Showing posts with label persahabatan. Show all posts
Showing posts with label persahabatan. Show all posts

9 January 2016

[Resensi DEAR ELLIE] Jangan Berlaku Seolah Dirimulah Pusat Alam Semesta, Ellie!

Judul: Dear Ellie
Penulis: Puji Eka Lestari
Editor: Avifah Ve
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Desember 2015
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-391-034-2
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3,5/5

"Perhaps our eyes need to be washed by our tears once in a while, so that we can see life with a clearer view again." (hlm. 226)

Ellie McAdams, seorang gadis 17 tahun, memiliki sahabat baik bernama Julie. Mereka berdua sama-sama suka membaca novel remaja, dan suka menghabiskan waktu bersama di kamar Julie, saling berdiam diri, larut dalam novel masing-masing. Ia tinggal di Dublin, dan sangat menyukai kota itu, dengan segala kelabilan cuacanya. Di musim panas yang seharusnya cerah itu, ia harus rela mengarungi hari beratapkan awan mendung, atau malah hujan tiba-tiba. Meski sudah 17 tahun, kedua orang tuanya masih bersikap terlalu protektif padanya. Pada liburan musim panas itu, ia telah membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan. Salah satunya, yang membuat ia bergairah adalah bergabung ke Klub Membaca, tentunya bersama Julie. Well, gairah itu dinodai oleh kegusaran begitu Ellie mengetahui bahwa yang menjadi mentor adalah Dean, kakak Julie, cowok paling menyebalkan yang pernah ia kenal.

Lupakan Dean yang menyebalkan, karena ada Elliot, yang tampan dan manis. Well, Elliot adalah anak pemilik O'Brien Pastry--tetangganya--cowok yang telah membuat Ellie jatuh cinta sejak lama. Yah, sayang sekali, Ellie adalah gadis yang sangat kurang berani, termasuk dalam memperjuangkan cintanya. Ia belum pernah mengungkapkan perasaan pada Elliot, sehingga begitu senang ketika Elliot mengajaknya... kencan? Kencan pertama mereka berjalan dengan sukses, pokoknya sukses membuat Ellie berbunga-bunga. Namun, bencana mulai menampakkan diri saat Ellie seharusnya pergi kencan kedua kalinya dengan Elliot. Dean menantangnya hadir di acara pembacaan puisi di Bailey Bar Cafe, pada Minggu sore (juga). Ellie, yang dengan mudah terpancing oleh tantangan bernada meremehkan Dean itu langsung mengiyakan, sebelum ia ingat dengan kencannya. Apa yang harus ia lakukan? INI BENCANA!

Sebenarnya solusinya tidak rumit, sih, seperti saran dari Adam, seorang teman Ellie yang tinggal di Zurich, dan rajin berkorespondensi dengannya.
1. Membatalkan janji dengan Dean dan pergi bersama Elliot.
2. Membatalkan janji dengan Elliot dan pergi bersama Dean.
3. Mengundur atau memajukan jadwal kencanmu dengan Elliot.
4. Mengatur janji dengan Dean untuk pergi dengannya pada kesempatan lain.
5. Mengajak Elliot datang ke tempat yang akan kau datangi bersama Dean.
6. Tidak pergi dengan keduanya.
(hlm. 129)

Well, tapi namanya bukan Ellie jika tidak memperumit persoalan! Ia malah meminta (memaksa) Julie menggantikannya bertemu dengan Elliot (sepertinya bukan keputusan yang benar, ya), sementara ia sendiri pergi ke Bailey Bar Cafe dan membacakan puisinya di sana (yang menurutnya teramat jelek--dibandingkan dengan puisi Dean). Ternyata bencana sungguhan baru datang kemudian.

***
Tak ada ekspektasi apa pun ketika saya mulai membaca novel romance remaja ini. Bisa dibilang, saya hanya terjebak oleh tutur kata penulis yang melompat-lompat lincah dan menyenangkan, sehingga mampu menyeret saya untuk terus membaca. (Sebenarnya malam itu saya harus membuat slide presentasi untuk seminar pra-pendadaran keesokan harinya. Tapi, karena sudah kepalang tanggung mengintip bab-bab awal novel ini, akhirnya saya putuskan untuk langsung menyelesaikannya malam itu juga. Baru setelah itu, saya akan meneruskan slide presentasi saya :3. Saya memang tidak tahan godaan :3.) Saya jarang membaca novel romance remaja (kecuali dulu, ya, waktu masih SMA), pun saya belum pernah baca karya-karya Rainbow Rowell--yang kata orang bagus-bagus. Nah, di dalam novel ini, karena Ellie dan Julie sama-sama suka baca novel remaja, maka penulis banyak memberikan daftar novel favorit mereka, salah satunya adalah Eleanor & Park karya Rainbow Rowell. Dari situ, otomatis saya menduga bahwa sang penulis sendiri mungkin juga mem-favoritkan daftar novel tersebut :3.

Tema persahabatan dan percintaan memegang kendali atas tubuh novel ini. Keduanya berbagi dominansi, yang cukup sama besar. Tema universal ini bukanlah tema unik, tapi selalu ada hal-hal baru yang bisa digali. Nah, untungnya, penulis menampilkan sastra sebagai sub-tema (meski saya juga tak tahu pasti, apakah novel pop remaja tergolong sastra atau tidak), yang mengiringi tema utama secara nyaris tak kentara, tapi berperan kuat dalam perkembangan plot dan karakternya. Misalnya, Ellie dan Julie memiliki chemistry tersendiri berkat kesukaan yang sama akan novel-novel remaja.

"Aku dan Julie telah menghabiskan waktu beratus-ratus jam untuk membaca novel-novel remaja di kamarnya.... Tidak melakukan apa-apa selain membaca, aku dengan novelku dan dia dengan novelnya. Kami berbagi keheningan bersama, terkadang tertawa seorang diri..." (hlm. 11)

Contohnya lagi, bencana tak akan menimpa hidup Ellie jika ia tak bergabung dengan klub membaca, atau jika ia tak meladeni tantangan Dean untuk membaca puisi di Bailey Bar Cafe. Sub-tema kedua adalah pencarian jati diri tokoh Ellie, bagaimana akhirnya dia menyadari bahwa pusat masalah bukan berada di luar dirinya, melainkan di dalam dirinya sendiri.

"Julie adalah gadis paling berani yang pernah kukenal. Dia tidak pernah membiarkan kebahagiaannya disetir oleh orang lain. Dia tidak pernah mengizinkan seseorang untuk merusak hidupnya dan menghancurkan hari-harinya. Yang paling penting, dia memiliki kemampuan yang sangat ingin kumiliki. Dia berani melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan tanpa memikirkan bagaimana pemikiran orang lain tentangnya. Dia selalu penuh percaya diri." (hlm. 102)

Karakter Ellie dan Julie digambarkan berseberangan. Namun, saya pasti senang sekali punya sahabat seperti Julie, yang tidak segan-segan mengatakan kebenaran menyakitkan di depan wajah sahabatnya. Dia selalu mendorong Ellie untuk berani, termasuk berani mengatakan perasaannya pada Elliot.

"You need to be brave. Kau harus berani." (Julie, hlm. 126)

Sayangnya, sifat pemalu dan kurang percaya diri yang bercokol dalam diri Ellie memantulkan semua dorongan Julie. Menggunakan sudut pandang orang pertama Ellie, pembaca diajak untuk menyelami pribadi remaja Ellie dengan mendalam. Karakter Ellie terbentuk dengan baik, contohnya dari sikapnya yang pemalu, mudah terprovokasi oleh Dean, kurang berpikir panjang, dan suka memperumit masalah (seperti saya tulis di bagian sinopsis). Di salah satu adegan karakternya jadi terlalu lebay dalam menyikapi masalah, yaitu saat ia akhirnya mengetahui bahwa Dean-lah yang akan menjadi mentor klub membaca (hlm. 65). Ia juga menjadi tergantung akan keberadaan Julie. Lalu, di bagian konflik utama, terlihat jelas karakter Ellie yang sesungguhnya: egois. Meski begitu, bukan berarti karakter Ellie tak memiliki kualitas. Ia memiliki otak yang kritis, khususnya dalam hal kritik sastra.

Karakter para cowok, Elliot dan Dean, bisa dibilang berseberangan juga. Pasti tak jarang pembaca menjumpai kisah semacam ini: seorang gadis harus memilih dua lelaki; yang satu bersikap sangat manis, sedangkan yang lain sangat menyebalkan. Well, dua novel Julie James yang telah saya baca (ini dan ini) pun memiliki benang merah seperti ini. Bisa ditebak juga, kan, akhirnya siapa yang dipilih si gadis--alias Ellie?

Baik Dean, maupun Elliot, sama-sama memiliki kriteria "manis" tersendiri. Elliot bersikap "manis" secara blak-blakan, sedangkan Dean secara terselubung. Saya tidak bisa tidak klepek-klepek terhadap Elliot, dan jadi delusional berkat segala tingkah Dean.

"Aku sengaja menunggumu di luar. Supaya aku tahu kapan kau akan muncul." (Elliot, hlm. 75--berdiri di luar rumah Ellie selama 20 menit di tengah udara dingin)

(Sebentar, saya mendadak menyadari bahwa nama "Ellie" dan "Elliot" nyaris sama.) Elliot, sosok tampan dan sopan, siapa yang tak akan jatuh cinta padanya? Apalagi Ellie sudah mengenalnya sejak kecil.

Sementara itu, Dean selalu menggunakan jurus ejekan, untuk melukai harga diri Ellie, sehingga gadis itu terprovokasi dan mau tidak mau memenuhi ajakannya. Harus saya akui, Dean jenius. Ia pasti sangat memahami bagaimana Ellie akan menanggapi perlakuan darinya, sehingga ia bisa merancang apa yang akan ia lakukan untuk memancing reaksi gadis itu sesuai keinginannya. Ibaratnya, Dean itu manusia pembuat chip dalam otak robot, sedangkan Ellie adalah robotnya. Hmm, tapi tidak persis seperti itu juga, sih, maknanya. Mirip dengan adiknya, Dean juga penuh percaya diri dan selalu optimis.

"Kalau adikku tidak ingin pergi ke acara itu, kau pasti tidak ingin pergi juga. Benar, kan, Ellie? Kau itu seperti tiang penopang pada kursi, ya? Tidak bisa berdiri kalau sendirian." (Dean, hlm. 113--begitulah caranya mengajak Ellie ke Bailey Bar Cafe)
Ada satu tokoh lain yang berada di balik surat-surat dan serentetan e-mail: Adam. Awalnya, saya mengantisipasi akan kemungkinan adanya surprise di balik tokoh Adam ini. Yah, sepert, mungkin sebenarnya Adam adalah siapa... Sebenarnya Adam juga menyukai Ellie, atau apalah. Namun, ternyata tidak ada. Penulis membiarkan eksistensi Adam hanya sebatas nama dan narasi Ellie. Ia tak pernah muncul secara fisik di dalam novel, padahal perannya cukup penting sebagai "tempat sampah" Ellie.

Nah, kembali ke masalah sudut pandang. Meski penulis menggunakan sudut pandang Ellie, pembaca tetap mampu memahami motivasi dari tindakan para tokoh lain. Di bagian menjelang akhir, penulis dengan baik hati mengungkapkan "penjelasan" dari tiga tokoh penting lainnya (Julie, Elliot, dan Dean). "Penjelasan" ini membuat saya lega dan puas.

Penulis menggunakan plot progresif, dengan sedikit alur mundur yang tergambar melalui selipan ingatan Ellie di beberapa adegan. Meski benang merah cerita terbilang klise, alur yang diciptakan penulis mampu mengajak pembaca untuk terus membalik halaman demi halaman hingga akhir, berkat keterlibatan unsur romance yang kemanisan dan bikin mupeng, juga unsur suspense dan surprise. Contoh suspense adalah ketika Ellie baru mengetahui siapa mentornya. Di situ, pembaca dibuat penasaran dengan tingkah Ellie yang berlebihan, siapa sebenarnya si mentor. Contoh surprise, mungkin "penjelasan" Elliot tentang perasaannya, dan "penjelasan" Dean terkait daftar kegiatan Ellie, cukup mewakili.

Menurut saya, keberhasilan penulis paling besar ada pada penyajian unsur latar tempat. Penulis menggunakan latar konkret, yaitu kota Dublin, Irlandia, beserta objek-objek menarik yang ada di sana. Tak hanya sebatas mengeksplorasi secara deskriptif, penulis juga menggali peristiwa, nama, makna, dsb. di balik pemilihan latarnya. Saya mendapat banyak informasi baru terkait Dublin dan Irlandia dari novel ini. (Saya sudah tahu, sih, kalau Westlife berasal dari Irlandia. Ya, cuma itu yang saya tahu -_-) Kadang, penulis memanfaatkan deskripsi Ellie akan kota tersebut, atau dalam dialog dengan Elliot dan Dean. Namun, paling sering adalah dengan deskripsi Ellie. Di beberapa tempat, Ellie menjadi terlalu informatif, sehingga ia membuat adegan lebih mirip reportase ketimbang novel.

Penulis juga menyertakan elemen-elemen kecil pendukung cerita, seperti permainan "Sebutkan Tiga", yang bikin dialog Ellie-Julie lebih berwarna dan... bermakna.

Misi penulis barangkali mirip dengan keyakinan Ellie, hendak memberitahukan kepada dunia, bahwa novel remaja bukan "sampah". Selalu ada amanat yang bisa diambil dari tingkah para tokoh remaja itu. Bisa dibilang, penulis berhasil menyampaikan amanatnya secara sangat tidak menggurui. Proses perubahan sikap Ellie adalah pelajaran bagi pembaca semua, bahwa diri kita bukanlah pusat alam semesta. Jangan sampai kita bertindak seperti dua ekor ikan muda dalam "This is Water"-nya David Foster Wallace.

There are these two young fish swimming along, and they happen to meet an  older  fish  swimming  the  other  way,  who  nods  at  them  and  says, “Morning, boys,  how's the water?”
And the  two young fish  swim  on  for  a bit,  and  then  eventually  one  of  them  looks  over  at  the  other  and  goes, “What the hell is water?
Meski beberapa elemen bisa tertebak alias klise, tapi saya sangat menikmati membaca novel ini. Novel romance remaja yang saya rekomendasikan untuk pembaca yang jarang membaca genre romance (apalagi yang teenlit) dan ingin mencoba mencicip.

"Hidup ini menyenangkan, Ellie. Bukan begitu? Ketika kau tidak menyukai pilihan yang kau buat, kau masih punya pilihan lain di sekitarmu. Hidup itu selalu tentang pilihan." (Dean, hlm. 214)

7 October 2015

[Resensi KETUA KEDUA] Klub Cosplay, Simbol Ekspresi Diri yang Terkekang

Judul: Ketua Kedua
Penulis: Suci Salihati
Editor: Diaz
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 188 halaman
ISBN: 978-602-296-011-9
Harga: Rp 35.000,00
Rating saya: 3/5


Sejarah Berdirinya Klub Cosplay SMA Terpadu Senarai Cendekia Tangerang



"'Ini yang maksudnya tidak manusiawi! Coba lihat nilainya!'
I Randu Arsakti, rata-rata nilai 99,95" (hal. 4)

SMA Terpadu Senarai Cendekia Tangerang menerapkan peraturan untuk memamerkan nilai rata-rata semua murid di papan pengumuman. Implikasinya adalah ada murid yang malu akan kebobrokan nilainya, tapi ada juga yang biasa saja, seperti Randu. Bagaimana tidak, namanya selalu ada di peringkat I! Hmm, tapi siapa sangka, ternyata si peringkat I punya rahasia jitu bagaimana cara meraih nilai yang tak manusiawi itu...

Hal tersial Randu mungkin adalah rahasianya diketahui oleh Yara, si cewek trouble maker yang sering masuk-keluar kantor guru karena bermasalah. Randu terpaksa menyetujui permintaan Yara agar cewek itu tidak membocorkan rahasianya.

"Yang pertama, bantu aku menyontek. Yang kedua, bantu aku mendirikan ekstrakurikuler baru." (Yara, hal. 17)

Tentunya nama baik Randu di mata para guru memberikan keuntungan bagi Yara, yaitu ekstrakurikulernya akan memiliki peluang lebih besar untuk bisa berdiri! Omong-omong, ekstrakurikuler apaan, sih?

"Jadi, aku mau membuat sesuatu yang kuberi nama Klub Cosplay. Bagaimana?" (Yara, hal. 29)

Terdengar seru, tapi awalnya Randu pesimis... Yah, sebelum ia tahu bahwa ternyata Ayesha adalah teman Yara, dan ia adalah anggota bayangan klub itu! Ayesha, cewek yang ditaksir Randu itu adalah anak Pak Arif, wakil kepala sekolah yang sangat sentimen terhadap Yara. Ayesha harus sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Yara ataupun untuk ikut kegiatan klub. Karena apa lagi kalau bukan ayahnya yang terlalu menekan dan mengaturnya untuk belajar terus dan terus belajar agar nilainya bisa mengalahkan Randu!

"Paling tidak, kalau kamu tidak sanggup peringkat satu, nilai rata-ratamu naikkan sedikit. Jangan bikin Ayah malu." (Pak Arif, hal. 149)

Perjuangan mendirikan klub Cosplay tak mudah, terutama karena interupsi Pak Arif. Namun ternyata Pak Ilmawan, sang kepala sekolah, menyetujui pembentukan klub itu. Pak Arif pun dengan terpaksa menyetujui, dengan syarat Randulah yang harus jadi ketua. Kemudian Yara mencetuskan ide untuk mengikuti lomba cosplay! Keengganan Randu dan jam malam yang Ayesha ketat, apakah bisa mendukung ide Yara tersebut?

***

Background yang Kurang Memadai


Ditujukan untuk pembaca remaja, dengan tokoh utama remaja, dan berlatarkan dunia sekolah, novel ini ditulis dengan gaya bahasa yang "nggak remaja banget", tapi tetap mengalir dan mudah diikuti. Saya bilang "nggak remaja banget" karena, salah satu contohnya, meski latarnya di Tangerang, para tokohnya tidak berbicara memakai "lo-gue". Tenang saja, meski begitu, dialog antartokohnya tetap natural, kok.

Tema persahabatan yang diangkat penulis cukup esensial. Karena meski persahabatan Yara-Randu-Ayesha tak sempurna, mereka sanggup bertahan bersama dalam memperjuangkan klub Cosplay. Terdengar simpel dan remeh memang, tapi Klub Cosplay ini menjadi semacam simbol atas hak kebebasan berekspresi mereka sebagai remaja yang harus diperjuangkan.

Ada beberapa hal yang perlu saya pertanyakan. Mengapa Pak Ilmawan sebegitu mudahnya menyetujui pendirian klub Cosplay? Lalu, sebenarnya apa sih alasan Yara menyebut klub Cosplay itu didirikan demi Ayesha?

Awalnya saya berekspektasi akan mendapati kenyataan bahwa Ayesha ternyata sangat mencintai Cosplay karena suatu alasan yang sangat menarik simpati dan masuk akal, sehingga Yara sedemikian berjuangnya untuk mendirikan klub itu. Saya agak kecewa karena motivasi Yara sendiri juga kurang jelas dan kuat, kenapa ia begitu mencintai cosplay. Mungkin jika penulis menyelipkan hal prinsipiil di baliknya, cosplay akan jadi lebih menarik. Kalau tidak salah, ada bagian yang sekilas menunjukkan bahwa Ayesha menyukai cosplay karena dengan berdandan a la orang lain, ia bisa bebas sejenak dari identitasnya sendiri. Identitas yang sangat menekannya, karena ia adalah anak Pak Arif. Pasti sangat berat menjadi seorang Ayesha. Mungkin motivasi ini akan jadi lebih kuat jika dieksplorasi lebih lanjut.

Selain itu, kurang jelas pula motivasi Randu untuk melakukan rahasianya selama ini. Mungkin keterbatasan halaman memberi andil pada terbatasnya ruang gerak penulis untuk lebih mengeksplorasi motivasi tiap tokoh utamanya.

***

Klub Cosplay, Simbol Inferioritas Seni terhadap Dunia Akademis


Ada beberapa highlight dari novel ini yang perlu saya elaborasikan.


1. Klub Cosplay

Berapa banyak SMA, sih, yang punya Klub Cosplay? Ini unik, menurut saya. Saya menangkap bahwa klub ini dijadikan penulis sebagai simbol dunia pendidikan di Indonesia saat ini, yang masih menganggap dunia/prestasi akademis lebih penting daripada kegiatan berbau seni. Baiklah, mungkin ini salah satu "tangan" pencipta generasi pemuja hardskill. Ilmuwan tanpa hati.

2. Ketiga anggota klub Cosplay

Cuma beranggotakan tiga orang dengan kombinasi yang aneh, klub Cosplay tersebut mampu berdiri.
Pertama, Yara, alias Tiara. Saya tak bisa mangkir bahwa cewek trouble maker itu adalah tokoh favorit saya dalam novel ini. Karakternya mencerminkan pemujaan mutlak terhadap kebebasan, tapi anehnya hati Yara sangat peduli terhadap temannya, bahkan sampai taraf berani berkorban. Ia selalu berusaha melindungi Ayesha dan Randu agar tak turut tercemar nama baiknya akibat ketahuan bergaul dengan seorang trouble maker seperti dia. Selain itu, terlihat dari betapa keukeuhnya dia mendirikan klub Cosplay dan berjuang agar klub itu tetap bisa bertahan, Yara adalah sosok yang pantang menyerah. Penulis berhasil membuat saya merasakan seberapa sebalnya Yara saat Pak Arif menghinanya. Ugh, guru macam apa Pak Arif itu.

"Saya bahkan lebih percaya koruptor yang masuk TV daripada kamu." (Pak Arif, hal. 134)

Dan saya suka cara Yara membantah tuduhan-tuduhan Pak Arif. 

"Anak ini melihat langsung kalau kamu--"
"Apalagi cuma melihat langsung. Jangan bilang juga dari jauh? Bapak termasuk orang kolot yang percaya kalau seeing is believing? Kalau istri Bapak kelihatan mengobrol akrab dengan tukang sayur, Bapak akan menuduh istri Bapak selingkuh? Padahal istri Bapak cuma menawar harga tempe!"
(hal. 135)

Kedua, Randu. Tokoh ini merupakan simbolisasi topeng. Banyak orang tak seperti apa yang terlihat dari luar. Di balik reputasinya yang teramat baik, ternyata ia menyimpan rahasia busuk. Tapi Randu tak akan sebusuk koruptor uang rakyat, kok. Meski diklaim sebagai anak terpandai seangkatan, Randu ternyata adalah cowok pemalu. Telah lama naksir Ayesha, tapi memulai dialog saja ia gemetaran. Meski awalnya ia enggan dan pesimis akan klub Cosplay, akhirnya ia cukup berdedikasi sebagai ketua jadi-jadian. Yah, meski motif awalnya memang karena ada Ayesha, sih.

Ketiga, Ayesha. Ia adalah karakter yang berkebalikan dengan Yara. Kalem dan rajin belajar, serta takut membantah ayahnya (meski Pak Arif terlalu menekannya). Anak ini juga pandai menjahit, lho! Untunglah, nantinya ia bisa membuktikan diri pada ayahnya.

3. Pak Arif, duta orang tua sekaligus guru penjajah kreativitas


Seperti sudah saya singgung sedikit sebelumnya, Pak Arif adalah sosok yang mewakili sekian banyak orang tua dan/atau guru di negeri ini yang hobi memenjara anak-anak muda dalam persepsi "benar" menurut mereka. Berbeda berarti salah. "Benar" menurut mereka dianggap mutlak, padahal itu relatif. Mungkin inilah semboyan yang dianutnya. Jika iya, maka semboyan ini turut bertanggung jawab atas ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara maju, di mana perbedaan dan kreativitas dihargai sebagai kekuatan individu.

***

Last Thoughts


Dibalut dengan cover yang sangat mencerminkan kemudaan, dengan dominasi warna biru muda (yang katanya memiliki makna kejernihan pikiran dan komunikasi, yang mengilhami ekspresi diri), Ketua Kedua tampil menyegarkan. Namun, gambar dua tokoh di cover depan terlihat kurang halus, dan background kertas-kertas hasil ujian yang bertebaran itu agak aneh. Tertulis nama Randu di satu kertas, dengan nilai 9, dan di kertas yang lain tertulis nama Ayesha, dengan nilai 4. Mengingat kepandaian dan ketekunan Ayesha, sepertinya yang lebih cocok mendapat nilai 4 adalah Yara.

Sebagai novel teenlit, Ketua Kedua menyajikan cerita yang cukup berbobot. Dengan agak malu-malu, ceritanya mewakili aspirasi para remaja terhadap "kelaziman" yang mengekang, terutama dalam dunia pendidikan formal. Dengan bersenjatakan tokoh-tokoh yang tak sempurna tapi masing-masing memiliki keunikan, dan persahabatan yang terjalin atas perbedaan, novel ini seolah mengatakan bahwa berbeda itu manusiawi dan kodrati; berbeda tidak salah.

23 August 2015

[Resensi KAFE SERABI] Si Ndut Mencari Cinta

Judul: Kafe Serabi
Penulis: Ade Ubaidil
Editor: Ainini
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: 188 halaman
ISBN: 978-602-279-158-4
Harga: Rp 40.000,00
Rating: 2/5

"Tuhan, apa aku akan selamanya hidup sendiri...?" 
(Anggun, hal. 47)
Di Kafe Serabi, kita akan berjumpa dengan Anggun Amaravati, si gadis semester akhir sebuah perguruan tinggi di Serang, yang sedang nyekripsi. Gadis ini punya tiga keistimewaan:

  1. tubuhnya berukuran jumbo,
  2. punya hewan peliharaan berupa sugar glider, bernama Tata,
  3. hampir jomblo perak.
Ia sering mengalami bully karena bentuk tubuhnya, sejak SMA sampai kuliah. Nia and the gang yang selalu bikin gara-gara dengan mengolok-olok kegendutannya. Sebenarnya, Anggun sudah eneg mendapat perlakuan seperti itu. Untunglah, ia punya dua sahabat yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan: Anton, si Botak dan Mila, si Keriting.

Seperti sudah saya bilang, Anggun nyaris putus asa dengan gelar jomblowati sejati. Nah, suatu hari, Anggun tak sengaja menemukan sebuah tempat nongkrong asyik bernama Kafe Serabi. Siapa sangka, di tempat itu ia bertemu dengan seorang laki-laki blasteran nan tampan yang nantinya jadi kekasihnya. Namun, agak aneh, bukan, jika laki-laki setampan Ken itu tiba-tiba mendekati Anggun? Belum lama kenal pun mereka sudah jadian. Hmm, sepertinya Ken menyimpan rahasia....

***

Kafe Serabi bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!)

Menu Kafe Serabi


Judul dan gambar sampul depannya yang lucu, awalnya membuat saya mengira bahwa novel ini berkisah tentang tokoh utamanya yang mendirikan sebuah kafe berjuluk Kafe Serabi. Jadi ingat novel Kopiss, yang menceritakan perjuangan tokoh utamanya mendirikan kafe. Eh, ternyata perkiraan saya yang suka seenaknya itu salah. Kafe Serabi menjadi penting di novel ini hanya karena ia menjadi tempat bertemunya Ken dan Anggun pertama kali. Hanya itu. Menurut saya, perannya kurang signifikan sampai bisa dijadikan judul.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama dan ketiga berganti-ganti. Sudut pandang orang pertamanya didominasi oleh Anggun, tapi penulis juga menyertakan sudut pandang orang pertama Anton dan Ken.

Mengutip kata Farrahnanda di lembar endorsements, novel ini menyajikan "sepotong kue persahabatan yang renyah". Persahabatan Anggun - Anton - Mila memang menjadi menu utama novel ini. Dan, yah, penulis berhasil menggambarkan persahabatan mereka bertiga dengan cukup manis. Didukung dengan gaya penulisan yang mudah diikuti, kisah ini mengalir dengan lancar.

Persahabatan mereka telah terbukti setia melewati suka dan duka. Pun persahabatan Anggun - Tata terjalin dengan tak kalah manisnya. Meski terhalang oleh komunikasi yang tersendat antara manusia dengan sugar glider, pemahaman antara Anggun dan Tata selalu terjalin. Hmm, kecuali kesalahpahaman Anggun: selama ini ia mengira Tata berjenis kelamin perempuan!

Menu kedua novel ini adalah kisah cinta antara Anggun dan Ken. Tidak bisa dibilang manis. Lebih tepat disebut kisah cinta yang "sarat kebetulan dan kurang logis".

  • Sarat kebetulan
    Berapa persen, sih, kemungkinan kita bertemu seorang laki-laki tampan di sebuah kafe, yang nantinya laki-laki itu akan jadi pacar kita, dan ternyata laki-laki itu punya hubungan dengan sepupu kita?
    Ken ternyata punya hubungan dengan Reza, sepupu Anggun, dan bisa kebetulan mereka bertemu di sebuah kafe. 
  • Kurang logis
    Anggun berkenalan dengan Ken di Kafe Serabi karena sebuah kebetulan yang tak murni kebetulan juga, sih. Terlihat sekali usaha agresif Ken untuk mengenal Anggun lebih jauh. Baru beberapa menit bertemu langsung minta pin BBM. Lalu, belum lama kenal, mereka sudah jadian. Anehnya, Anggun sama sekali tidak curiga. Kalau saya jadi Anggun, pasti saya curiga, dong, terhadap Ken. Laki-laki ini pasti punya maksud tertentu.
  • Bikin saya meringis geli dan nggak tahan. Kisah cintanya terlalu dimanis-maniskan.

Menu ketiga novel ini adalah homoseksualitas. Awalnya nggak nyangka, sih, kalau ternyata penulis membawa saya ke isu tersebut. Soalnya, sejak awal, novel ini kental nuansa persahabatan dan kisah cinta normal. Sebenarnya masalah homoseksualitas ini bisa menjadi twist yang nendang, tapi sayang, sebelum ending, ia sudah tertebak. Selain itu, menurut saya, riset yang dilakukan penulis seputar dunia homoseksualitas kurang matang. Terbukti dari penggambarannya akan sosok Reza, sebagai laki-laki gay yang ngondek alias melambai, pakaiannya bling-bling dan norak. Setahu saya, zaman sekarang para gay berpenampilan bahkan lebih maskulin daripada pria normal. Tak jarang pula seorang gay memiliki fisik pria berotot yang hobi fitness.


Si Ndut Mencari Cinta


Sebelum melangkah lebih jauh, saya mau mengapresiasi usaha penulis untuk menjadikan seorang gadis gendut bahan olok-olokan sebagai tokoh utamanya. Yaaah, seringnya, kan, tokoh utama itu cantik, langsing, supel, gaul, baik hati, dsb. Tapi, bayangan saya akan tokoh Anggun awalnya melenceng, lho. Penulis sering menyebut Anggun bertubuh "bongsor", padahal menurut pemahaman saya, bongsor itu berarti tinggi - besar, tapi tidak gendut. Lah, lalu saya bingung, kok Anggun dipanggil "Ndut"? Dari situlah saya mulai paham *lemot banget, Cung!*.

Tokoh Anggun ini cukup unik, karena perpaduan antara sifat-sifat yang bertolak belakang:

  • Meski sering di-bully dan kadang jadi rendah diri, dia berani juga melawan Nia.
  • Ia juga cukup percaya diri, lho, untuk mengenakan gaun-gaun dan berusaha berpenampilan anggun, sesuai namanya. 
  • Di satu sisi, Anggun ini pemaaf. Terlihat dari di bagian menjelang akhir novel, ketika Nia berubah dan meminta maaf padanya. Dengan besar hati, Anggun pun bersedia memaafkan Nia, dan mereka berdamai.

    Di sisi lain, Anggun sama sekali tidak bisa memaafkan. Terlihat dari perlakuannya terhadap Ken. Huft, padahal Ken sudah berusaha untuk berubah (saya tahu, usahanya pasti sangat berat), dan di antara sekian banyak perempuan cantik yang PASTI MAU SAMA DIA, dia memilih ANGGUN. (Well, jangan hakimi saya dulu. Pendapat saya, perempuan cantik nggak selalu jahat, dan perempuan gendut nggak selalu baik, oke?) Tapi, oh, tapi, setelah Anggun tahu masa lalu Ken, ia tak bisa memaafkannya! Padahal saat itu kondisi Ken sedang lemah akibat kanker hatinya kumat (aduh, lagi-lagi kanker). Saya benar-benar dibikin kesal oleh sikap Anggun ini! Menurut saya, adalah orang berhati sempit yang tak bisa menerima masa lalu seseorang yang telah berusaha berubah dan tulus meminta maaf.
  • Agak matre?! Anggun pernah menulis ini di diary-nya:
"Seorang malaikat nan tampan, tiba-tiba jatuh dalam pelukanku. [...] Terlebih malaikatku ini begitu kaya raya." 
(hal. 82)
Tokoh Nia juga unik. Di awal, ia dikenal sebagai tokoh gadis cantik dan gaul yang suka mem-bully. Eh, ternyata, penulis menyembunyikan rahasia! Nia bersikap jahat terhadap Anggun karena suatu alasan (yang kekanak-kanakan, sih), yang intinya disebabkan oleh rasa cinta terhadap keluarganya. Namun, akhirnya Nia pun mengakui kesalahannya dan berdamai dengan Anggun.


Aroma Kelokalan?


Saya mengulik endorsement yang ditulis oleh Muhammad Rois Rinaldi. Ia menyebut bahwa Ade Ubaidil berusaha "menabur aroma kelokalan". Setelah itu, saya melihat daftar isi, yang penuh judul bab berupa nama angka dalam bahasa Cilegon, yang hampir mirip bahasa Jawa: sios, kalih, telu, papat, lime, dst. Saya jadi berharap akan menjumpai warna kelokalan beneran dalam novel ini. 

Eh, ternyata, selain deskripsi latar tempat di Cilegon dan Serang, yang sangat spesifik, dan beberapa selipan penjelasan kebudayaan, aroma kelokalannya amat encer. Mungkin kalau ada dialog yang berlangsung dalam bahasa Cilegon/Banten, novel ini akan jadi sedikit lebih seru.


Mereka Beneran Anak Kuliahan?


Adegan bully yang dialami Anggun, adegan jambak-jambakan antara Anggun dan Nia, geng-gengan ala anak SMA.... Yakin, novel ini tentang anak kuliahan, bukan anak SMA? *face palm*

If Happy Ever After Did Exist...


Menginjak ending, penulis benar-benar bikin saya kesal. Tapi, sebagai reviewer, saya berusaha tetap objektif (meski asap sudah mengepul keluar lewat hidung dan telinga --  lho, kok kayak naga). Saya curiga, jangan-jangan kisah Kafe Serabi ini tidak terjadi di dunia nyata?! (oh, iya, memang fiksi, sih) Soalnya, happy ever after, kan, cuma ada di dongeng karya H. C. Andersen, misalnya.

Semua berakhir bahagia. Kecuali Ken, yang tetap menderita. Saya sungguh kasihan padanya T_T (sini sama aku aja, Ken >,<). Kecuali Tata juga, yang akhirnya meninggal. Mila, yang awalnya naksir Reza, tapi kecewa setelah tahu Reza kayak apa, akhirnya mendapat gantinya. Anggun kemudian ditembak oleh sahabatnya sendiri. Lantas kedua pasangan BAHAGIA itu melangsungkan pernikahan di hari dan tempat yang sama. 

Tak hanya itu, Saudara-saudara. Anggun menjadi seorang penulis! Kisah pribadinya diterbitkan jadi buku berjudul "Catatan Si Ndut dan Tata". Kemudian ia juga telah menerbitkan buku keduanya, dan sedang menulis buku ketiganya. Saya menutup muka berkali-kali membaca ini. Sebelumnya, nggak ada disebutkan bahwa Anggun bercita-cita jadi penulis. Aktivitas menulisnya hanya diselipkan sedikit, ketika ia mengetik semacam diary. Terus, tiba-tiba ia jadi penulis? Gampang kali jalanmu, Nak! Sebagai penulis, saya tahu banget, untuk jadi penulis nggak semudah itu. Well, saya memakluminya karena bagaimana pun juga, ini hanyalah kisah fiksi. Jumlah halaman yang cukup tipis mungkin juga membatasi penulis untuk lebih mengeksplorasi motivasi para tokohnya.

Berdasarkan segala pertimbangan tersebut, tidak berlebihan jika saya menghadiahkan 2 bintang untuk novel ini.

11 April 2015

[Resensi MARRIED, SINGLE, AND IN BETWEEN] Rahasia-rahasia Gelap Sahabat


Tutup
Penulis: Ca
Editor: Misni Parjiati
Tebal: 460 halaman
Penerbit: Divapress
Cetakan: Pertama, Desember 2014
ISBN: 978-602-255-773-9
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: ****
"Park Yookwon bergerak bagai bidak catur yang arah gerak dan banyak langkahnya ditetapkan tangan-tangan penguasa. Itulah yang ia namakan kebahagiaan. Berada dalam permainan tanpa cacat. Pernikahan itu tak berarti apa-apa selain uang."
(halaman 17-18)

"Jaeho menganggap bantuan kita mengolok-oloknya di depan Remi. Mungkin... sebenarnya kita memang agak berlebihan memperlakukan kondisi Jaeho. Bagaimana bila ia sesungguhnya tak membutuhkan bantuan?"
(Hyesung, halaman 169)

"Karena jika kau ingin mencapai tujuan di seberang lautan itu, mau tak mau kau harus membangun sebuah perahu. Perahu yang kokoh agar sampai dengan selamat." (Hyesung pada Chunhee, halaman 256)
  
"Maaf, selama ini menipu kalian semua... aku pantas mati. Aku lelah..., aku ingin mengakhiri hidup penuh kebohongan ini."
(Shiyoon, halaman 424, 426)
 
Semenjak dunia novel berlatarkan Korea ataupun yang bertokohkan idola K-Pop telah runtuh, saya agak membatasi diri terhadap kontaminasi novel sejenis. Paradigma yang telanjur terbentuk berkat novel-novel K-Pop yang dulu pernah mendominasi pasar fiksi Indonesia (dan sulit menemukan yang berkualitas di antara mereka) membuat saya berhati-hati dalam membaca novel tentang Korea. Novel ini pun awalnya membersitkan sedikit rasa cemas pada saya, bahwa ceritanya akan klise. Hmm, ternyata tidak juga. Paradigma saya tidak selalu benar.
 
Pertama kali menengok sampulnya yang terkesan feminin, saya kira buku ini akan bertokoh-utamakan perempuan. Hmmph, ternyata dugaan saya dimentahkan. Buku ini bercerita tentang lima laki-laki satu geng, yang terdiri dari Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon. Meski mereka telah bersahabat sejak lima tahun lalu, dan sudah saling membagi cerita dan rahasia sejak itu, tak berarti bahwa tak ada lagi rahasia yang tersisa. Nyatanya, kehamilan Gain, istri Yookwon masih menjadi rahasia, sampai Yookwon mengatakannya pada Hyesung. Ketidakharmonisan rumah tangga Chunhee yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja pun akhirnya terbuka di hadapan Hyesung. Permasalahan pernikahan Jaeho dengan Moonhye yang tidak disetujui oleh keluarga sang istri pun muncul kembali ke permukaan. Belum lagi munculnya orang dari masa lalu yang hendak merebut Moonhye dari Jaeho dan berisiko membahayakan nyawa Remi, putri mereka. Namun, barangkali, rahasia terbesar dan tergelap selama ini berhasil disimpan rapi oleh Shiyoon, sebelum pertemuannya dengan Shin diketahui oleh Hyesung.

"Rahasia-rahasia sahabat yang dititipkan padamu" sangat cocok menjadi tagline novel ini. Sebagai satu-satunya yang belum menikah di dalam gengnya, Hyesung turut terseret permasalahan rumah tangga para sahabatnya karena rahasia yang mereka bocorkan (secara sukarela maupun tidak) padanya. Persahabatan mereka, mungkinkah terus bertahan ketika masalah pribadi mengguncangnya? 

***
Buku ini bagaikan empat novelet yang digabung menjadi satu, dengan narator 'aku' Oh Hyesung. Bab 1 didedikasikan untuk Yookwon, bab 2 untuk Jaeho, bab 3 untuk Chunhee, dan bab 4 untuk Shiyoon. Sementara itu, kisah Hyesung memiliki porsi tersendiri yang menggentayangi cerita dari awal hingga akhir. Di bagian awal, penulis langsung menantang pembaca dengan konflik pertemuan Hyesung dengan seorang gadis mencurigakan bernama Nam Sooni, dalam suasana yang tidak menyenangkan pula. Di bagian ini, saya curiga jika nantinya gadis ini malah akan menjadi kekasih Hyesung. Hmm, ternyata benar, tapi proses menuju ke sana dan kejadian-kejadian setelahnya masih tak terduga. 
 
Untuk mengeksplorasi cara berpikir dan bersikap tiap tokoh utama dalam tiap bab, penulis menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga serba-tahu. Di bagian-bagian tertentu, sudut pandang orang pertama Oh Hyesung digunakan. Perpindahan sudut pandang ini berjalan mulus, sama sekali tidak membingungkan. Malah, yang membuat saya bingung adalah informasi setting waktu yang tidak memadai. Saya sering bertanya-tanya, kejadian ini terjadi kapan, ya? Pagi setelah kejadian sebelumnya, atau siang? Parahnya, saya juga bingung, kejadian sebelumnya itu terjadinya kapan (-__-).

Lain halnya dengan setting tempat. Meski tidak terlalu detail, suasana Korea Selatan terasa sangat kental. Kalau menyertakan tempat, pun, misalnya rumah sakit atau hotel atau restoran, penulis tidak menyertakan deskripsi tempat secara berlebihan. Hanya hotel. Hanya rumah sakit. Suasana yang terasa sangat "Korea" itu saya rasa berhasil dibangun oleh dialog, deskripsi, dan perilaku tokoh. Seperti formalitas lintas-umur yang sangat dijunjung tinggi di sana. Juga lewat tokoh-tokoh klise seperti dalam serial drama Korea, misalnya tokoh Chunji (adik Chunhee) yang mewarisi perusahaan ayahnya. Masalah kehidupan materalistis, isu homoseksualitas, dan tren laki-laki Korea menjalin hubungan dengan noona (perempuan yang lebih tua) turut membangun nuansa Korea.

Sayangnya, banyak saya jumpai typo dan kalimat membingungkan nan kurang efektif.
  1. Bekal pengalaman di klub atletik semasa SMU yang dibanggakannya, memberi kemudahan dalam menggerakkan tubuh jangkung yang bagi sebagian orang adalah minus kelincahan. (halaman 14).
    Mungkin lebih jelas jika "tubuh jangkung yang bagi sebagian orang dianggap minus kelincahan".
  2. Yookwon menjatuhkan duduk di lantai lift.... (halaman 15) Lebih baik jika "menjatuhkan" dihilangkan saja.
  3. Setidaknya masih ada tiga perempat bulan lagi sampai mereka cukup besar untuk mewujudkan keinginan tersebut. (halaman 53) Kalimat ini kurang jelas, "tiga perempat bulan" sampai apa? Siapa yang cukup besar? Anak pertama Yookwon bahkan baru berumur beberapa minggu dalam kandungan.
  4. Kalimat racauan Hyesung saat memakan daging rebus yang amat panas di halaman 184 itu sama sekali tidak perlu ditulis, karena pembaca tidak mengerti apa maksudnya? Pun setelahnya, dialog Sooni-Hyesung tak ada kaitannya dengan racauan itu.

Ada juga bagian yang cacat logika. Di halaman 131, ketika Jaeho datang ke kantor Hyesung untuk meminta bantuannya, untuk menjaga Remi sementara sang ayah mencari kerja, ada satu hal aneh. Sejak awal kedatangan Jaeho, tak disebutkan keberadaan Remi. Ketika Jaeho berlutut memohon pada Hyesung pun, anak itu belum disebut (saya bingung, ditaruh mana tuh anak? Digendong ayahnya, atau didudukkan di kursi?). Lalu tiba-tiba "gadis kecil itu tak meronta saat dipindahtangankan pada Hyesung....". Lho, jadi, dari tadi ada Remi?

Mantan pacar Sooni itu Jaehyuk atau Jihyuk? Namanya berubah-ubah sepanjang cerita, mungkin penulisnya ngantuk, hehehe. Pemikiran Hyesung ada yang aneh. Sejak kapan "jalanan bisa jadi sangat licin dan embun yang timbul di kaca mobilku agak mengganggu pandangan" (halaman 304) menjadi alasan untuk membeli mobil baru? Saya juga kurang beruntung, mendapatkan novel ini dengan banyak halaman terlewat dan halaman kosong (ada lebih dari 20 halaman), sehingga saya kelewatan bagian masa lalu Moonhye dengan Sungyeol (duh, jadi teringat anggota boyband Infinite). Ada juga beberapa kata asing yang tidak dilengkapi keterangan. Untungnya, saya cukup mengerti bahasa Korea berkat kefasihan dalam dunia K-Drama dan K-Pop, hehehe.

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang puas.
  1. Bagian akhir bab empat, tentang Shiyoon. Bagian "ayahnya juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kyujong padanya" itu sebenarnya apa, sih? Dugaan saya bisa saja meleset, kan. Mungkin penulis sengaja menyamarkannya, atau membuatnya implisit. Tapi, se-implisit apa pun, seharusnya ia cukup jelas, dong. (Sebenernya, sih, aku sebel karena penasaran, yang kupikirin bener nggak, haha).
  2. I need more details! Terutama tentang deskripsi fisik para tokoh (terutama kelima laki-laki itu). Yah, karena, penggambaran fisiknya sangat hambar. Misalnya, Shin hanya digambarkan sebagai laki-laki muda berkulit gelap yang punya aura membius dan memesona. Mungkin akan lebih terasa "nyata" kalau digambarkan bentuk wajahnya, sorot matanya ketika memandang seseorang....
Persahabatan kelima orang ini mengingatkan saya akan boyband Shinhwa (minus satu orang), entah mengapa. (Mungkin karena ada yang namanya Hyesung, hehehe.) Yang jelas, persahabatan mereka sungguh manis, meski tak luput dengan rahasia-rahasia dan berbagai masalah. Yang paling mencengangkan tentu saja bab terakhir. Saya tak menduga, lho, kalau ternyata Shiyoon tidak menyimpan rasa pada Shin, tapi malah.... 

Penulis berhasil menghidupkan sudut pandang "aku" Hyesung sebagai laki-laki. Terkadang, penulis perempuan mengalami kesulitan dalam menciptakan tokoh "aku" laki-laki yang benar-benar terdengar seperti laki-laki. Berbagai cara berpikir Hyesung, seperti kebingungannya menghadapi Sooni ketika gadis itu ngambek di halaman 231, itu cowok banget. Hahaha.

Saya puas dengan ending-nya yg amat manis! (Ternyata persahabatan para cowok bisa semanis ini, ya?) Saya, kok malah ingin Hyesung dengan Shiyoon saja, ya, soalnya mereka berdua manis sekali hihihi (digampar massa).

"Setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain, dengan kekurangan dan kelebihan sama banyaknya."
(halaman 102)

"Sejak mendeklarasikan pertemanan, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi." (Hyesung, halaman 313)

6 January 2015

Review "Membagi Rindu" - Saat Persahabatan Ternodai Cinta


Judul Buku              : Membagi Rindu
Penulis                   : Koko Ferdie
Tebal                     : 220 halaman
Penerbit/cetakan   : PING!!!/Cetakan I, 2014
ISBN                     : 978-602-255-640-4
Harga                   : Rp 38.000,00
Genre                    : Teenlit, romance
Rating                    :



Rain, bukanlah jenis gadis supel, tidak seperti sahabatnya Nadia. Ia adalah jenis orang yang tidak akan bercerita tentang dirinya sendiri secara panjang-lebar pada orang yang baru dikenalnya. Tapi, suatu saat, tanpa ia duga, seorang cowok membuatnya menceritakan mengapa namanya Rain. Awan, teman sekelasnya itu, meski baru dikenalnya, tapi ia merasa seperti sudah mengenalnya jauh sebelumnya. Pernahkah kau merasakan hal semacam ini juga? Saat di mana entah bagaimana, kau merasa klop dengan seseorang yang baru kaukenal. Kau seolah bisa melihat bahwa nantinya hubunganmu dengannya akan makin dekat.
***

Kisah dibuka dengan latar kota Berlin. Kala itu, Rain sedang berlibur di rumah Omanya. Sendirian. Setelah mamanya meninggal, papanya berubah menjadi teramat sibuk dan tak punya waktu untuknya. Apalagi kehadiran seorang mama tiri, yang juga tak punya waktu untuknya. Seperti Omanya, sesungguhnya Rain juga kesepian. Maka ia berubah menjadi anak pendiam. Beruntung, saat masuk SMA, ia bertemu dengan Nadia, gadis supel dan cerewet. Sifatnya itu melengkapi sifat pendiam Rain. Lantas muncul Awan dalam persahabatan itu. Rain pertama kali bertemu Awan saat menerima hukuman dari panitia MOS. Lucunya, Rain dan Awan ternyata bertetangga, dan mereka baru tahu setelah mereka kenal di sekolah. Semenjak itu, Awan selalu menjemput Rain untuk pergi ke sekolah bersama-sama.

Awan, adalah anak konglomerat yang merasa hidupnya terkungkung oleh para bodyguard. Ia mengasuh sebuah taman baca untuk anak jalanan, kegiatan yang sangat dilarang oleh mamanya. Dan sebenarnya, ia punya perasaan lebih pada Rain, lebih daripada sekadar sahabat.

Nadia, gadis cerewet itu sesungguhnya juga menyimpan sesuatu. Ketika ditembak oleh Evan, sahabat Awan, ia tahu seharusnya ia menolaknya. Bukannya malah menerimanya dan menjalani hubungan itu dengan tidak tulus. Mengapa? Karena ia tahu siapa yang dicintainya. Orang yang sama sekali tak menganggapnya lebih daripada sahabat.

Samudera, alias Seam, hidupnya seakan adalah sebatang magnet yang terus ditempeli oleh Pric, gadis centil, manja, dan angkuh. Seakan belum cukup menderita ia, yang ditinggal pacarnya pergi ke luar negeri dan patah hati. Ia belum bisa sepenuhnya move on, sebelum kenal Rain.

***

Mungkin, sekarang masalah cinta segitiga udah basi. Gimana kalau cinta yang grafiknya macam flowchart algoritma? Ada start, tapi bagian end saya rahasiakan. Hehehe.


Setelah memandangi flowchart tersebut, mungkin kau akan merasa kasihan pada Evan, Nadia, dan Awan. Kalau Pric, sih, nggak perlu dikasihani, karena di cerita, ia memang berperan jadi antagonis yang menyebalkan.

Pertama lihat sampul depannya dan baca blurb, mungkin kau teringat kisah karangan Winna Efendi, Remember When. Tokoh Rain yang pendiam mengingatkan akan tokoh Freya, dan tokoh Nadia yang supel dan ceria mengingatkan akan tokoh Gia. Lalu, persahabatan empat orang itu ternodai oleh cinta. Dan memang harus ada yang tersakiti. Tokoh-tokoh yang diciptakan penulis kurang memiliki karakter yang kuat. Mari kita ulas satu-persatu.

Tokoh Rain, hendak diciptakan sebagai sosok yang pendiam. Tapi, menurut saya, dia kurang pendiam. Atau mungkin karena memang dia aslinya nggak pendiam? Ia juga tokoh yang plin-plan. Gampang suka sama cowok pada pandangan pertama. Mungkin karena memang cowok-cowok itu terlalu memesona. Hehehe.
“Pandangannya sedikit teralihkan pada cowok bermata sipit yang menghalau suara itu untuk tak dilanjutkan. Mendadak, hati Rain bergetar melihatnya.” (hal. 36)
Oke, awalnya saya mengira Rain akan jatuh cinta pada Awan. Tapi, setelah membaca kembali blurb novel, kok Rain sama Seam? Berarti asumsi terlalu-awal saya salah.
“Rain tak tahu, tiap kali melihat Samudra, dadanya berdegup tak keruan.” (hal. 89)
Nah, setelah “bergetar melihat Awan”, kini Rain juga deg-degan tiap kali melihat Samudra. Aduh, Rain memang sedemikan polosnya (dan menyebalkan karena tidak sadar juga kalau Awan suka sama dia). Mungkin memang karena usianya masih sangat muda, sikapnya terlihat sangat kekanak-kanakkan jika berkaitan dengan papa dan mama tirinya. Meski begitu, dari ucapan motivasinya pada Awan, akhirnya Rain menyadari bahwa ia juga harus mencoba menerima mama tirinya.
“Benar. Nggak ada Mama yang seratus persen jahat di dunia ini.” (hal. 175)
Kemudian, tokoh Nadia, adalah salah satu yang tersakiti. Tapi, saya kagum dengannya. Ia tetap bisa menjaga persahabatannya dengan Rain, meski ia tahu bahwa orang yang dicintainya malah mencintai Rain.  Ia juga dengan besar hati menerima saran Rain untuk mengungkapkan perasaan pada Awan. Setelah itu, Nadia memang menjauh. Ia butuh waktu untuk menata kembali perasaannya. Tapi, tak lama, Nadia sudah kembali seperti dia yang dulu. Saya salut padanya. Mungkin di antara mereka, Nadia adalah yang paling dewasa.

Mari beralih ke tokoh Awan. Sepanjang hidupnya, ia selalu dibanding-bandingkan. Oleh mamanya, selalu dibandingkan dengan kakaknya yang tak tertandingi. Mungkin karena itulah, ia jadi terbiasa membandingkan diri dengan orang lain. Dengan Seam, ia juga merasa kalah, terlebih setelah ia kalah cepat menembak Rain. Tapi, jiwa sosial Awan sangat bagus, dengan merintis taman baca buat anak jalanan itu. Bahkan, sampai ia harus melawan mamanya sendiri, yang berakhir dengan diseret oleh para bodyguard.

Samudra. Ia tokoh yang berjuang keras untuk mencapai mimpinya. Meski hidupnya juga tak mudah, ditinggal pergi papanya yang kemudian meninggal. Ia tetap bersemangat, terlebih karena keberadaan Yuna, adiknya, selalu membuat nuansa ceria, ditambah lagi dengan kehadiran Rain. Ia tetap ngotot ikut pertandingan futsal, padahal ia sedang sakit. Akhirnya, ia memang berhasil menciptakan satu gol, yang ia persembahkan untuk almarhum papanya.

Secara keseuluruhan, alur yang dibangun penulis mengalir lancar dan mudah diikuti. Beberapa kesalahan penulisan juga tidak terlalu mengurangi kenyamanan membaca. (Misalnya, mikrofon ditulis mike, yang seharusnya mic). Dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga terbatas, yang berganti-ganti antara sudut pandang Rain, Awan, Samudra, dan Nadia, pembaca dapat memahami cerita dengan lebih mudah dan lengkap. Tapi, saya bertanya-tanya, mengapa bagian Nadia tidak proporsional dengan yang lain? Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan pribadi Nadia sebelumnya, yang tidak diceritakan sebagaimana penulis menceritakan tentang ketiga tokoh lainnya.

Saya percaya, bagian klimaks akan lebih seru jika masalah yang disajikan penulis tidak klise seperti itu. Namun, saya cukup puas dengan solusi permasalahan di bagian ending. Oh iya, penggunaan lirik-lirik lagu yang diselipkan penulis juga mendukung terbangunnya suasana cerita. Secara keseluruhan, novel teenlit ini cukup menghibur. Cocok untuk pembaca remaja, karena dunia yang dibangun penulis sangat umum dialami oleh para remaja di kehidupan nyata.
(Tapi, itu tidak akan sederhana jika sahabat itu menganggapmu lebih dari sahabat. Dan sahabatmu yang lain mencintai sahabatmu itu.)

(Menurut saya, nggak selalu butuh hati yang baru....)



10 December 2014

[Resensi QUEEN] Makin Terpuruk atau Bangkit dan Berjalan Kembali


Buku                            : Queen
Penulis                         : Niena Sarowati
Editor                           : Ainini
Tebal                            : 300 halaman
Penerbit/cetakan          : Senja/Cetakan I, 2014
ISBN                           : 978-602-296-026-3
Harga                           : Rp 40.000,00
Rating                          :



Selingkuh, Diselingkuhi, Dijadikan Selingkuhan

Dalam sebuah hubungan, menurutmu, apa momok yang paling menyeramkan? 


Kalau menurut saya, ketidakjujuran. Ketidakjujuran ini mewujud dalam berbagai cara, salah satunya adalah perselingkuhan. 

Jangan-jangan kamu pernah diselingkuhi? Atau selingkuh? Atau malah dijadikan selingkuhan? Kalau pernah ada pengalaman diselingkuhi, pasti kalian mengerti sekali bagaimana perasaan marah dan kecewa itu, seperti yang dialami Queen dalam novel ini. 

Lantas, seandainya kamu diselingkuhi pacarmu—bahkan selingkuhnya dengan sahabatmu sendiri, dan kamu menangkap basah mereka sedang tidur bersama—apa yang akan kaulakukan? Mungkin kau akan marah dan langsung minta putus. Setelah itu, pilihannya ada dua: terpuruk atau bangkit.

Queen memilih yang kedua. Awalnya memang sakit, dan ia memutuskan untuk cuti kuliah dan pergi ke Bandung untuk menata hidupnya kembali. Tidak ada temannya yang tahu ke mana dia pergi (apalagi Davin dan Milly), kecuali keluarganya. Siapa sangka, di Bandung ia menemukan keluarga baru: keluarga Kos Cemara, keluarga anak jalanan, dan keluarga panti asuhan. Bahkan ia menjadi aktivis pengasuh panti asuhan dan anak jalanan itu. 

Queen menjalani hari-harinya dengan berbagi bersama keluarga barunya. Hubungannya dengan anak-anak Kos Cemara, yang semuanya laki-laki, sangat menyenangkan. Salah satu yang paling dekat dengannya adalah Obit. Semuanya terasa sangat indah, apalagi Queen jadi seleb dadakan setelah  memberikan pidato sambutan dalam acara Hari Anak Nasional. Tapi, ketika masa lalu menyergapnya di depan kos, apakah ia mampu untuk tetap berdiri tegak? Davin yang tiba-tiba datang, dan Milly yang mengatakan bahwa ia hamil. Belum lagi ditambah masalah salah-paham: orangtuanya akhirnya tahu bahwa selama di Bandung ia tinggal bersama para lelaki.

Di sela-sela permasalahan itu, apakah Queen dapat menyadari hubungan persahabatan yang perlahan berubah menjadi cinta?

Keseriusan Terbalut Bahasa Ringan

Mengikuti aktivitas sosial Queen membuat nyali saya menciut. Selama 21 tahun hidup saya, apa saja yang telah saya lakukan untuk orang-orang kurang beruntung di sekitar saya? Tokoh Queen ini mungkin bisa disebut salah satu sosok cewek tangguh. Meski ia sakit hati, tapi logikanya masih berjalan. Ia memilih untuk meneruskan hidupnya, bahkan berbuat kebaikan besar. Queen juga sosok yang hangat dan supel (saya ngiri terhadap sifat ini). 

Proses move on Queen banyak dibantu oleh suasana hangat yang ditawarkan para penghuni Kos Cemara. Abah, pengurus kos, dan Cilla (cucu abah yang lucu). Para penyewa kos: Obit, Alan, Dion, dkk, beserta para pacar mereka. Betapa indah persahabatan mereka, yang saling membantu dan menguatkan! Salah satu yang menjadikan para tokoh ini memiliki daya tarik adalah profesi mereka yang beragam dan unik. DJ, pembalap motor, pemilik distro, anak band, dan sebagainya.

Penulis membangun cerita dengan menggunakan alur maju. Ada juga selipan alur balik, ketika Queen teringat masa lalunya bersama Davin (biasanya saat melihat orang pacaran atau saat berkunjung ke tempat-tempat penuh kenangan). Nah, bagusnya, penulis mampu dengan luwes menyelipkan cerita-cerita Queen bersama Davin dulu dalam masa sekarang. 

Bicara tentang gaya bahasa, karena para tokohnya anak muda nan gaul, penulis menggunakan gaya bahasa yang sangat ringan dan tidak kaku. Namun, saya menemukan banyak kesalahan EYD maupun susunan kata. Yang paling sering saya temui adalah kesalahan penggunaan kata ganti milik: temannya Obit (teman Obit), kakaknya Obit (kakak Obit)[1].

Sebenarnya, masalah yang diangkat penulis cukup serius, tentang perselingkuhan, tentang para anak yatim piatu (yang nyerempet masalah hamil di luar nikah), tentang anak jalanan, tentang anak-anak muda yang kerjaannya nggak cuma kuliah, tapi juga kerja beneran sesuai passion-nya. Tapi, untunglah, gaya bahasa yang ringan menyulap masalah serius ini jadi nggak terasa berat.

Meski banyak tokoh yang dikenalkan penulis, tokoh yang paling banyak berperan dalam cerita (tentunya) adalah Queen, Davin, Obit. Karena tokoh Queen sudah saya ceritakan di atas, maka saya akan bicara tentang betapa ngeselinnya tokoh Davin. Cowokmu selingkuh dengan sahabatmu sendiri; selingkuhnya nggak main-main, lagi, sampai sudah tidur bareng! Tergambar jelas, kan, gimana kejinya sifat cowok itu? Ditambah lagi, Davin berjiwa kerdil, hingga memfitnah Queen dan tukang mengadu, lagi! Udah, STOP! *Ugh, Frida, kamu bikin saya kesel!!!*

Lain dengan tokoh Obit, sahabat Queen waktu di Bandung. Ia cowok yang penuh perhatian dan murah hati. Ia mau nganterin Queen ke mana-mana dengan senang hati. Ia juga seorang cowok yang tegas mengambil keputusan. Sejak putus dari mantannya, Via, awalnya ia masih mengejarnya untuk mengajak balikan. Tapi, begitu ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada cewek lain, ia berani ambil keputusan untuk putus hubungan dengan Via.

Ada yang Nggak Logis

Menurut saya, kesalahan penulisan bla-bla-bla itu masih terampuni dibandingkan ketidaktepatan logika cerita.

Begini, Davin memfitnah Queen dan mengadukannya pada orangtuanya bahwa Queen sudah punya anak (barang bukti: foto Queen sedang menggendong Aditya—bayi ganteng dari panti asuhan). Hal ini diperparah kenyataan bahwa Queen merahasiakan bahwa selama di Bandung ia ngekos bersama para cowok. Well, sampai sini, mungkin orang tua Queen bisa percaya.

TAPI…. Nah, bagian yang tidak logis adalah…. Waktu itu terjadi, saya kira Queen belum sampai 9 bulan tinggal di Bandung (seingat saya--maaf kalau salah--penulis pernah menyebutkan “lima bulan” di halaman-halaman sebelumnya, jadi jangka waktu sampai pemfitnahan itu terjadi nggak sampai empat bulan, lah). Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang wanita, dari hamil sampai melahirkan? Sampai anaknya berumur beberapa bulan kayak Aditya?

Hayo, berapa tebakanmu? Minimal satu tahun, lah, ya? Sembilan bulan hamil, tiga bulan si bayi tumbuh sampai kurang lebih sebesar Aditya. Nah, kok, bisa-bisanya orangtua Queen memercayai penuturan Davin? Hanya tokoh di novel ini yang percaya pada hal-hal yang sudah jelas bahwa itu mustahil. Mungkin penulis hanya terpeleset dan kurang teliti, atau terlalu bersemangat membangun konflik hingga tak memerhatikan kelogisan cerita, hehehe.

Ada lagi, nih. Saya heran mengapa Queen sangat takjub, padahal hanya melihat bangunan Kos Cemara yang “minimalis bercat abu-abu”?[2] Nah, lain cerita jika bangunan kos itu berbentuk seperti Colosseum (lah, kamarnya nggak ada pintunya, dong?!).

Huft, Saya Lega….

Meski ada konflik semacam yang sering kita jumpai di sinetron (pemfitnahan, hamil di luar nikah, perselingkuhan), saya lega. Lega karena penulis tidak memanjang-manjangkan konflik (nggak sampai tembus episode 1000, nih!) dan langsung menyelesaikannya, nggak pake lama. Solusi yang diberikan penulis pun solusi terbaik yang mungkin ada, menurut saya. Jadi, meski awalnya beberapa tokoh bermasalah terhadap satu sama lain, pada akhirnya mereka kembali berdamai dan menerima kenyataan. Ini salah satu yang saya kagumi dari para tokoh. Dengan begitu, para pembaca dijamin puas dan lega. Nggak rugi, deh, meluangkan waktu baca kisah Queen, sang tokoh anak muda teladan, yang cukup inspirasional ini. Good job!


[1] Halaman 150-152
[2] Halaman 23



bloggerwidgets