Showing posts with label senja. Show all posts
Showing posts with label senja. Show all posts

7 March 2016

[Resensi] CINTA TAK KENAL BATAS WAKTU


"Setelah ini, suatu saat, kau harus selalu hidup dengan baik. Bahagialah jiwa dan raga. Denganku atau tanpa diriku, tetaplah begitu. Sebab aku selalu ada untukmu." (hlm. 185-86)

BLURB

Candra belum dapat melupakan Fabian meskipun telah setahun berlalu. Setiap kali ke Bandung, selain mengunjungi makam Fabian, ia pun menapak tilas tempat-tempat penuh kenangan mereka berdua. Dia masih merasa Fabian ada di sampingnya. Setengah hatinya menyadari bahwa tindakannya ini sia-sia dan konyol. Namun, rasa tak mau kehilangan menggenggam erat hati Candra. Sebuah surat dari mendiang Fabian menyadarkannya bahwa cinta mereka tak akan berubah. Namun Candra harus merelakannya dan merengkuh cinta lain.

Karena hidup itu pendek, cinta itu panjang.

PLOT SUMMARY


"... Mana janji manismu
Mencintaiku sampai mati
Kini engkau pun pergi
Saat kuterpuruk sendiri..." (hlm. 132)
Bagian "mencintaiku sampai mati" adalah yang paling dibenci Candra. Kalimat itu mengingatkan akan keterpurukannya setelah Fabian meninggal, dan tentu saja, mengingatkan akan Fabian sendiri. Bon-bon, demikian nama panggilan sayang yang ia berikan untuk Fabian, pertama kali ia kenal saat acara Temu Karya seluruh mahasiswa Desain Interior se-Indonesia, yang waktu itu diadakan di Universitas T, kampus Fabian di Bandung. Tanpa saling tahu, mereka berdua telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Setelah sejuta SMS dan telepon jarak jauh (Candra di Solo dan Fabian di Bandung), mereka akhirnya jadian. Tak mudah jalan yang harus mereka lalui. Bukan cuma masalah jarak yang berjauhan, tapi yang lebih menekan adalah perbedaan mencolok di antara mereka. Fabian, si Koko yang sembahyangnya di vihara, dan Candra, si gadis Jawa berkerudung. Banyak orang memandang pasangan itu dengan pandangan aneh dan nyinyir. Namun, cinta di antara mereka begitu kuatnya, hingga segala perbedaan itu seolah tiada. Ila, sahabat Candra, awalnya kaget mengetahui hubungan mereka. Sementara itu, dua sahabat Fabian, Joseph dan Marlin, sangat terbuka menerimanya. Untunglah, orang tua kedua pihak juga bisa menerima hubungan mereka. Orang tua Fabian malah sangat menyayangi Candra. Candra pun tetap diterima di rumah mereka setelah Fabian meninggal.

Pada ritual menapak tilas yang dilakukan Candra kali itu, Mama Fabian memberikan padanya beberapa peninggalan dari Fabian, termasuk boneka beruang madu yang mereka namai BonBin. Di dalam tote bag yang diberikan Mama Fabian itu, Candra menemukan sebuah jurnal, dua pucuk surat, dan beberapa carik kertas yang disobek dari buku harian seseorang, yang akan mengungkapkan sebuah rahasia... Setelah mengetahuinya, apakah Candra akan bisa move on dan membuka hatinya untuk cinta yang baru?

REVIEW

Sampul depan novel ini sederhana tapi eye-catching berkat gambar jam bandul dikelilingi bunga-bunga dan warna latar kuning pucatnya. Sedikit mengingatkan saya akan sampul novel (Bukan) Salah Waktu. Ber-genre romance, kadar pemanis percintaan dalam novel ini sangat tinggi, sampai bikin saya diabetes. Awalnya, saya kira ini novel tentang seorang gadis yang belum bisa move on dari pacarnya yang telah meninggal. Eh, ternyata setelah sampai di bagian flashback adegan pertemuan pertama Candra dan Fabian, saya mulai paham bahwa novel ini sebenarnya juga tentang perbedaan sepasang kekasih (dari segi suku dan agama--ups, bukannya mau bahas SARA, lho).

Candra adalah karakter utama dalam novel ini. Fabian juga memegang peranan penting, disusul oleh Joseph. Candra, saya kira adalah sosok yang melankolis dan setia, terlihat dari bagaimana ia memegang teguh cintanya pada Fabian, juga ritual menapak tilas itu. Kadang, Candra bertingkah aneh. Seperti ketika ia naik lift ke lantai tujuh, kemudian tanpa ada seseorang pun yang berujar padanya, tiba-tiba ia berkata pada temannya, "Oh, jangan ajak aku bicara! Aku mabuk lift!" (hlm. 36). Jika saya yang jadi temannya itu, saya akan memandangnya dengan dahi berkerut, satu alis terangkat, plus bibir nyungir.

Sementara itu, menurut Candra (karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama Candra) Fabian sosok lelaki yang nyaris sempurna. Sabar, tampan, supel, pintar..., paket hemat lengkap, lah! Hubungan keduanya terasa sangat manis berlebihan, sampai-sampai saya kira mereka adalah sepasang anak sekolahan yang baru pertama kali berpacaran. Manisnya itu sampai nyaris bikin enek--bagaimana mereka bermanja-manjaan... Yah, mungkin ini cuma gara-gara saya lagi single dan ngiri *ketawa miris*. Kalau Joseph, well, dia sosok sahabat yang baik, bisa diandalkan, dan tegas. Yang paling bikin saya speechless adalah sikapnya yang rela berkorban dan penuh perhatian. Saya nyaris nggak percaya ada orang yang sebaik Joseph, rela bersusah-susah ngurusin hubungan Candra dan Fabian, mendamaikan mereka kalau lagi berantem, meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua, dan menawarkan diri jadi obat nyamuk.

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, narasi diceritakan dari sudut pandang orang pertama Candra. Nah, karena si Candra ini sangat melankolis cenderung naif, narasinya jadi sangat membosankan dan jadi seperti curhatan doang. Di situ saya merasa sedih. Inilah juga yang membuat alur terasa lambat, padahal cukup berdinamika sebenarnya. Meski alur utamanya progresif, flashback sering terjadi lewat ingatan Candra yang melayang-layang ke masa lalu. Gaya bercerita Candra ini membuat saya lelah. Di satu sisi, saya malas melanjutkan baca, tapi di sisi lain saya ingin segera selesai baca agar terbebas dari kebosanan ini *duh, piye, sih*. Mungkin jika menggunakan sudut pandang orang ketiga, atau sudut pandang orang pertama yang bergantian antara Candra-Fabian-Joseph, alurnya akan lebih seru. Pun sosok Joseph kurang digali, ujug-ujug makjegagig... Awalnya saya bingung ketika disuguhi dua tulisan seperti puisi dengan inisial di bawahnya. Oh, beberapa waktu kemudian saya baru ngeh, kalau dua puisi itu adalah... *sudah, saya nggak mau spoiler*.

Hal lain yang mungkin membuat saya bosan adalah kurangnya konflik. Seharusnya perihal perbedaan antara Candra dan Fabian bisa menuai konflik lebih banyak atau lebih besar. Oleh karena penulis terkesan memudahkan penyelesaiannya, maka alur jadi datar. Ditambah lagi dengan betapa klisenya beberapa adegan (sebut saja adegan rumah sakit) dan akhir yang bisa ditebak. Dan lagi, gaya bahasa penulis terpatah-patah dan seringkali saya kurang bisa menangkap apa yang dimaksudkan. Ini berefek pada alur yang kurang mengalir; kadang boros kata-kata dan mengulang-ulang fakta. Oke, mungkin penulis sengaja membuat gaya bahasa narasi Candra seperti itu. Mengapa saya berasumsi begitu? Nah, ketika saya membaca surat dari Fabian untuk Candra (hlm. 184-86), gaya bahasanya cukup mengalir, tidak seterpatah-patah narasi (nan bikin kesal) Candra. Lalu, gaya bahasa tulisan Joseph malah lebih mengalir lagi. Well, berarti memang penulis sengaja bikin gaya narasi Candra seperti itu.
"Keranjang tertutup yang kubawa dari Solo terayun di tangan kananku. Keranjang rotan berisi seikat krisan warna merah semangka dan putih. Krisan-krisan yang masih segar dan indah. Berkelopak besar. Kelopak yang semarak.
Krisan adalah oleh-oleh yang kubawa. Bunga favoritnya. Bunga favorit kedua setelah edelweiss. Sama denganku. Krisan favoritnya, krisan merah semangka dan krisan putih. Kombinasi warna yang disukainya. Krisan adalah oleh-oleh yang tepat untuknya...."
(hlm. 12)
"Aku segera mandi. Jadi wangi dan rapi." (hlm. 22)
[DUH!]

Beberapa typo, kekurangtepatan pemilihan diksi, dan contoh kalimat yang kurang bisa saya tangkap maksudnya:
1. dinanya -> dinyana (hlm. 45)
2. berkenang -> ? (hlm. 196)
3. "Sepertinya gayaku naik, tepat untuk menemani Tante." (hlm. 22)
Pemilihan kata "naik" di kalimat tersebut kurang cocok, saya kurang bisa menangkap maknanya. Mungkin "gayaku naik" = "gayaku lebih gaul/lebih baik/..."
4. "Pernyataan hatinya memang mendadak. Joseph juga berharap lebih. Dia juga bukan orang di Solo itu." (hlm. 74)
5. "Cuma kenal orang lain. Hanya jika sesuatu. Kemudian aku sadar termakan pemikiranku sendiri." (hlm. 113)
6. "Begitulah pendapat Bon-bon yang pernah kemukakan suatu waktu." (hlm. 56)
Begitulah pendapat yang pernah Bon-bon kemukakan suatu waktu.
Begitulah pendapat yang Bon-bon pernah kemukakan suatu waktu.
7. "Aku pun tidak peduli, sedikit." (hlm. 162)
Jadi, tidak peduli, sedikit tidak peduli, atau sedikit peduli? :)]

Jika memang benar penulis sengaja membuat narasi Candra sedemikian aneh karena itu dimaksudkan sebagai bagian dari kekhasan karakter Candra, maka poin nomor 3-7 di atas saya abaikan saja.

Secara keseluruhan, saya hanya mampu memberikan rating 1 untuk novel ini, karena telah berhasil membuat saya lelah dan bosan. Atau mungkin ini hanya salah saya yang telah menjadi single selama bertahun-tahun, sehingga membaca cara berpacaran Candra dan Fabian bikin saya nggak tahan. Pun saya terperangkap oleh prinsip: jangan sekali-sekali tidak menyelesaikan baca buku yang harus diresensi. Sebelum menutup review ini, saya ingin berpesan bahwa kau tak akan pernah tahu apa yang ada di balik kaver unyu sebelum membuka dan membaca isinya. Ingat kucing Schrödinger.[]
Judul: Cinta Tak Kenal Batas Waktu
Penulis: Wulan Murti
Editor: Vita Brevis
Penerbit: Senja
Cetakan: I, 2016
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-391-091-5
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 1/5

31 May 2015

May's To Be Reviewed (Divapress' Books)


May will be over in hours, but I've just posted this >.<. This month, Divapress gave me three books to be reviewed.


I didn't expect anything when casted a glance at the title, which sounded a bit provocating, but it turned out that this book had its own taste. I gave it a rating of 3 (out of 5), and you can take a peep at my review here.


The second one is a story collection, titled Senja yang Mendadak Bisu. This book contains of 21 selected/best short stories written by KampusFiksi's alumna, to celebrate KampusFiksi's birthday last month. All of the stories tell about traditions from many places in Indonesia. The very best story was, of course, Senja yang Mendadak Bisu, written by Lugina W.G, which was also posted in Basabasi
Status: read, but not yet reviewed.


The last one is a kind of teenlit, which I'm currently reading. I've just got a few pages, and the writing style is a bit unique. The writer gives two options for each point of the plot, like "if .... then ....", so that there are 2 plots in one book. It reminds me of Princess Aurora story book I read a long long time ago, which have many options of plot.
I'll review the second book soon, and finish reading the last one.


28 May 2015

[Resensi DEAR MANTAN] Seleb Gagal Move-on

Penulis: Rita Kartomisastro
Editor: Ainini
Penerbit: Senja
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-255-880-4
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 3/5

"Kamu masih belum ngelupain aku, Al?

"Iya."
"Kalau begitu, bisakah kamu memberiku waktumu selama seminggu?"
"Untuk apa?"
"Untuk membuatmu melupakan aku."
 
(halaman 130)
Siapa sangka bahwa Alea Pita alias Alya, seorang artis cantik yang sedang naik daun, ternyata memiliki seorang ibu penjual gorengan? Siapa sangka, di balik penampilan fisiknya yang mengisyaratkan seharusnya ia bisa mendapatkan lelaki mana pun yang ia inginkan, ternyata ia masih belum bisa melupakan sang mantan? Pun, sang mantan itu, Wisnu, meninggalkannya tanpa pamit untuk melanjutkan studi ke Jakarta, kemudian kuliah ke Australia. Sementara, di sebuah SMA Karawang, Alya berjuang mengobati rasa sakit hatinya, hingga ia lulus dan menjadi artis terkenal empat tahun kemudian.

Nyatanya, kehidupan memang menyerupai sebuah roda. Setelah ayahnya meninggal, sang ibu berjualan gorengan di SMA tempat Alya bersekolah. Hidup dalam kemiskinan membuatnya menjadi sesosok gadis cupu yang sering dijahili oleh teman-temannya yang sombong. Kemudian, Wisnu dan Sandra hadir membelanya di hadapan mereka. Ia dan Wisnu menjadi makin dekat, hingga akhirnya mereka jadian. Beberapa hari kemudian, Wisnu menghilang, meninggalkan Alya dan sekerat luka hatinya. Inilah titik nadir roda kehidupannya.

Selepas SMA, Alya berjuang hingga menjadi artis terkenal dengan nama beken Alea Pita--saat ini. Inilah titik zenith kehidupannya. Ia tinggal bersama Meyta, temannya sejak SMA, yang kini menjadi manajernya, sedangkan ibu dan adiknya tetap tinggal di kampung. Alya bukan sengaja menyembunyikan keluarganya yang sangat sederhana, atau "kampungan". Semata-mata ini karena ibunya menghendaki begitu.
"Ibu ini orang kampung, Nak. Kalau Ibu tinggal di sana, bagaimana Ibu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan orang berada seperti di sana? Nanti malah membuatmu malu." 
(hal. 27)
Sebagai seorang artis terkenal, Alea tetap memiliki rahasia, terutama yang ia dokumentasikan dalam bentuk tulisan-tulisan dalam buku diary-nya. Apa lagi isinya, jika bukan curhatan tentang sang mantan?
"Dear diary,
Aku meliriknya dari sudut mataku dengan ragu.
Berharap dia menoleh ke arahku.
Tetapi jantungku berdegup kencang eperti sedang berlari.
Ketika dia tidak hanya menoleh, tetapi juga tersenyum manis sekali." 
(hal. 31)
Kondisi gawat darurat, terlebih saat itu seharusnya ia sedang (berpura-pura) "pacaran" dengan sesama artis, Arlan Peters. Lalu, mendadak Wisnu muncul. Tiba-tiba posisi Alea mulai tergelincir ke bawah--buku diary-nya hilang dan dunia hiburan gempar! Mengingat perlakuan Sandra yang terlihat sangat membencinya (ya, Sandra teman SMA-nya dulu, kini menjadi rivalnya dalam dunia hiburan), Alea langsung mengkambinghitamkannya...

***

Pertama kali membaca judul buku ini, saya syok. Di tengah dunia yang sedang gencar-gencarnya mem-bully kaum jomblo dan di antara banyak orang dengan status Facebook galau tentang mantan, buku ini seperti seekor lebah kelaparan yang tersesat ke sebuah taman penuh bunga sedap. Tanpa sadar, selarik ekspektasi tergaris di otak saya--jangan-jangan ini novel alay, tentang anak labil yang susah move-on.

Hmm..., ternyata ekspektasi saya salah. Buku ini tidak lebay, meski tokoh utamanya masih labil. Ya, si Alya masa SMA adalah gadis yang cupu, pemalu, pendiam.... Lalu ia menjelma jadi seorang Alea yang sombong, gengsian, dan over-confident.
"Iya, kau tahu, kan, harga diriku mahal! Lebih mahal dari tas 1001 Night Diamond Purse keluaran House of Mouaward!" 
(hal. 148)
Tas yang dimaksud oleh Alea, seharga 34,5 miliar rupiah.
Betapa sosok yang menyebalkan! Kasihan si Meyta, yang selalu jadi korban mulut tajamnya.
"Kamu tuh, kebiasaan. Hobi bikin orang jantungan. Kalau aku sakit, kamu mau kerja apa? Kamu pikir, lulusan SMA tanpa keahlian khusus gampang cari kerja zaman sekarang?" 
(Alea ke Meyta, hal. 48)
Dan ia juga terkesan hanya mendekati Arlan saat ia tak punya lagi orang lain di sisinya. Kasihan banget si Arlan.
"Kemarin-kemarin nggak mau ngomong sama Mas Arlan, sekarang BBM dia terus...." 
(Meyta, hal. 157)
Tapi, masalah demi masalah yang menimpanya akhirnya membuatnya sadar, bahwa selama ini ia adalah orang yang menyebalkan, dan berusaha mengurangi mulut berbisanya. Sementara itu, di masa lalu, penulis mampu menggambarkan dengan baik sifat pemalu dan gugup Alya saat bertemu dengan Wisnu, lewat ucapan-ucapannya yang kontradiktif dan menggelikan.

Tak hanya pada tokoh Alea penulis melakukan dinamika. Pada tokoh Sandra pun begitu. Dari yang awalnya teman Alya yang suka menolongnya, hingga berubah menjadi rival. Meski sebenarnya Alea-lah yang secara sepihak menjadikan Sandra rivalnya. Kemudian penulis juga menggunakan tokoh Sandra sebagai bagian dari twist cerita. Sayangnya, penggunaan sudut pandang orang pertama milik Alea membatasi gerak cerita ke arah tokoh Meyta dan Wisnu.

Tokoh Meyta yang sebenarnya merupakan tokoh penting selain Sandra, Wisnu, dan Arlan, menjadi kurang "terbaca" karena tokoh "aku" sangat sentral. Tapi di sisi lain, gaya narasi tokoh "aku" ini berhasil menegaskan sifatnya yang sombong dan mementingkan diri sendiri, seolah semesta berpusat pada dirinya. 

Tokoh Wisnu pun mengalami hal yang sama. Sebagai sang mantan yang tak terlupakan oleh tokoh "aku", otomatis perannya menjadi penting dalam cerita. Sayangnya, sosoknya terlihat sangat kabur bagi saya. Yang saya tangkap hanyalah, Wisnu ini sosok laki-laki tampan dan percaya diri, terlihat dari keberaniannya menembak Alya di depan banyak orang, juga dari kata-kata manisnya yang menjadi favorit saya berikut ini.
"Apa aku keliatan keren banget?"
"Ngomong-ngomong, ngeliatin aku gratis, kok. Nggak ada yang marah juga. Jadi, kalau nanti mau ngeliat, nggak perlu sembunyi-sembunyi...." 
(Wisnu, hal. 59)
Saya jadi percaya, novel ini akan menjadi lebih memuaskan pembaca jika penulis mengambil sudut pandang dari sisi masing-masing tokoh sentral, seperti yang dilakukan Winna Effendi dalam Remember When.

Sementara itu, Ibu digambarkan sebagai tokoh yang benar-benar putih. Suci. Sama sekali tak pernah merasa sakit hati atau pun kecewa pada Alea.
"Hanya dirimu sendiri yang bisa membuatmu jatuh, bukan orang lain. Kamu tidak akan pernah jatuh, jika kamu tidak mengizinkannya. Lagi pula, sekalipun seluruh dunia meninggalkanmu, Ibu masih akan selalu di sisimu, Nak." 
(Ibu, hal. 164)
Sampai sini, saya merasa sebal pada tokoh Alea. Beruntung sekali ia jadi manusia! Seburuk apa pun kelakuannya, orang-orang di sekelilingnya selalu sigap menolongnya. Huh! Seperti Sandra, contohnya, yang membela Alea saat ia direndahkan orang-orang karena ibunya hanya penjual gorengan. Padahal Sandra berada di pihak yang dirugikan Alea, dan Alea bahkan menganggapnya sebagai musuh. Saya malah jatuh cinta pada tokoh Sandra.
"Orang yang bisanya hanya merendahkan orang lain adalah orang yang paling rendah." 
(Sandra, hal. 176)
Meski begitu, saya mengapresiasi usaha penulis untuk memunculkan tokoh abu-abu. Semua tokohnya abu-abu, malah. Sandra yang terlihat sangat membencinya, sebenarnya punya maksud baik. Arlan yang terkesan sangat menyebalkan, ternyata sangat perhatian pada Alea.

Teknik alur bolak-balik, yang disorot dari dua ujung, saat Alya masih SMA (tahun 2010) dan saat ini (tahun 2014), berganti-ganti dengan adegan masa lalu dimunculkan tiap kali Alea teringat kenangan itu, sangat efektif dalam mengawal cerita dengan tempo cukup cepat tapi tidak membingungkan. Namun, penulis kurang piawai dalam menyembunyikan twist-nya. Pada sekitar 1/3 bagian awal novel, saya sudah bisa menebak siapa yang sebenarnya membuat buku diary Alea terekspos oleh media. Saya juga curiga, jangan-jangan Meyta pernah jatuh cinta pada Wisnu, karena kalimatnya ini, tapi sayangnya, tidak dielaborasi oleh penulis. Hmm, atau penulis memang sengaja membuat pembaca bertanya-tanya sampai akhir? Hohoho.
"Ah... aku rasa kamu harus jatuh cinta dulu, Mey. Baru kamu bisa mengerti perasaanku."
"I did, Alea. Tapi kamu nggak pernah tahu, kan?"
 
(hal. 133)
Sayang sekali, penulis tidak menuliskan bagaimana Alya bisa menjadi Alea; apa saja perjuangan yang ia lakukan? Penulis hanya menceritakannya sekilas dalam beberapa kalimat. Perjuangan Alea akan lebih nyata jika penulis menunjukkannya.

Ada perpindahan adegan yang tiba-tiba melompat, dari halaman 29 (ketika Alea sedang menikmati pemandangan kolam renang dari balik pintu kaca di ruang tengah) ke halaman 30, yang tiba-tiba ia sudah berada kembali di kamarnya. Sayang, cerita berakhir dengan terlalu cepat, hanya dengan selembar surat?! Memang, akhir menggantung itu sah-sah saja, malah saya cenderung suka yang begitu. Namun, ini bukan menggantung namanya, melainkan belum tamat! Iya, sesampai di akhir, rasa haus saya belum terpuaskan.

Saya menemukan beberapa salah penulisan dalam novel ini. Yang pertama, penggunaan kata "mendangak" di halaman 125. Mendangak adalah bahasa Jawa, yang kalau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, seharusnya "mendongak". Yang kedua, penggunaan bahasa Inggris dalam petikan berikut, yang terasa janggal.
"Kusebut dengan 'cara untuk bertahan hidup'. And... absolutely, it's work. As always." 
(hal. 90)
Kayaknya itu seharusnya "it works", ya, bukan "it's work".

Lewat tokoh Alya alias Alea, penulis hendak mengatakan bahwa kesuksesan yang berhasil kita raih tidak berarti boleh kita jadikan sebagai alasan untuk menjadi sombong. Asal menuduh orang lain juga bukan hal yang bijaksana, lho, meski orang tersebut memang pantas dicurigai, apalagi sampai melakukan hal jahat padanya.
"Aku benci Wisnu, tapi aku lebih membenci diriku. Yang bahkan masih bisa mencintai seseorang yang kubenci." 
(hal. 153)














18 May 2015

[Giveaway Marathon] The Winner Announcement of Episode 5


Halo, selamat berjumpa kembali bagi semua yang sudah menantikan pengumuman pemenang episode 5! Sebelumnya, saya mau minta maaf karena ada beberapa (atau mungkin banyak sebenarnya?) pengunjung Giveaway Marathon #5 ini yang mengeluhkan penggunaan form Rafflecopter. Memang, sih, lebih berat daripada Google forms, sehingga yang koneksinya nggak kuat--meskipun tahu jawabannya--jadi nggak bisa ikutan. Namun, perlu dipahami juga, bahwa saya beralih ke Rafflecopter (sebelumnya saya juga sudah pernah pakai Rafflecopter, sih) karena suatu alasan. Antarmuka form Rafflecopter lebih enak digunakan dan efisien bagi saya maupun bagi para pejuang kuis, tentunya di luar bobotnya yang berat itu, ya, dibandingkan Google forms. Ini sekadar pendapat saya, pastinya banyak orang lain yang merasa bahwa Google forms lebih enak digunakan daripada Rafflecopter.

Sebenarnya tebak-tebakan episode 5 ini gampang, kan? Keenam buku itu sudah pernah saya resensi, jadi kalian bisa mengintip di resensi saya, apa sih genre dari tiap-tiap buku. Atau kalian bisa cari di internet. Atau, kalau malas, ya dikira-kira aja dari judulnya. Hehehe. Mungkin ada dari pejuang kuis yang punya jawaban lain dari jawaban saya, jadi saya minta maaf. Karena kuis ini yang ngadain saya, jadi jawaban yang paling benar adalah yang sesuai dengan jawaban saya.

Jawaban yang paling benar adalah:

1b, 2b, 3d, 4a, 5c, 6c.


Buku "Lukisan Dorian Gray" memang ada unsur thriller-nya, tapi ia lebih digolongkan ke genre sastra Eropa yang sangat berpengaruh pada masa itu. Sementara itu, buku "Miminlicious" itu memang menyoroti profesi sebagai admin media sosial, tapi ia bukan novel, sehingga saya tidak menggolongkannya ke dalam novel profesi. "Miminlicious" ini lebih ke genre komedi dan personal literature.

Ternyata, ada 5 orang yang jawabannya benar, sehingga saya harus mengundinya untuk mendapatkan 2 pemenang. Dan, setelah undian dikocok, keluarlah 2 nama berikut ini.

Ananda Nur Fitriani
@anandanf07

Ratna Wahyu Wulandari
@ratna_wewe

Selamat untuk para pemenang!
Kedua pemenang akan saya hubungi segera. Tunggu, ya!

Untuk tiga pejuang lain yang jawabannya benar, sebenarnya saya ingin memberi hadiah juga. Tapi karena saya harus menepati kata-kata saya sebelumnya, maka saya hanya bisa memberi hadiah untuk 2 orang di antara kalian. Maaf >,<
Untuk para pejuang lain, tetap semangat! Masih ada giveaway berikutnya! ^^



29 April 2015

[Resensi GLAMO GIRLS] Tiga Meong yang Bertobat


Penulis: Ragil Kuning, dkk.
Editor: Zare
Penerbit: Senja
Cetakan: I, 2015
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-255-611-4


“Tuh, kan, baru kerasa kehilangan kalau orang nggak ada.”
(Umi kepada Adam, hal. 130)

Tiga Meong yang tak berhenti mengeong


Glamo Girls, atau lebih beken dengan nama Tiga Meong, adalah geng tiga orang cewek borju—Gina, yang agak bijaksana; Lala, yang galak; dan Monic, si Lelola alias Lemot plus Loading Lama. Karena merasa paling kaya, paling cantik, dan paling keren, mereka menempatkan diri di atas level semua teman di SMA-nya.  Namun, kalau sedang mengejar-ngejar trio Adam, Tomy, dan Bastian, mereka seolah tak punya harga diri, ngelendot ke mana-mana, padahal dicuekin para cowok itu. Lalu, muncullah sebuah ide gila dari kepala Adam. Mereka berkonspirasi untuk mengirim Tiga Meong mewakili kelas mereka melakukan baksos di pulau terpencil selama seminggu!

Tiga Meong syok berat begitu melihat tempat tinggal sementara mereka di Pulau Sabira, pulau paling utara di Kepulauan Seribu. Mereka menumpang di rumah Bu Inah, yang luasnya nggak lebih besar daripada garasi di rumah gedong mereka. Mereka memberi julukan rumah itu sebagai RSSSSP (Rumah Sangat Sederhana Sulit Selonjor Pula). Kamar segede kamar mandi di rumah mereka di Jakarta itu pun harus ditempati untuk bertiga. Belum lagi ada kecoak dan curut yang suka nongol tiba-tiba. Kayaknya mereka bakal minta pulang ke Jakarta sebelum hari itu berakhir, ya nggak? Eh, tapi siapa sangka, mungkin saja mereka bisa berubah.

Sementara itu, di SMA mereka, trio Adam, Tomy, Bastian terlihat lesu, ada yang kurang rasanya karena tak ada Tiga Meong yang mengejar-ngejar mereka. Bu Entin yang jaga kantin pun merasa kehilangan pemasukan, karena biasanya Tiga Meong selalu memborong dagangannya. Pun Pak Ono, si satpam yang biasanya disogok uang rokok oleh Tiga Meong yang sering telat, agar membukakan pintu itu merasa kehilangan sumber penghasilan tambahan. Para orang rumah Tiga Meong pun merasa kehilangan. Ternyata, meskipun nyebelin, semua orang merindukan Tiga Meong!

“Suasana kelas tampak sepi melebihi TPU Jeruk Purut.” (hal. 73)
Utie       : Hoaaam, sepi, ya? Sepertinya ada yang aneh.
Arya      : Lo pasti kangen suara cempreng Glamo Girls, ya? kalau nyanyi sok imut pake gaya Cherrybellekan.
(hal. 76)

Ketika kembali nanti, apakah Tiga Meong masih Glamo Girls yang dulu?

Bertahan menelan segala ke-lebay-an ini


“Gina melangkah pasti dengan rambut yang berkibar-kibar. Para cowok berjejer menatap Gina dengan mulut yang terus menganga. Mereka melambaikan tangan ke arah Gina sambil membawa poster foto Gina yang lagi nyengir lebar.” (hal. 17)

Terbayang, kan, betapa lebay-nya novel ini? Saya langsung terbayang dorama Jepang tentang anak sekolahan yang sering lebay, kadang si cowok sampai mimisan ketika melihat cewek cantik. Nggak hanya cara menulisnya yang lebay, para tokohnya juga lebay. Seperti ketika Lala memberikan sebatang cokelat pada Tomy, oleh-oleh papanya dari Perancis, katanya.

Tomy     : Makasih. Pasti mahal, ya?
Lala       : Iya. Ini mahal banget, Kak. Masak, ya? Kata Papa, harganya seratus ribu loh sebatang gini.”
Tomy     : (melotot)
(hal. 33)

Karena memang ketiga penulis memaksudkan novel ini sebagai novel komedi remaja, maka segala ke-lebay-an itu terampuni. Eits, jangan salah, meski novel komedi, para penulisnya menawarkan pesan moral pada para remaja agar memupuk jiwa sosial bagi orang-orang yang kurang mampu, lho. Penulis juga menunjukkan proses perubahan sikap Glamo Girls, yang tadinya berpenampilan glamor dan berjiwa glamor, hingga menjadi “biar penampilan kami glamor, jiwa kami sosial, kok!” (Lala, hal. 208).

Sebelum mengikuti baksos di Pulau Sabira, Glamo Girls memang glamor, tapi jiwa mereka sebenarnya polos. Inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya, yang memang hanya memanfaatkan uang mereka. Saking polosnya, mereka tetap senang-senang saja dan tidak merasa dimanfaatkan, terutama oleh tokoh-tokoh berikut ini.

1. Pak Ono --> sengaja menutup gerbang pukul setengah tujuh, padahal nggak ada itu di peraturan sekolah, biar Glamo Girls kesannya telat.
“Maksudnya, kalau pager aku tutup, terus mereka kesannya  telat. Abis itu, mereka kasih aku uang rokok, deh.” (Pak Ono, hal. 71)

2. Bu Entin --> senang banget kalau ada Glamo Girls nangkring di kantinnya. Itu berarti pesta traktir-traktiran dan makan besar-besaran!
“Terus selama seminggu dagangan gue siapa yang beli, dong? Walaupun mereka bawel dan nyebelin, tapi cuma mereka yang ngeborong dagangan makanan di warung gue.” (hal. 78)

Nulis satu novel bertiga itu nggak mudah

Novel ini ditulis oleh tiga penulis cewek: Ragil Kuning, Afin Yulia, dan Tia Marty (wah, jangan-jangan sembari menulis, mereka membayangkan bahwa merekalah si Glamo Girls, hihi). Pasti tidak mudah menulis satu novel bertiga, terutama dalam hal menjaga konsistensi segala hal. Untungnya, novel ini ditulis dengan cukup bagus hingga efek “perpindahan tangan dan kepala” si penulis tak terlalu terasa. Mulus-mulus aja, seolah ditulis oleh satu orang. Saya tidak tahu bagaimana sistem pembagian menulis yang mereka lakukan, tapi saya menemukan inkonsistensi gaya obrolan Glamo Girls, yaitu dalam penggunaan kata “lo” dan “lu”. Misalnya, di bab 8, mereka bertiga selalu menggunakan kata “lo”.

·         “Monic, lo nggak bercita-cita nikah muda, kan?” (Lala, hal. 142)
·         “Gina, lo kenapa? La, kok diem, sih?” (Monic, hal. 136)
·         “Lo ngapain, Mon?” (Gina, hal. 144)

Tapi, menginjak bab 9, kata “lo” dalam obrolan mereka berubah secara ajaib menjadi “lu”.
·         “...pasti impian lu tuh jadi kenyataan dalam sekejap, La.” (Gina, hal. 147)
·         “Lu kan tadi sore nggak mandi, Miss Takut Air.” (Monic, hal. 147)
·         “Lu-lu kate ini lagi syuting sinetron, apa?” (Lala, hal. 148)

Nah, anehnya, di halaman 150, Gina menggunakan “lo” lagi. Mungkin saja ini sesuatu yang lazim dalam kehidupan nyata, dan hanya saya yang terlalu memikirkannya (?).

Selain itu, terdapat pula beberapa keanehan berikut ini.
1. “Ibu, kerupuk ikannya abis semua. Nih, total uangnya sepuluh ribu.”
(Wati kepada Bu Inah, hal. 110)
Di halaman sebelumnya tertulis bahwa harga sebungkus kerupuk seribu rupiah, jadi mereka hanya berjualan sepuluh bungkus kerupuk? Menurut saya, dengan perjuangan mereka dalam membuat dan menjajakan kerupuk itu, hanya sepuluh bungkus itu terlalu sedikit. Eh, bungkusannya seberapa, saya juga nggak tahu.

2. “Apakah lo baik-baik saja?”
(arti pandangan mata Gina dan Lala, hal. 134)
Kalimat ini terasa terlalu baku untuk gaya obrolan mereka yang sebelum-sebelumnya selalu amat gaul. Kayaknya lebih cocok begini, “Apa lo baik-baik aja?”

3. “Lala garuk-garuk kepala disaksikan Monic dan Gina yang berpelukan ala Teletubbies.
Monic yang ketinggalan aksi berpelukan itu protes.... ‘Euhh, kalian nggak setia kawan. Kenapa kalian nggak ngajak gue ngajak aku berpelukan?
‘Iiih, ogaah!’ tukas Gina dan Monic sambil minggir ke pojokan.” (hal. 147)
a. Seharusnya Lala yang protes, bukan Monic, karena yang berpelukan adalah Monic dan Gina.
b. Pada kalimat yang saya highlight kuning itu seharusnya bagian “ngajak aku” dihapus.

4. “’Lu apaan, sih?!’ Gina menginjak kaki cowok aneh itu.
Cowok berambut kribo sarang burung itu cengar-cengir ngerasain kakinya diinjak keras-keras oleh Lala.”
(hal. 174)
Hei, yang menginjak Gina, lho, bukan Lala. Hehehe.

Saya juga menemukan beberapa kesalahan penulisan, yang tidak sesuai dengan EYD, tapi tidak terlalu merusak kenikmatan membaca.

Akhirnya, saya memberikan apresiasi pada ketiga penulis yang bisa dengan cukup luwes menuliskan satu novel yang menghibur sekaligus memberikan pelajaran moral ini. Apabila hidup kita sekarang berkecukupan, tak ada salahnya untuk selalu mengingat pelajaran berharga sebagaimana dialami oleh Glamo Girls selama di Pulau Sabira.

26 March 2015

[Resensi BEETWEN ME AND YOUR HORSE OF STEEL] Sang Pangeran Berkuda Baja


Jay : Kau nonton MotoGP musim ini? Cyanite : ... Tidak. Aku sibuk menulis. Kenapa? Jay : Kau diminta. Catat ini, Cyanite, diminta. Kau diminta untuk menulis biografi.(hal. 6)
Kabar yang disampaikan Jay (sang manajer) pada Rena hari itu mengubah hidupnya. Tepatnya, keputusan Rena-lah yang mengubah hidupnya sendiri—apakah dia mengambil tawaran menulis biografi itu atau tidak. Selama ini, Rena—dengan nama samaran Cyanite—selalu menulis novel-novel roman. Belum pernah ia menulis biografi. Begitu ia menerima permintaan Stanwell, sang manajer sekaligus paman Zac, hidupnya berubah. Ia menerima permintaan itu dengan syarat: ia tak mau identitasnya terbongkar. Selama ini, meskipun ia sudah berpenghasilan besar dari novel-novelnya, ia tetap memelihara gaya hidup low profile agar identitas aslinya tetap tak terkuak.

Melalui kontrak yang mereka sepakati, Rena diharuskan membuntuti Zac ke mana pun ia bertanding, diawali dengan pertandingan di Sirkuit Sachsenring, Jerman. Sebuah insiden yang terjadi di pertemuan pertama Rena dengan Zac justru mendekatkan mereka. Apalagi karakter Zac yang ramah dan supel berhasil memikat hati Rena. Berdua, mereka ke mana-mana, hingga orang-orang tak percaya lagi Rena adalah asisten Stanwell. (Yah, awalnya Stanwell mengenalkan Rena pada kru dan rekan setim Zac bahwa Rena adalah asistennya, untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Cyanite. Tapi, karena Rena lebih sering bersama Zac, hal itu jadi tak masuk akal.)

Kedekatan Rena dan Zac perlahan-lahan menguliti kenangan pahit yang telah Rena kubur dalam-dalam. Peristiwa masa lalu yang memaksanya jadi sebatang kara meski sebenarnya tidak...
***

#RomantikInspiratif

Ini adalah judul suatu lomba menulis novel yang diadakan oleh Divapress tahun 2013 lalu. Tiga orang pemenang utamanya mendapatkan hadiah nonton MotoGP di Sepang, Malaysia. Novel Between Me and Your Horse of Steel ini adalah salah satu nomine yang terpilih sehingga berhak diterbitkan. Dan, bukan kebetulan jika novel ini mengambil tokoh pembalap MotoGP, dan rangkaian perlombaannya berakhir di sirkuit Sepang. Menurut pengamatan saya, mungkin penulis—dengan kreatifnya—sengaja memasukkan dua elemen itu dalam novelnya sebagai simbol motivasinya untuk memenangkan lomba yang berhadiah nonton MotoGP Sepang ini.

Novel ini pantas jadi nomine

Romantik

Novel ini punya tingkat keromantisan tinggi. Hubungan yang terjalin antara Rena dan Zac, yang awalnya belum saling kenal, hingga menjadi kenal, dekat, dan makin dekat, itu diceritakan melalui serangkaian peristiwa romantis yang bikin nangis karena ngiri sampai hati si jomblo teriris-iris. Gambaran diri Zac sebagai pembalap muda yang tampan, memiliki postur tubuh bagus, ramah, supel, dan romantis, membuat saya meringis. He’s too good to be true. Perlakuannya terhadap Rena—yang hidupnya begitu sepi, temannya hanya Jay seorang—sungguh manis dari awal.
Rena : Apa kau tidak terlalu muda untuk menikah?
Zac : Tidak, jika aku sudah menemukan seseorang yang tepat.
(hal. 120)

Inspiratif

Selain romantis, novel ini juga inspiratif. Sisi inspiratifnya ada pada perjuangan Rena untuk bangkit setelah hidupnya terjungkir. Sebagai anak seorang pemilik suatu perusahaan, dulu ia gemar berfoya-foya. Mabuk-mabukan sampai larut malam, hingga adiknya, Grace, selalu membukakan jendela kamarnya agar Rena bisa masuk rumah tanpa diketahui orangtuanya. Sesuatu hal terjadi, membuat ayahnya marah besar hingga mengusirnya. Nah, proses Rena menata hidupnya kembali pasca-diusir sampai berhasil menjadi penulis terkenal inilah yang disoroti Sianida sebagai sisi “inspiratif”. Sayangnya, proses perjuangan Rena tidak diceritakan. Ia diusir. Mendadak menemukan bakat menulisnya. Dengan (seolah) mudahnya, ia jadi penulis terkenal.
“Ia adalah salah satu novelis yang aktif menelurkan karya-karya yang tidak dapat dipandang sebelah mata.”(hal. 6)
Kisah masa lalu hidup Zac sebagai yatim piatu juga dimaksudkan sebagai bagian dari sisi “inspiratif”. Sayangnya, sisi “inspiratif”-nya tidak terlalu “inspiratif”. Ia belum mampu menginspirasi saya untuk memikirkan kehidupan, mengubah diri, atau yang lebih tinggi lagi[1]. Yah, meskipun bagian ketika ia bertemu kembali dan berdamai dengan keluarganya itu mungkin cukup mengharukan bagi sebagian pembaca. Oleh karena itu, novel ini jadi nomine; bukan jadi salah satu dari tiga pemenang utama. Kalau sisi inspiratifnya lebih “inspiratif”, mungkin ia berpotensi memenangkan hadiah nonton MotoGP Sepang. Hehehe.

Ide yang cukup unik

Baru kali ini saya membaca novel yang salah satu tokohnya berprofesi sebagai pembalap MotoGP. Saya juga baru tahu istilah-istilah di dunia balap motor, seperti pit box, motorhome, dan paddock girl.

Biografinya selesai, kok langsung nggak ada kabarnya lagi?

Penulisan biografi Zac oleh Rena memainkan peran penting menjadi alasan mengapa kedua orang itu bisa bertemu, iya, kan? Anehnya, setelah biografi itu selesai, tak ada diungkit-ungkit lagi. Bagaimana hasil tulisan Rena? Apakah biografinya laris di pasaran? Makin banyakkah orang yang nge-fans Zac? Atau sebaliknya?
Biografi selesai (atau nggak?), dan “bum!” mendadak Zac dan Rena akan menikah. Terlalu cepat untuk menikah, menurut saya.

Sampul depan lucu!

Sampul depannya sederhana, hanya berisi tulisan judul. Tapi, jenis, ukuran, dan warna huruf yang dipilih cute dan cukup menampilkan nyawa roman si novel. Meskipun hurufnya keriting, saya tidak mengalami kesulitan membaca judulnya. Saya jadi teringat akan desain sampul Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.

Zac Zuares—Yakin Dia Orang Spanyol?

Melalui studi literatur dari berbagai sumber di internet, nama belakang “Zuares” tidak umum dipakai orang Spanyol. (Zac Zuares ini ceritanya pemuda asli Spanyol) Yang ada, Suarez, seperti Luis Suarez, si pesepakbola itu. Mungkinkah ini akibat typo yang dibiarkan saja? Menulis karya fiksi tetap harus memerhatikan logika dan realita, agar fiksinya terasa nyata dan masuk akal.

Ada yang aneh dengan Rena

Pertama, nama “Rena” terlalu berasa Indonesia jika dibandingkan dengan nama adiknya, Grace. Agak aneh.
Kedua, di masa nakalnya dulu, Rena tidak mungkin tidak pernah pacaran, atau minimal, dekat dengan laki-laki, kan? Biasanya, cewek gaul malam seperti itu punya banyak teman laki-laki (baik itu “teman” beneran atau tidak). Anehnya, ketika bertemu pertama kali dengan Zac dan tiba-tiba Zac menciumnya, ia bertindak-tanduk dengan sangat polosnya, seolah belum pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya.

Alur cerita yang mudah ditebak

Alur ceritanya mudah ditebak, bagian endingnya juga. Tapi, novel ini tetap nikmat dilahap berkat bumbu-bumbu romannya.

Setting London yang berasa Indonesia

Meski novel ini mengambil setting London—kecuali sirkuit-sirkuit tempat Rena membuntuti Zac—tapi berasa di Indonesia. Suasana London tidak terbangun dengan baik. Setting London hanya nampak dari kata “London” dan “salju” yang dicantumkan penulis. Kalau tidak dicantumkan, saya pasti mengira Rena tinggal di Indonesia.

Ada beberapa kesalahan penulisan, misalnya:

1. Tiba-tiba sudut pandang penceritaan berubah, dari orang ketiga menjadi orang pertama.
“Jalan yang aku lalui adalah yang terbaik sejauh ini.” (hal 189)
Well, mungkin penulis memaksudkan kalimat ini diucapkan dalam pikiran Rena.
2. “toko ke sembilan” (hal. 156) à toko kesembilan

Kesalahan penulisan tersebut dapat terlupakan dengan mudah berkat alur yang mudah diikuti, dipadu dengan romansa dan drama keluarga. Pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis juga mampu tersampaikan dengan baik ke pembaca, sehingga buku ini layak dibaca sebagai hiburan yang agak berbobot.






[1] Bidadari-bidadari Surga itu adalah salah satu contoh novel inspiratif menurut saya.

10 December 2014

[Resensi QUEEN] Makin Terpuruk atau Bangkit dan Berjalan Kembali


Buku                            : Queen
Penulis                         : Niena Sarowati
Editor                           : Ainini
Tebal                            : 300 halaman
Penerbit/cetakan          : Senja/Cetakan I, 2014
ISBN                           : 978-602-296-026-3
Harga                           : Rp 40.000,00
Rating                          :



Selingkuh, Diselingkuhi, Dijadikan Selingkuhan

Dalam sebuah hubungan, menurutmu, apa momok yang paling menyeramkan? 


Kalau menurut saya, ketidakjujuran. Ketidakjujuran ini mewujud dalam berbagai cara, salah satunya adalah perselingkuhan. 

Jangan-jangan kamu pernah diselingkuhi? Atau selingkuh? Atau malah dijadikan selingkuhan? Kalau pernah ada pengalaman diselingkuhi, pasti kalian mengerti sekali bagaimana perasaan marah dan kecewa itu, seperti yang dialami Queen dalam novel ini. 

Lantas, seandainya kamu diselingkuhi pacarmu—bahkan selingkuhnya dengan sahabatmu sendiri, dan kamu menangkap basah mereka sedang tidur bersama—apa yang akan kaulakukan? Mungkin kau akan marah dan langsung minta putus. Setelah itu, pilihannya ada dua: terpuruk atau bangkit.

Queen memilih yang kedua. Awalnya memang sakit, dan ia memutuskan untuk cuti kuliah dan pergi ke Bandung untuk menata hidupnya kembali. Tidak ada temannya yang tahu ke mana dia pergi (apalagi Davin dan Milly), kecuali keluarganya. Siapa sangka, di Bandung ia menemukan keluarga baru: keluarga Kos Cemara, keluarga anak jalanan, dan keluarga panti asuhan. Bahkan ia menjadi aktivis pengasuh panti asuhan dan anak jalanan itu. 

Queen menjalani hari-harinya dengan berbagi bersama keluarga barunya. Hubungannya dengan anak-anak Kos Cemara, yang semuanya laki-laki, sangat menyenangkan. Salah satu yang paling dekat dengannya adalah Obit. Semuanya terasa sangat indah, apalagi Queen jadi seleb dadakan setelah  memberikan pidato sambutan dalam acara Hari Anak Nasional. Tapi, ketika masa lalu menyergapnya di depan kos, apakah ia mampu untuk tetap berdiri tegak? Davin yang tiba-tiba datang, dan Milly yang mengatakan bahwa ia hamil. Belum lagi ditambah masalah salah-paham: orangtuanya akhirnya tahu bahwa selama di Bandung ia tinggal bersama para lelaki.

Di sela-sela permasalahan itu, apakah Queen dapat menyadari hubungan persahabatan yang perlahan berubah menjadi cinta?

Keseriusan Terbalut Bahasa Ringan

Mengikuti aktivitas sosial Queen membuat nyali saya menciut. Selama 21 tahun hidup saya, apa saja yang telah saya lakukan untuk orang-orang kurang beruntung di sekitar saya? Tokoh Queen ini mungkin bisa disebut salah satu sosok cewek tangguh. Meski ia sakit hati, tapi logikanya masih berjalan. Ia memilih untuk meneruskan hidupnya, bahkan berbuat kebaikan besar. Queen juga sosok yang hangat dan supel (saya ngiri terhadap sifat ini). 

Proses move on Queen banyak dibantu oleh suasana hangat yang ditawarkan para penghuni Kos Cemara. Abah, pengurus kos, dan Cilla (cucu abah yang lucu). Para penyewa kos: Obit, Alan, Dion, dkk, beserta para pacar mereka. Betapa indah persahabatan mereka, yang saling membantu dan menguatkan! Salah satu yang menjadikan para tokoh ini memiliki daya tarik adalah profesi mereka yang beragam dan unik. DJ, pembalap motor, pemilik distro, anak band, dan sebagainya.

Penulis membangun cerita dengan menggunakan alur maju. Ada juga selipan alur balik, ketika Queen teringat masa lalunya bersama Davin (biasanya saat melihat orang pacaran atau saat berkunjung ke tempat-tempat penuh kenangan). Nah, bagusnya, penulis mampu dengan luwes menyelipkan cerita-cerita Queen bersama Davin dulu dalam masa sekarang. 

Bicara tentang gaya bahasa, karena para tokohnya anak muda nan gaul, penulis menggunakan gaya bahasa yang sangat ringan dan tidak kaku. Namun, saya menemukan banyak kesalahan EYD maupun susunan kata. Yang paling sering saya temui adalah kesalahan penggunaan kata ganti milik: temannya Obit (teman Obit), kakaknya Obit (kakak Obit)[1].

Sebenarnya, masalah yang diangkat penulis cukup serius, tentang perselingkuhan, tentang para anak yatim piatu (yang nyerempet masalah hamil di luar nikah), tentang anak jalanan, tentang anak-anak muda yang kerjaannya nggak cuma kuliah, tapi juga kerja beneran sesuai passion-nya. Tapi, untunglah, gaya bahasa yang ringan menyulap masalah serius ini jadi nggak terasa berat.

Meski banyak tokoh yang dikenalkan penulis, tokoh yang paling banyak berperan dalam cerita (tentunya) adalah Queen, Davin, Obit. Karena tokoh Queen sudah saya ceritakan di atas, maka saya akan bicara tentang betapa ngeselinnya tokoh Davin. Cowokmu selingkuh dengan sahabatmu sendiri; selingkuhnya nggak main-main, lagi, sampai sudah tidur bareng! Tergambar jelas, kan, gimana kejinya sifat cowok itu? Ditambah lagi, Davin berjiwa kerdil, hingga memfitnah Queen dan tukang mengadu, lagi! Udah, STOP! *Ugh, Frida, kamu bikin saya kesel!!!*

Lain dengan tokoh Obit, sahabat Queen waktu di Bandung. Ia cowok yang penuh perhatian dan murah hati. Ia mau nganterin Queen ke mana-mana dengan senang hati. Ia juga seorang cowok yang tegas mengambil keputusan. Sejak putus dari mantannya, Via, awalnya ia masih mengejarnya untuk mengajak balikan. Tapi, begitu ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada cewek lain, ia berani ambil keputusan untuk putus hubungan dengan Via.

Ada yang Nggak Logis

Menurut saya, kesalahan penulisan bla-bla-bla itu masih terampuni dibandingkan ketidaktepatan logika cerita.

Begini, Davin memfitnah Queen dan mengadukannya pada orangtuanya bahwa Queen sudah punya anak (barang bukti: foto Queen sedang menggendong Aditya—bayi ganteng dari panti asuhan). Hal ini diperparah kenyataan bahwa Queen merahasiakan bahwa selama di Bandung ia ngekos bersama para cowok. Well, sampai sini, mungkin orang tua Queen bisa percaya.

TAPI…. Nah, bagian yang tidak logis adalah…. Waktu itu terjadi, saya kira Queen belum sampai 9 bulan tinggal di Bandung (seingat saya--maaf kalau salah--penulis pernah menyebutkan “lima bulan” di halaman-halaman sebelumnya, jadi jangka waktu sampai pemfitnahan itu terjadi nggak sampai empat bulan, lah). Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang wanita, dari hamil sampai melahirkan? Sampai anaknya berumur beberapa bulan kayak Aditya?

Hayo, berapa tebakanmu? Minimal satu tahun, lah, ya? Sembilan bulan hamil, tiga bulan si bayi tumbuh sampai kurang lebih sebesar Aditya. Nah, kok, bisa-bisanya orangtua Queen memercayai penuturan Davin? Hanya tokoh di novel ini yang percaya pada hal-hal yang sudah jelas bahwa itu mustahil. Mungkin penulis hanya terpeleset dan kurang teliti, atau terlalu bersemangat membangun konflik hingga tak memerhatikan kelogisan cerita, hehehe.

Ada lagi, nih. Saya heran mengapa Queen sangat takjub, padahal hanya melihat bangunan Kos Cemara yang “minimalis bercat abu-abu?[2] Nah, lain cerita jika bangunan kos itu berbentuk seperti Colosseum (lah, kamarnya nggak ada pintunya, dong?!).

Huft, Saya Lega….

Meski ada konflik semacam yang sering kita jumpai di sinetron (pemfitnahan, hamil di luar nikah, perselingkuhan), saya lega. Lega karena penulis tidak memanjang-manjangkan konflik (nggak sampai tembus episode 1000, nih!) dan langsung menyelesaikannya, nggak pake lama. Solusi yang diberikan penulis pun solusi terbaik yang mungkin ada, menurut saya. Jadi, meski awalnya beberapa tokoh bermasalah terhadap satu sama lain, pada akhirnya mereka kembali berdamai dan menerima kenyataan. Ini salah satu yang saya kagumi dari para tokoh. Dengan begitu, para pembaca dijamin puas dan lega. Nggak rugi, deh, meluangkan waktu baca kisah Queen, sang tokoh anak muda teladan, yang cukup inspirasional ini. Good job!


[1] Halaman 150-152
[2] Halaman 23



bloggerwidgets