23 August 2015

[Resensi KAFE SERABI] Si Ndut Mencari Cinta

Judul: Kafe Serabi
Penulis: Ade Ubaidil
Editor: Ainini
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: 188 halaman
ISBN: 978-602-279-158-4
Harga: Rp 40.000,00
Rating: 2/5

"Tuhan, apa aku akan selamanya hidup sendiri...?" 
(Anggun, hal. 47)
Di Kafe Serabi, kita akan berjumpa dengan Anggun Amaravati, si gadis semester akhir sebuah perguruan tinggi di Serang, yang sedang nyekripsi. Gadis ini punya tiga keistimewaan:

  1. tubuhnya berukuran jumbo,
  2. punya hewan peliharaan berupa sugar glider, bernama Tata,
  3. hampir jomblo perak.
Ia sering mengalami bully karena bentuk tubuhnya, sejak SMA sampai kuliah. Nia and the gang yang selalu bikin gara-gara dengan mengolok-olok kegendutannya. Sebenarnya, Anggun sudah eneg mendapat perlakuan seperti itu. Untunglah, ia punya dua sahabat yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan: Anton, si Botak dan Mila, si Keriting.

Seperti sudah saya bilang, Anggun nyaris putus asa dengan gelar jomblowati sejati. Nah, suatu hari, Anggun tak sengaja menemukan sebuah tempat nongkrong asyik bernama Kafe Serabi. Siapa sangka, di tempat itu ia bertemu dengan seorang laki-laki blasteran nan tampan yang nantinya jadi kekasihnya. Namun, agak aneh, bukan, jika laki-laki setampan Ken itu tiba-tiba mendekati Anggun? Belum lama kenal pun mereka sudah jadian. Hmm, sepertinya Ken menyimpan rahasia....

***

Kafe Serabi bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!)

Menu Kafe Serabi


Judul dan gambar sampul depannya yang lucu, awalnya membuat saya mengira bahwa novel ini berkisah tentang tokoh utamanya yang mendirikan sebuah kafe berjuluk Kafe Serabi. Jadi ingat novel Kopiss, yang menceritakan perjuangan tokoh utamanya mendirikan kafe. Eh, ternyata perkiraan saya yang suka seenaknya itu salah. Kafe Serabi menjadi penting di novel ini hanya karena ia menjadi tempat bertemunya Ken dan Anggun pertama kali. Hanya itu. Menurut saya, perannya kurang signifikan sampai bisa dijadikan judul.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama dan ketiga berganti-ganti. Sudut pandang orang pertamanya didominasi oleh Anggun, tapi penulis juga menyertakan sudut pandang orang pertama Anton dan Ken.

Mengutip kata Farrahnanda di lembar endorsements, novel ini menyajikan "sepotong kue persahabatan yang renyah". Persahabatan Anggun - Anton - Mila memang menjadi menu utama novel ini. Dan, yah, penulis berhasil menggambarkan persahabatan mereka bertiga dengan cukup manis. Didukung dengan gaya penulisan yang mudah diikuti, kisah ini mengalir dengan lancar.

Persahabatan mereka telah terbukti setia melewati suka dan duka. Pun persahabatan Anggun - Tata terjalin dengan tak kalah manisnya. Meski terhalang oleh komunikasi yang tersendat antara manusia dengan sugar glider, pemahaman antara Anggun dan Tata selalu terjalin. Hmm, kecuali kesalahpahaman Anggun: selama ini ia mengira Tata berjenis kelamin perempuan!

Menu kedua novel ini adalah kisah cinta antara Anggun dan Ken. Tidak bisa dibilang manis. Lebih tepat disebut kisah cinta yang "sarat kebetulan dan kurang logis".

  • Sarat kebetulan
    Berapa persen, sih, kemungkinan kita bertemu seorang laki-laki tampan di sebuah kafe, yang nantinya laki-laki itu akan jadi pacar kita, dan ternyata laki-laki itu punya hubungan dengan sepupu kita?
    Ken ternyata punya hubungan dengan Reza, sepupu Anggun, dan bisa kebetulan mereka bertemu di sebuah kafe. 
  • Kurang logis
    Anggun berkenalan dengan Ken di Kafe Serabi karena sebuah kebetulan yang tak murni kebetulan juga, sih. Terlihat sekali usaha agresif Ken untuk mengenal Anggun lebih jauh. Baru beberapa menit bertemu langsung minta pin BBM. Lalu, belum lama kenal, mereka sudah jadian. Anehnya, Anggun sama sekali tidak curiga. Kalau saya jadi Anggun, pasti saya curiga, dong, terhadap Ken. Laki-laki ini pasti punya maksud tertentu.
  • Bikin saya meringis geli dan nggak tahan. Kisah cintanya terlalu dimanis-maniskan.

Menu ketiga novel ini adalah homoseksualitas. Awalnya nggak nyangka, sih, kalau ternyata penulis membawa saya ke isu tersebut. Soalnya, sejak awal, novel ini kental nuansa persahabatan dan kisah cinta normal. Sebenarnya masalah homoseksualitas ini bisa menjadi twist yang nendang, tapi sayang, sebelum ending, ia sudah tertebak. Selain itu, menurut saya, riset yang dilakukan penulis seputar dunia homoseksualitas kurang matang. Terbukti dari penggambarannya akan sosok Reza, sebagai laki-laki gay yang ngondek alias melambai, pakaiannya bling-bling dan norak. Setahu saya, zaman sekarang para gay berpenampilan bahkan lebih maskulin daripada pria normal. Tak jarang pula seorang gay memiliki fisik pria berotot yang hobi fitness.


Si Ndut Mencari Cinta


Sebelum melangkah lebih jauh, saya mau mengapresiasi usaha penulis untuk menjadikan seorang gadis gendut bahan olok-olokan sebagai tokoh utamanya. Yaaah, seringnya, kan, tokoh utama itu cantik, langsing, supel, gaul, baik hati, dsb. Tapi, bayangan saya akan tokoh Anggun awalnya melenceng, lho. Penulis sering menyebut Anggun bertubuh "bongsor", padahal menurut pemahaman saya, bongsor itu berarti tinggi - besar, tapi tidak gendut. Lah, lalu saya bingung, kok Anggun dipanggil "Ndut"? Dari situlah saya mulai paham *lemot banget, Cung!*.

Tokoh Anggun ini cukup unik, karena perpaduan antara sifat-sifat yang bertolak belakang:

  • Meski sering di-bully dan kadang jadi rendah diri, dia berani juga melawan Nia.
  • Ia juga cukup percaya diri, lho, untuk mengenakan gaun-gaun dan berusaha berpenampilan anggun, sesuai namanya. 
  • Di satu sisi, Anggun ini pemaaf. Terlihat dari di bagian menjelang akhir novel, ketika Nia berubah dan meminta maaf padanya. Dengan besar hati, Anggun pun bersedia memaafkan Nia, dan mereka berdamai.

    Di sisi lain, Anggun sama sekali tidak bisa memaafkan. Terlihat dari perlakuannya terhadap Ken. Huft, padahal Ken sudah berusaha untuk berubah (saya tahu, usahanya pasti sangat berat), dan di antara sekian banyak perempuan cantik yang PASTI MAU SAMA DIA, dia memilih ANGGUN. (Well, jangan hakimi saya dulu. Pendapat saya, perempuan cantik nggak selalu jahat, dan perempuan gendut nggak selalu baik, oke?) Tapi, oh, tapi, setelah Anggun tahu masa lalu Ken, ia tak bisa memaafkannya! Padahal saat itu kondisi Ken sedang lemah akibat kanker hatinya kumat (aduh, lagi-lagi kanker). Saya benar-benar dibikin kesal oleh sikap Anggun ini! Menurut saya, adalah orang berhati sempit yang tak bisa menerima masa lalu seseorang yang telah berusaha berubah dan tulus meminta maaf.
  • Agak matre?! Anggun pernah menulis ini di diary-nya:
"Seorang malaikat nan tampan, tiba-tiba jatuh dalam pelukanku. [...] Terlebih malaikatku ini begitu kaya raya." 
(hal. 82)
Tokoh Nia juga unik. Di awal, ia dikenal sebagai tokoh gadis cantik dan gaul yang suka mem-bully. Eh, ternyata, penulis menyembunyikan rahasia! Nia bersikap jahat terhadap Anggun karena suatu alasan (yang kekanak-kanakan, sih), yang intinya disebabkan oleh rasa cinta terhadap keluarganya. Namun, akhirnya Nia pun mengakui kesalahannya dan berdamai dengan Anggun.


Aroma Kelokalan?


Saya mengulik endorsement yang ditulis oleh Muhammad Rois Rinaldi. Ia menyebut bahwa Ade Ubaidil berusaha "menabur aroma kelokalan". Setelah itu, saya melihat daftar isi, yang penuh judul bab berupa nama angka dalam bahasa Cilegon, yang hampir mirip bahasa Jawa: sios, kalih, telu, papat, lime, dst. Saya jadi berharap akan menjumpai warna kelokalan beneran dalam novel ini. 

Eh, ternyata, selain deskripsi latar tempat di Cilegon dan Serang, yang sangat spesifik, dan beberapa selipan penjelasan kebudayaan, aroma kelokalannya amat encer. Mungkin kalau ada dialog yang berlangsung dalam bahasa Cilegon/Banten, novel ini akan jadi sedikit lebih seru.


Mereka Beneran Anak Kuliahan?


Adegan bully yang dialami Anggun, adegan jambak-jambakan antara Anggun dan Nia, geng-gengan ala anak SMA.... Yakin, novel ini tentang anak kuliahan, bukan anak SMA? *face palm*

If Happy Ever After Did Exist...


Menginjak ending, penulis benar-benar bikin saya kesal. Tapi, sebagai reviewer, saya berusaha tetap objektif (meski asap sudah mengepul keluar lewat hidung dan telinga --  lho, kok kayak naga). Saya curiga, jangan-jangan kisah Kafe Serabi ini tidak terjadi di dunia nyata?! (oh, iya, memang fiksi, sih) Soalnya, happy ever after, kan, cuma ada di dongeng karya H. C. Andersen, misalnya.

Semua berakhir bahagia. Kecuali Ken, yang tetap menderita. Saya sungguh kasihan padanya T_T (sini sama aku aja, Ken >,<). Kecuali Tata juga, yang akhirnya meninggal. Mila, yang awalnya naksir Reza, tapi kecewa setelah tahu Reza kayak apa, akhirnya mendapat gantinya. Anggun kemudian ditembak oleh sahabatnya sendiri. Lantas kedua pasangan BAHAGIA itu melangsungkan pernikahan di hari dan tempat yang sama. 

Tak hanya itu, Saudara-saudara. Anggun menjadi seorang penulis! Kisah pribadinya diterbitkan jadi buku berjudul "Catatan Si Ndut dan Tata". Kemudian ia juga telah menerbitkan buku keduanya, dan sedang menulis buku ketiganya. Saya menutup muka berkali-kali membaca ini. Sebelumnya, nggak ada disebutkan bahwa Anggun bercita-cita jadi penulis. Aktivitas menulisnya hanya diselipkan sedikit, ketika ia mengetik semacam diary. Terus, tiba-tiba ia jadi penulis? Gampang kali jalanmu, Nak! Sebagai penulis, saya tahu banget, untuk jadi penulis nggak semudah itu. Well, saya memakluminya karena bagaimana pun juga, ini hanyalah kisah fiksi. Jumlah halaman yang cukup tipis mungkin juga membatasi penulis untuk lebih mengeksplorasi motivasi para tokohnya.

Berdasarkan segala pertimbangan tersebut, tidak berlebihan jika saya menghadiahkan 2 bintang untuk novel ini.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets