16 May 2014

A Bunch of Morning Glory for Gloria



http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSAp1PNZqU59tASUJDWJDg7Mg4QaD1xGE9gnzNTcSnwz6X20ysK
Judul Buku                        : Morning, Gloria
Penulis                              : Devi Eka
Tebal                                 : 310 halaman
Penerbit/cetakan               : de TEENS/Cetakan pertama, April 2014
ISBN                                 : 978-602-255-563-6

“Aku hanya menyukai sunrise, dan tak menyukai sunset. Aku menyukai sunrise karena dia memancarkan kehangatan. Memberi semangat untukku. Mungkin aku takkan sesuka ini padanya kalau dia selamanya. Karena dia sementara, makanya aku menyukainya.” – Gloria (halaman 11)

Tidak seperti Gloria, saya tidak menyukai keduanya. Mungkin tidak benar-benar “tidak suka”, hanya saja saya tidak pernah meluangkan waktu untuk menikmatinya. Bagaimana bisa melihat sunrise, kalau kuliah jam setengah delapan saja saya selalu telat? Kalau sunset.... entahlah, saya tidak pernah benar-benar melihatnya.  Dibandingkan dengan Gloria, saya merasa tidak pantas disebut manusia. Manusia bukan manusia jika lupa untuk bersenda-gurau dengan alam.
Sudah tahu, kan, mengapa Gloria suka sunrise? Tapi ia tak suka sunset. Mengapa?
Sunrise di Kawah Ijen.
Baginya sore adalah hari yang membuatnya lelah.... Bukankah senja itu menenggelamkan?” (halaman 10)

Tapi, akankah Gloria menyukai senja ketika hatinya jatuh dalam genggaman seorang lelaki penyuka senja? Seorang lelaki yang tanpa sengaja bertemu dengannya di perpustakaan Universitas Leiden. Seorang lelaki yang ternyata adalah dosennya. Sayangnya, lelaki penyuka senja itu, Avond, masih menyukai senja yang mengingatkannya akan wanita dari masa lalunya. 

Bersama Avond, Gloria mengalami banyak hal-hal baru. Avond-lah yang mengajaknya menikmati keindahan tempat-tempat menarik di Belanda. Keukenhof, Volendam.... Selama menjalani kuliah master di Belanda, Gloria belum pernah berjalan-jalan seperti itu. Ia terlalu menekuni kesibukan kuliahnya. 
 
Volendam

Madurodam

Selain sunrise, hal lain yang disukai Gloria adalah fotografi. Ia tak pernah lupa memotret keindahan alam di sekitarnya menggunakan SLR Canon pemberian sahabat masa kecilnya dulu, Oni. Ketika Gloria pulang ke Banyuwangi, tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang bernama Bara, yang ternyata adalah Oni. Sebelum mengetahui hal itu, Gloria telah dijodohkan dengan Bara. Namun, hati Gloria selalu terpaut pada Avond, yang ternyata punya masa lalu yang berkaitan dengannya. Ketika Gloria belum stabil sepenuhnya setelah kecelakaan yang menimpanya, kabar yang mengejutkan datang dari Avond. Lelaki itu malah hendak bertunangan dengan Bella, teman seapartemen Gloria di Belanda. Sebelumnya, Gloria sudah menduga apabila temannya itu juga mencintai Avond. Tapi, kenyataan tidak selalu seperti kelihatannya. Cincin tunangan yang disiapkan Avond itu bukan berukirkan nama Bella. Dan Bella, lelaki lainlah yang ia cintai. Lelaki lain yang lebih memilih wanita lain.
***

Satu hal yang saya sukai dari novel ini adalah sampul depannya! Gambar cover-nya sangat imut! Gaya penceritaan penulis pun cukup bagus, meski deskripsi setting yang penulis lakukan terasa kurang optimal. Seperti paragraf berikut ini misalnya.
“Begitu turun dari bus yang mengantarkan dari stasiun Amsterdam, mereka disambut dengan kolam air mancur. Indah. Jalan masuk Keukenhof memang tak lebar, hanya sekitar dua belas meter, namun panoramanya sangat mempesona.” (halaman 89)
Saya percaya, penulis bisa menggambarkan dengan lebih baik, jika menganut prinsip show, don’t tell. Misalnya, penulis bisa menggambarkan seperti apa sih “kolam air mancur yang indah” itu. Apakah ada patung di sekitarnya? Bagaimana bentuk kolamnya, bulatkah, berundakkah, kotakkah? Lalu, bagaimana “panorama yang mempesona” itu? Jujur, jika penulis hanya memberitahu seperti itu, bukan menunjukkan, maka pembaca kurang bisa merasakan suasana tempat yang dimaksud penulis.


Kolam air mancur di Keukenhof.


Keukenhof

Selanjutnya, saya merasa perlu mengkritisi logika cerita yang dibangun oleh penulis. Menurut A.S. Laksana dalam blog-nya (http://as-laksana.blogspot.com/2012/05/masalah-keteledoran-dan-logika-pada.html), “yang paling utama dalam fiksi adalah logika cerita. Tidak peduli bahwa cerita itu simbolis atau realistis atau absurd, logika harus beres.” Berikut ini adalah beberapa ketidaklogisan cerita yang saya temukan dalam novel ini.
  
Satu.
      Ia memasuki lantai dasar perpustakaan. Di hadapannya ada pintu utama dengan etalase kaca....” (halaman 12)
Gloria pergi ke perpustakaan Universitas Leiden. Pada kalimat di atas, dijelaskan bahwa Gloria telah memasuki lantai dasar perpustakaan. Lalu digambarkan oleh penulis, apa saja yang ada di sana, bagaimana keadaan perpustakaan itu. Namun, anehnya, pada halaman 14, penulis menjabarkan kalimat ini:
“Gadis itu segera menuju lantai dasar, karena ruang baca bagi pengunjung berada di lantai dasar.” (halaman 14)
Nah, jadi, sebenarnya dari tadi Gloria berada di mana? Bukankah di lantai dasar perpustakaan? Kok , sekarang baru “segera menuju lantai dasar”?


Dua.
      “Kau tahu apa yang membuat hangat dan kesejukan dalam waktu bersamaan?”
Rippingiles,” sahut Bella. Ia menyebutkan alat pemanas ruangan Belanda era 40-an yang berukuran jumbo....
“Kau pernah merasakan menelan salju?”
“Tentu. Waktu kecil, aku pernah tanpa sengaja menelan salju saat sedang bermain bola salju.”
“Bagaimana rasanya?”
“Dingin. Sejuk.”
“Itulah jawabannya.”
“Maksudnya?”
“Tolong jelaskan padaku, Gloria.” (halaman 41)
Saya tahu, maksud penulis adalah menggambarkan bahwa Gloria ingin menjelaskan bagaimana hatinya yang terasa hangat dan sekaligus sejuk karena sedang jatuh cinta. Tapi, saya rasa, penggunaan dialog ini tidak perlu, karena kurang menjurus ke ide tersebut, dan hanya pemborosan kata-kata yang lebih baik dihilangkan saja. Kemudian, jawaban Bella tentang rippingiles itu agak tidak sesuai, menurut saya. Itu alat pemanas ruangan, bukan? Ia memberikan kehangatan, tapi tidak kesejukan, kan?


Tiga.
    “Mereka mengambil sepeda yang sama-sama terparkir di bawah pohon rindang dekat fakultas hukum. Namun malang, sepeda Gloria yang terparkir di dekat kanal, terhempas jatuh ke kanal. Tepat saat Avond tengah berusaha membuka kunci sepeda miliknya dan menyenggol sikut Gloria ketika gadis itu baru saja berhasil membuka kunci.” (halaman 51)
 Sebagai pembaca, dengan membaca paragraf tersebut, saya kurang bisa membayangkan bagaimana tepatnya kejadian terjatuhnya sepeda Gloria ke dalam kanal. Hanya karena tersenggol oleh Avond-kah?

Empat.
     “Aku ingin mengajakmu ke Keukenhof.”
“Aku sudah pernah.” Gloria berbohong. (halaman 82)
 Padahal Gloria memang sudah pernah ke tempat itu sebelumnya.


“Gloria memikirkan kata-kata sahabatnya itu. Memang, selama kuliah di Belanda, ia tak pernah pergi mengunjungi tempat-tempat di Belanda, kecuali Keukenkof.” (halaman 29)
(Sebentar, yang benar itu Keukenhof atau Keukenkof? Atau keduanya tempat yang berbeda? Oh, ternyata yang benar Keukenhof. Hehe.)

Lima.
    “Jalan masuk ke Keukenhof memang tak lebar, hanya sekitar dua belas meter, namun panoramanya sangat mempesona.” (halaman 89)
 Dua belas meter atau dua meter? Kalau dua belas meter, sih, menurut saya, itu lebar! Jalan Kaliurang saja, lebarnya nggak sampai sepuluh meter, lho (mentang-mentang tinggal di Yogyakarta—eh, Sleman lebih tepatnya. Hehehe.)

Enam.
     “Cepat sekali kau membuatkan masakan untukku,” ucap Ave, begitu melihat si gadis impian datang membawa nampan makanan. “Coba kulihat,” ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya, mendekati meja makan. “Kau memakainya lagi,” desahnya.
“Kenapa? Kau tak suka?”
“Bukan begitu, tapi aku hanya takut kau jadi ketergantungan. Tak baik. Aku sudah sering melihatmu begitu.” (halaman 120)
 Tidak ada penjelasan, apa yang sedang dipakai oleh si gadis impian, yang membuat ketergantungan, hingga Ave begitu mencemaskannya.

Tujuh.
     “Tidak. Kenapa harus takut? Bukankah dari tempat tinggi itu kita jadi bisa melihat sesuatu yang indah di bawah sana?” – Gloria
“Iya, asalkan jangan sampai lupa diri. Karena tempat tinggi itu kita harus berhati-hati. Jangan sampai terpeleset, apalagi jatuh. Itu akan sangat menyakitkan.” – Avond
“Siap! Boleh jatuh, asalkan janji akan lebih berhati-hati.” – Gloria (halaman 256)

Kalimat yang diucapkan oleh Avond itu kurang efisien. Mungkin bisa diubah menjadi seperti ini: “Iya, asalkan tetap berhati-hati. Jangan sampai terpeleset, atau jatuh.” Lalu, kalimat tanggapan yang diberikan oleh Gloria sangat aneh, masa “boleh jatuh”? Lebih baik ditulis saja seperti ini: “Aku berjanji akan berhati-hati agar tidak jatuh.”

Delapan.

“Waktu terus berputar. Berputar maju. Tak mungkin waktu berputar mundur. Kalaupun ada, itu hanya akan menentang hukum alam dan pasti akan dikenakan sanksi.” (halaman 25)

Saya tidak menangkap, sanksi apa yang dimaksudkan dalam kalimat tersebut (bagian yang saya warnai merah).

Sembilan.
    “Sambil menulis paper, ia menjumput patat oorlog yang terhidang di hadapannya. Kentang goreng dengan saus mayones dan saus sate itu merupakan kombinasi yang unik. Saus sate itu memang terinspirasi dari saus kacang buatan Indonesia. Belanda dan Indonesia adalah dua negara yang pernah berperang, dan patat saus sate itulah yang menjadikan namanya menjadi patat oorlog.” (halaman 76)

Paragraf di atas menjadi tidak logis karena penulis kurang berhasil menyampaikan korelasi antara perang Belanda-Indonesia dengan patat oorlog. Mungkin, maksud penulis adalah, hubungan yang dimiliki Belanda dengan Indonesia di masa lalu menyebabkan terjadinya akulturasi dan asimilasi antara keduanya. Salah satunya adalah Belanda mengadaptasi masakan saus sate Indonesia ke dalam masakan Belanda, bernama patat oorlog.

Sepuluh.

“Arabella mendekat ke arah Gloria. Lantas duduk di tepi ranjang gadis itu yang terbuat dari kayu jati. Menatap Gloria yang telah berhasil menghabiskan ontbijtkoek.” (halaman 11)
Kalimat yang saya warnai merah tersebut kurang efisien. Seharusnya tidak perlu menggunakan kata “berhasil”, seperti berikut: “Menatap Gloria yang telah menghabiskan kunyahan terakhir ontbijtkoek-nya.” Keberadaan kata “berhasil” mengesankan seolah-olah kue itu sangat tidak enak, hingga Gloria berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskannya karena merasa tidak enah terhadap Arabella, dan akhirnya Gloria berhasil menghabiskannya.

Sebelas.

“Ah, kenapa kisah kita sama? Aku juga terkenang dengan temanku di tempat ini. Siapa nama temanmu?”
“Rey.”
 Gloria tidak bereaksi terhadap nama “Rey” yang diucapkan Bara. Padahal, sewaktu kecil, Gloria juga pernah memiliki nama panggilan “Rey”.

Dua belas. 
    Kejadian berikut ini yang paling tidak logis menurut saya. Ironis, karena bagian ini bisa dibilang merupakan klimaks cerita.

“Gadis Judes, tunggu aku!” Dilihatnya gadis itu menolehkan kepala ke belakang, menatap ke arahnya, tapi masih berjalan ke depan.  Ia melangkahkan kakinya, mendekati gadis itu, berusaha menyejajarinya.
Namun, kurang satu meter ia dapat menyamai langkah gadis itu, semuanya terlambat. Benar, terlambat! Apa yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak diinginkannya. Ia melihat—benar-benar melihat—gadis itu tersungkur, berguling ke bawah, menuruni tebing.” (halaman 272)

Tidak ada penjelasan apa yang membuat Gloria terjatuh menuruni tebing. Seandainya ditambahi kalimat yang menerangkan bahwa Gloria tersandung batu, misalnya, hingga terjatuh, itu mungkin akan cukup wajar. Anehnya lagi, setelah itu, satu kaki Gloria diamputasi. Separah apakah lukanya hingga harus diamputasi? Bukankah amputasi itu dilakukan jika lukanya terlalu lama tidak dirawat dan menyebabkan infeksi hingga merusak syaraf? Jika kejadiannya seperti yang digambarkan penulis, maka Bara pasti akan secepatnya membawa Gloria ke rumah sakit hingga tidak terjadi infeksi, dan mungkin, tidak perlu diamputasi.



Selain itu, banyak kebetulan yang terjadi dalam cerita ini. Kebetulan yang mempertemukan Gloria dan Aditama di pesawat. Juga dengan Bara, ketika di pantai. Lalu, dengan Bara lagi, ketika di pesawat.  Dan ternyata, Bara adalah orang yang dijodohkan ibunya dengannya. Percakapan yang terjadi dalam novel ini juga terlalu di awang-awang. Tidak mungkin, di dunia nyata, dua orang bercakap-cakap seperti yang terjadi antara Aditama dan Gloria, padahal mereka baru berkenalan di dalam pesawat. Juga antara Gloria dengan Bara, padahal mereka baru berkenalan di pantai. Percakapan tentang prinsip hidup, kesukaan pribadi, yang sepertinya jarang orang bicarakan dengan orang yang baru dikenal. Banyak juga dialog panjang—hampir menyerupai monolog—yang tidak mungkin diucapkan orang dalam percakapan sehari-hari. Umumnya, orang akan lebih suka bercakap-cakap dengan kalimat yang pendek-pendek.

Ending novel ini juga kurang nendang. Penulis memaksudkan ending-nya menggantung, dengan teka-teki yang harus ditebak sendiri oleh pembaca (siapa yang sebenarnya akan bertunangan dengan Avond). Namun, sangat disayangkan, penulis kurang bisa menyajikannya dengan baik hingga membuat ending itu kurang bisa dipahami.

Sebuah karya memang tidak mungkin bisa langsung jadi sempurna. Dengan menjadi “kurang sempurna” terlebih dulu, maka sang pembuat karya bisa belajar untuk menyempurnakan karyanya. Nah, saya percaya, di masa depan, tulisan sang penulis selanjutnya akan menjadi lebih baik. Semangat! ^^
(Bonus foto blue fire Kawah Ijen, salah satu setting cerita dalam novel ini. Keren banget, ya?)

Blue fire Kawah Ijen.


Sumber foto:
http://en.wikipedia.org/wiki/Volendam
http://media.iamsterdam.com/ndtrc/Images/20120410/125bbdd7-6d6b-4d2d-b679-bf4b79b4731d.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/46/Keukenhof-Szmurlo.jpg
http://media.iamsterdam.com/ndtrc/Images/20130123/6a3100a5-b9f0-48ea-9136-c119f1a47479.jpg
http://www.wanderingeducators.com/files/images/5061358801_cae1cd2aeb.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-EvMnaT9mLWg/UihXM87EeFI/AAAAAAAAARQ/iPRw43YGiHk/s1600/20130904_053247.jpg 
http://travelinitiative.files.wordpress.com/2014/02/netherlands-538.jpg
http://remkes.ca/photos/Europe/Netherlands/Nederland/Keukenhof/Fountain.JPG
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets