7 March 2016

[Resensi] CINTA TAK KENAL BATAS WAKTU


"Setelah ini, suatu saat, kau harus selalu hidup dengan baik. Bahagialah jiwa dan raga. Denganku atau tanpa diriku, tetaplah begitu. Sebab aku selalu ada untukmu." (hlm. 185-86)

BLURB

Candra belum dapat melupakan Fabian meskipun telah setahun berlalu. Setiap kali ke Bandung, selain mengunjungi makam Fabian, ia pun menapak tilas tempat-tempat penuh kenangan mereka berdua. Dia masih merasa Fabian ada di sampingnya. Setengah hatinya menyadari bahwa tindakannya ini sia-sia dan konyol. Namun, rasa tak mau kehilangan menggenggam erat hati Candra. Sebuah surat dari mendiang Fabian menyadarkannya bahwa cinta mereka tak akan berubah. Namun Candra harus merelakannya dan merengkuh cinta lain.

Karena hidup itu pendek, cinta itu panjang.

PLOT SUMMARY


"... Mana janji manismu
Mencintaiku sampai mati
Kini engkau pun pergi
Saat kuterpuruk sendiri..." (hlm. 132)
Bagian "mencintaiku sampai mati" adalah yang paling dibenci Candra. Kalimat itu mengingatkan akan keterpurukannya setelah Fabian meninggal, dan tentu saja, mengingatkan akan Fabian sendiri. Bon-bon, demikian nama panggilan sayang yang ia berikan untuk Fabian, pertama kali ia kenal saat acara Temu Karya seluruh mahasiswa Desain Interior se-Indonesia, yang waktu itu diadakan di Universitas T, kampus Fabian di Bandung. Tanpa saling tahu, mereka berdua telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Setelah sejuta SMS dan telepon jarak jauh (Candra di Solo dan Fabian di Bandung), mereka akhirnya jadian. Tak mudah jalan yang harus mereka lalui. Bukan cuma masalah jarak yang berjauhan, tapi yang lebih menekan adalah perbedaan mencolok di antara mereka. Fabian, si Koko yang sembahyangnya di vihara, dan Candra, si gadis Jawa berkerudung. Banyak orang memandang pasangan itu dengan pandangan aneh dan nyinyir. Namun, cinta di antara mereka begitu kuatnya, hingga segala perbedaan itu seolah tiada. Ila, sahabat Candra, awalnya kaget mengetahui hubungan mereka. Sementara itu, dua sahabat Fabian, Joseph dan Marlin, sangat terbuka menerimanya. Untunglah, orang tua kedua pihak juga bisa menerima hubungan mereka. Orang tua Fabian malah sangat menyayangi Candra. Candra pun tetap diterima di rumah mereka setelah Fabian meninggal.

Pada ritual menapak tilas yang dilakukan Candra kali itu, Mama Fabian memberikan padanya beberapa peninggalan dari Fabian, termasuk boneka beruang madu yang mereka namai BonBin. Di dalam tote bag yang diberikan Mama Fabian itu, Candra menemukan sebuah jurnal, dua pucuk surat, dan beberapa carik kertas yang disobek dari buku harian seseorang, yang akan mengungkapkan sebuah rahasia... Setelah mengetahuinya, apakah Candra akan bisa move on dan membuka hatinya untuk cinta yang baru?

REVIEW

Sampul depan novel ini sederhana tapi eye-catching berkat gambar jam bandul dikelilingi bunga-bunga dan warna latar kuning pucatnya. Sedikit mengingatkan saya akan sampul novel (Bukan) Salah Waktu. Ber-genre romance, kadar pemanis percintaan dalam novel ini sangat tinggi, sampai bikin saya diabetes. Awalnya, saya kira ini novel tentang seorang gadis yang belum bisa move on dari pacarnya yang telah meninggal. Eh, ternyata setelah sampai di bagian flashback adegan pertemuan pertama Candra dan Fabian, saya mulai paham bahwa novel ini sebenarnya juga tentang perbedaan sepasang kekasih (dari segi suku dan agama--ups, bukannya mau bahas SARA, lho).

Candra adalah karakter utama dalam novel ini. Fabian juga memegang peranan penting, disusul oleh Joseph. Candra, saya kira adalah sosok yang melankolis dan setia, terlihat dari bagaimana ia memegang teguh cintanya pada Fabian, juga ritual menapak tilas itu. Kadang, Candra bertingkah aneh. Seperti ketika ia naik lift ke lantai tujuh, kemudian tanpa ada seseorang pun yang berujar padanya, tiba-tiba ia berkata pada temannya, "Oh, jangan ajak aku bicara! Aku mabuk lift!" (hlm. 36). Jika saya yang jadi temannya itu, saya akan memandangnya dengan dahi berkerut, satu alis terangkat, plus bibir nyungir.

Sementara itu, menurut Candra (karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama Candra) Fabian sosok lelaki yang nyaris sempurna. Sabar, tampan, supel, pintar..., paket hemat lengkap, lah! Hubungan keduanya terasa sangat manis berlebihan, sampai-sampai saya kira mereka adalah sepasang anak sekolahan yang baru pertama kali berpacaran. Manisnya itu sampai nyaris bikin enek--bagaimana mereka bermanja-manjaan... Yah, mungkin ini cuma gara-gara saya lagi single dan ngiri *ketawa miris*. Kalau Joseph, well, dia sosok sahabat yang baik, bisa diandalkan, dan tegas. Yang paling bikin saya speechless adalah sikapnya yang rela berkorban dan penuh perhatian. Saya nyaris nggak percaya ada orang yang sebaik Joseph, rela bersusah-susah ngurusin hubungan Candra dan Fabian, mendamaikan mereka kalau lagi berantem, meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua, dan menawarkan diri jadi obat nyamuk.

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, narasi diceritakan dari sudut pandang orang pertama Candra. Nah, karena si Candra ini sangat melankolis cenderung naif, narasinya jadi sangat membosankan dan jadi seperti curhatan doang. Di situ saya merasa sedih. Inilah juga yang membuat alur terasa lambat, padahal cukup berdinamika sebenarnya. Meski alur utamanya progresif, flashback sering terjadi lewat ingatan Candra yang melayang-layang ke masa lalu. Gaya bercerita Candra ini membuat saya lelah. Di satu sisi, saya malas melanjutkan baca, tapi di sisi lain saya ingin segera selesai baca agar terbebas dari kebosanan ini *duh, piye, sih*. Mungkin jika menggunakan sudut pandang orang ketiga, atau sudut pandang orang pertama yang bergantian antara Candra-Fabian-Joseph, alurnya akan lebih seru. Pun sosok Joseph kurang digali, ujug-ujug makjegagig... Awalnya saya bingung ketika disuguhi dua tulisan seperti puisi dengan inisial di bawahnya. Oh, beberapa waktu kemudian saya baru ngeh, kalau dua puisi itu adalah... *sudah, saya nggak mau spoiler*.

Hal lain yang mungkin membuat saya bosan adalah kurangnya konflik. Seharusnya perihal perbedaan antara Candra dan Fabian bisa menuai konflik lebih banyak atau lebih besar. Oleh karena penulis terkesan memudahkan penyelesaiannya, maka alur jadi datar. Ditambah lagi dengan betapa klisenya beberapa adegan (sebut saja adegan rumah sakit) dan akhir yang bisa ditebak. Dan lagi, gaya bahasa penulis terpatah-patah dan seringkali saya kurang bisa menangkap apa yang dimaksudkan. Ini berefek pada alur yang kurang mengalir; kadang boros kata-kata dan mengulang-ulang fakta. Oke, mungkin penulis sengaja membuat gaya bahasa narasi Candra seperti itu. Mengapa saya berasumsi begitu? Nah, ketika saya membaca surat dari Fabian untuk Candra (hlm. 184-86), gaya bahasanya cukup mengalir, tidak seterpatah-patah narasi (nan bikin kesal) Candra. Lalu, gaya bahasa tulisan Joseph malah lebih mengalir lagi. Well, berarti memang penulis sengaja bikin gaya narasi Candra seperti itu.
"Keranjang tertutup yang kubawa dari Solo terayun di tangan kananku. Keranjang rotan berisi seikat krisan warna merah semangka dan putih. Krisan-krisan yang masih segar dan indah. Berkelopak besar. Kelopak yang semarak.
Krisan adalah oleh-oleh yang kubawa. Bunga favoritnya. Bunga favorit kedua setelah edelweiss. Sama denganku. Krisan favoritnya, krisan merah semangka dan krisan putih. Kombinasi warna yang disukainya. Krisan adalah oleh-oleh yang tepat untuknya...."
(hlm. 12)
"Aku segera mandi. Jadi wangi dan rapi." (hlm. 22)
[DUH!]

Beberapa typo, kekurangtepatan pemilihan diksi, dan contoh kalimat yang kurang bisa saya tangkap maksudnya:
1. dinanya -> dinyana (hlm. 45)
2. berkenang -> ? (hlm. 196)
3. "Sepertinya gayaku naik, tepat untuk menemani Tante." (hlm. 22)
Pemilihan kata "naik" di kalimat tersebut kurang cocok, saya kurang bisa menangkap maknanya. Mungkin "gayaku naik" = "gayaku lebih gaul/lebih baik/..."
4. "Pernyataan hatinya memang mendadak. Joseph juga berharap lebih. Dia juga bukan orang di Solo itu." (hlm. 74)
5. "Cuma kenal orang lain. Hanya jika sesuatu. Kemudian aku sadar termakan pemikiranku sendiri." (hlm. 113)
6. "Begitulah pendapat Bon-bon yang pernah kemukakan suatu waktu." (hlm. 56)
Begitulah pendapat yang pernah Bon-bon kemukakan suatu waktu.
Begitulah pendapat yang Bon-bon pernah kemukakan suatu waktu.
7. "Aku pun tidak peduli, sedikit." (hlm. 162)
Jadi, tidak peduli, sedikit tidak peduli, atau sedikit peduli? :)]

Jika memang benar penulis sengaja membuat narasi Candra sedemikian aneh karena itu dimaksudkan sebagai bagian dari kekhasan karakter Candra, maka poin nomor 3-7 di atas saya abaikan saja.

Secara keseluruhan, saya hanya mampu memberikan rating 1 untuk novel ini, karena telah berhasil membuat saya lelah dan bosan. Atau mungkin ini hanya salah saya yang telah menjadi single selama bertahun-tahun, sehingga membaca cara berpacaran Candra dan Fabian bikin saya nggak tahan. Pun saya terperangkap oleh prinsip: jangan sekali-sekali tidak menyelesaikan baca buku yang harus diresensi. Sebelum menutup review ini, saya ingin berpesan bahwa kau tak akan pernah tahu apa yang ada di balik kaver unyu sebelum membuka dan membaca isinya. Ingat kucing Schrödinger.[]
Judul: Cinta Tak Kenal Batas Waktu
Penulis: Wulan Murti
Editor: Vita Brevis
Penerbit: Senja
Cetakan: I, 2016
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-391-091-5
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 1/5
Reaksi:

3 comments:

  1. Terima kasih sudah membuat ulasan. Ulasan yang jujur dan saya terima dengan senang hati.
    Bukan pembelaan sih, tapi ini naskahnya saya tulis jaman kuliah. Saat masih narsis dan alay. Sepertinya berpengaruh besar.
    Ah, jadi ingin menulis ulang naskahnya.
    Ngomong-ngomong, Kak, boleh kah saya share ulasan kakak?

    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas respons dari Mbak Wulan :)
      Saya juga sempat menduga bahwa Mbak menulis ini saat sebelum seperti sekarang, krn saya lihat di Goodreads, beberapa novel Mbak sebelumnya ratingnya bagus. Maaf apabila menurut Mbak resensi saya pedas nggak kira-kira... Sila Mbak share, it's my pleasure :D

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets