Showing posts with label kampusfiksi. Show all posts
Showing posts with label kampusfiksi. Show all posts

18 February 2016

Elegi dari Bella untuk Edward



Kala Dia membawa Edward pergi, aku berteriak dan menerjang pagar kubikel dengan moncongku. Lenguhan napas dan jeritan ributku membuatnya menoleh, tapi tidak Edward. Pandanganku ngilu.

"Hei, Bella, kau ingin pergi juga? Saatmu belum tiba, masih beberapa bulan lagi."

Aku tetap berteriak-teriak, kaki pendekku dengan tak bergunanya menggelepar-gelepar. Moncongku mengendus-endus keras ke arah Edward.

"Apa lagi, Bella? Idul Adha sebentar lagi, Edward harus pergi."

Edward harus pergi. Tiga kata itu bagai tiga lecut pisau yang menguliti impian gemilangku sampai luruh seluruhnya dan terjatuh berdebam di atas ranah seluas pagar pembatas tempatku tersekap dengan sukarela, bercampur aduk dengan tanah lembek bercampur kotoran, makanan yang tertumpah, dan butir-butir air mata.

Bisa kudengar betapa sumbangnya teriakan-teriakan yang lolos dari leher pendekku, yang saking pendeknya membuatku terlihat seperti makhluk dari kelas Arachnida yang badannya terdiri dari kepala-leher tergabung alias cephalothorax dan abdomen. Tahukah kalian, bahwa aku sering merasa buruk rupa setiap melihat bayanganku terpantul dari genangan air? Tubuh gempalku berwarna merah muda lengkap dengan empat kaki pendek. Leher pendek menyulitkan gerakanku untuk menoleh, apalagi mendongak. Sepanjang hidup aku tak pernah melihat bulan yang kata sesama hewan cantik itu. Namun, Edward pernah berkata, “Kau pasti tak pernah mengira bahwa aku juga sering merasa buruk rupa dengan jembut daguku* yang terus memanjang kewer-kewer ini. Yang mau kukatakan adalah, kita semua tidak sempurna. Pun kita berbeda, tapi jika bersatu, aku yakin kita berdua akan bisa saling menguatkan.”

Apakah Edward tak ingat akan janji yang tersemat di antara pagar pembatas kandang kami? Yang tersulam dalam sentuhan antara moncongku dan moncongnya—bahwa kami akan selalu bersama? Tak kusangka, demikian tak berdayanya kami di tangan manusia. Tak cukup bagi mereka untuk sekadar mengotak-ngotakkan kami dalam dua kandang berbeda, ternyata.

Edward harus pergi. Karena dia kambing dan aku babi. Karena aku menguik dan dia mengembik. Karena ia dikorbankan saat Idul Adha dan aku disembelih saat Imlek tiba. Karena keduanya tak pernah terjadi bersama-sama.[]

*Istilah "jembut dagu" saya pinjam dari novel Tiger on My Bed karya Christian Simamora.
[Flash fiction ini diikutkan tantangan #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema "babi". ]

5 October 2015

[Resensi CINTA DI BATAS BIARRITZ] Relation à Distance

Judul: Cinta di Batas Biarritz
Penulis: D.S.M. Dedelidae
Editor: Diaz
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Juli 2015
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-602-255-802-6
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 2/5

Tale of  An Over-dramatized LDR


Perbedaan ekstrem tak menghalangi cinta antara Mori dan Arlan. Mori sangat takut ombak, ia langsung menutup mata dan menjerit jika ombak mendatanginya (padahal hanya menyentuh kakinya), sebelum lesap kembali ke pelukan laut. Sementara itu, Arlan adalah seorang peselancar yang mencintai laut, terlebih ombak.

"Mori, aku paling suka kalau sudah berhadapan dengan ombak seperti ini. Kau juga tahu kenapa, jiwaku seperti sudah menyatu dengan lautan luas. Dan, ombak, dia seperti sahabatku." - Arlan (hal. 66)

Kecintaan terhadap selancarlah yang membuat Arlan memutuskan untuk pindah ke Biarritz, sebuah kota pantai di Perancis. Di sana, Arlan tinggal bersama orang tuanya, Dion--sepupunya, dan mama Dion. Semenjak itu, ia dan Mori menjalani LDR. Tak mudah, terutama bagi Mori, lantaran Arlan adalah lelaki yang terlalu cuek. Dekat saja cuek, apalagi jauh?

Suatu kali, langit Biarritz tak secerah biasanya. Ombak pun menjadi buas, sehingga Dion memperingatkan Arlan.

"Sepertinya kau harus mengurungkan niatmu. Lihatlah, ombaknya besar, dan cuacanya lagi buruk. Mungkin, akan ada badai." - Dion (hal. 94)

Namun, seperti biasa, kekeraskepalaan--atau keberanian?--Arlan mementahkan semua peringatan Dion. Dia tetap menantang ombak, tak peduli seganas apa pun mereka mengempas tubuhnya.

Sementara itu di Bandung, Asih, sepupu Alisha--sahabat Mori, mendapat mimpi yang sama selama berhari-hari. Dalam mimpinya seorang lelaki sedang berselancar dan kemudian tenggelam ditelan ombak. Benar saja, mimpi Asih--yang memang memiliki kemampuan menerawang--menjadi kenyataan. Ditemani Alisha, Mori terbang ke Biarritz untuk mencari Arlan.

"Arlan, kamu tidak mendengarkan kata-kataku! Benar saja, ombak itu jahat!" - Mori (hal. 141)

***

Biarritz, Kau tak Lebih dari pada Sekadar Sampul Buku Tulis!

Sumber di sini.

Cinta di Batas Biarritz adalah novel kedua D.S.M. Dedelidae yang saya baca, setelah The Violinist. Dari kedua novel ini, saya menemukan bahwa penulis menggunakan setting luar negeri benar-benar sekadar sebagai setting. Ingat buku tulis bergaris yang sering kita pakai waktu sekolah dulu (sebelum tergeser oleh binder dan laptop)? Nah, semenarik apa pun gambar di sampul buku itu, ia tidak mencerminkan isinya. Dalam satu pak buku tulis, gambar cover-nya bisa saja berbeda-beda, tapi isinya sama saja: kertas putih bergaris. Jika sampulnya saya robek, lalu saya ganti dengan sampul lain, maka tak berpengaruh. Isinya tetap kertas putih bergaris. (Pengecualian: buku itu sudah terpakai dan ada identitas saya tertulis di sampulnya.)

Nah, seperti sampul buku tulis itulah kedudukan kota Biarritz dalam novel ini. Coba ganti kota Biarritz dengan kota mana saja dari daftar World's 20 Best Surf Towns versi National Geographic atau dari daftar Surfing: 10 Best Places in The World versi The Telegraph, maka cerita akan tetap berjalan lancar. Bagaimana dengan budaya masyarakat setempat, tak bermasalahkah jika diganti setting-nya? Mungkin kau bertanya begitu. Saya akan menggeleng. Tidak akan bermasalah. Penulis bahkan tidak menyelipkan sama sekali bahasa Perancis dalam percakapan sepanjang novel. Elemen budaya lain pun absen. Yah, meskipun tinggal di Biarritz, Arlan tinggal di rumah yang seluruh penghuninya adalah orang Indonesia.

Ada beberapa tokoh pribumi sebenarnya. Tokoh Davin--seorang bocah setempat yang dekat dengan Arlan dan Dion, tokoh sepasang suami-istri yang menyelamatkan Arlan, dan tokoh penjaga pantai, yang notabene menempati posisi cukup penting dalam cerita, pun tak nampak ke-Perancis-annya. Sangat disayangkan, padahal banyak hal menarik yang bisa disajikan pada pembaca dengan menunjukkan budaya setempat. Misalnya hanya dengan mengganti umpatan dengan  berbahasa Indonesia dengan umpatan khas Perancis. Dua kali saya menemui umpatan dengan kata "mata".

"Bodoh! Matamu di mana?!" (hal. 30)
"Kau punya mata, kan? Di mana kau menempatkan matamu?" (hal. 200)

Misalkan umpatan pertama diganti dengan, "Merde, connard!" (Shit, idiot!)


***

Penokohan yang (Terbilang) Sukses


Ada empat tokoh utama dalam novel ini, yaitu Mori, Alisha, Arlan, dan Dion. Penulis berhasil menggambarkan karakter Mori sebagai gadis yang manja, sombong, dan suka mengeluh. Sifat manjanya tertulis secara eksplisit, baik dalam narasi maupun dialog. Namun, sifat sombongnya tersembunyi di balik pandangan Mori terhadap rumah Asih, ketika pertama kali ia berkunjung ke sana. Ia mengamati sudut-sudut rumah Asih yang sederhana, lalu membatin, "Sederhana atau miskin sih ini?" (hal. 39).

Terakhir, sikapnya yang suka mengeluh digemakan pada otak saya berkali-kali di sepanjang novel. Awalnya, ia bertekad untuk mencari Arlan ke Biarritz.

"Kita ke sini bukan hanya untuk liburan, tapi mencari Arlan." (hal. 162)

Begitu katanya. Tapi kenyataannya, selama di Biarritz ia tak pernah melakukan aktivitas riil untuk mencari Arlan. Ia hanya nongkrong di pantai dan mengeluh ke semua orang.

"Mungkin, aku sudah lelah menunggu dan mencarimu. Kakiku rasanya ingin istirahat dari semua aktivitas yang melelahkan ini." (hal. 253)

Hello, yang lelah seharusnya Dion, bukan kamu, Mori! Dionlah yang ke sana-ke mari bolak-balik ke penjaga pantai untuk menanyakan kabar Arlan, apakah sudah ditemukan. Pun, Dion juga tidak secara harfiah mencari Arlan, sih. Sebenarnya yang benar-benar mencari Arlan adalah para penjaga pantai, tapi mereka tak mendapat apresiasi sepantasnya. Juga sepasang suami-istri yang menemukan Arlan. Lalu, di bagian akhir, Mori masih sempat-sempatnya membatin begini:

"Aku tidak akan berhenti mencarimu sebelum kau yang melumpuhkan kakiku sendiri." - Mori (hal. 271)
Berikutnya, tokoh Alisha, meski cantik dan kaya, tidak sesombong Mori. Kebalikannya, ia sangat menghargai sepupunya, Asih, meski gadis desa itu sangat lugu dan sederhana. Kesetiaan Alisha pada persahabatannya dengan Mori nampak jelas dari kerelaannya menemani Mori mencari Arlan. Pun dari kerelaannya untuk menyingkirkan perasaannya sendiri terhadap Dion demi memerhatikan Mori. Saya juga kagum akan kekonsistenan Alisha. Ia hanya mencintai Dion, dan tak berpaling pada cowok lain, sampai-sampai ia tetap menjomblo hingga saat itu. Bahkan setelah tahu siapa yang sebenarnya dicintai Dion.

Penulis sukses menggambarkan tokoh Arlan sebagai cowok yang sangat cuek, kaku dalam hal berpacaran, dan bertekad kuat alias teguh hati. Dialognya dengan Mori (dalam salah satu adegan  flashback) benar-benar bikin saya sebal, saking cuek dan tidak pekanya dia.

Sama seperti Alisha, Dion juga hobi fotografi. Penulis menampilkan sisi manusiawi secara nyata melalui sikap Dion ketika ia tak sanggup membendung perasaannya lagi, terhadap gadis yang diam-diam dicintainya. Namun, sebagai seorang cowok, sikapnya terlalu pasrah pada keadaan. Setelah Arlan menghilang, ia terlihat sangat pasrah dan tak melakukan apa pun kecuali hanya menanyakan status Arlan kepada penjaga pantai.


***

J'en Ai Marre!

La Grande Plage de Biarritz, sumber di sini.

"Ternyata, aku memang sudah lelah."
- Mori (hal. 187)

Ya, begitu pun dengan saya, Mori. Saya lelah mengikuti perjalanan cintamu dalam novel ini. Butuh perjuangan keras untuk bisa menamatkan membaca buku ini, karena:

  1. Terlalu banyak monolog dalam hati, bukan cuma dari Mori, tapi juga Alisha, Arlan, dan Dion. Terlalu banyak dan panjang-panjang. Dalam tiap monolog, hampir selalu nama Tuhan disebut. Mungkin penulis sengaja untuk menunjukkan bahwa para tokohnya sangat religius. Hmm, saya jadi teringat sinetron Indonesia. Kadang, monolog itu tidak sesuai dengan konteks adegan yang tertulis dalam narasi. Contohnya adalah sebuah paragraf yang terdiri dari 10 kalimat berikut, yang merupakan monolog dalam hati yang dilakukan Arlan ketika berselancar. 
    "(1)Tuhan, banyak orang memanggilku. (2)Menyuruhku ini-itu. (3)Memintaku melakukan yang tak mau kulakukan. (4)Aku lebih baik diam. (5)Setelahnya, mereka menilai apa yang mereka lihat saja. (6)Cuek, dingin, atau apalah yang membuat diri ini mengerti. (7)Aku memang seperti itu. (8)Ada hal yang tak bisa diungkapkan oleh kata. (9)Mungkin banyak. (10)Tuhan, aku berserah atas panggilan mulia-Mu." - Arlan (dalam hati, hal. 67)

    Saya tidak menangkap maksud kalimat (1); siapa yang memanggil? Memanggil kenapa? Oh, ternyata ada yang memang memanggilnya dari pantai: Dion. Tapi, kalimat (2) makin membingungkan. Menyuruhnya untuk ngapain? Kalau dilihat dari hubungannya dengan kalimat (1), maka kalimat ini nonsens. Pasalnya, Dion tidak menyuruh Arlan ngapa-ngapain; ia hanya memotonya. Dan well, Arlan memang tidak suka difoto ketika sedang berselancar. Kalimat (3)--(9) bisa saya mengerti, mungkin yang dimaksud Arlan adalah banyak orang menyuruhnya menghindari ombak atau agar ia lebih perhatian terhadap Mori. Namun akhir kalimat (6) kurang bisa saya mengerti. Cuek, dingin, okelah, tapi "membuat diri ini mengerti" bagaimana maksudnya? Lalu kalimat (10) membuat monolog ini makin runyam. "Panggilan mulia" apa yang dimaksud Arlan? Apakah ia menganggap berselancar adalah panggilan mulia dari Tuhan? Well, bisa saja, sih, tapi sebelum atau setelahnya tak pernah tertulis bahwa Arlan beranggapan seperti itu.
  2. Koherensi antarkalimat kurang padu, seperti yang bisa dilihat dari contoh paragraf di atas, dan seperti paragraf berikut ini.
    "(1)Hitam hampir menyelimuti dan menyisakan sebagian biru di langit luas. (2)Cahaya satelit bumi satu-satunya melingkup bumi seisinya. (3)Ya, semua orang tahu, salah satu benda antariksa itu tidak menghasilkan cahaya sendiri." (hal. 178)

    Kalimat (2) dan (3) kurang koheren. Kecuali jika kalimat (3) dihapus dan kalimat (2) diubah , misalnya seperti ini: "Meski bulan tidak dapat menghasilkan cahaya sendiri, satelit bumi satu-satunya itu mampu menyinari bumi dan seluruh isinya."
  3. Banyak dialog kurang penting, dengan frekuensi terbesar dialog dalam novel ini adalah Mori-Alisha. Dialog Alisha dan Mori berkisar antara hubungan Mori dan Arlan yang tidak terlalu sehat (LDR + kecuekan Arlan), tentang Asih, dan tentang cinta terpendam Alisha. Kemudian, dialog antara Dion dan Arlan berkisar antara kekhawatiran Dion akan aktivitas selancar Arlan yang berbahaya dan tentang sikap cuek Arlan terhadap Mori. Mengapa saya bilang banyak yang tidak penting? Kebanyakan inti dialog itu sudah jelas bagi saya, baik itu sudah dijelaskan dalam narasi, maupun sudah diungkit dalam dialog sebelumnya. Terlebih bagian ketika Mori dan Alisha berada di Biarritz. Terlalu banyak dialog berisi keluhan Mori, kapan Arlan akan ditemukan.
  4. Alurnya kurang bisa menjerat rasa penasaran saya. Genre pure romance remaja memang bukan favorit saya, tapi bukan berarti saya tidak suka membaca fiksi berbau romance. Sepesimis apa pun saya akan sebuah buku yang sudah saya mulai, saya akan menyelesaikannya! Saya berani mengklaim bahwa saya adalah extrovert reader, yaitu pembaca yang bacaannya lintas-genre. Nah, padukan genre ini dengan alur yang seperti garis y=c atau garis y=mx, dengan batasan berupa halaman pertama dan halaman terakhir buku. VoilaAktivitas para tokoh dalam novel ini berupa rutinitas yang berkisar antara selancar di La Grande Plage de Biarritz (Arlan, ditemani Dion, yang seperti tak punya kerjaan lain selain memoto); sekilas kehidupan kampus dan fotografi, sekilas liburan di Pantai Pangandaran, penantian di Biarritz (Mori dan Alisha); sekilas pengalaman supernatural Asih.
  5. Gaya bahasa kurang komunikatif, efektif, dan logis, terpengaruh juga oleh kurangnya koherensi (seperti yang sudah saya ungkit di poin kedua). Hal ini juga menyebabkan penuturan seperti tersendat-sendat, sehingga kurang bisa saya nikmati. Saya akan memberi sedikit contoh kalimat kurang efektif dan kurang logis.
"Air mata Mori menetes. Dipandangi oleh Mori pigura tersebut secara dalam." (hal. 230)
Bagaimana jika: Air mata Mori menetes. Dipandanginya pigura tersebut dalam-dalam. 
"Ketika menuju kios pakaian, ujung mata Mori menangkap sesuatu. Aneh. Sedikit mistis. Ia terdiam. Lalu, ia berhenti. Kemudian, memalingkan muka ke benda itu. Benda unik dan hitam tersebut sejenak mengalihkan pandangannya." (hal. 44-5)
Sebenarnya apa yang mistis? Benda apa yang unik dan hitam? Sebelum dan setelah narasi itu, saya tidak mendapati keterangan apa pun yang berkaitan dengannya. Contoh berikutnya adalah ketika penulis mendeskripsikan kecintaan Dion akan fotografi.
"Kamera yang sudah menjadi tren di kalangan masyarakat menjadi kamera kesayangannya." (hal. 172)
Keterangan "yang sudah menjadi tren di kalangan masyarakat" dalam kalimat tersebut kurang bisa menggambarkan kamera apa yang sebenarnya dimaksud. Selanjutnya, saya menemukan satu kalimat (yang rangkaian kata-katanya paling stand-out di antara yang lain) yang seperti di-copy lalu di-paste dan sedikit diubah oleh penulis dari hal. 53 ke hal. 65.
"Hiruk pikuk perkotaan seperti sengaja digandakan ke pantai ini." (hal, 53)
"Keramaian kota Biarritz memang seperti digandakan ke pantai ini." (hal. 65)

***

Ada Apa antara Penulis dengan Pemilihan Adjektiva, Ukuran, dan Kata Ganti Kepemilikan?


Salah satu cara untuk membuai pembaca dengan pengalaman yang terasa nyata adalah menggunakan paragraf deskriptif. Pemilihan adjektiva yang tepat bisa menjadi salah satu kunci tersampaikannya penggambaran penulis kepada pembaca. Namun, dalam novel ini, saya menjumpai cukup banyak adjektiva yang menurut saya kurang pas. Contohnya adalah sebagai berikut.
"Bulir-bulir air mata kian menggenangi pipi putih Mori." (hal. 11)
Adjektiva "putih" langsung membuat saya membayangkan sesosok wajah yang pucat. Mori adalah orang Indonesia, yang termasuk dalam ras Malayan Mongoloid, sehingga kulitnya lebih tepat jika disebut kuning langsat. Namun, "pipi kuning langsat Mori" juga terdengar ganjil di telinga. Mungkin lebih pas disebut "pipi cerah merona Mori".

"Bukan bermaksud memamerkan badannya yang seksi..." (hal. 55)
"Seksi" di telinga saya terdengar dangkal, dalam artian ia too much telling, not showing. Definisi "badan yang seksi" itu seperti apa, sih? Tiap orang pasti punya pendapat berbeda-beda.

"Tubuh putih berlapiskan blazer merah..." (hal. 82)
Nah, "putih" lagi! Penyebutan "tubuh putih", kok membuat saya membayangkan mayat yang telah kaku, kulitnya putih pucat.

"...mulutnya yang tipis dan cokelat..." (hal. 30)
Saya tidak tahu bagaimana bentuk mulut yang tipis dan cokelat, pun tak bisa membayangkannya! Mungkin maksud penulis adalah "bibir yang tipis dan kecokelatan".

Kemudian, poin kedua yang perlu saya soroti adalah penulisan ukuran benda. Kalimat berikut mengesankan bahwa ukuran tembok setinggi 40 sentimeter itu sangat tinggi, karena adanya keterangan "hampir".

"Mori pun duduk di tembok yang tingginya hampir empat puluh sentimeter." (hal. 24)
Selain itu, ukuran benda 3-dimensi yang digambarkan seolah 2-dimensi, salah satu contohnya adalah kalimat berikut. Hal ini menyebabkan saya tidak bisa membayangkan, seperti apa dus 2-dimensi?

"...dus berukuran 50x30 sentimeter..." (hal. 30)

Poin ketiga adalah penulis selalu menggunakan ganti kepemilikan yang kurang baku, seperti: "desainnya Mori", "mamanya Dion", dan banyak lagi. 

***

Au Revoir, Biarritz!

Di samping beberapa fragmen ceritanya yang terlalu kebetulan, seperti Davin yang secara kebetulan bisa menemukan Mori di tengah keramaian La Grande Plage de Biarritz, atau seperti sepasang suami-istri yang kebetulan berlayar dekat pulau tempat Arlan terdampar, novel ini menyajikan kisah LDR yang penuh drama antara sepasang remaja-menjelang-dewasa. Tempo alurnya pun terasa lambat akibat terlalu banyak pengulangan inti cerita. Kalau kau ingin kisah romance yang bikin baper, atau yang bikin termehek-mehek, atau yang membawa pencerahan, lebih baik jangan membaca buku ini. 

27 July 2015

[ANNOUNCEMENT] Perkenalkan SiPiLis, Si Rubrik Baru The Reveter

Halo, semuanya! Selamat ber(lewat)tengah malam, hihihi *tawa seram*



Sebelum bulan Juli berakhir, akhirnya The Reveter akan menelurkan sebuah rubrik baru. (Iya, The Reveter ini makhluk ovipar.) Sebenarnya rubrik ini telah dirancang sejak sebulan lalu, tapi si Reveter masih galau mau ngasih nama apa untuk anak barunya nanti, sehingga ia hanya termenung tiap hari di pojokan lemari, mengulur waktu bertelurnya *emang bisa?*, sampai akhirnya sebuah cahaya putih melesat menembus otaknya yang buntu. 

Berkat bantuan teman-teman Kampus Fiksi #12 (sebut merk nggak apa-apa, ya, biar terkenal dikit), muncullah beberapa usulan nama yang cukup ngawur kece. Berdasarkan tingkatan ear-catching-nya, si Reveter akhirnya memilih nama SiPiLis, akronim dari "Sesi Ngopi Bareng Penulis". (Terima kasih untuk Trice Fakhri yang telah mencetuskan dan menyumbangkannya secara gratis tanpa dipungut biaya hak cipta.) Ditilik dari namanya, pasti kalian sudah bisa menebak bahwa rubrik ini akan berisi obrolan bersama penulis-penulis yang bukunya saya resensi. 

Menyambut pecahnya telur baru si Reveter, saya telah menyiapkan sebuah banner.

Ups, bukan ini bannernya! >,<

Ta-

ra!

SiPiLis #1 akan langsung muncul setelah saya mengunggahnya, tentunya. Rencananya, rubrik ini akan muncul sebulan sekali (doakan saya). Huehehehe. Ayo tebak, siapa penulis yang beruntung saya ajak ngobrol untuk edisi perdana SiPiLis? Petunjuknya, novelnya baru-baru ini saya resensi, tentang jari kelingking gitu, deh. Penasaran, nggak? Hmm, nggak, ya? Ya, udah, itu cuma pertanyaan retoris, sih. Penasaran atau pun nggak, tetep saya lanjutin. Hihihi.

Let's check SiPiLis #1 at this link.

10 June 2015

Dikotomi Tradisi dan Modernisasi dalam "Senja yang Mendadak Bisu"

Judul: Senja yang Mendadak Bisu
(kumpulan karya terbaik Kampus Fiksi Emas 2015)
Penulis: Lugina W. G., dkk.
Editor: Ainini
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, April 2015
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-0806-08-2
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3/5

Hiperrealitas dari 13 Provinsi

“Bah Kanta mendekap dada kirinya dengan gigi gemeretak. Seperti ada yang meremas jantungnya kuat-kuat hingga sesak. Aliran Cisaninten yang kian susut berkelebat di benaknya. Lalu senyap. Senja tiba-tiba tak terdengar suaranya.” 
(Senja yang Mendadak Bisu, hal. 202)

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang diterbitkan dalam rangka merayakan ulang tahun kedua Kampus Fiksi. Baru dua tahun, tapi alumninya sudah bejibun, apalagi karya-karyanya. Seperti buku kumpulan cerpen sebelumnya, Gadis 360 Hari yang Lalu, ini juga mengangkat tema “lokalitas-inspiratif”. Dalam kata pengantar, Edi AH Iyubenu, sang rektor Kampus Fiksi, menekankan kembali bahwa “penulis memang ditakdirkan menjadi pemikir, bukan pengkhayal kosong belaka” (beliau juga menulis tentang ini pada kata pengantar Hujan Pertama untuk Aysila). Selain itu, beliau juga membahas tentang hiperrealitas, buah pemikiran Jean Baudrillard.

“Hiperrealitas bukanlah realitas sesungguhnya; ia benar-benar melampaui realitas. Sebut saja ia dengan cara simplistis sebagai ‘realitas yang over, hiper, meluas’. 
(hal. 5)

Yang beliau maksud "hiperrealitas" dalam konteks tema kumpulan cerpen ini adalah bahwa para penulis menyuguhkan beragam kesegaran cerita dari berbagai latar di Indonesia; bahkan ada banyak tradisi atau adat yang belum saya ketahui sebelum membaca buku ini. Sepertinya makin banyak orang Indonesia yang ingin menjadi penulis, dan karenanya, mereka harus bersaing makin ketat. Siapa yang bisa menyuguhkan inovasi, keunikan, hiburan, pasti akan punya nilai lebih, apalagi jika ditambah ilmu pengetahuan baru. Itulah yang saya dapatkan dari cerpen-cerpen dalam buku ini.

Kumpulan cerpen ini terdiri dari 21 cerpen, yang persebaran latar tempatnya dapat saya gambarkan sebagai berikut.




Ada satu cerpen yang tak menyebutkan latar tempatnya, meski saya tahu itu terjadi di daerah berbahasa Jawa. Sementara ada satu lagi cerpen yang nama dusunnya disebutkan, Dusun Tlogo, tapi saya tidak bisa menebak itu di daerah mana, yang jelas para tokohnya berbahasa Jawa.

Perjuangan Menjemput Cinta

Persoalan cinta selalu menjadi satu warna yang seolah wajib ada dalam satu cerita. Tak melulu cinta antara laki-laki dan perempuan, dong. Cinta untuk alam. Cinta untuk tradisi. Cinta dari saya untuk kalian semua *halah*. Mari kita bahas yang pertama.

Ada beberapa cerpen yang berkisah tentang perjuangan dua orang manusia (pria-wanita, ya) untuk menyatukan cintanya. Cerpen yang pertama dalam buku ini, contohnya. Battle Tirakat, atau adu tirakat. Saya agak bertanya-tanya, mengapa judulnya memakai bahasa Inggris "battle". Hmm, mungkin biar agak keren semacam istilah dance battle yang populer di kalangan para boyband/girlband Korea. Kang Nirta, si tokoh "aku", harus beradu samadi di Petilasan Songgo Langit Pitu, dekat area makam Sunan Muria, di pinggiran Kudus. Itu harus ia lakukan demi mendapatkan Anggara, gadis yang ia cintai dan mencintainya. Masalahnya, ada laki-laki lain yang juga melamar gadis itu. Jadilah, mereka berdua melakukan ritual samadi uji nyali, ritual yang harus dilakukan menurut adat suku Samin. Yang berhasil menemukan mestika adalah pemenangnya. 

"Kejujuran adalah barang keramat dalam Saminisme. Saking jujurnya, mereka mengharamkan perdagangan karena menganggap di dalam sebuah transaksi pasti terselip ketidakjujuran. Mereka juga tidak memercayai pemerintah. Dalam semua segi kehidupan, tidak ada yang peduli dengan kebijakan negara, apalagi aturan-aturannya. [...] Untungnya, suku itu respek pada agama apa pun." 
(hal. 11)
Prinsip hidup orang Samin mengingatkan saya akan faksi Candor di trilogi Divergent. Sempat saya terpukau pada kalimat pertama kutipan di atas. Di tengah kelangkaan sembako, eh kejujuran, ada suku yang begitu keukeuh memegang kejujuran. Namun, menginjak kalimat berikutnya, saya bertanya-tanya, lalu mereka tidak pernah belanja di pasar, begitu? Berikutnya, saya terenyak pada kalimat terakhir. 

Ada juga perjuangan cinta yang berakhir tragis, seperti yang dialami Angsana dan Widati akibat cinta terlarang, karena Widati sudah bersuami. Sebegitu cintanya Angsana pada Widati, hingga "hampir membuatnya putus sekolah saking jatuh cintanya" (hal. 33). Kalimat ini membuat saya bingung, kok, bisa, sampai hampir putus sekolah cuma gara-gara jatuh cinta? Mereka berdua sering bertemu diam-diam, salah satunya saat ritual sedekah bumi di Dukuh Bendan, Lasem. Selain itu, mereka juga punya tempat bertemu rahasia dengan Widati, di warung kopi lelet milik Padmini. Namun, ada yang lebih tragis daripada kisah cinta Angsana--Widati: cinta tak tersampaikan Dahayu kepada Angsana. Dahayu adalah gadis cacat, anak Padmini, yang dulu pernah berusaha digugurkan lantaran tidak diinginkan. Gara-gara itulah, Padmini diusir oleh ayahnya, seorang keturunan bos batik Lasem keturunan Tionghoa, lalu dia membuka warung kopi lelet. Jika kamu sudah tahu apa itu kopi lelet (ini cukup populer di daerah pantura Jawa Tengah--seperti tempat lahir saya), maka lewatkan saja penjelasan berikut. Kopi lelet itu suatu fenomena rokok dioleskan ke ampas kopi hitam lalu diisap dalam-dalam. Bagaimana rasanya? Saya tidak tahu karena saya belum pernah coba.

Dalam cerpen berjudul Hikayat Terpendam Gadis Lasem tersebut, penulis menggunakan sudut pandang yang cukup unik, yaitu "aku" milik "sebatang rokok yang ditempel asal dengan ampas kopi oleh Dahayu" (hal. 32). Selain itu, penulis juga mengangkat perilaku tidak adil terhadap orang-orang cacat.

"Karena seperti yang ibunya bilang, Dahayu hanyalah beruk yang tidak punya hak untuk memuja cinta." 
(hal. 39)

Tradisi Tak Bisa Berdamai dengan Modernisasi?

Fenomena berikutnya yang saya temukan adalah ini: agaknya beberapa penulis mengklaim bahwa tradisi tak bisa berjalan beriringan dengan modernisasi. Oleh karena itu, saya menyebutnya dikotomi. Seolah dua hal itu selalu bertentangan dan tak mungkin akur. Padahal bisa saja akur, kan, seperti contoh, dosen saya yang sedang mengembangkan wayang 3-dimensi (bisa dilihat di Jogja Art Week di PKKH UGM, tanggal 9-27 Juni *promosi*).

Fenomena ini saya temui dalam cerpen Senja yang Mendadak Bisu dan Penerus Klithik. Pada cerpen yang pertama, fenomena ini diwakili oleh pertentangan antara Bah Kanta, seorang kakek yang amat mencintai alam Dusun Tonggoh, Cisaninten dan menjaganya dengan sepenuh jiwa raga, dengan para perusak alam. Dalam cerpen yang keindahan alamnya tergambar memukau ini, perusak alam itu disimbolkan oleh perusahaan air mineral dan pemborong perumahan yang mengeksploitasi alam Cisaninten. Selain itu juga orang-orang yang memburu burung caladi bawang, yang menurut Bah Kanta adalah burung langka. Caladi bawang itu pernah dicari untuk dijadikan sesajen agar sukses pilkada. Tentu saja Bah Kanta menolak mentah-mentah ketika ada orang menawarkan sejumlah uang untuk dicarikan caladi bawang. Penulis menunjukkan bahwa pada zaman ini, usaha rakyat jelata untuk memelihara alamnya sering terjegal sampai jatuh oleh para manusia pencari keuntungan yang tak peduli pada lingkungan.

Antipati Bah Kanta terhadap perusak lingkungan itu juga tergambar lewat ketidaksukaannya dengan air mineral.

"Ditatapnya gelas plastik air mineral yang disediakan Sukendar sebelum disesap pelan-pelan. Rasanya tawar. Tak begitu segar." 
(hal. 197)
Senja yang mendadak bisu merupakan pertanda bahwa alam yang indah tak akan seindah dulu, setelah mulai dirampas oleh pengembang perumahan dan pengusaha air mineral.

Penulis juga memasukkan tokoh carik, Sukendar, yang senang-senang saja alam desanya dieksploitasi. Mungkin dia mendapat amplop tebal.

Pada cerpen kedua, ada satu tokoh yang setipe dengan Bah Kanta, yaitu Sudarso, si dalang wayang klithik yang berusaha melestarikan kesenian tradisional Desa Wonosoco, Kudus itu. Caranya, ia memaksa putra semata wayangnya, Abyasa, untuk tetap tinggal di kampung, melanjutkan jadi dalang. Tak digubrisnya keinginan Abyasa untuk kuliah di Semarang. Ini adalah wujud pertentangan tradisi dengan modernisasi dan pertentangan orang tua vs anak. Memang, melestarikan tradisi selalu banyak tantangan.

"Sekolah kuwi wajib...."
"Lantas mengapa Bapak tak mengizinkan aku kuliah di Semarang? Katanya mencari ilmu itu wajib?"
"Bapak mengizinkan kuliah, tapi di Kudus saja. Masih banyak yang harus kamu pelajari di sini...." 
(hal. 129-30)
Ada dua adegan yang agak aneh menurut saya. Dua kali Harto tiba-tiba ada di dekat Jumilah (istri Sudarso), tidak tahu dari mana datangnya, dan bagaimana ia bisa selalu tahu keberadaan Jumilah. Mungkin ia stalker, ya?

Tradisi yang Mengkhianati Manusia?

Nah, (sebagian kecil) manusia selalu berusaha melestarikan tradisi, tapi sayangnya kadang-kadang tradisi itu malah mengkhianati manusia. Fenomena ini saya temukan dalam cerpen Segenggam Mayam, Sarangan, Piil Pesenggiri, dan Jangan Sebut Dia Singkek. Uniknya, pada keempat cerpen ini, terdapat masalah utama yang sama, yaitu tentang pernikahan yang terlarang oleh tradisi.

Pada cerpen yang pertama, cinta antara Fira dan Rifqi harus terputus oleh tradisi mahar perkawinan Aceh, yang disebut mayam. Orang tua Fira memasang "harga jual" tinggi terhadap putrinya, yang tak sanggup dipenuhi oleh Rifqi. Kemudian tokoh Fira mempertentangkan antara kepercayaan agama versus tradisi.
"Agama kita tidak menganjurkan mahar yang terlalu besar. Agama kita mengajarkan, sebaik-baik wanita adalah yang sedikit maharnya. Bukankah sebaiknya aturan adat juga bisa sejalan dengan aturan agama, Mak?" 
(hal. 187)
Pada cerpen yang kedua, pernikahan (lagi) terhalang oleh kepercayaan tradisional tentang weton selawe. Jika weton sepasang calon suami-istri itu dijumlahkan menghasilkan angka dua puluh lima, maka mereka dilarang menikah, karena bisa menyebabkan kematian orang tua dari salah satu pihak. Karena belenggu tradisi itu, mereka malah melakukan perbuatan asusila agar boleh menikah. Penulis juga mempertentangkan kepercayaan agama dan tradisi.
"Bukankah hanya Gusti Allah yang menentukan umur manusia, Pak!"
"Aku orang yang beragama, Le. Aku sungguh tidak meragukan jika hidup dan mati itu sudah digariskan Gusti Allah. Tapi, apa salahnya kita ngeluri tradisi? Leluhur kita menciptakan ilmu primbon tentu dengan tujuan yang baik." 
(hal. 177)
Pada cerpen yang ketiga, tradisi juga menyebabkan pernikahan seorang laki-laki Lampung dengan gadis Jawa gagal. Penyebabnya adalah harga diri (piil pesenggiri) orang Lampung yang terlampau tinggi, hingga muncul istilah "jangan cari masalah dengan ulun Lampung, piil tersenggol, golok bisa keluar dari sarung" (hal. 140). Sikap orang Lampung yang defensif ini tak bisa disalahkan juga, lantaran muncul sebagai akibat marginalisasi oleh para transmigran.
"Penduduk lokal harus bertahan agar tidak menjadi minoritas di tengah-tengah heteroginitas budaya pendatang." 
(hal. 141)
Pada cerpen yang keempat, kisah cinta antara Rohimah dengan Koh Liong terhalang kepercayaan akan stereotip orang Tionghoa (singkek), yang menganggap bahwa "orang singkek itu suka harta duniawi, bahwa singkek keinginannya tidak ada habisnya" (footnote hal. 51).
"Kita berbada, Roh."
"Hanya itu? Hanya karena perbedaan semacam ini maka kita haram bersatu?!"
"Bukan haram, tapi mereka yang tak paham. Kamu Jowo, aku singkek." 
(hal. 58)
Be' Darmi malah "menjual" Rohimah dengan menikahkannya dengan seorang kakek kaya. Namun, menurut saya, fenomena ini kurang "tradisional". Misalkan, latar tempatnya dipindah dari Gresik ke Semarang, atau ke Surabaya, atau ke Pati, atau ke tempat lain yang banyak penduduk Jowo-nya dan ada singkek-nya, maka cerita ini juga bisa terjadi. Fenomena tradisi yang diangkat kurang "endemis".

Tradisi dan Manusia yang Saling Mengkhianati

Fenomena ini juga terjadi, lho. Pada cerpen Rambu Solo untuk Ambe, si "aku", seorang pemandu wisata di Toraja, tidak punya cukup uang untuk mengadakan rambu solo (upacara perayaan kematian khas Toraja, yang menghabiskan banyak biaya) untuk ambe-nya (ayahnya), ia mengambil jalan curang. Ia mencuri dan menjual tengkorak Lobo dan Andui ke orang Perancis, lalu uangnya ia gunakan untuk mengadakan rambu solo. Ironis sekali, bukan, menjual benda bersejarah demi melakukan tradisi, padahal seharusnya keduanya sama-sama dijaga dan dilestarikan baik-baik.

Manusia yang Melupakan, Skeptis, terhadap Tradisi

Saya merasa tersindir oleh cerpen Tentang A Fen, yang berkisah tentang usaha seorang gadis Tionghoa Benteng dari Teluk Naga, Tangerang, untuk menghapuskan stereotip "Cina kere" terhadap kaumnya. Ia juga ingin keberadaan kaumnya diakui. Orang Tionghoa ingin diakui, tapi mereka sendiri tak sedikit yang seperti A Long, melupakan tradisinya. Contohlah A Fen, kalau ingin diakui, akui dulu tradisi keluarga sendiri.
"[...] tetapi karena aku sadar, sudah terlalu lama aku mengabaikan tradisi keluargaku yang lainnya. Memalukan nama Zhou Shen Long saja." 
(A Long, hal. 227)
Ada juga tokoh yang skeptis terhadap tradisi "ramalan Cupu Panjolo" yang berlangsung tiap malam Selasa Kliwon mangso kapat penanggalan Jawa di Girisekar, DIY bagian selatan. 
"Aku terperosok pada golongan orang-orang yang tidak mengenal seluk-beluk budaya dan ajaran nenek moyang. Semacam anak yang lupa pada pusaka leluhur. Tercerabut akarnya." 
(Dalijo, hal. 231)
Tokoh Dalijo dalam cerpen Yang Bernama yang Tergambar yang Berarti ini, meski tinggal di kampung, tidak percaya terhadap ramalan Cupu Panjolo karena itu hal gaib yang tidak masuk akal. Namun, kata Ranggawarsita, temannya, si waria, yang bekerja di kota, orang-orang kota malah percaya hal-hal gaib, untuk tujuan-tujuan yang  menguntungkan. Tokoh waria ini juga memegang peranan tersendiri dalam cerita. Mungkin penulis sengaja memasukkannya untuk mengatakan bahwa meski waria, bisa saja ia agak lebih sukses dalam pekerjaannya daripada pria normal.

Manusia yang Mencintai Tradisi

Meski kadang tradisi itu sulit dilakukan, masih ada orang yang setia menjaganya. Contohnya adalah tokoh Yosani pada cerpen Iki Palek, Sebuah Perih Rindu Tak Berkesudahan, yang berlatar di Lembah Baliem. Cerpen ini mengangkat tradisi memotong buku jari tiap ada anggota keluarga yang meninggal (berlaku untuk wanita). Tradisi ini meneguhkan ketangguhan para wanita suku Dani, yang harus menanggung perih seorang diri.
"Jari disimbolkan sebagai kerukunan, kesatuan, juga kekuatan dalam diri manusia. Jika salah satu jari tidak sempurna, maka pekerjaan sehari-hari pun ikut terganggu. Sama artinya ketika kehilangan salah satu keluarga, berkuranglah kebersamaan tersebut." 
(hal, 45-6)
Ikatan batin antara anak dan ibu sangat kuat tergambar di sini. Pada cerpen ini saya menemukan kata "ebeai", yang tidak dilengkapi dengan penjelasan artinya.

Tokoh Ranu pada cerpen Kunang-kunang Ranu Lus juga setia menjaga tradisi, meski ia pernah mengkhianatinya karena terpaksa. Adalah perjanjian antara manusia dengan para lelembut di Danau Ranu Lus untuk saling hormat dan tidak mengganggu, yang pernah sekali dilanggar oleh Ranu. Kemudian, ia terpaksa melanggarnya lagi karena ada turis bule yang memaksa ingin diantar ke sana.
"Apakah alam akan sepemurah itu, terus memaafkan sementara manusia sudah demikian mementingkan diri sendiri?" 
(hal. 85)
Selain cerpen-cerpen yang saya bahas di atas, ada lagi beberapa cerpen lain yang tak kalah menarik, meski kurang berkesan bagi saya. Meski begitu, saya berterima kasih karena buku ini telah mengangkat banyak tradisi unik yang belum saya ketahui. Semoga ke depannya karya sastra seperti ini terus bermunculan, sebagai salah satu bentuk untuk melestarikan tradisi Nusantara, yang beragam jenisnya dan bejibun banyaknya.
"Apakah rindu harus terdefinisi? Tak peduli beningnya belantara sepi dan pedih. Tak peduli air mata disesap sakit dan pedih. Dan jiwa-jiwa itu mengejang di muka rindu tak berkesudahan." 
(Iki Palek, Sebuah Rindu Tak Berkesudahan, hal. 40)

31 May 2015

May's To Be Reviewed (Divapress' Books)


May will be over in hours, but I've just posted this >.<. This month, Divapress gave me three books to be reviewed.


I didn't expect anything when casted a glance at the title, which sounded a bit provocating, but it turned out that this book had its own taste. I gave it a rating of 3 (out of 5), and you can take a peep at my review here.


The second one is a story collection, titled Senja yang Mendadak Bisu. This book contains of 21 selected/best short stories written by KampusFiksi's alumna, to celebrate KampusFiksi's birthday last month. All of the stories tell about traditions from many places in Indonesia. The very best story was, of course, Senja yang Mendadak Bisu, written by Lugina W.G, which was also posted in Basabasi
Status: read, but not yet reviewed.


The last one is a kind of teenlit, which I'm currently reading. I've just got a few pages, and the writing style is a bit unique. The writer gives two options for each point of the plot, like "if .... then ....", so that there are 2 plots in one book. It reminds me of Princess Aurora story book I read a long long time ago, which have many options of plot.
I'll review the second book soon, and finish reading the last one.


20 April 2015

[Resensi] Hujan Pertama untuk Aysila dan Aysila Lainnya

Penulis: Edi AH Iyubenu
Editor: Muhajjah Saratini, Misni Parjiati
Tebal: 184 halaman
ISBN: 978-602-7695-88-7
Harga buku: Rp 35.000,00
Rating saya: * * * *


Aysila yang buta menunggu kekasihnya kembali, pada derai hujan pertama, sesuai janjinya. Aysila yang buta hanyalah salah satu dari Aysila-Aysila lain yang bertebaran sepanjang cerita. Aysila yang pertama membuka cerita tentang menunggu. Ia juga mencoba meyakinkan para pecinta yang sedang menunggu, bahwa “menunggu adalah harga yang selalu setimpal untuk sebuah perasaan”.
***

Sebuah kata pengantar yang ditulis oleh sang penulis, Edi AH Iyubenu, menyambut para pembaca dengan sindiran yang diajukan pada kaum penulis yang masih meyakini bahwa berimajinasi sama dengan berkhayal atau berangan-angan. Secara ilmiah, penulis mematahkan mitos tersebut, dan menegaskan bahwa, seperti kata Sartre, berimajinasi adalah “membangun dunia beserta keseluruhan simbol-simbol ideologi, emosi, ambisi, benturan, bahkan religi” (halaman 9).

Memasuki dunia yang diciptakan penulis melalui dua belas cerita pendek, saya mengamini bahwa nama Aysila memiliki kharisma tersendiri; terdengar puitis sebagaimana nama “Ranti” bagi saya. Nama-nama tokoh dalam setiap cerita sering berulang. Nama Aysila, Stefany, Pamuk, dan Akhiles adalah empat besar nama yang paling sering digunakan penulis, dan tentu saja, yang nomor satu adalah Aysila. Diakuinya pada bagian kata pengantar, “Saya memang memiliki kesukaan tersendiri untuk menggunakan nama tokoh Aysila.” (halaman 13). Bukannya tidak kreatif, melainkan penulis menggunakan kreativitas yang mungkin berbeda. Maksud saya adalah, dengan menggunakan nama yang sama, penulis bisa menciptakan tokoh-tokoh yang kadang benar-benar berbeda, tapi kadang juga membuat saya curiga: jangan-jangan penulis sengaja membuat tokoh yang sama muncul lagi.

Dalam Hujan Pertama untuk Aysila, penulis mengambil sudut pandang orang ketiga terbatas milik Aysila Dilara, si gadis buta yang setia menunggu Pamuk, kekasihnya. Namun, di cerpen Kutunggu Kamu di Hagia Sophia, Aysila adalah seorang perempuan penggemar balik ekmek[1] yang ditunggu oleh seorang lelaki.

Sementara itu, Aysila adalah gadis yang suka terbahak lepas, seperti digambarkan dalam Kue Tart yang Setia Dijaganya, Seekor Elang di Orchard, Cara Mudah untuk Bahagia, dan Tukang Cerita yang Tak Lagi Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya. Beralih ke nama Stefany, seorang gadis yang memalingkan cinta si lelaki dari Aysila, ia muncul pada cerpen Kue Tart yang Setia Dijaganya, sebagai sosok yang sinis dan dingin dalam menanggapi rayuan si lelaki. Juga di Tukang Cerita yang Tak Lagi Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, Stefany muncul kembali. Saya paling suka kalimat Stefany yang ini:


***
Beralih ke tokoh utama laki-laki, yang nyaris semua menggunakan sudut pandang “aku”. Si “aku” kadang bernama Akhiles, Pamuk, atau anonim. Meski begitu, saya bisa menangkap satu kesamaan di antara para lelaki itu: mereka adalah pecinta sejati, atau bahkan playboy. Ia mewujud sebagai Akhiles yang gemar merayu dan membuat Aysila menunggu demi Stefany, dalam Kue Tart yang Setia Dijaganya. Dalam Seekor Elang di Orchard, ia mewujud sebagai sosok lelaki elang tak bernama, kekasih Aysila yang sedang LDR-an, dan takut gadisnya didekati lelaki lain, meski Aysila nampak setia menunggunya di negeri seberang.

“Aku” adalah sosok lelaki yang belum bisa move on dari kekasih lamanya yang paling membekas di kenangan, seperti digambarkan dalam Cerita Kesetiaan Gadis Berponi Curly (gadis itu anonim, bukan Aysila maupun Stefany), dan Kutunggu Kamu di Hagia Sophia. Dalam cerpen yang terakhir itu, “aku” masih menunggu Aysila meski ia kini sudah punya pacar baru.


Terkadang, “aku” menjadi Pamuk yang meninggalkan Aysila si gadis buta, atau Pamuk si cerdik dalam Cara Mudah untuk Bahagia, penganut Cartesian yang memegang prinsip cogito ergo sum[2] yang dengan gencarnya mendebat Erdem, kemudian mengecohnya, demi mendapatkan Aysila. Sekali waktu, ia menjelma Pamuk, si lelaki muda tampan yang dinafkahi oleh para tante kaya yang kesepian, dalam Lelaki yang Penuh Kenangan. Dalam cerpen ini, Pamuk merupakan gambaran sempurna seorang manusia kontradiktif. Pamuk adalah sosok yang playboy sekaligus setia. Ia selalu sebal karena wanita selalu mempertanyakan cinta dengan cara yang berlebihan. Ia juga sebal karena wanita sering bersikap kontradiktif pada satu waktu yang sama. Ia setia, karena yang dicintainya masihlah Aysila, gadis yang ia tinggalkan dulu. Namun, di hadapan Aysila, ia menjadi seperti wanita yang mempertanyakan cinta.



Ada beberapa cerpen yang terbebas dari nama Aysila, Stefany, Pamuk, dan Akhiles. Pertama, Madame Tussaud, yang menceritakan tentang kepahlawanan Tussaud, si seniman patung lilin. (Meski sebenarnya dalam cerpen ini sempat disinggung nama Aysila.) Kedua, Lelaki yang Menciumi Jendelanya, dengan “aku” adalah si lelaki gila yang setia menunggu kekasihnya dengan menciumi jendela. Namun, sudut pandang orang gila ini kurang terasa gila, menurut saya[3]. Ketiga, Orang-orang yang Mengganti Hatinya dengan Batu, sebuah cerpen surealis tentang orang-orang yang memilih mengganti hatinya dengan batu lantaran sudah muak melihat kekejaman dan ketidakadilan.



Berikutnya adalah Menangkap Nawang Wulan, sebuah penceritaan kembali dongeng Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Setelah Jaka Tarub melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan Nawang Wulan kembali ke kayangan, setiap senja di telaga, ia dan anaknya menunggu kedatangannya dengan setia. Yang paling membuat saya merasa dipermainkan adalah cerpen terakhir, Tukang Cerita yang Tak Lagi Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, yang seolah-olah adalah sambungan dari cerpen pertama. Dalam cerpen ini muncul sosok Srintil, sang ronggeng. Saya senyum terkulum membacanya. Hal lain yang membuat saya menyimpulkan bahwa tokoh-tokohnya atau ceritanya berkelanjutan adalah bagian ketika si lelaki mengenang Aysila dari cerpen sebelumnya, dalam cerpen Madame Tussaud, padahal tidak ada Aysila di cerpen itu.
***
Hujan Pertama untuk Aysila bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!)

Dari keduabelas cerpennya, saya perlahan mengenali pola yang selalu digunakan penulis. Beliau selalu mengangkat hal sederhana, yang mungkin bisa dialami siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang bermakna. Plotnya sederhana. Setting tempat sederhana, yang paling sering digunakan adalah kafe, berkisar di Singapura, Turki, dan mungkin Indonesia. Konflik sederhana. Yang membuatnya jadi bermakna adalah dialog yang berbobot, sehingga terkadang saya mendapati bahwa inti cerita berada dalam dialognya. Salah satu contoh yang paling mampu merepresentasikan hal ini adalah dialog-dialog dalam Cara Mudah untuk Bahagia. Tiga orang mengobrol dalam sebuah kafe di tepi Selat Bosporus. Sederhana, bukan? Isi obrolan merekalah yang sangat tidak sederhana. Tentang prinsip hidup sang filsuf yang berbenturan dengan cara pemikiran penganut Cartesian tentang cara untuk bahagia. Cerpen ini sudah pernah saya baca sebelumnya, ketika diterbitkan oleh majalah Horison.

Selain belajar filsafat, penulis juga mengajak pembaca untuk belajar sejarah. Sejarah Madame Tussaud, kesetiaan Eva Braun dalam era Hitler, dan kisah tentara Soviet yang menyerbu Berlin pada Perang Dunia II.

Benang merah lain, selain menunggu, yang saya tangkap dari keseluruhan isi buku adalah hal berikut ini.
Lelaki selalu dianggap tidak setia, sementara perempuan selalu mempertanyakan cinta. Namun, ada saatnya di mana lelaki terlalu mencintai, sehingga ia mempertanyakan cinta yang dijanjikan si wanita. Impas.
Bagi para calon pembaca, saya berpesan, berhati-hatilah karena sebentar lagi sang penulis akan mempermainkan logikamu.[ ]




[1] Jajanan khas Turki, berupa sandwich ikan.
[2] Aku berpikir maka aku ada.
[3] Sejauh yang pernah saya baca, cerpen bersudut-pandangkan “aku” milik orang gila yang paling gila adalah Catatan Harian Seorang Gila karya Lu Xun, yang edisi terjemahan Bahasa Indonesia-nya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia.

bloggerwidgets