15 April 2018

Buku Berbahasa Inggris dan Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca


“Wah, bacaannya buku berbahasa Inggris. Keren banget!”
“Wow, bacaanmu buku berbahasa Inggris, emang kamu ngerti, gitu?”
“Weleh, bacaannya buku berbahasa Inggris, dibaca beneran nggak, tuh? Cuma biar terlihat keren, ya?”
“Dih, bacanya buku berbahasa Inggris. Kenapa nggak baca terjemahannya saja? Nggak bangga sama bahasa sendiri.”
Kira-kira komentar-komentar seperti itu yang didengar oleh Mbak Kim ketika dia ke mana-mana menenteng buku tebal The Name of The Rose versi bahasa Inggris terbitan Vintage. Dan tak sebentar dia menenteng-nenteng buku itu, hampir sebulan! Rutinitas kantoran pukul 7–16 bak kerangkeng bagi diri Mbak Kim, yang sebelumnya sungguh mencintai pekerjaan sebagai pengangguran. Waktu untuk membaca jadi benar-benar waktu yang dicuri. Makanya, ke mana-mana dia menenteng buku itu, setiap ada waktu yang bisa dicuri, dia akan mencurinya seoptimal mungkin! Butuh waktu sekitar satu bulan untuk menamatkan The Name of The Rose, karena membaca buku itu berat—bilang ke Dilan, tolong—tebal, 538 halaman; banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang asing bagi Mbak Kim; Eco sering menuliskan deskripsi sesuatu dengan sangat detail, dan itu malah bikin Mbak Kim makin pusing; bagian sejarah gereja Katolik juga cukup membuatnya mumet. Namun, Mbak Kim tetap berusaha membacanya, dan syukurlah, bisa menikmatinya, dan bisa sampai tamat. Membaca itu berat, lantas kenapa Mbak Kim tidak membaca yang versi terjemahan Indonesia saja? Inilah hasil wawancara saya dengan blio.

Sumber gambar: Amazon

***

Kenapa Mbak baca The Name of The Rose versi bahasa Inggris? Padahal ada terjemahan Indonesianya, kan?

Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Hmm, biar terlihat keren, Mbak? Atau Mbak nggak bangga sama bahasa sendiri?

Tidak ada hubungannya. Memilih baca buku berbahasa Inggris ketimbang versi terjemahan Indonesianya, apakah itu lantas berarti minim kebanggaan terhadap bahasa sendiri? Tidak, itu dua hal yang berbeda; dalam konteks pengalaman saya, tidak ada hubungan kausal antara keduanya.

Atau, Mbak takut kemampuan baca menurun karena baca versi bahasa Indonesia? Tahu nggak, sih, Mbak, kelakuan seperti Mbak inilah yang bikin bangsa Indonesia jadi bermental minderan!

Tidak ada hubungannya lagi. “Minderan”? Minder sama siapa? Jangan-jangan, Anda sendiri yang merasa begitu?! Bisakah kita pindah ke hal substansial? Sukanya kok berputar-putar membahas aksesori.

Apakah Mbak tahu kalau versi bahasa Inggrisnya itu pun terjemahan?

Pasti, dong. Sebelum memutuskan untuk membeli (apalagi membaca)-nya, saya melakukan “penyelidikan” dulu. Naskah aslinya ditulis Umberto Eco dalam bahasa Italia.

Lalu, kenapa nggak milih yang terjemahan bahasa Indonesia? Toh, sama-sama “terjemahan”.

Tidak bisa disamakan begitu saja, dong. Yang saya baca ini adalah terjemahan pertama (langsung dari bahasa aslinya) oleh William Weaver. Nah, kalau yang terjemahan Indonesia terbitan Bentang itu adalah terjemahan kedua, dari versi bahasa Inggris terbitan Minerva tahun 1992; diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto. Dalam proses penerjemahan, pasti ada yang “hilang” dan pasti terjadi “paralaks makna”. Itu tak bisa dihindari. Yang “hilang” ini akan semakin banyak, dan “paralaks makna” akan semakin besar, jika karya tersebut diterjemahkan bukan dari bahasa aslinya. Makanya, prinsip membaca saya, salah satunya adalah sebisa mungkin membaca suatu karya dalam bahasa aslinya. Namun, karena saya nggak bisa bahasa Italia, maka saya pilih terjemahan bahasa Inggris The Name of The Rose.

Tadi Mbak bilang bahwa baca The Name of the Rose ini “berat”. Namun, kenapa Mbak tetap membacanya?

Karena untuk menikmati keindahan alam dari puncak gunung, kita harus bersusah-payah jalan kaki menanjak selama berjam-jam dulu, Mbak. Dengan baca buku itu, saya bisa belajar bahasa Inggris lebih banyak, apalagi banyak kosakata yang baru bagi saya. Biar kemampuan berbahasa Inggris saya tidak lekas luntur (maklum, jarang digunakan secara lisan di sini). Oleh karena ini terjemahan pertama, maka pemahaman saya akan isinya mungkin sekali lebih akurat ketimbang jika saya baca terjemahan kedua, ketiga,...

Selain yang Mbak paparkan sebelumnya, apakah ada pertimbangan lain kenapa memilih versi terjemahan bahasa Inggris?


Ada. Sederhana saja alasannya: harganya lebih murah ketimbang versi terjemahan bahasa Indonesia. Saya dapat harga 65 ribu di Big Bad Wolf (ups, harga aslinya 7,99 EUR atau sekitar 135 ribu rupiah), sedangkan yang terbitan Bentang Pustaka edisi sampul baru terbitan tahun 2017 dibanderol 99 ribu. Dan, Anda mungkin juga tahu kalau buku-buku terbitan Indonesia sekarang trennya cenderung makin mahal.

Lalu, apakah ini berarti Mbak tidak mau membaca buku terjemahan Indonesia?

Duh, lagi-lagi Anda memaksakan hubungan kausal... Tidak begitu juga, dong. Saya tetap suka membaca terjemahan Indonesia. Ada beberapa terjemahan Indonesia yang saya sukai, misalnya seri Harry Potter terjemahan Listiana Srisanti. Saya juga memilih mengoleksi versi bahasa Indonesianya, karena sampul barunya cantik sekali (padahal harga buku ketiga sampai ketujuhnya lebih mahal ketimbang versi asli berbahasa Inggris terbitan Bloomsbury edisi paperback terbitan tahun 2014).

Lihatlah harga yang mencekik ini, Saudara-saudara!
Dan Mbak Kim masih harus melengkapi koleksinya dengan buku ketujuh, yang harganya "berkepala" tiga!
Sumber gambar: Gramedia
Ini versi Bloomsbury yang Mbak Kim maksudkan.
Sumber gambar: Pinterest
Saya juga suka A Game of Thrones terjemahan Barokah Ruziati, juga cerpen-cerpen terjemahan Maggie Tiojakin. Untuk beberapa buku nonfiksi, saya lebih nyaman membaca versi terjemahan Indonesianya, seperti Sejarah Tuhan terjemahan Zaimul Am. Beberapa novel terbitan Spring juga bagus terjemahannya, seperti The Girl on Paper, yang diterjemahkan oleh Yudith Listiandri.

Namun, saya sering menjumpai terjemahan Indonesia yang ambyar. Itulah alasan mengapa saya berhati-hati dalam memilih buku terjemahan Indonesia. Misalnya, yang beberapa bulan lalu saya baca (dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membacanya sebelum tamat karena saya tak kuat--terjemahannya terlalu!), Second Sex: Kehidupan Perempuan terbitan Narasi, terjemahan Nuraini Juliastuti. Banyak bagian yang bikin saya gagal paham, antara lain karena pemilihan kata tidak sesuai konteks. Diperparah dengan ejaannya tidak disempurnakan, seperti banyaknya tanda titik hilang dan malah menyelip ke tempat yang tidak seharusnya.

Sumber gambar: Goodreads
Jadi, terjemahan Indonesia yang bagus itu yang seperti apa, Mbak?

Ya, yang seperti beberapa judul buku yang saya sebutkan tadi. Terjemahan yang kalau dibaca rasanya tidak seperti terjemahan; seolah-olah karya tersebut memang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Antara buku berbahasa Inggris dan terjemahan Indonesia, Mbak pilih yang mana?

Lho, kok Anda malah mundur ke titik awal pembahasan? Kita sudah sampai sini, lho. Sudah saya jabarkan mengapa untuk kasus tertentu saya memilih versi bahasa Inggris, dan kenapa untuk kasus lain saya pilih versi terjemahan Indonesia. Tidak bisa “pilih yang mana antara keduanya” karena untuk tiap kasus saya punya pertimbangan-pertimbangan tertentu yang spesifik. Tak mustahil juga untuk satu judul karya saya membaca versi bahasa Inggris juga versi Indonesianya.

Bagaimana kalau wawancara ini saya beri judul “Buku Berbahasa Inggris versus Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca”?

Wah, jangan seperti itu. Mengapa keduanya harus diversuskan?

***

Demikianlah, akhirnya kata “versus” saya ganti menjadi “dan”. Semoga terjemahan-terjemahan Indonesia meningkat terus kualitasnya sehingga memuaskan para pembaca yang pemilih dan kritis seperti Mbak Kim tersebut. Dan semoga tak ada lagi pertanyaan “pilih mana antara versi bahasa Inggris atau versi terjemahan Indonesia” tanpa batasan yang spesifik dan jelas. Kalau tidak, pembahasan itu tak akan ke mana-mana, mungkin hanya akan berakhir jadi debat penuh emosi (kecuali kalau memang sengaja mau memancing emosi dan sensasi). Biar viral, katanya. Ah!

Ah, terakhir, mungkin Anda semua perlu tahu bahwa wawancara tersebut adalah wawancara dengan diri saya sendiri yang berlangsung di dalam pikiran. Hihihi.[]
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets