4 April 2015

[Resensi PENGGORES KENANGAN] Goresan yang Tertinggal dalam Flashdisk, Kucing, dan Segulung Kertas

Penulis : Adhiati AP
Tebal : 224 halaman
Penerbit : de TEENS
Cetakan : I, Desember 2014
Harga : Rp 38.000,00
ISBN : 978-602-255-767-8

Sebagai seorang yang disleksia, dulu Kia bersemangat berjuang untuk belajar membaca. Namun, semangat itu lenyap seketika, bersama berubahnya Kia yang ceria menjadi Kia yang pendiam, karena suatu kejadian yang menimpa ayahnya, sementara ibunya entah ke mana. Sampai saat ini pun, ibu Kia sering meninggalkannya untuk bekerja dan Kia menganggapnya tak ada. Hanya satu sahabat yang ia punyai, Wira. Suatu hari, Wira datang membawa seekor kucing putih bernama Saya. Dengan cerdik, ia memanfaatkan Saya agar Kia mau jadi pacarnya. Sejak itu, hari-hari Kia diwarnai dengan melukis, main bersama Saya, dan main bersama Wira.
“Kalau kamu nggak mau jadi pacarku..., besok kembaliin Saya!” (Wira, hal. 12)
Awalnya, Kia menerima permintaan Wira itu karena khawatir, jika ditolak, maka ia akan kehilangan satu-satunya sahabatnya itu. Tapi, lama-lama, rasa cinta itu muncul, hingga tiga tahun kemudian. Sayangnya, Tante Dani—mami Wira—masih tidak setuju jika Wira pacaran dengan Kia. Setiap bertamu ke rumah Wira, Kia selalu merinding ketakutan. Untunglah, Wira mengobatinya dengan banyak kiwi dan es krim kiwi kesukaan Kia.

Selama dua minggu kemudian, Kia resah karena Wira sama sekali tak menghubunginya. Mas Adhitlah—kakak Wira—yang memberitahunya bahwa Wira mengalami kecelakaan. Luka-lukanya terlihat ringan, sih… Tapi sejak saat itu, sikap Tante Dani berubah terhadap Kia, juga sikap Wira yang menjadi aneh—seperti menghindarinya atau menyembunyikan sesuatu. Ada apa sebenarnya?
***

Sang penulis, Adhiati AP, adalah seorang pecinta kucing. Nampak dari dimasukkannya seekor kucing dalam cerita, juga sebagai gantungan flashdisk. Gantungan flashdisk berbentuk kucing, maksudnya. Flashdisk ini nantinya memegang peranan penting dalam menyimpan sebagian kenangan Wira untuk Kia. Penulis sudah berhasil menciptakan tokoh Kia yang unik karena disleksianya. Secara konsisten, penulis menggambarkan keadaan Kia yang kesulitan membaca, sehingga tidak pernah mengotak-atik file lagu dalam mp3 player-nya. Kia juga tidak melanjutkan sekolah. Tapi, dia pandai melukis (biasanya anak disleksia punya kelebihan di bidang seni). Kesan pendiamnya juga sangat kental, kecuali jika berhadapan dengan Wira, Adhit, atau Nino, sepupunya. Jika bersama ketiga orang itu, Kia akan kembali ke sifat Kia asli yang dulu: ceria dan suka bicara.

Tokoh Wira dan Adhit. Mereka berdua sosok kakak-beradik yang suka bertengkar karena masalah kecil, tapi sebenarnya saling mendukung. Wira digambarkan sebagai orang yang ramah dan supel, tapi kalau sudah marah atau tidak suka akan sesuatu…., hati-hati, dendamnya dibawa sampai mati! Sementara itu, Adhit adalah sosok yang pemalas (molor terus ngerjain skripsi), tapi ia selalu punya ide untuk menghindarkan Mami dari Kia. Adhit ini jagonya bikin alasan alias ngeles. Beberapa bagian yang konyol juga disumbangkan oleh Adhit dan tingkah-polahnya. Diam-diam, ia juga menyukai Kia, dan Wira menyadarinya. Namun, Adhit mampu membuat keputusan benar, meski itu menyakitkan. Setelah Wira kecelakaan, Adhit juga dengan sabar (menghadapi emosi adiknya) mengantar-jemput Wira. Oleh karena kebesaran hatinya, Adhit menjadi tokoh yang saya sukai di novel ini.

Awalnya, saya kira Adhitlah yang akan mendampingi Kia sampai akhir, tapi ternyata muncul Nino. Tokoh Nino baru dimunculkan di bab 10, awalnya untuk membuat Wira cemburu dan malu, kemudian menyadari kesalahannya. Setelah Adhit pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi, Ninolah yang ada di samping Kia.

Tokoh kucing bernama Saya juga menempati posisi penting. Kalau tidak ada dia, sepertinya Wira dan Kia tidak akan pernah jadian. Tapi, saya agak terganggu dengan nama “Saya”, yang sangat aneh. Mungkin dinamai begitu agar nama panggilannya jadi “Say”, ya? Tapi rawan ambigu dengan “saya”, kata ganti orang pertama.

Novel ini mengambil latar tempat Solo (rumah Wira, rumah Kia, mal tempat Nino dan Kia jalan-jalan) dan Yogyakarta (rumah sakit tempat Wira dirawat setelah kecelakaan). Deskripsi latar cukup detail, terutama rumah Wira dan Kia.

Penggunaan sudut pandang penceritaan orang ketiga serbatahu agak membingungkan di awal. Mungkin karena akhir-akhir ini saya terbiasa membaca cerita dengan sudut pandang orang ketiga tapi yang terbatas.

Alur maju-mundur yang digunakan penulis pun sangat membingungkan. Tidak jelas perpindahannya, sehingga saya kelabakan, seperti adegan di halaman 63. Di masa kini, Kia sedang berdiri di kamarnya dan melamunkan masa lalu.

“Seakan dia bisa melihat dirinya yang lain duduk di tengah ruangan bersama Saya.”
Adegan berpindah setelah kalimat itu. Saya kira, lamunan Kia tadi tidak terlalu penting. Ternyata, saya terlambat menyadari bahwa adegan berikutnya, “Saya tertidur pulas…..” itu adalah bagian dari masa lalu yang sedang dilamunkan oleh Kia.

Di bagian awal, alurnya berjalan agak membosankan. Konflik-konflik kecil memang ada, seperti adegan Kia ke rumah Tante Dani yang menimbulkan pertengkaran, tapi saya masih bertanya-tanya, akan dibawa ke mana ini? Kemudian tiba-tiba Wira sudah berada di rumah sakit setelah kecelakaan. Sakit fisik luarnya, sih, biasa saja, tapi seperti ada yang dirahasiakan. Nah, mulai di bagian ini, penulis ingin membuat pembaca penasaran. Selain penasaran, saya juga cemas, jangan-jangan nanti cerita berakhir seperti kisah FTV. Salah satu tokoh kecelakaan, atau sakit, lalu mati.

Mungkin akan lebih menohok jika kejadian saat Wira kecelakaan itu ditunjukkan, jangan cuma diberitakan. Saya kira, Wira menyembunyikan sakit parah yang menyerang organ dalamnya akibat kecelakaan. Eh, ternyata bukan akibat kecelakaan. Oke, di bagian ini penulis berhasil memberikan twist, untuk mengompensasi kisahnya yang mudah ditebak.

Meski alur kisahnya mudah ditebak, saya menyukai detail-detail kecil yang disuguhkan penulis. Misalnya, saat Wira memasukkan suatu file ke mp3 player Kia. Lantaran Kia disleksia, dia tidak pernah mengotak-atik file mp3-nya lewat PC (simple aja, dia kesulitan membaca judul-judul file-nya!).
“Bagi orang lain, gampang saja, tinggal sambungkan ke komputer dan cari nama baru. Tapi, bagi Kia, cara satu-satunya hanya mendengarkan satu per satu.” (hal. 61-62)
Yah, mau didengerin sampai kapan pun, file yang dicari nggak akan mampir ke telinga Kia, soalnya formatnya bukan mp3! Hahaha. Keisengan Wira ini romantis, lho, ternyata, dan baru terungkap di akhir cerita. Ide ini cukup menambal ke-klise-an cerita yang saya keluhkan tadi. Saya juga suka kado terakhir Wira buat Kia, yang merupakan aplikasi ilmu arsitektur yang Wira pelajari di bangku kuliah. Ilmunya bermanfaat juga, ya, untuk mengharukan hati sang pacar? Hehehe.

Gaya bahasa yang digunakan penulis tidak menye-menye dan tidak alay. Siapa bilang, novel teenlit kudu alay? Malah, cenderung agak puitis. Penulis gemar menggunakan analogi dan metafora yang segar, seperti berikut ini.
  1. Mami kelihatan benar-benar seram. Bak Penyihir Putih di cerita Narnia.
    Hutan punya singa sebagai raja, tapi di rumah itu Mamilah ratunya. (hal. 22)
  2. Seperti lele, Adhit bersungut-sungut mengitari sofa. (hal. 37)
  3. Kia berada di kamarnya, Teronggok seperti pakaian kotor di atas tumpukan bantal warna-warni. (hal. 61)
  4. Wira   : Umurku, kan, masih dua puluh....
    Kia     : Rabu depan, tuh, nol di belakang bakal ditusuk! (hal. 179)

Penggambaran suasana batin tokoh juga sudah mengena, seperti ketika Wira ditelepon Kia tiba-tiba.
“Sekarang, Wira benar-benar merasa sedang memerankan film horor. Dia merasa seperti figuran yang akan mati pertama di pembukaan film.” (hal. 135)
Namun, saya kurang nyaman membaca kata ganti yang sering penulis berikan pada “ponsel”.
“…pandangan Kia terfokus pada benda di ujung karpet. Yah, menanti benda itu mengabarinya sesuatu.” (hal. 62)
Benda apa sebenarnya yang dimaksud? Tak ada keterangan apa pun sebelum dan sesudah kalimat itu. Hanya kepekaan pembaca yang tak bisa dipisahkan dengan ponsel-lah yang dapat menjelaskan. Kenapa nggak langsung bilang “ponsel” saja, daripada bertele-tele seperti itu?

Kemudian, saya juga menemukan kalimat kurang efektif.
“Setelah satu tarikan napas panjang, Kia melangkahkan kaki.” (hal. 75)
Seharusnya cukup “melangkah”. Semua orang normal tahu bahwa orang “melangkah” pasti menggunakan kaki. Selain itu, ada satu kalimat lain yang setelah saya baca beberapa kali, saya tetap tidak mengerti apa maksudnya. Mungkin ada pembaca lain yang bisa memberitahu saya? Hehehe.
“Cukup ‘baik-baik saja’ yang didengarnya. Selebihnya, penasaran pun Kia tidak benar-benar ingin tahu.” (hal. 97)
Mari kita beralih ke alasan mengapa Tante Dani tidak suka Wira pacaran dengan Kia. Awalnya, saya kira karena ini:
“Benar kamu cuma milih kuliah di Jogja karena dia?” (Mami kepada Wira, hal. 23)
(Seharusnya “milih kuliah di Jogja cuma karena dia”, ya?)

Wira sebenarnya disuruh kuliah di Bandung oleh Papi, tapi demi bisa nyamperin Kia lebih dekat, dia memilih kuliah di Yogyakarta. Ternyata, bukan karena itu, melainkan karena Kia disleksia.
“Kamu lupa alasan Tante Dani nggak suka sama aku? Aku, kan, disleksia…” (Kia, hal. 33)
Tante Dani beranggapan bahwa Kia bodoh karena disleksia (nggak sekolah juga, kan), jadi mungkin dia tidak rela anaknya, yang anak kuliahan, pacaran dengan gadis yang bahkan nggak sekolah. Menurut saya, Tante Dani sangat kekanakan. Cuma gara-gara disleksia? Tidak semua orang cocok dengan sistem pendidikan formal. Lagi pula, disleksia itu bukan suatu cacat, melainkan hanya perbedaan cara belajar (menurut ADA–kemungkinan besar yang dimaksud adalah Americans with Disabilities Act).

Penulis menggunakan ke-disleksia-an Kia untuk menyindir fenomena-fenomena sosial di sekitarnya. Misalnya, sindiran Kia untuk para generasi merunduk alias pemuja smartphone berikut ini.
“Dia tidak suka main game dan tentu tidak mungkin bersosmed ria. Yah, emang yang paling waras, tuh, orang disleksia. Sindiran itu ditujukan untuk dirinya sendiri saat melihat orang di meja sebelah cekikikan sendiri memandang layar ponsel.” 
(hal. 185-6)

Meski novel ini terkategorisasi dalam novel teenlit, konflik yang diangkat tidak masalah percintaan remaja yang alay, kok. Malah, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Kia yang disleksia, Wira yang menyembunyikan penyakitnya, dan Adhit yang harus memilih antara skripsi atau cintanya. Bahkan, judulnya pun terkesan menyembunyikan sesuatu—tidak langsung menjurus ke romantisme ala remaja. Akhirnya, saya hadiahkan tiga bintang untuk Penggores Kenangan!
“Percuma jika punya banyak waktu, tapi tidak digunakan untuk melakukan apa pun. Lebih baik waktu singkat yang digunakan untuk melakukan hal-hal berguna.” 
(hal. 141)

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets