1 April 2015

[Resensi TWIVORTIARE 2] Your List of Ideal Mr. Right Has No Meaning Anymore



Alex dan Beno masih belum dikaruniai anak. Jika kita sangat menginginkan sesuatu, maka semua hal yang berhubungan dengan sesuatu itu akan selalu mengusik pikiran kita. Inilah yang dirasakan Alex. Selembar kertas berisi doa untuk meminta keturunan pun mampu mengalirkan air matanya. Di saat sedang berjuang mendapatkan anak, Alex mendapat tawaran naik jabatan sebagai vice president di Surabaya. Gundah gulana menyerang dirinya. Naik jabatan, tapi di Surabaya, atau tetap di Jakarta bersama Beno tercinta yang hobi makan Beard Papa sampai belepotan tiada tara?

Seorang bayi yang ditunggu-tunggu pasti akan lahir dari rahim Alex—suatu saat nanti, saat mereka sudah siap. Apakah ia akan sudah lahir sebelum buku ini berakhir?
***

Seolah-olah kemacetan yang selalu nongol di waktu yang tidak tepat belum cukup membuat Alex sewot di Twitter, mention yang ia terima dari anggota fansclub Beno juga bikin darah kemripik. Meski begitu, Tante Alex sangat menyayangi para followers-nya. Buktinya, ia mau menjadi konsultan percintaan gratisan. Konsultan yang to the point dan kejam.
“Jadi gini, the minute you decide to break up, you have to be ready to erase him or her completely. Don’t expect they’ll stay in your life as friends, itu egois namanya. They deserve to meet new people too.” (Alex, hal. 91)
“Don’t waste your time on somebody you don’t like or doesn’t like you. that’s how simple the dating game is.” (Alex, hal. 89)
Twivortiare 2 ini spesial karena ada momen di mana Wina gantiin Alex megang Twitter-nya, dan para followers langsung heboh minta Wina membocorkan rahasia Alex. Mumpung orangnya sedang sibuk me**h**kan. Pernah juga Om Beno yang pegang Twitter, tapi ya begitu aja. Biasa, the most lempeng-man in the world.

Ada satu lagi yang lebih spesial. Buku yang saya baca ini adalah salah satu cetakan pertama edisi terbatas bertandatangan Kak Ika. Spesialnya lagi, buku ini bukan punya saya, melainkan punya seorang sahabat fans berat Kak Ika.



Ternyata (maaf, kalau para pembaca sudah tahu) Twivortiare dan Twivortiare 2 ini ada karena banyak followers tokoh Divortiare yang mengusulkan agar kumpulan tweet-nya dicetak saja. Capek bacanya, katanya. (Sumber di sini.)

Twivortiare 2 ini saya baca langsung setelah selesai membaca Twivortiare, jadi seolah saya membaca cerita dalam satu novel amat tebal. Ya, karena bagian awal Twivortiare 2 adalah kelanjutan dari tweet terakhir Alex di buku Twivortiare. Beda dengan Twivortiare, yang halaman pertama langsung membuka ke tweet Alex, di buku kedua ini, Alex bernarasi terlebih dahulu. Dan, begitu selesai membaca bagian narasi di awal (menjadi semacam prolog), yang cuma 5 halaman, saya jadi ingin Alex bernarasi terus saja. Jangan nge-tweet melulu. Hahaha. (Kalau begitu, ntar judulnya nggak Twivortiare, tapi Narratiare, dan nggak spesial lagi. Menurut saya, yang bikin buku ini spesial adalah karena format ceritanya berbentuk rangkaian tweets Alex.)

Di bagian narasi awal, Alex menyuruh saya melahap pengetahuan baru (dia memang sering, sih, melakukan hal itu) tentang kenapa tweet dibatasi hanya 140 karakter. Aduh, saya jadi malu pada diri sendiri karena sebelumnya tidak tahu sejarah itu. Alex juga membagikan hasil pencariannya di kantong ajaib Mbah Gugel, tentang why people use Twitter. Cukup menarik bagian itu, terutama ketika Alex mengumpamakan Twitter sebagai “digital punching bag”.

Ternyata, saya menjumpai lagi sebuah narasi di halaman 21-22. Di bagian akhir, giliran Kak Ika Natassa yang bernarasi tentang sejarah terciptanya Alex dan Beno di dunia literasi. As usual, saya suka dengan cara Kak Ika memandang sesuatu lewat tokoh Alex, Beno, dan Wina. Seperti ketika Kak Ika memberikan pelajaran berharga di balik kecuekan Beno yang 24 karat itu.


Kak Ika sukses menghadirkan mereka bertiga seolah sahabat pembaca sendiri. Tapi, ada bagian di mana saya merasa tweet Alex dan Wina terlalu dibuat-buat untuk mempertahankan keberadaan mereka yang seolah-amat-nyata.
Jangan, nanti lo naksir, gue udah bini orang. Kasian elu. RT @himsky : Twitpic foto Mbak Wina juga nggak apa-apa kooook.. :D(hal. 461)
Menurut saya, buku ini lebih lucu daripada yang pertama. Lebih banyak cerita konyol si Beno ataupun Alex (mungkin juga karena bukunya lebih tebal daripada Twivortiare). Salah satunya adalah ketika Alex terpaksa memberi kursus emotikon pada Beno. Hanya bertahan selama beberapa menit. Menit berikutnya, ia kembali menjadi Beno yang sesungguhnya. Hahaha. 



Akhirnya, Alex bilang, jangan terlalu mendramatisasi proses penemuan jodoh. Jarang banget terjadi ketemu jodoh karena nggak sengaja tabrakan waktu sedang buru-buru jalan di stasiun. Yang sering malah, orang-orang ketemu jodoh dari orang di sekelilingnya, yang cara bertemunya pun bisa jadi disengaja. Teman kuliah, teman kerja, kenalan teman yang dikenalin, dan sejenisnya. Dan, jangan terlalu idealis. Semua daftar kriteria jodoh idamanmu itu nggak berguna ketika kamu sudah bertemu dengan orang yang tepat dan kamu rela menyingkirkan segala idealismemu untuk menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Semangat cari jodoh! >,< :D
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets