22 December 2014

Resensi ERAU KOTA RAJA - Meriahnya Erau Tumpas Galau

Judul Buku                         : Erau Kota Raja
Penulis                               : Endik Koeswoyo
Editor                                : Diaz
Tebal                                 : 204 halaman
Penerbit/cetakan                : PING!!!/Cetakan I, 2015
ISBN                                 : 978-602-296-056-0
Harga                                 : Rp 40.000,00
Rating                                 : 





Kamu pasti sudah tahu kalau kebudayaan Indonesia itu sangat kaya. Saya tidak ragu, kamu pasti juga tahu banyak festival kebudayaan yang sampai saat ini masih dirayakan oleh masyarakat dari berbagai suku. Tapi, apakah kamu bisa menyebutkan satu saja, festival kebudayaan Indonesia yang diadakan dalam skala internasional? Atau kamu pernah menonton secara langsung?

Kalau belum, langsung saja, mari kita jalan-jalan ke pulau Kalimantan. Kenapa Kalimantan? Karena saya pernah mengabdi di sana. Hehehe.

Ayo tebak, di bawah ini foto acara adat daerah mana?

Ya, benar sekali! (Saya anggap benar aja, biar kamu nggak kesal terus mencet tombol close tab halaman blog saya ini, hehehe). Nyobeng Sebujit namanya, perayaan adat suku Dayak di Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Siding, yang diadakan tiap tahun sekitar bulan Juni. Selain dihadiri oleh suku Dayak yang ada di Kalbar, perayaan ini juga diramaikan oleh orang Dayak dari Malaysia dan Brunei. Mari kita melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Timur. Ternyata, di Kutai, ada festival kebudayaan internasional, yang skalanya lebih besar, lho.


Festival Erau menjadi festival terbesar di Kabupaten Kutai, memenuhi seantero GOR Bondong Demang, Tenggarong, dengan gempita penampilan seni dan budaya. Bukan hanya budaya Indonesia, melainkan juga dari berbagai negara lain, dalam Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF). Tak aneh jika festival ini sangat ramai, lantaran nama Erau saja berasal dari kata eroh, yang artinya ramai, ribut, atau suasana yang penuh sukacita (halaman 130). Tahun 2014, Festival Erau ini diadakan pada tanggal 15-22 Juni, yang diikuti oleh 11 negara anggota Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Art (CIOFF), yaitu Belanda, Italia, Hungaria, Latvia, Rusia, Kroasia, Filipina, Korea Selatan, Kolombia, Mesir, dan Bangladesh. Keren sekali, yah?

Menari beramai-ramai di tengah stadion.

Salah satu prosesi dalam Festival Erau: Belimbur, saling menyiramkan air.
Apa kamu seperti saya, yang belum pernah menonton Erau? Kalau gitu, ini kesempatan bagus, di mana kita bisa turut hadir dalam festival itu melalui sosok seorang jurnalis majalah budaya, Kirana.

***

Baru saja putus dari Doni, pacarnya selama 4 tahun belakangan, Kirana dirundung galau. Bisa dibilang ia putus dengan terpaksa, karena pacarnya tidak kunjung menunjukkan niat untuk menikahinya di usianya yang sudah 26 tahun. Tugas meliput Festival Erau yang diutuskan oleh bosnya menjadi kesempatan Kirana untuk sejenak mengalihkan kegalauannya.

Semua hotel di Kutai sudah penuh. Kirana yang kebingungan akhirnya menginap di rumah Pak Camat Kota Raja. Suasana keramahan pedesaan yang ditawarkan keluarga Pak Camat membuatnya lekas merasa betah. Pertemuan pertamanya dengan Reza, pemuda desa yang bersikap dingin dan menyebalkan, menyulut pertemuan-pertemuan berikutnya. Ternyata, pemuda itu tak sedingin kesan awal yang ia tampilkan. Malah, Reza dengan senang hati mengajak Kirana mengunjungi tempat-tempat bagus di Kutai, dan berperan layaknya tour guide pribadi.

Waktu yang dihabiskan bersama itu ternyata menyemaikan suatu perasaan di benak Reza maupun Kirana. Tapi, ada wanita yang sudah lama dan masih setia menunggu Reza. Wanita yang telah diharapkan oleh ibu Reza untuk menjadi menantunya, Alia. Kejengkelan ibu Reza karena anaknya tidak kunjung mengabulkan keinginannya agar membuka praktik dokter membuatnya menyalahkan berbagai hal, termasuk Kirana. Alia, yang dihantui cemburu pun ikut menyerang. Keputusan harus diambil cepat. Apakah Reza orang yang tepat untuk Kirana? Atau pria itu hanya perhentian sementara dalam perjalanannya mencari cinta sejati, hmm, tepatnya calon suami?
***

Bertualang bersama Kirana mungkin akan membuatmu kagum akan sifatnya yang konsisten, mandiri, dan berani mengambil keputusan. Atau, mungkin kau jadi iri akan kemampuannya untuk cepat move on dari mantan pacar. Hehehe. Ya, dan keoptimisannya untuk menemukan cinta baru! Selama empat hari di Kutai, kau juga akan mengenal sifat konsisten tokoh Reza, pria yang berbakti pada ibunya, meski ibunya salah paham terhadapnya. Reza adalah sosok pemuda desa berpendidikan tinggi yang langka. Mengapa? Alih-alih pergi bekerja ke kota besar, ia memilih untuk tetap tinggal dan membangun desanya. Ini pasti karena jiwa nasionalismenya yang teramat tinggi. Tapi, ia juga mahir sekali bersikap dingin pada orang yang ia tak ingin mendekatinya, seperti Alia.

Mungkin kau juga akan sebal terhadap ibu Reza, Bu Tati, yang terkesan egois dan mudah salah paham. Tokoh semacam ini pasti sering kaujumpai di sinetron. Meski begitu, jangan khawatir, sang penulis nggak membesar-besarkan masalah hingga ruwet macam sinetron, kok. Malah, masalah yang dihadapi para tokoh segera diselesaikan oleh penulis, dengan solusi yang terbaik bagi semua orang.

Sedikit sebal juga terhadap Alia, gadis yang menurut saya terlalu sabar dan baik. Huh. Lain lagi dengan Doni. Jika kau ingin komitmen tinggi, mungkin sebaiknya tidak menjalin hubungan dengan pria yang tak lekas mengambil keputusan dan plin-plan seperti dia. Tokoh Pak Camat dan Ridho juga menempati peran penting dalam novel ini. Pak Camat, yang awalnya bimbang menerima Kirana di rumahnya, tapi selanjutnya ia menganggap Kirana seperti keluarga sendiri. Sementara itu, Ridho adalah tokoh yang mendistorsi cerita dengan kelakuan usilnya, yang suka menggoda cewek, juga kenaifannya. Meskipun begitu, ia terkadang bisa jadi bijak juga.
“Menurut Ridho, tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja, Bu Tati dan Reza punya kemauan berbeda.” (halaman 98)
Di awal halaman pertama, saya terkesima ketika disodori kalimat-kalimat indah dan tak biasa yang menunjukkan pertarungan batin dua tokoh. Kayaknya saya bakal menyukai gaya bahasanya, nih

Tapi, ternyata, keindahan bahasa itu makin ke belakang makin luruh. Meski tidak sepenuhnya hilang, tapi saya merasa keindahan gaya bahasa narasinya semakin klise. Meski begitu, saya mengagumi konsistensi penulis dalam penggunaan gaya bahasa santai untuk dialog. Saya juga mengapresiasi penulisan tagline di setiap awal bab, yang juga bisa dibilang merupakan rangkuman inti tiap bab yang ingin ditekankan penulis.

Eh, tapi ada pengecualian, nih, untuk gaya bahasa yang digunakan Reza untuk bicara. Saya heran, ini manusia apa buku ensiklopedia? Ia memaparkan berbagai hal seputar sejarah Erau dan tempat-tempat di Kutai dengan pilihan kata yang sama sekali tidak seperti obrolan. Seolah-olah ia sedang membacakan berita, bukannya berdialog dengan Kirana. Hmmm, mungkin penulis memang membuat tokoh Reza seperti itu.
“Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara… Dalam perkembangannya, selain sebagai upacara penobatan raja, upacara Erau juga untuk… Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional….” (halaman 113-114)
Eh, tapi, ada yang bisa mengantisipasi kejenuhan, kok: penggunaan metafora yang cukup unik. Hihihi.
“Capek dengerin penjelasan kamu yang cuma muter-muter kayak kipas.” – Kirana (halaman 18)

Meskipun judulnya Erau, tetapi inti ceritanya bukanlah Festival Erau itu sendiri, melainkan masalah tentang jodoh. Apa, sih, jodoh itu? Apa definisi jodoh = takdir Tuhan = sosok pangeran berkuda putih yang dinanti-nantikan itu masih relevan di masa sekarang? Kalau menurutmu bagaimana? Apa kau sependapat dengan Kirana, yang akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri (pertanyaan di awal cerita itu)?



Novel romansa yang telah diedit dengan cermat hingga minim typo ini cocok dibaca buat kamu yang pengin menambah wawasan tentang kebudayaan Indonesia. Selain dapat wawasan baru tentang definisi jodoh menurut Kirana, kamu juga makin cinta Indonesia—dan semoga menumbuhkan jiwa nasionalisme seperti Reza! Jangan lupa tonton filmnya yang akan tayang mulai 8 Januari 2015 ^^. Oh, iya, mungkin kamu penasaran ingin menonton Festival Erau.... Saya nggak bisa beliin tiket pesawat ke Kutai (apalagi festivalnya udah lewat), tapi saya bisa share video dokumenter berikut ini. Semoga cukup memberikan gambaran (kalau kau nggak bosan duluan nontonnya, hehe).

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets