11 May 2014

Resensi DIVORTIARE - "A Scar Doesn’t Define Us"




Judul Buku                        : Divortiare
Penulis                              : Ika Natassa
Tebal                                 : 328 halaman
Penerbit/cetakan               : Gramedia Pustaka Utama/Cetakan ketujuh, September 2012
ISBN                                 : 978-979-22-8808-7
Harga buku                       : Nggak tau, minjem temen, hehehe

Guys, setuju , nggak, kalau....


“Our scar has a way to remind us that the past is real.” – Hannibal Lecter dalam film Red Dragon (halaman 77)

?? Kalau saya sendiri, SETUJU.

Saya punya banyak bekas luka jerawat (bahkan Kyuhyun Super Junior pun punya lebih banyak daripada saya, #eh. Huehehe). Salah satu bekas luka yang masih membekas adalah satu di lengan atas saya, bekas memar sekaligus luka. Memanjat gerbang kos-lah gara-garanya. Gara-gara utamanya adalah saya pulang larut malam sehabis latihan paduan suara mahasiswa (waktu masih rajin ikut latihan). Waktu badan saya sudah sampai di dalam gerbang, eh ternyata satu tangan saya masih nyangkut di atas gerbang. Sakitnya sampai memeras air mata. Lengan bawah kanan saya langsung bengkak (padahal saya harus melakukan koreografi dalam paduan suara). Lengan atas saya luka cukup gede. Setiap melihat bekas luka itu di cermin, saya ingat bahwa saya pernah “nakal” dengan “manjat gerbang” (sekarang masih, sih, hehe).

Alexandra, tokoh “aku” dalam novel “Divortiare” juga setuju. Sangat setuju malah. Ia punya bekas, tapi bukan bekas luka. Melainkan tato. Tato nama suaminya, empat huruf—Beno—di dada sebelah kiri.

“Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tatto. You think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.” – Alexandra (halaman 229)

Bukan masalah besar, sebenarnya, jika saja Beno kemudian tidak menjadi MANTAN SUAMI-nya. Mereka baru satu tahun menikah, tapi sudah bercerai dua tahun lalu. Apakah mereka dulu menikah dengan terpaksa?
TIDAK. MEREKA MENIKAH KARENA SALING MENCINTAI.

Tapi, ternyata cinta saja tidak cukup. Kesibukan Alexandra sebagai relation manager di BorderBank, dan Beno, sebagai dokter bedah top di sebuah rumah sakit di Jakarta, membuat hubungan mereka yang awalnya hangat dan membahagiakan menjadi dingin dan tanpa interaksi. Bahkan obrolan pun tidak ada lagi di antara dua orang yang sama-sama egois itu. Untuk apa berbicara, jika tiap kata yang terucap hanyalah menyulut pertengkaran?
Karena itulah, Alexandra meminta cerai, dan Beno mengabulkannya.

“Kamu mau tahu kenapa aku setuju menceraikan kamu? Karena aku nggak mau hidup bersama perempuan yang memang udah nggak mau hidup bersamaku lagi.” – Beno (halaman 282)

Dua tahun sudah berlalu sejak perceraian itu. Tapi Alexandra belum berani menghapus tato nama mantan suaminya. Ia juga belum siap memulai hubungan baru, hingga Wina, sahabatnya, yang adalah seorang editor majalah fashion, terus-terusan berusaha mengenalkannya dengan teman-teman prianya. Bergabung dengan Ryan, si playboy, teman kerja Alex di BorderBank, mereka berdua selalu heboh menyuruh Alex pacaran lagi. Bukannya tanpa alasan. Mereka hanya khawatir karena sampai saat ini Alex masih menjadikan Beno sebagai dokter pribadinya.

Get away from Beno for a while....” – Wina (halaman 20)
“...elo buktiin dulu sama gue dan Wina kalau elo memang beneran sudah melupakan dia...... Start dating, Lex.” – Ryan (halaman 23)

Akhirnya Alex menyetujui tawaran Wina untuk dikenalkan dengan seorang laki-laki. Betapa kaget ia karena ternyata laki-laki itu adalah Denny, teman masa kuliahnya dulu. Well, more than a friend, actually. But, not a boyfriend too. They just had have a special relationship. Hubungan mereka kini makin dekat kembali, apalagi Denny adalah sosok yang sangat berlawanan dengan Beno. Denny yang lembut, humoris—sosok pria ideal-lah!—dibandingkan dengan Beno, yang keras kepala, egois, dan suka ngomong seenaknya sendiri, tak peduli perasaan orang lain. Sudah jelas, kan, seharusnya Alex bilang “ya” ketika Denny melamarnya?

Wait, no. Tidak mudah bagi Alex untuk mengatakan “ya”, karena ia belum merasakan cinta pada Denny.

“You don’t want to be with me, Den. I’m ruined.” – Alex
“Let me fix it.” – Denny (halaman 132)

Tidak seperti perasaannya dulu terhadap Beno. Tuh, kan, Beno lagi, Beno lagi. Sebenarnya Alex “sempat” sudah siap menerima hati Denny, untuk membuka lembaran baru. Hingga ia punya keberanian untuk menghilangkan tato nama Beno di dadanya.

“Gue sadar kenangan nggak bakal bisa dihapus. Anggap aja kenangan itu bagian dari hidup gue yang dulu, yang juga membuat gue jadi gue yang sekarang. Gue cuma perlu mengalami kenangan-kenangan baru yang lebih indah. Hidup kita nggak harus ditentukan dari masa lalu, kan, Lex?” – Wina (halaman 258)

Tapi, Alex bimbang lagi, dan makin bimbang, ketika Beno tiba-tiba menunjukkan sikap lembutnya seperti dulu. Ia menghibur dan memperhatikan Alex ketika ibunya kena serangan jantung dan harus dioperasi. Siapa lagi dokternya kalau bukan Beno?
 ***
Ini kedua kalinya saya berjumpa novel karangan Ika Natassa, setelah Antologi Rasa. Seperti biasa, saya menyukai tutur kata Ika yang lincah, seru, dan lucu. Lucunya itu kadang lucu nggak penting, tapi nggak jarang adalah lucu yang ironis. Dengan gaya penceritaan sudut pandang orang pertama, Ika dengan leluasa menggamblangkan pikiran-pikiran Alex—yang sering ngalor-ngidul, tapi penuh makna dan tidak keluar dari zona konteks cerita. Saya suka tokoh Wina, ia blak-blakan dan mampu menyadarkan Alex akan keputusan yang salah, yang seringnya tak mau ia akui. Wina, yang suka gonta-ganti pacar, karena pelarian setelah putus cinta, tapi kini telah menemukan cinta sejatinya, dan akhirnya menikah. Alex memang benar-benar harus belajar darinya. Tapi, tetap saja, hati tak bisa bohong.

Menurut saya (menurut tulisan Kak Ika, sih), Beno dan Alex masih saling mencintai. Yang perlu mereka lakukan adalah berhenti menjadi “so much alike each other” (dalam konteks sifat-sifat negatif: egois, keras kepala). Salah satu harus ada yang mengalah agar hubungan itu berhasil. Iya, kan? Dan saya kesal terhadap Kak Ika yang ngasih ending sedemikian nggantungnya! Arrrggggghhh! @#?! (abaikan).

Ada beberapa hal yang saya kurang “sreg” dari novel ini. Pertama, guyonan Denny garing (yang tentang ubur-ubur itu). Buatku, ketika aku membayangkan jadi Alex yang disodori guyonan macam begitu, aku tidak merasa bahwa itu lucu. Mungkin sedikit lucu, iya, boleh, deh. Hehe.

Kedua, mungkin ini salah satu kelemahan gaya bercerita sudut pandang orang pertama. Pembaca didoktrin dengan pemikiran dan pendapat tokoh “aku” tentang orang lain, yang mungkin jika dilihat dari sudut pandang orang lain tersebut, pendapat tokoh “aku” tidak sepenuhnya benar. Alex selalu menyalahkan Beno atas kesibukannya sebagai dokter sebagai alasan mereka bercerai. Saya juga ingin tahu pendapat Beno tentang hal itu. Tapi saya cukup puas, belakangan Alex menyadari bahwa tidak sepenuhnya salah Beno. Barangkali karena hal itulah saya lebih menyukai Antologi Rasa ketimbang Divortiare. Karena saya dapat membaca pikiran tiap tokoh sentral.

Ketiga, saya berpikir, tokoh-tokoh dalam Antologi Rasa dan Divortiare, kok, mirip-mirip, ya? Wina mirip Dinda. Alex mirip Keara. Sama-sama kerja di bank dan suka foto (meskipun Alex hanya suka menikmati foto, sedangkan Keara juga suka “bikin foto” alias fotografi). Ryan agak mirip Harris Risjad--si playboy. Lama-lama, tokoh seperti ini akan menjadi “klise”.

Keempat, banyak percakapan dalam bahasa Jawa yang tidak dilengkapi footnote. Untunglah, sebagian dijelaskan di narasi tokoh, atau memang bahasa Jawa yang simple dan mungkin dapat dimengerti banyak orang. Tapi, sebagain lainnya, saya rasa perlu tambahan footnote. Kalau bagi saya yang lahir dan besar menggunakan bahasa Jawa, sih, tidak masalah. Tapi, kan, banyak juga orang yang tidak mengerti bahasa Jawa. Hehe.

Namun, bagaimanapun juga, novel Kak Ika selalu nendang di hati (berkat kepiawaiannya merangkai kata untuk menceritakan inti cerita yang sebenarnya simple)! Bukan bikin simple jadi ruwet, ya. Melainkan, bikin simple jadi full of fun! Seru! Menohok! Bikin nyesek! Terus tak henti berpikir “iya, nih, bener banget!”. Atau barangkali “wah, mirip banget sama yang aku alami!”. Nah, lho!
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets