi pembaca lain barangkali hal ini menyusahkan. Contohnya adalah seperti ini:

Ia menemukan Pak Lebe sedang memberi makan ikan-ikan di kolamnya. Selamat sore, Pak, ada yang ingin aku bicarakan. 
(hal. 54)


Ajo Kawir bilang, cepat atau lambat, mereka harus keluar dari rumah itu dan mencari rumah sendiri. Iteung bilang, tak usah buru-buru. Papa dan Mama senang mereka tinggal di sana. Lagipula kita tak punya uang banyak, kata Iteung. 
(hal. 114)
Penulisan alur yang meloncat-loncat, maju-mundur-maju, atau sesuka penulis, di satu sisi mampu membangun suspense tersendiri dan membuat pembaca tidak bosan. Adegan pertarungan duel antara Mono Ompong (kenek truk Ajo Kawir) dan Kumbang (sopir truk lain yang sebenarnya ingin mengajak duel Ajo Kawir, tapi selalu dicuekin) adalah salah satu contohnya. Saat bertarung, pikiran Mono Ompong melanglang ke masa lalu, saat ia masih di kampung halaman dan menaksir seorang gadis, yang ternyata adalah perek. Juga bagaimana ia kehilangan dua gigi depannya, dan berkhayal mengalahkan Kumbang. Suspense lain juga tercipta tanpa alur bolak-balik, saat truk yang disopiri Mono Ompong beradu kecepatan dengan truk si Kumbang.

Di sisi lain, penulisan alur seperti ini cukup membingungkan. Pembaca akan dengan mudah kehilangan jejak jika tak berkonsentrasi atau tidak membiasakan diri.

Akhir kata, pesan yang diusung novel ini melalui alegorinya memperkaya pengalaman membaca saya. Adegan-adegan menegangkan di dalamnya hidup nyaris sempurna, sehingga dapat mengompensasi kebosanan yang mungkin terjadi akibat sudah kenyang akan adegan kekerasan, atau teknik penulisannya yang nyentrik.***

20 July 2015

[Resensi TRILOGI DARAH EMAS #1] Mempelai Naga

Judul: Mempelai Naga (Trilogi Darah Emas #1)
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-5723-6
Harga: Rp 10.000,00 (obral)
Rating saya: 3/5

"Kau tahu kenapa kau dinamai Cen Cu, mutiara? Karena kau adalah luka bagi kerang yang menciptakanmu. Karena kau lahir setelah merenggut nyawa ibumu." 
(Guat Kim, hal. 181)

Jambi, tahun 1987.

Cen Cu, seorang gadis yang tinggal di dusun Kempuh bersama ibu tirinya, Guat Kim, dan adik-adik tirinya, sedang mencari Tibu, induk babinya yang terlepas ke hutan. Terkejutlah dirinya menemukan babi itu dengan seorang laki-laki asing yang tampan. Awalnya Cen Cu tidak percaya ketika laki-laki itu mengaku diri sebagai Naga, sang penguasa alam, roh langit dan bumi. Sebuah pembuktian yang ditunjukkan sang Naga atas kekuasaannya mengendalikan alam, membuat Cen Cu mau tak mau percaya. Sang Naga datang untuk menjemput mempelainya yang telah terpilih, Cen Cu.
“Aku mendampingi mereka melalui seorang perempuan yang lahir dari benihku, yang dilahirkan seorang perempuan terpillih. Dia akan membawa darahku dalam tubuhnya, yang akan diwariskannya pada semua perempuan keturunannya. Jika mereka mati tanpa memiliki anak perempuan, garis darah itu akan terputus. Dan aku akan mencari seorang pengganti. Seorang perempuan yang akan melahirkan anak perempuan untuk mewarisi darahku.” 
(Naga, hal. 41)
Anak perempuan yang akan dilahirkan oleh sang mempelai itulah yang nanti akan merebut kembali mahkota di dalam kerajaan yang dimusnahkan para manusia jahat untuk mendirikan pabrik kayu lapis. “Kerajaan” yang dimaksud itu adalah situs purbakala di Kemingking, yang konon terdapat di bawah bangunan pabrik. Si hartawan pemilik pabrik itu, Hartanto, telah mendengar bahwa Naga akan menghabisi keluarganya. Datuk Itam, dukun komplotannya telah mengetahuinya lewat ramalan menggunakan ampas di cangkir kopinya. Bersama dukun itu, Hartanto melakukan segala cara untuk menemukan si mempelai Naga yang terpilih, sebelum gadis itu mengandung. Naga mengelabui Datuk Itam, sehingga mereka terlambat mengetahui setelah Cen Cu mengandung.

Rigel, seorang wartawati yang berusaha mengungkap kebenaran eksistensi situs purbakala Kemingking, tanpa sadar menjadi bagian dari rantai berbahaya yang menghubungkan Hartanto, Cen Cu, Naga, dan calon putri Naga. Hubungan terlarang dengan Betel, anak Hartanto, yang ternyata adalah saudara tirinya, membuatnya hamil. Datuk Itam memperingatkan Hartanto bahwa kelak anak Rigel itu akan menjadi sekutu Naga. Namun, Hartanto punya rencana sendiri untuk Rigel.

Mengetahui kehamilan anak tirinya, Guat Kim mengusir Cen Cu dan menitipkannya pada Rombeng, seorang pemulung, yang ternyata bukan pemulung biasa. Hartanto dan Datuk Itam berhasil sampai di rumah Rombeng, tepat ketika Cen Cu sedang berusaha melahirkan.

***

Pada suatu sore, di Gramedia Book Fair, di tengah lautan buku, saya menemukan buku trilogi ini, lengkap. (Biasanya kalau di acara obralan, buku seri semacam ini jarang ada yang lengkap.) Dan karena harganya hanya sepuluh ribu rupiah per buku, maka saya memutuskan tak ada salahnya untuk membeli. Saya tertarik akan unsur fantasi, lokalitas Indonesia, dan budaya orang Tionghoa Jambi yang mungkin jarang diangkat jadi ide cerita novel. Ini adalah kali pertama saya membaca karya Meiliana K. Tansri, dan ya, yang menjadi cirinya adalah penggunaan bahasa yang amat baku. Namun, di tangan penulis, gaya bahasa baku tersebut ringan dibaca, mudah diikuti, dan tidak membosankan.


Hitam dan putih dalam satu elemen


Penulis mengombinasikan sifat-sifat yang bertolak belakang dalam tokoh-tokohnya. Memang tak seharusnya para tokoh digambarkan melulu hitam saja atau benar-benar putih tanpa cela. Di dunia nyata, semua manusia pasti memiliki sisi gelap dan terang dalam dirinya, bukan?

Contohnya, tokoh Guat Kim. Di bagian awal, yang terlihat dari karakternya adalah sosok ibu tiri yang galak, suka membentak dan mengomeli Cen Cu. Di bagian tengah, bermula dari saat Cen Cu menghilang selama semalaman di hutan, Guat Kim mulai menunjukkan sifat lembutnya. Setelah ia marah-marah ketika mengetahui kehamilan Cen Cu, sebenarnya Guat Kim mengkhawatirkan keadaan anak tirinya itu.

Sementara itu,  karakter Cen Cu juga menunjukkan indikasi serupa. Gadis ini menancapkan sosok gadis penyabar, rajin, dan sederhana tapi cerdas dalam persepsi pembaca. Tapi, ada suatu adegan yang merekam keganasan Cen Cu saat murkanya tak tertahankan terhadap A Lung, adik tirinya yang paling besar. Lalu, sepertinya “cerdas” juga tak terlalu menggambarkannya, karena kebaikan hati membuatnya membahayakan diri sendiri. Naga sudah memberitahunya akan bahaya menggunakan sisik emas untuk membeli obat, tapi dia tetap melakukannya.

Lain lagi dengan Rigel. Di satu sisi, ia adalah wartawati yang cerdas dan pantang menyerah. Namun, di sisi lain, ia kecanduan alkohol. Saking pantang menyerahnya mencari berita, ia tak segan tidur bersama dengan narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Sementara itu, Hartanto konstan sebagai antagonis yang kejam dan menghalalkan segara cara untuk mempertahankan kekayaan duniawinya. Di samping itu, ia juga gegabah dan beberapa kali mengabaikan nasihat Datuk Itam. Sebagai komplotan Hartanto, Datuk Itam mau tak mau terposisikan sebagai antagonis juga. Namun, lain dengan Hartanto, dukun ini lebih cerdik dan bisa dibilang bagian "otak" dari komplotan itu, sedangkan Hartanto adalah bagian "otot".

Awalnya oke, tapi kok lama-lama...



Adegan yang menjadi pembuka novel, ketika Cen Cu mencari Tibu di hutan, cukup menimbulkan keingintahuan dan keinginan untuk terus membaca. Alurnya bertempo pas, tidak lambat dan juga tidak cepat, tapi pas untuk menceritakan hal-hal yang perlu diceritakan tanpa berpanjang-lebar dan berbelit-belit. Konflik utamanya hanya satu, yaitu Naga cs versus Hartanto cs, tapi meluber hingga ke konflik-konflik kecil yang menyertainya.

Sayangnya, menginjak bab 8, atau sekitar 2/5 tebal buku, saya mulai meragukan logika cerita. (Cerita fantasi sekhayal apa pun tetap harus logis.)

Pertama. Keraguan saya ini bermula ketika Guat Kim sakit dan Cen Cu meminta pertolongan Naga karena ia tak punya uang untuk membeli obat yang mahal. Dalam novel ini, Naga adalah roh langit dan bumi, penguasa alam yang seharusnya amat sakti. Alih-alih langsung menyembuhkan Guat Kim dengan kekuatannya, ia malah repot-repot memberikan tiga sisik naga emas pada Cen Cu untuk membeli obat. Nah, anehnya lagi, setelah itu si pemilik toko obat itu langsung melaporkan tentang sisik naga itu pada Hartanto. Padahal sebelumnya tidak ada keterangan kalau mereka saling kenal, atau keterangan bahwa Hartanto memberitahunya bahwa ia sedang mencari mempelai Naga.

Kedua.  Tentang kelemahan Naga yang dimanfaatkan Datuk Itam untuk membunuh tubuh manusianya.
"Naga hanya bisa mewariskan darahnya selama tubuh manusianya masih ada. Kalau tubuh manusia itu mati, dia akan kehilangan penghubung dengan raga seluruh manusia di bumi. Tidak akan ada lagi darah emas.  Campur tangan Naga dalam kehidupan manusia akan berakhir." 
(Datuk Itam, hal. 118)
Padahal, sebelumnya Datuk Itam menjelaskan pada Hartanto seperti ini, "Naga bisa mengambil bentuk rupa apa pun, termasuk manusia." (hal. 83). Jika Naga terjebak jerat sakti yang dibikin Datuk Itam hingga tubuh manusianya mati, seharusnya Naga bisa berpindah ke rupa lain, bukan? Jadi mengapa Naga sebegitu lemahnya?

Setelah terjerat, Naga meminta tolong Cen Cu untuk melepaskan jerat itu. Caranya adalah melumurinya dengan remasan daun delima merah. Kebetulan, tiap ke hutan Cen Cu membawa daun itu sebagai "penangkal supaya tidak diganggu setan" (Guat Kim, hal. 129). 
"Cen Cu mengeluarkan ranting delima merah dari sakunya, lalu meremas daun-daunnya sampai hancur. Dari seluruh daun di ranting itu dia hanya mendapatkan pulungan seujung jari." (hal. 126)
Anehnya, "seujung jari" itu bisa digunakan untuk melumuri seluruh tali jerat, yang bisa dibilang panjang, karena ia "membelit hampir seluruh tubuh Naga" (hal. 125).

Saya juga sempat bingung karena tiba-tiba disebutkan bahwa Betel meninggal. Kenapa meninggal? Hmm, ternyata di bab selanjutnya baru disebutkan lagi alasan Betel meninggal, hanya secara sekilas.

Bersambung ke buku kedua...


Terlepas dari semua hal yang kurang logis menurut saya, buku ini tetap memberikan kesenangan tersendiri saat membacanya. Terlebih karena gaya penuturan penulis yang sederhana dan enak diikuti. Unsur-unsur budaya orang Tionghoa dari kampung Kumpeh pun tergambarkan dengan apik. Latar tempatnya, kandang babinya, hutannya, kebun sawinya, meski dideskripsikan seperlunya, mampu menyeret imajinasi saya untuk seolah melihat langung kehidupan sehari-hari Cen Cu yang sederhana dan penuh kerja keras.

Saya berharap buku kedua lebih memuaskan ^^. Oh iya, pihak penerbit melabeli novel ini "dewasa", mungkin karena keliaran Rigel, yang hanya digambarkan sekilas-sekilas sebenarnya. Bandingkan dengan Marry Now, Sorry Later-nya Christian Simamora, yang benar-benar pantas dilabeli dewasa (",).

Bocoran: buku kedua bertokoh-utamakan Leng Cu, putri Cen Cu dari sang Naga.
Sila baca di tautan ini. ^^

29 June 2015

[Resensi MARRY NOW, SORRY LATER] Perlukah Jatuh Cinta Dulu untuk Bahagia?

Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis : Christian Simamora
Editor: Alit Palupi
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, 2015
Tebal: x + 438 halaman
ISBN: 978-602-70362-2-2
Harga: Rp 77.700 (Non-tanda-tangan)
Rating saya : 4/5




First, this is the first Chrismor's books I've ever read, and I've already planned to read more of his books. Hahaha.
Second, I got this book from winning a blog tour giveaway, and I'm very glad of it.

Third, this book got me being very delusional of its romance!



Premis novel ini adalah Jao Lee is the Beast and Reina is the Beauty, yang menikah bukan karena cinta. Ya, Bang Chrismor mengambil cerita Beauty and The Beast untuk direkacipta. Tapi, nggak seperti Beast yang buruk rupa, Jao adalah seorang monster dengan fisik sempurna! Monster-nya dia adalah sikap dingin, arogan, bossy, dan menyebalkan, hingga membuat Reina langsung ilfil dan perlahan berubah jadi takut. Thanks to her mom, Jao tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tidak percaya cinta. Kepergian mamanya dari rumah, demi mengejar cinta barunya, membuat hati Jao jadi keras dan dingin.
"Love isn’t a sure thing—never was and never will. Dan ketika cinta sudah nggak ada lagi di hati, buat apa juga dipertahankan?"
(Jao’s Mom, hal. 96)
Reina, putri tunggal pemilik Hardiansyah Electronics, harus menanggung warisan utang yang besar, yang dipinjam perusahaan itu dari Shylock Indonesia yang dipimpin Jao. Untuk membayar itu, Reina menemui Jao dan memohon kelonggaran, yang ditanggapi dengan sangat dingin dan tak berperasaan. 

"Reina, this is business. Perasaan sentimentil nggak terlibat di dalamnya." 
(Jao, hal. 84-5)


Akhirnya, Reina bersedia untuk "tidur" bersama Jao (padahal tawaran yang diajukan Jao waktu itu hanya bercanda) agar Jao bersedia mengundur tenggat waktu pembayaran utang. Namun, kelar tidur bersama, Jao menawarkan penawaran lain, yang akan menghapus seluruh utang itu, bahkan ia bersedia membantu membenahi perusahaan yang tengah terpuruk itu. Apa syaratnya? 
"Jadi istri gue." 
(Jao, hal. 127)
Awalnya, jelas Reina menolak. Bagaimana bisa menjadi istri dari orang yang amat dibencinya?
"Lo sadar nggak arrangement kita ini seperti apa? Siti Nurbaya—dengan gue sebagai Siti dan lo, obviously, adalah Datuk Meringgih-nya!"
(Reina, hal. 44)
Tapi, setelah mengalami sendiri bagaimana dijauhi dan di-bully oleh teman-teman dekatnya dulu (Alluna, Diadora, Haci, Tommy) karena ia sudah jatuh miskin, Reina menyadari bahwa ia tak siap hidup miskin. Bayangan menjadi miskin sangat mengerikan: tak diundang lagi dalam Pamela Ang's fashion show, tak bisa lagi membeli barang-barang ber-merk favoritnya kecuali ada diskon besar-besaran, dll semacam itu. Akhirnya, Reina menyetujui tawaran itu. (Yeah, this book's kinda full of characters from high class society and don't get bothered if there is hedonism there and there.)
Kemudian, Reina menghilang di hari resepsi pernikahannya. Selama enam bulan berikutnya ia hidup bersembunyi di Bali, menjadi volunteer di sebuah panti asuhan bernama Lotus. Bagian pembuka novel menyajikan bagaimana akhirnya Jao berhasil menemukannya dan membawanya 'pulang'.


Bu Gayatri: Jaga Reina baik-baik, ya.
Jao: She is my wife. It’s my duty to keep her safe by my side. 
(hal. 26)
Kesepakatan yang mereka buat memaksa Reina menjalani peran sebagai Mrs. Lee sampai enam bulan ke depan. Pertengkaran-pertengkaran mewarnai hari-hari mereka. Tibalah saat Reina menyesali keputusannya itu, mengapa ia bermain-main dg kesepakatan demi kesepakatan itu?

Sementara itu, Jao yang tidak pernah tidak mendapat apa yang ia inginkan, telah bertekad akan membuat Reina menjadi miliknya. Ia berusaha melakukan banyak cara untuk menaklukkan kekeraskepalaan Reina beserta segenap aturannya itu (no sex, physical interactions, etc.). Menuruti saran Michael--yg awalnya ia anggap terlalu cheesy--Jao akhirnya menerapkan mantra boyfriend experience:
Treat her like a person, then like a princess, then like a greek goddess, then a person again.
Cewek-cewek itu mencari connection, Jao. Mereka butuh dicintai dan dinomorsatukan oleh pasangannya. 
(Michael, hal. 189) 
Akankah berhasil?

***
"Hey, we’re husband and wife. We’re automatically a team." 
(Jao, hal. 336)
Ini adalah novel kedelapan dari seri #JBoyfriend. Tapi, seperti sudah saya singgung tadi, ini adalah yang pertama saya baca, sehingga saya belum tahu seperti apa gaya menulis Bang Chrismor sebelumnya. Ada beberapa orang di Goodreads yang bilang bahwa benang merah cerita yang nyaris sama di kedelapan seri ini bikin mereka bosan. Tapi, yah, karena memori baca saya masih steril dari para #JBoyfriends, maka buku ini bagus-bagus aja buat saya. Mungkin juga karena dibandingkan seri-seri #JBoyfriend sebelumnya, buku ini yang paling ramah, dalam artian nggak banyak dialog dan istilah kebarat-baratan dan/ atau aneh yang suka dijungkir-balikkan oleh penulis.



Cerita romansa yang berawal dari hate relationship berubah jadi love one rasanya tak akan pernah habis dibikin, ya! Dan ajaibnya, di tangan Bang Chrismor, cerita yang klise itu jadi mendebarkan (terlebih untuk adegan-adegan seksinya yang eksplisit, huh-hah!) dan bikin gila (terlebih karena keasyikan ngebayangin sosok Jao)! Penuturannya yang ringan merengkuh pembaca untuk masuk ke alurnya dengan sukarela dan cukup mudah, bahkan sampai nagih. Jarang, lho, ada buku yang bisa bikin saya terikat dengan ceritanya, jika meletakkan buku itu pasti ada sesuatu yg terasa kurang. Kemudian, untuk novel pertama bertema pernikahan yang ditulis oleh Bang Chrismor, hawa kehidupan pernikahannya terasa hidup dan penuh drama, tentu saja.

Nggak ada bagian yang bikin saya bosan. All about this book is alright. Meski kadang saya nyinyir membaca gaya hidup kelas atas para tokohnya. Para tokoh dalam buku ini, dilihat dari namanya saja sudah terasa bahwa mereka bagian dari high-class society. Nama belakang mereka beraura keluarga besar yang kekayaannya nggak habis sampai tujuh turunan, kayak Diega Gabaldi, mungkin, dan Jao Lee tentunya. Hahaha. Kembali lagi, yang bikin saya nyinyir adalah betapa hedonisnya mereka itu (melirik kehidupan sendiri yang sederhana sebagai anak kosan wkwk)!

"Ironis, di belahan bumi ini, ada orang yang kelebihan uang hingga merasa tak apa-apa kalau menyia-nyiakannya. Sedangkan di belahan bumi lain, ada orang yang uring-uringan dengan utang warisan." 
(hal. 101)


Dan, yah, sebagai anak kosan yang sederhana (lagi, penting banget ditegasin terus), saya nggak mengerti berbagai istilah fashion, berbagai merk, dan lain-lain yang berbau mahal atau istilah tertentu karangan Bang Chrismor (atau nggak? seperti puh-leez). Crème de la crème, gaun berpotongan empire, two-pieced tweed-nya Chanel, flats Tory Burch, nail art decoden, merk Monika Csutak, kerah halter, drapery, et cetera et cetera. Maafkan saya yang agak malas mencarinya di internet, huahaha.


Nggak seperti sinetron yang biasa tayang di TV nasional, tokoh-tokoh dalam novel ini benar-benar abu-abu! Si monster sering jahat, tapi nggak jarang ia menunjukkan sisi baiknya, sisi romantisnya yang bikin saya ngiler. Perubahan sikap Jao dari yang awalnya dingin dan tak mau kalah menjadi lebih perhatian dan bersedia mengalah (thanks to Michael's advices!) terlihat secara perlahan dan manis sekali. Salah satu favorit saya adalah trik Jao yang mengajukan syarat atas suatu keinginan Reina, yaitu cewek itu wajib memberitahunya sepuluh hal personal tentang dirinya ke Jao. Dari situlah, Jao kemudian memiliki catatan khusus berjudul "Fun Facts About My Wife" (hal. 284-6), yang menurut saya sangat manis >,<. Kemudian, dalam belajar menjadi pacar yang baik, Jao sering membaca artikel-artikel di internet. Open Letter to Our Future Boyfriends (192-3) adalah salah satunya, yang saya rasa cocok banget jadi tips untuk para cowok yang membaca buku ini (kayaknya dikit, deh, cowok yang baca buku romance so sweet begini). Salah satu quote dari artikel itu yang saya sukai adalah:
“Don’t be an asshole. Just because you have one, it doesn’t mean it’s okay to act like it.”

Muahahaha!!
Dan, yang paling sweet yet heart-breaking adalah bagian di hari-hari terakhir jatah enam bulan hidup bersama mereka, Jao selalu mengatakan "I love you" pada Reina.
“Gue mengatakannya supaya lo selalu tahu isi hati gue sebenarnya.” 
(Jao, hal. 398)
Kemudian, si Reina yang keras kepala, dan kadang sangat menyebalkan, tapi juga sangat nggak tegaan dan baik hati. Bahkan, si Alluna, Reina's ex-bestfriend, yang awalnya jadi antagonis menjelang akhir malah termaafkan dengan mudah, karena kemurah-hatian Reina. Namun, saya agak gemas sama tokoh ini, deh. Ia suka dan ngotot menyangkal perasaannya sendiri terhadap Jao demi gengsinya. Untungnya, ada dua sahabatnya, Char si gay dan Sari si pemilik nail art salon, yang selalu bersedia menyadarkan dan membantunya. Persahabatan mereka bertiga sangat tulus dan menyenangkan dibaca. Terlebih bagian Char yang menyadarkan Reina dengan kata-kata pedas yang tak bisa disangkal kebenarannya.
Lebih baik pisah dengan Jao sekarang-sekarang ini ketimbang lo menyakiti dia seperti pas Boston ninggalin gue dulu. Karena Jao berhak mendapatkan yang lebih baik. Seseorang yang yakin betul dengan perasaannya, bukan yang terus-terusan meragu dan mempertanyakan isi hatinya kayak yang lo lakukan saat ini. […] Dan bukannya menunjukkan kesalahan secara terang-terangan adalah salah satu tugas sahabat? 
(Char, hal. 384)
"Kasih tau ke gue, apa yang bikin lo ngerasa segitu sombongnya sampai nggak mau mengakui kalau lo sebenarnya jatuh cinta sama Jao? Jawab, Rei!" 
(Char, hal. 423) 
Dari kejadian yang menimpa Reina itu juga, Char berani membuka hatinya kembali untuk cinta baru.

Alurnya yang kadang flashback sama sekali nggak bikin bingung (perbedaan jenis font sangat berpengaruh). Bahkan, ada flashback di dalam flashbackIlustrasi-ilustrasi pengawal babnya juga bagus, dan judul babnya sangat menggambarkan isi bab itu, dan hmm, makjleb deh.


Selain itu, 'word of the day' yang jadi mengawali tiap bab itu, memang kata-katanya bikinan Bang Chrismor sendiri, atau...? (Contohnya yang di foto itu, 'cavoli riscaldati'.) Sangat menarik, menurutku, seorang penulis yang dengan kreatifnya membuat kata-kata baru. Oh iya, ada juga bonus paperdoll.


Istilah yang sering dipakai penulis, dan sepertinya bikinannya sendiri adalah "munafuck". Hahaha. Bahkan penulis juga memlesetkan judul sinetron jadi Ganteng-ganteng Simamora (hal. 60). Lalu, sinetron Michael dan Anita judulnya "Siang Jadi Kenangan, Malam Jadi Impian" (hal. 189) Mwahahaha. Bisa aja, deh, si Abang! Lucunya, si penulis juga sempat menyelipkan hal tradisional "begu ganjang" (makhluk mistis dalam budaya Batak (hal. 60)).

Salah satu kutipan yang sebenarnya miris, tapi malah bikin saya ketawa adalah ini.


"Aku tidur di kamarku, kamu tidur di kamarmu. Salah satu dari kita jelas ada yang salah tempat malam ini." 
(hal. 228) 


Well, I give this book 4 stars, for making me delusional and emotional all this time! :D




11 April 2015

[Resensi MARRIED, SINGLE, AND IN BETWEEN] Rahasia-rahasia Gelap Sahabat


Tutup
Penulis: Ca
Editor: Misni Parjiati
Tebal: 460 halaman
Penerbit: Divapress
Cetakan: Pertama, Desember 2014
ISBN: 978-602-255-773-9
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: ****
"Park Yookwon bergerak bagai bidak catur yang arah gerak dan banyak langkahnya ditetapkan tangan-tangan penguasa. Itulah yang ia namakan kebahagiaan. Berada dalam permainan tanpa cacat. Pernikahan itu tak berarti apa-apa selain uang."
(halaman 17-18)

"Jaeho menganggap bantuan kita mengolok-oloknya di depan Remi. Mungkin... sebenarnya kita memang agak berlebihan memperlakukan kondisi Jaeho. Bagaimana bila ia sesungguhnya tak membutuhkan bantuan?"
(Hyesung, halaman 169)

"Karena jika kau ingin mencapai tujuan di seberang lautan itu, mau tak mau kau harus membangun sebuah perahu. Perahu yang kokoh agar sampai dengan selamat." (Hyesung pada Chunhee, halaman 256)
  
"Maaf, selama ini menipu kalian semua... aku pantas mati. Aku lelah..., aku ingin mengakhiri hidup penuh kebohongan ini."
(Shiyoon, halaman 424, 426)
 
Semenjak dunia novel berlatarkan Korea ataupun yang bertokohkan idola K-Pop telah runtuh, saya agak membatasi diri terhadap kontaminasi novel sejenis. Paradigma yang telanjur terbentuk berkat novel-novel K-Pop yang dulu pernah mendominasi pasar fiksi Indonesia (dan sulit menemukan yang berkualitas di antara mereka) membuat saya berhati-hati dalam membaca novel tentang Korea. Novel ini pun awalnya membersitkan sedikit rasa cemas pada saya, bahwa ceritanya akan klise. Hmm, ternyata tidak juga. Paradigma saya tidak selalu benar.
 
Pertama kali menengok sampulnya yang terkesan feminin, saya kira buku ini akan bertokoh-utamakan perempuan. Hmmph, ternyata dugaan saya dimentahkan. Buku ini bercerita tentang lima laki-laki satu geng, yang terdiri dari Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon. Meski mereka telah bersahabat sejak lima tahun lalu, dan sudah saling membagi cerita dan rahasia sejak itu, tak berarti bahwa tak ada lagi rahasia yang tersisa. Nyatanya, kehamilan Gain, istri Yookwon masih menjadi rahasia, sampai Yookwon mengatakannya pada Hyesung. Ketidakharmonisan rumah tangga Chunhee yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja pun akhirnya terbuka di hadapan Hyesung. Permasalahan pernikahan Jaeho dengan Moonhye yang tidak disetujui oleh keluarga sang istri pun muncul kembali ke permukaan. Belum lagi munculnya orang dari masa lalu yang hendak merebut Moonhye dari Jaeho dan berisiko membahayakan nyawa Remi, putri mereka. Namun, barangkali, rahasia terbesar dan tergelap selama ini berhasil disimpan rapi oleh Shiyoon, sebelum pertemuannya dengan Shin diketahui oleh Hyesung.

"Rahasia-rahasia sahabat yang dititipkan padamu" sangat cocok menjadi tagline novel ini. Sebagai satu-satunya yang belum menikah di dalam gengnya, Hyesung turut terseret permasalahan rumah tangga para sahabatnya karena rahasia yang mereka bocorkan (secara sukarela maupun tidak) padanya. Persahabatan mereka, mungkinkah terus bertahan ketika masalah pribadi mengguncangnya? 

***
Buku ini bagaikan empat novelet yang digabung menjadi satu, dengan narator 'aku' Oh Hyesung. Bab 1 didedikasikan untuk Yookwon, bab 2 untuk Jaeho, bab 3 untuk Chunhee, dan bab 4 untuk Shiyoon. Sementara itu, kisah Hyesung memiliki porsi tersendiri yang menggentayangi cerita dari awal hingga akhir. Di bagian awal, penulis langsung menantang pembaca dengan konflik pertemuan Hyesung dengan seorang gadis mencurigakan bernama Nam Sooni, dalam suasana yang tidak menyenangkan pula. Di bagian ini, saya curiga jika nantinya gadis ini malah akan menjadi kekasih Hyesung. Hmm, ternyata benar, tapi proses menuju ke sana dan kejadian-kejadian setelahnya masih tak terduga. 
 
Untuk mengeksplorasi cara berpikir dan bersikap tiap tokoh utama dalam tiap bab, penulis menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga serba-tahu. Di bagian-bagian tertentu, sudut pandang orang pertama Oh Hyesung digunakan. Perpindahan sudut pandang ini berjalan mulus, sama sekali tidak membingungkan. Malah, yang membuat saya bingung adalah informasi setting waktu yang tidak memadai. Saya sering bertanya-tanya, kejadian ini terjadi kapan, ya? Pagi setelah kejadian sebelumnya, atau siang? Parahnya, saya juga bingung, kejadian sebelumnya itu terjadinya kapan (-__-).

Lain halnya dengan setting tempat. Meski tidak terlalu detail, suasana Korea Selatan terasa sangat kental. Kalau menyertakan tempat, pun, misalnya rumah sakit atau hotel atau restoran, penulis tidak menyertakan deskripsi tempat secara berlebihan. Hanya hotel. Hanya rumah sakit. Suasana yang terasa sangat "Korea" itu saya rasa berhasil dibangun oleh dialog, deskripsi, dan perilaku tokoh. Seperti formalitas lintas-umur yang sangat dijunjung tinggi di sana. Juga lewat tokoh-tokoh klise seperti dalam serial drama Korea, misalnya tokoh Chunji (adik Chunhee) yang mewarisi perusahaan ayahnya. Masalah kehidupan materalistis, isu homoseksualitas, dan tren laki-laki Korea menjalin hubungan dengan noona (perempuan yang lebih tua) turut membangun nuansa Korea.

Sayangnya, banyak saya jumpai typo dan kalimat membingungkan nan kurang efektif.
  1. Bekal pengalaman di klub atletik semasa SMU yang dibanggakannya, memberi kemudahan dalam menggerakkan tubuh jangkung yang bagi sebagian orang adalah minus kelincahan. (halaman 14).
    Mungkin lebih jelas jika "tubuh jangkung yang bagi sebagian orang dianggap minus kelincahan".
  2. Yookwon menjatuhkan duduk di lantai lift.... (halaman 15) Lebih baik jika "menjatuhkan" dihilangkan saja.
  3. Setidaknya masih ada tiga perempat bulan lagi sampai mereka cukup besar untuk mewujudkan keinginan tersebut. (halaman 53) Kalimat ini kurang jelas, "tiga perempat bulan" sampai apa? Siapa yang cukup besar? Anak pertama Yookwon bahkan baru berumur beberapa minggu dalam kandungan.
  4. Kalimat racauan Hyesung saat memakan daging rebus yang amat panas di halaman 184 itu sama sekali tidak perlu ditulis, karena pembaca tidak mengerti apa maksudnya? Pun setelahnya, dialog Sooni-Hyesung tak ada kaitannya dengan racauan itu.

Ada juga bagian yang cacat logika. Di halaman 131, ketika Jaeho datang ke kantor Hyesung untuk meminta bantuannya, untuk menjaga Remi sementara sang ayah mencari kerja, ada satu hal aneh. Sejak awal kedatangan Jaeho, tak disebutkan keberadaan Remi. Ketika Jaeho berlutut memohon pada Hyesung pun, anak itu belum disebut (saya bingung, ditaruh mana tuh anak? Digendong ayahnya, atau didudukkan di kursi?). Lalu tiba-tiba "gadis kecil itu tak meronta saat dipindahtangankan pada Hyesung....". Lho, jadi, dari tadi ada Remi?

Mantan pacar Sooni itu Jaehyuk atau Jihyuk? Namanya berubah-ubah sepanjang cerita, mungkin penulisnya ngantuk, hehehe. Pemikiran Hyesung ada yang aneh. Sejak kapan "jalanan bisa jadi sangat licin dan embun yang timbul di kaca mobilku agak mengganggu pandangan" (halaman 304) menjadi alasan untuk membeli mobil baru? Saya juga kurang beruntung, mendapatkan novel ini dengan banyak halaman terlewat dan halaman kosong (ada lebih dari 20 halaman), sehingga saya kelewatan bagian masa lalu Moonhye dengan Sungyeol (duh, jadi teringat anggota boyband Infinite). Ada juga beberapa kata asing yang tidak dilengkapi keterangan. Untungnya, saya cukup mengerti bahasa Korea berkat kefasihan dalam dunia K-Drama dan K-Pop, hehehe.

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang puas.
  1. Bagian akhir bab empat, tentang Shiyoon. Bagian "ayahnya juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kyujong padanya" itu sebenarnya apa, sih? Dugaan saya bisa saja meleset, kan. Mungkin penulis sengaja menyamarkannya, atau membuatnya implisit. Tapi, se-implisit apa pun, seharusnya ia cukup jelas, dong. (Sebenernya, sih, aku sebel karena penasaran, yang kupikirin bener nggak, haha).
  2. I need more details! Terutama tentang deskripsi fisik para tokoh (terutama kelima laki-laki itu). Yah, karena, penggambaran fisiknya sangat hambar. Misalnya, Shin hanya digambarkan sebagai laki-laki muda berkulit gelap yang punya aura membius dan memesona. Mungkin akan lebih terasa "nyata" kalau digambarkan bentuk wajahnya, sorot matanya ketika memandang seseorang....
Persahabatan kelima orang ini mengingatkan saya akan boyband Shinhwa (minus satu orang), entah mengapa. (Mungkin karena ada yang namanya Hyesung, hehehe.) Yang jelas, persahabatan mereka sungguh manis, meski tak luput dengan rahasia-rahasia dan berbagai masalah. Yang paling mencengangkan tentu saja bab terakhir. Saya tak menduga, lho, kalau ternyata Shiyoon tidak menyimpan rasa pada Shin, tapi malah.... 

Penulis berhasil menghidupkan sudut pandang "aku" Hyesung sebagai laki-laki. Terkadang, penulis perempuan mengalami kesulitan dalam menciptakan tokoh "aku" laki-laki yang benar-benar terdengar seperti laki-laki. Berbagai cara berpikir Hyesung, seperti kebingungannya menghadapi Sooni ketika gadis itu ngambek di halaman 231, itu cowok banget. Hahaha.

Saya puas dengan ending-nya yg amat manis! (Ternyata persahabatan para cowok bisa semanis ini, ya?) Saya, kok malah ingin Hyesung dengan Shiyoon saja, ya, soalnya mereka berdua manis sekali hihihi (digampar massa).

"Setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain, dengan kekurangan dan kelebihan sama banyaknya."
(halaman 102)

"Sejak mendeklarasikan pertemanan, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi." (Hyesung, halaman 313)

8 June 2014

[RESENSI (BUKAN) SALAH WAKTU] Salah Kita yang Tidak Memahami Waktu



Judul Buku                        : (Bukan) Salah Waktu
Penulis                              : Nastiti Denny
Tebal                                 : viii + 248 halaman
Penerbit/cetakan               : Bentang Pustaka/I, Desember 2013
ISBN                                 : 978-602-7888-94-4
Harga                                : Rp 46.000,00



Sekar dan Prabu sudah menikah selama dua tahun saat Sekar memutuskan resign dari pekerjaannya karena rindu menjadi ibu rumah tangga. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mereka saling mengenal satu sama lain. Namun, rahasia masa lalu masing-masing masih terkunci rapat. Dengan lihai, Sekar menyembunyikan fakta bahwa orangtuanya telah bercerai, dari Prabu dan mertuanya, yang tidak suka dengan perceraian. Ketika Prabu memiliki kesempatan untuk mempertanyakan masa lalu istrinya, rahasia masa lalunya sendiri terancam akan terungkap. Masa lalunya yang berkaitan dengan seorang perempuan bernama Laras. 

Di tengah prahara cinta segitiga—yang lalu meluas jadi segiempat—Prabu dan Sekar berusaha menstabilkan perahu rumah tangga mereka yang tengah dihantam badai. Mereka berdua harus cukup rendah hati untuk bisa berdamai dengan masa lalu, sebelum bisa melanjutkan masa depan.

 

Cara bertutur penulis rapi dan runtut—terkadang lebih mirip reportase, lantaran kegemaran penulis untuk menyertakan detail jam berlangsungnya adegan demi adegan. Teka-teki yang terkuak, mengajak saya menyelami lautan kisah percintaan misterius, selapis demi selapis. Hingga terlalu dalam, dan saya tersedak. Tersedak di beberapa tempat, karena penulis berhasil meluapkan emosi saya. Pelupuk mata saya terasa ditusuk-tusuk ketika menyaksikan adegan Yani menunggui Sekar yang meringkuk di kolong meja. Juga ketika Prabu menuliskan notes buat Sekar di mana-mana. Sederhana, tapi romantis dan tidak picisan.


Metafora yang segar dan menggelitik—“kerikil yang marah” (halaman 114) dan “seperti serangga” (halaman 122)—berpadu dengan deskripsi fisik tokoh, deskripsi tempat dan waktu yang detail, memudahkan saya untuk menyaksikan adegan-adegan dalam benak saya. Terlebih, alur yang rapi maju-mundur. Tapi, deskripsi ukuran yang terlalu detail kadang membuat saya risih.

Penggambaran tokoh Sekar membuatnya terlihat sangat nyata dan membumi. Tapi, meski Prabu memiliki porsi sudut pandangnya sendiri, karakternya kurang terbangun dengan baik. Begitu juga dengan tokoh Bram, yang saya harapkan menjadi lebih “bad boy”.

Namun, sangat disayangkan, penulis seperti terburu-buru dalam menulis naskahnya. Parahnya, sang editor juga meloloskan banyak inkonsistensi. Terkesan penulis seperti tidak merumuskan novelnya dengan hati-hati—alias GALAU. Semakin detail tulisan, makin besar juga probabilitas kesalahan, hingga banyak hal yang membingungkan:

1.       Ayah Prabu, bekerja sebagai direktur perusahaan minyak, atau di bidang pertanahan?
2.       Tentang “gue-elo”-nya Mira dan Sekar (halaman 29)—awalnya Sekar memakai “aku-kamu”, tapi lalu berubah menjadi “gue-elo” (halaman 33).
3.       Anak pertama Yani itu diserahkan pada ADIK atau KAKAK suaminya?
4.       Awalnya, nama yayasan milik Yani adalah “Jalin Kasih”, tapi lalu menjadi “Tali Kasih”.
5.       Banyak ketidakcocokan nama tokoh, tak pelak membuat saya kelimpungan. Kakak Prabu bernama Putri, atau Leni? Yasmina itu bukannya nama Sekar dulu, ya (halaman 143, 236)? Ada juga nama yang sama, entah karena penulis kehabisan stok nama atau memang lupa telah menggunakannya sebelumnya. Ada dua tokoh bernama Alex dan dua tokoh bernama Mbok Ijah.

Dari novel ini, saya jadi tahu kalau orang yang lebih berumur ternyata tidak lebih dewasa daripada saya. Hanya orang dewasalah yang sanggup memaafkan masa lalu :).





bloggerwidgets