12 August 2013

Resensi SATIN MERAH "Aku Cuma Ingin Jadi Signifikan"



Judul Buku                            : Satin Merah
Penulis                                  : Brahmanto Anindito dan Rie Yanti
Tebal                                    : xiv + 314 halaman
Penerbit/cetakan                   : Gagasmedia/Cetakan pertama, 2010
ISBN                                   : 979-780-443-7
Harga                                   : Rp 37.000,00

Pertama kali membaca judul novel ini, saya membayangkan kain satin berwarna merah, yang mungkin nanti  akan muncul di dalam alur cerita. Apalagi cover depannya juga berhiaskan gambar abstrak semacam gumpalan kain berwarna merah. Saya tercengang begitu sampai di sekitar ¾ bagian novel, pada bab 62 yang menjelaskan secara eksplisit apa itu “satin merah”. Beneran tak terduga, jauh sekali dari persepsi saya, seperti jika Anda mendengar frasa “white collar” dan mungkin langsung muncul bayangan kemeja berkerah putih, padahal arti sebenarnya adalah “pekerja kantoran”. Hehe.
Beralih ke sub judulnya, yang sungguh menarik, “Aku cuma ingin jadi signifikan.” Signifikan yang bagaimana? Jadi orang penting yang seperti apa? Pertanyaan ini terjawab oleh paragraf pertama sinopsis pada cover belakang, “Satu-satunya cara untuk membuat Nadya merasa dirinya berharga dan ‘terlihat’ adalah dengan selalu berprestasi. Tapi seiring waktu berlalu, dia mendapati sinarnya kian memudar. Nadya tak ingin terlupakan. Dia merasa harus membuat gebrakan prestasi untuk membuat pujian dan tatapan kagum kembali tertuju padanya.”
Novel ini diawali dengan ditemukannya dua mayat sastrawan Sunda di pekarangan dan bak mandi rumah salah seorang dari almarhum itu. Jelas sekali bahwa mereka korban pembunuhan. Tapi, siapa yang melakukan perbuatan keji itu? Dan apa motivasinya?
Nindhita Irani Nadyasari atau biasa dipanggil Nadya adalah seorang murid kelas 12 SMA Priangan 2 Bandung. Ia termasuk ke dalam jenis murid yang study-oriented, selalu menyabet predikat ranking satu selama ia sekolah. Tapi adiknya, Alfi, makin bertumbuh menjadi seorang anak yang langganan mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba dan tak jarang meraih juara. Hal itu menenggelamkan kecemerlangan Nadya, lantaran prestasi yang ia raih membosankan, itu-itu saja, yaitu menjadi ranking satu di kelas. Ditambah lagi dengan omelan-omelan dari orangtuanya yang sering membandingkannya dengan adiknya, makin membesarkan api kemarahan Nadya.
Datanglah satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu berprestasi. Untuk kembali merebut perhatian orang-orang di sekitarnya. Lomba siswa teladan se-Bandung-Raya itulah yang ia manfaatkan baik-baik untuk menyedot pujian-pujian dari seantero Bandung jika ia berhasil menjadi juara. Sampailah ia pada seleksi tahap ketiga, yang mengharuskannya menulis karya ilmiah dalam jangka waktu tiga bulan. Berbagai topik karya ilmiah diluncurkan oleh teman-temannya, semacam global warming, tapi ia butuh tema yang menantang.
“Sebuah tema yang tidak banyak diketahui orang, terutama oleh para kompetitornya di lomba ini. Namun, tema itu juga harus siginifikan...” (halaman 8)
Lantas, tanpa sengaja, suatu topik unik muncul di benaknya: sastra Sunda. Topik ini menimbulkan komentar negatif nan skeptis dari teman-temannya, Diana dan Valen, yang menyebabkan hubungan mereka merenggang. Hanya Echa-lah yang tetap setia menjadi temannya hingga akhir. Bahkan papanya juga tak menyetujuinya.
“Kamu ini ya, Sastra Sunda aja dipikirin! Ngapain sih, mau-maunya! Biar orang desa yang lebih berbakat kesenian yang ngurusin perkara remeh gitu. Di keluarga kita, nggak ada darah-darah sastrawan, tau nggak? Kamu mau jadi apa, Naaak, ngurusin sastra itu mau jadi apaaaa? Orang kere di Indonesia ini udah banyak!” (halaman 161)
Tak masalah. Tak ada yang mampu menghentikan Nadya jika ia sudah kerasukan roh ambisius seperti ini.
Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari informasi lewat internet, tentang perkembangan sastra Sunda. Tapi pencarian itu tak membuahkan hasil yang memuaskan. Akhirnya ia mencari alamat dan mewawancarai para tokoh sastra Sunda, sekaligus meminta mereka menjadi mentornya yang akan mengajarinya menulis. Tokoh pertama yang ia datangi adalah Yahya Soemantri, seorang sastrawan yang hidup soliter, dingin, dan bermulut pedas. Cerpen yang Nadya buat dengan penuh usaha keras itu malah dicecarnya habis-habisan, memancing kemarahanNadya. Kemudian ia beralih ke tokoh lainnya, penulis yang memiliki spesialisasi genre kriminal, Didi Sumpena Pamungkas. Awalnya, ia belajar dengan penuh semangat lantaran Didi tak seperti Yahya; beliau humoris dan menyenangkan. Namun Nadya jadi panas dingin ketika Didi menunjukkan gelagat ingin menguak kebenaran di balik menghilangnya Yahya, teman sesama sastrawan Sunda.
Melalui jejaring sosial facebook, Nadya berkenalan dengan penulis lain, Nining, seorang wanita ramah, lembut, dan penuh cinta. Beliau selalu mendasari tulisannya dengan tema cinta. Orang ini juga mempopulerkan korelasi antara sastra dan terapi jiwa. Nadya juga ingin memiliki ilmu ini, di mana ia akan bisa memberi sentuhan cinta pada karya-karyanya. Tatkala ia telah berhasil memilikinya, seorang dosen Sastra Sunda Unpad, Lina Inawati, yang juga teman Nining, mengajaknya berkenalan lantaran tertarik akan karya-karya Nadya yang ia post di facebook.
Di sisi lain, Lina heran akibat meninggalnya orang-orang dekatnya dengan misterius. Mulai dari Yahya (pamannya), Didi, hingga Nining, sahabatnya. Ia pun mencurigai seseorang di facebook bernama Lotus, yang menge-post karya-karyanya di grup Sastra Sunda Plus (SS+). Kecurigaan Lina itu beralasan, kecermatannya membuatnya melihat kemiripan karya-karya Lotus dengan almarhum Yahya, Didi, juga Nining. Pada akhirnya, beliau juga mencurigai Nadya, karena ia ada di rumah Nining malam sebelum wanita itu meninggal akibat diracun.
Akankah Lina berhasil mengungkap siapa sebenarnya Lotus? Dan apakah benar ia pembunuh para sastrawan itu?
Apakah fenomena “energi putih”—penampakan berupa energi serupa mega putih di mimpinya, yang menandai bahwa ia sudah mewarisi ilmu-ilmu seseorang setelah ia bertemu dan berguru secara langsung dengan orang itu—yang sering dialami Nadya dan sudah menyimpang jauh itu akan dapat ia kendalikan?
“Tema yang nyaris tak tersentuh oleh penulis zaman sekarang. Dipadukan dengan kehidupan anak muda yang sangat akrab dengan teknologi internet. Menarik banget. Unik. Orisinal.” Begitulah testimoni dari Feby Indirani terhadap novel ini. Saya setuju dengan pendapat itu. Sebuah kisah misteri diwarnai secercah fantasi (tentang fenomena aneh “energi putih” itu), yang dibangkitkan oleh roh kesusasteraan Sunda, dan kejadian serta setting yang dekat dengan dunia nyata anak muda. Diolah secara apik oleh dua orang penulis ini, yang melakukan aktivitas penulisan hanya lewat jagat maya. Bagi saya, itu keren sekali. Tanpa pernah bertatap muka, mereka berdua berhasil menjalin kreativitas hingga mewujud jadi novel Satin Merah.
Jujur, saya selalu menyukai novel dengan bab-bab yang pendek-pendek. Oleh karena itu, saya puas membaca buku ini, bagaimana tidak, hanya dengan tebal 314 halaman, novel ini terbagi menjadi 81 bab. Teknik penulisan semacam ini berhasil menarik saya mengikuti alurnya yang menegangkan tanpa menjadi bosan.  Meski suasana yang dihadirkan oleh novel ini tegang dan kelam (hasil injeksi Brahm), tetap tak kehilangan keindahan unsur puitis sastra Sunda (ciptaan Rie Yanti). Alur yang dibangun pun turut membikin suasan tegang, dengan mengisahkan secara maju dan mundur. Misalnya ketika terakhir kali Nadya bertemu dengan Yahya pada bab 16, dan pada bab 26 baru diceritakan kembali kejadian bagaimana Yahya meninggal. Jarak yang lumayan jauh ini berhasil menghindarkan kebingungan pada pembaca tentang setting waktu.
Kedua penulis ini juga berhasil menciptakan penokohan yang kuat, terutama untuk Nadya. Tergambar secara konsisten bagaimana sifat gadis itu: arogan, ambisius, penuh rasa ingin tahu, tak sabaran. Juga bagaimana lembutnya Nining. Dinginnya Yahya. Humorisnya Didi. Cerdas & penuh curiganya Lina.
Namun yang disayangkan, meskipun novel ini bergenre misteri, tapi menurut saya kurang narasi aktual di bagian ketika Didi, Nining, dan Hilmi dibunuh. Ketiga kasus itu hanya diceritakan melalui tokoh figuran lain. Lalu ada satu peristiwa yang masih mengusik logika saya hingga saat ini (setelah dua kali saya baca Satin Merah), yaitu adegan meninggalnya Nadya. Tubuhnya gosong tersambar petir dan mati. Bukankah petir itu akan mencapai puncak benda yang paling tinggi lebih dulu? Maka dari itu, dipasang penangkap petir pada gedung-gedung tinggi, bukan, yang akan mengalirkan energi listrik petir itu ke tanah, jadi tak berbahaya? Nah, yang aneh adalah Nadya tersambar petir di kawasan yang dihuni bangunan tinggi (menurut deskripsi novel itu, kafe Terakota yang ada di jalan itu saja terdiri dari dua lantai, kan?). Jadi, bagaimana bisa tubuh Nadya yang diincar si petir? Kecuali jika memang kejadian ini dimaksudkan sebagai peristiwa gaib.
Terlepas dari itu semua, saya hendak memberi tepuk tangan untuk novel ini. Sukses memperkaya tulisan fiksi anak bangsa di genre thriller, di mana Indonesia masih miskin saat ini. Sudah saatnya para penulis Indonesia melirik dan menggarap tema-tema yang unik. Apalagi berani mengolah unsur lokalitas berpadu dengan kemodernan zaman seperti Satin Merah ini.
“Aku bersumpah jadi sastrawan yang siginifikan. Nggak bakal ada lagi orang yang meremehkan Sastra Sunda!” (halaman 279)


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets