11 March 2016

[Resensi RENCANA BESAR] Thriller Setengah Hati

PLOT SUMMARY

April 2012.
Makarim Ghanim didatangi oleh Agung Suditama, temannya semasa kuliah, yang kini telah menjadi wakil direktur utama Universal Bank of Indonesia (UBI). Pertemuan itu nyaris sebuah kejutan bagi Makarim, tak hanya karena ia tidak suka dihina oleh Agung (apalagi saat itu ia baru saja bercerai dengan Susi), tapi juga karena Agung meminta sesuatu darinya. Ia meminta Makarim untuk menyelidiki siapa dalang di balik raibnya 17 miliar rupiah dari pembukuan UBI. Agung menyodorkan tiga nama yang diduga sebagai tersangka:
  1. RIFAD AKBAR, seorang penghancur dan Patriot. Ia ketua Serikat Pekerja UBI wilayah Jawa Timur, yang sebentar lagi akan menjadi ketua Serikat Pekerja seluruh Indonesia. Seorang asisten manajer treasury di Kantor Cabang Surabaya. Dengan jabatannya itu, ia punya akses bagus untuk menggelapkan uang. Yang dicurigai Makarim: dari mana dana untuk aktivitas-aktivitas Serikat Pekerja?
  2. AMANDA SUSENO, seorang pembangun, pegawai teladan UBI, pekerja yang ambisius, workaholic, seorang Loyalis. Setelah berbincang dengannya, Makarim mengetahui bahwa ia menjadi pegawai seambisius itu karena ingin meneruskan perjuangan kakaknya yang telah meninggal. Ia adalah asisten manajer marketing wilayah Jawa Timur, yang pastinya punya akses untuk menggelapkan uang bank. Anehnya, gaya hidupnya cukup sederhana. Tahun 2012, ia masuk nominasi Best Young Executive Award.
  3. REZA RAMADITYA, seorang pemikir, jenius di berbagai bidang keilmuan, menjabat sebagai asisten manajer operasional di Kantor Cabang Surabaya. Dengan jabatannya sebagai orang kedua di kantor cabang Surabaya itu, Makarim yakin ia punya akses untuk menggelapkan uang bank. Apalagi ia akhir-akhir ini mengalami demotivasi kerja yang drastis.
Setelah melakukan penyelidikan, Makarim tercenung, pemecahannya datang terlalu mudah, sehingga membuatnya ragu.
"Gampang sekali pekerjaan ini?" (Makarim, hlm. 124)
Dari mantan istrinya, Makarim mendapatkan informasi tentang kasus fraud serupa yang pernah terjadi pada tahun 2006. Sejumlah uang yang hilang dengan nominal janggal itu merupakan pesan gertakan.
"Pelakunya sebenarnya tidak mencuri apa-apa. Dia hanya mengacaukan sistem. Dia memberikan pesan." (Susi, hlm. 126)
Apakah Rp 17.679.122.980,90 yang hilang dari pembukuan UBI juga menyimpan pesan? Makarim memutuskan untuk melakukan penyelidikan ulang, yang mengantarnya ke sebuah nama baru. Satu nama yang menjadi penyatu ketiga orang tersangka dengan karakter yang saling berbeda itu. Namun, sebaiknya Makarim waspada, karena ada rencana besar yang dirancang oleh seseorang di balik semua ini.

REVIEW

Saya dapat novel ini dari giveaway yg diadakan Kak Ren. Saya jadi salah satu pemenang yang mendapatkan novel Rencana Besar. Bukunya ternyata dikirim langsung oleh Tsugaeda, plus tanda tangan. Terima kasih banyak, Tsugaeda :D


Sebentar, saya ingin tanya sama Tsugaeda, Anda penggemar novel John Grisham? Mohon abaikan saja kalau bukan :)]

Saya memang baru baca satu karya Grisham, yaitu The Firm, dan saya juga baru satu kali baca novel Tsugaeda, tapi saya menghirup aroma khas thriller Grisham (dan mungkin juga thriller Barat secara general) dalam Rencana Besar. Bedanya, di The Firm, tokoh utamanya adalah pegawai institusi yang sedang disorot, sedangkan di Rencana Besar tokoh utamanya adalah orang luar. Kalau di The Firm saya dicekoki ilmu hukum, kalau di sini saya belajar sedikit tentang perbankan. Kalau di The Firm, pembaca sudah tahu sejak cukup awal tentang rencana besar yang sedang berjalan, hanya menanti si tokoh utama berhasil memecahkannya. Tak begitu di Rencana Besar. Tsugaeda menyembunyikan rencana besarnya sebagai teka-teki, baik bagi Makarim, maupun bagi pembaca.

Saya mau mengapresiasi keberanian Tsugaeda nyemplung dalam dunia literasi genre thriller lokal yang pemainnya sedikit ini. Dari yang sedikit itu, ia juga berhasil jadi yang tidak abal-abal. Namun, saya kecewa karena novel ini thriller-nya nanggung. Bagi saya, novel thriller yang bagus itu yang sudah mengejutkan dari awal, tempo plotnya cepat, dan pemecahan kasus yang tak terduga. That's why, saya tak terlalu suka novel thriller Grisham dengan plot merangkaknya itu. Baru di sekitar sepertiga akhir saya menangkap keseruan plot Rencana Besar, tepatnya setelah flashback ke tahun 2009.

Sebelumnya, plot novel ini lambat dan agak membosankan. Unsur thrill-nya sangat kurang. Saya sama sekali nggak thrilled waktu baca ini dari awal sampai akhir. Cuma beberapa bagian membuat penasaran. Untunglah, pengaturan timeline cerita dan penempatan alur flashback-nya sangat membantu pembaca untuk memahami rencana besar yang telah dirangkai dan sedang berlangsung. Pengaturan plot semacam itu juga menjadi sarana penulis untuk menciptakan teka-teki, misalnya seperti ketika menceritakan bagian menghilangnya orang pemersatu Rifad, Amanda, dan Reza (saya nggak menyebut namanya untuk menghindari spoiler), atau ketika Agung memanggil Amanda ke ruangannya pada bulan April 2012 (Bab 34). Selain itu, bab-bab yang cukup pendek membantu memangkas rasa bosan dan menggugah rasa penasaran. Menurut saya, sebaiknya memang novel-novel thriller dan horor ditulis dalam bab-bab yang pendek, seperti serial Goosebumps-nya R.L. Stine itu.

Cerita misteri akan kurang daya cekamnya jika tak dilengkapi twist. Dalam novel ini, Tsugaeda telah berhasil menciptakan beberapa twist. Namun twist di akhir Bab 9 ketika Makarim dengan mudahnya menyelesaikan kasus itu mudah saya tebak. Sebagai pembaca thriller yang cukup berpengalaman, saya tahu bahwa ini adalah tipuan :7 . Kalau tentang kaitan UBI dengan narkotika, nah ini saya tidak menduga awalnya. Bagian paling menarik bagi saya adalah mengetahui siapa si orang pemersatu ketiga tersangka itu dan perjalanannya menemukan Rifad, Amanda, dan Reza. Malah, karakter yang paling saya suka adalah si orang pemersatu ini. Oh iya, saya juga suka dengan eksplorasi kisah Patriot versus Loyalis. Bagaimana orang pemersatu ini dengan cerdasnya berhasil memersatukan seorang Patriot dan seorang Loyalis, lengkap dengan si pemikir. Hubungan Rifad-Amanda-Reza juga sangat menarik untuk diselami, terutama hubungan Rifad dan Amanda, yang sejenis love-hate relationship (bukan love dalam sudut pandang romance, lho).
"Memangnya berapa banyak orang yang bisa terbantu jika saya melakukannya di dalam bank ini?"
"Ya, tidak banyak. Sekitar 20 sampai 30 ribu orang." (hlm. 210)

"Jika kau tertarik dan menerimanya, berarti kamu akan ikut saya. Ada orang-orang yang perlu kita labrak." (hlm. 218)

"Ia bilang, sebelumnya ia cuma bisa berharap banyak pada keajaiban supaya rencana ini bisa berhasil. Tapi, setelah bertemu denganmu, ia berkata, 'aku baru bertemu dengan keajaiban itu'." (hlm. 356-57)
Saya bersyukur penulis menciptakan Makarim sebagai manusia biasa yang kelewat biasa. Maksudnya, bukan jenius nggak kira-kira seperti Sherlock Holmes (tapi saya tetap ngefans dia, apalagi kalau yang main Benedict Cumberbatch) atau Mitch McDeere di The Firm. Makarim juga sering bingung, kadang tertipu, dan terlihat plegak-pleguk dalam menyelidiki. Ini hal yang wajar, lantaran Makarim bukan detektif, melainkan konsultan ternama di bidang manajemen sumber daya, yang memiliki daya analisis tajam (oleh karena itu Agung meminta bantuannya). Tsugaeda juga sedikit menyelipkan masalah pribadi Makarim, yaitu tentang kehidupan keluarganya.

Selain thriller yang nanggung, saya juga kurang suka dengan gaya bahasa Tsugaeda yang kurang mengalir, percakapan yang kurang natural, adanya kalimat-kalimat tidak efektif, dan beberapa cacat logika.
Makarim berada di dalam mobil yang disediakan untuknya melaju menyusuri jalan di barat Surabaya. (hlm. 87)
Mungkin kalimat itu ditulis seperti ini, "Makarim berada di dalam mobil yang disediakan untuknya, yang sekarang sedang melaju menyusuri jalan di barat Surabaya."

Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena ini adalah novel pertama Tsugaeda. Seorang reviewer di Goodreads, yang berkecimpung di dunia perbankan, mengkritisi unsur perbankan di novel ini, yang kurang sesuai dengan dunia nyata (bisa dibaca di sini). Oleh karena saya awam di bidang ini, jadi saya tidak hendak mengkritisinya. Saya akan fokus pada cacat logika.
Agung: Aku mau memberi tahu, besok rombongan direksi akan berkunjung ke Surabaya, termasuk aku. Kau mau bertemu?
Makarim: Oke, Gung. Sampai bertemu nanti malam. (hlm. 160)
Mungkin penulis lupa, bahwa Agung datangnya besok pagi, sehingga ketika menulis balasan dari Makarim, dia malah mengucapkan "nanti malam". Di halaman 190, penulis menuliskan jenis mobil APV, tapi lalu ia menyebut mobil itu MPV, dan untuk seterusnya mobil itu disebut MPV.

Contoh yang lain ada di bagian akhir novel, ketika Agung dan Makarim terlibat perkelahian (yang tidak digambarkan seseru apa perkelahiannya, tapi tiba-tiba saja Agung sudah bergelantungan di tepi jendela di lantai 4 kantor pusat UBI). Di halaman 342 tertulis, "Agung menggapai tangan Makarim dan menggenggamnya." Setelah membaca kalimat ini, saya berasumsi bahwa Agung telah berhasil diselamatkan Makarim. Namun, anehnya di halaman 363 tertulis, "Agung Suditama menderita lumpuh akibat kecelakaan jatuh waktu itu." Lalu saya melongo.

Sekujur novel ini terkesan serius, yang lucunya malah dinodai oleh kekonyolan aksi para penculik Amanda. Adegan ini sebenarnya berpotensi jadi menegangkan, lho, karena melibatkan kejar-kejaran pakai mobil. Namun, kekonyolan para penculiknya itu sangat memudahkan Makarim. Yah, mereka tipe penjahat seperti di Home Alone.

Judul "Rencana Besar" sungguh sederhana dan terkesan humble, tidak seperti judul novel thriller lokal lain, sebut saja The Jacatra Secret dan Satin Merah. Desain sampulnya juga sederhana, tapi eye-catching dan berhasil merepresentasikan isi novel. Sebagai pecinta genre thriller dan cerita detektif, alangkah indahnya kalau kita sekali-sekali mencicipi karya penulis lokal.

Selamat, Tsugaeda, karena Anda telah menjadi salah satu penulis thriller lokal yang cukup berhasil. Semoga Sudut Mati lebih seru daripada ini.

Rating saya:

@-) :-/ :) (3/5)


Judul: Rencana Besar
Penulis: Tsugaeda
Editor: Pratiwi Utami
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Agustus 2013
Tebal: vi + 378 halaman
ISBN: 978-602-7888-65-4
Harga: Rp 58.000,00
Reaksi:

2 comments:

  1. Saya harus menjajal novel thriller begini. Soalnya saya kayaknya kebanyakan melahap novel romantis saja. Ke depannya, saya mau mencoba menjajal genre lain,hehehe

    Saya selalu suka review Mbak. Soalnya lengkap dan mendalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kamu pecinta romance garis keras, ya? Iya, coba deh bertualang ke genre lain, seru lho :D
      Makasih, Adin :D

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets