Showing posts with label mizan. Show all posts
Showing posts with label mizan. Show all posts

23 June 2015

[Resensi DRUNKEN MONSTER] Jadi, Selama ini Apa yang Sudah Saya Lakukan?

Judul: Drunken Monster
Penulis: Pidi Baiq
Editor: Doel Wahab dan Ahmad Mahdi
Penerbit: Pastel Books
Cetakan: II, 2013
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-602-7870-07-9
Harga: Rp 34.000,00
Rating saya: 4/5

Awalnya, saya adalah bagian dari kebudayaan yang meminggirkan semua itu. Entah kenapa, salah seorang teman kuliah—menurut saya dia berpotensi untuk sama jayusnya dengan Pidi—sangat ngotot meminjamkan buku ini dan lebih ngotot lagi menyuruh saya membacanya.
“Frid, pokoknya lu harus baca buku ini! Buku ini beda dari buku-buku yang biasanya lu baca!”

Saya penasaran, kan, memang dia tahu buku-buku apa yang biasanya saya baca? Huehehehe. Tapi begitu melihat bentuk buku dan membaca blurb-nya, saya jadi skeptis; menganggap buku ini hanyalah buku banyolan yang tidak memenuhi kualifikasi buku untuk saya baca *wih, sombong sekali, ya, saya ini*. Buku ini baru saya baca beberapa bulan setelah ia pinjamkan, karena banyak buku lain yang harus saya baca. Lalu tibalah suatu waktu saat keberanian saya terkumpul di ujung tangan dan meraih buku ini kemudian membuka sampulnya, lalu saya terkejut. Betapa tidak, kata pengantar pertamanya berjudul “Ini Buku Berbahaya”. Begitu mulai membaca kedua kata pengantar yang keduanya ditulis oleh dua orang doktor, pandangan saya mulai bergeser. Saya merasa tersindir.


Catatan harian Pidi Baiq yang di-republish ini memang “kumpulan kisah tidak teladan” karena semuanya berisi keisengan Pidi yang patut ditiru asal siap menanggung risiko malu atau dicap jayus. Kedelapan belas ceritanya berisi tentang keisengan Pidi; hidup sehari-harinya yang sarat drama yang dibikin sendiri. Hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh saya!

Masuk ke cerita pertama, saya sudah disambut keisengan parah. Cerita berjudul “Air Lembang Panas” ini berkisah tentang suatu malam minggu, saat Pidi dan karyawannya pergi ke pemandian air panas di Lembang. Sampai di loket tiket, ia berkata pada si penjaga, “Saya dari rombongan rumah sakit jiwa! Ini, saya bawa pasien, Pak. Mau mandi di sini. Mau terapi. Bisa ya?” (hal. 28) Lalu setelah itu ia bicara lain pada si atasan penjaga tiket, mengungkit masalah SARA (ia sengaja melakukannya untuk melihat reaksi si lawan bicara jika diajak bicara mengenai SARA).
Pidi : Gini, Pak. Kami ini kan rombongan dari Medan.Pak Handi : Iya?Pidi : Nah, tadi saya nanya sama siapa itu, bapak-bapak di situ,  orang Medan boleh gak mandi di sini?[...]Pak Handi : Ya boleh. Ini pemandian untuk umumlah. Siapa saja boleh. Suku apa saja boleh.(hal. 32)
Pidi memang suka memutar-balikkan omongan, menimbulkan kesalahpahaman, tapi tetap nggak bikin saya kesal. Malah saya suka akan kreativitasnya ini. Hahaha. Contohnya, percakapan pada cerita favorit saya di buku ini, “Oh, Kerja”. Di cerita ini, Pidi mencoba jadi tukang becak, sementara Mang Ikun, si tukang becak dikasih pinjam motornya. Eh, tapi Pidi bilangnya begini ke rekan-rekan Mang Ikun, “Itu, si Mang Ikun, biasalah. Katanya pengen bawa motor saya ke rumah. Saya disuruhnya pake becak. Dasar!” (Oh, Kerja, hal. 182)

“Oh, Kerja” jadi favorit saya, karena Pidi memberi pesan bagi orang-orang yang suka mengeluh seperti dirinya. Bahwa orang-orang yang hidupnya lebih susah (secara materiil) daripadanya saja tidak pernah mengeluh. Sebelum mencoba mengayuh becak, Pidi suka menggerutu tentang pekerjaannya (lihat hal. 172).
Dulu, saya kira mudah membawa becak, ternyata salah. […] Hai, Mang Ikun, saya mau nanya, apakah Mang Ikun suka mengeluh? 
(hal. 184)
Di cerita berjudul “Drunken Monster”, ada lagi, nih, “ada-ada aja”-nya Pidi. Untuk menghibur istri yang marah, barangkali jarang sekali suami yang melakukan ini, dia mendongeng ngawur. Katanya ia telat pulang ke rumah gara-gara dicegat monster. Monster yang mencegat suami setia. Alhasil, sang istri tidak jadi marah-marah karena udah nggak tahan ngempet ketawa. Di balik cerita amat tidak seriusnya ini, Pidi sesungguhnya ingin berpesan serius.
“Saya kira malam indah seperti ini tak akan pernah ada, kalau saja tadi begitu sampai rumah, saya langsung memasang muka perang untuk membuat istri tidak berani menegur. Atau kalau dia menegur, saya langsung balik marah dan memberinya tamparan karena menilai dia sudah berani ngatur suami.” 
(hal. 51)
Kemudian, di cerita “Jalan ke Mana-mana”, nampaklah bahwa Pidi hobi sok kenal sama orang tak dikenal. Seperti ketika ia menyapa seorang penjual jagung rebus.
Pidi : Bapak!Penjual : Iya?Pidi : Ke mana aja?Penjual : *kaget*Pidi : Si Dadang masih di Jakarta?!Penjual : Dadang?! *bingung* Dadang mana?!Pidi : Masa’ lupa?!(hal. 61)
Nah, mudah sekali, ya, untuk memulai percakapan akrab dengan orang yang tak dikenal? :D
Dalam cerita “Jalan-jalan Minggu”, Pidi iseng banget waktu parkir motor. Kepada si Juru Parkir, ia minta diberi nomor parkir cantik. Dan perdebatan tentang nomor cantik ini berlangsung cukup lama, hingga Pidi ditinggal anak-istrinya yang sudah duluan masuk ke pasar Minggu. Hah, ada aja, ya, cara unik untuk memulai percakapan dengan orang tak dikenal.
Pemikiran Pidi juga unik, rupanya, seperti terlihat pada cerita “Pulang dari Jakarta”. Ketika hendak turun dari kereta dan melihat ada tulisan “EXIT”—yang bagi saya dan banyak orang lainnya adalah hal biasa saja—ia berpikir bahwa gerbang bertuliskan EXIT itu adalah “ide cemerlang dari pihak PJKA”.
“Bayangkan saja seandainya PJKA tidak membuat gerbang EXIT, semua penumpang pasti akan menggunduk di dalam stasiun sambil terus pada teriak: ‘Keluarkan kami sekarang juga! Keluarga pada nunggu di rumah!’ Saya merasa takjub akan bagaimana bisa PJKA punya ide cemerlang seperti itu? Biasanya tidak.” 
(hal. 130)
Selain hobi sok kenal, Pidi juga hobi bagi-bagi duit pada orang tak dikenal! Contohnya, ke Tukang Rujak di cerita “Hari Senin”. Diberinya uang 150ribu sebagai tanda terima kasih karena telah suka rela dan tanpa merasa jadi korban keisengan Pidi, ups! Eh, enggak, maksudnya biar Tukang Rujak itu bisa ngajak anak-anaknya main.
Ajak anak-anak main. Saya serius, nih! Kasian mereka. Jangan dagang terus. Anak-anakmu mungkin butuh uang, tapi anak-anakmu juga butuh ayah. 
(hal. 171)
Saya juga suka cerita ketika Pidi iseng terhadap polisi yang menilang dia karena dia pura-pura nggak bawa SIM. Saya suka karena merasa dendam saya terhadap para polisi yang pernah nilang saya selama ini terbalaskan *sekali-kali mau coba, ah* hahaha. Di sini tampak juga hobi Pidi yang lain: ngeles. Setelah dia memberi uang tilang dua puluh ribu, tiba-tiba si Pidi balik sambil bawa SIM.
“Pidi : Ini SIM-nya ada!Polisi : Ya, udah!Pidi : Uangnya, Pak? He he he, bisa diambil lagi gak? Kan, SIM-nya udah ada?Polisi : Enggak. Kamu sudah lalai!Pidi : Kirain tadi nggak kebawa, Pak. Beneran!”(hal. 180)
Kemudian, dalam cerita “Noor Rosak”, Pidi menceritakan jalan-jalannya bersama teman lamanya, si Noor Rosak, orang Timor Leste. Dalam cerita itu, ia menyindir kita sebagai bangsa Indonesia.


Selain ceritanya yang bikin kaget, saking nggak pernah kepikiran oleh saya akan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan Pidi (karena saya telah terjebak dalam kungkungan normalitas dan rutinitas), bahasa penulisannya pun bikin kaget! Seperti kata Prof. Dr. Bambang Sugiharto, dalam kata pengantar.


Kalimat-kalimatnya pendek-pendek, tidak terstruktur selayaknya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seolah-olah menegaskan bahwa Pidi memang ingin sepenuhnya mendobrak normalitas. Seperti ini contohnya:
“Selesai makan bubur, segera saya bayar. Selesai saya bayar, segera saya pergi. Selesai saya pergi, segera masuk mobil. Selesai masuk mobil, segera mobil maju, tetapi setelah pergi, mobil berhenti. Berhentinya di situ, di pinggir jalan, kira-kira beberapa meter tidak jauh dari si Tukang Bubur.” 
(hal. 164)
“Di perjalanan, kami juga ngobrol. Ngobrol yang tidak penting diobrolkan. Tahu-tahu, sudah sampai di rumah, di rumah saya.” 
(hal. 229)
Pada akhirnya, di luar ekspektasi, saya malah menyukai buku ini. Terima kasih buat teman saya, yang telah memberi saya liburan singkat gratis yang bermakna dengan membaca buku pinjaman ini. Bukan hanya liburan haha-hihi, melainkan liburan sambil introspeksi, “Jadi, sebenarnya, apa yang sudah saya lakukan selama ini? Tidakkah hidup ini sia-sia jika hanya saya habiskan dengan melakukan rutinitas? Saya selalu memimpikan hidup penuh petualangan layaknya di film-film, tapi saya sendiri tidak berani memulai petualangan itu.”


20 January 2015

[Resensi "Dunia Anna"] Sudah Saatnya Kita Sadar...



 Judul Buku                     : Dunia Anna
Penulis                          : Jostein Gaarder
Penerjemah                   : Irwan Syahrir
Tebal                             : 244 halaman
Penerbit/cetakan            : Mizan/Cetakan II, November 2014
ISBN                             : 978-979-433-842-1
Harga                            : Rp 45.000,00
Rating                           :


Ya, saya memang tidak sedang meresensi The Winner Stands Alone, tapi quote di atas adalah salah satu yang saya suka dan juga relevan untuk membuka resensi ini. Quote itu menunjukkan suatu sisi pemikiran yang baru bagi saya. Di saat saya dan berjuta orang lainnya di dunia berlomba-lomba ingin menyelamatkan bumi, Paulo Coelho malah bilang kalau tindakan kita itu sombong. Bumi akan baik-baik saja, nggak usah sok-sokan ingin menyelamatkannya. Alih-alih “menyelamatkan bumi”, lebih tepat jika “berusaha agar bumi tidak menghancurkan kita”. Begitu mungkin kira-kira. Sebenarnya, tindakan konkretnya sama saja, hanya beda paradigma. Kita tidak membuang sampah di sungai bukan untuk menyelamatkan bumi, melainkan untuk mencegah agar tidak terjadi banjir; agar bumi tidak menghancurkan kita.
Yang sedang dilakukan Anna dalam novel Dunia Anna adalah berusaha agar bumi tidak menghancurkan anak-cucunya. Saat berumur 10 tahun, gadis Norwegia itu sudah menyadari ada yang tidak beres dengan alam sekitarnya. Rusa kutub mati, yang lainnya berkeliaran ke desa. Pertanda apakah itu?
Enam tahun kemudian, di tahun 2012, Anna sudah masuk ke SMU. Di ulang tahun ke-16-nya, ia mewarisi sebuah cincin rubi berusia lebih dari 100 tahun dari Tante Sunniva. Ia juga sudah punya pacar, kakak kelasnya, Jonas namanya. Anna memiliki suatu kelebihan (atau keanehan?): suka berfantasi yang terlihat sangat nyata, dan mimpinya juga selalu terasa nyata hingga ia bisa mengingat kejadian-kejadian dalam mimpi sangat detail ketika bangun tidur. Musim gugur tahun itu ia bertemu dengan Dokter Benjamin, seorang psikiater. Obrolan mereka berlangsung seru, hingga melebar ke topik lain.
“Ada sesuatu yang kamu khawatirkan, Anna?”
“Pemanasan global.” (hal. 20)
Setelah pertemuan dengan dokter itu, Anna menjelma jadi Nova dalam mimpinya. Anehnya, Nova ini adalah cicitnya di tahun 2082, dan dalam mimpinya juga ada dirinya sendiri—Anna dalam versi nenek-nenek. Di tahun itu, binatang-binatang yang sekarang masih ada hanya dapat dinikmati keelokannya lewat video-video. Tiba-tiba, karena rasa penasaran, Nova mengetikkan nama nenek buyutnya, Anna Nyrud, di mesin pencari. Terkejutlah ia, karena ia menemukan sebuah surat yang ditujukan untuknya, bertanggal 11 Desember 2012, sehari sebelum Anna berulang tahun ke-16. Bagaimana bisa Anna tahu akan punya cicit bernama Nova?
Dari hasil temuannya, Nova tahu bahwa generasi nenek buyutnyalah yang merusak bumi. Mendadak, dia merasa marah.
“Aku mau seluruh jutaan jenis flora dan fauna itu semua dikembalikan. Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku....” (hal. 50)
Dan neneknya menjawab dengan misterius, sambil mengelus cincin rubi di jarinya.
“Mungkin dunia ini bisa mendapat kesempatan baru...” (hal. 52)
Apakah cincin itu memiliki kekuatan ajaib? Apa benar, semuanya bisa dikembalikan? Pengalaman Anna lewat mimpi, apakah itu semacam petualangan lintas-dimensi?
***
Berbeda dengan Dunia Sophie yang berisi murni filsafat (sehingga saya tidak sanggup menyelesaikannya), Dunia Anna ini lebih mengedepankan isu-isu seputar kerusakan lingkungan dan pemanasan global, yang dimaknai secara filsafat. Jostein Gaarder gemar menggunakan remaja sebagai tokoh utamanya, sebagaimana ia lakukan dalam Dunia Sophie dan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.
Anna, adalah remaja cerdas dan tekun yang cara berpikirnya lebih dewasa ketimbang remaja seusianya. Oleh karena itu, ia senang ketika Dokter Benjamin memperlakukannya seperti orang dewasa. Gadis ini tertarik pada permasalahan lingkungan. Sementara itu, tokoh Jonas adalah sosok pacar yang kooperatif dan juga cerdas. Saya mengagumi kecemerlangan idenya dalam membantu menemukan solusi dari permasalahan Anna.
Sementara itu, tokoh Dokter Benjamin berperan sebagai pencetus ide agar Anna dan Jonas membentuk sebuah organisasi lingkungan hidup. Dan tokoh Ester, putri Dokter Benjamin, aktivis pecinta lingkungan, yang kala itu ditawan perompak Somalia, berperan dalam cerita secara tidak langsung. Esterlah yang mengajari ayahnya permasalahan seputar iklim dan lingkungan. Terakhir, tokoh Nova merupakan sosok gadis yang seperti Anna, punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Plot yang dibangun Gaarder hanya berlangsung sekitar dua hari di dunia Anna, tapi terasa seolah dalam waktu yang lama. Terkadang, saya dibuat bingung oleh timeline kejadian. Anna bercerita bahwa hari ini adalah 10 Desember, lalu tiba-tiba ia menceritakan pengalamannya di bulan Oktober. Pembaca yang belum siap akan perpindahan waktu secara mendadak ini mungkin akan bingung. Tapi saya rasa, Gaarder memang sengaja tidak terlalu mementingkan plot agar pesan-pesan filsafat lingkungan lebih menonjol.
Novel ini dibagi menjadi 38 bab yang pendek-pendek (saya selalu suka bab pendek) sehingga tidak membosankan. Gaarder juga dapat mempertahankan rasa penasaran pembaca dengan teka-teki yang ia ajukan lewat pertanyaan-pertanyaan Anna dan juga Nova. 20 bab dengan sudut pandang Anna di masa kini, dan sisanya sudut pandang Anna sebagai Nova di tahun 2082. Perpindahan sudut pandang ditandai dengan perbedaan jenis huruf yang digunakan. Tiap perpindahan sudut pandang, Gaarder menggunakan benang penghubung lewat latar tempat. Misalnya,
- Nova sedang memandangi langit berbintang. Bab berikutnya, Anna juga melewati spot itu, lalu juga memandangi langit.
- Anna sedang terbangun dari tidurnya dan memandangi pom bensin di seberang jendelanya. Di tahun 2082, Nova juga sedang melakukan hal yang sama.

Teknik ini berhasil menjalin benang merah tak terputus sepanjang kisah. Meski begitu, ada beberapa hal yang menurut saya agak aneh, seperti berikut. Tertulis di halaman 98 bahwa di tahun 2082 Nova menggunakan Android. Menurut saya, apakah mungkin 70 tahun kemudian (dihitung dari zaman Anna, yaitu tahun 2012) Android masih eksis? Bukankah perkembangan dunia teknologi sangat cepat? Sekitar tujuh tahun saja yang dibutuhkan Android untuk berkembang mulai dari awal peluncuran hingga menguasai pangsa pasar sistem operasi smartphone. Kalau 70 tahun? Saya yakin, Android sudah digantikan sistem operasi lain yang jauh lebih maju.
Saya mengapresiasi ide Gaarder untuk memunculkan beragam aplikasi dan teknologi yang mendukung usaha penyelamatan lingkungan. Saya juga menyukai gaya berpacaran Anna-Jonas yang sangat cerdas. Seharusnya memang tujuan pacaran adalah saling mengembangkan kedua individu ke arah yang lebih baik. Dan Anna-Jonas melakukannya dengan bersama-sama aktif dalam memecahkan masalah kerusakan lingkungan. Keren sekali! Gaya berpacaran mereka juga unik, contohnya ide Anna untuk membaca buku yang sama berbarengan (hal. 229). Hei, ada berapa pasangan remaja di Indonesia, sih, yang kerjaannya baca buku bareng? Hehehe.
Bicara tentang cincin rubi kuno warisan dari Tante Sunniva itu, menurut saya itu kurang relevan dimasukkan dalam cerita. Mungkin Gaarder sengaja melakukannya untuk menimbulkan efek dramatis atau konotatif dari terwujudnya solusi permasalahan bumi secara ajaib. Padahal, solusi itu muncul berkat ide yang sangat logis.
Membaca buku ini, seperti membaca karya Gaarder yang lain, akan menyuntikkan paradigma baru pada otak pembacanya, khususnya tentang masalah kerusakan lingkungan yang paling parah dilakukan oleh generasi kita saat ini. Apa yang dapat saya lakukan? Mulai saat ini, mulai dari diri saya sendiri, saya harus berusaha memberikan bumi dalam kondisi baik bagi anak-cucu saya (kecuali bagi yang memutuskan tidak akan beranak-cucu), hehehe.
 





bloggerwidgets