4 August 2017

Kafka, Aku Hanyalah Orang Menyedihkan yang Berusaha Memahami Pesanmu

*Catatan: resensi ini pernah terbit di Instagram; diterbitkan lagi di sini dengan beberapa perubahan.

Hei, Kafka, si lelaki pemurung! Ingatkah kau, kita pernah berkenalan beberapa tahun yang lalu? Saat itu aku masih cupu dalam menangkap pesanmu (sekarang pun masih cupu) sehingga aku tak terlalu memahami apa isi pesanmu dalam novel The Trial. Tenang saja, aku akan membacanya lagi--nanti. Kau selalu terasa murung dalam karya-karyamu, tapi itulah yang menarikku semakin dalam. Setelah menamatkan Kesialan Orang Lajang dan mulai membacanya ulang, barulah aku ingat kalau di ruangan tempatku tidur ada setumpuk buku dan Seorang Dokter Desa berbaring diam di paling atas. Memang benar katamu dalam cerpen Seorang Dokter Desa, "Seseorang tidak tahu barang-barang apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri." (Eh, itu bukan rumahku sendiri, sih, tapi sudah kuanggap rumah sendiri.)

Sebagian besar judul sudah pernah kubaca sebelumnya di Kesialan Orang Lajang, dan hanya beberapa yang baru kukenal pertama kali lewat buku ini. Tiga di antaranya adalah Seorang Dokter Desa, Pidato di Hadapan Sebuah Akademi, dan Pesan Sang Kaisar. 

Seorang Dokter Desa

Kau mengajakku ke alam muram dalam badai salju dan kegelapan malam. Seorang dokter (satu-satunya) di sebuah desa mendapat panggilan dan harus menemui pasiennya yang tinggal 10 mil dari kediamannya. Duh, Kafka, kau membuatku frustrasi gara-gara membaca betapa sialnya si dokter ini! Ia harus pergi, tapi kudanya telah mati dan Rosa, pembantunya, telah mencari-cari pinjaman kuda tapi tak menghasilkan. Secara ajaib, dari dalam kandang kudanya muncullah seorang pengurus kuda dengan dua ekor kuda yang liar. Kau membuat kuda itu tak bisa dikendalikan oleh sang dokter, sehingga ia pasrah saja dan akhirnya sampai di rumah pasien dengan cepat. Dan secepat itu pula, pengurus kuda yang tinggal berduaan dengan Rosa, berhasil menaklukannya (memperkosanya?).

Selama berada di rumah pasien, pikiran si dokter tak benar-benar berada di sana. Ia sibuk mengkhawatirkan Rosa. Dan kalimat yang diucapkan Rosa, yang telah kukutip sebelumnya, "Seseorang tidak tahu apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri," apakah itu kaumaksudkan sebagai petunjuk? Petunjuk bahwa sang dokter selama ini tak menyadari kehadiran Rosa di rumahnya sebagai "perempuan". Oleh karena itu, menyesallah sang dokter, tapi sayang sekali, Rosa telah ditaklukkan oleh si pengurus kuda.

Sang pasien adalah seorang bocah laki-laki dengan luka menganga di tubuhnya, berwarna merah muda dan bercacing. Oh, aku menyadari permainan kata-katamu, Kafka! Rosa dan rose--merah muda--apakah ini melambangkan "cinta"? Si dokter tahu bahwa penyakit itu di luar kemampuannya, tapi keluarga si pasien masih ngeyel. Mereka lalu melepas pakaian si dokter dan membaringkannya di samping pasien dan menyanyikan sebuah lagu; mereka percaya bahwa itu akan menyembuhkan pasien. Sang dokter kemudian berhasil kabur, sambil terus memikirkan Rosa dan berhasrat menyelamatkannya. Namun sayang sekali, ia tak pernah mencapainya.
Mungkinkah kau memaksudkan bahwa apa yang dialami oleh sang dokter itu semuanya hanyalah halusinasinya sendiri? Atau mimpi buruknya? Pasien dengan luka berwarna merah muda itu, apakah dia melambangkan bagian dari kepribadian sang dokter sendiri? Ia merasa bersalah karena tidak melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh--ia setengah hati saat memeriksa si pasien dan ragu-ragu selama dalam perjalanan--dan tak bisa menyelamatkannya. Dalam percintaan pun dia gagal. Kau pun telah mengantisipasi penyakit tuberkulosis yang (ternyata) kauderita saat menulis cerpen ini. Analisis lain menduga bahwa kepergian sang dokter menembus segala rintangan untuk menemui pasiennnya ini adalah alegori bagi para tentara yang pergi berperang dengan mengorbankan banyak hal, tanpa tahu akan seperti apa hasil perang itu nantinya--mengingat bahwa kau menulis cerpen ini pada masa Perang Dunia II.

Pidato di Hadapan Sebuah Akademi

Lepas dari badai salju ganas, kau menyeretku ke sebuah aula dan secara ajaib aku telah duduk di salah satu kursi penonton. Memandang ke podium, mataku terbelalak dan mulutku membuka lebar. Benarkah itu seekor kera yang sedang berbicara?
Omong-omong: dengan kebebasan, manusia sering sekali mengecewakan dirinya sendiri. Dan karena kebebasan dianggap sebagai perasaan yang paling luhur, maka luhur pula kekecewaan yang mengikutinya. (hlm. 90)
Oh, apa-apaan ini, Kafka? Kera itu sedang membicarakan kita, manusia, dengan gaya amat sok tahu! Hampir saja, aku pasti telah berdiri dan berteriak menghujat si kera kalau kau, yang duduk di sebelahku, tidak menarik sikuku dan berujar, "Sudahlah, dengarkan dulu pidatonya. Ini akan sangat menarik dan agak absurd. Kau suka hal-hal seperti itu, kan?"

Entah bagaimana, matamu berhasil membuatku memutuskan untuk mendengarkan kera itu. Namanya Peter, Peter si kera. Katamu, sebelumnya ia menceritakan bagaimana ia dibawa dari habitat aslinya oleh sebuah tim ekspedisi. Kemudian ia dimasukkan dalam kerangkeng yang sempit bukan main. Kondisinya yang terkungkung itu memaksanya belajar menjadi manusia, karena menurutnya, itulah satu-satunya jalan keluar. Aku teringat akan Dr. Bucephalus dalam Si Pengacara Baru. Kuda legendaris Aleksander Agung itu juga, entah bagaimana, kaubuat "berubah" menjadi manusia. Ah, aku juga teringat akan karyamu yang--barangkali--paling termasyhur: Metamorfosis. Gregor Samsa mengalami perubahan yang berkebalikan dengan Peter si kera: ia berubah dari manusia menjadi binatang--seekor serangga raksasa. Tak seperti Samsa, Peter tidak mengalami metamorfosis secara fisik.

Akhirnya pidato itu selesai dan aku terperangah. Peter adalah wujud paradoks lipat tiga. Pertama, ia mengaku tidak menginginkan kebebasan; ia hanya ingin keluar dari kerangkeng itu. Lho, keinginannya itu bukankah termasuk dalam "menginginkan kebebasan"? Kedua, dia ingin jalan keluar. Memang, akhirnya ia bisa keluar dengan "menjadi" manusia, tapi dengan begitu, ia telah menukar kerangkeng lamanya dengan kerangkeng baru, yaitu perilaku dan cara berpikir manusia. Ketiga, ia berusaha menjadi yang bukan dirinya, tapi anehnya ia merasa nyaman dan merasa itulah dirinya. Semakin ia termanusiakan, semakin kabur ingatan akan kehidupan lamanya sebagai kera. Dalam pidatonya, ia tak sekalipun menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum tercerabut dari habitat dan dirinya sendiri.

Pesan Sang Kaisar

Peter telah selesai berpidato dan aku kembali menatap matamu untuk mencari-cari adakah makna lain tersimpan di sana? Kutemukan diriku terjerembab di dalam liang pikiranmu yang kelabu. Berusaha memahami karyamu bak berusaha menemukan titik terang dalam sebuah labirin. Adalah suatu petualangan menggairahkan, meski mungkin aku hanya akan berakhir duduk di jendela, memimpikan pesan dari Sang Kaisar, tanpa tahu bahwa si Kurir tak akan pernah sampai. Memang, betapa aku adalah orang "yang menyedihkan, hidup dalam bayang-bayang karyamu tanpa pernah benar-benar memahaminya". Yah, setidaknya aku telah memimpikan pesanmu, bukan?[]

Rating saya:
  

Catatan:
  • Aku suka ukuran buku ini dan tata letaknya. Tapi penjilidannya bikin buku ini susah dibuka lebar.
  • Nomor halaman pada daftar isi banyak yang meleset.
  • Terjemahannya cukup enak dinikmati, lebih enak daripada buku Kesialan Orang Lajang (mungkin karena Seorang Dokter Desa diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman). 
Judul: Seorang Dokter Desa
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Widya Mahardika P.
Penerbit: OAK
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 116 halaman
ISBN: 9788027253874
Harga buku: Rp 59.000,00 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets