Showing posts with label metropop. Show all posts
Showing posts with label metropop. Show all posts

7 February 2017

[Resensi] CRITICAL ELEVEN - Tiga Menit Pertama dan Delapan Menit Terakhir


Barangkali Ika Natassa adalah penulis yang buku-bukunya paling banyak saya baca, selain Dee. Saya sudah baca semua bukunya yang telah terbit, kecuali A Very Yuppy Wedding, Underground, Architecture of Love, dan This Notebook is My Bitch. Adalah suatu keganjilan, padahal Ika sama sekali bukan penulis favorit saya. Saya pun tidak terlalu menyukai buku-bukunya. Anehnya, saya tak lelah-lelahnya membaca dia (mungkin setelah ini saya lelah). Salahkan gaya menulisnya yang kayak basreng Maicih level sembilan. Nggak bisa berhenti melahapnya selama masih ada. Nagih, meski bikin mulut serasa terbakar dan perut perih. Meski begitu, lama-lama saya enek juga.

SINOPSIS

This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at the moment. (hlm. 13)
Anya dan Ale bertemu di dalam pesawat, dalam perjalanan menuju Sidney. Mereka duduk bersebelahan, lalu terlibat obrolan, yang lama-lama makin hangat. Sebelum berpisah, mereka sempat bertukar nomor telepon, tapi butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya bertemu lagi. Hanya sebulan setelah pertemuan pertama, mereka memutuskan untuk berpacaran, tepatnya setelah bertemu intens selama hanya tujuh hari.

Ale, yang bekerja di pengeboran minyak off-shore di Teluk Meksiko, selama ini jarang pulang ke Jakarta. Sejak berpacaran dengan Anya, dia jadi rajin pulang setiap dapat jatah libur setelah lima minggu bekerja. Waktu Ale untuk "minyak" dan untuk Anya 50:50. Meski begitu, Anya sama sekali tidak merasa kekurangan waktu.
Ale punya caranya sendiri untuk mencintaiku. Dia ada, bahkan ketika dia tidak ada. (Anya, hlm. 36)
Mereka berpacaran selama setahun, lalu menikah. Awalnya, mereka bak pasangan suami-istri paling bahagia di dunia (dunia kecil mereka, wkwk). Namun, semua berubah sejak enam bulan sebelumnya. Sejak Aidan, bayi mereka, lahir dalam keadaan sudah meninggal. Sejak mulut Ale lancang menyalahkan Anya atas kematian Aidan. Anya sangat marah--tipikal marah yang sangat marah hingga tak lagi membentak-bentak atau berdebat tanpa akhir, tapi marah dalam diam. Anya tak lagi menganggap Ale ada.

Setelah Aidan meninggal, Ale belum pernah sekali pun masuk ke kamar Aidan. Sementara itu, Anya sekali pun belum pernah mengunjungi makamnya. Mereka sama-sama kehilangan Aidan, tapi menghadapinya sendiri-sendiri.

***

MAAF, CUMA BISA KASIH BINTANG TIGA DENGAN AGAK TIDAK RELA

Critical eleven, istilah yang baru saya dengar berkat buku ini. Menarik, ide yang diusung Ika dengan mendayagunakan istilah dalam dunia penerbangan itu, dan memberinya makna baru. Critical eleven adalah
sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take-off dan delapan menit sebelum landing. In a way, I think it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? And then there's the last eight minutes before you part with someone. [...] apakah akhir pertemuan itu akan menjadi 'andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi' atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. (Anya, hlm. 16).
Terlepas dari pemaknaan "critical eleven", novel ini berkisah tentang dua orang yang (masih) saling mencintai yang sedang mempertahankan hubungan pernikahan tidak sehat mereka demi sesuatu, dan berusaha untuk memperbaikinya.

Sekilas, saya teringat film Fireproof. Di film itu, seorang suami berusaha memperbaiki hubungan dengan istrinya, dengan melakukan Love Dare selama 40 hari. Love Dare itu ia lakukan atas nasihat ayahnya. Ale berusaha memperbaiki hubungannya dengan Anya, dengan tetap bertahan meski dianggap nggak ada oleh istrinya. Ale juga makin diyakinkan oleh nasihat ayahnya (untuk tetap bertahan).

Seperti novel-novel Ika yang saya baca sebelumnya, tokoh-tokoh di novel ini dari kalangan atas semua. Saya jadi penasaran bagaimana jadinya tulisan Ika, kalau dia nulis novel dengan tokoh kalangan menengah ke bawah. Dan bagaimana jadinya kalau dia nulis dalam bahasa Inggris murni. Bukan tulisan galau: bahasa Indonesia dicampur-campur bahasa Inggris biar kelihatan keren kayak begini. Kalau dia segitu inginnya pakai bahasa Inggris, kenapa nggak nulis dalam bahasa Inggris sekalian, kayak Rain Chudori (dengan Monsoon Tiger and Other Stories), misalnya? Apakah kosakata bahasa Indonesia sebegitu miskinnya hingga ia harus menggunakan kosakata bahasa Inggris? Saya harap alasannya bukan itu.

Pun seperti novel-novelnya yang saya baca sebelumnya (Antologi Rasa, Twivortiare, Twivortiare 2, Divortiare) alur novel ini nyaris datar-datar saja. Dan repetitif. Anya marah sama Ale, terus menghindar, lalu mengenang masa lalu indah mereka, menangisi Aidan... Closed circuit, kalau di mata kuliah Rangkaian Listrik (maaf, barusan saya pakai istilah dalam bahasa Inggris biar agak berima). Akhir ceritanya bisa ditebak dengan mudah, sih. Yang membuat saya bertahan membaca sampai akhir semata berkat gaya menulis Ika, yang seperti biasa, sangat mengalir dan mengikat. Penuh kalimat-kalimat yang cantik banget kalau dipetik dan dipajang di dinding rumah atau dinding hati seseorang yang gampang baper. Nggak terasa, tahu-tahu saya sudah baca sampai ratusan halaman. Juga berkat karakterisasi tokoh-tokohnya yang khas Ika, terasa sedemikian bernyawa. Mungkin penggunaan sudut pandang orang pertama berganti-ganti antara Anya dan Ale juga berperan dalam membuat pembaca terasa sangat mengenal mereka. Oya, yang paling saya suka adalah adegan-adegan (dalam mimpi) saat Anya dan Ale mengasuh anaknya. Saya suka cara mereka mendidik Aidan. Mereka kayaknya akan jadi orang tua yang baik.

Seperti biasa juga, Ika gemar menyelipkan berbagai nukilan dan adegan (dari film, buku) dalam narasinya. Terlalu banyak malah. Nggak semuanya saya tahu, sih (kebanyakan malah baru tahu dari novel ini), jadi, yah okelah. Lumayan buat menambah pengetahuan. Namun pasti ada sebagian pembaca yang agak terganggu dengan hal ini.

Sayang sekali, ada yang bikin saya tercenung dan mengernyitkan dahi: printilan-printilan--yang mungkin akan terlewat begitu saja jika saya tidak "sadar" dan peka--yang menyeret-nyeret perihal gender. Masa, dalam obrolan Ale dan ayahnya, perempuan diumpamakan seperti kopi? Kami perempuan ini manusia, bukan barang yang bisa dipetik, dipilih yang terbaik, disingkirkan yang kurang baik, disangrai, digiling, diendus-endus aromanya, dicecap-cecap, kalau nggak enak dimuncratkan, kalau enak berakhir di pembuangan kotoran! Woi, Ika, ada apa denganmu?

Dalam obrolan Harris-Ale yang mereka lakukan sambil main basket (hlm. 181-182), saya juga agak tersinggung dengan candaan mereka.

"Trash talk mulu lo, kayak cewek."
(Eh, elu pikir obrolan cewek isinya sampah gitu? Lu pikir cuma cowok yang bisa ngobrol 'berisi'?)
"Lah elu maennya juga kayak cewek."
(Woi, yang elu maksud 'kayak cewek' tuh kayak gimana? Bener-bener deh, Ika, kamu sukses bikin saya naik darah. Tolong hentikan obrolan sampah dua cowok ini.)

Saya juga risih akan cara Harris memanggil Ale, dengan sebutan "Bro". Anjir, alay banget, lu, Ris! Saya lantas bertanya-tanya, adakah di dunia nyata, sepasang kakak-adik laki-laki saling memanggil dengan sebutan "Bro"?

Membaca novel ini pun tak lepas dari fenomena sebelas menit yang kritis. Tiga menit pertama, Ika sukses bikin saya terhanyut oleh gaya menulisnya yang renyah nan gurih. Namun, delapan menit terakhir membuat saya berpikir, kayaknya saya nggak lagi akan baca karya dia (kalau karyanya masih mirip-mirip gini).
Bookstores are the least discriminative place in the world. (Anya, hlm. 13-14)
***

IDENTITAS BUKU

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, September 2015
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978-602-03-1892-9
Harga: Rp 79.000,00
Rating saya: 3/5
Keterangan: Saya baca versi digital, pinjam di aplikasi iJak

29 June 2015

[Resensi MARRY NOW, SORRY LATER] Perlukah Jatuh Cinta Dulu untuk Bahagia?

Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis : Christian Simamora
Editor: Alit Palupi
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, 2015
Tebal: x + 438 halaman
ISBN: 978-602-70362-2-2
Harga: Rp 77.700 (Non-tanda-tangan)
Rating saya : 4/5




First, this is the first Chrismor's books I've ever read, and I've already planned to read more of his books. Hahaha.
Second, I got this book from winning a blog tour giveaway, and I'm very glad of it.

Third, this book got me being very delusional of its romance!



Premis novel ini adalah Jao Lee is the Beast and Reina is the Beauty, yang menikah bukan karena cinta. Ya, Bang Chrismor mengambil cerita Beauty and The Beast untuk direkacipta. Tapi, nggak seperti Beast yang buruk rupa, Jao adalah seorang monster dengan fisik sempurna! Monster-nya dia adalah sikap dingin, arogan, bossy, dan menyebalkan, hingga membuat Reina langsung ilfil dan perlahan berubah jadi takut. Thanks to her mom, Jao tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tidak percaya cinta. Kepergian mamanya dari rumah, demi mengejar cinta barunya, membuat hati Jao jadi keras dan dingin.
"Love isn’t a sure thing—never was and never will. Dan ketika cinta sudah nggak ada lagi di hati, buat apa juga dipertahankan?"
(Jao’s Mom, hal. 96)
Reina, putri tunggal pemilik Hardiansyah Electronics, harus menanggung warisan utang yang besar, yang dipinjam perusahaan itu dari Shylock Indonesia yang dipimpin Jao. Untuk membayar itu, Reina menemui Jao dan memohon kelonggaran, yang ditanggapi dengan sangat dingin dan tak berperasaan. 

"Reina, this is business. Perasaan sentimentil nggak terlibat di dalamnya." 
(Jao, hal. 84-5)


Akhirnya, Reina bersedia untuk "tidur" bersama Jao (padahal tawaran yang diajukan Jao waktu itu hanya bercanda) agar Jao bersedia mengundur tenggat waktu pembayaran utang. Namun, kelar tidur bersama, Jao menawarkan penawaran lain, yang akan menghapus seluruh utang itu, bahkan ia bersedia membantu membenahi perusahaan yang tengah terpuruk itu. Apa syaratnya? 
"Jadi istri gue." 
(Jao, hal. 127)
Awalnya, jelas Reina menolak. Bagaimana bisa menjadi istri dari orang yang amat dibencinya?
"Lo sadar nggak arrangement kita ini seperti apa? Siti Nurbaya—dengan gue sebagai Siti dan lo, obviously, adalah Datuk Meringgih-nya!"
(Reina, hal. 44)
Tapi, setelah mengalami sendiri bagaimana dijauhi dan di-bully oleh teman-teman dekatnya dulu (Alluna, Diadora, Haci, Tommy) karena ia sudah jatuh miskin, Reina menyadari bahwa ia tak siap hidup miskin. Bayangan menjadi miskin sangat mengerikan: tak diundang lagi dalam Pamela Ang's fashion show, tak bisa lagi membeli barang-barang ber-merk favoritnya kecuali ada diskon besar-besaran, dll semacam itu. Akhirnya, Reina menyetujui tawaran itu. (Yeah, this book's kinda full of characters from high class society and don't get bothered if there is hedonism there and there.)
Kemudian, Reina menghilang di hari resepsi pernikahannya. Selama enam bulan berikutnya ia hidup bersembunyi di Bali, menjadi volunteer di sebuah panti asuhan bernama Lotus. Bagian pembuka novel menyajikan bagaimana akhirnya Jao berhasil menemukannya dan membawanya 'pulang'.


Bu Gayatri: Jaga Reina baik-baik, ya.
Jao: She is my wife. It’s my duty to keep her safe by my side. 
(hal. 26)
Kesepakatan yang mereka buat memaksa Reina menjalani peran sebagai Mrs. Lee sampai enam bulan ke depan. Pertengkaran-pertengkaran mewarnai hari-hari mereka. Tibalah saat Reina menyesali keputusannya itu, mengapa ia bermain-main dg kesepakatan demi kesepakatan itu?

Sementara itu, Jao yang tidak pernah tidak mendapat apa yang ia inginkan, telah bertekad akan membuat Reina menjadi miliknya. Ia berusaha melakukan banyak cara untuk menaklukkan kekeraskepalaan Reina beserta segenap aturannya itu (no sex, physical interactions, etc.). Menuruti saran Michael--yg awalnya ia anggap terlalu cheesy--Jao akhirnya menerapkan mantra boyfriend experience:
Treat her like a person, then like a princess, then like a greek goddess, then a person again.
Cewek-cewek itu mencari connection, Jao. Mereka butuh dicintai dan dinomorsatukan oleh pasangannya. 
(Michael, hal. 189) 
Akankah berhasil?

***
"Hey, we’re husband and wife. We’re automatically a team." 
(Jao, hal. 336)
Ini adalah novel kedelapan dari seri #JBoyfriend. Tapi, seperti sudah saya singgung tadi, ini adalah yang pertama saya baca, sehingga saya belum tahu seperti apa gaya menulis Bang Chrismor sebelumnya. Ada beberapa orang di Goodreads yang bilang bahwa benang merah cerita yang nyaris sama di kedelapan seri ini bikin mereka bosan. Tapi, yah, karena memori baca saya masih steril dari para #JBoyfriends, maka buku ini bagus-bagus aja buat saya. Mungkin juga karena dibandingkan seri-seri #JBoyfriend sebelumnya, buku ini yang paling ramah, dalam artian nggak banyak dialog dan istilah kebarat-baratan dan/ atau aneh yang suka dijungkir-balikkan oleh penulis.



Cerita romansa yang berawal dari hate relationship berubah jadi love one rasanya tak akan pernah habis dibikin, ya! Dan ajaibnya, di tangan Bang Chrismor, cerita yang klise itu jadi mendebarkan (terlebih untuk adegan-adegan seksinya yang eksplisit, huh-hah!) dan bikin gila (terlebih karena keasyikan ngebayangin sosok Jao)! Penuturannya yang ringan merengkuh pembaca untuk masuk ke alurnya dengan sukarela dan cukup mudah, bahkan sampai nagih. Jarang, lho, ada buku yang bisa bikin saya terikat dengan ceritanya, jika meletakkan buku itu pasti ada sesuatu yg terasa kurang. Kemudian, untuk novel pertama bertema pernikahan yang ditulis oleh Bang Chrismor, hawa kehidupan pernikahannya terasa hidup dan penuh drama, tentu saja.

Nggak ada bagian yang bikin saya bosan. All about this book is alright. Meski kadang saya nyinyir membaca gaya hidup kelas atas para tokohnya. Para tokoh dalam buku ini, dilihat dari namanya saja sudah terasa bahwa mereka bagian dari high-class society. Nama belakang mereka beraura keluarga besar yang kekayaannya nggak habis sampai tujuh turunan, kayak Diega Gabaldi, mungkin, dan Jao Lee tentunya. Hahaha. Kembali lagi, yang bikin saya nyinyir adalah betapa hedonisnya mereka itu (melirik kehidupan sendiri yang sederhana sebagai anak kosan wkwk)!

"Ironis, di belahan bumi ini, ada orang yang kelebihan uang hingga merasa tak apa-apa kalau menyia-nyiakannya. Sedangkan di belahan bumi lain, ada orang yang uring-uringan dengan utang warisan." 
(hal. 101)


Dan, yah, sebagai anak kosan yang sederhana (lagi, penting banget ditegasin terus), saya nggak mengerti berbagai istilah fashion, berbagai merk, dan lain-lain yang berbau mahal atau istilah tertentu karangan Bang Chrismor (atau nggak? seperti puh-leez). Crème de la crème, gaun berpotongan empire, two-pieced tweed-nya Chanel, flats Tory Burch, nail art decoden, merk Monika Csutak, kerah halter, drapery, et cetera et cetera. Maafkan saya yang agak malas mencarinya di internet, huahaha.


Nggak seperti sinetron yang biasa tayang di TV nasional, tokoh-tokoh dalam novel ini benar-benar abu-abu! Si monster sering jahat, tapi nggak jarang ia menunjukkan sisi baiknya, sisi romantisnya yang bikin saya ngiler. Perubahan sikap Jao dari yang awalnya dingin dan tak mau kalah menjadi lebih perhatian dan bersedia mengalah (thanks to Michael's advices!) terlihat secara perlahan dan manis sekali. Salah satu favorit saya adalah trik Jao yang mengajukan syarat atas suatu keinginan Reina, yaitu cewek itu wajib memberitahunya sepuluh hal personal tentang dirinya ke Jao. Dari situlah, Jao kemudian memiliki catatan khusus berjudul "Fun Facts About My Wife" (hal. 284-6), yang menurut saya sangat manis >,<. Kemudian, dalam belajar menjadi pacar yang baik, Jao sering membaca artikel-artikel di internet. Open Letter to Our Future Boyfriends (192-3) adalah salah satunya, yang saya rasa cocok banget jadi tips untuk para cowok yang membaca buku ini (kayaknya dikit, deh, cowok yang baca buku romance so sweet begini). Salah satu quote dari artikel itu yang saya sukai adalah:
“Don’t be an asshole. Just because you have one, it doesn’t mean it’s okay to act like it.”

Muahahaha!!
Dan, yang paling sweet yet heart-breaking adalah bagian di hari-hari terakhir jatah enam bulan hidup bersama mereka, Jao selalu mengatakan "I love you" pada Reina.
“Gue mengatakannya supaya lo selalu tahu isi hati gue sebenarnya.” 
(Jao, hal. 398)
Kemudian, si Reina yang keras kepala, dan kadang sangat menyebalkan, tapi juga sangat nggak tegaan dan baik hati. Bahkan, si Alluna, Reina's ex-bestfriend, yang awalnya jadi antagonis menjelang akhir malah termaafkan dengan mudah, karena kemurah-hatian Reina. Namun, saya agak gemas sama tokoh ini, deh. Ia suka dan ngotot menyangkal perasaannya sendiri terhadap Jao demi gengsinya. Untungnya, ada dua sahabatnya, Char si gay dan Sari si pemilik nail art salon, yang selalu bersedia menyadarkan dan membantunya. Persahabatan mereka bertiga sangat tulus dan menyenangkan dibaca. Terlebih bagian Char yang menyadarkan Reina dengan kata-kata pedas yang tak bisa disangkal kebenarannya.
Lebih baik pisah dengan Jao sekarang-sekarang ini ketimbang lo menyakiti dia seperti pas Boston ninggalin gue dulu. Karena Jao berhak mendapatkan yang lebih baik. Seseorang yang yakin betul dengan perasaannya, bukan yang terus-terusan meragu dan mempertanyakan isi hatinya kayak yang lo lakukan saat ini. […] Dan bukannya menunjukkan kesalahan secara terang-terangan adalah salah satu tugas sahabat? 
(Char, hal. 384)
"Kasih tau ke gue, apa yang bikin lo ngerasa segitu sombongnya sampai nggak mau mengakui kalau lo sebenarnya jatuh cinta sama Jao? Jawab, Rei!" 
(Char, hal. 423) 
Dari kejadian yang menimpa Reina itu juga, Char berani membuka hatinya kembali untuk cinta baru.

Alurnya yang kadang flashback sama sekali nggak bikin bingung (perbedaan jenis font sangat berpengaruh). Bahkan, ada flashback di dalam flashback. Ilustrasi-ilustrasi pengawal babnya juga bagus, dan judul babnya sangat menggambarkan isi bab itu, dan hmm, makjleb deh.


Selain itu, 'word of the day' yang jadi mengawali tiap bab itu, memang kata-katanya bikinan Bang Chrismor sendiri, atau...? (Contohnya yang di foto itu, 'cavoli riscaldati'.) Sangat menarik, menurutku, seorang penulis yang dengan kreatifnya membuat kata-kata baru. Oh iya, ada juga bonus paperdoll.


Istilah yang sering dipakai penulis, dan sepertinya bikinannya sendiri adalah "munafuck". Hahaha. Bahkan penulis juga memlesetkan judul sinetron jadi Ganteng-ganteng Simamora (hal. 60). Lalu, sinetron Michael dan Anita judulnya "Siang Jadi Kenangan, Malam Jadi Impian" (hal. 189) Mwahahaha. Bisa aja, deh, si Abang! Lucunya, si penulis juga sempat menyelipkan hal tradisional "begu ganjang" (makhluk mistis dalam budaya Batak (hal. 60)).

Salah satu kutipan yang sebenarnya miris, tapi malah bikin saya ketawa adalah ini.


"Aku tidur di kamarku, kamu tidur di kamarmu. Salah satu dari kita jelas ada yang salah tempat malam ini." 
(hal. 228) 


Well, I give this book 4 stars, for making me delusional and emotional all this time! :D




20 January 2015

[Resensi "Dari Kirara untuk Seekor Gagak"] Kirara yang Naif dan Gagak yang Kejam



 

Judul Buku                    : Dari Kirara untuk Seekor Gagak
Penulis                           : Erni Aladjai
Editor                            : Primadonna Angela
Tebal                             : 192 halaman
Penerbit/cetakan           : GPU/Cetakan I, Agustus 2014
ISBN                              : 978-602-03-0750-3
Harga                             : Rp 45.000,00
Rating                            :  

(Sebelumnya, saya pernah menulis resensi singkat buku ini di Goodreads. Namun, waktu itu saya menulis dalam kondisi emosional lantaran saya kecewa akan buku ini. Sekarang, saya menulis resensi ini dengan kondisi pikiran dan hati yang netral, yang saya harap dapat menyajikan resensi yang cukup objektif.)


Mae menyukai dapur, karena di situlah kenangan indah akan ibunya mengendap dalam ingatannya. Di sana, ia terbiasa membantu ibunya memasak dan bertukar cerita, semasa ibunya masih hidup. Setelah ayah dan ibunya meninggal pada tanggal 15 September karena kecelakaan kapal, Jo, kakaknya, adalah satu-satunya orang terdekatnya yang tersisa. Selain dapur, Mae juga menyukai sastra.
Demi menekuni dunia sastra, Mae kuliah dengan beasiswa di Jurusan Humaniora di Universitas Hokkaido. Di Sapporo, Mae tinggal di sebuah apartemen sederhana. Ia tak mudah bergaul dengan teman sepantarannya, karena pribadinya yang unik. Di saat teman-temannya menggilai boyband, ia tetap asyik dengan lagu-lagu lawas. Mungkin jiwa “jadul” dan melankolisnya inilah yang membuatnya cepat akrab dengan Kakek Yoshinaga, pemilik apartemen 2504. Kakek ini adalah pensiunan angkatan laut yang tinggal sendiri karena anak tunggalnya bekerja di kota lain. Mae sering menemani sang kakek makan sambil menonton film, membacakan surat-surat dari cinta pertamanya, bahkan menyanyikan lagu sebelum Kakek Yoshinaga tidur.
“Mae, jika kau sudah sepuh, kau hanya akan tertarik dengan kematian.” – Kakek Yoshinaga (hal. 14)
Tibalah saat di mana Mae harus kehilangan satu-satunya sahabat di Sapporo. Kakek Yoshinaga telah meninggal, dan apartemen 2504 kini ditempati oleh lelaki misterius berpakaian serbahitam.
Dalam kesedihannya, pada hari ulang tahunnya, Mae bertekad ingin mencari pekerjaan. Di suatu siang yang dingin, setelah beberapa lamarannya ditolak, ia duduk di dekat sebuah kedai ramen. Dari situlah, ia berkenalan dengan Nenek Osano, sang pemilik kedai, yang memberikan kesempatan pertama baginya untuk bekerja. Setelah itu, Mae juga bertemu Tamia, seorang teman baru di kampus karena adegan tabrakan tak disengaja.
***
Ken tidak suka dapur. Tempat itu selalu membayanginya lewat mimpi buruk mencekam. Sosok ibunya, Kirei, tergeletak di atas meja dapur dengan tubuh bersimbah darah akibat luka tembakan. Ken yang saat itu berumur 7 tahun, mencari-cari ayahnya yang selalu tidak berada di rumah di saat yang dibutuhkan. Kesibukan dan sikap dingin Shibata, ayahnya, membuat Ken selalu mengurung diri dalam kamar dan tidak pernah berinteraksi dengannya padahal mereka tinggal seatap.
Ken yang berumur 22 tahun adalah mahasiswa Teknik Informasi Universitas Hokkaido. Masuk kuliah mungkin hanya sebulan sekali, tapi nilainya selalu bagus. (Beruntunglah kau, Ken! Mahasiswa yang tidak pernah absen dan rajin mengerjakan tugas di Jurusan Teknik Fisika UGM pun tetap tidak aman dari nilai E!). Aktivitasnya bisa dikategorikan menjadi dua bagian: menjadi hacker dan berlatih bela diri. Semuanya ia lakukan untuk mendukung rencananya mencari pembunuh ibunya, Jotaru, si mantan sopir ayahnya. Penyelidikan itu membawanya ke seseorang bernama Joben, dan memaksanya menguak ke peristiwa-peristiwa masa lalu.
Pertengkaran dengan ayahnya membuatnya hengkang dari rumah dan menyewa apartemen 2504. Sosoknya yang dingin dan kasar membuat Mae penasaran, hingga lama-lama jadi obsesi. Apakah Mae akan tetap menerimanya jika ia seorang pembunuh? Di sisi lain, apakah memang Joben yang memerintahkan pembunuhan Kirei?
***
Pertama, saya ingin meluruskan satu hal. Di sampul belakang, tertulis bahwa novel ini dikategorikan sastra. Saya tidak tahu, karakter apa saja yang membuat sang penerbit memutuskan bahwa ini adalah novel sastra. Namun, menurut pengalaman saya, novel ini lebih tepat jika dikategorikan metropop, seperti seri Empat Musim-nya Ilana Tan.
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa sang penulis pernah meraih pemenang unggulan dalam Sayembara Novel DKJ dan banyak prestasi lainnya. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Kei, pun cukup populer. Oleh karena itu, tak salah, jika pembaca memasang ekspektasi tinggi ketika memboyong buku ini dari rak toko buku. Dari blog penulis, saya membaca bahwa menulis sebuah novel berlatar luar negeri adalah salah satu target yang ingin ia capai sebelum usia 30 tahun. Dan terwujudlah novel ini. Saya mengapresiasi usaha penulis untuk memenuhi targetnya sendiri. Di sisi lain, ini juga membuat saya curiga: jangan-jangan karena target itu, penulis terburu-buru merampungkan novel ini hingga terasa tidak matang. Seorang Erni Aladjai pasti bisa bikin novel ini jauh lebih bagus.
Novel ini unggul dalam sisi deskripsi latar tempat. Meski penulis tidak pernah menyelipkan deskripsi tentang tempat-tempat terkenal, objek wisata, bahkan taman sekalipun, ajaibnya, hawa gigil kota Sapporo terasa menggigit kulit saat saya membacanya. Latar tempat tergambar dengan bagus berkat terasa nyatanya manusia-manusia Jepang yang diciptakan penulis, juga berkat nuansa budaya yang kental. Masakan Jepang, kedai ramen dan filosofinya, juga sosok Nenek Osano yang tipikal pekerja keras Jepang.
Di awal, penulis fokus pada deskripsi dan pengembangan tokoh, yang ditulis dengan detail dan beralur lambat. Satu bab dihabiskan untuk deskripsi hubungan Mae-Kakek Yoshinaga. Satu bab berikutnya disajikan untuk deskripsi perkenalan Mae-Nenek Osano. Di bab-bab ini, tokoh Kakek Yoshinaga, Nenek Nagisa dan putranya yang cacat seolah cuma jadi stiker “Jagalah Kebersihan” di toilet umum terminal Terboyo, yang ada tapi tidak pernah jadi signifikan karena tidak diperhatikan. Mungkin tokoh Kakek Yoshinaga cukup berperan untuk plot selanjutnya, tapi Nenek Nagisa dan putranya itu mending dihapus saja. Dua bab berikutnya dihabiskan untuk tokoh Ken.
Mulai bab 5 sampai akhir, penulis berubah fokus. Kali ini, plot dan konflik lebih diutamakan. Tokoh kucing piaraan Mae, Miu, muncul untuk memberi kesempatan agar Mae dan Ken dapat bertemu secara langsung untuk pertama kalinya. Setelah itu, tokoh kucing ini tidak signifikan lagi. Tokoh Mae juga nyaris cuma jadi pajangan yang rela disingkirkan demi pengembangan konflik Ken seputar pembunuh ibunya. Mungkin karena itulah, novel ini berjudul Dari Kirara untuk Seekor Gagak, seolah menggambarkan bahwa Mae rela cuma jadi tempelan agar Ken bersinar. (Tapi gimana mau bersinar, pakaiannya hitam-hitam melulu?)
Penulis menampilkan sifat-sifat kontradiktif pada karakter utamanya. Mae, awalnya digambarkan sebagai gadis yang lembut dan tulus. Ia rela bekerja tanpa dibayar. Membawakan ramen untuk Ken, meski malah diusir dengan kasar. Di titik itu, muncullah sifat lain Mae, yang sempat bikin saya kaget dan jadi ilfil. Gadis itu ternyata suka marah-marah dan mengumpat. Coba hitung, berapa kali dia meneriaki Ken “bajingan”. Selain itu, Mae pintar tapi lugu (atau bodoh, atau tidak logis?). Semua kesan inosen yang awalnya dimunculkan penulis jadi sia-sia, dan saya merasa tertipu. Tapi, saya suka bagian di mana penulis mengeksplorasi hal-hal kecil seputar kebiasaan Mae menulis jika sedang kalut. Seperti ketika ia menuliskan testimoni sebagai usaha mempromosikan kedai ramen.

Dari awal, Ken memang sosok yang dingin, kasar, dan suka kekerasan, tapi cerdas dan berbakat. Di usianya yang sudah tidak remaja lagi, anehnya, ia kekanakan. Ini pasti akibat masa lalu yang kelam dan kebiasaannya hidup soliter. Oleh karena itu, ketika sekalinya melihat cewek, kepalanya dipenuhi pikiran kotor. Sekalinya jatuh cinta, ia jadi posesif dan gemar melakukan tindak kekerasan. Penulis benar-benar berhasil menghidupkan sosok Ken yang bikin saya muak. Ini lelaki macam apa! Dan bisa-bisanya, Mae jatuh cinta (salah satu kebodohan Mae)! Hubungan mereka berdua sama sekali tidak menimbulkan simpati saya.
Siklus hubungan Mae-Ken.
Alur yang dibangun penulis terburu-buru, tersendat, dan terkadang tiba-tiba meloncat. Saya tidak bisa mengikutinya dengan lancar dan nyaman. Ingat perumpamaan yang pernah saya gunakan ketika mengulas Senyum Pertama di Pagi Airin? Novel ini juga seperti koper yang penuh sesak. Penulis ingin menjejalkan segala konflik rumitnya hanya dalam 192 halaman. Sebenarnya, konflik masa lalu Shibata-Joben-Kirei-Koto itu menggugah rasa ingin tahu saya. Akan lebih menarik jika dikisahkan bukan dalam bentuk dialog Joben-Ken, melainkan dengan dibikin bagian tersendiri berupa adegan flashback sehingga lebih dieksplorasi. Juga tentang Jo, kakak Mae. Saya penasaran, seperti apa sebenarnya sosok kakak yang hanya tampil secara langsung lewat telepon ini? Hmm, seandainya penulis memberi porsi tersendiri untuk menceritakan Jo....
Bicara tentang gaya penulisan, saya mengapresiasi kedalaman deskripsi latar dan tokoh. Tapi, penulis sering menggunakan kalimat tidak efektif. Selain itu, beberapa metafora yang digunakan terasa aneh, alih-alih kreatif, sehingga maknanya tidak mengena ke saya. Ini beberapa contohnya.
1.    “Mae mencoba akrab, namun yang terjadi gayanya kaku dan agak norak. Di ambang pintu, Ken menatapnya dengan dingin. Membuat Mae merasa wajahnya seperti sampul sebuah film Malaysia: superhero berpeci.” (hal. 67)
·      Kalimat pertama kurang mengena. Mungkin lebih baik jika: namun gayanya malah jadi kaku dan agak norak.
·      Saya tidak bisa menangkap kaitan antara superhero berpeci dan rasa malu yang Mae alami. Apalagi saya tidak tahu film itu yang seperti apa, karena tidak dijelaskan lebih lanjut lewat catatan kaki.
2.    “Tubuh jangkung Ken membuat Mae merasa seperti Timun Mas yang berhadapan dengan tiang listrik.” (hal. 66)
·      Tubuh Ken tidak cukup tinggi untuk disebut jangkung. Tingginya hanya 170 cm (seperti tertulis di halaman 115). Kecuali jika Mae benar-benar kerdil, maka 170 cm pantas disebut jangkung.
·      Setahu saya, dalam dongeng Timun Mas, tidak disebutkan bahwa gadis itu mungil. Jadi, jika membandingkan Timun Mas dengan tiang listrik, tentu saja efeknya sama dengan jika membandingkan orang biasa dengan tiang listrik. It didn’t make sense.
·      Meski itu perumpamaan, tetap saja harus logis. Timun Mas dibandingkan dengan Buta Ijo akan jauh lebih logis dan mengena daripada jika dibandingkan dengan tiang listrik.

Ada juga beberapa adegan tidak logis, baik itu akibat sikap ketidaklogisan Mae, maupun memang adegannya yang terasa tidak semestinya.
1.   Setelah Mae tahu bahwa Ken adalah pembunuh, ia tetap tidak menganggap serius ancaman Ken terhadapnya. “Jangan pernah mengkhianatiku, kalau kau tak ingin aku membunuhmu!” (hal. 104)
2.   Ken berjanji akan menemui Mae tengah malam, tapi Mae sudah bersiap sejak makan malam. Bahkan ia memasakkan makan malam, lalu gelisah karena Ken tak kunjung datang, dan marah-marah begitu Ken datang. HALOOOOO??!! Mae, kamu nggak denger kalau Ken bilang akan datang tengah malam?
3.   Adegan perpisahan Mae-Ken sebelum Ken dibawa polisi, yang berlagak romantis tapi terkesan berlebihan dan sebaiknya dipotong saja.
“Aku pikir drama Korea ini sudah cukup!” – Petugas Polisi (hal. 168)
Bagian akhir kurang memuaskan. Saya kesal, karena menurut saya penyelesaiannya sangat tidak adil untuk Joben maupun Ken. Namun, saya memperoleh beberapa nilai moral. Jangan sok jadi pembunuh hanya karena emosi. Jangan berpacaran dengan lelaki yang suka kekerasan. Saya rasa, bintang 2 cukup untuk novel ini .




bloggerwidgets