Showing posts with label trilogi darah emas. Show all posts
Showing posts with label trilogi darah emas. Show all posts

8 August 2015

[Resensi TRILOGI DARAH EMAS #3] SEMBRANI

Judul: Sembrani
Penerjemah: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2010
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-979-22-6038-0
Harga: Rp 10.000,00 (obral)
Rating saya: 3/5

[Untuk resensi buku pertama, bisa dibaca di sini.
Resensi buku kedua bisa dibaca di sini.]

Akhirnya, sampai juga di buku ketiga. Di buku ketiga ini, tokoh-tokoh yang awalnya hanya muncul sekilas di kedua buku sebelumnya, ternyata memiliki peranan penting bagi perkembangan cerita.

Sembrani dibuka dengan perkenalan tokoh baru, yaitu si kuda penarik sado yang bernama Sembrani. Sembrani bermimpi punya sayap dan bisa terbang. Entah bagaimana, ketiga ekor tikus bertemu dengan Sembrani dan meminta bantuannya untuk menemukan Putri Naga yang tengah dikuasai kekuatan jahat. Sementara itu, di tempat lain, Sakim masih teringat kata-kata sang harimau padanya, sebelum ia membebaskannya dari kebun binatang, "Temukan raja!".

Seekor harimau diberitakan keluar dari hutan dan telah membunuh seorang manusia di Muaro Jambi. Kemudian, muncullah Rusdi, dari Dinas Kehutanan, yang ditugasi menangkap si harimau. Ia meminta bantuan Sakim untuk menemukan si harimau, lantaran pengalamannya sebagai pawang (dan karena ia sudah pernah diserang Sultan) dinilai bisa digunakan sebagai pemandu.

"Menurut mereka, orang yang pernah diserang harimau berarti sudah ditandainya. Orang itu biasanya kemudian punya semacam kemampuan untuk merasakan kehadiran harimau." 
(Rusdi, hal. 25)

Sakim akhirnya bersedia. Namun, di tengah hutan, ia menemukan tiga fakta mengejutkan. Pertama, harimau itu memangsa manusia karena mereka telah memangsa anaknya. Kedua, Rusdi sebenarnya bukan seperti penampakannya. Ketiga, ia menemukan raja--seekor anak harimau, anak lain dari si induk yang memangsa manusia itu.

Teddy Kho, anggota keluarga darah emas, juga ikut dalam rombongan Rusdi. Nantinya, Teddy akan bertemu dengan tiga ekor tikus yang menunggang Sembrani dan membantu menemukan Putri Naga.

Sementara itu, misteri kematian beberapa orang dengan cara yang aneh mengusik Kemas Ramli. Kematian mereka diduga didalangi oleh roh Putri Naga yang terpisah dari tubuhnya untuk membalaskan dendam sang Naga. Hartanto yang mengetahui hal ini, cemas menunggu gilirannya dibunuh. Yang paling mengejutkan, terungkapnya motivasi Reuben Moore atas ketertarikannya terhadap situs Kemingking.

***

Dibandingkan kedua buku pendahulunya, alur dalam buku ketiga ini paling menegangkan dan padat. Penulis seakan tak membiarkan pembacanya untuk menarik napas. Teka-teki tertebar di mana-mana. Selain kompleksitas ceritanya, pembaca juga dihadapkan pada jumlah tokoh yang terlalu banyak, saling berhubungan (entah hubungan keluarga, atau sebagainya), dan hampir semuanya memiliki peran penting. Fenomena ini memunculkan kebingungan tersendiri. Alur yang dibangun sejak buku pertama malah menjadi terseok-seok di buku ketiga ini.

Meski begitu, tetap ada hal menarik dari trilogi ini. Yang pertama, tentu saja, adalah perihal situs sejarah di Muaro Jambi. Hasil pencarian di internet pun menyebutkan bahwa Kabupaten Muaro Jambi kaya akan peninggalan sejarah yang (sayangnya) belum terawat dengan baik. Salah satunya adalah candi yang terdapat di Desa Kemingking Dalam, yang disebut "Candi Cino" oleh masyarakat sekitar [1]. Di Muaro Jambi ini terdapat sebuah situs percandian terluas di Indonesia (luasnya 12 kali luas kompleks Borobudur) yang terancam keberadaannya karena aktivitas penambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit [2]. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu pada abad ke-7 sampai ke-14 [3].

Situs percandian di Muaro Jambi. Sumber di sini.
Uniknya, petisi Save Muarajambi digencarkan pada tahun 2012, sedangkan pada tahun 2010, Meiliana K. Tansri telah berusaha mengangkat eksistensi situs ini melalui Trilogi Darah Emas. Mengesankan, ya, insting penulis terhadap permasalahan di dunia sekitarnya?

Berikutnya, tokoh-tokoh di buku ini melambangkan sesuatu. Xander merupakan simbol krisis identitas. Meskipun berkewarganegaraan Indonesia, sejak kecil ia tinggal di Jerman. Sungguh memalukan bahwasanya ia tidak mengetahui sejarah kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia, sementara Reuben Moore--arkeologis dari Amerika Serikat--fasih menjelaskannya.

Semenjak awal membaca buku pertama, saya bertanya-tanya, mengapa situs Kemingking yang dijadikan poin permasalahan? Ternyata penulis menjawabnya di buku ketiga ini.

"Situs Kemingking adalah tonggak arkeologi yang penting. Pengungkapannya akan membongkar banyak rahasia peradaban, meluruskan kekeliruan sejarah. Misalnya tentang kerajaan-kerajaan besar yang memengaruhi kebudayaan Indonesia." 
(Reuben Moore, hal. 67)
Sembrani, bersama ketiga ekor tikus, (seperti yang sudah saya singgung di resensi buku kedua), melambangkan harapan dan kesetiaan. Sembrani tak pernah lelah memegang harapan dan mimpinya untuk punya sayap dan bisa terbang. Ketiga ekor tikus pun, meski terkadang ragu, pada akhirnya tetap percaya bahwa mereka akan bisa menjadi manusia lagi.

Di buku ketiga ini, tokoh Putri Naga sudah tak menarik lagi. Center of attention malah berpindah ke Sembrani, tiga ekor tikus, dan bahkan Moore. Hal ini dikarenakan Putri Naga tak melakukan aksi berarti di sepanjang cerita, lantaran ia sedang tak sadarkan diri.

Kemunculan Reuben Moore dengan ilmu klenik khas Baratnya, menyimbolkan penjajahan modern yang dilakukan negara-negara Barat terhadap Indonesia. Fenomena perdagangan hewan langka ke luar negeri (dalam buku ini adalah harimau Sumatera) juga mendukung argumen tersebut.

Kemunculan Nyai Sati di ketiga buku mewakili kehadiran sang Naga yang selalu melindungi keturunannya dan semua yang berada dalam lingkupan silsilah darah emas. Malah, saya rasa peran wanita berpakaian tradisional Jambi itu lebih penting daripada Naga sendiri. Haha.

Ada dua hal yang seperti "dipaksakan" oleh penulis. Pertama, adegan saat Rigel memotong tali pengikat tangan dengan pecahan kaca dari jam tangan, yang sulit saya bayangkan (hal. 179). Kedua, praktik sihir yang dilakukan Reuben Moore, yang menurut saya terlalu tidak masuk akal untuk konteks cerita. Kok, saya malah teringat sihir yang dilakukan Voldemort untuk mendapatkan tubuh manusia (Harry Potter and The Goblet of Fire). 

Yang menjadi bagian favorit saya di buku ini adalah interaksi antara Teddy Kho, tiga ekor tikus, dan Sembrani. Meski perbedaan bahasa menghalangi komunikasi, mereka tetap bisa saling memahami. Berkat jasa dan aksinya, Teddy Kho jadi tokoh favorit saya di buku ini.

Secara keseluruhan, membaca Trilogi Darah Emas memberikan hiburan tersendiri, saat saya mulai jarang membaca buku fantasi. (Padahal genre fantasi adalah salah satu genre favorit saya!) ^^

Sumber gambar di sini.


5 August 2015

[Resensi TRILOGI DARAH EMAS #2] Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus

Judul: Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus
Penerjemah: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-5736-6
Harga: Rp 10.000,00 (obral)



[Apa hubungannya jawaban atas teka-teki itu dengan nafkah untuk Sakim? Pasalnya, hingga buku ketiga berakhir dan teka-teki itu terjawab, tak ada perihal tentang nafkah disinggung. Atau mungkin saya yang melewatkannya, hmm.]

Dua puluh satu tahun setelah bayi Mempelai Naga lahir.

Putri Naga ternyata selamat, setelah ibunya dibunuh Datuk Itam pasca-melahirkan. Saat itu, sang bayi tak kunjung membuka mulutnya, sehingga Naga tak bisa memberinya mustika di lidahnya. Alhasil, bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis buta. Leng Cu, nama gadis itu, dibesarkan oleh Rombeng, yang mengaku sebagai kakeknya. Rombeng mengajarinya bela diri dan mengajarkannya bahwa “cacat tidak berarti tidak berdaya, tidak berguna, dan hanya pantas dikasihani” (hal. 28). Selama ini mereka tidak lagi tinggal di Jambi. Setelah Rombeng memberitahu tentang tujuan penting yang Leng Cu bawa sedari lahir sebagai Putri Naga, mereka merantau ke Jambi untuk menggali Kerajaan Kemingking dan menemukan mustika Naga.

Perjalanan mereka tidaklah mudah. Hartanto dan Datuk Itam masih terus melacak keberadaan Putri Naga, meski Datuk Itam punya tujuan lain. Akibat membunuh Mempelai Naga, tujuh sisik Naga tertancap di sekujur sistem pencernaannya dan menimbulkan luka abadi yang hanya bisa disembuhkan oleh Putri Naga. Sementara itu, Hartanto tetap keras kepala, padahal Datuk Itam sudah memperingatkannya untuk menjauhkan cucunya, si Sumbing alias Xander, dari Jambi—dari Putri Naga. Takdir menemukan jalannya sendiri untuk mempertemukan Xander dengan Rigel, ibunya, dan juga dengan Putri Naga.

Ketika Hartanto menyerang rumah Rombeng dan berhasil membunuhnya, Putri Naga berhasil melarikan diri dengan bantuan tiga ekor tikus. Tiga ekor tikus itu, Akyg, Mnem, dan Noakh, sebenarnya adalah pangeran, penasihat raja, dan hulubalang dari Kerajaan Kemingking, yang percaya bahwa Putri Naga dapat membuat mereka menjelma kembali jadi manusia.

Banyak orang menggantungkan nasibnya pada Putri Naga. Namun setelah sisik Naga dari tubuh Datuk Itam berpindah ke tubuh Leng Cu, gadis itu jadi tak sama lagi. Kekuatan jahat Datuk Itam telah mencemarinya, menjadikannya manusia yang haus kekuasaan. Setelah situs Kemingking berhasil digali dengan bantuan Reuben Moore, teman Rigel, yang adalah seorang arkeologis, Putri Naga mengambil mahkota kuno yang seharusnya dikenakan oleh raja yang akan dinobatkan, kemudian menghilang.

***


Novel dimulai dengan adegan ajaib di kebun binatang Jambi, ketika seorang pawang bernama Sakim melepaskan semua hewan di sana. Katanya, seekor harimau bernama Sultan-lah yang menyuruhnya. Sultan juga yang kemudian memberinya teka-teki tentang putri dan raja.

Sejak membaca buku pertama, Mempelai Naga, saya mendapati bahwa penulis piawai dalam memilih adegan pembuka novelnya. Adegan pembuka di buku kedua ini bahkan lebih merenggut perhatian daripada di buku pertama. Jawaban teka-teki Sultan tampak sangat eksplisit. “Putri apa mencari mata” tentu saja adalah sang Putri Naga yang buta, yang sedang mencari mustikanya. Lalu, “tikus apa menobatkan raja” tentu saja si tikus jadi-jadian itu. Namun, tanpa disadari, penulis menebar jebakan di sini. Sang raja yang awalnya saya kira adalah Akyg (karena ia adalah pangeran, jadi seharusnya ia yang menjadi raja di masa mendatang), ternyata adalah makhluk lain.

Banyak tokoh menyesaki plot novel ini. Tokoh-tokoh baru pun bermunculan. Ibaratnya mati satu tumbuh seribu. Satu tokoh mati, tokoh-tokoh baru berdatangan. Sakim, Sultan, tiga ekor tikus, Reuben Moore, Xander, dan Leng Cu sendiri. Keberadaan masing-masing tokoh ini menjanjikan peran penting, meski belum terlalu tampak di buku kedua. Reuben Moore yang muncul untuk membantu penggalian Kerajaan Kemingking tentu saja punya peran penting, tapi motivasi pribadinya belum terungkap. Sakim dan Sultan juga punya peran penting untuk mengungkap siapa raja sebenarnya, meski masih akan terungkap di buku ketiga.

Leng Cu, sebagai Putri Naga tentu saja penting, karena ia menjadi center of attention. Awalnya, ia adalah protagonis cerita. Namun, di akhir buku, penulis memutarbalikkan perannya jadi antagonis. Bukan antagonis murni, sih, lantaran perubahan Putri Naga disebabkan faktor yang tak disadarinya. Bagian perubahan tokoh putih jadi hitam ini sangat menarik.

Tiga ekor tikus muncul sebagai simbol pengharapan dan kesetiaan dalam menantikan keselataman, yang dihadirkan dalam sosok Putri Naga. Bersama dengan situs Kemingking, ketiganya merupakan simbol sejarah yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah modernitas dan masyarakat yang tak acuh.

Xander, muncul dengan dualisme. Di satu sisi, ia harus menjadi cucu yang baik bagi Hartanto, kakeknya, karena ia menyayanginya. Namun, di sisi yang lain, ia sangat tak setuju terhadap keserakahan Hartanto; perusakan lingkungan dan situs Kemingking, juga keabaiannya terhadap para pekerjanya. Xander muncul sebagai simbol akan diri kita, manusia yang ibaratnya berada di pinggir jurang. Kita tahu bahwa perusakan lingkungan terjadi di depan kita, atau bahkan kita sendiri yang melakukannya dengan terpaksa, tapi kita belum berani untuk menghentikannya.

***

Dibandingkan buku pertama, alur di buku kedua ini mengalir dengan tempo yang lebih cepat dan padat. Banyak elemen cerita yang memiliki ceritanya sendiri, tapi berpusar jadi satu dalam konflik utama: pencarian mustika. Alur yang padat ini di satu sisi mendukung kompleksitas cerita dan membantu penulis untuk menceritakan banyak hal dalam jumlah halaman yang relatif tidak tebal. Di sisi lain, diperparah dengan banyaknya tokoh, buku ini berpotensi membingungkan pembaca. Saya sering lupa akan satu tokoh, atau satu adegan yang telah terjadi, hingga harus membolak-balik lembaran buku.

Selain isu sejarah yang telah saya sebutkan sebelumnya, penulis juga kerap menyindir Indonesia. Salah satu contohnya, ketika ada kecelakaan kerja di pabrik kayu lapis Hartanto. Saat itu, Xander yang lama tinggal di luar negeri, menyarankan agar memanggil polisi. Hartanto menolaknya dengan alasan: “Polisi di sini tidak sama dengan di Eropa”. Di benaknya saat itu terbayang penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan polisi atas bayarannya. (hal. 92)

Contoh yang lain adalah tentang isu sumber daya alam. Selama ini Indonesia terlalu percaya diri akan kekayaan sumber daya alamnya, sehingga menghamburkannya tanpa rasa berdosa.


Selain itu, penulis juga seperti berusaha mengangkat nama baik wartawan.


Seperti biasa, tulisan Meiliana K. Tansri penuh dengan bahasa baku yang mudah dimengerti dan anti typo. Namun, ada satu kalimat yang gagal saya pahami.
“Membohongi Hartanto adalah tindakan berisiko, tetapi Datuk Itam merasa tumpukan tahun lalu di belakang namanya sudah cukup akomodatif untuk mengganjal jiwa kalau kemarahan Hartanto menerjangnya.” 
(hal. 121)
Hmm, “tumpukan tahun lalu” maksudnya apa, ya?

Secara keseluruhan, saya lebih menikmati buku kedua ini daripada yang pertama. Pada akhirnya, saya akan menutup resensi ini dengan satu teriakan, “Temukan raja!”

Sila kunjungi tautan ini untuk membaca resensi buku pertama, Mempelai Naga. ^^

 
Sumber foto di sini.

24 July 2015

[NEW BUDDIES] Gramedia Book Fair - 60,000 Rupiahs for Four Books

It's been a while since I bought new books the last time. For I still have a bunch of new wrapped books that I even don't unwrap yet, I decided not to buy new books for a while. I can't hold to not buy a cute dress I really wished for, with a discount label put on it. But, it's harder to hold myself when I am in the midst of a lot of books at a book fair. Yeah, if you a kind of heavy bookworm or book hoarder like me, you definitely know that feeling.

An early evening at July 15. My motorcycle drove me to Gramedia Book Fair. It was the first time I went to a book store since... I even forgot. At first, instead of usually I did, walked directly to the fiction book section, I went to the non-fiction section. My eyes were caught by a thick, grey-covered book with a Nazi symbol on its front cover. It was an Indonesian-translated Mein Kampf. I wanted to read what was inside Hitler's mind, and I certainly had bought that book if only it was sold at a discount. Yeah, my wallet wasn't at the good condition. Oh, holy crap, what a book fair with a book without discount? It was my thought at that time. Hahaha. 

Then I moved to fiction section, and found this trilogy, wrote by an Indonesian author, Meiliana K. Tansri. This was a myth-fantasy trilogy, about a spirit in a power of nature, called Naga (dragon), who took a revenge against the antagonists who destructed the nature for personal advantages and economical profits. Actually, I have ever seen these books a long time ago, at Gramedia Book Fair too. I have been attracted since before, but I didn't buy them because the series were not complete. This time, fortunately, the trilogy was complete, and it was only 10,000 rupiahs each! Wait no more, just grab it! That was what I thought. 

(And these are the books one by one.)

The 1st book, titled Mempelai Naga.
You can find my review here.
The 2nd book, titled Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus.
I have just finished this book last night.
The review will come up soon.

The 3rd book, titled Sembrani.
I'll read this last book soon.
 Then, with a hand full of those three books, I wandered through the aisles and found this thick book--maybe twice the thickness of that Mein Kampf. I thought that I need to improve my self a lot lot more, and maybe this book could help me. Actually now I'm reading How to Win Friends and Influence People in The Digital Age, but that book is not powerful enough to ignite a fire inside my soul *uh-oh, I'm exaggerating now*. But, the main point of me buying this was because I just needed to pay 30,000 rupiahs for this huge and thick book, and by a scanning through its table of contents, this book seemed very communicative. Let's see then.


Well, those are my new buddies this month. What about yours? I bet you buy a lot more than me >,<

20 July 2015

[Resensi TRILOGI DARAH EMAS #1] Mempelai Naga

Judul: Mempelai Naga (Trilogi Darah Emas #1)
Penulis: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-5723-6
Harga: Rp 10.000,00 (obral)
Rating saya: 3/5

"Kau tahu kenapa kau dinamai Cen Cu, mutiara? Karena kau adalah luka bagi kerang yang menciptakanmu. Karena kau lahir setelah merenggut nyawa ibumu." 
(Guat Kim, hal. 181)

Jambi, tahun 1987.

Cen Cu, seorang gadis yang tinggal di dusun Kempuh bersama ibu tirinya, Guat Kim, dan adik-adik tirinya, sedang mencari Tibu, induk babinya yang terlepas ke hutan. Terkejutlah dirinya menemukan babi itu dengan seorang laki-laki asing yang tampan. Awalnya Cen Cu tidak percaya ketika laki-laki itu mengaku diri sebagai Naga, sang penguasa alam, roh langit dan bumi. Sebuah pembuktian yang ditunjukkan sang Naga atas kekuasaannya mengendalikan alam, membuat Cen Cu mau tak mau percaya. Sang Naga datang untuk menjemput mempelainya yang telah terpilih, Cen Cu.
“Aku mendampingi mereka melalui seorang perempuan yang lahir dari benihku, yang dilahirkan seorang perempuan terpillih. Dia akan membawa darahku dalam tubuhnya, yang akan diwariskannya pada semua perempuan keturunannya. Jika mereka mati tanpa memiliki anak perempuan, garis darah itu akan terputus. Dan aku akan mencari seorang pengganti. Seorang perempuan yang akan melahirkan anak perempuan untuk mewarisi darahku.” 
(Naga, hal. 41)
Anak perempuan yang akan dilahirkan oleh sang mempelai itulah yang nanti akan merebut kembali mahkota di dalam kerajaan yang dimusnahkan para manusia jahat untuk mendirikan pabrik kayu lapis. “Kerajaan” yang dimaksud itu adalah situs purbakala di Kemingking, yang konon terdapat di bawah bangunan pabrik. Si hartawan pemilik pabrik itu, Hartanto, telah mendengar bahwa Naga akan menghabisi keluarganya. Datuk Itam, dukun komplotannya telah mengetahuinya lewat ramalan menggunakan ampas di cangkir kopinya. Bersama dukun itu, Hartanto melakukan segala cara untuk menemukan si mempelai Naga yang terpilih, sebelum gadis itu mengandung. Naga mengelabui Datuk Itam, sehingga mereka terlambat mengetahui setelah Cen Cu mengandung.

Rigel, seorang wartawati yang berusaha mengungkap kebenaran eksistensi situs purbakala Kemingking, tanpa sadar menjadi bagian dari rantai berbahaya yang menghubungkan Hartanto, Cen Cu, Naga, dan calon putri Naga. Hubungan terlarang dengan Betel, anak Hartanto, yang ternyata adalah saudara tirinya, membuatnya hamil. Datuk Itam memperingatkan Hartanto bahwa kelak anak Rigel itu akan menjadi sekutu Naga. Namun, Hartanto punya rencana sendiri untuk Rigel.

Mengetahui kehamilan anak tirinya, Guat Kim mengusir Cen Cu dan menitipkannya pada Rombeng, seorang pemulung, yang ternyata bukan pemulung biasa. Hartanto dan Datuk Itam berhasil sampai di rumah Rombeng, tepat ketika Cen Cu sedang berusaha melahirkan.

***

Pada suatu sore, di Gramedia Book Fair, di tengah lautan buku, saya menemukan buku trilogi ini, lengkap. (Biasanya kalau di acara obralan, buku seri semacam ini jarang ada yang lengkap.) Dan karena harganya hanya sepuluh ribu rupiah per buku, maka saya memutuskan tak ada salahnya untuk membeli. Saya tertarik akan unsur fantasi, lokalitas Indonesia, dan budaya orang Tionghoa Jambi yang mungkin jarang diangkat jadi ide cerita novel. Ini adalah kali pertama saya membaca karya Meiliana K. Tansri, dan ya, yang menjadi cirinya adalah penggunaan bahasa yang amat baku. Namun, di tangan penulis, gaya bahasa baku tersebut ringan dibaca, mudah diikuti, dan tidak membosankan.


Hitam dan putih dalam satu elemen


Penulis mengombinasikan sifat-sifat yang bertolak belakang dalam tokoh-tokohnya. Memang tak seharusnya para tokoh digambarkan melulu hitam saja atau benar-benar putih tanpa cela. Di dunia nyata, semua manusia pasti memiliki sisi gelap dan terang dalam dirinya, bukan?

Contohnya, tokoh Guat Kim. Di bagian awal, yang terlihat dari karakternya adalah sosok ibu tiri yang galak, suka membentak dan mengomeli Cen Cu. Di bagian tengah, bermula dari saat Cen Cu menghilang selama semalaman di hutan, Guat Kim mulai menunjukkan sifat lembutnya. Setelah ia marah-marah ketika mengetahui kehamilan Cen Cu, sebenarnya Guat Kim mengkhawatirkan keadaan anak tirinya itu.

Sementara itu,  karakter Cen Cu juga menunjukkan indikasi serupa. Gadis ini menancapkan sosok gadis penyabar, rajin, dan sederhana tapi cerdas dalam persepsi pembaca. Tapi, ada suatu adegan yang merekam keganasan Cen Cu saat murkanya tak tertahankan terhadap A Lung, adik tirinya yang paling besar. Lalu, sepertinya “cerdas” juga tak terlalu menggambarkannya, karena kebaikan hati membuatnya membahayakan diri sendiri. Naga sudah memberitahunya akan bahaya menggunakan sisik emas untuk membeli obat, tapi dia tetap melakukannya.

Lain lagi dengan Rigel. Di satu sisi, ia adalah wartawati yang cerdas dan pantang menyerah. Namun, di sisi lain, ia kecanduan alkohol. Saking pantang menyerahnya mencari berita, ia tak segan tidur bersama dengan narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Sementara itu, Hartanto konstan sebagai antagonis yang kejam dan menghalalkan segara cara untuk mempertahankan kekayaan duniawinya. Di samping itu, ia juga gegabah dan beberapa kali mengabaikan nasihat Datuk Itam. Sebagai komplotan Hartanto, Datuk Itam mau tak mau terposisikan sebagai antagonis juga. Namun, lain dengan Hartanto, dukun ini lebih cerdik dan bisa dibilang bagian "otak" dari komplotan itu, sedangkan Hartanto adalah bagian "otot".

Awalnya oke, tapi kok lama-lama...



Adegan yang menjadi pembuka novel, ketika Cen Cu mencari Tibu di hutan, cukup menimbulkan keingintahuan dan keinginan untuk terus membaca. Alurnya bertempo pas, tidak lambat dan juga tidak cepat, tapi pas untuk menceritakan hal-hal yang perlu diceritakan tanpa berpanjang-lebar dan berbelit-belit. Konflik utamanya hanya satu, yaitu Naga cs versus Hartanto cs, tapi meluber hingga ke konflik-konflik kecil yang menyertainya.

Sayangnya, menginjak bab 8, atau sekitar 2/5 tebal buku, saya mulai meragukan logika cerita. (Cerita fantasi sekhayal apa pun tetap harus logis.)

Pertama. Keraguan saya ini bermula ketika Guat Kim sakit dan Cen Cu meminta pertolongan Naga karena ia tak punya uang untuk membeli obat yang mahal. Dalam novel ini, Naga adalah roh langit dan bumi, penguasa alam yang seharusnya amat sakti. Alih-alih langsung menyembuhkan Guat Kim dengan kekuatannya, ia malah repot-repot memberikan tiga sisik naga emas pada Cen Cu untuk membeli obat. Nah, anehnya lagi, setelah itu si pemilik toko obat itu langsung melaporkan tentang sisik naga itu pada Hartanto. Padahal sebelumnya tidak ada keterangan kalau mereka saling kenal, atau keterangan bahwa Hartanto memberitahunya bahwa ia sedang mencari mempelai Naga.

Kedua.  Tentang kelemahan Naga yang dimanfaatkan Datuk Itam untuk membunuh tubuh manusianya.
"Naga hanya bisa mewariskan darahnya selama tubuh manusianya masih ada. Kalau tubuh manusia itu mati, dia akan kehilangan penghubung dengan raga seluruh manusia di bumi. Tidak akan ada lagi darah emas.  Campur tangan Naga dalam kehidupan manusia akan berakhir." 
(Datuk Itam, hal. 118)
Padahal, sebelumnya Datuk Itam menjelaskan pada Hartanto seperti ini, "Naga bisa mengambil bentuk rupa apa pun, termasuk manusia." (hal. 83). Jika Naga terjebak jerat sakti yang dibikin Datuk Itam hingga tubuh manusianya mati, seharusnya Naga bisa berpindah ke rupa lain, bukan? Jadi mengapa Naga sebegitu lemahnya?

Setelah terjerat, Naga meminta tolong Cen Cu untuk melepaskan jerat itu. Caranya adalah melumurinya dengan remasan daun delima merah. Kebetulan, tiap ke hutan Cen Cu membawa daun itu sebagai "penangkal supaya tidak diganggu setan" (Guat Kim, hal. 129). 
"Cen Cu mengeluarkan ranting delima merah dari sakunya, lalu meremas daun-daunnya sampai hancur. Dari seluruh daun di ranting itu dia hanya mendapatkan pulungan seujung jari." (hal. 126)
Anehnya, "seujung jari" itu bisa digunakan untuk melumuri seluruh tali jerat, yang bisa dibilang panjang, karena ia "membelit hampir seluruh tubuh Naga" (hal. 125).

Saya juga sempat bingung karena tiba-tiba disebutkan bahwa Betel meninggal. Kenapa meninggal? Hmm, ternyata di bab selanjutnya baru disebutkan lagi alasan Betel meninggal, hanya secara sekilas.

Bersambung ke buku kedua...


Terlepas dari semua hal yang kurang logis menurut saya, buku ini tetap memberikan kesenangan tersendiri saat membacanya. Terlebih karena gaya penuturan penulis yang sederhana dan enak diikuti. Unsur-unsur budaya orang Tionghoa dari kampung Kumpeh pun tergambarkan dengan apik. Latar tempatnya, kandang babinya, hutannya, kebun sawinya, meski dideskripsikan seperlunya, mampu menyeret imajinasi saya untuk seolah melihat langung kehidupan sehari-hari Cen Cu yang sederhana dan penuh kerja keras.

Saya berharap buku kedua lebih memuaskan ^^. Oh iya, pihak penerbit melabeli novel ini "dewasa", mungkin karena keliaran Rigel, yang hanya digambarkan sekilas-sekilas sebenarnya. Bandingkan dengan Marry Now, Sorry Later-nya Christian Simamora, yang benar-benar pantas dilabeli dewasa (",).

Bocoran: buku kedua bertokoh-utamakan Leng Cu, putri Cen Cu dari sang Naga.
Sila baca di tautan ini. ^^

bloggerwidgets