17 June 2015

[Resensi ARUNA & LIDAHNYA] Lidah Aruna sampai ke Mana Saja?

Judul buku: Aruna & Lidahnya
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Tebal buku:  432 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, 2015
ISBN: 978-602-030-852-4
Harga buku: Rp 78.000,00
Rating saya: 4/5
“Orang yang makan pagi seperti raja biasanya akan terus makan seperti raja. Makan siang dan makan malamnya juga akan seperti raja. Semakin sering kita memberi diri konsesi-konsesi, perut kita semakin menuntut lebih banyak. Nah, begitulah bagaimana sarapan bisa berbahaya.” 
(Nadehzda, hal. 187)
Untungnya saya belum baca Amba (kudet banget, ya), sehingga saya lepas dari segala ekspektasi yang dibebankan pembaca pada nama seorang Laksmi Pamuntjak. Saya bilang begitu setelah membaca beberapa review teman di Goodreads yang kecewa lantaran Aruna & Lidahnya tak sesuai harapan mereka pasca-baca buku Amba.

Kalau boleh saya ringkas dalam satu kalimat, buku ini bercerita tentang jalan-jalan untuk wisata kuliner sambil bekerja. Ya, bukan bekerja sambil wisata kuliner, lantaran sebenarnya motif utama si Aruna adalah wisata kuliner, bukan pekerjaannya sebagai seorang epidemiologist (ahli wabah). Ketika wabah flu burung menjangkiti Indonesia, muncul suatu hal aneh. Di beberapa kota yang saling berjauhan, muncul penderita yang dicurigai terkena flu burung. Tapi, penderita itu jumlahnya hanya satu di tiap kota. Aneh, kan? Oleh karena itu, Aruna dan Farish, dari NGO One World ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu di tiap-tiap daerah—Surabaya, Madura, Palembang, Medan, Lombok.

Lantaran motivasi utama Aruna adalah berburu makanan khas tiap kota, ia mengajak dua sahabatnya yang juga menggilai makanan, Bono, si chef, dan Nadehzda, si penulis artikel kuliner. Selain mencicipi berbagai makanan dari pelosok Nusantara (misalnya nasi tempong dari Lombok, bakmi kepiting Pontianak, bakso lohwa Tangerang, sambal kecombrang Jakarta, gulo puan Cek Mia dari Palembang), Aruna ternyata juga berkesempatan mencicipi rasanya jatuh cinta pada orang yang tak terduga.
“Memang benar ada, rupanya, gestur-gestur antara dua manusia yang menentukan arah hidup kita selanjutnya.” 
(Aruna, hal. 312)
Sebagai gadis 35 tahun yang masih menjomblo, sering ia merasa insecure akan statusnya itu, apalagi tiap mendengar curhatan Nadehzda tentang petualangan cintanya yang liar. Apakah Aruna berhasil mengungkap kebenaran di balik kasus aneh flu burung itu?

***


Saya melihat buku ini sebagai kitab kuliner yang diberi bumbu konspirasi sedikit biar agak seru. Meski hasilnya kurang seru, semata-mata karena isu flu burung dan politik tidak terlalu menarik bagi saya (yang berarti belum tentu tidak menarik juga bagi pembaca lain). Menurut saya, konspirasi yang dijalin penulis kurang nendang, rasanya hanya seperti taburan katsuobushi di atas jajaran takoyaki. Memang kalau nggak ada katsuobushi, rasanya ada yang kurang. Tapi tetap saja, kan, bintang utamanya adalah si takoyaki? Yah, mungkin biar buku ini tak sekadar menjadi catatan harian seorang maniak kuliner. Meski begitu, saya mengapresiasi usaha penulis untuk menguak sedikit kemirisan sosial dan kesehatan masyarakat di negeri ini, saat tokoh Aruna melihat fasilitas kesehatan yang sangat tidak memadai.
“Tapi memang begitulah negeri ini. Ada banyak hal yang membuat kita miris. Betapa rentannya manusia, ketika mereka masih begitu tergantung pada nasib baik dan bukan pada sistem yang bisa diandalkan, di mana segala yang membawa kebajikan dan perbaikan—sains, dokter, rumah sakit, guru, sekolah, tak selalu bisa diakses.” 
(Aruna, hal. 239-40)
Saya jatuh cinta pada tokoh Bono dan Nadehzda. Dua tokoh ini bersinar amat terang, hingga menjadikan Aruna semacam bayang-bayang saja. Saya lebih tertarik ketika Aruna menceritakan tentang mereka berdua daripada jika ia bercerita tentang dirinya sendiri (kejam? Kebenaran memang terkadang kejam, Nak, hohoho. Tapi ini hanya pendapat saya, bukan kebenaran mutlak.). Bono sangat keren setiap kali ia menjelaskan tentang makanan dengan sikap kalem tapi tegas. Ia manifestasi “air tenang menghanyutkan”, hingga orang sok tahu yang nantang dia langsung tak berkutik.

Nadehzda, yang kecantikannya tiada tara itu, keren banget saat menjelma bak filsuf, meski kadang ia tak lebih daripada seorang manusia biasa yang galau akan kisah percintaannya yang liar dan selalu mengembara. Seperti inilah Aruna menggambarkan kesempurnaan Nadehzda di matanya:
“Dia seolah tak sudi barang sedikitpun oleh sesuatu yang ia anggap norak, atau jelek, atau kodian, atau kitsch. Meskipun begitu ia tak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk, apalagi merendahkan. Bagaimana gerangan memadukan kedua perilaku yang begitu berseberangan dalam satu diri?” 
(Aruna, hal. 217)
Setelah melihat foto Mbak Laksmi di sampul belakang, alam bawah sadar saya langsung membayangkan rupa fisik Nadehzda mirip Mbak Laksmi, hihi. Fisiknya doang, lho, ya, hayo jangan mikir macam-macam, hehe. Nadehzda juga yang membesarkan hati Aruna saat ia ragu akan kesungguhan Farish, karena ia merasa tidak cukup cantik.
“Kalau sudah merasa cocok, banyak orang nggak lagi peduli pada penampilan fisik. Karena bagi orang itu, dengan siapa ia merasa cocok itu ya itu dialah yang cantik.” 
(Nadehzda, hal. 376)
Selepas membicarakan kedua tokoh tersebut, marilah kita kembali ke tokoh utama bernama Aruna Rai. Tokoh ini membuat saya agak kesal karena sikapnya yang plin-plan, malu-malu tapi mau. Namun, cara penulis menggambarkan suasana batin Aruna sangat bagus. Dengan jujur, penulis menggambarkan bagaimana Aruna sebenarnya cemburu akan segala kelebihan Nadehzda yang tidak dimilikinya.
“Lagi-lagi aku merasakan kecemburuan itu, kecemburuan yang lebih merupakan kekecewaan terhadap diri sendiri. Kekecewaan atas diri yang demikian sejalur dan senada, yang tidak sejamak perempuan menawan yang kebetulan adalah sahabatku sendiri.” 
(Aruna, hal. 199)
Tapi saya sadar, tidak adil jika pembaca (dan apalagi peresensi buku) menghakimi sifat tokoh dalam sebuah buku. Yah, mungkin saja, Mbak Laksmi  memang membuat tokoh Aruna seperti itu. Kalau tokoh Aruna digambarkan sebagai sebuah titik pada sebuah kurva statistik, ia adalah sebuah outlier. Ia seorang wanita yang melenceng dari pandangan stereotip masyarakat Indonesia terhadap wanita Indonesia. Nadehzda juga seperti itu, sih. Pekerjaan Aruna yang unik itu sudah menyumbang satu penyebab keunikan tokoh ini. Lalu, sudah kepala tiga tapi belum menikah. Parahnya, Aruna belum menikah dan kurang menjaga penampilan. Bisa dibilang, ia sosok wanita yang malas dandan. Dalam idenditasnya sebagai wanita yang tidak biasa itu, sesungguhnya ia berpikir tentang bagaimana biasanya alam menakdirkan laki-laki dan perempuan.
“Dan begitulah: sesuai dengan kebiasaan, para laki-laki memilih kopi hitam, para perempuan memesan sanger—kopi susu dan gula. Begitulah alam mendedahkan bagi kita segebung rujukan kesepadanan. Laki-laki = gelap, perempuan = terang. Laki-laki = pahit, perempuan = manis.” 
(Aruna, hal. 311)
Bicara tentang kuliner, yang saya tahu paling banter adalah makan asal ada sayur dan lauknya, plus nasi (meski saya nggak selalu makan nasi), dan murah (kejujuran seorang anak kos yang hidup sederhana *halah*), jadi waktu baca berjuta istilah asing seputar kuliner dalam buku ini, saya langsung telan saja mentah-mentah. Istilah itu banyak sekali dan buku ini sangat bersih dari makhluk bernama footnote. Awalnya ada keinginan untuk mencari arti tiap istilah lewat internet, tapi lama-lama malas juga lantaran hal itu akan menginterupsi kenikmatan membaca.

Selain mendapat berbagai kosakata baru di bidang kuliner, pembaca juga mendapat pengetahuan seputar kuliner dan kosakata baru yang jarang digunakan oleh penulis lain. Malah, ada kata-kata tertentu yang saya baru tahu bahwa ia eksis dalam KBBI selama ini (iya, saya tahu, saya kuper banget), seperti kata “menghidu” dan “demap”. Langsung saya catat daftar kata baru itu untuk menambah kekayaan kosakata saya, dan untuk saya terapkan dalam tulisan saya sendiri.

Di bagian tengah, saya bosan oleh rutinitas para tokoh. Tiba di kota baru, ke rumah sakit untuk mengunjungi pasien flu burung, makan-makan, makan-makan, makan-makan, lalu kembali ke hotel. Tapi rasa bosan itu dikompensasi oleh berbagai filosofi kuliner, cerita unik, hal-hal menarik dari tempat-tempat yang mereka kunjungi dan makanan yang mereka cicipi (tulis contohnya).

Sebenarnya, saya hanya merelakan rating 3,5/5 untuk buku ini. Namun, di Goodreads saya bulatkan jadi empat, karena penulis berhasil membawa banyak hal baru untuk saya nikmati. Oya, buku ini saya dapat dari Litbox pertama tahun 2015 (bulan Maret lalu), dan saya dapat edisi bertandatangan penulis ^^.
Dapat tanda tangan Mbak Laksmi :D
Terakhir, saya ingin membahas tentang prolog. Sungguh, saya syok dan ngos-ngosan waktu penulis mengajak saya lari marathon melalui bagian prolognya sepanjang delapan halaman yang terdiri dari hanya satu kalimat. Iya, SATU. GILA!!! Di bagian belakang, Mbak Laksmi menjelaskan bahwa gaya penulisan itu terinsipirasi dari pembukaan novel Jeet Thayil berjudul Narcopolis (kalau penasaran novel apa ini, sila baca review-nya di sini, tapi bukan review saya, hoho). Meski mungkin bagi sebagian pembaca satu kalimat yang panjangnya ngalahin gerbong kereta itu dianggap menyusahkan dan tidak efisien, menurut saya itu malah KEREN. Penulis berani berinovasi (sepanjang karier membaca buku karya penulis Indonesia, belum pernah saya menemukan prolog kayak begitu selain ini—maaf, pengetahuan saya juga terbatas), dan yang lebih keren adalah meskipun sepanjang itu, tidak ada yang meleset! Semua penggunaan pungtuasi tepat dan jelas, sama sekali tidak bikin bingung atau pun salah tafsir. Saya bisa menangkap semua isi kalimat itu dengan mudah, meski sambil lari-lari. You rock, Mbak Laksmi!






Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets