28 February 2015

[Resensi GELOMBANG] Waspadalah, Togu Urat Telah Kembali!

Matahari ekuator selalu menghadiahi Dusun Sebujit sentuhan hangat teristimewanya. Tak luput hari ini. Jemari nakalnya menggelitiki punggung-punggung para lelaki Dayak Bidayuh yang terbuka. Hari ini adalah istimewa pula. Pertengahan bulan Juni, hari di mana upacara Nyobeng Sebujit dilaksanakan. Sejak subuh, tahap pertama rangkaian upacara ini telah dimulai dengan ritual Paduapm di Baluk, rumah adat Sebujit, yang berjinjit sombong di atas kaki-kaki kayu belian, sedemikian tinggi seolah ingin menyentuh langit berawan. Dipimpin oleh Kakek Aswan, sang ketua adat, mereka mengundang roh-roh para leluhur dan memohon izin agar upacara berjalan dengan lancar. Semua terasa biasa bagi Kek Aswan, lantaran ini bukan pertama kalinya ia memimpin ritual memandikan tengkorak manusia dengan darah babi.

Justru, hal tak biasa terjadi ketika memasuki ritual kedua, penyambutan tamu, atau Nabuai. Penyambutan dilakukan di batas desa, yaitu di Kantor Kecamatan. Para tamu adalah suku Dayak Bidayuh dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Dengan kain merah menyelubungi mulai dari perut hingga ke batas lutut, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan kalung dari rangkaian taring babi hutan, Kek Aswan memulai ritual Nabuai. Salah satu dari perwakilan tamu itu menatapnya dengan sorot tajam dan ingin tahu. Ketika Kek Aswan melemparkan anak anjing, sang tamu itu menebasnya dengan mandau hingga putus lehernya. Nyaris tanpa usaha. Berikutnya, ketika sampai pada ritual melempar telur ke dada sang tamu, telur yang diharapkan pecah itu ternyata masih utuh setelah menabrak sang tamu. Kek Aswan mulai curiga. Sembari melemparkan beras putih dan kuning, ia merapalkan mantra. Saat menatap mata sang tamu, sebuah imaji tergambar di dalam kepalanya, berupa pemandangan dari atas Sianjur Mula-mula,

Sumber di sini.
diikuti sebuah gema suara, "Kau tak lupa padaku, kan, reinkarnasi Togu Urat?"

Kek Aswan menyeringai, memperlihatkan gigi depannya yang ompong.
"Siapa yang akan lupa pada rekan Sarvara?" jawabnya melalui pikiran yang bergema.

Seringai dibalas seringai. "Tidakkah kau sadar bahwa kisah hidup kita ini ternyata ada yang menuliskan menjadi novel?" ujar sang tamu.

"Tentu saja. Sudah lama aku mengikuti kisah tulisan Dee bermarga Simangunsong itu. Tentu saja tak ada Infiltran yang lebih hebat daripadanya."

"Terlebih, bagian ketika kau kalah oleh bocah umur dua belas tahun bernama Ichon itu bukan?" ledek sang tamu sambil terkekeh.

"Bah! Sialan! Tapi kuakui, aku dibuat kagum oleh bagian pembukaan novel Gelombang yang berlatarkan acara gondang pemanggilan Raja Uti itu. Hebat sekali penggambaran yang ia gunakan! Suasana gelap malam gondang itu begitu hidup. Ketika membacanya, seolah aku masih seorang Togu Urat yang mengunjungi rumah si Ichon malam itu!"

"Pasti kau telah mengikuti alur kehidupan si Ichon lewat buku itu, Togu Urat?"

"Tentu saja! Petualangan bocah itu melanglang hingga ke Amerika sana sangat menegangkan, diramu dengan alur yang padat. Tapi beberapa kali aku mengeluh, mengapa hidup bocah ini sangat dimudahkan oleh Dee, sampai-sampai di beberapa bagian terasa mustahil."

"Benar katamu. Pun, mengapa ia menuliskan bahwa si Jaga Portibi baru muncul setelah dua belas tahun bocah itu hidup? Padahal sejak kecil, tak sekalipun ia ikut acara gondang. Sekalinya ikut, si Jaga Portibi yang adalah penjaganya itu malah muncul dan membuat kau mengendus keberadaan si Peretas itu. Ke mana saja si Portibi itu, mengapa baru muncul saat itu, dan malah mengancam hidup orang yang seharusnya ia jaga? Kalau lebih cepat, pasti kau bisa lebih cepat pula sukses meringkus si Ichon, bukan?"

"Sial, tentu saja semua itu telah ia rancang, sebagai Infiltran! Untuk memudahkan hidup si Ichon pun, ia membikinnya mudah menyelundup ke Amerika, dengan mudah bertemu Tom Irvine, sampai ia jadi jutawan di Wall Street! Tentu saja mudah, kecuali mengatasi mimpi-mimpinya itu."

"Tunggu dulu, Togu Urat. Tentang imigran gelap yang menurut kau mustahil tak ketahuan selama bertahun-tahun itu, ada contoh nyatanya, lho! Kau harus baca artikel internet sekali-kali! Di sini bisa kaubaca."

"Bagaimana bisa kubaca internet, bah? Mana ada di Dusun Sebujit Baru ini sinyal internet! Sinyal ponsel saja kami masih nebeng dari tower milik negaramu!"

Sang tamu terbahak-bahak demikian keras, hingga Kek Aswan berjengit.

"Tenang saja, Togu Urat. Tak lama lagi kau pasti sudah bisa menikmati internet. Kembali ke si Ichon, peretas itu tak sesempurna kelihatannya. Ia pun bisa jadi sangat penakut dan tidak konsisten."

"Maksudmu?"

"Si Ichon itu adalah bocah asli Batak yang memegang teguh prinsip 'we, the Batak People, are known for our hardness. Hard work, hard attitude, and hard faces', tapi ternyata, dengan mimpi buruk yang cuma begitu, ia takut setengah mati sampai menghindari tidur bertahun-tahun!"

Kek Aswan tertawa dalam hati. "Benar juga katamu. Dan, faktor penyebab mimpi-mimpi buruk itu ternyata sangat lucu: dirinya sendiri yang mencoba membunuhnya pakai bantal! Apakah si Ichon yang cerdas itu tak pernah  menyadarinya sebelumnya? Bah, seandainya aku tahu sebanyak ini dulu. Pasti aku tak akan gagal menebas bocah itu!"

"Oh iya, ada lagi hal yang membuatku kesal. Dee sering menuliskan dialognya menggunakan bahasa yang campur-campur, sehingga aku bingung. Bingung, sebenarnya para tokohnya bicara pakai bahasa yang mana," ujar Kek Aswan lagi.

"Sebagai sesama Sarvara, tidakkah kau marah saat membaca Gelombang di bagian ketika  Pemba berusaha membunuh Ichon di Lasha? Tidakkah ia kalah terlalu mudah? Seolah-olah Pemba takut mati, padahal kita bisa hidup berkali-kali!"

Dahi Kek Aswan berkerut-kerut. "Seharusnya Pemba mengajak teman-temannya di Lasha saat itu! Atau setidaknya ia bertindak cepat!"

"Benar sekali, Togu Urat! Meski si Pemba itu gagal, setidaknya kau tak akan gagal lagi. Dengan buku serial Supernova kelimanya itu, Dee telah mengungkap koneksi antarperetas, setelah sebelumnya ia selalu berteka-teki nyaris tanpa petunjuk sama sekali."

"Untuk itu, aku harus bertemu si Infiltran bernama Dee itu! Harus! Aku harus menyingkirkannya sebelum ia berhasil membimbing Ichon bertemu dengan para Peretas lainnya!"

Mereka berdua saling menyeringai sekali lagi, sebelum menyambut uluran tuak dari seorang gadis Dayak, cucu Togu Urat sendiri di kehidupan sekarang.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets