14 September 2015

[Resensi] How to Win Friends and Influence People in the Digital Age

Judul: How to Win Friends and Influence People in the Digital Age
Penulis: Dale Carnegie & Associates, Inc., bersama Brent Cole
Penerjemah: Nengah Krisnarini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesembilan, September 2014
Tebal: xxviii + 324 halaman
ISBN: 978-979-22-8250-4
Harga: Rp 75.000,00
Rating saya: 3/5

 “Dengan sangat mengandalkan komunikasi digital, kita kehilangan aspek penting dalam interaksi manusia: petunjuk-petunjuk nonverbal.” (hal. xxv)
“Kemungkinan besar, masalah terbesar yang Anda hadapi adalah berurusan dengan orang lain.” (Dale Carnegie, 1963)

Pernyataan tersebutlah yang menjadi landasan Carnegie memberikan pelatihan dan menulis buku tentang How to Win Friends and Influence People. Bagi Anda yang tidak punya masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sebaiknya Anda tidak membaca buku ini.

Saya membeli buku ini karena merasa saya lebih mahir berhubungan dengan mesin ketimbang manusia. Tapi, untuk menjadi seorang insinyur yang sukses, komunikasi dengan orang lain juga sangat diperlukan, seperti kata Dale Carnegie,

“Orang yang memiliki pengetahuan teknis ditambah dengan kemampuan untuk mengekspresikan ide, untuk mengambil posisi sebagai pemimpin dan membangkitkan antusiasme di antara orang-orang—orang itu berada dalam jalan menuju kekuasaan yang lebih tinggi.” (hal. xxviii, sebagaimana dikatakan Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People, terbitan Binarupa Aksara tahin 1995, hal. 6)
Sebenarnya saya punya buku ini versi asli, terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Binarupa Aksara. Buku ini adalah warisan dari kakak saya, dan saya belum membacanya. Tapi, saya malah membeli lagi yang versi “in the digital age”. Mengapa? Karena saya pikir tips-tips dari Carnegie akan lebih relevan jika disesuaikan dengan dunia digital zaman sekarang. (Mengingat bahwa buku versi aslinya diterbitkan pertama kali pada tahun 1937, di zaman yang bisa dibilang belum terdigitalisasi.)

Buku yang saya resensi ini tidak ditulis oleh Carnegie, tapi oleh lembaga Dale Carnegie bersama Brent Cole. Meski begitu, mereka tetap menulis berdasarkan ide-ide orisinil Carnegie dan tidak jarang mengutip pernyataan Carnegie dari buku aslinya. Terdiri dari empat bagian, buku ini mencoba menjabarkan secara bertahap cara-cara mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain.

-------------------------------------------------

Bagian pertama:

Yang Perlu Dilakukan dalam Keterlibatan


  1. Bagaimana kita seharusnya berpikir panjang sebelum melontarkan kritik (terlebih lewat media sosial dunia maya). Penulis memberi contoh-contoh nyata akibat buruk dari “mengekspresikan kekesalan ke seluruh dunia” (hal. 5). Orang-orang tersebut didenda, dan bahkan dipecat dari pekerjaannya. Lewat berita nasional, kita juga sering mendengar orang dituntut atas pencemaran nama baik setelah mengkritik seseorang atau sebuah organisasi lewat media sosial.
  2. Mengapa menegaskan kebaikan dalam diri setiap orang itu penting
    Bagaimana memengaruhi orang lain dengan menyentuh keinginan inti mereka. Ini penting karena “kita hanya bergerak ke arah sesuatu yang menggerakkan kita” (hal. 49)


Bagian kedua:

Enam Cara untuk Memberikan Kesan yang Tahan Lama


  1. Menaruh minat terhadap minat orang lain -- yang terpenting bukanlah berapa banyak follower Twitter kita, berapa pengikut blog kita, tapi bagaimana kita memerhatikan minat orang lain.
    “[...] Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam hitungan menit jika Anda dengan tulus tertarik dengan minat orang lain ketimbang dalam hitungan berbulan-bulan mencoba membuat orang lain tertarik kepada Anda... perjuangan terbesar kita adalah egoisme kita...” (hal. 54)
  2. Betapa pentingnya senyuman
    Saya setuju dengan bagian ini, bahwa senyuman bisa memberi pengaruh positif bagi diri sendiri dan orang lain. Namun, ada kalanya saat saya benar-benar tidak bisa berpura-pura tersenyum, dan karena saya orang yang sulit menyembunyikan emosi, maka jangan kaget jika tak ada senyum di wajah saya. Itu bukan berarti saya galak, lho.

    “Senyuman memperkaya mereka yang menerimanya tanpa membuat orang yang memberikannya menjadi lebih miskin. Senyuman hanya membutuhkan waktu sekejap, tetapi memori yang ditinggalkannya bertahan selamanya.”(hal. 79-80)

  3. Pentingnya mengingat nama orang lain, karena dengan memanggil nama, kita bisa meningkatkan level hubungan dengan orang lain. Penulis memberikan contoh penerapannya di bidang bisnis. Saya berlangganan sebuah web lewat e-mail, yang mengirimkan newsletter secara rutin kepada saya. Nah, uniknya, setiap e-mail diawali dengan sapaan yang menyebut nama saya. Jika melihat secara sekilas, saya langsung mengira bahwa ini e-mail dari seseorang yang mengenal saya. Eh, ternyata dari web langganan. Dengan memanggil nama saya, saya menjadi merasa dekat dengan si pengelola web. Jelas sekali, si pengelola web tahu bagaimana caranya membangun hubungan, karena inti bisnis adalah "hubungan seseorang dengan orang lain” (hal. 86). Nah, dengan begitu, sebagai pelanggan, saya pun jadi mengingat mereka.
    “Nama adalah bunyi paling manis dan penting di dalam bahasa apa pun.” (hal. 94)
  4. Menyimak orang lain lebih lama -- menyimak berbeda dengan mendengar. Ego kita menyebabkan kita lebih sering berbicara daripada mendengar. Mendengar saja jarang, apalagi menyimak?“Jika kita mendengar dan belajar, kita akan hidup dengan lebih harmonis lagi.” (hal. 104)
  5. Ketahui apa yang penting bagi orang lain
  6. Membuat orang lain merasa lebih baik
“Ada dua cara untuk menjadi signifikan: lakukan sesuatu dengan begitu baik atau lakukan sesuatu dengan begitu buruk. Sayangnya, keburukan adalah cara termudah untuk menjadi terkenal pada zaman sekarang. [...] Kunci sebenarnya untuk mendapatkan teman dan memengaruhi orang pada zaman sekarang adalah mengubah hubungan dari manipulatif menjadi bermakna.” (Tony Robbins, hal. 124-5)


Bagian ketiga:

Cara Mendapatkan dan Menjaga Kepercayaan Orang Lain


  1. Hindari argumen (yang mengarah ke ketegangan dan konflik)
  2. Jangan pernah mengatakan, “Kau salah” Alih-alih, “tunjukkan sikap yang ramah, pandang situasi dari sudut pandang orang lain dan tunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.” (hal. 150)
  3. Akui kesalahan dengan cepat dan sungguh-sungguh
    “Kita semua terkadang lupa bahwa ada semacam kepuasan dengan memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan.” (hal. 157)“Memang hebat kekuatan dua kata yang dapat mengubah segalanya ini: ‘Lo siento. Maafkan aku.’" (hal. 162)
  4. Awali dengan sikap ramah
    “Mendapatkan teman dimulai dengan sikap ramah.” (hal. 172)
  5. Akses afinitasMenurut KBBI, afinitas adalah "ketertarikan atau simpati yg ditandai oleh persamaan kepentingan".
  6. Biarkan orang lain mendapatkan pengakuan
    “Kesuksesan Anda selalu sepadan dengan jumlah orang yang ingin menyaksikan Anda sukses. Jika Anda menginginkan kesuksesan untuk orang-orang yang sudah berteman dengan Anda (bukan malah berusaha menjalin pertemanan dengan mereka yang sudah sukses), Anda bisa menjamin bahwa orang-orang ini juga menginginkan Anda sukses.” (hal. 187)
  7. Terlibat secara empatik“Empati adalah kekuatan yang tidak terelakkan dari pendekatan berdasarkan kemurahan hati dan pengertian.” (hal. 198)
  8. Gugah sifat mulia/baik di dalam diri orang-orang yang ingin Anda pengaruhiPendekatan semacam ini menuntun kita pada hubungan sejati dengan orang lain, bukan hubungan yang sekadar alat untuk transaksi.
  9. Berbagi perjalananDalam hal bisnis, pendekatan ini bisa digambarkan dengan bisnis one-on-one, di mana kehidupan personal dan profesional bertemu. Bagaimana perusahaan melakukan pendekatan personal dengan konsumennya. Bagikan kisah dengan orang lain, maka orang lain pun akan membagikan kisahnya dengan Anda, sehingga terciptalah dunia milik bersama.
  10. Berikan tantangan pada orang lain untuk membantu menuju perubahan positif, sebaiknya tantangan itu juga melibatkan Anda, sehingga kita tidak hanya berkhotbah, tapi juga melakukan.


Bagian keempat:

Cara Menuntun Perubahan Tanpa Penolakan atau Kebencian


  1. Awali dengan positif
  2. Akui kekurangan Anda

    “Agar dapat meninggalkan jalan kegagalan yang berkesinambungan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menuturkan dua kata yang paling sulit untuk dituturkan: ‘Saya salah.’” (hal. 239)
  3. Tunjukkan kesalahan tanpa menarik perhatian
  4. Lebih baik mengajukan pertanyaan daripada memberi perintah secara langsung
  5. Ringankan kesalahan
  6. Membantu seseorang menyelamatkan muka -- saran yang paling sulit saya lakukan (hal. 268-270)
  7. Berfokus pada kemajuan
  8. Sematkan reputasi yang baik kepada orang lain
  9. Terus terhubung pada pijakan yang sama

-------------------------------------------------

Ide-ide Carnegie memang memberikan pencerahan bagaimana cara-cara bergaul dengan baik. Namun, ada beberapa hal yang tidak begitu cocok dengan prinsip saya. Menurut saya, jika saya menuruti dan melakukan semua saran Carnegie yang ada di buku ini, maka saya akan menjadi such a nobleman. Seorang yang terlalu baik. Pasalnya, pemikiran saya sudah berubah. Dulu, saya memang menganggap bahwa semua orang pada dasarnya adalah baik, sehingga saya berusaha bersikap baik pada semua orang. Tapi, setelah banyak makan garam sampai keasinan hingga saraf pengecap lidah tidak terlalu peka lagi, pemikiran saya berubah. Sikap baik saya ada batasnya.

Salah satu ide khas Carnegie adalah prinsip komunikasi berdasarkan empati dan menaruh perhatian pada lawan bicara. Dalam konteks tertentu prinsip ini menjadi tidak relevan, dalam artian kita juga harus bersikap egois kadang-kadang. Saya pribadi, tidak bisa terus-terusan bersikap baik dan rendah hati dengan mengorbankan diri sendiri untuk mendengarkan ocehan lawan bicara tentang hal-hal yg sebenarnya saya sudah tahu, atau tidak ingin saya dengar *jangan ditiru*.

Penulis memang memberikan cukup banyak contoh di dalam buku ini, tapi bagi saya contoh itu kurang mengena. Mungkin karena kecenderungannya untuk memberi contoh pengalaman orang-orang/lembaga/organisasi yang mungkin terkenal di negara penulisnya, tapi saya tidak terlalu tahu, sehingga saya merasa kurang "dekat" dan "akrab" dengan contoh-contoh tersebut. Lain halnya dengan buku ini versi asli tulisan Dale Carnegie, yang banyak menggunakan pengalaman beliau pribadi (ia menggunakan kata ganti saya dan Anda). Atau buku Personality Plus karya Florence Littauer, yang diselipi pengalaman-pengalaman pribadi penulis atau orang-orang terdekatnya (keluarga, teman, dll). 

Buku ini akan jauh lebih komunikatif jika menggunakan gambar-gambar, seperti pada buku Eneagram karya Baron dan Wagele. Terlepas dari itu semua, buku ini memberikan pencerahan bagaimana mencari teman dan memengaruhi orang lain dengan cara empatik dan rendah hati, di zaman digital.
Reaksi:

11 comments:

  1. Betul banget tuh, pepatah mengataka, lebih baik diam dari pada menyakiti yang lain dengan kritikan kita. hehe

    Obat Tradisional Varikokel paling Alami

    Pengobatan Alami Varikokel Tanpa Operasi

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Yeay! Mungkin km jg tertarik beli yg versi lama, yg bukan digital age, Dian (lebih bagus menurutku) :D

      Delete
  3. ah, buku punya kakak ku dulu kemana ya. padahal versi lama. selain buku ini, yg bagus buku apalagi mba firda? *psikologi.
    rekomendasiin dong. makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah sayang sekali... Saat ini saya sedang baca Quiet by Susan Cain, itu bagus tentang kekuatan introver di tengah dunia yang biasanya mengagungkan ekstrover. Eneagram itu juga bagus :)

      Delete
  4. Saya punya bukunya yg cetakan tahun 1993, meskipun lawas,bahasanya masih baku tapi isinya fantastis :D

    ReplyDelete
  5. ka saya tertarik beli buku ini carinya dman yaa?

    ReplyDelete
  6. Selamat sore, saya Ryenita meminta izin mbak Frida untuk mengutip beberapa bagian. Saya juga sudah mencantumkan sumber yang merajuk ke link blog ini. Terima kasih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Ryenita, sudah meminta izin di sini. Sama-sama, semoga bermanfaat 😊

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets