11 January 2014

Resensi ANTOLOGI RASA - "A Jar of Emotions"



Judul Buku                        : Antologi Rasa
Penulis                              : Ika Natassa
Tebal                                 : 344 halaman
Penerbit/cetakan               : Gramedia Pustaka Utama/Cetakan kedelapan, Februari 2013
ISBN                                : 978-979-22-8809-4
Harga buku                      : (Nggak tau, minjem temen, hehehe)

Kenapa manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya? Sebenarnya apa yang jadi inti ciri kekhasan manusia itu? I can tell you one word. Just one word makes a difference: EMOTION. Setuju, nggak, kalau saya bilang manusia itu makhluk yang lebih condong ke “emosional” daripada “rasional”? Contohnya saja, ketika sangat marah, saya pernah banting ponsel saya hingga casing-nya pecah. Saat itu, akal sehat saya sedang terpinggirkan jauh ke dalam batok kepala, terhalau oleh emosi. Kalau saya memakai logika, saya nggak akan banting ponsel. Ngapain, kan, merusak barang sendiri?


Emosi yang bercampur aduk itu membentuk sebuah “antologi rasa” yang mewarnai kehidupan. Kenapa cerita tentang tiga sahabat yang bekerja di sebuah bank—Keara, Harris, Ruly—jadi menarik? Karena hubungan persahabatan mereka penuh emosi. That’s all. Keara, cewek menyenangkan yang bisa mengakrabkan diri dengan siapa saja dan hobi fotografi. Tapi, sesungguhnya cewek penggemar John Mayer ini tak selalu seceria kelihatannya. Apalagi kalau bukan karena masalah cintanya yang bertepuk sebelah tangan? Ia sudah tiga tahun cinta mati pada Ruly, tapi takut merusak persahabatan mereka, so she wasted her life loving him.
“The sun rises and sets, the day passes, and you follow the bent of your inclination to a certain extent, you have no conception of the quantity of miserable feeling that you pass through me in a day.” (Keara, halaman 199).
Secara kasat mata, gaya hidup Keara dan Ruly berbeda, tapi itu malah membuat Keara menyukai Ruly.
How can we be so different and feel so much alike, Rul?” (Keara, halaman 40).

Sementara Ruly, sosok pria dewasa matang dan tenang, meskipun “nggak gaul”, malah cinta mati pada Denise, teman kantor, yang sudah bersuami, tapi pernikahan yang tidak bahagia.
Lain lagi dengan Harris, si playboy yang hobi senang-senang. Tapi, ada satu yang paling ia senangi.
“Senang definisi gue: elo (red.: Keara) tertawa lepas.” (Harris, halaman 33).

Nonton balapan F1 adalah hobi terbesarnya, selain mainan cewek. Bener banget, quote yang menyatakan bahwa cowok bisa bermain-main dengan banyak cewek, tapi yang benar-benar mereka pikirkan hanyalah satu cewek. Itulah Harris. Semua cewek yang dipacarinya itu semata-mata untuk mengalihkan kepedihan hatinya karena cintanya pada Keara bertepuk sebelah tangan.
“Gue mencintai lo seperti itu, Key. The more you make me suffer, the more I find I love you.” (Harris, halaman 333).

Parahnya, Keara memutuskan persahabatan setelah sebuah insiden yang terjadi di kamar hotel waktu mereka nonton F1 di Singapura.

Kehidupan berlanjut. Hubungan Keara dengan Ruly menjadi lebih dekat setelah Keara memutuskan persahabatan dengan Harris. Di samping itu, Dinda, sahabat Keara, juga selalu setia mendengarkan curahan hatinya dan memberi saran-saran. Apalagi ketika Keara jadian dengan Panji, adik ipar Dinda, dan Keara hanya berniat main-main saja dengannya. Ketika akhirnya Keara jadian dengan Ruly—satu pertanyaan muncul: apakah mereka benar-benar bahagia? Let me ask Keara, is that love or obsession? What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover? Lalu, bagaimana dengan Harris? Karena Keara juga nggak mungkin menghindari Harris terus-menerus. Di saat hatinya galau karena Ruly, Harris biasanya adalah sosok yang bisa membuatnya tertawa dan merasa nyaman.

Saya suka tokoh Dinda. Seorang wanita sekaligus ibu yang “gaul” dengan kepribadian bebas, tapi selalu jujur, realistis, dan mengatakan kebenaran tanpa ampun, melalui saran-sarannya pada Keara. Kebenaran itu harus diungkapkan meski menyakitkan. Beberapa quote menohok di novel ini adalah perkataan Dinda.
“Keara, do you even know what you want?” (halaman 212).
“You know, Key, in the end, you just gotta pick your happiness.” (halaman 221).

Lihatlah cover putih simple novel Ika Natassa ini, yang kebetulan dirancangnya sendiri, dengan sebuah gambar jantung penuh tulisan berbagai jenis “rasa” atau “emosi”. Luse. Trust. Affection. Misery. Angry. Happy. Fear. Longing. Tepat seperti inilah yang namanya “antologi rasa”, yang diceritakan secara dinamis dan menarik oleh Ika, dengan sudut penceritaan masing-masing tokoh sentral. Saya suka bagaimana dia menjelma menjadi tiap tokoh dengan begitu piawainya, juga gaya berceritanya yang sering menyelipkan perumpamaan-perumpamaan, juga cerita dari buku atau film yang pernah dibaca si tokoh. Saya paling suka cerita “This is Water” (jadi pengen cari buku David Wallace itu :D).

Yang saya kagumi dari Ika adalah bagaimana dia bisa menceritakan kisah metropop tentang cinta segitiga, cinta bertepuk sebelah tangan, yang tampaknya biasa-biasa saja itu bisa jadi cerita yang asyik dibaca dan nggak membosankan sama sekali. Diperkaya dengan quotes yang menendang dengan telak untuk siapa saja yang merasa (hehehe). Bahkan bisa disebut novel ini adalah buku kumpulan quotes dan istilah-istilah gaul khas metropolitan. Hahaha. Dan juga, buku ini anti typo, great!

Satu yang disayangkan, terlalu banyak bahasa asing yang digunakan Ika. Untuk pembaca dengan level inteligensi cukup tinggi, novel ini sangat seru. Tapi, bagi segmen pembaca tertentu, mungkin ini menjadi suatu kendala.

But overall, sekali baca novel ini, bakal kecanduan pengen baca ulang! Pengen melabelin tiap quote yang disuka! Pengen baca novel Ika lainnya! Pengen kepoin twitter para tokohnya! Jadi, hati-hati dan sebaiknya baca dulu “general warning” yang ditulis Ika di cover-nya.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets