6 October 2014

[REVIEW FILM "THE MAZE RUNNER"] Minho-ya, Saranghae!

I Was Provocated Easily

Keinginan untuk menonton “The Maze Runner” mendadak bercokol di sistem otak saya setelah menguntit kicauan Kak @benzbara yang malam itu meresensi film tersebut. Langsung, sisi KEPO saya bangkit dari hibernasi, menyuruh saya mencari info seputar “The Maze Runner”. Ini salah satu kebiasaan saya, sebelum menonton film atau membaca buku, untuk mencari reviewnya. Di IMDB, rating film ini 7,3. Di Rotten Tomatoes 69% (kalau tidak salah, dan kalau belum berubah, hehe). Hmm, cukup baguslah. Apalagi rasa haus saya akan film YA dystopia sudah tak tertahankan. Akhirnya, saya setuju otak saya terprovokasi. Tiga hari kemudian, seorang teman mengajak saya menonton tanpa biaya (alias dibayarin. Thanks to SS ;^)).

His Name Was Thomas

Pertama kali layar besar XXI menyuguhi saya sebuah scene gelap, dan suara tarikan napas keras--seperti setelah tak bisa bernapas sekian lama--mengagetkan saya. Seorang laki-laki terkurung dalam sebuah kotak berjeruji besi, terangkat layaknya kotak lift. Bayangan-bayangan berputar di ingatannya. Lalu kotak sampai di atas dan pintu terbuka, tangan-tangan menariknya keluar.

Refleks, laki-laki itu menolak didekati oleh orang-orang yang menyambutnya dan berlari kencang menghindar. Orang-orang malah menertawakannya.
"Kau sepertinya cocok jadi Pelari."
Ia bingung mendengar kata "Pelari", tapi Alby--sang pemimpin kelompok--tidak menjelaskannya lebih lanjut.

Ia tak ingat sama sekali siapa dirinya dan mengapa ia ada di tempat itu. Di sekitarnya terdapat padang rumput luas, ada pondok-pondok dari kayu (atau jangan-jangan bambu). Orang-orang menyebut tempat itu The Glade.
"Kau akan ingat namamu dalam dua hari. Semua orang pun mengalaminya."
- (kalau tidak salah) Newt
(Maaf, saya tidak ingat dengan tepat kalimat-kalimat yang diucapkan para tokoh dan siapa yang mengucapkannya.)

Laki-laki itu disambut oleh Alby, yang lalu mengenalkannya pada Chuck. Chuck--remaja gempal berambut keriting nan unyu--ini adalah orang yang paling terbuka menerima kehadirannya di The Glade.




Newt—pertama kali mendengar nama cowok unyu itu, saya langsung ingat akan nama salah satu ujian sekolah di Hogwarts--sang wakil pemimpin kelompok itu pun juga cukup baik menerimanya.
Malam itu, ketika terdengar suara menggelegar seperti kotak besi raksasa digeser, Newt menceritakan padanya tentang labirin. Setiap pagi, pintu labirin itu terbuka, dan para Pelari menjelajah ke dalamnya, dan harus sudah keluar dari sana sebelum gelap, jika tak ingin terkunci di dalam dan terbunuh oleh Griever. Setiap malam, labirin itu dapat berubah bentuk.

Laki-laki itu teringat siapa namanya setelah dihantam oleh Gally--dalam adu kekuatan--dan kepalanya terbentur tanah. Ini adegan yang cukup lucu menurut saya, ketika Gally menatapnya penuh emosi, sementara dengan tatapan kosong ia bangkit dari jatuhnya dan mendadak berteriak penuh semangat.
"Thomas! Thomas! Namaku Thomas!"
Setelah itu, dalam tidurnya, Thomas sering dihantui bayang-bayang kejadian sebelum ia dikirim ke The Glades, dan suara seorang wanita yang terus berujar, "Wicked is good."
Suatu pagi, ketika Thomas hendak mengambil pupuk di hutan, tiba-tiba seseorang menyerangnya. Orang itu adalah Ben, yang ternyata baru kembali dari labirin dan disengat Griever.
"Semua ini salahmu!" - Ben pada Thomas.
Untuk kebaikan semua orang, karena sengat itu bisa menular dan berbahaya, Ben dihukum masuk ke dalam labirin. Melihat itu, Thomas sangat terguncang. Belum lagi ketika Alby juga tersengat, dan Minho (si Pelari utama) tak berhasil menyeret Alby keluar sebelum pintu tertutup. Thomas, entah terdorong oleh rasa persaudaraan, rasa ingin tahu, atau rasa berani, berlari masuk melewati celah pintu yang makin sempit hendak tertutup. Itulah pertama kalinya Thomas melihat sendiri bagian dalam labirin dan bertemu dengan Griever. Bahkan ia bisa membunuh seekor Griever dan Minho mengambil sebuah tabung sensor dari otak Griever itu. Berikutnya, Thomas diangkat sebagai Pelari, dan bersama Minho, ia menemukan suatu jalan di Section 7 yang belum pernah ditemui Minho (padahal ia sudah menjelajahi seluruh isi labirin itu selama tiga tahun). Dari situlah, sebuah harapan untuk dapat keluar dari The Glade muncul kembali.

Keadaan menjadi kacau begitu kedatangan seorang penghuni baru, seorang gadis, dan itu satu-satunya gadis di The Glade. Gadis itu membawa pesan di kertas di genggamannya, "She‘s the last ever."

Orang-orang menjadi panik, karena jika benar, gadis itu penghuni terakhir, maka kotak berisi bahan makanan dan keperluan hidup lainnya yang biasanya dikirim bersama peghuni baru takkan datang lagi. Apalagi ketika gadis itu terus menyebut nama Thomas, seolah mengenalnya. Sebagian besar orang jadi menyalahkan Thomas. Belum lagi ketika suatu malam tiba-tiba pintu-pintu labirin terbuka dan para Griever menyerang. Mereka harus memutuskan, hendak tetap tinggal terkurung di Glade selamanya, atau mengambil risiko bunuh diri dengan masuk ke labirin dan berusaha menemukan jalan keluar.
"Kau sudah berada di sini selama tiga tahun dan tidak melakukan apapun. Aku baru tiga hari di sini dan sudah menemukan kemungkinan jala keluar." - Thomas kepada Gally, ketika Gally terus menentangnya karena menganggapnya pendatang baru yang sok senior.

What I've Learned About The Story

Agak susah memang, mengikuti jalan cerita sebuah film dystopia (apalagi trilogi) tanpa persiapan, tanpa membaca bukunya terlebih dulu. Banyak hal yang belum saya mengerti, karena film memang tak bisa menjelaskan semua yang ada di buku. Namun, dari menonton film ini, saya dapat mempelajari ceritanya.
1.       Alby adalah orang pertama yang dikirim ke The Glade. Orang-orang muda dikirim ke sana dalam waktu 3 tahun, dan Teresa, satu-satunya perempuan di sana, adalah yang terakhir. Tidak ada yang tahu dari mana mereka dikirim. Tapi, siapa yang mengirimnya, mereka tahu dari simbol WCKD yang selalu terdapat di barang-barang kiriman, dan bahkan di tabung sensor penunjuk arah di otak Griever.

2.       Selama tiga tahun hidup di The Glade, bisa dibilang mereka tidak melakukan apapun untuk keluar dari sana. Mungkin mereka terlalu menerima keadaan, atau terlalu takut. Tapi, prestasi Minho dan para Pelari lainnya (tapi, paling berjasa Minho, sih) adalah berhasil memetakan seluruh bagian labirin. Bahkan, ia hafal setiap bagiannya dan pola perubahan labirin. Sebenarnya, dari seluruh bagian yang telah terpetakan, Minho tahu, tidak ada jalan keluar. Tapi, Alby melarangnya memberitahu orang-orang, dengan mengatakan bahwa belum semua bagian terpetakan. Dengan begitu, mereka tetap punya harapan untuk bisa keluar. Jadi, selama ini mereka ngapain? Yang melakukan usaha untuk keluar dari sana hanyalah para pelari, sementara para penghuni lainnya seolah sudah menganggap Glade sebagai rumah mereka, salah satunya adalah Gally. Inilah contoh orang yang enggan keluar dari zona nyaman.

3.       Sengatan Griever, selain berbahaya, dapat merangsang munculnya ingatan-ingatan yang sebelumnya terlupakan oleh si korban. Seperti Ben, yang langsung ingat siapa Thomas sebenarnya dan langsung menyerangnya. Juga Alby, yang bersedih setelah disengat dan mengingat semua tentang Thomas. Thomas sendiri pun menjajal membuat dirinya sendiri tersengat demi mengingat semuanya. FYI, menurut saya, Griever adalah robot yang kepalanya terbuat dari jaringan oganik. Di dalam kepalanya terdapat otak berupa tabung berisi sensor-sensor.

4.       WICKED adalah suatu lembaga atau apa sebutannya, yang merancang dan mengendalikan semuanya. Di masa depan, bumi hangus oleh matahari, dan banyak terjadi bencana yang memorakporandakan muka bumi. Terutama merebaknya penyakit Flare (kalau tidak salah) yang disebabkan oleh virus yang berbahaya, mematikan, dan menular. Belum ditemukan obat penyembuh maupun vaksinnya. Hingga suatu saat muncul generasi yang kebal terhadap virus tersebut, dan WICKED berusaha untuk meneliti dan mempelajari mereka. Selain itu, untuk menyiapkan generasi itu agar mampu bertahan hidup di bumi yang makin kejam, WICKED mengirim mereka ke The Glade dan menguji mereka melewati labirin. Kalau di Hunger Games, organisasi ini semacam Capitol. Kalau di Divergent, semacam The Bureau. Kalau di Resident Evil, semacam Umbrella.

What Pleased Me The Most

1.       EFEK SUARA. Kalau misalnya cuma ada dialog antartokoh (efek suara dimatikan), saya akan bosan dan langsung tertidur beberapa menit setelah film dimulai. Efek suspense hampir seluruhnya dibangun oleh efek suara yang mengagumkan. Kecanggihan labirin yang bisa berubah bentuk digambarkan dengan suara menggelegar tembok batu raksasa itu ketika bergeser. Kengerian Griever pun berhasil diserap penonton berkat bunyi menggerungnya. Beberapa kali saya terlonjak akibat efek suara yang menggelegar.
2.       AKTING TOKOH. Akting Dylan O'brien sebagai Thomas sangat menjiwai karakternya yang panik dan heboh saat pertama kali tiba di The Glade. Rasa ingin tahunya yang meluap-luap pun tercermin dengan bagus dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada bicaranya yang tak sabaran.
3.       KERAGAMAN KARAKTER. Penghuni The Glades terdiri dari orang-orang dari berbagai ras dan bangsa di dunia. Saya suka bagaimana James Dashner menjadikan orang Asia sebagai pelari utama (Minho). (Sorry, no effense). Mungkin ini juga sebagai gambaran bahwa negara-negara Asia sedang dalam proses menjadi negara-negara maju di dunia.

4.       BAGIAN DALAM LABIRIN yang menampilkan kesan terabaikan, mencekam, sekaligus futuristik nan mengagumkan. Terabaikan dan mencekam karena gelap dan tembok serta lantainya yang terlihat lusuh (yang membuat saya jadi bertanya-tanya, labirin itu dibangun sejak kapan?). Futuristik, berkat sistem otomasi yang ada di dalamnya. Saya tercengang memikirkan bagaimana caranya membuat tembok batu sebesar itu bisa bergerak secara otomatis--dari mana sumber energinya? Jangan-jangan temboknya merangkap panel surya.
5.       TOKOH MINHO. Pertama kali mendengar namanya, otak saya langsung merujuk ke Minho Shinee. Hahaha. Di mata saya, tokoh Minho keren sekali. Selain pelari tercepat dan terkuat, ia juga punya daya ingat kuat dan cerdas. Setelah tiga tahun berlari di setiap bagian labirin, ia hafal tiap jalan dan bagian di dalamnya. Ia juga hafal pola perubahan labirin yang terjadi tiap malam. Bahkan, ia telah berhasil memetakan seluruh isi labirin. Salah satu sifat Minho yang menonjol adalah sarkastik, dan berhasil bikin semua orang lelah menanggapinya.
“It’s kind of hard ask a dead guy what he did wrong.”

Minho: Shouldn’t someone give a pep talk or something?
Newt: Go ahead.
Minho: Be careful. Don’t die.
Newt: Great. We’re all bloody inspired.

“You’re the shuckiest shuck-faced shuck there ever was.”

“Geez shank, you got big feet. We could go canoeing in these things.”
  

What Were "Shouldn't Be Like That"

1.       PELARI LABIRIN YANG JARANG BERLARI. Bagi saya, jalan cerita film ini kurang menceritakan judulnya. Bagaimana tidak, banyaknya adegan berlari dalam labirin bisa dihitung pakai jari. Jujur saja, indera saya mengharapkan lebih banyak adegan lari dalam labirin. Bagian dalam labirin pun kurang dieksplorasi--ketika berlari dari gerbang masuk, tiba-tiba saja mereka sudah sampai di bagian tengah labirin. Yang dipamerkan secara detail cuma Section 7.
2.       ANTI-CEWEK? Kenapa penghuni The Glade laki-laki semua, kecuali Teresa, si penghuni terakhir?
3.       CHUCK KURANG COCOK JADI PENGHUNI THE GLADE. Unyu bingit si Chuck itu! Sementara para penghuni lain berwajah serius, si Chuck menampilkan kesan yang tidak cocok dengan sekitarnya, akibat wajah gemuk nan menggemaskannya.
4.       CUMA GRIEVERS? Tunggu dulu. Sebelumnya, saya kira akan menemui berbagai makhluk dan rintangan di dalam labirin. Sebut saja, semacam mesin pencacah manusia di novel Mockingjay, misalnya (mentang-mentang mau muncul di bioskop sebentar lagi, hehehe). Eh, ternyata di dalam labirin cuma ada Grievers, yang bahkan langsung mati dengan sekali gencetan tembok labirin. Oh iya, plus pintu-pintu besi yang keren di bagian 7.
  1. MEREKA BISA BANGUN SEGALA MACAM, KENAPA TIDAK MEMBANGUN ALAT, MENARA, TANGGA, ATAU APA, KEK, BUAT MEMANJAT TEMBOK LABIRIN? Oke, bahkan mereka mau repot-repot mengukir nama mereka di tembok labirin—berarti tembok batu itu cukup empuk, dong? Hehehe.


Meskipun demikian, saya puas menonton film ini, yang mampu membuat pandangan saya tak teralihkan dari layar bioskop. Sukses bikin jantung saya dangdutan dan terlonjak-lonjak di banyak adegan. Bagian akhirnya bikin saya gemas--agak mirip “Divergent”, menurut saya. Saya akan baca bukunya sebelum "The Scorch Trial" muncul di layar lebar!
Reaksi:

2 comments:

  1. Maaf, sebelumnya udah baca buku TMR belum ya? Kok rasanya review ini nge-judge based on the movie aja tanpa pertimbangan bukunya hehe. Sorry, aku jadi agak senewen baca 4 poin di What Were "Shouldn't Be Like That". Pertama, please, buku ini awalnya dianggap bakal meledak banget karena keunikannya pakai karakter serba cowok. Bukan berarti anti cewek. Baca dulu triloginya. Kedua, bayangin aja deh kalau semua glader wajahnya serem. Bisa2 jadi the expendables, bukan the maze runner. Ketiga, cuma grievers?? Baca dulu bukunyaaa... Justru ini YA distopia yg offer makhluk2 aneh tiada henti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe maaf, Mbak, saya kan sudah nulis di atas (kalau Mbak baca bener-bener, sih), "Agak susah memang, mengikuti jalan cerita sebuah film dystopia (apalagi trilogi) tanpa persiapan, tanpa membaca bukunya terlebih dulu. Banyak hal yang belum saya mengerti, karena film memang tak bisa menjelaskan semua yang ada di buku."
      Saya memang belum baca bukunya, dan ini memang murni REVIEW FILM (judul artikel saya pun begitu, kan?). Ntar, kalau saya sudah baca bukunya, saya akan bikin artikel lagi, judulnya "film vs buku", kayak artikel saya yg lain, yg nge-review film divergent vs bukunya. Oke, Mbak? Sip? Hehehe

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets