26 August 2013

Resensi 12 MENIT "Surely, Dreaming is Believing!"



Judul Buku                        : 12 Menit
Penulis                              : Oka Aurora
Tebal                                 : xiv + 348 halaman
Penerbit/cetakan               : Noura Books/Cetakan pertama, Mei 2013
ISBN                                 : 979-602-7816-33-6
Harga                                 : Rp 54.000,00 43.200,00


Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.(halaman vii)

Saya pernah membaca buku Outliers karya Malcolm Gladwell, yang memaparkan dengan bukti-bukti, bahwa kita butuh latihan dan kerja keras selama 10 ribu jam sebelum kita benar-benar mencapai sukses. Contohnya adalah Bill Gates yang mencapai kesuksesan setelah dia mulai membuat program ketika duduk di kelas 8 pada tahun 1968. Delapan jam per hari dia berlatih membuat program, selama 7 tahun. Jika dihitung, jam berlatihnya ini sudah lebih dari 10 ribu jam!

Mungkin itulah yang juga dibuktikan oleh Tim Marching Band Pupuk Bontang Kaltim (PKT), dengan latihan rutinnya selama setahun penuh (mungkin kalau dihitung memang belum mencapai 10 ribu jam), hingga mereka benar-benar mencapai permainan yang sempurna.

Sang pelatih tim marching band PKT yang baru, Rene, adalah seorang wanita keras kepala lulusan Music and Human Education di sebuah universitas di Amerika. Curriculum Vitae-nya tak diragukan lagi. Baginya, membawa sebuah tim menyabet juara di ajang GPMB (Grand Prix Marching Band), sebuah ajang kompetisi tingkat nasional, bukanlah perkara sulit. Tak disangka, melatih anak-anak Bontang tak semudah mengajar anak-anak Jakarta. Mereka sama-sama memiliki bakat dan potensi. Hanya satu yang tak dimiliki anak-anak Bontang: mental juara. Butuh usaha ekstra keras baginya untuk meyakinkan anak-anak polos ini bahwa mereka bisa jadi pemenang.
Semakin lama berinteraksi dengan para anggotanya, membuat Rene mengenal masing-masing dari mereka. Tak jarang ia perlu memborbardir mereka dengan kata-katanya yang sepedas bhut jolokia (cabe terpedas di dunia) untuk menyadarkan mereka.

“Kamu tahu siapa yang paling kecewa kalau kamu menyerah? Bukan opa dan oma kamu. Bukan ibu kamu, yang lagi susah-susah kuliah di luar negeri demi kamu. Dan, bukan saya. Tapi, kamu!” (halaman 140)

Kalimat yang dituturkan Rene itu tetap tak dapat meyakinkan Tara. Gadis pemain snare drum berbakat itu telah terpilih menjadi anggota tim inti. Tapi, di tengah perjuangannya, ia meragu dan memilih untuk keluar dari tim. Meninggalkan lingkungan yang ia rasa tak mampu memahaminya. Rene menuntutnya terlalu lebih. Padahal Tara yang memiliki gangguan pendengaran ini sudah berusaha semaksimal mungkin, lantaran ia sering tak dapat mendengar aba-aba field commander. Bukan hanya itu. Kenangan masa lalunya tentang kecelakaan yang menewaskan ayahnya dan merusak pendengarannya itu terus menghantuinya dengan rasa bersalah. Tidak mudah untuk memilih tetap bertahan, atau mengundurkan diri saja dari tim itu. Hingga akhirnya, sebuah filosofi baru yang diberikan opanya memberinya pertimbangan: “dorong atau lepas”.

“Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,” jelas Opa, “susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insya Allah akan sampai.” (halaman 160)

Lain lagi masalah yang dimiliki oleh Elaine, seorang gadis blasteran Jepang, pindahan asal Jakarta. Bakat musiknya tak diragukan lagi. Kepiawaiannya memainkan biola, marimba, dan quarto, membuat Rene tak ragu memasukkannya ke tim inti, meskipun Elaine sebenarnya ingin menjadi field commander. Keinginannya itu terkabul ketika ia diminta menggantikan Ronny—sang field commander—yang kakinya patah akibat kecelakaan. Ketika GPMB sudah dekat, tiba-tiba Elaine mendapat pemberitahuan bahwa ia terpilih mewakili sekolahnya dalam ajang olimpiade Fisika. Ia tak perlu cemas seandainya pelaksanaan lomba itu tak bertabrakan dengan lomba GPMB. Ia harus memilih di antara keduanya. Jika olimpiade Fisika yang ia pilih, berarti ia menyenangkan papanya, Josuke Higoshi, yang menginginkannya jadi ilmuwan. Namun kata hatinya berkata lain. Musik-lah kecintaannya, dan itulah masa depan yang ia pilih. Akankah papanya mengerti?

“Yang bertanggung jawab sama masa depan Elaine itu Elaine sendiri, Pa,” sergah Elaine, “bukan siapa-siapa.” (halaman 235)

Departemen color guards juga tak kalah penting dalam sebuah tim marching band. Lahang, adalah salah satu anggota color guards, dan dia didaulat untuk menampilkan solo fouettes. Untuk berhasil mencapai 20 putaran, ia harus latihan ekstra. Tapi, kondisi kesehatan ayahnya yang makin menurun, membuat pemuda Dayak itu lebih memilih merawat ayahnya di rumah. Padahal, selama ini, Lahang selalu rajin berangkat latihan. Meski untuk mencapai tempat latihan, ia harus berjalan berkilo-kilometer, melewati jembatan berbahaya dengan rawa berisi buaya di bawahnya. Dilema menerjangnya, ketika tahu bahwa penyakit ayahnya tak bisa disembuhkan lagi. Ia harus memilih untuk menepati cita-cita almarhumah ibunya untuk melihat Monas, atau menyerah. Kecemasan melandanya, bagaimana jika ayahnya akan pergi untuk selamanya sebelum ia kembali dari Jakarta? Janji ayahnya untuk menunggu belum bisa meyakinkan Lahang, hingga Rene pun harus turut meyakinkannya.

“Bapakmu masih hidup, Lahang. Kenapa nggak buat beliau bangga padamu? Berapa pun sisa usianya.” (halaman 258)
 


Dengan piawai, Kak Oka mampu mengeksplor konflik yang dialami masing-masing tokoh sentralnya. Hingga rasanya tiap kisah itu bisa dibangun menjadi satu novel tersendiri, saking kuatnya ide si penulis. Tanpa terkesan menggurui, penulis mampu mentransferkan ide-idenya yang menginspirasi melalu kalimat-kalimat yang diucapkan para tokoh, dan juga melalui narasinya. Lima puluh bab merajut novel ini dari awal hingga lembar terakhir. Konflik yang terbangun secara konstan, tak melepaskan mata saya untuk terus menelanjangi novel ini hingga akhir. Judul bab yang menarik dan tak terdiri dari jumlah halaman yang panjang, apalagi anti typo, berhasil menjauhkan saya dari rasa bosan. Berikut ini adalah gambaran emosi saya selama membaca. Naik-turun, memang, tapi tak pernah terlalu turun.
Kisah tentang perjuangan tim marching band Bontang ini terasa sungguh nyata, disajikan oleh penulis lengkap dengan emosi yang kadang membuat saya trenyuh, menangis, hingga tertawa. Ditambah dengan istilah-istilah dan narasi yang sangat padat tentang marching band, berhasil menambah pengetahuan saya tentang seluk beluk seni musik tersebut.

Sayangnya, banyaknya istilah-istilah teknis di bidang marching band tersebut tak ayal membingungkan saya, yang adalah pembaca awam. Dicantumkannya definisi beberapa kata tersebut pada glosarium di bagian belakang, agak membantu saya, meskipun malah memecah konsentrasi membaca. Akan lebih baik jika penjelasan tentang istilah teknis tersebut diletakkan di footnote.
Walaupun penulis berhasil merangkai kisahnya dengan alur bolak-balik secara lihai, tetap saja, saya merasa bingung ketika membaca bagian awal bab 18, Konser di Atas Perahu. Butuh saya baca kembali, hingga saya ngeh, bahwa bab 18 itu flashback. Bisa jadi, ini hanya gara-gara saya kurang konsentrasi.

Satu lagi yang terasa aneh adalah penulis menyajikan dua bab khusus untuk tokoh Rob, yaitu bab 5, The Blue Devils dan bab 13, Kopi Instan. Memang, Rob adalah salah satu anggota tim inti, tapi ia bukanlah tokoh sentral, seperti Tara, Elaine, Lahang, dan Rene. Bahkan setelah bab itu, namanya hanya disebut satu-dua kali saja (kalau tidak salah). Kurang sepantasnya tokoh Rob itu mendapat porsi dua bab, karena kisahnya terasa mengambang.

Terlepas dari itu semua, penulis mampu menginspirasi saya, membuat saya makin teguh dalam menggenggam impian. Terima kasih untuk Kak Oka, yang telah membuat saya sadar kembali bahwa dreaming is believing. Bahwa “Untuk melawan arus, kalian bukan hanya butuh tubuh yang kuat. Kalian juga butuh mental yang kuat. Dan, mental yang kuat datang dari komitmen yang kuat.... Untuk terus berenang seberapa kuat pun arus yang harus dilawan. Dan... untuk terus menancapkan pandangan pada tujuan.” (halaman 134-134)
VINCEROOOO!!!


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets