11 August 2015

[Resensi] Burung Ajo Kawir yang Berhibernasi, Akankah Bangun Lagi?

Follow my blog with Bloglovin

Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Editor: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 243 halaman
Harga: Rp 58.000,00
ISBN: 978-602-03-0393-2
Rating saya: 3/5

Si Burung Ngambek, Lalu Tertidur Lelap

Ketika masih berumur belasan, bersama Tokek, Ajo Kawir yang sedang mengintip seorang perempuan gila, Rona Merah, di dalam rumahnya, malah mendapat penglihatan mengejutkan. Mereka menjadi saksi atas pemerkosaan yang dilakukan dua orang polisi terhadap si perempuan. Ajo Kawir, yang telat bersembunyi, tertangkap basah oleh si polisi. Sejak saat itu, kemaluannya ngambek, meringkuk, dan tak bangun-bangun sampai bertahun-tahun kemudian. Segala usaha telah dilakukan, tapi si burung tetap terdiam. Suatu kali, Ajo bertemu dengan Iteung, seorang gadis yang mahir bela diri. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ya, menikah, meski keduanya tahu bahwa si burung masih tertidur. Maka, tak heran, Ajo Kawir murka ketika mengetahui bahwa Iteung hamil. Ajo pergi dan memulai hidup baru sebagai sopir sekaligus pemilik truk.

Filosofi Burung dan Ketabuannya


Sejak memandang sampul depannya, insting saya mengatakan bahwa ini novel dewasa. Eh, setelah membaca beberapa halaman saya baru tahu, di sampul belakang ada label 21+. Wow, 21+ ini tidak main-main kedengarannya, ya? Hmm, tenang saja, saya sudah 22 tahun, dan menurut saya label itu terlalu lebay. Orang Indonesia sering terlambat dalam banyak hal dibandingkan orang-orang di negara maju. Di saat ilmuwan Belanda sudah menciptakan turbin angin tanpa baling-baling, dan ada lulusan Royal College of Art London asli Cape Town menemukan lembaran plastik yang mampu memanen energi angin, di bangku kuliah saya baru belajar merancang turbin angin konvensional. Di saat para remaja AS menerima pendidikan seks, para orang tua di Indonesia malah menabukan hal-hal berbau seks pada anak-anak remajanya. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor mengapa remaja seperti Ajo Kawir dan Tokek, digiring rasa penasaran, malah terjerumus dalam penyimpangan sosial. (Sebelum punya hobi baru mengintip Rona Merah, mereka suka mengintip Pak Kepala Desa dan istrinya ketika sedang berhubungan badan.)

Saya mengapresiasi keberanian penulis untuk mengangkat hal-hal yang umumnya ditabukan tersebut ke dalam karyanya (plus penggunaan istilah-istilah vulgar, seperti "kontol" dan "memek"). Dikarenakan anggapan tabu, maka seolah burung selalu salah, padahal ia hanya melakukan tugasnya sebagaimana tujuannya diciptakan oleh Sang Pencipta. Nah, akhirnya, burung pun yang harus menanggung semua ketika Ajo Kawir diam saja melihat tindak kriminal dilakukan di hadapannya oleh penegak hukum. Setelah itu, burung tetap tidur selama Ajo hidup dengan melakukan hal-hal buruk (menghajar orang tak bersalah tiap dia kesal, membunuh si Macan). Ketika berumur tiga puluhan, Ajo telah mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan setelah meniduri perempuan buruk rupa, burungnya bangun lagi. Dalam konteks ini, burung merupakan simbol nurani.

"Si Burung menempuh jalan sunyi. Tidur lelap dalam damai, dan aku belajar darinya. […] Aku berhenti berkelahi untuk apa pun. Aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung." 
(Ajo Kawir, hal. 123)
Burung Ajo Kawir seolah menyindir burung-burung lain yang digunakan dengan tidak semestinya, misalnya untuk memperkosa. Bahwasanya masih ada burung seperti milik Ajo Kawir, yang lebih memilih untuk bertapa setelah menjadi saksi perbuatan asusila.

Bagi Ajo Kawir, kemaluan adalah otak kedua manusia. Ada benarnya, bukan? Kalau sudah terbimbing nafsu, maka gelaplah mata dan logika. Tubuh manusia tahu apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara menuntutnya, tak peduli sesuci apa pun manusianya. Penegak hukum pun tak luput dari nafsu berahi (seperti dinyatakan melalui dua orang polisi yang memerkosa Rona Merah).

"Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun ini." 
(Ajo Kawir, hal. 126)

Rezim Kekerasan

Pernah menonton atau membaca Game of Thrones? Novel ini agak mirip dengannya dalam hal menggambarkan segala keburukan dunia (meski tidak sekejam dalam Game of Thrones). Bayangkan, tiga tokoh perempuan dalam novel ini pernah mengalami hal-hal buruk. Pertama, Rona Merah. Setelah suaminya meninggal dan jadi gila, ia diperkosa. Kedua, Iteung. Saat remaja, ia pernah dijadikan pemuas nafsu berahi sang guru. Namun, tak seperti Rona Merah, Iteung punya kekuatan untuk melawan. Setelah menguasai ilmu bela diri, ia membalas dendam pada sang guru. Ketiga, Nina, gadis yang disukai Mono Ompong. Dalam konteks Nina, ia memang menjerumuskan diri sendiri pada aneka jenis burung.

Kekerasan menjadi menu utama di dalam cerita. Tokoh-tokohnya bertindak seolah segala hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Untuk membalas dendam atas perlakuan tidak senonoh yang dilakukan Si Kumbang terhadap Mono Ompong, Mono Ompong sengaja mencelakakan lelaki itu dan truknya. Bahkan, menjadi jagoan adalah obsesi kedua Mono Ompong (obsesi pertamanya adalah Nina).

Para sopir truk juga senang melihat perkelahian duel yang dijadikan tontonan. Ironisnya, pertunjukan kekerasan itu dilegalkan dan diawasi oleh para tentara.

Teknik yang Unik dan atau Pelik

Ini novel pertama Eka Kurniawan yang saya baca. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana jika saya menghakimi gaya penulisan beliau hanya dari satu novel ini saja. Namun, izinkan saya membagi apa yang saya temukan, tanpa menghakimi.

Novel ini tersusun atas kalimat-kalimat berdiksi sederhana, dan bahkan terkesan kaku. Seolah kalimat yang digunakan seorang guru untuk mengajar pola kalimat SPOK pada murid-murid sekolah dasar. Miskin metafora dan diksi yang nyeni. Saya menduga, penulis memang sengaja menggunakan gaya bahasa seperti ini, mungkin agar tulisannya unik.

Kemudian, awalnya saya agak terganggu akan kecenderungan penulis untuk melenyapkan tanda petik yang menandai ucapan langsung. Namun, lama-lama saya terbiasa dan hal itu tak menjadi masalah lagi. Meski begitu, bagi pembaca lain barangkali hal ini menyusahkan. Contohnya adalah seperti ini:

Ia menemukan Pak Lebe sedang memberi makan ikan-ikan di kolamnya. Selamat sore, Pak, ada yang ingin aku bicarakan. 
(hal. 54)


Ajo Kawir bilang, cepat atau lambat, mereka harus keluar dari rumah itu dan mencari rumah sendiri. Iteung bilang, tak usah buru-buru. Papa dan Mama senang mereka tinggal di sana. Lagipula kita tak punya uang banyak, kata Iteung. 
(hal. 114)
Penulisan alur yang meloncat-loncat, maju-mundur-maju, atau sesuka penulis, di satu sisi mampu membangun suspense tersendiri dan membuat pembaca tidak bosan. Adegan pertarungan duel antara Mono Ompong (kenek truk Ajo Kawir) dan Kumbang (sopir truk lain yang sebenarnya ingin mengajak duel Ajo Kawir, tapi selalu dicuekin) adalah salah satu contohnya. Saat bertarung, pikiran Mono Ompong melanglang ke masa lalu, saat ia masih di kampung halaman dan menaksir seorang gadis, yang ternyata adalah perek. Juga bagaimana ia kehilangan dua gigi depannya, dan berkhayal mengalahkan Kumbang. Suspense lain juga tercipta tanpa alur bolak-balik, saat truk yang disopiri Mono Ompong beradu kecepatan dengan truk si Kumbang.

Di sisi lain, penulisan alur seperti ini cukup membingungkan. Pembaca akan dengan mudah kehilangan jejak jika tak berkonsentrasi atau tidak membiasakan diri.

Akhir kata, pesan yang diusung novel ini melalui alegorinya memperkaya pengalaman membaca saya. Adegan-adegan menegangkan di dalamnya hidup nyaris sempurna, sehingga dapat mengompensasi kebosanan yang mungkin terjadi akibat sudah kenyang akan adegan kekerasan, atau teknik penulisannya yang nyentrik.***
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets