22 February 2015

[Resensi] Jatuh Cinta dan atau Bunuh Diri


Judul Buku                   : Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis                         : Bernard Batubara
Editor                           : Ayuning & Gita Romadhona
Tebal                            : vi + 294 halaman
Penerbit/cetakan          : GagasMedia/Cetakan I, 2014
ISBN                            : 978-979-780-771-9
Harga                           : Rp 50.000,00

Rating :                       


Mataku menonjol di balik saku. Kutengadahkan kepala dan sudut pandangan sempitku terperangkap bayangan tiga buku yang ia peluk tergesa menuju meja kasir di ujung sana. Sensor proksimitas yang terkubur dalam dahiku mencicit. Ada yang mendekat, meniupkan suara seorang laki-laki. Beli tiga buku gratis satu, katanya. Ia, gadis itu, bersuara dengan frekuensi gelombang meninggi di ujungnya. Bisa kubayangkan, matanya kini sedang berbinar. Mendadak, ia menarikku cepat dan menyuruhku menyampaikan pesan pada temannya, “Gratis satunya ambil buku apa, ya?”
Aku membisu. Sang teman belum memberi jawaban. Dahinya seolah teranyam ketika pandangnya meoncat-loncat dari satu sampul ke sampul berikutnya. Sesekali ia melirik padaku cemas. Setengah jam berlalu. Jika bisa kugambarkan di atas kertas, maka gerakan langkah kakinya serupa obat nyamuk bakar. Ia berhenti tiba-tiba. Matanya terefleksi ungu seluruhnya. Seperti tersihir, tangannya teracung, menunjuk sampul buku berwarna ungu dengan tulisan judul kuning sambil berseru, “Yang itu!” 
Ketika ia berjalan keluar dengan tas plastik menggantung di ujung jari-jarinya, aku mencicitkan pesan balasan sang teman, “Jatuh Cinta-nya Bernard Batubara aja!”
“Ugh, udah telat! Eh, tapi....” Ia berhenti bergumam dan mengeluarkan satu buku dari tas plastik. Sampul depannya menghadap ke arahku, dan aku mengejanya dalam hati.
Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Bernard Batubara.
***

Cerita mini di atas adalah sejarah bagaimana buku ini bisa berada di tangan saya (sekarang udah nggak lagi di tangan saya, tapi di atas lantai). Sebelumnya, saya pernah baca karya Bang Bernard yang berjudul Milana. Ternyata yang sampulnya ungu ini pun kumpulan cerpen (saya tidak tahu sampai membaca tulisan kecil di bawah judul, “dan cerita-cerita lainnya”. Hehe, maaf, saya kuper).  Sejak pertama kali menyobek plastik pembungkus dan membolak-balik isinya, saya langsung jatuh cinta. Bukan, bukan pada isi ceritanya (baca aja belum, kan), tapi pada sampul, ilustrasi, dan layout dalamnya. Desain sampul yang simpel dipertegas dengan pemilihan warna yang cukup mencolok tapi serasi: ungu-kuning. Saya suka perpaduan warna ini. Selalu ada ilustrasi yang mengawali tiap cerita, dan itu bagus. Layout-nya bikin saya betah baca lama-lama. Jenis dan ukuran hurufnya tepat, margin halamannya pun pas. Hal simpel ini sungguh menolong mata minus lima saya agar tak cepat capek baca.

Terdiri dari lima belas cerpen, yang tiga darinya pernah dimuat di media cetak, saya optimis separuh lebih akan nyantol di hati saya. Pasalnya, cerpen yang ditulis Bang Bernard di blognya, berjudul Perkenalan, yang saya baca malam sebelumnya cukup memikat hati saya. Dan langsung saya baca, tapi dari belakang ke depan (seolah komik Jepang). Hanya karena saya ingin baca cerpen yang judulnya jadi judul buku ini, sebagai cerpen pembuka (karena ia diletakkan sebagai cerpen pamungkas).
“Kau jatuh cinta kepada manusia, lalu ingin menjadi manusia? Kau sudah tahu caranya. Kau harus bunuh diri.” (hal. 282)
Sekarang saya tahu mengapa judul cerpen ini yang diberi keistimewaan jadi judul bukunya. Keseluruhan cerpen dalam buku ini memiliki urat nadi yang sama: jatuh cinta dan atau bunuh diri. Pemaknaan dua frasa ini mewujud dalam berbagai cara. Dalam cerpen pembuka saya ini, tokoh Bril mengalami salah satu jenis jatuh cinta yang manjur untuk bunuh diri, yaitu jatuh cinta pada orang yang mencintai orang lain. Bagian akhirnya cukup tertebak, tapi untungnya penulis mengumpani saya dengan satu teka-teki.
“Dia tidak menyukai namanya. Dia mengubah namanya hanya karena ia lebih percaya diri dengan nama lain. Lucu sekali. Aku menyukai dia.” (hal. 285)
Namanya berinisial J, ya? Hehehe.

Jatuh cinta sendiri ini juga dialami oleh sang perempuan dalam Seorang Perempuan di Loftus Road, yang ditulis sebagai respons cerpen Sungging Raga, “Sebatang Pohon di Loftus Road”. Jenis jatuh cinta yang sama juga berlaku untuk si Kunti di Nyanyian Kuntilanak. Dalam cerpen ini, penulis mengeksplor sebagian cerita rakyat tentang sejarah kota Pontianak. Bagian lain kota ini, yaitu sungainya—Kapuas—juga muncul di dua cerpen lain, Meriam Beranak dan Bayang-bayang Masa Lalu.  Kedua cerpen ini mengisahkan dua orang wanita yang dikutuk. Dalam Meriam Beranak, sang wanita mengutuk dirinya sendiri menjadi meriam karena keindahan fisiknya membuat rusuh seisi kampung. Kecintaan akan fisik ini juga menjadi isu dalam cerpen Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah. Dalam Bayang-bayang Masa Lalu, sang wanita dikutuk menjadi perawan tua, tak kurang umurnya 709 tahun. Kutukan itu harus ditanggungnya karena ia jatuh cinta pada laki-laki dari suku yang berbeda.

Salah satu kecamatan di Pontianak juga dijadikan latar tempat dalam Bayi di Tepi Sungai Kayu Are. Dalam cerpen ini, seorang bayi disalahgunakan sebagai bukti palsu oleh Yuni, karena cintanya pada Iswandi tak berbalas. Saya mengapresiasi inisiatif penulis untuk menjahitkan pernik-pernik kota kelahirannya pada lembaran cerpennya.

Dalam Menjelang Kematian Mustafa, Mustafa jatuh cinta terhadap pekerjaannya sebagai pencabut nyawa. Sesungguhnya, jatuh cinta itu telah membuatnya membunuh sifat manusiawi dalam dirinya sendiri. Plot yang dipilih penulis cukup mengejutkan, meninggalkan akhir yang tak mudah ditebak. Jatuh cinta terhadap orang tertentu juga bisa mengerikan dampaknya, seperti jatuh cinta pada perempuan nyctophilia dalam Nyctophilia. Atau jatuh cinta pada seorang teroris, dalam Bulu Mata Seorang Perempuan.  

Bukan hanya jatuh cinta pada orang lain yang bisa membunuh orang. Jatuh cinta pada ketakutan tertentu juga bisa bikin orang lain terbunuh, meski efeknya tidak secara langsung (seperti teori butterfly effect). Dalam Langkahan, karena terlalu mencintai ketakutan akan dilangkahi oleh adik perempuannya, Mariani menyebabkan calon suami adiknya terbunuh.

Lalu, konsep kausalitas antara “cinta” dan “membunuh” ini diekspresikan secara eksplisit dalam cerpen Orang yang Paling Mencintaimu, di mana para tokohnya membunuh orang-orang yang paling mereka cintai.
Sumber di sini, diedit oleh saya.
Nampak dalam cerpen-cerpennya di buku ini, Bang Bernard gemar memperalat detail-detail simpel, mengolahnya sedemikian rupa agar efeknya mampu mendramatisasi cerita. Namun, jika saya hanya melihat gambar besar ceritanya dari jauh, tanpa meletakkan kaca pembesar pada bagian-bagian kecilnya, kadang ceritanya terlihat biasa. Bahkan, efek si detail itu nyaris tak terlihat. Seperti mitos “bulu mata jatuh” dalam Bulu Mata Seorang Perempuan dan lagu daerah “Cik-cik Periuk” dalam Nyanyian Kuntilanak. Juga, yang jadi favorit saya adalah metafora “matahari dan pohon” dalam Seribu Matahari untuk Ariyani.

Penulis sering menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama. Poin pentingnya, tokoh-tokoh “aku” ini dapat membicarakan hal-hal penting tanpa menjadi bawel. Dalam cerpen Hujan Sudah Berhenti dan Lukisan Nyai Ontosoroh, penulis mengeksplorasi cara berpikir dua anak kecil yang sama-sama menjadi saksi perceraian ayah-ibu mereka. Kadang, yang menjadi “aku” agak berbeda dengan tokoh kebanyakan. Seperti dalam Seribu Matahari untuk Ariyani, di mana si “aku” adalah seorang anak penderita keterbelakangan mental. Sang penulis mendadak menjelma jadi bocah idiot, dan caranya berkata-kata sungguh seadanya, dengan bahasa kaku dan diksi diulang-ulang.
“Aku duduk di pinggir trotoar depan sekolah. Aku menggambar. Aku duduk menggambar setiap sore. Aku menggambar sendirian....” (hal. 81)
Di samping segala keunggulan itu, saya kecewa terhadap beberapa cerpen yang mudah tertebak plotnya, seperti Nyanyian Kuntilanak, Hujan Sudah Berhenti, Langkahan, Bayang-bayang Masa Lalu, dan Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Hujan Sudah Berhenti itu akan lebih matang jika plotnya diolah lebih baik lagi, karena seperti masih ada yang menggantung di sana. Saya rasa, penulis semestinya bisa menggali lebih dalam ide ceritanya dan mengembangkannya jadi lebih menusuk.

Ada 6 cerpen yang paling mengesankan saya:
  1. Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
  2. Nyctophilia
  3. Seribu Matahari untuk Ariyani
  4. Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
  5. Menjelang Kematian Mustafa
  6. Seorang Perempuan di Loftus Road

Selain itu, ada 3 cerpen lain yang cukup bagus: Lukisan Nyai Ontosoroh, Meriam Beranak, dan Bulu Mata Seorang Perempuan. Berdasarkan hitungan sederhana ini,
saya memberikan rating 3. FYI, cerpen terfavorit saya dalam buku ini adalah Seribu Matahari untuk Ariyani. Secara keseluruhan, penulis mengembangkan ide-idenya seputar jatuh cinta secara tidak biasa dan bernuansa muram (hampir semua cerpennya memiliki akhir yang tidak menyenangkan). At last, ini adalah kumpulan cerpen yang worth-read.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets