17 September 2017

[Resensi THE GIRL ON PAPER] Gadis Itu Jatuh dari dalam Buku



Suatu malam yang berhujan badai, Tom Boyd menemukan sesosok perempuan telanjang yang seperti dijatuhkan begitu saja ke dalam rumahnya. Billie, perempuan itu mengaku "jatuh" dari novel trilogi laris Tom yang salah cetak--ceritanya berhenti di pertengahan novel, tepat setelah kata "jatuh".
Karena aku hafal seluruh isi novelku, aku tidak kesulitan mengingat kalimat yang seharusnya tercetak: "Kumohon!" seru gadis itu, jatuh berlutut. (hlm. 44)
Billie bilang, kalau Tom tidak segera menyelesaikan buku terakhir triloginya, maka ia akan mati. Sebagai gantinya, ia berjanji akan membantu Tom mendapatkan Aurore--pianis cantik dan terkenal akan kegemarannya gonta-ganti pacar--kembali. Tom, yang sedang depresi dan mengalami writer's block setelah diputuskan oleh Aurore, mau tak mau harus segera memulai menulis lagi. Bersama Billie, ia melakukan petualangan yang seru.

Di sisi lain, Milo dan Carole, dua sahabat Tom, berusaha menemukan satu-satunya novel-salah-cetak Tom yang luput dari penghancuran dan menjadi kunci untuk memperpanjang hidup Billie. Akankah mereka berhasil?
***
"Aku tidak suka dengan gayamu yang sebelumnya; terlalu rapi dan tampak konservatif. Kau terlihat seolah kau membutuhkan sebuah tamparan." (Billie, hlm. 180)
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh Billie yang "berantakan", blak-blakan, bawel, pemberani, tapi hatinya tulus. Aku ngakak pada "pidato" Billie, yang saking nggak bakal selesainya, font-nya dibikin makin mengecil. Aku suka bagaimana interaksinya dengan Tom, yang diawali dengan ketidakcocokan, berangsur-angsur bisa jadi sangat harmonis. Selama membaca buku ini aku sering ketawa terutama pada bagian interaksi Billie-Tom. Aku juga menyukai persahabatan Tom-Milo-Carole.
"Kau tidak berhak melakukannya!" - Tom
"Tidak berhak menyelamatkanmu? Itu bukan tentang hak, itu tentang apa yang harus kulakukan." - Milo
"Dengan harga apa pun?" - Tom
"Kalau memang harus, dengan harga apa pun." - Milo
(hlm. 430)
Penulis dengan ciamik mengolah cerita romantis-komedi dengan sedikit suasana menegangkan dan kisah kelam masa lalu tiga sahabat itu. Tapi, kok, aku merasa bahwa masa lalu mereka yang dikoar-koarkan "kelam" itu kurang ditunjukkan oleh penulis, ya? Maklum, sih, karena cerita lebih banyak berkutat di masa kini tentang usaha penyelamatan nyawa Billie. Nah, tiga orang sahabat itu dulu tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi dan di keluarga yang tidak harmonis. Misalnya, Carole, yang tinggal bersama ayah yang ringan tangan dan melecehkannya secara seksual. Nah, di masa sekarang, Carole adalah seorang polisi dengan pangkat cukup tinggi; Tom seorang penulis yang tenar tapi baru saja bangkrut; dan Milo adalah manajer Tom yang berperan juga dalam kebangkrutannya.
Sekali lagi, aku mendapat kesan yang sangat kuat bahwa kami akan selalu menjadi anak-anak berusia dua belas tahun. Meskipun jutaan bukuku sudah terjual, dan banyak penjahat sudah dia tahan, semua itu adalah bagian dari peran yang kami mainkan bersama untuk seluruh dunia, sementara dalam hati kami, kami tidak pernah benar-benar pergi dari sana. (hlm. 103)
Tom sendiri, menulis novel larisnya berdasarkan pengalaman pahit masa remajanya. Nanti, kita akan tahu bagaimana awalnya Tom bisa menulis novel itu. Alasannya ternyata melibatkan masa lalu kelam Carole.
Untuk melupakan masa kecilnya, Milo menganggap semuanya sebagai lelucon. Sementara aku menuangkan segalanya dalam ratusan halaman, menelan berbagai obat dan mengisap sabu-sabu. (hlm. 103)
Sementara itu,  Milo memendam cinta terhadap Carole, tapi ia takut akan merusak persahabatan mereka, makanya dia memilih untuk menjadi playboy dan menjalani hidupnya (sebelum bangkrut bersama Tom) dengan bersenang-senang. Parahnya, Milo menganggap Carole menyukai Tom, lebih dari sekadar sahabat. Nah, sebenarnya bagaimana perasaan Carole terhadap Milo?
"Untuk permainan menantang maut, memang benar kau sangat berani. Tapi, aku bicara tentang keberanian untuk mencintai seseorang. Dan risiko itu tidak pernah kau ambil, bahkan dengan--" (Tom kepada Milo, hlm. 31)
Pada awalnya, kukira Aurore adalah tokoh antagonis dalam novel ini, tapi ternyata tidak juga. Malah, aku mendapati beberapa kecocokan dengan pemikirannya tentang cinta sejati. Bisa dibilang, aku lumayan sama pesimisnya dengan dia dalam hal ini. Begini, dalam fiksi romantis yang berakhir indah dengan si tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki bersama pun kita tak tahu apakah setelah ending yang indah itu, mereka tetap bahagia bersama. Apalagi di dunia nyata.
"Kau membuat ikatan, lalu memutuskannya--itulah hidup. Pada akhirnya, kalian akan pergi ke arah yang berbeda, tanpa pernah tahu penyebabnya. Aku tidak bisa memberikan segalanya untuk orang lain sementara aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak ingin membangun kehidupanku di atas perasaan, karena perasaan selalu berubah. Perasaan itu rapuh dan tak pasti. Kau pikir perasaan itu kuat dan mendalam, tapi ternyata mudah menghilang hanya karena kibasan rok atau senyum genit. Aku membuat musik karena musik tidak akan pernah meninggalkan hidupku. Aku suka buku karena buku akan selalu ada untukku. Tapi... aku sama sekali tidak kenal pasangan yang saling mencintai seumur hidup." (Aurore, hlm. 238)
Ide cerita buku ini menarik, termasuk juga ide tentang "buku berjalan" yang menginspirasiku untuk menulis sesuatu. Menariknya, tiap tokoh yang bersilangan nasib dengan buku berjalan itu memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan twist-nya..., yah, aku agak kecewa karena berharap keajaiban itu benar-benar "ajaib". Tapi ending-nya tetap memuaskan. Aku juga suka bagaimana tiap bab dibuka dengan quote yang tidak cuma berkaitan dengan isi bab, tapi juga mengena padaku secara emosional.

Yang mengena bagiku adalah pandangan Tom terkait dunia kepenulisan. Aku baru menyadari hal ini sejak Tom mengatakannya:
"Sebuah buku hanya akan hidup kalau dibaca. Para pembacalah yang menyusun potongan-potongan gambar dan menciptakan dunia imajiner tempat para tokohnya hidup." (Tom, hlm. 290)
Aku juga mengagumi bagaimana Tom bisa mengingat seluruh isi novelnya. Itu sungguh keren! Selama menjadi penulis, aku tak pernah benar-benar mengingat seluruh isi naskah novelku 😅. Juga aku mengamini betapa benarnya perkataan Tom yang ini:
"'Menulis novel itu tidak bisa dilakukan berdasarkan pesanan. Ada semacam alkimia di dalamnya...'." (Billie--menirukan kata-kata Tom, hlm. 125)
Ah iya, satu hal penting yang tak boleh dilupakan: terjemahan buku ini renyah sekali!

Buku ini memberikan pandangan positif akan adanya kesempatan kedua bagi orang-orang yang mencari dan pantang menyerah. Juga, orang yang karenanya kita patah hati; yang awalnya kita kira benar-benar kita cintai dan inginkan, bisa saja ternyata tidak.[]

Identitas Buku

Judul: The Girl on Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penerbit: Spring
Tebal: 448 halaman
Cetakan: I, September 2016
ISBN: 978-602-74322-4-6
Harga: Rp 85.000,00
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets