18 June 2014

[REVIEW CARRYING YOUR HEART] Between "House" and "Home"




Judul Buku                        : Carrying Your Heart
Penulis                              : Pia Devina
Tebal                                 : 252 halaman
Penerbit/cetakan               : DIVA Press/Cetakan I, Mei 2014
ISBN                                 : 978-602-255-589-6

“I was your home... and I wish I will always be your home. Tapi aku tahu, untuk saat ini... I’m no longer becoming your home.” – Rendi (halaman 230)
Tahukah kamu, apa perbedaan antara “house” dan “home”?

http://www.addictedtosaving.com/wp-content/uploads/2012/11/free46.jpg
House describes a particular type of building. Home is the place where you live and feel that you belong to.” (http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/youmeus/learnit/learnitv75.shtml)

http://www.dezignwithaz.com/house-home-quote-wall-decal-p-12401.html


Kirana Evalia, tokoh utama dalam novel ini, sangat paham apa perbedaan antara “house” dengan “home”. Baginya, rumahnya—“house”—bukanlah “home”, lantaran dalam rumah itu ia tak merasakan kasih sayang dan kenyamanan. Seorang wanita tua yang ia panggil “nenek” menghuninya, dengan kebencian yang selalu dilayangkan kepadanya. Mengapa? Karena Kira adalah anak haram. Anak yang dilahirkan ibunya di luar pernikahan. Lelaki yang seharusnya menjadi ayahnya itu kemudian meninggalkannya ke negeri seberang, dan menikah dengan orang lain. Setelah ibunya meninggal, tanpa sengaja, dalam sebuah buku catatan tua, Kira menemukan alamat ayahnya di Rotterdam. 

Malahan, Kira merasakan berada di rumah ketika bersama Rendi. Kekasihnya itu selalu menjadi tempat hati Kira berpulang. Bahkan, di rumah Rendi, ia merasakan kenyamanan, selain karena ibu Rendi yang bersikap baik padanya. Tapi, setelah menemukan alamat ayahnya dan dibantu dengan Om Iwan, teman ayahnya di Belanda, Kira memilih untuk meninggalkan “rumah”-nya, Rendi. Ia berniat mencari ayahnya di Rotterdam. Kini, sudah satu setengah tahun Kira menjalani kehidupannya di Rotterdam, bekerja sebagai sous chef di sebuah restoran bernama La Angelique. Dalam kurun waktu satu setengah tahun itu, Kira baru sekali bertemu dengan ayahnya. Dan setelahnya, ia tak memiliki keberanian lagi. Masalahnya, kali pertama bertemu, hati Kira tertohok melihat kebahagiaan ayahnya bersama keluarga barunya. Apalagi, ayahnya seperti berpura-pura tidak mengenalnya.

Satu setengah tahun telah berlalu, dan Rendi menepati janjinya pada Kira untuk menyusulnya ke Belanda. Rendi berhasil mendapatkan beasiswa S-2 dan berusaha membantu Kira untuk menemui ayahnya kembali. Tapi, saat “rumah” untuk hatinya telah kembali berada di sisinya, Kira tahu, semuanya tak lagi sama. Separuh hatinya telah berlabuh di “rumah” yang lain—seorang pria Indonesia yang selama ini menjadi sahabatnya di Belanda, Nathan.

***

Awalnya, saya mengira kisah pencarian sang ayah ini akan menjadi kisah petualangan. Petualangan di negeri Kincir Angin pasti akan sangat seru, bukan? Saya mengharapkan petualangan seperti dalam novel “Bangkok, The Journal”. Ternyata, sang penulis tidak meramu kisahnya sesuai harapan saya (yaelah, emang saya siapa, penulisnya aja nggak kenal saya, hahaha). Bukan kisah pencairan ayah Kira yang menjadi sorotan utama, melainkan kisah cinta segitiga antara Rendi – Kira – Nathan (halah). Entahlah, menurut saya, kisah ini akan menjadi jauh lebih menarik jika petualangan pencarian sang ayah lebih dikedepankan.

Di balik itu, saya salut dengan ketelitian penulis dalam merancang time line yang menjadi salah satu rangka pendukung alur cerita. Saya suka alur cerita bikinan penulis, yang maju-mundur tanpa kehilangan irama dan ketepatan waktunya konsisten. Keterangan waktu yang menjadi mengawali tiap subbab cerita juga telah benar-benar diperhitungkan. Saya tidak menemukan ketidaksesuaian pecahan-pecahan adegan meskipun setting waktunya berlompatan. Selain itu, deskripsi tempat yang diolah penulis bagus, sehingga setting Belanda-nya bukan hanya tempelan.

Namun, saya sangat terganggu dengan gaya penuturan penulis yang sering menggunakan bahasa Inggris yang sebenarnya (menurut saya) tidak perlu. Malahan, ini terkesan lebay. Seperti anak-anak alay yang nggak bisa ngomong pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kecuali kalau istilah dalam bahasa Inggris itu sulit diterjemahkan, atau malah tidak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Atau, jika itu merupakan istilah bahasa Inggris tertentu, seperti halnya dalam bahasa Inggris, “pecel” atau “batik” tetap dalam bentuk bahasa Indonesianya.
1.       “... ada di building yang sama dengan tempat Nathan tinggal.... saat Matthew stay di sana.... akhirnya malah merasa lebih comfort dengan apartemennya itu...” (halaman 16)
Di telinga saya, rasanya lebih adem jika “building” itu diganti dengan “bangunan”, “stay” dengan “tinggal”, dan “comfort” dengan “nyaman”.
2.       She hates me sampai mungkin sebenarnya dia ingin menendangku ke jalanan...” (halaman 32)
3.       “...di Hotel Milano yang letaknya setengah miles dari Stasiun Rotterdam Central...” (halaman 37)
4.       “pepper” dan “kitchen” di halaman 115.

Penulis juga banyak menggunakan kata ganti yang tidak benar, seperti ini:
1.       Lagunya Rihanna (halaman 21) --> lagu Rihanna
2.       Hidupnya dia (halaman 108) --> hidupnya
3.       Momen-momen bahagianya kamu (118) --> momen-momen bahagiamu.




Sungai Leie, yang mengalir dari Perancis sampai Belgia


Saya tak habis pikir, pria macam apa Priyadi Adidarna—ayah Kira—ini. Ia punya anak dengan ibu Kira, juga dengan ibu Nathan, yang entah siapa. Belum lagi dengan keluarga resminya di Rotterdam. Jangan-jangan, ada lagi anaknya yang lain? Nah, bicara tentang identitas Nathan yang sebenarnnya, penulis terkesan enggan menjelaskannya. Atau, malah penulis terburu-buru dikejar deadline? Karena, bagian akhir novel ini sangat kurang memuaskan. Identitas Nathan yang masih membingungkan—siapa ibunya? Bagaimana bisa ayah Kira juga menghamili ibunya?

Lantas, epilog dari novel ini juga bikin gemas. Saya menginginkan lebih. Mungkin, jika diperpanjang beberapa halaman lagi akan lebih baik. Hehehe, maunya saya, sih. Saya juga sedih, kenapa akhirnya begitu? Tapi, keputusan Rendi cukup logis, menurut saya.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets