Showing posts with label tia setiadi. Show all posts
Showing posts with label tia setiadi. Show all posts

19 February 2016

[Resensi Reruntuhan Musim Dingin] Musim Dingin Berlalu, Musim Dingin Runtuh Perlahan

Judul: Reruntuhan Musim Dingin
Penulis: Sungging Raga
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Januari 2016
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-391-079-3
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: 3/5

Sungging Raga pertama saya kenal lewat cerpen "Sebatang Pohon di Loftus Road" (Kompas, 14 April 2013), yang saya baca karena terdorong oleh rasa penasaran pasca-membaca cerpen Bernard Batubara yang berjudul "Seorang Perempuan di Loftus Road" (dalam kumcer Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri), yang merupakan tanggapan dari cerpen Sungging tersebut. Cerpen Sungging diceritakan dengan sudut pandang orang pertama di laki-laki, sedangkan cerpen Bara dari sudut pandang si perempuan. Kesan yang berhasil saya petik di perkenalan pertama dengan Sungging itu adalah tema cinta yang dibalut elemen sureal berupa mitos bahwa perempuan yang menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang melewati waktu janjian, akan berubah menjadi pohon. Sungging menceritakan pertemuan dan perpisahan yang menyesakkan tapi indah. Pun saya sudah bisa menangkap gaya bahasa Sungging yang syahdu, seperti perumpamaan "senyumnya yang serupa alunan nada akordion".

Ini kali kedua perkenalan dengan Sungging. Reruntuhan Musim Dingin, buku kumcer pertama dari lini "Sastra Perjuangan", berhasil membentuk pemahaman akan kekhasan cerpen Sungging. Lini penerbitan yang baru dari DIVA Press ini mencoba mengakomodasi relasi idealis antara penulis sastra, karya sastra, dan pembacanya.
"Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin dari dirimu, untuk kemudian ditinggalkan." (Reruntuhan Musim Dingin, hlm. 68)
Sebagaimana dituliskan oleh Tia Setiadi dalam Kata Pengantar, "Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan.", penulis memeras kenangan dari kehidupannya maupun segala makhluk di sekitarnya demi melahirkan karya sastra. Gaya penulisan yang dimeriahkan oleh teknik, simbol, dan metafora, pemerasan kenyataan itu menjadi tersamarkan. Dalam cerpen-cerpennya, Sungging menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan efektif, tapi tak lepas dari jerat metafora yang kadang tak terduga.
"Wajah perempuan itu memang cantik, ia memiliki senyum yang begitu tipis dan ringan, berat senyumnya hanya satu miligram, seperti judul lagu From Autumn to Ashes, 'Milligram Smile', tapi senyum itu begitu memukau." (Dermaga Patah Hati, hlm. 38)
'Karena senja seperti dirimu, pendiam, tapi menyenangkan.'" (Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus, hlm. 49)
"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan." (Biografi Kunnaila, hlm. 153)
Sungging pun gemar memainkan emosi pembaca. Gaya tuturnya melemparkan pembaca, yang sebelumnya telanjur terisap dalam jagat fiksi, kembali ke kenyataan. Seperti ulasan Tia Setiadi dalam kata pengantarnya (hlm. 12), yang menyebut teknik ini sebagai "pembocoran". Namun, sekiranya Sungging terlalu banyak membuat pengakuan dosa semacam itu, maka hancurlah segala dunia fiksional yang sedang dibangunnya.
"'Bagaimana kalau esok matahari tak terbit lagi?' Lelaki itu bertanya dengan senyum tertahan.
'Jangan terlalu sentimental. Kita tidak sedang hidup di dalam cerita surealis.'" (Selebrasi Perpisahan, hlm. 30)
"Namun Watono telah berjanji bahwa dalam cerita pendek ini dia tak berniat macam-macam pada Kunnaila, dia tak mau memaksakan konflik dan jalan cerita sesuai kehendaknya, dia hanya ingin dirinya muncul dalam cerita pendek ini meski cuma satu paragraf. Katanya, agar bisa diceritakan kembali kelak pada anak dan cucunya." (Biografi Kunnaila, hlm. 152)
Selain dengan teknik pembocoran, cerpen-cerpen Sungging tak jarang menimbulkan kesan sendu tapi dingin dan/atau datar, melalui dialog maupun narasinya. Dalam "Selebrasi Perpisahan", dialog sepasang kekasih yang akan berpisah di Terminal Tawang menguarkan aroma sendu campur ketegaran atau efek "dingin". Dari sini pembaca juga bisa menangkap bahwa ruh penting cerita justru bisa diserap melalui dialog kedua tokoh, yang menyimpan degup perpisahan tapi bersemburat ketegaran dalam usaha menerima kenyataan. Bisa dikatakan bahwa Sungging mengeksploitasi dialog dengan baik demi perkembangan cerita.
"'Kelak, entah berapa tahun lagi, aku akan berkunjung kembali ke kota ini. Dan kau pasti sudah berkeluarga.'
'Kau juga akan menikah dengan wanita lain.'
(hlm. 28)
Dalam "Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis", hal "fantastik dalam cerpen ini justru dikisahkan dengan undertone yang cenderung dingin dan datar, bahkan sesekali disusupi perdebatan ilmiah segala", begitu menurut Tia Setiadi (hlm. 9-10). Oleh karena itu, alur mencapai puncak nyaris tanpa terasa, karena sang narator menceritakan dengan gaya se-"cool" mungkin, tak turut terseret dalam arus cerita. Ia mengajak pembaca bertanya-tanya tentang keajaiban rembulan yang menangis sembari terus menjawabnya tanpa kehilangan ruh sureal. Contohnya adalah ketika ia menceritakan tentang asal-usul air mata rembulan yang jatuh di Carrow Road.
"Barangkali prosesnya lain, rembulan itu langsung menceburkan diri ke lautan, menyerapnya seperti spons, lalu melompat ke langit, dan langsung meneteskannya, jadi hanya butuh siklus satu hari satu malam." (Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis, hlm. 57)
Namun, elemen surealis yang diusung dengan menyertakan perdebatan ilmiah macam begitu, malah membuat saya skeptis, sehingga susah tercebur dalam dunia fiksi sureal yang sedang diracik oleh Sungging dalam cerpen ini. Untunglah, hal serupa tak terjadi lagi ketika saya membaca "Melankolia Laba-laba", yang merupakan salah satu cerpen favorit saya di kumcer ini. Ini adalah kisah cinta yang menyedihkan, antara binatang dan manusia. Namun, jangan harap akan berakhir seperti The Princess and the Frog, yang mengisahkan bahwa si kodok berubah jadi pangeran. Bahkan si naratornya sendiri, si laba-laba bernama Sarelgaz itu, mengatakan begini:
"... tapi aku tak bermimpi kau menciumku seperti kisah pangeran kodok. Aku tak akan menjelma manusia, ini bukan cerita surealis." (Melankolia Laba-laba, hlm. 41)
[tapi belakangan Sungging membuat kisah ini jadi surealis, dengan berubahnya Nalea menjadi laba-laba]
Sarelgaz sudah bertahun-tahun tinggal di dalam kamar Nalea, gadis yang dicintainya itu, hingga generasi laba-laba lain berganti satu per satu. Kala ia telah menjadi laba-laba tua, Nalea tiba-tiba menghilang. Raibnya gadis itu dibarengi dengan munculnya seekor laba-laba perempuan yang sebelumnya tak pernah ada di kamar itu. Laba-laba baru itu mengaku bernama Nalea, yang meninggalkan jasad manusianya untuk bertemu cinta sejatinya, yaitu Sarelgaz. Namun, naas, Sarelgaz tak percaya dan mengusirnya ke luar kamar. Sarelgaz hanya mencintai seorang gadis bernama Nalea, bukan laba-laba bernama sama.
"Dari cara berjalannya, ia seperti laba-laba betina yang bekerja sebagai model majalah laba-laba dewasa." (Melankolia Laba-laba, hlm. 46)
[di dunia laba-laba ada juga majalah dewasa, to? :)] ]

Ada dua ironi raksasa yang mendominasi cerita ini. Pertama, Sarelgaz mencintai Nalea, padahal secara tak langsung, gadis itulah yang menyebabkan orang tua Sarelgaz meninggal setelah aktivitas bersih-bersih kamar bersenjatakan sapu. Kedua, saat Sarelgaz tak memercayai laba-laba bernama Nalea, dan malah mengusirnya. Padahal, berubahnya Nalea jadi laba-laba secara tak langsung berkat doa Sarelgaz.
"Aku tak tahu apa yang biasa kau ucapkan dalam doamu, sementara doaku jelas, agar aku bisa tetap menemukan cara untuk mencintaimu." (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
Namun, Sarelgaz belakangan bertindak seperti manusia tak tahu diri, yang seringkali tak bersyukur dan malah mengutuk Sang Pemberi setelah doanya dikabulkan. Kesetiaan yang terlalu dalam membutakan Sarelgaz, hingga ia gagal menyadari, bahwa si laba-laba itu adalah benar-benar Nalea. Kisah cinta tak sampai antara binatang dan manusia mungkin akan berisiko menjadi klise, tapi Sungging dengan cukup gemilang menghindarinya. Lagi-lagi, Sungging mempermainkan kesadaran pembaca dengan menyelipkan "pembocoran" di tengah nuansa sureal yang terbangun.
"'Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apakah penulis cerita ini yang memberi tahu?"' (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
"Melankolia Laba-laba" adalah cerpen pertama dalam kumcer ini yang mewedar fenomena transformasi manusia menjadi alam (maupun sebaliknya) demi mengalami cinta. Hal serupa menjadi napas cerpen "Rayuan Sungai Serayu", tapi kali ini alamlah yang berubah menjadi manusia. Dikisahkan bahwa Sungai Serayu yang sudah lelah menjadi sungai tiba-tiba menjelma seorang perempuan, kemudian berkasih-kasihan dengan seorang lelaki kesepian yang ditemuinya di Warung Hujan Bulan Juni (namanya sama dengan judul kumpulan puisi SDD :)] ). Uniknya, dalam cerpen ini Sungging menebar beberapa istilah ilmiah (cukup wajar, mengingat Sungging pernah berkuliah di Jurusan Matematika. Saya percaya bahwa apa yang ditulis oleh penulis sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan kehidupan pribadi si penulis #tsah). Contohnya, penggunaan istilah "koefisien kesepian" dan "Termometer Kesunyian" (hlm. 84).

Sementara itu, alam kembali bertransformasi menjadi manusia dalam cerpen "Sihir Edelweis". Seorang lelaki bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai edelweis di Bromo.
"'Aku benar-benar perempuan edelweis, aku terbentuk dari serbuknya yang putih, dari kabut yang turun di malam hari, dan dari garis merah pertama ketika matahari merancang pagi.'" (Sihir Edelweis, hlm. 117)
Ia membawa edelweis itu pulang. Dan meskipun sudah beristri, ia jatuh cinta pada perempuan edelweis. Sampai si lelaki dan istrinya menua, bunga edelweis itu tak layu juga, "malah sepertinya bertambah lebat". Bertambah lebat karena perempuan edelweis melahirkan anak-anak edelweis--anak mereka berdua. Dalam cerpen ini, Sungging menyelipkan elemen setting yang detail: "di ketinggian 2770 meter"; "saat itu masih pukul 04.04" (hlm. 113). Ada satu kalimat yang masih kurang bisa saya pahami kekohesifannya dalam paragraf:
"Semua memang serba gelap sehingga belum butuh penjelasan lebih lengkap." (Sihir Edelweis, hlm. 113)
Tiga kisah transformasi manusia ke bentuk lain dan sebaliknya ini memberi pengharapan bagi pembaca akan kemungkinan terjadinya "rekonsiliasi yang segar antara manusia dan alam" (hlm. 19).

Cerpen lain yang menarik adalah "Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu". Cerpen sureal ini mengisahkan tentang fenomena aneh yang tiba-tiba terjadi pada semua wanita di sebuah desa: seluruh permukaan tubuh mereka berubah warna jadi ungu. Hal ini menyebabkan semua wanita menjadi minder dan mogok beraktivitas. Mereka hanya mengurung diri di dalam kamar, termasuk Manisha. Anehnya, warna kulit Manisha berubah seperti sedia kala setelah ia menerima penghiburan dari suaminya yang sangat menyentuh hatinya. Setelah itu, Manisha bersedia keluar dari kamar dan mulai beraktivitas seperti biasa. Saya menemukan sebuah ironi di sini. Sang suami menghibur Manisha dengan kata-kata manis yang terdengar tulus, padahal sebelumnya ia sempat bernarasi begini:
"Mereka beranggapan ini hanya solusi sementara, tidak jangka panjang, apalagi kita tahu bahwa sering kali kita diberi bantuan sesuatu yang sifatnya hanya sementara, untuk menghibur saja, tidak mengubah apa-apa." (Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu, hlm. 133-34)
[jadi ingat penghiburan pemerintah kepada masyarakat kurang mampu yang sering dibagikan dulu: BLT]

Cerpen ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana cara pikir wanita dan laki-laki pada umumnya. Wanita (walau tak semuanya) sering atau mudah merasa insecure akan penampilannya. Sementara itu, laki-laki akan sungguh-sungguh melakukan sesuatu untuk wanitanya, jika ia mendapatkan keuntungan dari hal itu. Contohnya, dalam cerpen ini, karena Manisha mengurung diri dalam kamar dan tidak memasak, si "aku"--suaminya--kelaparan ("padahal aku lapar, belum sarapan"--hlm. 132). Nah, karena itulah, si "aku" berusaha menghibur istrinya. Akhirnya, Manisha mau keluar dari kamar dan berkata tepat sesuai keinginan si "aku":
"'Terima kasih, ya,' katanya, 'oh, apa kau lapar? Aku akan buat menu pecel garahan, pecel kesukaanmu.'" (hlm. 136)
Mungkin cerpen ini juga hendak memaparkan kekuatan kata-kata penuh penghargaan yang kita ucapkan pada orang lain. Bisa memulihkan mereka dari keterpurukannya, atau malah membuatnya makin terpuruk. Selain itu, ada petikan dalam cerpen ini:
"Padahal aku masih ingat, tokoh aktivis inilah yang dulu berkata bahwa bukan rok pendek itu yang menjadi biang masalah pelecehan seksual, tapi pikiran negatif si lelaki saja." (hlm. 134)
yang mengingatkan saya akan suatu momen di tahun 2011-2012, di mana kontroversi "rok mini penyebab perkosaan?" sempat mencuat jadi isu nasional.

Cerpen "Kompor Kenangan" juga tak kalah menarik. Dengan uniknya, sebuah kompor gas dijadikan simbol cinta. Setelah bercerai, Nalea membawa pergi kompor itu (cintanya) dari sang suami, dan memberikannya secara cuma-cuma ke sebuah tokoh, karena ia sudah punya kompor baru (cinta baru untuk calon suami baru).
"Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali." (Kompor Kenangan, hlm. 125)
Bicara tentang para tokoh, yang tak hanya manusia, tapi juga binatang, sungai, bunga, semut, rangka, dan lain-lain, Sungging memiliki tendensi untuk menggunakan beberapa nama yang statis. Seperti Seno Gumira dengan tokoh Alina dan Sukab (misalnya dalam kumcer "Penembak Misterius"), Sungging gemar menggunakan nama tokoh ini, antara lain Nalea, Salem, dan Manisha. Suatu saat, Nalea adalah gadis penjual toffee di Craven Cottage. Suatu saat, ia berubah menjadi serangkaian rangka, lalu menjadi seorang istri yang setelah bercerai ngotot membawa kompor gas buatan Jerman, lantas berubah menjadi gadis dalam kereta yang bertemu dengan Salem.

Saya cukup yakin, para pembaca resensi ini sudah bisa menebak bahwa tema utama cerpen-cerpen dalam kumcer ini adalah cinta--lebih tepatnya percintaan antara laki-laki dan perempuan. Meski kisah cinta pada umumnya sulit dipisahkan dari kesan klise, dalam kumcer ini Sungging telah berhasil meramu kisah cinta yang memiliki keunikan dan daya kejut, serta keindahan tersendiri.

31 December 2015

[Resensi DIJUAL: KEAJAIBAN] Sembilan+ Pelajaran Berharga dari Sastra Asia


Judul: Dijual: Keajaiban
Penulis: Gao Xingjian, Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, RK Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Penerjemah: Tia Setiadi
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Desember 2015
Tebal: 228 halaman
ISBN: 978-602-391-049-6
Rating saya: 4/5

Sembilan cerpen dari sembilan penulis besar Asia terkompilasi dalam buku ini, ditambah bonus seuntai esai dari pidato Nobel Sastra Gao Xingjian. Hanya dua dari sembilan nama itu yang saya sudah pernah berkenalan dengan karyanya, yaitu Naguib Mahfouz dan Orhan Pamuk. Pun waktu itu saya berkenalannya juga lewat karya terjemahan Tia Setiadi, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum. Sebenarnya tiga dari sembilan penulis tersebut berasal dari Mesir (Naguib Mahfouz, Taufiq el-Hakim, dan Yusuf Idris), tapi mereka pun ikut disebut sebagai "pengarang besar Asia". Menurut penerawangan saya, mungkin karena karya-karya mereka berbahasa Arab. Mungkin, lho ini.

Gao Xingjian, seperti bisa ditebak dari namanya, berasal dari Tiongkok, tapi kemudian eksil ke Perancis. Dia orang Tiongkok pertama yang mendapat Nobel Sastra pada tahun 2000. Cerpennya, Di Sebuah Taman, membuka buku ini dengan serangkaian dialog antara dua orang laki-laki dan perempuan, yang berlatarkan di sebuah taman. Cerpen ini unik, lantaran penuh dialog dan miskin sekali narasi. Namun, dialog yang berisi selalu mampu bercerita semumpuni narasi, atau bahkan bisa mengungkap lebih, seperti dalam cerpen ini.

Tiap kali dialog menyentuh hal sensitif seputar hubungan antara mereka berdua, mereka berpindah ke topik lain, sebelum kemudian si perempuan mengungkapkan sesuatu yang membuat saya mengerti bahwa mereka dulu saling mencintai, tapi kemudian si perempuan terpaksa menikah dengan lelaki lain. Uniknya, ada satu tokoh di latar belakang: seorang perempuan muda, yang sedang menunggu seseorang sendirian di taman itu, dan kemudian menangis. Mereka berdua memperbincangkan sosok perempuan muda itu, tentang "menunggu" dan "berharap". Saya menangkap bahwa tokoh perempuan muda itu beserta kesedihannya diciptakan penulis sebagai cerminan akan perasaan dua orang yang sedang berdialog, tentang kepedihan dan penyesalan mereka sendiri.

"... orang mestinya hanya melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan." (hal. 25)

Cerpen kedua, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, adalah karya Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, seorang penulis dari Arab Saudi. Ia juga adalah editor perempuan pertama di sebuah koran terkenal di negaranya. Cerpen ini berkisah tentang Raha, seorang perempuan Arab yang berpikiran modern, berkat ilmu yang diserapnya dan dari pergaulan dengan teman-teman sekolah. Nahas sekali nasibnya, kepulangannya untuk menjenguk kedua orang tua berakhir pada penyiksaan batin dan fisik. Orang tuanya memaksa untuk menikahkannya dengan Fahid, seorang laki-laki tua yang kaya raya. Raha tak bisa kembali ke sekolahnya lagi.

"Aku mengira bahwa ibuku menginginkanku terlihat cantik di antara teman-temanku. Tak kusangka bahwa dia hanya mempersiapkanku untuk dikorbankan, bak si penggembala yang merawat dan menggemukkan kambingnya untuk dijual." (hal. 37)

Cerpen ini sungguh memilukan, terlebih adegan kekerasan yang dilakukan sang ibu pada Raha, semua hanya demi uang. Budaya yang membatasi para perempuan untuk menggapai mimpi-mimpinya, terpancang kokoh di cerpen ini. Membacanya membuat saya teringat Sitti Nurbaya. Penulis membuka cerpen ini dengan judul yang bikin penasaran. Jika boleh saya parafrasakan judulnya, "pembunuhan cahaya" mungkin berarti "matinya segala mimpi dan cita-cita Raha karena perjodohan yang tak diinginkannya". Kemudian, "alir sungai" mungkin berarti "air mata Raha".

Cerpen ketiga, Qismati dan Nasibi, adalah karya Naguib Mahfouz, berkisah tentang dua anak kembar siam, yang punya dua kepala tapi tubuh bagian bawahnya menyatu. Kisah berawal mulai dari saat orang tua mereka menginginkan anak, sampai mereka lahir, tumbuh besar, dan mati. Masalah mulai muncul ketika mereka mulai tumbuh menjadi sosok yang berbeda dan sering berseberangan cara berpikir dan cita-cita. Mereka terjebak oleh kedekatan dan sikap saling bergantung yang mengerikan. Saya mencium aroma magis-realis ketika membaca cerpen ini.

"Seandainya kami lahir dengan satu kepala dan dua bagian bawah yang terpisah, mungkin segalanya akan menjadi lebih mudah!" (Qismati, hal. 60)


Cerpen keempat, Memandang ke Luar Jendela, karya Orhan Pamuk, menggunakan sudut pandang seorang anak laki-laki. Di luar segala persoalan kanak-kanak, (termasuk kekalahannya yang bertubi-tubi saat main kartu dengan sang kakak dan ketakutannya akan suntikan) ada masalah lebih besar yang ditangkap oleh jala-jala pikirannya, yaitu kepergian ayahnya secara misterius ke Perancis. Tak ada yang tahu, kecuali ia. Nampak dalam cerpen ini, kesadaran dalam diri anak kecil akan masalah-masalah dan perasaan orang dewasa. Beberapa sumber mengindikasikan bahwa cerpen ini ditulis berdasarkan pengalaman Orhan sendiri (The Guardian, SFGate).

"Memandang ke luar jendela adalah sebuah hiburan penting sehingga tatkala televisi pada akhirnya datang ke Turki, orang-orang bertindak sama di depan kotak ajaib itu dengan yang mereka lakukan di depan jendela-jendela mereka." (hal. 66)


Cerita kelima, Anjing Buta, adalah karya RK Narayan, seorang penulis India. Cerpen ini memantik kepiluan lebih mendalam di hati saya, ketimbang ketika saya membaca Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai. Cerpen ini mengisahkan persahabatan tak sempurna antara seorang lelaki buta dan seekor anjing. Si lelaki buta merasa tertolong oleh si anjing yang selalu menuntunnya ke mana pun dia pergi, pun melindunginya dari berbagai ancaman. Namun, sial bagi si anjing. Dunianya kini hanya sepanjang tali pengikat lehernya. Si lelaki buta pun kerap menendanginya. Anjing itu pun lama-lama jadi kurus. Orang lain yang melihat penderitaan itu berusaha membebaskan si anjing, dengan memotong talinya. Ironisnya, setelah beberapa saat mengecap kebebasan, si anjing kembali lagi ke lelaki buta karena ia butuh makan.

"'Ia keluyuran selama dia bisa menemukan sampah untuk dimakan di jalan, tapi kelaparan yang amat sangat membawanya kembali kepadaku, dan kini anjing itu tak akan meninggalkanku lagi. Lihat! Aku sekarang dapat ini,' dan si lelaki buta itu menggoyang-goyangkan talinya: kali ini rantai besi." (hal. 115)

Oleh karena itu, si anjing pun tak ubahnya sudah buta, karena gagal melihat kebebasan yang telah ia dapatkan kembali. Dilema yang dialami si anjing barangkali menggambarkan yang sering kita alami sebagai manusia, dalam pertarungan antara kebutuhan vs kebebasan. Saya pernah berada di situasi seperti ini, beberapa kali. Pada tahun 2012, saya pernah melamar kerja sebagai guru bahasa Indonesia bagi orang-orang luar negeri, di sebuah lembaga bahasa. Saya melewati beberapa tahap seleksi, hingga akhirnya diterima. Saya masih berada dalam tahap training, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena ikatan kerjanya terlalu membebani. Hmm, saya memang butuh uang tambahan untuk bertahan hidup, tapi saya lebih memilih kebebasan pada waktu itu.

"Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?" (hal. 116)

Cerpen keenam, Di Selatan, Dua Lelaki Tua India, adalah karya Salman Rushdie, seorang penulis India. Cerpen ini berkisah tentang dua orang lelaki tua yang tinggal di India Selatan. Beberapa persamaan menyatuhkan mereka, termasuk kesamaan nama, V entah siapa, sehingga mereka lebih suka dipanggil Senior dan Junior (tanggal lahir mereka beda 7 hari). Namun, mereka memiliki masa lalu yang berbeda. Si Senior, memiliki masa lalu yang berkelimpahan dan keluarga besar yang terdiri dari 200+ anggota keluarga, sehingga lama-lama ia merasa terlalu "ramai". Sebaliknya, si Junior, memiliki masa lalu yang mengecewakan dan tidak beristri. Mereka berdua menjalin persahabatan, meski dengan pemikiran berbeda, sebelum si Junior meninggal lebih dulu. Peristiwa tsunami tahun 2004 juga masuk dalam cerita ini. Dalam cerpen ini, Salman Rushdie berhasil membentuk kedua tokohnya seperti layaknya kakek-kakek tua, dari cara berpikir dan berkelakuan mereka.

Cerpen ketujuh, Dijual: Keajaiban, adalah karya Taufiq el-Hakim, seorang penulis dari Mesir. Bertokoh-utamakan seorang rahib atau pendeta, cerpen ini mengisahkan bagaimana rahib itu dimintai tolong untuk menyembuhkan seorang yang sedang sakit di sebuah desa. Setelah ia berhasil menyembuhkan orang itu, dan hendak pergi dari desa tersebut, datanglah orang lain lagi yang juga memintanya datang ke desanya untuk menyembuhkan seseorang. Ia telah melakukan keajaiban-keajaiban penyembuhan. Sebagai balasnya, orang-orang itu menampung sang rahib di rumah mereka dan melimpahinya dengan keramahtamahan. Ternyata, tanpa ia ketahui, keajaiban yang telah diperbuatnya itu harus dibayar mahal oleh gerejanya. Saya terperenyak sembari senyam-senyum ketika sampai pada twist di bagian akhir. Taufiq el-Hakim telah mempermainkan saya, hahaha.

Cerpen kedelapan, Tujuh Jembatan, adalah karya Yukio Mishima, yang sering disebut sebagai penulis terbesar Jepang abad ke-20. Dua orang geisha, Kanako dan Koyumi, bersama Masako, putri pemilik Yonei House, melakukan ritual menyeberangi tujuh jembatan agar doa-doa mereka terkabul. Di detik terakhir, Mina, pembantu Masako, ikut serta dalam ritual itu. Agar doa-doa terkabul, syaratnya adalah:

"Dari menit sejak kita beranjak dari rumah ini kau tak akan buka mulut, tak peduli apa pun yang terjadi, sampai kita menyeberangi tujuh jembatan seluruhnya. Bahkan kalau sepatah kata saja kau ucapkan maka kau tak akan mendapatkan apa yang kau doakan. Dan kalau siapa pun yang mengenalmu berbicara kepadamu, maka siallah kau.... Kau tak diperkenankan untuk kembali ke jalan yang sama dua kali." (hal. 163)

Sebelum sampai di jembatan terakhir, Kanako dan Koyumi telah gagal. Tinggallah Masako berdua dengan Mina. Masako sangat membenci gadis itu, sehingga sepanjang jalan ia merasa tidak nyaman. Namun, pada akhirnya Masako pun gagal menyeberangi ketujuh jembatan. Sang penulis berhasil membuat saya penasaran sampai akhir, akan apa sebenarnya doa yang dipanjatkan Mina. Sosoknya pun misterius, dan karenya ada hawa menyeramkan keluar darinya. Sepanjang perjalanan dari awal hingga akhir, penulis banyak mendeskripsikan latar hal-hal di sekitar mereka. Ada deskripsi yang meninggalkan kesan kuat bagi saya:

"Beberapa jonjot awan berlayar di langit.." (hal. 165)
"Air di dalam sungai berlipat-lipat dalam cahaya bulan." (hal. 168)

Cerpen terakhir, Nampan dari Surga, adalah karya Yusuf Idris, seorang penulis Mesir, yang terkenal sebagai pelopor yang membaurkan bahasa Arab standar dengan bahasa Mesir pasaran. Syaikh Ali, tokoh dalam cerpen ini, menjadi bahan olok-olokan sedesa karena keanehan dan kemiskinannya. Suatu kali, ia mengutuk Tuhan karena kemiskinan dan kelaparan yang sudah tak tertahankan. Seisi desa menjadi takut kalau-kalau Tuhan akan murka karena hujatan Syaikh Ali itu.

"Aku tak akan diam kecuali Dia mengirimiku sebuah meja yang sarat makanan dari langit, sekarang juga." (hal. 193)

Mendengar itu, orang-orang mulai memberinya makan, meski mereka sendiri pun sebenarnya jauh dari "kaya". Sosok Syaikh Ali ini menggampar saya, dan mungkin kita semua, yang kadang mengaku bertakwa kepada Tuhan, tapi melupakan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan.

Terakhir, lewat pidato nobelnya, Gao Xingjian menyerukan perihal hakikat sastra yang sejati menurut pemikirannya. Esai ini menarik, karena menambah keyakinan saya yang sempat terombang-ambing: haruskah saya menulis apa yang saya inginkan, atau yang pasar inginkan?

"... sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan." (hal. 203)

"Sastra bukan buku paling best-seller atau buku paling laris.... tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra." (hal. 209, 221)
***

Saya setuju dengan pendapat Bernard Batubara dalam prolognya di buku ini, bahwasanya Tia Setiadi telah menerjemahkan karya-karya sastra ini dengan baik. Terjemahannya mampu memberikan kesan seolah-olah ini bukan terjemahan, seolah isi buku ini memang sedari awal ditulis dalam bahasa Indonesia. Seperti Bernard Batubara, saya juga mengakui bahwa banyak elemen bahasa menarik dan unik yang tercipta dari proses terjemahan, seperti:

"Qismati mabuk oleh nektar hasrat..." (hal. 56)
"Kanako sangat pendiam sehingga terlihat seakan-akan angin semilir pun akan melupakannya..." (hal. 159)
"...jonjot-jonjot awan mulai meluas di atas kepala." (hal. 16)
"Dia adalah keluarga nyamuk, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal." (hal. 124)

Lagi-lagi, saya juga setuju dengan Bernard Batubara, bahwa penerjemah memilih cerpen-cerpen yang "tepat untuk memberi kesan pertama yang menyenangkan bagi pembaca yang masih awam terhadap pengarang-pengarang dalam buku ini" (hal. 8). Secara keseluruhan, saya menyukai semua cerpennya, tapi yang paling berkesan adalah Anjing Buta dan Tujuh Jembatan. Pidato Nobel Gao Xingjian, yang berjudul Perihal Sastra pun menempati sudut spesial dalam benak saya.[ ]

bloggerwidgets