5 September 2015

[Resensi THE ARCHITECT] Gulungan Sketsa Kehidupan dalam Tabung Angan

Judul: The Architect
Penulis: Ariesta F. Firdyatama
Editor: Miz
Penerbit: Mazola
Cetakan: I, 2015
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-255-859-0
Harga: Rp 45.000,00
Rating saya: 4/5

(Disclaimer: saya ingin membuka resensi ini dengan petikan menarik dari dalam buku, tapi sayangnya saya tak menemukan satu pun. Dari sini saya belajar, sering kali buku bagus dinilai bukan dari jumlah petikan menariknya. )

Saya bukan mahasiswa arsitektur, pun tak pernah berkeinginan menjadi arsitek. Namun, saya tahu bagaimana beratnya tugas-tugas kuliah mereka. Di hari-hari biasa kuliah, di selasar Kantor Pusat Fakultas Teknik, selalu bisa saya jumpai beberapa dari mereka: nggak siang, sore, malam, menggelar kertas A0 di pelataran. Tabung-tabung terbuka, mulutnya menampilkan gulungan tebal kertas, alat-alat tulis berserakan. Ketika musim penghujan datang dan angin kencang meneriaki setiap sisi selasar yang memang terbuka, mereka berloncatan gesit menyelamatkan kertas-kertas berisi gambar arsitektur yang harganya semahal gelar sarjana teknik. Anditio Wirawan, alias Tio, sudah mengalami itu semua, hingga bergelar sarjana teknik di belakang namanya. Memang tak salah jika orang bilang kebahagiaan menyambut kelulusan hanya berlangsung satu hari. Setelah acara seremonial berakhir, terasalah kegalauan bagi Tio: ke mana setelah ini? 

Bagi seorang arsitek yang masih fresh, baru diangkat dari panci sup perkuliahan, dunia pekerjaan tak selalu ramah. Mendapat pekerjaan di kantor kontraktor lokal skala kecil pun sudah menjadi berkah baginya. Namun tantangan kerja yang lebih berat justru berasal dari rekan kerjanya yang korup dan melukai idealismenya. Sebuah percekcokan yang tak terbendung akhirnya membuat Tio memutuskan untuk hengkang dari kantor tersebut. Jadi pengangguran lagi. Tangan nasib baik menyentuh pundaknya dalam wujud tawaran  Pak Broto, seorang laki-laki paruh baya yang baik dan murah hati. Tawaran untuk merancang sebuah rumah, sekaligus memimpin pembangunannya pasti tak akan dilewatkan oleh Tio! 

Tantangan tak berhenti sampai di situ. Tangan nakal si nasib mengulurkan pilihan kedua: panggilan kerja sebagai arsitek junior di sebuah konsultan arsitektur yang cukup ternama di Jakarta, PT Prima Adhi Karya. Ketika pilihan telah dibuat, tangan nasib masih punya kejutan untuk Tio. Akankah mimpinya membangun kantor konsultan arsitektur sendiri tercapai?

***

Ini adalah buku keempat seri #NovelProfesi dari Penerbit Mazola yang saya baca, dan sejauh ini, menurut penilaian saya ini adalah yang paling saya nikmati. The Doctor juga tak kalah bagus, tapi terlalu dramatis bagi saya.

Baca resensi ketiga buku yang lain di sini:

Alurnya bergerak dengan tempo yang pas. Meski terbilang cukup tebal, buku ini tak ditebal-tebalkan. Gaya bercerita penulis lincah dan berbobot. Maksudnya nggak ringan banget, gitu. Ada metafora-metafora unik (salah satu contohnya ada di bawah) dan pengetahuan-pengetahuan baru tentang dunia arsitektur.

Sebagai tokoh utama, karakter Tio tergambar sangat artistik, ups, maksudnya "arsitek". Penulis berhasil menggambarkan secara totalitas pemikiran dan jiwa seorang arsitek dalam diri Tio. Pemikiran khas arsitek sangat pekat melingkupi isi otak Tio, misalnya ketika ia merancang rumah hijau Pak Broto di hal. 30. Setiap pertama kali memasuki sebuah gedung, secara otomatis ia pasti mengamati arsitektur bangunan tersebut dan mengomentarinya.

Melalui karakter Tio yang pantang menyerah dan penuh gairah dalam menggapai cita-citanya, penulis menggambarkan seperti apa sejatinya "passion" itu. Pernah saya dengar dari seminar-seminar motivasi yang dulu saya hadiri, bahwa passion adalah sesuatu yang kaukerjakan dengan sukacita; kau menikmatinya sampai lupa waktu. Seperti halnya arsitektur bagi Tio.

"Jam dinding berdentang dua belas kali. Satu hari telah habis menjadi bangkai waktu. Membuai Tio dalam kekhusyukan membuat desain maket digital itu. Seperti seorang Kamajaya yang jatuh cinta berat pada Kamaratih." 
(hal. 30)

(Ini contoh metafora unik yang saya singgung tadi. "Seperti seorang Kamajaya yang jatuh cinta berat pada Kamaratih." Siapa Kamajaya dan Kamaratih?)

Dalam coaching clinic yang diadakan oleh Bentang Pustaka, dan saya beruntung jadi salah satu pesertanya, Dee pernah berpetuah: ciptakanlah tokoh utama yang kuat, lewat aksi-aksinya yang menggerakkan alur cerita. Bukan malah alur yang menyeret tokoh utama dalam arusnya. Dalam hal ini, Tio cukup berhasil menjadi tokoh utama yang kuat. Berbagai tindakan dan keputusannya atas pilihan-pilihan dalam hidup mampu menggerakkan alur cerita dan bahkan hati pembaca. Ketika harus memilih di antara proyek rumah Pak Broto atau kerja di PT Prima Adhi Karya. Ketika harus memilih: menyerah sebelum mencoba ikut kompetisi arsitektur se-Asia Tenggara atau tetap mengikutinya meski waktunya mepet. Hal-hal semacam ini sungguh pernah saya alami, sehingga sosok Tio terasa nyata.

Namun, ada saat ketika sikap Tio agak munafik (terhadap selera Vira akan baju-baju mahal). Awalnya ia mencerca Vira karena membeli baju couple yang harganya setengah juta (pakai uang Tio, lagi). Namun setelahnya, ketika memakai kemeja kembaran itu, ia menyadari bahwa "selera Vira soal mode memang bagus" dan kemeja itu "seperti menyuntik kadar kegantengan Tio hingga bertambah sekian persen; tampak pas badan, jelas beda dengan produk baju konveksi Pasar Klewer atau Tanah Abang" (hal. 102).

Padahal, sebelumnya Tio berkata pada Vira, "Sebagus apa pun, yang namanya baju ya cuma dari sehelai kain. Mau yang limited edition atau keluaran Tanah Abang fungsinya sama, kan?" (hal. 97)

Tokoh Rasti sangat lovable. Keceriaan dan keluguan berpadu dengan kesederhanaan, sikap pantang menyerah, dan kerelaan berkorban demi adik dan bapaknya. Lantas apa kekurangan Rasti? Nggak suka bikin model 3D, padahal ia sekolah di SMK jurusan desain! Tapi belakangan ia mau belajar.

Awalnya saya pesimis akan kisah cinta Tio-Rasti. Pasalnya, Rasti masih SMK, sedangkan Tio sudah 25-an. Hmm, tapi ternyata kisah cinta mereka cukup cute. Hehehe. Sementara itu, kisah Tio-Vira mirip script sinetron, deh. Saya sempat terbawa emosi ketika Vira memfitnah Tio di depan Rasti yang sedang hamil tua. Tapi saya lega karena perselisihan ini tak berlangsung lama-lama. Vira akhirnya sadar dan mengakui kesalahannya. Huft.

Tokoh lain yang bikin saya tertarik adalah Pak Broto. Ia digambarkan Tio sebagai "bukan tipikal bos rewel yang begitu hobi menguliti karyawan yang melakukan kesalahan dengan serentetetan kata-kata yang bisa saja bikin kuping budek; merangkul karyawan; tak perlu banyak cakap, berikan saja contoh dan pendekatan secara pribadi" (hal. 43). Wah, saya akan selalu baik-baikin bos saya (kalau bos saya kayak Pak Broto).

Di halaman yang sama, saya menemukan satu kalimat ganjil:
"Kalaupun boleh meminta, sangatlah ingin Tio memiliki seorang pimpinan macam Pak Broto. Hari gini, perbandingan bos yang tidak memperlakukan para buruh layaknya mesin mungkin seribu dibanding satu." 
(hal. 43)
Mungkin saya akan lebih menangkap maksudnya jika begini: perbandingan bos yang tidak memperlakukan para buruh layaknya mesin dengan sebaliknya mungkin satu banding seribu.

Kemudian, saya juga menemukan inkonsistensi nama. Pak Rayhan di halaman 248 tertulis Pak Reyham, tapi selanjutnya Pak Rayhan. Hmm, jadi memang Rayhan--mungkin hanya typo atau lupa.

***

The Architect menyuguhkan pembelajaran tentang kehidupan kerja dengan tidak menggurui. (Ini penting terutama bagi para mahasiswa galau skripsi dan fresh graduate yang masih pengangguran. Hayo tebak, saya yang mana 
  • Idealisme mahasiswa vs realita dunia kerja | Kuliah penuh kerja keras selama empat-lima tahun. Setelah lulus ternyata dunia kerja tak bisa diraih semudah rencana idealis. Lingkungan kerja terkadang kurang mendukung perkembangan karier. Misal, adanya rekan kerja yang lebih senior sehingga merasa lebih segalanya daripada kita yang fresh graduate (meski level pendidikan kita lebih tinggi daripada senior tersebut, sering sekali kita dianggap tidak tahu apa-apa karena kalah dalam pengalaman kerja). Penulis menggambarkan ini melalui sikap ngotot dan sok tahu Mandor Yanto vs keteguhan pemikiran ilmiah Tio.
  • Perusahaan/kantor impian tak selalu seindah kenyataan | Ketika bekerja di PT Prima Adhi Karya, Tio memang bergaji besar, tapi itu harus dibayar dengan lingkungan kerja yang kurang nyaman. Lain ketika ia bekerja di CV Angkasa Karya, konsultan arsitektur lokal di Solo. Gajinya memang hanya sekitar 30% dari gaji sebelumnya, tapi lingkungan dan rekan-rekannya sangat ramah dan menyenangkan.
  • Pantang menyerah, terus optimis, pandai membaca dan memanfaatkan peluang secara positif | Selain terpatri pada tokoh Tio, sikap pantang menyerah dan terus optimis juga terlihat dari sikap Rasti dalam menghadapi berbagai tantangan. Bicara tentang peluang, saya merujuk pada saat Tio dan Pak Danang memanfaatkan peluang dari "sampah" CV Angkasa Karya. Dari situ, akhirnya mereka berdua bisa mendirikan kantor konsultan sendiri.
    N
    amun, ada juga yang memanfaatkan peluang secara tidak fairLihatlah yang telah dilakukan Mandor Yanto dan Febrian. Mandor Yanto mengorupsi bahan-bahan bangunan untuk dijual lagi, sedangkan Febrian "mencuri" klien-klien perusahaan tempatnya bekerja.

Novel ini menggambarkan dengan baik bagaimana profesi arsitek, jadi memang layak menyandang gelar #NovelProfesi. Pesan dan teladan yang tersampaikan lewat aksi para tokohnya menjadikan buku ini tak hanya berperan sebagai hiburan, tapi juga pembelajaran hidup. Sayangnya, buku ini belum nongol di Goodreads, jadi saya nggak bisa kasih rating di sana. 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets