7 February 2017

[Resensi] CRITICAL ELEVEN - Tiga Menit Pertama dan Delapan Menit Terakhir


Barangkali Ika Natassa adalah penulis yang buku-bukunya paling banyak saya baca, selain Dee. Saya sudah baca semua bukunya yang telah terbit, kecuali A Very Yuppy Wedding, Underground, Architecture of Love, dan This Notebook is My Bitch. Adalah suatu keganjilan, padahal Ika sama sekali bukan penulis favorit saya. Saya pun tidak terlalu menyukai buku-bukunya. Anehnya, saya tak lelah-lelahnya membaca dia (mungkin setelah ini saya lelah). Salahkan gaya menulisnya yang kayak basreng Maicih level sembilan. Nggak bisa berhenti melahapnya selama masih ada. Nagih, meski bikin mulut serasa terbakar dan perut perih. Meski begitu, lama-lama saya enek juga.

SINOPSIS

This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at the moment. (hlm. 13)
Anya dan Ale bertemu di dalam pesawat, dalam perjalanan menuju Sidney. Mereka duduk bersebelahan, lalu terlibat obrolan, yang lama-lama makin hangat. Sebelum berpisah, mereka sempat bertukar nomor telepon, tapi butuh waktu lama sebelum mereka akhirnya bertemu lagi. Hanya sebulan setelah pertemuan pertama, mereka memutuskan untuk berpacaran, tepatnya setelah bertemu intens selama hanya tujuh hari.

Ale, yang bekerja di pengeboran minyak off-shore di Teluk Meksiko, selama ini jarang pulang ke Jakarta. Sejak berpacaran dengan Anya, dia jadi rajin pulang setiap dapat jatah libur setelah lima minggu bekerja. Waktu Ale untuk "minyak" dan untuk Anya 50:50. Meski begitu, Anya sama sekali tidak merasa kekurangan waktu.
Ale punya caranya sendiri untuk mencintaiku. Dia ada, bahkan ketika dia tidak ada. (Anya, hlm. 36)
Mereka berpacaran selama setahun, lalu menikah. Awalnya, mereka bak pasangan suami-istri paling bahagia di dunia (dunia kecil mereka, wkwk). Namun, semua berubah sejak enam bulan sebelumnya. Sejak Aidan, bayi mereka, lahir dalam keadaan sudah meninggal. Sejak mulut Ale lancang menyalahkan Anya atas kematian Aidan. Anya sangat marah--tipikal marah yang sangat marah hingga tak lagi membentak-bentak atau berdebat tanpa akhir, tapi marah dalam diam. Anya tak lagi menganggap Ale ada.

Setelah Aidan meninggal, Ale belum pernah sekali pun masuk ke kamar Aidan. Sementara itu, Anya sekali pun belum pernah mengunjungi makamnya. Mereka sama-sama kehilangan Aidan, tapi menghadapinya sendiri-sendiri.

***

MAAF, CUMA BISA KASIH BINTANG TIGA DENGAN AGAK TIDAK RELA

Critical eleven, istilah yang baru saya dengar berkat buku ini. Menarik, ide yang diusung Ika dengan mendayagunakan istilah dalam dunia penerbangan itu, dan memberinya makna baru. Critical eleven adalah
sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take-off dan delapan menit sebelum landing. In a way, I think it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? And then there's the last eight minutes before you part with someone. [...] apakah akhir pertemuan itu akan menjadi 'andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi' atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. (Anya, hlm. 16).
Terlepas dari pemaknaan "critical eleven", novel ini berkisah tentang dua orang yang (masih) saling mencintai yang sedang mempertahankan hubungan pernikahan tidak sehat mereka demi sesuatu, dan berusaha untuk memperbaikinya.

Sekilas, saya teringat film Fireproof. Di film itu, seorang suami berusaha memperbaiki hubungan dengan istrinya, dengan melakukan Love Dare selama 40 hari. Love Dare itu ia lakukan atas nasihat ayahnya. Ale berusaha memperbaiki hubungannya dengan Anya, dengan tetap bertahan meski dianggap nggak ada oleh istrinya. Ale juga makin diyakinkan oleh nasihat ayahnya (untuk tetap bertahan).

Seperti novel-novel Ika yang saya baca sebelumnya, tokoh-tokoh di novel ini dari kalangan atas semua. Saya jadi penasaran bagaimana jadinya tulisan Ika, kalau dia nulis novel dengan tokoh kalangan menengah ke bawah. Dan bagaimana jadinya kalau dia nulis dalam bahasa Inggris murni. Bukan tulisan galau: bahasa Indonesia dicampur-campur bahasa Inggris biar kelihatan keren kayak begini. Kalau dia segitu inginnya pakai bahasa Inggris, kenapa nggak nulis dalam bahasa Inggris sekalian, kayak Rain Chudori (dengan Monsoon Tiger and Other Stories), misalnya? Apakah kosakata bahasa Indonesia sebegitu miskinnya hingga ia harus menggunakan kosakata bahasa Inggris? Saya harap alasannya bukan itu.

Pun seperti novel-novelnya yang saya baca sebelumnya (Antologi Rasa, Twivortiare, Twivortiare 2, Divortiare) alur novel ini nyaris datar-datar saja. Dan repetitif. Anya marah sama Ale, terus menghindar, lalu mengenang masa lalu indah mereka, menangisi Aidan... Closed circuit, kalau di mata kuliah Rangkaian Listrik (maaf, barusan saya pakai istilah dalam bahasa Inggris biar agak berima). Akhir ceritanya bisa ditebak dengan mudah, sih. Yang membuat saya bertahan membaca sampai akhir semata berkat gaya menulis Ika, yang seperti biasa, sangat mengalir dan mengikat. Penuh kalimat-kalimat yang cantik banget kalau dipetik dan dipajang di dinding rumah atau dinding hati seseorang yang gampang baper. Nggak terasa, tahu-tahu saya sudah baca sampai ratusan halaman. Juga berkat karakterisasi tokoh-tokohnya yang khas Ika, terasa sedemikian bernyawa. Mungkin penggunaan sudut pandang orang pertama berganti-ganti antara Anya dan Ale juga berperan dalam membuat pembaca terasa sangat mengenal mereka. Oya, yang paling saya suka adalah adegan-adegan (dalam mimpi) saat Anya dan Ale mengasuh anaknya. Saya suka cara mereka mendidik Aidan. Mereka kayaknya akan jadi orang tua yang baik.

Seperti biasa juga, Ika gemar menyelipkan berbagai nukilan dan adegan (dari film, buku) dalam narasinya. Terlalu banyak malah. Nggak semuanya saya tahu, sih (kebanyakan malah baru tahu dari novel ini), jadi, yah okelah. Lumayan buat menambah pengetahuan. Namun pasti ada sebagian pembaca yang agak terganggu dengan hal ini.

Sayang sekali, ada yang bikin saya tercenung dan mengernyitkan dahi: printilan-printilan--yang mungkin akan terlewat begitu saja jika saya tidak "sadar" dan peka--yang menyeret-nyeret perihal gender. Masa, dalam obrolan Ale dan ayahnya, perempuan diumpamakan seperti kopi? Kami perempuan ini manusia, bukan barang yang bisa dipetik, dipilih yang terbaik, disingkirkan yang kurang baik, disangrai, digiling, diendus-endus aromanya, dicecap-cecap, kalau nggak enak dimuncratkan, kalau enak berakhir di pembuangan kotoran! Woi, Ika, ada apa denganmu?

Dalam obrolan Harris-Ale yang mereka lakukan sambil main basket (hlm. 181-182), saya juga agak tersinggung dengan candaan mereka.

"Trash talk mulu lo, kayak cewek."
(Eh, elu pikir obrolan cewek isinya sampah gitu? Lu pikir cuma cowok yang bisa ngobrol 'berisi'?)
"Lah elu maennya juga kayak cewek."
(Woi, yang elu maksud 'kayak cewek' tuh kayak gimana? Bener-bener deh, Ika, kamu sukses bikin saya naik darah. Tolong hentikan obrolan sampah dua cowok ini.)

Saya juga risih akan cara Harris memanggil Ale, dengan sebutan "Bro". Anjir, alay banget, lu, Ris! Saya lantas bertanya-tanya, adakah di dunia nyata, sepasang kakak-adik laki-laki saling memanggil dengan sebutan "Bro"?

Membaca novel ini pun tak lepas dari fenomena sebelas menit yang kritis. Tiga menit pertama, Ika sukses bikin saya terhanyut oleh gaya menulisnya yang renyah nan gurih. Namun, delapan menit terakhir membuat saya berpikir, kayaknya saya nggak lagi akan baca karya dia (kalau karyanya masih mirip-mirip gini).
Bookstores are the least discriminative place in the world. (Anya, hlm. 13-14)
***

IDENTITAS BUKU

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, September 2015
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978-602-03-1892-9
Harga: Rp 79.000,00
Rating saya: 3/5
Keterangan: Saya baca versi digital, pinjam di aplikasi iJak
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets