22 March 2015

[Resensi TWIVORTIARE] His Nearness Really Matters

Sembilan bulan (sudah kayak orang hamil saja) setelah membaca Divortiare, saya akhirnya membaca kelanjutannya, Twivortiare. Buku ini merupakan kumpulan tweets dan direct message Alexandra melalui akun Twitter-nya, @alexandrarheaw . Jujur saja, saya tidak mem-follow akunnya, sehingga membaca tweets si Alex ini adalah hal baru bagi saya. Agak bersyukur karena saya terhindar dari gejala kebosanan. Sudah nge-follow, baca tweets-nya tiap hari, baca lagi Twivortiare. Lama-lama kau ter-Alex-isasi (hehehe).

Sebagai pengguna Twitter yang juga sudah selama Kak @alexandrarheaw (sejak 2011), saya tidak pernah terpikir untuk bikin cerita berkesinambungan lewat tweets, seolah itu kisah nyata. Oleh karena itu, saya mau kasih satu tepuk tangan dulu buat Kak Ika Natassa atas ide kreatifnya. Pada bagian kata pengantar, Kak Ika menceritakan bagaimana awalnya dia kepikiran bikin akun si Alex dan bercerita lewat sana. Dia menyebutnya “twitterature”—akronim dari twitter dan literature. Meskipun ini bukan hal baru—kata Kak Ika sudah ada Harry Potter nge-tweet, juga buku “Shit My Dad Says” yang dimulai dari akun @shitmydadsays —tapi bagi dunia literatur Indonesia, ini hal yang inovatif.
***

Alex pertama kali nge-tweet setelah ia menikah lagi dengan Beno (coba ingat lagi bagian akhir Divortiare yang mereka berdua makan bareng nasi goreng Sabang -> sinyal-sinyal akan balikan lagi). Meskipun mereka sudah memutuskan untuk menikah lagi, tidak berarti lantas kehidupan pernikahan mereka jadi adem ayem. Nobody can change instantly (just me saying). Beno yang keras kepala, kaku, dan supersibuk di rumah sakit itu juga masih seperti itu. Tapi, ia berusaha untuk lebih perhatian pada Alex, tak seperti dulu, yang dinginnya minta ampun. Sementara itu, Alex yang sedikit-sedikit marah dan kesal karena merasa tidak diperhatikan, merasa dirinya nomor kesekian setelah urusan rumah sakit, kini mulai berusaha memaklumi dan bersabar.

Pertengkaran-pertengkaran karena masalah sepele terus membayangi, seolah mereka pasangan yang belum dewasa. Ampun, deh! Contohnya, Beno cemburuan mampus, Alex didekati seorang nasabahnya, ia langsung marah-marah, lalu bertengkar…. Coba hitung berapa kali dalam buku ini Alex kabur ke rumah Kebagusan setelah bertengkar dengan Pak Dokter. Kemudian muncul isu baru: pasangan yang dulu belum ingin punya anak itu kini pengin banget punya anak. Sudah mencoba bikin berkali-kali, tapi belum berhasil juga. Dan saya bosan karena isi tweets Alex selalu tentang test pack-nya menunjukkan satu garis, lalu ia sedih, bilang ke Beno yang juga terlihat sedih, lalu Alex menyalahkan diri sendiri. Haaaah, rangkaian kejadian ini berulang terus. Untung saya adalah tipe pembaca yang selalu menyelesaikan buku apa pun yang saya baca meski bosan nggak ketulungan. I’m quite a dedicated reader *senyum bangga*.

Akibat bentuk buku yang merupakan kumpulan tweets Alex, di sini, tokoh Alex terkesan sangat self-centered. Ia juga sering nge-tweet ulang bagian cerita hidupnya (misalnya, tentang peristiwa 'pelamaran' yang dilakukan Beno di mobil. Dua kali dia ceritain lengkap dari awal sampai akhir. Mungkin Alex memang berniat bikin saya hafal, kali, ya. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena (ceritanya) si Alex nge-tweet tentang hidupnya sehari-hari, jadi bisa saja dia mengulangi cerita yang sama.

Lupakan segala kebosanan itu. Saya terhibur oleh gaya ceplas-ceplos Alex dan caranya menceritakan tentang Beno dengan cara yang lucu. Pak Dokter itu memang kadang norak banget! Belum lagi mentions dari followers yang sering jayus, dan tanggapan Alex yang juga jayus. Di dunia Twitter ini, Wina, sahabat Alex, juga aktif berinteraksi dengan Alex. Seringnya lewat direct message, karena hal yang mereka obrolin adalah topik pribadi (wah, asyik, saya bisa tahu isi DM mereka hihi). Seperti ketika membaca Divortiare, saya suka tokoh Wina. Kalau Alex adalah piano, maka Wina ahli tuning-nya. Saat suara Alex sudah out of tune, Wina yang bertugas membimbingnya ke jalan yang benar, meski jalan itu pahit. Wina juga—dan Riza—yang berusaha mendekatkan Alex dan Beno kembali hingga mereka balikan. Jasa Wina patut dihadiahi nobel perdamaian, lantaran berhasil mendamaikan dua orang paling gengsian sedunia. Hehehe.
“There’s no love that is stronger than being in love with someone you can’t stand.” (Wina, page 273)
Seperti biasa, buku Kak Ika bisa disebut buku kumpulan quotes bagus dan menyentuh hati. I love how she wrote her story so real like a real life.
 
Picture source here, edited by me.
“It’s easy to find someone whom you can laugh with, but it’s not easy to find someone whom you can endure the sadness together with.” (Alex, page 343)

Sebelum menutup resensi ini, maaf, saya ingin menuliskan pesan bagi para pembaca yang hendak membaca buku ini dan belum percaya diri akan kemampuan membaca bahasa Inggrisnya. Sebaiknya baca buku ini ditemani kamus Bahasa Jawa - Indonesia. Eh, bukan, kamus Inggris - Indonesia, maksud saya.

Mengapa saya memberikan rating bintang 3 untuk Twivortiare? Meskipun saya kagum dengan cara Kak Ika menulis, saya juga sudah dengan rela dibikin muak oleh pertengkaran-pertengkaran Alex-Beno yang sangat childish. Belum lagi isu “pengin punya anak” itu *nunduk*. Tapi, bagaimana pun juga, buku ini gampang dan enak dikunyah-kunyah. Coba saja! Dan yah, banyak bagian yang menyentuh, seperti surat cinta pertama buatan Beno untuk Alex itu :'(

“It’s impossible for us to find a perfect spouse if we model him/her toward someone, atau toward our own sets of criteria. The world just doesn’t work that way.” (page 129)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets