15 June 2014

[REVIEW GALILA] Masa Depan bagi Wanita Tanpa Nama Belakang



Judul Buku                 : Galila
Penulis                        : Jessica Huwae
Tebal                           : 336 halaman
Penerbit/cetakan         : Gramedia Pustaka Utama/I, Maret 2014
ISBN                           : 978-602-03-0210-2
Harga                          : (I dunno exactly; I got this as one of the books in blended box of Litbox)

Masa depan ada karena ada masa lalu dan masa sekarang, bukan? Ini seperti halnya kenyataan bahwa “terang” ada karena “gelap” juga ada. Hitam ada karena putih ada. Galila, tokoh utama dalam novel ini juga berpendapat begitu.

 Tidakkah yang memiliki masa lalu juga beroleh hak yang sama untuk menatap masa depan?” – Galila (halaman 249)

Namun, ternyata, ada orang yang berpandangan lain.

“Dia (Hana) selalu berpendapat gadis yang memiliki masa lalu tentu tidak memiliki masa depan.” (halaman 106)

***

GALILA. Nama ini mungkin terdengar aneh di telinga. Apalagi hanya satu kata itu saja, tanpa embel-embel di belakangnya. Galila, gadis yang berasal dari Indonesia bagian timur, tepatnya kota Saparua, yang berjarak dua jam dari Ambon. Gadis yang pernah ditinggal mati ayahnya, ditelantarkan ibunya, dan pernah hamil di luar nikah. Ia pernah hidup di bawah tekanan ibu pacarnya, lantas kemudian bayinya lahir. Tapi, hidup bayi itu tak lama. Dan, penderitaannya berlanjut kembali.
Meski begitu, Galila tetap menyimpan mimpinya untuk pergi ke Jakarta, kota yang ia juluki “Kota Harapan”. Tangan Tuhan memberinya kesempatan dalam suatu audisi pencarian bakat, “Indonesia Mencari Diva”, namanya. Berkat suntikan semangat dari Koh Kong—pemilik toko di mana Galila bekerja—Galila berani keluar dari zona nyamannya dan mencoba mengikuti kontes tersebut.

“Saat masih muda, kamu harus berani melakukan satu hal gila yang akan membuatmu mengingatnya sampai kamu tua nanti. Itu akan jadi pengingat bahwa kamu pernah hidup.” – Koh Kong (halaman 292)

Tak dinyana, Galila berhasil maju ke babak final di Jakarta. Semenjak itulah, kariernya selalu menanjak hingga kini, ia menjadi seorang diva negeri ini. Kesuksesannya itu juga berkat bantuan tangan dingin manajernya, Magda. Selama ini, Galila berusaha untuk tidak memiliki hubungan dengan pria. Tapi, ia tak bisa berkutik ketika ia jatuh cinta terhadap Eddie, ahli waris perusahaan keluarga Batak bermarga Silitonga. Jalan cinta mereka berdua tidak mudah. Selalu ada Hana, ibu Eddie, yang menghalangi, lantaran beliau terlalu memegang teguh prinsip bibit-bobot-bebet. Dalam hal ini, masalah perbedaan suku turut mewarnai.

Di samping itu, Davina, seorang penyanyi yang pamornya mulai terbayang-bayangi sinar Galila, berniat balas dendam. Hingga puncaknya adalah rahasia masa lalu Galila terungkap di depan publik. Semua yang telah ia bangun hancur dalam sekejap.

Apakah masa depan akan membentang di hadapan Galila? Masa depannya bersama Eddie—akankah itu ada?
***

Tak dapat dimungkiri, bahwa pilihan Kak Ika Natassa untuk buku Litbox-nya selalu tak mengecewakan. Pertama kali membaca karya Kak Jessica Huwae, saya langsung jatuh cinta pada gaya berceritanya. Apalagi, tema yang diangkat tentang sosok wanita kuat Indonesia, sungguh menarik. Tak banyak novel yang menghadirkan tokoh utama wanita yang berasal dari wilayah timur Indonesia. Selain itu, penulis juga mengusung berbagai polemik yang banyak terjadi di Indonesia. Tentang pernikahan beda suku. Tentang kerusuhan antaragama. Ditambah lagi dengan dunia hiburan yang gemerlap namun sarat bahaya. 
Letak Pulau Saparua
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/10/Ambon_and_Lease_Islands_%28Uliasers%29_en.png
Tanjung Kulur
http://www.panoramio.com/photo/47423157
Selalu menarik, membaca testimoni para ahli literatur maupun jurnalistik, dan sebagainya, terhadap suatu novel. Seperti yang tertera di kover belakang novel Galila. Saya setuju dengan testimoni Kak Rully Larasati, yang mengatakan bahwa penulis berhasil melakukan pemilihan diksi dan analogi yang cermat. Bahkan, menurut saya, dalam tiap adegan novelnya. Ada banyak perumpamaan yang ditulis Kak Jessica secara cermat dan tepat, juga unik. Seperti ketika penulis mendeskripsikan perasaan Eddie setelah ia memutuskan hubungannya dengan Galila, sebagai perasaan seorang prajurit yang dikhianati temannya (halaman 250). Juga, pemikiran Galila tentang masa depan (halaman 25).

Dialog yang terjadi antara tokoh-tokohnya juga bukan sekadar tempelan buat nebal-nebalin naskah. Bukan sama sekali. Penulis merancang dialognya dengan hati-hati, hingga kalimat yang diucapkan tokoh-tokohnya itu bermakna. Saya suka dialog antara Eddie dan Galila. Mereka banyak membicarakan hal-hal remeh tapi penting yang jarang diperhatikan manusia lain. Misalnya, dialog mereka tentang alam semesta ketika mereka sedang berada di Kebun Raya Cibodas (halaman 98-99). Dialog tentang nelayan dan juga Tuhan (halaman 85-87), sampai tentang kebahagiaan (halaman 160-161). Hah, bahkan ada juga teori tentang cowok—yang benar sekali, menurut saya (yah, meskipun saya bukan laki-laki)—di halaman 62. Ini membuat saya ingat masa-masa ketika membaca buku “What’s on A Man’s Mind”. Haha. I truely read that kind of book, huh!

Sementara itu, tentang topik pernikahan, saya setuju dengan pemikiran Eddie:

“Lagi pula, siapa sih orang kurang kerjaan yang berada di balik penciptaan teori bahwa pada usia tertentu manusia diwajibkan menikah? Apakah manusia lantas kurang nilai, fungsi, atau kontribusinya apabila mereka tidak berpasangan?” (halaman 71)

Sampai teori tentang Adam-Hawa:

“Mungkin itu sebabnya Tuhan menciptakan Adam dan Hawa berpasangan, karena tidak ada yang lebih menusuki hati daripada merasa sepi dan sendiri di tengan ramai yang mengelilingi.” (halaman 91)

Penulis juga menyelipkan perumpamaan yang terinspirasi dari cerita Alkitab:
1.       Tentang bibit yang jatuh di berbagai jenis tanah (halaman 144).
2.       Manna di padang gurun (halaman 194).
3.       Terang dunia (halaman 307).
***

Tangan lihai penulis juga sampai merambah ke ranah “pemborosan energi” yang banyak dilakukan orang Indonesia. Sebagai orang yang pernah mengambil mata kuliah Konservasi Energi, bagi saya, ini sungguh memprihatinkan T_T.

 “Walau pintu yang memisahkan ruang belakang dan pintu taman dibuka lebar-lebar, pendingin ruangan sengaja dibiarkan menyala. Udara panas Jakarta rasanya tidak memungkinkan warganya untuk bisa bertahan tanpa bantuan pendingin buatan.” (halaman 20-21)

Bicara tentang tokoh, saya sebal sekali terhadap tokoh Hana (ibu Eddie). Ini berarti, penulis berhasil menghidupkan karakter tokohnya, hingga membuat pembaca terpengaruh emosinya. Namun, ada juga tokoh yang saya rasa hanya sebagai tempelan, untuk mendukung ide yang ingin diselipkan oleh penulis, tentang sosok anggota DPR yang menyalahgunakan jabatan (tokoh Yudah). Nyatanya, tokoh itu benar-benar muncul hanya sekitar dua kali. Nasibnya di akhir cerita pun tak lagi digubris penulis. Padahal, awalnya, saya kira ia akan jadi salah satu tokoh antagonis. Selain itu, kisah penderitaan Galila ketika ia masih tinggal di Maluku terasa seperti kisah sinetron di benak saya.

Saya juga agak keberatan terhadap kalimat yang menjadi tagline novel ini: “adakah masa depan bagi yang memiliki masa lalu?” Pasti, maksud penulis adalah: “adakah masa depan yang terang bagi yang memiliki masa lalu kelam?” Karena, yah, semua orang pasti memiliki masa lalu, kan? Jadi, harusnya, semua orang juga memiliki masa depan. Lain halnya dengan “masa lalu kelam” yang mungkin hanya dimiliki orang tertentu. Tapi, kalau kalimatnya diubah menjadi seperti kalimat saya itu (yang berwarna hijau), kok jadi nggak bagus lagi, yah? Haha.

Yang jelas, kisah yang banyak menyertakan budaya Indonesia ini tak mengecewakan untuk dinikmati.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets