Showing posts with label litbox. Show all posts
Showing posts with label litbox. Show all posts

8 August 2015

August Book Haul



You can find this on Goodreads.
The first book I started to read early this month was Sputnik Sweetheart, a book by Haruki Murakami, which first published in 1999. I am reading the e-book version (still isn't finished yet), and I can't read this as fast as when I read a physical book. This is the second work of Murakami I read, the first one was Blind Willow, Sleeping Woman. Though, this is the first of his novels that I read. Using his specific characteristic of writing style, Murakami told about Sumire, a girl who fell in love with a girl too, Miu. He used the first person point of view, but the narrator wasn't the main characters. Previously, I also found his tendency to use this kind of point of views in several short stories in Blind Willow, Sleeping Woman.

You can find this on Goodreads.
The second book I read concurrently with Sputnik Sweetheart is The Hundred-year-old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared by Jonas Jonasson. I borrowed this book from my friend's book shelf, Halimah (she's the one who's a die-hard fan of Ika Natassa). She got this book from a blended package from Litbox. It was a long time since I saw the Indonesian-translated version of this book at several book stores, despite of the fact that I was attracted by its long title about a long-lived old man, I never decided to buy it. Actually, I have had the e-book version, but as you've known it before, I prefer to read a physical book than a digital one. (Although I have read e-book version of some books). I hope I can finished those two books soon, since I have another three books I need to review, from Divapress.


Beside those two (which I haven't finished yet), I have finished reading Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan, one of the Indonesian influential writers. He was given a nickname as "the next Pramoedya Ananta Toer".


Then, I've got these three new-released books from Divapress.

You can find this on Goodreads.

You can find this on Goodreads.


I like the cover of Kafe Serabi and Caraphernelia. The latter has a title that make me wonder what it is about. While, the The Architect is one of a book series called Novel Profesi (a genre published by Divapress which tells story about the main character's profession.) Previously, I have read another books of this genre, included The Violinist, The Dancer, and The Doctor.

That's my August Book Haul. How about yours? Let me know by submitting your comment below! ^^

17 June 2015

[Resensi ARUNA & LIDAHNYA] Lidah Aruna sampai ke Mana Saja?

Judul buku: Aruna & Lidahnya
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Tebal buku:  432 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, 2015
ISBN: 978-602-030-852-4
Harga buku: Rp 78.000,00
Rating saya: 4/5
“Orang yang makan pagi seperti raja biasanya akan terus makan seperti raja. Makan siang dan makan malamnya juga akan seperti raja. Semakin sering kita memberi diri konsesi-konsesi, perut kita semakin menuntut lebih banyak. Nah, begitulah bagaimana sarapan bisa berbahaya.” 
(Nadehzda, hal. 187)
Untungnya saya belum baca Amba (kudet banget, ya), sehingga saya lepas dari segala ekspektasi yang dibebankan pembaca pada nama seorang Laksmi Pamuntjak. Saya bilang begitu setelah membaca beberapa review teman di Goodreads yang kecewa lantaran Aruna & Lidahnya tak sesuai harapan mereka pasca-baca buku Amba.

Kalau boleh saya ringkas dalam satu kalimat, buku ini bercerita tentang jalan-jalan untuk wisata kuliner sambil bekerja. Ya, bukan bekerja sambil wisata kuliner, lantaran sebenarnya motif utama si Aruna adalah wisata kuliner, bukan pekerjaannya sebagai seorang epidemiologist (ahli wabah). Ketika wabah flu burung menjangkiti Indonesia, muncul suatu hal aneh. Di beberapa kota yang saling berjauhan, muncul penderita yang dicurigai terkena flu burung. Tapi, penderita itu jumlahnya hanya satu di tiap kota. Aneh, kan? Oleh karena itu, Aruna dan Farish, dari NGO One World ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu di tiap-tiap daerah—Surabaya, Madura, Palembang, Medan, Lombok.

Lantaran motivasi utama Aruna adalah berburu makanan khas tiap kota, ia mengajak dua sahabatnya yang juga menggilai makanan, Bono, si chef, dan Nadehzda, si penulis artikel kuliner. Selain mencicipi berbagai makanan dari pelosok Nusantara (misalnya nasi tempong dari Lombok, bakmi kepiting Pontianak, bakso lohwa Tangerang, sambal kecombrang Jakarta, gulo puan Cek Mia dari Palembang), Aruna ternyata juga berkesempatan mencicipi rasanya jatuh cinta pada orang yang tak terduga.
“Memang benar ada, rupanya, gestur-gestur antara dua manusia yang menentukan arah hidup kita selanjutnya.” 
(Aruna, hal. 312)
Sebagai gadis 35 tahun yang masih menjomblo, sering ia merasa insecure akan statusnya itu, apalagi tiap mendengar curhatan Nadehzda tentang petualangan cintanya yang liar. Apakah Aruna berhasil mengungkap kebenaran di balik kasus aneh flu burung itu?

***


Saya melihat buku ini sebagai kitab kuliner yang diberi bumbu konspirasi sedikit biar agak seru. Meski hasilnya kurang seru, semata-mata karena isu flu burung dan politik tidak terlalu menarik bagi saya (yang berarti belum tentu tidak menarik juga bagi pembaca lain). Menurut saya, konspirasi yang dijalin penulis kurang nendang, rasanya hanya seperti taburan katsuobushi di atas jajaran takoyaki. Memang kalau nggak ada katsuobushi, rasanya ada yang kurang. Tapi tetap saja, kan, bintang utamanya adalah si takoyaki? Yah, mungkin biar buku ini tak sekadar menjadi catatan harian seorang maniak kuliner. Meski begitu, saya mengapresiasi usaha penulis untuk menguak sedikit kemirisan sosial dan kesehatan masyarakat di negeri ini, saat tokoh Aruna melihat fasilitas kesehatan yang sangat tidak memadai.
“Tapi memang begitulah negeri ini. Ada banyak hal yang membuat kita miris. Betapa rentannya manusia, ketika mereka masih begitu tergantung pada nasib baik dan bukan pada sistem yang bisa diandalkan, di mana segala yang membawa kebajikan dan perbaikan—sains, dokter, rumah sakit, guru, sekolah, tak selalu bisa diakses.” 
(Aruna, hal. 239-40)
Saya jatuh cinta pada tokoh Bono dan Nadehzda. Dua tokoh ini bersinar amat terang, hingga menjadikan Aruna semacam bayang-bayang saja. Saya lebih tertarik ketika Aruna menceritakan tentang mereka berdua daripada jika ia bercerita tentang dirinya sendiri (kejam? Kebenaran memang terkadang kejam, Nak, hohoho. Tapi ini hanya pendapat saya, bukan kebenaran mutlak.). Bono sangat keren setiap kali ia menjelaskan tentang makanan dengan sikap kalem tapi tegas. Ia manifestasi “air tenang menghanyutkan”, hingga orang sok tahu yang nantang dia langsung tak berkutik.

Nadehzda, yang kecantikannya tiada tara itu, keren banget saat menjelma bak filsuf, meski kadang ia tak lebih daripada seorang manusia biasa yang galau akan kisah percintaannya yang liar dan selalu mengembara. Seperti inilah Aruna menggambarkan kesempurnaan Nadehzda di matanya:
“Dia seolah tak sudi barang sedikitpun oleh sesuatu yang ia anggap norak, atau jelek, atau kodian, atau kitsch. Meskipun begitu ia tak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk, apalagi merendahkan. Bagaimana gerangan memadukan kedua perilaku yang begitu berseberangan dalam satu diri?” 
(Aruna, hal. 217)
Setelah melihat foto Mbak Laksmi di sampul belakang, alam bawah sadar saya langsung membayangkan rupa fisik Nadehzda mirip Mbak Laksmi, hihi. Fisiknya doang, lho, ya, hayo jangan mikir macam-macam, hehe. Nadehzda juga yang membesarkan hati Aruna saat ia ragu akan kesungguhan Farish, karena ia merasa tidak cukup cantik.
“Kalau sudah merasa cocok, banyak orang nggak lagi peduli pada penampilan fisik. Karena bagi orang itu, dengan siapa ia merasa cocok itu ya itu dialah yang cantik.” 
(Nadehzda, hal. 376)
Selepas membicarakan kedua tokoh tersebut, marilah kita kembali ke tokoh utama bernama Aruna Rai. Tokoh ini membuat saya agak kesal karena sikapnya yang plin-plan, malu-malu tapi mau. Namun, cara penulis menggambarkan suasana batin Aruna sangat bagus. Dengan jujur, penulis menggambarkan bagaimana Aruna sebenarnya cemburu akan segala kelebihan Nadehzda yang tidak dimilikinya.
“Lagi-lagi aku merasakan kecemburuan itu, kecemburuan yang lebih merupakan kekecewaan terhadap diri sendiri. Kekecewaan atas diri yang demikian sejalur dan senada, yang tidak sejamak perempuan menawan yang kebetulan adalah sahabatku sendiri.” 
(Aruna, hal. 199)
Tapi saya sadar, tidak adil jika pembaca (dan apalagi peresensi buku) menghakimi sifat tokoh dalam sebuah buku. Yah, mungkin saja, Mbak Laksmi  memang membuat tokoh Aruna seperti itu. Kalau tokoh Aruna digambarkan sebagai sebuah titik pada sebuah kurva statistik, ia adalah sebuah outlier. Ia seorang wanita yang melenceng dari pandangan stereotip masyarakat Indonesia terhadap wanita Indonesia. Nadehzda juga seperti itu, sih. Pekerjaan Aruna yang unik itu sudah menyumbang satu penyebab keunikan tokoh ini. Lalu, sudah kepala tiga tapi belum menikah. Parahnya, Aruna belum menikah dan kurang menjaga penampilan. Bisa dibilang, ia sosok wanita yang malas dandan. Dalam idenditasnya sebagai wanita yang tidak biasa itu, sesungguhnya ia berpikir tentang bagaimana biasanya alam menakdirkan laki-laki dan perempuan.
“Dan begitulah: sesuai dengan kebiasaan, para laki-laki memilih kopi hitam, para perempuan memesan sanger—kopi susu dan gula. Begitulah alam mendedahkan bagi kita segebung rujukan kesepadanan. Laki-laki = gelap, perempuan = terang. Laki-laki = pahit, perempuan = manis.” 
(Aruna, hal. 311)
Bicara tentang kuliner, yang saya tahu paling banter adalah makan asal ada sayur dan lauknya, plus nasi (meski saya nggak selalu makan nasi), dan murah (kejujuran seorang anak kos yang hidup sederhana *halah*), jadi waktu baca berjuta istilah asing seputar kuliner dalam buku ini, saya langsung telan saja mentah-mentah. Istilah itu banyak sekali dan buku ini sangat bersih dari makhluk bernama footnote. Awalnya ada keinginan untuk mencari arti tiap istilah lewat internet, tapi lama-lama malas juga lantaran hal itu akan menginterupsi kenikmatan membaca.

Selain mendapat berbagai kosakata baru di bidang kuliner, pembaca juga mendapat pengetahuan seputar kuliner dan kosakata baru yang jarang digunakan oleh penulis lain. Malah, ada kata-kata tertentu yang saya baru tahu bahwa ia eksis dalam KBBI selama ini (iya, saya tahu, saya kuper banget), seperti kata “menghidu” dan “demap”. Langsung saya catat daftar kata baru itu untuk menambah kekayaan kosakata saya, dan untuk saya terapkan dalam tulisan saya sendiri.

Di bagian tengah, saya bosan oleh rutinitas para tokoh. Tiba di kota baru, ke rumah sakit untuk mengunjungi pasien flu burung, makan-makan, makan-makan, makan-makan, lalu kembali ke hotel. Tapi rasa bosan itu dikompensasi oleh berbagai filosofi kuliner, cerita unik, hal-hal menarik dari tempat-tempat yang mereka kunjungi dan makanan yang mereka cicipi (tulis contohnya).

Sebenarnya, saya hanya merelakan rating 3,5/5 untuk buku ini. Namun, di Goodreads saya bulatkan jadi empat, karena penulis berhasil membawa banyak hal baru untuk saya nikmati. Oya, buku ini saya dapat dari Litbox pertama tahun 2015 (bulan Maret lalu), dan saya dapat edisi bertandatangan penulis ^^.
Dapat tanda tangan Mbak Laksmi :D
Terakhir, saya ingin membahas tentang prolog. Sungguh, saya syok dan ngos-ngosan waktu penulis mengajak saya lari marathon melalui bagian prolognya sepanjang delapan halaman yang terdiri dari hanya satu kalimat. Iya, SATU. GILA!!! Di bagian belakang, Mbak Laksmi menjelaskan bahwa gaya penulisan itu terinsipirasi dari pembukaan novel Jeet Thayil berjudul Narcopolis (kalau penasaran novel apa ini, sila baca review-nya di sini, tapi bukan review saya, hoho). Meski mungkin bagi sebagian pembaca satu kalimat yang panjangnya ngalahin gerbong kereta itu dianggap menyusahkan dan tidak efisien, menurut saya itu malah KEREN. Penulis berani berinovasi (sepanjang karier membaca buku karya penulis Indonesia, belum pernah saya menemukan prolog kayak begitu selain ini—maaf, pengetahuan saya juga terbatas), dan yang lebih keren adalah meskipun sepanjang itu, tidak ada yang meleset! Semua penggunaan pungtuasi tepat dan jelas, sama sekali tidak bikin bingung atau pun salah tafsir. Saya bisa menangkap semua isi kalimat itu dengan mudah, meski sambil lari-lari. You rock, Mbak Laksmi!







31 May 2015

2015's First Litbox Was Here!


This is my second time of buying books through Litbox, which is curated by Ika Natassa. Actually, I order Litbox just because I have placed my reliance on Ika Natassa's good taste of books. Like one of my friend said (she's the one who fangirling Ika Natassa and her writings), "It's better to have books from Litbox than me buying books by myself, since these days, many covers, blurbs, and/or ratings are overrated and sometimes deceiving." Yeah, it's not absolutely true, but pretty true, since she has been dissapointed once before by a book from Litbox, which was I reviewed here.

The first Litbox in 2015 was coming into my book shelf at the end of March, which is 2 months ago. I ordered a Brewed Litbox, which contained of three books written by local writers. And, up to now, I have just read one of them, because there are so many books I have and want to read >,<

Let's check it out!





The first book in the package is Aruna dan Lidahnya, written by Laksmi Pamuntjak. Ika Natassa wrote that this is the perfect book to start my 2015 reading list. Uh-oh, I got Laksmi Pamuntjak's sign! 
Status: read, but I haven't posted the review yet. Through this book, I found many new things, about Indonesian culinary and a list of Indonesian words I've just known. Thanks to this book, which has enriched my vocabulary. 

The second one is A Beautiful Mess, written by Rosi L. Simamora, who is well-known as an editor, but now she becomes a writer too! Ika wrote, "I can definitely proclaim that A Beautiful Mess is the most entertaining Metropop book I've read in the last 2 years." Oh, may it works on me too! 
Status: not-yet-read.

Then, the last one is Rembang Jingga, a duet work by TJ Oetoro and Dwiyana Premadi. I'm not familiar with Dwiyana though... 
Status: not-yet-read.
Each of them tells a story about woman/women, and all of them are published by Gramedia Pustaka Utama. I'll post the review of Aruna dan Lidahnya soon ;).

15 June 2014

[REVIEW GALILA] Masa Depan bagi Wanita Tanpa Nama Belakang



Judul Buku                 : Galila
Penulis                        : Jessica Huwae
Tebal                           : 336 halaman
Penerbit/cetakan         : Gramedia Pustaka Utama/I, Maret 2014
ISBN                           : 978-602-03-0210-2
Harga                          : (I dunno exactly; I got this as one of the books in blended box of Litbox)

Masa depan ada karena ada masa lalu dan masa sekarang, bukan? Ini seperti halnya kenyataan bahwa “terang” ada karena “gelap” juga ada. Hitam ada karena putih ada. Galila, tokoh utama dalam novel ini juga berpendapat begitu.

 Tidakkah yang memiliki masa lalu juga beroleh hak yang sama untuk menatap masa depan?” – Galila (halaman 249)

Namun, ternyata, ada orang yang berpandangan lain.

“Dia (Hana) selalu berpendapat gadis yang memiliki masa lalu tentu tidak memiliki masa depan.” (halaman 106)

***

GALILA. Nama ini mungkin terdengar aneh di telinga. Apalagi hanya satu kata itu saja, tanpa embel-embel di belakangnya. Galila, gadis yang berasal dari Indonesia bagian timur, tepatnya kota Saparua, yang berjarak dua jam dari Ambon. Gadis yang pernah ditinggal mati ayahnya, ditelantarkan ibunya, dan pernah hamil di luar nikah. Ia pernah hidup di bawah tekanan ibu pacarnya, lantas kemudian bayinya lahir. Tapi, hidup bayi itu tak lama. Dan, penderitaannya berlanjut kembali.
Meski begitu, Galila tetap menyimpan mimpinya untuk pergi ke Jakarta, kota yang ia juluki “Kota Harapan”. Tangan Tuhan memberinya kesempatan dalam suatu audisi pencarian bakat, “Indonesia Mencari Diva”, namanya. Berkat suntikan semangat dari Koh Kong—pemilik toko di mana Galila bekerja—Galila berani keluar dari zona nyamannya dan mencoba mengikuti kontes tersebut.

“Saat masih muda, kamu harus berani melakukan satu hal gila yang akan membuatmu mengingatnya sampai kamu tua nanti. Itu akan jadi pengingat bahwa kamu pernah hidup.” – Koh Kong (halaman 292)

Tak dinyana, Galila berhasil maju ke babak final di Jakarta. Semenjak itulah, kariernya selalu menanjak hingga kini, ia menjadi seorang diva negeri ini. Kesuksesannya itu juga berkat bantuan tangan dingin manajernya, Magda. Selama ini, Galila berusaha untuk tidak memiliki hubungan dengan pria. Tapi, ia tak bisa berkutik ketika ia jatuh cinta terhadap Eddie, ahli waris perusahaan keluarga Batak bermarga Silitonga. Jalan cinta mereka berdua tidak mudah. Selalu ada Hana, ibu Eddie, yang menghalangi, lantaran beliau terlalu memegang teguh prinsip bibit-bobot-bebet. Dalam hal ini, masalah perbedaan suku turut mewarnai.

Di samping itu, Davina, seorang penyanyi yang pamornya mulai terbayang-bayangi sinar Galila, berniat balas dendam. Hingga puncaknya adalah rahasia masa lalu Galila terungkap di depan publik. Semua yang telah ia bangun hancur dalam sekejap.

Apakah masa depan akan membentang di hadapan Galila? Masa depannya bersama Eddie—akankah itu ada?
***

Tak dapat dimungkiri, bahwa pilihan Kak Ika Natassa untuk buku Litbox-nya selalu tak mengecewakan. Pertama kali membaca karya Kak Jessica Huwae, saya langsung jatuh cinta pada gaya berceritanya. Apalagi, tema yang diangkat tentang sosok wanita kuat Indonesia, sungguh menarik. Tak banyak novel yang menghadirkan tokoh utama wanita yang berasal dari wilayah timur Indonesia. Selain itu, penulis juga mengusung berbagai polemik yang banyak terjadi di Indonesia. Tentang pernikahan beda suku. Tentang kerusuhan antaragama. Ditambah lagi dengan dunia hiburan yang gemerlap namun sarat bahaya. 
Letak Pulau Saparua
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/10/Ambon_and_Lease_Islands_%28Uliasers%29_en.png
Tanjung Kulur
http://www.panoramio.com/photo/47423157
Selalu menarik, membaca testimoni para ahli literatur maupun jurnalistik, dan sebagainya, terhadap suatu novel. Seperti yang tertera di kover belakang novel Galila. Saya setuju dengan testimoni Kak Rully Larasati, yang mengatakan bahwa penulis berhasil melakukan pemilihan diksi dan analogi yang cermat. Bahkan, menurut saya, dalam tiap adegan novelnya. Ada banyak perumpamaan yang ditulis Kak Jessica secara cermat dan tepat, juga unik. Seperti ketika penulis mendeskripsikan perasaan Eddie setelah ia memutuskan hubungannya dengan Galila, sebagai perasaan seorang prajurit yang dikhianati temannya (halaman 250). Juga, pemikiran Galila tentang masa depan (halaman 25).

Dialog yang terjadi antara tokoh-tokohnya juga bukan sekadar tempelan buat nebal-nebalin naskah. Bukan sama sekali. Penulis merancang dialognya dengan hati-hati, hingga kalimat yang diucapkan tokoh-tokohnya itu bermakna. Saya suka dialog antara Eddie dan Galila. Mereka banyak membicarakan hal-hal remeh tapi penting yang jarang diperhatikan manusia lain. Misalnya, dialog mereka tentang alam semesta ketika mereka sedang berada di Kebun Raya Cibodas (halaman 98-99). Dialog tentang nelayan dan juga Tuhan (halaman 85-87), sampai tentang kebahagiaan (halaman 160-161). Hah, bahkan ada juga teori tentang cowok—yang benar sekali, menurut saya (yah, meskipun saya bukan laki-laki)—di halaman 62. Ini membuat saya ingat masa-masa ketika membaca buku “What’s on A Man’s Mind”. Haha. I truely read that kind of book, huh!

Sementara itu, tentang topik pernikahan, saya setuju dengan pemikiran Eddie:

“Lagi pula, siapa sih orang kurang kerjaan yang berada di balik penciptaan teori bahwa pada usia tertentu manusia diwajibkan menikah? Apakah manusia lantas kurang nilai, fungsi, atau kontribusinya apabila mereka tidak berpasangan?” (halaman 71)

Sampai teori tentang Adam-Hawa:

“Mungkin itu sebabnya Tuhan menciptakan Adam dan Hawa berpasangan, karena tidak ada yang lebih menusuki hati daripada merasa sepi dan sendiri di tengan ramai yang mengelilingi.” (halaman 91)

Penulis juga menyelipkan perumpamaan yang terinspirasi dari cerita Alkitab:
1.       Tentang bibit yang jatuh di berbagai jenis tanah (halaman 144).
2.       Manna di padang gurun (halaman 194).
3.       Terang dunia (halaman 307).
***

Tangan lihai penulis juga sampai merambah ke ranah “pemborosan energi” yang banyak dilakukan orang Indonesia. Sebagai orang yang pernah mengambil mata kuliah Konservasi Energi, bagi saya, ini sungguh memprihatinkan T_T.

 “Walau pintu yang memisahkan ruang belakang dan pintu taman dibuka lebar-lebar, pendingin ruangan sengaja dibiarkan menyala. Udara panas Jakarta rasanya tidak memungkinkan warganya untuk bisa bertahan tanpa bantuan pendingin buatan.” (halaman 20-21)

Bicara tentang tokoh, saya sebal sekali terhadap tokoh Hana (ibu Eddie). Ini berarti, penulis berhasil menghidupkan karakter tokohnya, hingga membuat pembaca terpengaruh emosinya. Namun, ada juga tokoh yang saya rasa hanya sebagai tempelan, untuk mendukung ide yang ingin diselipkan oleh penulis, tentang sosok anggota DPR yang menyalahgunakan jabatan (tokoh Yudah). Nyatanya, tokoh itu benar-benar muncul hanya sekitar dua kali. Nasibnya di akhir cerita pun tak lagi digubris penulis. Padahal, awalnya, saya kira ia akan jadi salah satu tokoh antagonis. Selain itu, kisah penderitaan Galila ketika ia masih tinggal di Maluku terasa seperti kisah sinetron di benak saya.

Saya juga agak keberatan terhadap kalimat yang menjadi tagline novel ini: “adakah masa depan bagi yang memiliki masa lalu?” Pasti, maksud penulis adalah: “adakah masa depan yang terang bagi yang memiliki masa lalu kelam?” Karena, yah, semua orang pasti memiliki masa lalu, kan? Jadi, harusnya, semua orang juga memiliki masa depan. Lain halnya dengan “masa lalu kelam” yang mungkin hanya dimiliki orang tertentu. Tapi, kalau kalimatnya diubah menjadi seperti kalimat saya itu (yang berwarna hijau), kok jadi nggak bagus lagi, yah? Haha.

Yang jelas, kisah yang banyak menyertakan budaya Indonesia ini tak mengecewakan untuk dinikmati.

bloggerwidgets