11 January 2014

Resensi After Rain - "Suatu Saat, Aku Berhenti Menangisimu"



Judul Buku                        : After Rain
Penulis                              : Anggun Prameswari
Tebal                                 : viii + 324 halaman
Penerbit/cetakan               : GagasMedia/Cetakan I, 2013
ISBN                                : 979-780-659-6
Harga                               : Nggak tahu, pinjam punya teman

Salah seorang teman saya yang adalah penggemar novel-novel Ika Natassa, memesan paket buku Litbox, di mana buku di dalamnya merupakan kejutan. Ternyata ia mendapat sebuah novel berbahasa Inggris dan satu novel lainnya adalah After Rain ini. Ketika melihat jajaran novel di rak buku dalam kamarnya, saya tertarik mengambil novel dengan gambar sampul menarik ini.

Awal mula membaca judulnya, yang menyeruak dalam otak saya adalah bahwa setelah turun hujan (terkadang) muncul pelangi. Tapi, masalahnya, tidak ada pelangi di gambar sampulnya (apa sih). Yang ada adalah seorang gadis membawa payung yang terlipat, hanya setengah tubuh ke bawah saja yang nampak. Apakah ini cerita tentang hujan? Tentang seorang gadis yang suka main hujan-hujanan kayak BCL di film Sunny? Eh, ternyata bukan, meskipun gambar yang terdapat di halaman pergantian bab adalah gambar tetes-tetes air hujan menimpa payung. Sama sekali bukan. Sama sekali tidak ada peristiwa tentang hujan di dalamnya (beneran). Eh, ada satu, ding, di bagian akhir buku, hehe.

Memasuki halaman prolog, saya disambut adegan tentang tokoh “aku” yang sedang berdandan 
dibantu sahabatnya, Kean. Serenade Senja atau Seren, si tokoh “aku”, sedang bersiap-siap untuk merayakan hari jadi yang ke-10 dengan pacarnya. Tapi ada yang aneh, kenapa ada rona miris yang mewarnai kebahagiaan merayakan hari jadi yang ke-10? Ternyata tokoh “aku” pacaran selama 10 tahun dengan pria beristri. Jika dibilang merebut suami orang, itu setengah benar. Karena kenyataannya adalah, Seren dan Bara sudah pacaran selama tujuh tahun sebelum pria itu menikah dengan Anggi, wanita yang dijodohkan orangtuanya. Lalu mereka tetap melanjutkan hubungan gelap itu setelah Bara menikah. Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut cablak Kean mengusik keyakinan hati Seren, apakah benar Bara adalah “the first and definitely will be the last”.
“Pernah, nggak, sekali aja, lo minta dia memilih? Lo atau istrinya?” (Kean, halaman 6).
Hati Seren tertohok ketika melihat pemandangan itu: Bara menggendong anaknya, Lily, dengan istrinya, Anggi, di sampingnya. Pemandangan itu semacam pertanda, sebelum akhirnya Bara memberinya jawaban, bahwa ia tidak bisa memilih Seren. Bukan karena Anggi, melainkan karena tidak mau menghancurkan masa depan anaknya, Lily. Seren yang patah hati makin tersiksa lantaran ia harus melihat sosok Bara setiap hari di kantor, tapi tak dapat menyentuhnya. Malah, pria itu seolah menganggapnya tak ada. Akhirnya, Seren memilih untuk pergi, mengundurkan diri dari kantornya, dan melamar kerja menjadi guru Bahasa Inggris di SMA Pelita Nusantara, tempat Nola, keponakan Kean, bersekolah. Dia diterima bekerja selama tiga bulan, menggantikan seorang guru yang sedang cuti melahirkan.

Di sekolah itu, ia bertemu lagi dengan seorang pria bermata tajam seperti elang, yang penampilannya acak-adul seperti seorang musisi. Sebelumnya, ia pernah bertemu pria itu di acara ulang tahun Nola. Seren tak menyangka, ternyata nama pria itu adalah Elang, dan ia guru musik di SMA yang sama. Gosip merebak. Katanya, Elang pernah pacaran dengan Miss Ema, sang kepala sekolah, karena wanita itu memilih untuk menikahi pria yang dijodohkan keluarganya.

Seren, yang selalu menyimpan kesedihan, kegalauan, dan harapan sia-sia akan Bara, penasaran kenapa Elang memilih untuk bertahan bekerja di tempat yang sama dengan orang yang pernah meninggalkannya. Sedangkan, Seren memilih untuk lari, keluar dari kantornya, lantaran tak tahan melihat Bara ada di dekatnya namun tak tersentuh. Berbagi pengalaman sakit hati yang pernah dialami, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Saat itulah, Bara tiba-tiba muncul kembali dan berkata akan menceraikan Anggi. Sebagai sesama wanita, Seren tak bisa membiarkan Bara melakukan hal itu, karena ia tahu Anggi sedang hamil lagi, dan sampai berniat menggugurkan kandungannya karena ia tahu ada wanita lain yang dicintai suaminya. Perlahan, Seren merasakan keanehan, di mana ia tidak lagi berharap akan Bara. Apakah itu karena istrinya hamil lagi, atau karena Seren telah membuka hati untuk Elang?
“Lo pernah dengar hukum kekekalan energi? Cinta itu energi, Seren. Lo nggak bisa menciptakan cinta dalam hati lo, sama seperti lo nggak bisa menghancurkannya. Energi itu berubah bentuk. Dikonversi. Perasaan itu dikonversi, dong.” (Kean, halaman 194-195).
Topik filosofi dan sains cinta yang diangkat Kean itu membuat Seren berpikir, mungkin ia harus mengubah energi patah hatinya dengan mulai mencintai orang lain. Tapi, siapa? Siapa orang itu? Elangkah? Seren sampai di satu titik, di mana ia harus memutuskan, haruskah ia menerima Elang yang mengulurkan payung padanya di tengah derasnya hujan kesedihan akibat hati yang tersakiti, atau kembali ke tengah hujan—kembali pada Bara dan mengulang kesalahan yang sama.

Cerita ini cerita biasa. Tentang hati terluka berdarah-darah, belum kering dan harus terluka lagi hingga susah move-on. Apapun yang terjadi di sekelilingnya mengingatkan akan sang mantan kekasih. Di luar, senyum dan keceriaan terpasang menjulang untuk menyembunyikan kesedihan yang begitu menyesakkan di dalam. Saya pernah mengalaminya, baru saja malah (malah curhat). Saya setuju sekali dengan konsep analogi es krim yang dianut Elang sehingga ia bisa bertahan dan melanjutkan hidup.
“Nah, aku tetap menjaga keinginan hati, tapi juga masih pakai logika. Harus tunggu sembuh dulu, baru bisa makan es krim. Ketika sudah sembuh, niscaya nggak ingin es krim lagi.” (Elang, halaman 306).
Cerita ini jadi tidak biasa karena Mbak Anggun menyelipkan tips supaya bisa cepat move-on dari cinta lama: seimbangkan hati dan logika. Eh, bukan, maaf. Cerita ini jadi tidak biasa karena Mbak Anggun bercerita, bukan memberitahu. Dengan sukses Mbak Anggun menggunakan teknik “show, don’t tell”. Mungkin kalian pernah dengar, cos itu salah satu pelajaran menulis populer yang diangkat oleh A. S. Laksana (kalau nggak salah, semoga benar). Misalnya kayak begini:
1.    Daripada menulis “Kupakai sepatuku.”, Mbak Anggun lebih memilih menulis “Kupakai stilleto beledu hitam bertali pengait, bertabur kristal bening melingkari pergelangan kaki.” (halaman 3)
2.    Atau ketika Mbak Anggun mendeskripsikan sosok Bara ketika Seren pertama kali melihatnya. “Dari sedan Baleno biru, keluar sesosok tinggi kurus dengan rambut cepak. Kacamata hitam menaungi sepasang matanya. Sejenak aku menahan napas. Dari penampilannya dengan kaus hitam polos dan jeans belel serta sepatu keds, aku menebak-nebak berapa usianya.” (halaman 11-12)
3.    Juga saat Mbak Anggun menggambarkan perasaan tersipu malu. “Aku dan dia ada di sana. Di sebuah balkon sepi di rumahnya. Masing-masing menggenggam kaleng Coca Cola dingin. Bekunya sungguh menusuk-nusuk tangan, tapi tak sanggup meredakan hangat di pipiku. Hangat oleh pantulan matahari yang sebentar lagi pulang, atau hangat oleh sipu malu, entahlah aku tak tahu.” (halaman 30)

Selain itu, nama tokoh yang unik juga selalu menarik hati pembaca, seperti Serenade Senja—“gadis cantik yang lahir saat senja dan suara tangisnya merdu seperti alunan serenade” (halaman 31). Nama Elang pun unik, seolah menegaskan tatapan mata tajamnya, Elang Mahardhika—“burung elang yang terbang bebas” (halaman 261). Bicara tentang tokoh, bagi saya, tokoh Kean ini sangat menarik. Dengan gaya bicara blak-blakannya, tapi penuh kasih sayang, ia mampu menyadarkan Seren akan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Saya selalu suka dengan tokoh seperti ini, sebut saja tokoh Dinda dalam “Antologi Rasa” karya Ika Natassa.

Namun, cerita ini belum bisa lepas dari adegan kebetulan, seperti ketika Seren secara kebetulan bertemu dengan Bara dan keluarganya di sebuah toko pakaian. Juga ketika Seren tak sengaja bertemu dengan Anggi di rumah sakit. Tapi, yang untuk membangun plot cerita, terkadang memang adegan kebetulan itu sangat membantu.

Mbak Anggun berhasil menyajikan olahan cerita yang ringan, tapi tidak terlalu ringan hingga diabaikan. Malahan, ia menaburkan pesan-pesan sederhana lewat analogi dan perumpamaan, tentang patah hati dan memulai hubungan yang baru. Saya kagum akan kemampuan Mbak Anggun menceritakan pengalaman patah hati Seren dengan begitu nyata, membumi, akurat; tanpa lebay dan dibuat-buat. Halaman demi halamannya mampu membuat saya berhenti sejenak dan merenung, lalu mengangguk dan berujar, “Bener banget. Aku juga pernah mengalaminya.” Btw, saya juga suka mendengarkan lagu-lagu Secondhand Serenade yang kebanyakan gombal tapi romantis. Dan saya juga suka lagu yang diciptakan Elang untuk Seren. Sederhana, tapi indah dan menghanyutkan, seperti kisah bikinan Mbak Anggun ini.
“Serenade Senja”
Aku menemukanmu di sana/Tersenyum dan berbinar
Seakan seisi dunia percaya/Kau gembira, kau bahagia
Matamu mata kesedihan/Mataku pun dulu begitu
Jadi, siapa yang mau kau tipu

Di senja ini, duduklah di sini/Rebahkan kepala, dan isi hati
Matahari berjanji kembali/Jadi, cukup, jangan tangisi
Ada aku di sini, menemani. (halaman 323)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets