7 November 2013

Resensi TILL WE MEET AGAIN "Die Erinnerungen in Vienna"

Judul Buku                       : Till We Meet Again
Penulis                              : Yoana Dianika
Tebal                                 : iv + 294 halaman
Penerbit/cetakan               : GagasMedia/Cetakan ketiga, 2011
ISBN                                 : 979-780-22-500-x
Harga buku                       : Rp 40.000,00

Tahun 2011, waktu itu saya masih duduk (berdiri juga boleh, deh J) di kelas tiga SMA, ketika saya mengikuti suatu lomba novel. Diadakan oleh GagasMedia, bertajuk 100% Roman Asli Indonesia. Waktu itu, kemampuan menulis saya belum seberapa (sekarang pun, juga belum seberapa hehe), naskah yang saya kirim memang belum merupakan wujud usaha terbaik saya. Nama saya tidak ada di daftar nama pemenang lomba itu. Saya tahu, itu akan terjadi. Rasa kecewa tak terlalu menenggelamkan saya. Yang penting, saya pernah mengajukan naskah novel saya ke sebuah lomba (nggak banyak orang bisa begitu, kan). Beberapa waktu kemudian, terbitlah karya-karya pemenang. Ada Hujan dan Teduh, juara pertama; Kau, juara kedua; Till We Meet Again, juara ketiga. Kenapa saya memilih membeli yang juara ketiga? Alasannya sesimpel ini: cover-nya bergambar biola yang menarik hati saya, dan tagline yang menjanjikan kisah ber-setting Austria, “menjemput cinta di Austria”. Saya memang sedang menyukai novel Indonesia berlatar luar negeri.

Menghampiri halaman pertama novel, saya disambut dengan judul bab yang terdengar aneh: “Esther Nikölaidi”, yang ternyata adalah nama mendiang ibu si tokoh utama, Elena Sebastian Atmadja. Dari namanya, dapat diketahui bahwa gadis berusia 17 tahun ini adalah blasteran Indonesia—dengan Austria, tentunya. Awal kisah berlatar kota Bandung, tempat di mana Elena dan ayahnya, Sebastien tinggal, setelah ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat delapan tahun lalu.

Delapan tahun lalu, ada peristiwa lain yang begitu terekam dalam memori Elena. Pertemuannya dengan seorang anak laki-laki sebayanya di Schloß Schönbrunn ketika ia sedang kalut karena kalung berliontin biola warisan ibunya hilang. Anak laki-laki bermata kelabu itu lalu menghiburnya dan memberinya kaiserschmann, panekuk buatannya sendiri, lengkap dengan saus cranberry. Lalu, Sebastien datang, dan Elena harus pergi ke Indonesia, tanpa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang baru dikenalnya itu. Sekilas, penggalan cerita masa lalu ini mengingatkan saya akan kisah serupa pada novel Winter in Tokyo karya Ilana Tan. Di sana, si gadis tokoh utama, Keiko, juga memiliki masa lalu serupa, di mana ia kehilangan kalungnya, lalu bertemu dengan seorang anak laki-laki yang membantu mencarinya.
Schloß Schönbrunn

Sudah waktunya Elena melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebastien, yang sebelumnya tidak mengizinkan putrinya bersekolah musik ke Wina, akhirnya mengabulkan keinginannya. Elena akan mengambil jurusan Seni Teater di Universitas Wina dan mengikuti kursus biola di Sekolah Tinggi Seni Musik dan Drama. Ia mewarisi gen seni yang kental dari ibunya, yang adalah seorang maestro pemain biola. Ia ingin mewujudkan mimpi ibunya untuk dapat tampil di Wiener Staatsoper, gedung opera termegah di dunia. Di Wina, ia tinggal se-apartemen dengan Kimiko, gadis Jepang yang cerewet dan childish, dan Dupont, gadis Perancis yang dewasa dan fashionista.

Wiener Staatsoper
Awal kedatangannya di apartemen, Elena dibuat penasaran oleh seorang laki-laki bermata kelabu yang mirip dengan anak laki-laki dari masa lalunya. Rasa ingin tahunya membawanya melakukan tindakan bodoh, mengintip di celah pintu apartemen seberang miliknya, tempat laki-laki itu tinggal. Sial, seorang laki-laki lain membuka pintu itu, menyebabkan Elena jatuh dan harus menahan rasa malu. Kejadian itu  malah menjadi pintu perkenalannya dengan Christopher von Schwind. Ternyata laki-laki bermata kelabu yang dikuntitnya itu, Hans Stefannö, adalah teman seapartemen Chris. Sebentar, insiden perkenalan Elena dengan Chris mengingatkan saya lagi akan satu scene yang mirip pada novel Winter in Tokyo. What’s happening here? Saya menduga, si penulis adalah salah satu penggemar Ilana Tan.
Universitat Wien

Kisah di apartemen dan sekolah musik terus berlanjut, begitu juga dengan usaha Elena untuk meraih mimpinya tampil memainkan biola di atas panggung Wiener Staatsoper. Apakah ia akan berhasil? Tentang anak laki-laki bermata kelabu itu, apakah benar Hans adalah orangnya?

Selesai membaca novel ini, satu yang membuat saya puas adalah ternyata endorsement Icha Rahmanti, salah satu juri lomba 100% Roman Asli Indonesia, adalah benar. Ia berkata, “Salut untuk riset yang dilakukan penulis sehingga naskah ber-setting di Wina ini menjadi believable, seolah penulis pernah tinggal dan mengambil sekolah musik di sana.” I do agree! Yoana Dianika berhasil mengeksplor detail setting novelnya dengan apik, menceritakan tempat-tempat wisata dan menarik di Wina seolah dia memang pernah tinggal di sana. Juga tentang seluk beluk orkestra, permainan biola, yang cukup dia kuasai juga.

Saya juga familier dengan sudut pandang orang ketiga terbatas yang digunakan Yoana. Hal ini meyakinkan dugaan saya bahwa ia penggemar Ilana Tan, dan terinspirasi oleh novelnya, Winter in Tokyo. Perlu diingat, Ilana Tan suka memakai sudut pandang orang ketiga terbatas seperti itu. Ia menceritakan sudut pandang cerita secara bergantian antara tokoh utama laki-laki dan tokoh utama perempuan. Namun, sayang sekali, Yoana agak gagal menerapkan sudut pandang ini, sehingga menjadi rancu antara terbatas atau tidak. Hal ini tampak pada halaman 175-178, di mana seharusnya sudut pandang orang ketiga terbatas milik Elena, tapi anehnya, di halaman 178 terselip pemikiran Chris.

Yang patut diacungi jempol adalah keahlian Yoana dalam hal deskripsi manusia. Dengan detail dan tak membosankan, ia menggambarkan paras orang, dan penampakan fisik lainnya. Tapi kadang, deskripsi ini terasa terlalu detail. Dan anehnya, mengapa Elena suka sekali memerhatikan bentuk daun telinga orang—sampai-sampai ia bisa mendeskripsikan bentuk daun telinga Hans dan Chris?

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa naskah ini memang layak menjadi juara ketiga (abaikan bahwa saya belum membaca novel juara pertama dan kedua, hehe), terlepas dari pandangan subjektif saya pada awal membaca kisah ini. Awalnya, saya agak terganggu karena ada beberapa bagian inti cerita yang mirip dengan Winter in Tokyo, tapi sekarang saya menerimanya. Bolehlah menggunakan karya orang sebagai sumber inspirasi.

Yoana juga menyelipkan beberapa moral values secara implisit, seperti “jangan pacaran dengan orang yang belum kita kenal sepenuhnya.” Selain itu, juga ada pelajaran menarik yang disampaikan secara eksplisit, seperti berikut ini (sebut saja ini daftar quotes favorit saya J).
Stop being afraid of what could go wrong and think of what could go right.” (hal. 258)
If you loves someone, let it go. If it comes back to you, it’s yours forever. If it doesn’t, then it was never meant to be yours.” (hal. 266)
Guys may be flirting all day. But before they go to sleep, they always think about the girl they truly care about.”  (hal. 202)
Don’t ever lose your heart to someone who doesn’t deserve it.” (hal. 201)
Juga teori-teori lainnya, tentang cinta, yang disampaikan oleh Dupont.  I love them all.
Aufwiedersehen :) (sampai jumpa)
Reaksi:

1 comment:

  1. Till we meet again.. sebuah novel romantis yang membuat saya sedikitnya mengenal tentang Wina..
    Jalan ceritanya sederhana tapi kata-kata nya membuat kita terhanyut dalam cerita tersebut.. sebuah pertemuan di masa lalu ternyata di pertemuakan kembali oleh takdir memang benar jodoh tidak akan kemana..
    Numpang promo ya jangan lupa juga buat berkunjung ke blog saya:
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal
    terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets