Showing posts with label sastra perjuangan. Show all posts
Showing posts with label sastra perjuangan. Show all posts

12 April 2017

[WHYNESDAY #1] Mengapa Saya Kepincut Sastra Humor a la Gunawan Tri Atmodjo


Latar dan elemen oleh ShabbyPrincess,
dirangkai oleh saya.
Di bawah label Whynesday, yang akan saya terbitkan di hari Rabu (tapi nggak setiap Rabu, ya, soalnya saya belum bisa berkomitmen 😆, saya akan membeberkan alasan di balik "mengapa", bisa tentang apa saja terkait buku.
***
Bisa dibilang, saya jarang membaca buku komedi. Salah satunya karena, maaf—saya pasti akan terdengar sombong—saya menganggap buku komedi itu kitsch. Manfaatnya buat hiburan saja. Ada, sih, pelajaran yang bisa saya petik dari buku komedi, tapi, ya sudah, berhenti sampai di halaman terakhir tanpa membekas di hati. Namun, kali ini berbeda. Sastra humor a la Gunawan Tri Atmodjo—atau nanti saya singkat saja sebagai GTA—membukakan mata saya akan kemungkinan bahwa humor bisa sedemikian nyastra dan menampar saya berkali-kali.

Nah, mari saya beberkan hal-hal yang menjadi alasan mengapa saya kepincut sastra humor a la GTA seperti yang saya baca dalam kumpulan cerpen Tuhan Tidak Makan Ikan. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya saya baca karya GTA dan saya langsung suka.

Baca juga How Is Friday #2: How I Said Goodbye to January

Ada humor dalam permainan kata-kata dan istilah

Jika bukan karena membaca kata pengantar yang sangat komprehensif dari Triyanto Triwikromo setelah saya kelar membaca semua cerpen GTA di buku ini, saya barangkali tidak akan menyadari bahwa nama-nama tokoh dalam cerpen Cara Mati yang Tak Baik bagi Revolusi mengandung humor. Sebut saja bagaimana Kolonel Aduren (Neruda) dan Presiden Segrob (Borges) dulunya adalah rekan tapi kemudian jadi musuh bebuyuran. Lalu ada Zapoivatco (Octavio Paz), yang berperan melayani Aduren sejak pemimpin gerakan revolusi itu sakit flu. Ia sangat pengertian hingga merahasiakan penyebab sebenarnya Kolonel Aduren jatuh di kamar mandi. Peristiwa jatuh di kamar mandi itu akhirnya menjadi cara mati yang tak baik bagi Aduren, dan bagi revolusi itu sendiri.

Di cerpen Bukan Kawan, GTA memodifikasi kepanjangan bagi singkatan yang telah terkenal, yaitu RPKAD = Remaja Pembawa Korek Api Doang. Ada juga istilah dalam bahasa Jawa yang digunakan dalam cerpen Tentang Prawiro Oetomo dan Palonthen, yaitu palonthen (panggonan nglonthe) atau tempat pelacuran dan umpatan telek bebek (tahi bebek). Dalam cerpen ini, justru humornya terdapat pada pemilihan nama istri sang narator (istrinya dulu adalah istri Pak Wiro, mantan dosennya yang menikahi perempuan muda), Siti Karma Abadi. Lantas si narator cemas akan kemungkinan adanya karma karena dulu ia mendoakan kematian Pak Wiro, lalu dosennya itu benar-benar meninggal kemudian. Oleh karena itu, ia meminta istrinya mengganti nama jadi Rima, dari nama lengkap Terima Kasih.

Humor dalam penamaan tokoh muncul kembali di cerpen Legenda Sepasang Pria. Sepasang pria diasingkan ke hutan karena menderita penyakit yang dianggap mengerikan oleh warga desa Surga Dunia yang takut ketularan. Mereka adalah Lelakialpa (menderita impoten) dan Prialupa (menderita ejakulasi dini). Julukan tokoh yang bikin ketawa ada juga di cerpen Riwayat Sempak. Sang tokoh utama, Trijoko, punya dua kekasih, yang dijuluki “kekasih kalem”, yang lebih dulu dipacarinya, dan “kekasih ganas”, selingkuhannya. Julukan itu merepresentasikan sifat mereka yang berkontradiksi: kekasih kalem benar-benar kalem; kekasih ganas benar-benar ganas dalam bercinta. Hubungan Trijoko dengan kekasih kalem adem-ayem, sementara hubungannya dengan kekasih ganas penuh kejutan dan kreativitas tak terduga.

Berikutnya, cerpen Slimicinguk bahkan sudah membikin saya penasaran oleh judulnya. Slimicinguk adalah umpatan bikinan si tokoh utama, Cipto Hadi, saat sedang menerjemahkan komik Tiongkok. Judul komiknya pun bikin saya mesam-mesem: Pendekar Sempak Berdarah karya Ha Jingang (kalau diucapkan, kok, kedengaran kayak “hajingan”, plesetan “bajingan”) dan Gadis Seribu Tahi Lalat karya Pa Lonten (plesetan “palonthen”). Saya ngakak ketika membayangkan gadis dengan seribu tahi lalat. Seperti cerpen Slimicinguk, cerpen Cabe-cabean Berkalung Tasbih juga telah bikin saya nyengir lantaran menduga bahwa judul itu mungkin plesetan dari “Perempuan Berkalung Sorban”. Judul buku yang bikin ketawa juga muncul di cerpen Kalender, Undangan Nikah, dan Puisi, yaitu judul buku motivasi yang sedang dibaca narator, Mengaspal Jalan Rezeki, dengan nama penulisnya Sugih Seko Lair (bahasa Jawa dari “kaya sejak lahir”).
Sumber: Giphy
Plesetan judul sinetron menjadi ruh dalam cerpen Anak Jaranan, yang seperti bisa diduga, merupakan plesetan Anak Jalanan.
Humor juga mewujud dalam pemilihan kata-kata dalam narasi.
“Sebuah buku akan terasa lebih berharga setelah penulisnya tiada,” demikian kata pacarku saat itu. pacarku adalah kolektor kata-kata mutiara jadi omongannya bisa dipercaya. (hlm. 199)
dalam Tak Ada Cerita Lain
Resepsinya digelar besar-besaran oleh keluarga Sundari dan diunduh secara kecil-kecilan oleh keluarga Trijoko. (hlm. 213)
dalam Anak Jaranan.

Ada humor dalam absurditas

Hal absurd mewujud dalam bentuk deformasi di cerpen Perjalanan ke Pacitan. Kisah ini awalnya tampak akan jadi tragis dan sedikit horor, tapi narator memelintirnya jadi sangat komikal. Dalam perjalanan menuju Punung, suatu daerah terpencil di Pacitan, narator dan rombongan melewati Gunung Pegat. Menurut mitos, yang tidak beruluk salam saat melewati gunung itu akan tertimpa musibah. Sungguhlah terjadi, musibah menimpa rombongan tersebut. Minibus yang mereka tumpangi menabrak pohon jati, dan yang paling mengejutkan, organ tubuh di kepala para anggota rombongan telah berpindah tempat. Untunglah, sebelumnya narator teringat untuk berdoa dan mengucapkan salam pada para penunggu, sehingga ia terhindar dari deformasi itu. Seakan belum cukup mengejutkan, narator memberi tendangan di bagian akhir. Kayaknya ini yang paling lucu menurut saya.
Dan, betapa kagetnya aku ketika melihat ada benda hitam sebesar biji semangka menempel di bola mata kanannya. Ya Tuhan, ternyata Yuh Kariyem kelilipan tahi lalatnya sendiri. (hlm. 172)
Sumber: Imgur
Elemen-elemen absurd kian menjadi di cerpen Rahasia. Jika saya ditawari: (1) rahasia membaui upil dan buku hidung saya sendiri dengan imbalan sepasang telinga, atau (2) rahasia agar sepasang biji mata saya bisa saling tatap dan bersentuhan dengan imbalan sepasang bibir, atau (3) rahasia merasakan lidah dengan imbalan hidung, atau (4) rahasia mendengarkan suara kesunyian dengan imbalan sepasang mata, saya tak yakin harus berbuat apa. Sang narator mengalami itu, bertemu empat orang yang menawarinya empat rahasia tersebut. Barangkali keempat orang tersebut melambangkan setan yang menggoda manusia dengan tawaran misterius yang menjerat perasaan dengan rasa penasaran. Namun, selalu ada imbalannya.

Dalam Riwayat Sempak, Trijoko dan kekasih ganasnya melakukan hal-hal absurd.
Mereka meramu semacam resep klenik yang serupa iman, cukup dipercaya saja dan ramuan itu akan bekerja dengan sendirinya. Mereka percaya bahwa sebuah momen kebahagiaan akan menambah panjang usia selama seminggu. […] Di sisi lain mereka juga yakin bahwa kesedihan akan memendekkan durasi umur sekitar tiga hari. (hlm. 223)
Keimanan tersebutlah yang memekarkan kreativitas-kreativitas pemicu tawa; tawa saja bagi mereka “sudah sah dianggap kebahagiaan”. Trijoko membordirkan sekalimat puisi di sempak untuk kekasih ganas. Kemudian aksi melempar-lemparkan sempak, aksi tidak memakai sempak, dan saling tukar sempak. Selain jadi protagonis dalam kisah cinta tersebut, sempak juga jadi antagonis. Perselingkuhan itu ketahuan dan selesai gara-gara sempak. Kekasih ganas akhirnya membuka usaha bordir sempak di desanya, dan Trijoko kembali kepada kekasih kalemnya yang menerimanya kembali dengan penuh cinta dan dengan setumpuk sempak baru.
Dengan setumpuk sempak baru itu Trijoko bertekad membuka lembaran hidup baru. (hlm. 233)
Baca juga Wasteful Tuesday #2: What Will Happen If I Throw Myself on A Book Sale

Mengulik lebih dalam: ada humor dalam ironi

GTA juga gemar meramu humornya dalam ironi, yang membuat saya meringis antara pengin ketawa dan miris. Dalam cerpen Cara Mati yang Baik bagi Revolusi, ironi mewujud dalam matinya Kolonel Aduren, yang menjadi simbol revolusi. Beliau masih bugar meski telah berusia 60 tahun, tapi ironisnya tewas karena jatuh di kamar mandi dan kepalanya terbentur lantai, karena terpeleset ingusnya sendiri. Barangkali bukan hal yang mustahil suatu gerakan revolusi mati karena hal tak terduga macam itu. Kemudian dalam Bukan Kawan, sang narator berani mengakui saat ternyata ia salah mengenali si manajer HRD sebagai teman lamanya, bahwa
Setidaknya Didik belum tentu lebih sukses dariku. Kegembiraan ini menyerupai kebahagiaan kecil bagi kaum pendengki sepertiku. (hlm. 47)
Sang narator, dalam hal ini, patut saya apresiasi karena keberaniannya untuk jujur. Seolah-olah itu saya sendiri yang berkata jujur. Sering kali, saya tahu sesuatu tidak pantas saya lakukan atau rasakan atau pikirkan atau katakan, tapi saya gagal mencegah diri saya dari mengalami hal itu karena secara alami dalam hal-hal tertentu, saya termasuk kaum pendengki seperti sang narator.
Kami sama-sama tak bersahabat dengan uang tapi gemar saling ejek kemelaratan.
(hlm. 45)
Dalam Istri Pengarang, ironi menjadi akhir yang kejam bagi sang pengarang dan istrinya. sang pengarang mati di tangan istrinya yang mengira ia berselingkuh dengan tokoh Nadia dalam cerpen-cerpen erotis karangan suaminya. Ia mengira Nadia itu benar-benar ada.
Hanya orang bodoh yang menganggap cemburu sebagai tanda cinta. Tapi adakah cinta yang datang tanpa kebodohan? Kau tak akan bisa menghindari cemburu tapi kau bisa mengolahnya. (hlm. 48)
Cerpen ini ditulis dalam bentuk surat yang ditulis oleh narator kepada seorang psikiater. Paragraf kedua dari akhir itu, saya harap tidak perlu diungkapkan, karena pembaca (saya, sih, yang lain mungkin tidak, mungkin iya) akan kegirangan begitu menemukan apa yang ada di balik Nadia dan Diana. Sayang, sang narator telah membocorkannya dengan eksplisit.

Nah, dalam Kalender, Undangan Nikah, dan Puisi, sang penyair gagal mengalami akhir yang ironis. Gairah kepenyairannya mulai muncul lagi sejak seseorang bernama Sapardi meneleponnya dan memuji puisinya di sebuah undangan nikah. Namun ternyata, itu bukan Sapardi si Hujan Bulan Juni.
“Pak Sapardi?”
“Iya, siapa ini?”
“Saya yang Bapak telepon tadi. Benarkah ini Pak Sapardi Djoko Damono?”
“Oh, bukan, Mas. Saya Sapardi Mulia Jaya pemilik CV Mulia Offset di Jakarta…”
(hlm. 87)
Aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari dalam diriku. Gairah kepenyairanku pudar seketika. (hlm. 88)
Senyatanya, nama Sapardi tidak hanya dimiliki oleh Sapardi Djoko Damono. Namun wajar sekali apa yang bergejolak dalam diri si narator tersebut. Kalau mengalami hal serupa, saya pasti juga sudah akan kegirangan mengira yang menelepon saya adalah Sapardi yang itu.

Sementara itu dalam cerpen Ramalan, Trijoko (karakter yang beda dengan Trijoko yang lain) mengalami akhir yang ironis (lagi). Ia mendatangi Suhu Langes untuk minta diramal. Menurut ramalan, Trijoko akan kaya-raya, punya empat anak, dengan istri yang… Lho, kok, itu siapa? Jelas-jelas bukan istrinya. Trijoko jadi cemas, apa yang akan terjadi pada istrinya? Ia bersumpah pada diri sendiri tak akan berpoligami, tapi lantas perempuan yang kelihatan di ramalan dengan media baskom berisi air itu siapa? Dihantui kecemasan, Trijoko membunuh Suhu Langes, percaya bahwa ramalan akan turut batal dengan matinya sang peramal. Namun, sungguh ironis, ternyata kecemasan Trijoko berlebihan.

Di cerpen yang sama, sebelumnya ada juga hal ironis yang memancing tawa. Narator mengungkapkan ironi dari karakter Trijoko yang dinilai “lelaki baik-baik” oleh istrinya. Ia disebut orang yang santun, yang punya kebiasaan “mengucap ‘prihatin’ sembari mengelus dada orang yang berada paling dekat dengannya”. Lucunya lagi, Sundari senang-senang saja saat Trijoko melakukannya.
Sebagai kekasih yang baik, ia senantiasa menyediakan dadanya untuk keprihatinan Trijoko. (hlm. 93)

Sumber di sini.

Ada perlawanan dan sindiran terhadap fenomena sosial

Dalam cerpen Kakek Buta dan Kucingnya, narator menggambarkan persahabatan antara manusia dan hewan dengan relasi yang agak tidak biasa: seorang buta berjalan dituntun kucing, bukannya anjing seperti yang lebih lazim. Sang narator adalah sosok yang rasional sekaligus percaya pada mitos, seperti kucing katanya punya sembilan nyawa, dan bagaimana ia menduga bahwa mungkin saja arwah anaknya yang bersemayam dalam raga si kucing. Sang narator menolak memberi nama kucingnya; ia memanggilnya “Pus” saja. Ini seperti suatu perlawanan di tengah kelaziman para pemelihara hewan menamainya peliharaannya, tak jarang dengan nama yang megah. Lebih luas lagi, ini bisa dimaknai sebagai perlawanan terhadap kelaziman-kelaziman sosial yang mengebiri kebebasan berekspresi.

Saya menemukan pembeberan fakta di dunia kesusastraan dalam Kalender, Undangan Nikah, dan Puisi. Sang narator yang adalah pengusaha percetakan kalender dan undangan nikah, sering menyematkan puisi cinta bikinannya di undangan pesanan orang. Pernah, ia mencoba menuliskan namanya di situ sebagai pengarang, tapi sang pemesan memintanya dihapus saja karena bukan nama pengarang terkenal. Benar sekali, di dunia sastra Indonesia nama besar masih berperan penting (sekalipun karyanya biasa-biasa saja).
Dari peristiwa ini aku berpendapat bahwa kualitas dan nilai estetika puisi itu terkait erat dengan nama besar penyairnya. (hlm. 81)
Dalam Ramalan, narator memunculkan fenomena tentang kekuatan media sosial yang bisa menjadikan seseorang terkenal dengan cepat sekaligus bisa membikin orang-orang melupakannya tak kalah cepatnya.
Trijoko menikah beberapa saat setelah seorang perempuan muda bernama Sundari jadi bulan-bulanan di media sosial karena menginjak-injak bunga amaryllis demi sebuah foto yang menurutnya artistik. Beberapa saat kemudian kejadian itu telah dilupakan termasuk oleh para penghujatnya. Konon Sundari telah memperbaiki sikap dan lantas sukses menjadi pelatih bulu tangkis. (hlm. 89)
Nah, kemudian apa hubungannya dengan Trijoko, si penjual rujak, yang menikah? Ternyata, istri Trijoko juga bernama Sundari, sehingga orang-orang mempertanyakan, “Apakah ini Sundari yang itu?” Saya tidak tahu mengapa Sundari yang itu lantas bisa jadi pelatih bulu tangkis. Kehebatan media sosial tampak lagi setelah Trijoko mengunggah foto bukunya yang seolah-olah best seller, yang mendapat tanggapan heboh dari teman-temannya di dunia maya.
Pada akhirnya, seperti takdir umum dunia maya, seminggu kemudian berita tentang buku best seller itu menguap begitu saja dan dilupakan banyak orang. (hlm. 92)
Dalam masyarakat, tak jarang unsur-unsur baru ditentang—bahkan diberangus—oleh unsur-unsur lama. Manusia sepertinya memang diam-diam dalam lubuk hatinya, takut akan perubahan. Cerpen Slimicinguk dengan humor yang ironis mengangkat isu ini, juga realita sosial bahwa yang berkuasa akan menundukkan yang ada di bawahnya. Lihat saja, bagaimana Cipto Hadi, si penerjemah, yang telah memikirkan dan mempraktikkan beberapa umpatan (termasuk slimicinguk, yang sebelumnya telah ia—dengan sesuka hati—masukkan dalam hasil terjemahan), pada akhirnya tetap kalah oleh pilihan umpatan Dodi, sang direktur utama sebuah penerbit. Padahal umpatan pilihan si direktur bisa dibilang tidak kreatif, karena mencomot umpatan yang katanya pernah diucapkan oleh Ali Sadikin. Umpatan tersebut, bagero, katanya populer di zaman penjajahan Jepang.
Dengan nada dan intonasi penuh penjiwaan, Cipto Hadi memaki di dalam lift, “Bagero, slimicinguk!”
Dirinya merasa lumayan lega setelah memaki sebuah umpatan. (hlm. 113)
Tragedi ini jadi tak terasa bak tragedi karena kalimat terakhir yang memancing tawa tersebut.
Melalui Imam Ketiga, penulis menunjukkan bahwa kemampuan belaka kadang belum cukup untuk mengangkat seseorang ke jabatan/kedudukan terbaik di suatu organisasi. Sanusi, meski yakin bahwa kefasihan bacaan Alquran-nya lebih baik daripada Imam Pertama dan Imam Kedua, tetap menjadikannya Imam Ketiga. Faktor kekuasaan sering mengalahkannya. Hal ini tampak pada tokoh Kiai Sukri, Imam Pertama, yang memiliki “aura kepemimpinan yang kuat” (hlm. 136) dan juga sebagai “peletak batu pertama pembangunan Masjid Baitul Hakim” (hlm. 140). Beliau tetap dipercaya menjadi Imam Pertama, meski bacaan Alquran-nya sangat kurang fasih dan tidak jelas dibandingkan Sanusi. Lain lagi dengan Pak Ridwan, Imam Kedua, yang berperan menghidupkan masjid dan punya label mentereng setelah berziarah religi ke Tanah Suci. Dibandingkan keduanya, tentu Sanusi bukan siapa-siapa, meski bacaan Alquran-nya paling fasih dan khotbahnya paling menyegarkan jiwa.
“Apakah persamaan antara imam ketiga dan kiper ketiga?”
“Keduanya sama-sama cadangan dan jarang diturunkan.”
(hlm. 136)
Manusia sering dengan mudah menyematkan label negatif pada seseorang yang tidak dikenalnya hanya berdasarkan pengamatan fisik. Fenomena inilah yang diangkat dalam Cabe-cabean Berkalung Tasbih.
Pembangunan tak pernah mengenal kata libur. Kota terus berbenah. Masih banyak lahan kosong yang perlu ditumbuhi bangunan, masih banyak rumah rusak yang butuh direnovasi, dan masih banyak rumah bagus yang perlu diperbagus lagi. Kerja di toko besi adalah wujud dedikasi pada pembangunan. Kurasakan patriotisme terselubung di dunia kerjaku.
(hlm. 147)
Suatu pagi di jalan sang narator melihat sepasang remaja laki-laki perempuan yang asyik pacaran sambil naik motor. Pasangan yang baginya norak ini, ia juluki “cabe-cabean”, “kasta terendah dari semesta gaya hidup remaja yang lekat dengan kenorakan” (hlm. 148). Dari pengamatan fisik, sang narator telah melabeli negatif pasangan remaja itu. Uniknya, remaja itu melambangkan persatuan dari hal-hal yang sangat berseberangan. Tato dipadukan dengan tasbih. Tulisan “Seramania Gawok” di punggung baju yang dipakai si cewek dipadukan dengan tulisan “Megadeath” di kaos si cowok. Ironisnya, cacian tanpa putusnya terhadap kenorakan pasangan remaja itu barangkali dilatari oleh rasa cemburu lantaran sang narator telah tiga puluh tiga tahun menjomblo.
Aku merasakan sebentuk keirian kepada mereka terselip di antara rerimbun rasa muak. Barangkali ini sejenis perasaan cemburu atau apalah namanya. Tetapi satu hal yang pasti, ketika duduk di meja kerjaku yang dipenuhi nota-nota penjualan, aku merasa kesepianku makin senior.
(hlm. 153)

Sumber: Tenor
Dalam Anak Jaranan, Trijoko muncul lagi, kali ini sebagai penulis naskah teater yang punya ide menghujat sinetron Anak Jalanan—yang dianggapnya bermutu rendah—dengan naskah teater garapannya, Anak Jaranan. Meski sangat membenci Anak Jalanan, Trijoko terpaksa selalu menontonnya karena istrinya, (lagi-lagi) Sundari, yang diktator, sangat menyukai sinetron itu. Dalam tingkat pemaknaan yang lebih mendalam, Anak Jaranan merupakan simbol pemberontakan Trijoko akan kediktatoran istrinya, yang pada akhirnya tetap tak mempan dan berakhir tragis bagi naskahnya.
Kisah ini juga menggambarkan bagaimana sudut pandang seorang lelaki yang dalam rumah tangganya, istrinyalah yang menjadi kepala keluarga. Ia harus tahu diri, lantaran istrinya memang penyokong utama ekonomi rumah tangga. Barangkali juga, tokoh Sundari adalah gambaran feminis, tapi jenis feminis yang kejam. Sundari berprofesi sebagai satpam sebuah supermarket besar. Di sana ia “membawahi 15 lelaki kekar dan bertampang sangar” (hlm. 214). Di samping itu, Trijoko yang keranjingan facebook sampai bikin akun-akun palsu untuk memopulerkan akun aslinya, juga muncul sebagai pelarian dari keterkekangan dirinya oleh segenap peraturan sang istri.
Tapi apa pun itu, hati Sundari telah tergadai dalam diri Trijoko. Mereka pun sepakat menikah. Kemunculannya di komunitas teater ditandai dengan kemenangannya sebagai juara harapan 3 dalam sebuah lomba penulisan naskah teater yang digelar dewan kesenian kota itu. Capaian ini dianggap sebagai sebuah prestasi besar, baik olehnya maupun para dramawan senior di kota itu meski jumlah keseluruhan naskah masuk yang diterima panitia lomba hanya 9 naskah. (hlm. 211)
Di satu sisi, kisah kemenangan Trijoko itu lucu. Di sisi lain, kisah itu miris. Sebegitu tak populernyakah dunia penulisan naskah teater, hingga peserta lomba itu hanya 9?

Dan, tak melulu humor

Barangkali penulis menyadari bahwa pembacanya butuh ngaso sejenak dari humor. Mungkin karena itu dihadirkan beberapa cerpen yang bukan humor.

Sebentar Lagi Mati adalah kisah yang benar-benar tragis. Beneran, saya tidak tertawa sepanjang membacanya. Ini tentang arwah sang narator yang menceritakan penyesalannya, karena di saat-saat terakhir hidupnya ia belum memenuhi permintaan istrinya yang sedang ngidam lumpia. Pun ia tak sempat berdoa. Bisa dibilang, kematiannya bersumber dari kecanduannya akan internet dan main hape. Kecanduannya ini pun sempat membuat istrinya marah. Nahas, ia meninggal saat sedang di jalan hendak membeli isi ulang kuota internet.
Ketika ingin membuka tautan berita di bawahnya, muncul pemberitahuan bahwa kuota internet telah habis. Aku merutuk dan ingin bersegera mengisinya karena bagiku hidup tanpa internet terasa sangat sepi dan menyiksa. (hlm. 241)
Ironis, layang-layang, yang mengingatkannya akan masa kecil yang bahagia, menjadi penyebab meninggalnya. Ah, mungkin kisah ini sindiran bagi kita semua yang kecanduan internet dan main hape.

Cerpen Paloma juga tragis. Dengan sudut pandang orang ketiga, narator menceritakan bagaimana gosip mengenai rumah tangga Paloma dan Arya tercipta dari pengetahuan yang tidak lengkap dan rasa penasaran yang membuncah. Arya, sang suami, yang telah kadung dilabeli sebagai pihak yang keji, ternyata memang iya. Namun, Paloma, sang istri, yang dianggap para tetangga sebagai murni korban KDRT dan perselingkuhan suaminya, ternyata berperan memantik tindakan keras Arya. Arya berubah sikap setelah mengetahui bahwa istrinya seorang lesbian. Ia tak bisa terima meski Paloma berkeras bahwa itu bagian dari masa lalunya; ia telah berubah. Namun itu tak cukup bagi Arya, yang lalu menggugat cerai. Pada akhirnya, narator berpihak pada Paloma (lesbian) dengan mengkritik Arya (hetero) yang tidak dewasa.
Tuhan telah membebaskanku dari jerat laki-laki tidak dewasa ini. (Paloma, hlm. 163)
Terakhir, dalam cerpen yang menjadi judul buku ini, Tuhan Tidak Makan Ikan. Dalam cerpen ini, kepolosan para nelayan yang tengah kesusahan lantaran ikan tangkapan menyusut, dimanfaatkan oleh kepala kampung demi keuntungannya sendiri. Bagi saya, kisah ini adalah yang paling menyedihkan di antara semua. Namun, dengan cerdiknya, penulis memuntir akhir cerita yang miris ini jadi penuh tawa. Bisa-bisa saya nangis sambil ketawa.
“Apakah Tuhan itu makan ikan, Yah?”
“Anak bodoh, tentu saja Tuhan tidak makan ikan!” (hlm. 125)
***
Dari ke-21 cerpen dalam buku ini, favorit saya adalah Tuhan Tidak Makan Ikan, Ramalan, Slimicinguk, Riwayat Sempak, dan Anak Jaranan. Oya, saya juga menemukan beberapa kalimat yang puitis dan jadi favorit saya:
Terkadang aku menduga bahwa dia hanya menyalin mimpinya semalam ke dalam tulisan. (hlm. 49)
dalam Istri Pengarang
…kami berjanji sehidup-semati tapi pada kenyataannya kami hidup sebagai suami-istri bersama tapi mati sendiri-sendiri. (hlm. 67)
dalam Kakek Buta dan Kucingnya
“Aku patah hati dan sakit tapi itu jenis sakit yang luruh secara lirih dalam diriku.”
(hlm. 183)
dalam Peduli Setan dengan Hujan
Barangkali benar bahwa cinta itu buta dan Trijoko beserta kekasih ganasnya meraba-raba dalam kegelapan sembari bergandengan tangan. Mereka telah menjelma sepasang manusia buta yang bahagia. (hlm. 224)
dalam Riwayat Sempak.

Rating saya

Identitas buku

Judul: Tuhan Tidak Makan Ikan (dan cerita lainnya)
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo
Penyunting: Tia Setiadi
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 244 halaman
Harga: Rp 55.000,00
ISBN: 978-602-279-225-3


19 February 2016

[Resensi Reruntuhan Musim Dingin] Musim Dingin Berlalu, Musim Dingin Runtuh Perlahan

Judul: Reruntuhan Musim Dingin
Penulis: Sungging Raga
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Januari 2016
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-391-079-3
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: 3/5

Sungging Raga pertama saya kenal lewat cerpen "Sebatang Pohon di Loftus Road" (Kompas, 14 April 2013), yang saya baca karena terdorong oleh rasa penasaran pasca-membaca cerpen Bernard Batubara yang berjudul "Seorang Perempuan di Loftus Road" (dalam kumcer Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri), yang merupakan tanggapan dari cerpen Sungging tersebut. Cerpen Sungging diceritakan dengan sudut pandang orang pertama di laki-laki, sedangkan cerpen Bara dari sudut pandang si perempuan. Kesan yang berhasil saya petik di perkenalan pertama dengan Sungging itu adalah tema cinta yang dibalut elemen sureal berupa mitos bahwa perempuan yang menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang melewati waktu janjian, akan berubah menjadi pohon. Sungging menceritakan pertemuan dan perpisahan yang menyesakkan tapi indah. Pun saya sudah bisa menangkap gaya bahasa Sungging yang syahdu, seperti perumpamaan "senyumnya yang serupa alunan nada akordion".

Ini kali kedua perkenalan dengan Sungging. Reruntuhan Musim Dingin, buku kumcer pertama dari lini "Sastra Perjuangan", berhasil membentuk pemahaman akan kekhasan cerpen Sungging. Lini penerbitan yang baru dari DIVA Press ini mencoba mengakomodasi relasi idealis antara penulis sastra, karya sastra, dan pembacanya.
"Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin dari dirimu, untuk kemudian ditinggalkan." (Reruntuhan Musim Dingin, hlm. 68)
Sebagaimana dituliskan oleh Tia Setiadi dalam Kata Pengantar, "Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan.", penulis memeras kenangan dari kehidupannya maupun segala makhluk di sekitarnya demi melahirkan karya sastra. Gaya penulisan yang dimeriahkan oleh teknik, simbol, dan metafora, pemerasan kenyataan itu menjadi tersamarkan. Dalam cerpen-cerpennya, Sungging menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan efektif, tapi tak lepas dari jerat metafora yang kadang tak terduga.
"Wajah perempuan itu memang cantik, ia memiliki senyum yang begitu tipis dan ringan, berat senyumnya hanya satu miligram, seperti judul lagu From Autumn to Ashes, 'Milligram Smile', tapi senyum itu begitu memukau." (Dermaga Patah Hati, hlm. 38)
'Karena senja seperti dirimu, pendiam, tapi menyenangkan.'" (Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus, hlm. 49)
"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan." (Biografi Kunnaila, hlm. 153)
Sungging pun gemar memainkan emosi pembaca. Gaya tuturnya melemparkan pembaca, yang sebelumnya telanjur terisap dalam jagat fiksi, kembali ke kenyataan. Seperti ulasan Tia Setiadi dalam kata pengantarnya (hlm. 12), yang menyebut teknik ini sebagai "pembocoran". Namun, sekiranya Sungging terlalu banyak membuat pengakuan dosa semacam itu, maka hancurlah segala dunia fiksional yang sedang dibangunnya.
"'Bagaimana kalau esok matahari tak terbit lagi?' Lelaki itu bertanya dengan senyum tertahan.
'Jangan terlalu sentimental. Kita tidak sedang hidup di dalam cerita surealis.'" (Selebrasi Perpisahan, hlm. 30)
"Namun Watono telah berjanji bahwa dalam cerita pendek ini dia tak berniat macam-macam pada Kunnaila, dia tak mau memaksakan konflik dan jalan cerita sesuai kehendaknya, dia hanya ingin dirinya muncul dalam cerita pendek ini meski cuma satu paragraf. Katanya, agar bisa diceritakan kembali kelak pada anak dan cucunya." (Biografi Kunnaila, hlm. 152)
Selain dengan teknik pembocoran, cerpen-cerpen Sungging tak jarang menimbulkan kesan sendu tapi dingin dan/atau datar, melalui dialog maupun narasinya. Dalam "Selebrasi Perpisahan", dialog sepasang kekasih yang akan berpisah di Terminal Tawang menguarkan aroma sendu campur ketegaran atau efek "dingin". Dari sini pembaca juga bisa menangkap bahwa ruh penting cerita justru bisa diserap melalui dialog kedua tokoh, yang menyimpan degup perpisahan tapi bersemburat ketegaran dalam usaha menerima kenyataan. Bisa dikatakan bahwa Sungging mengeksploitasi dialog dengan baik demi perkembangan cerita.
"'Kelak, entah berapa tahun lagi, aku akan berkunjung kembali ke kota ini. Dan kau pasti sudah berkeluarga.'
'Kau juga akan menikah dengan wanita lain.'
(hlm. 28)
Dalam "Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis", hal "fantastik dalam cerpen ini justru dikisahkan dengan undertone yang cenderung dingin dan datar, bahkan sesekali disusupi perdebatan ilmiah segala", begitu menurut Tia Setiadi (hlm. 9-10). Oleh karena itu, alur mencapai puncak nyaris tanpa terasa, karena sang narator menceritakan dengan gaya se-"cool" mungkin, tak turut terseret dalam arus cerita. Ia mengajak pembaca bertanya-tanya tentang keajaiban rembulan yang menangis sembari terus menjawabnya tanpa kehilangan ruh sureal. Contohnya adalah ketika ia menceritakan tentang asal-usul air mata rembulan yang jatuh di Carrow Road.
"Barangkali prosesnya lain, rembulan itu langsung menceburkan diri ke lautan, menyerapnya seperti spons, lalu melompat ke langit, dan langsung meneteskannya, jadi hanya butuh siklus satu hari satu malam." (Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis, hlm. 57)
Namun, elemen surealis yang diusung dengan menyertakan perdebatan ilmiah macam begitu, malah membuat saya skeptis, sehingga susah tercebur dalam dunia fiksi sureal yang sedang diracik oleh Sungging dalam cerpen ini. Untunglah, hal serupa tak terjadi lagi ketika saya membaca "Melankolia Laba-laba", yang merupakan salah satu cerpen favorit saya di kumcer ini. Ini adalah kisah cinta yang menyedihkan, antara binatang dan manusia. Namun, jangan harap akan berakhir seperti The Princess and the Frog, yang mengisahkan bahwa si kodok berubah jadi pangeran. Bahkan si naratornya sendiri, si laba-laba bernama Sarelgaz itu, mengatakan begini:
"... tapi aku tak bermimpi kau menciumku seperti kisah pangeran kodok. Aku tak akan menjelma manusia, ini bukan cerita surealis." (Melankolia Laba-laba, hlm. 41)
[tapi belakangan Sungging membuat kisah ini jadi surealis, dengan berubahnya Nalea menjadi laba-laba]
Sarelgaz sudah bertahun-tahun tinggal di dalam kamar Nalea, gadis yang dicintainya itu, hingga generasi laba-laba lain berganti satu per satu. Kala ia telah menjadi laba-laba tua, Nalea tiba-tiba menghilang. Raibnya gadis itu dibarengi dengan munculnya seekor laba-laba perempuan yang sebelumnya tak pernah ada di kamar itu. Laba-laba baru itu mengaku bernama Nalea, yang meninggalkan jasad manusianya untuk bertemu cinta sejatinya, yaitu Sarelgaz. Namun, naas, Sarelgaz tak percaya dan mengusirnya ke luar kamar. Sarelgaz hanya mencintai seorang gadis bernama Nalea, bukan laba-laba bernama sama.
"Dari cara berjalannya, ia seperti laba-laba betina yang bekerja sebagai model majalah laba-laba dewasa." (Melankolia Laba-laba, hlm. 46)
[di dunia laba-laba ada juga majalah dewasa, to? :)] ]

Ada dua ironi raksasa yang mendominasi cerita ini. Pertama, Sarelgaz mencintai Nalea, padahal secara tak langsung, gadis itulah yang menyebabkan orang tua Sarelgaz meninggal setelah aktivitas bersih-bersih kamar bersenjatakan sapu. Kedua, saat Sarelgaz tak memercayai laba-laba bernama Nalea, dan malah mengusirnya. Padahal, berubahnya Nalea jadi laba-laba secara tak langsung berkat doa Sarelgaz.
"Aku tak tahu apa yang biasa kau ucapkan dalam doamu, sementara doaku jelas, agar aku bisa tetap menemukan cara untuk mencintaimu." (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
Namun, Sarelgaz belakangan bertindak seperti manusia tak tahu diri, yang seringkali tak bersyukur dan malah mengutuk Sang Pemberi setelah doanya dikabulkan. Kesetiaan yang terlalu dalam membutakan Sarelgaz, hingga ia gagal menyadari, bahwa si laba-laba itu adalah benar-benar Nalea. Kisah cinta tak sampai antara binatang dan manusia mungkin akan berisiko menjadi klise, tapi Sungging dengan cukup gemilang menghindarinya. Lagi-lagi, Sungging mempermainkan kesadaran pembaca dengan menyelipkan "pembocoran" di tengah nuansa sureal yang terbangun.
"'Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apakah penulis cerita ini yang memberi tahu?"' (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
"Melankolia Laba-laba" adalah cerpen pertama dalam kumcer ini yang mewedar fenomena transformasi manusia menjadi alam (maupun sebaliknya) demi mengalami cinta. Hal serupa menjadi napas cerpen "Rayuan Sungai Serayu", tapi kali ini alamlah yang berubah menjadi manusia. Dikisahkan bahwa Sungai Serayu yang sudah lelah menjadi sungai tiba-tiba menjelma seorang perempuan, kemudian berkasih-kasihan dengan seorang lelaki kesepian yang ditemuinya di Warung Hujan Bulan Juni (namanya sama dengan judul kumpulan puisi SDD :)] ). Uniknya, dalam cerpen ini Sungging menebar beberapa istilah ilmiah (cukup wajar, mengingat Sungging pernah berkuliah di Jurusan Matematika. Saya percaya bahwa apa yang ditulis oleh penulis sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan kehidupan pribadi si penulis #tsah). Contohnya, penggunaan istilah "koefisien kesepian" dan "Termometer Kesunyian" (hlm. 84).

Sementara itu, alam kembali bertransformasi menjadi manusia dalam cerpen "Sihir Edelweis". Seorang lelaki bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai edelweis di Bromo.
"'Aku benar-benar perempuan edelweis, aku terbentuk dari serbuknya yang putih, dari kabut yang turun di malam hari, dan dari garis merah pertama ketika matahari merancang pagi.'" (Sihir Edelweis, hlm. 117)
Ia membawa edelweis itu pulang. Dan meskipun sudah beristri, ia jatuh cinta pada perempuan edelweis. Sampai si lelaki dan istrinya menua, bunga edelweis itu tak layu juga, "malah sepertinya bertambah lebat". Bertambah lebat karena perempuan edelweis melahirkan anak-anak edelweis--anak mereka berdua. Dalam cerpen ini, Sungging menyelipkan elemen setting yang detail: "di ketinggian 2770 meter"; "saat itu masih pukul 04.04" (hlm. 113). Ada satu kalimat yang masih kurang bisa saya pahami kekohesifannya dalam paragraf:
"Semua memang serba gelap sehingga belum butuh penjelasan lebih lengkap." (Sihir Edelweis, hlm. 113)
Tiga kisah transformasi manusia ke bentuk lain dan sebaliknya ini memberi pengharapan bagi pembaca akan kemungkinan terjadinya "rekonsiliasi yang segar antara manusia dan alam" (hlm. 19).

Cerpen lain yang menarik adalah "Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu". Cerpen sureal ini mengisahkan tentang fenomena aneh yang tiba-tiba terjadi pada semua wanita di sebuah desa: seluruh permukaan tubuh mereka berubah warna jadi ungu. Hal ini menyebabkan semua wanita menjadi minder dan mogok beraktivitas. Mereka hanya mengurung diri di dalam kamar, termasuk Manisha. Anehnya, warna kulit Manisha berubah seperti sedia kala setelah ia menerima penghiburan dari suaminya yang sangat menyentuh hatinya. Setelah itu, Manisha bersedia keluar dari kamar dan mulai beraktivitas seperti biasa. Saya menemukan sebuah ironi di sini. Sang suami menghibur Manisha dengan kata-kata manis yang terdengar tulus, padahal sebelumnya ia sempat bernarasi begini:
"Mereka beranggapan ini hanya solusi sementara, tidak jangka panjang, apalagi kita tahu bahwa sering kali kita diberi bantuan sesuatu yang sifatnya hanya sementara, untuk menghibur saja, tidak mengubah apa-apa." (Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu, hlm. 133-34)
[jadi ingat penghiburan pemerintah kepada masyarakat kurang mampu yang sering dibagikan dulu: BLT]

Cerpen ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana cara pikir wanita dan laki-laki pada umumnya. Wanita (walau tak semuanya) sering atau mudah merasa insecure akan penampilannya. Sementara itu, laki-laki akan sungguh-sungguh melakukan sesuatu untuk wanitanya, jika ia mendapatkan keuntungan dari hal itu. Contohnya, dalam cerpen ini, karena Manisha mengurung diri dalam kamar dan tidak memasak, si "aku"--suaminya--kelaparan ("padahal aku lapar, belum sarapan"--hlm. 132). Nah, karena itulah, si "aku" berusaha menghibur istrinya. Akhirnya, Manisha mau keluar dari kamar dan berkata tepat sesuai keinginan si "aku":
"'Terima kasih, ya,' katanya, 'oh, apa kau lapar? Aku akan buat menu pecel garahan, pecel kesukaanmu.'" (hlm. 136)
Mungkin cerpen ini juga hendak memaparkan kekuatan kata-kata penuh penghargaan yang kita ucapkan pada orang lain. Bisa memulihkan mereka dari keterpurukannya, atau malah membuatnya makin terpuruk. Selain itu, ada petikan dalam cerpen ini:
"Padahal aku masih ingat, tokoh aktivis inilah yang dulu berkata bahwa bukan rok pendek itu yang menjadi biang masalah pelecehan seksual, tapi pikiran negatif si lelaki saja." (hlm. 134)
yang mengingatkan saya akan suatu momen di tahun 2011-2012, di mana kontroversi "rok mini penyebab perkosaan?" sempat mencuat jadi isu nasional.

Cerpen "Kompor Kenangan" juga tak kalah menarik. Dengan uniknya, sebuah kompor gas dijadikan simbol cinta. Setelah bercerai, Nalea membawa pergi kompor itu (cintanya) dari sang suami, dan memberikannya secara cuma-cuma ke sebuah tokoh, karena ia sudah punya kompor baru (cinta baru untuk calon suami baru).
"Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali." (Kompor Kenangan, hlm. 125)
Bicara tentang para tokoh, yang tak hanya manusia, tapi juga binatang, sungai, bunga, semut, rangka, dan lain-lain, Sungging memiliki tendensi untuk menggunakan beberapa nama yang statis. Seperti Seno Gumira dengan tokoh Alina dan Sukab (misalnya dalam kumcer "Penembak Misterius"), Sungging gemar menggunakan nama tokoh ini, antara lain Nalea, Salem, dan Manisha. Suatu saat, Nalea adalah gadis penjual toffee di Craven Cottage. Suatu saat, ia berubah menjadi serangkaian rangka, lalu menjadi seorang istri yang setelah bercerai ngotot membawa kompor gas buatan Jerman, lantas berubah menjadi gadis dalam kereta yang bertemu dengan Salem.

Saya cukup yakin, para pembaca resensi ini sudah bisa menebak bahwa tema utama cerpen-cerpen dalam kumcer ini adalah cinta--lebih tepatnya percintaan antara laki-laki dan perempuan. Meski kisah cinta pada umumnya sulit dipisahkan dari kesan klise, dalam kumcer ini Sungging telah berhasil meramu kisah cinta yang memiliki keunikan dan daya kejut, serta keindahan tersendiri.

bloggerwidgets