3 June 2015

[Resensi MEANT TO BE] Some Things Are Meant To Be

Judul: Meant To Be
Penulis: Zee
Editor: Diaz
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 232 halaman
ISBN: 978-602-7695-95-5
Harga: Rp 38.000,00


 “Yang pasti, satu kata itu membawaku ke sini, ke perubahan yang menyenangkan. Satu kata itu: “Hai”. 
(Reo, hal. 83)
Reonalda Andika, atau lebih akrab dipanggil Reo, adalah tokoh “aku” dalam novel remaja ini. Cowok kelas X itu bertubuh kecil dan kurus dengan rabun mata presbiopi parah. Iya, dia masih lima belas tahun, tapi sudah terserang presbiopi sejak umur 13 tahun. Aneh, ya? Presbiopi, kan, biasanya menyerang orang tua. Cowok intorver ini punya teman dekat yang juga sepupunya, Faris. Faris sudah kuliah di jurusan kedokteran (jurusan yang juga Reo inginkan saat kuliah nanti), dan dia sosok lelaki pujaan wanita. Sebenarnya, Reo membencinya, karena Faris memacari semua cewek yang ia suka. Pun karena ia tak bisa melampaui Faris, dan selalu tersembunyi di balik bayang-bayangnya.


Suatu saat, ketika sedang menunggu Faris di kafe The Roasts, mata Reo menangkap sesosok gadis yang menarik perhatiannya dan membuat adrenalinnya terpacu. Ia harus memutuskan di antara dua pilihan.


Keputusan mana pun yang dipilih Reo, kehidupannya akan berubah.

***

Novel remaja ini diceritakan dengan cara yang unik. Penulis menawarkan dua plot cerita, yang membuat saya teringat akan buku cerita bergambar Princess Aurora yang saya baca waktu kecil. Buku cerita itu memiliki banyak pilihan alur cerita, tergantung cerita seperti apa yang kauinginkan. “Jika kau ingin pangeran bertemu dengan penyihir, pergilah ke halaman 13. Jika kau ingin bertarung bersama pangeran, pergilah ke halaman 15.”

Lain dengan film Butterfly Effect, yang tokoh utamanya bisa mengubah jalan cerita di masa lalu, tokoh Reo ini berusaha membuat skenario akan kejadian-kejadian di masa depan. Namun, tidak seperti buku cerita Aurora itu, novel ini menceritakan dua plot secara berkelanjutan satu sama lain, tidak terpencar-pencar. Tapi, pembaca tidak akan bingung, kok, lantaran penulis selalu menyelipkan subjudul dan kalimat ini di awal adegan dengan plot berbeda, “Kalau aku memutuskan menyapanya ketika itu....”, atau “Kalau aku memutuskan tidak menyapanya ketika itu....”


Cara penulisan seperti ini cukup kreatif dan membuat rasa penasaran saya tetap terjaga sampai akhir.

Tentang tokoh Reo, entah mengapa awalnya saya mengira dia seorang cewek. Ketika ia menceritakan tentang dirinya di awal, dalam benak saya tergambar sosok cowok ceking dan nerd alias cupu. Kemudian, saya agak terkejut ketika Vali berkata seperti ini pada Reo.
“Kamu tahu, nggak? Kamu lumayan terkenal, lho, di sekolah. Katanya, kamu tuh... cakep, cool, tajir, pinter lagi.” 
(hal. 25)
Lalu, setelah Vali mengenalkan teman-temannya dengan Reo, ketahuanlah bahwa selama ini banyak cewek kelas XII yang ngefans dia. Nah, lho, jadi, penulis yang tidak konsisten, atau memang si Reo terlalu memandang rendah dirinya?

Elemen saksofon yang melekat di diri Reo memberi sentuhan keunikan tersendiri. Jarang banget ada remaja cowok 15 tahun jago main saksofon. Oleh karena itu juga, di dalam novel ini bertebaran lagu-lagu jazz yang tidak familiar bagi saya, lantaran saya bukan penggemar jazz. Tapi saya mengapresiasi jenis lagu kesukaan Reo ini. Musik jazz terdengar lebih elegan dan dewasa dibandingkan lagu pop Indonesia yang alay, misalnya. Hehehe.

Tentang tokoh Faris, sifatnya tergambarkan dengan baik, sebagai sosok lelaki yang suka seenaknya, dominan, supel, pintar, bisa main gitar. Namun, di skenario nomor 1, Faris ternyata menyimpan perhatian dan rasa sayang yang besar terhadap Reo. Ia juga melakukan sesuatu yang so sweet untuk Reo. Tapi, di skenario nomor 2, Faris menunjukkan sisi buruknya dengan merahasiakan sesuatu yang jahat di belakang Reo. Meski tak bisa dimungkiri bahwa berkat Farislah, yang mengajak Reo pertama kali ke jam session di Garasi milik Alex, Reo bisa direkrut oleh The Black Kit.

Tentang tokoh Vali, gadis cantik itu bersikap sangat manis kepada Reo. Berkatnyalah Reo bisa memiliki teman-teman baru dan merasakan asyiknya hang out bareng. Berkatnyalah Reo menjadi orang yang lebih terbuka. Namun, di skenario nomor 2, Vali terlihat lebih seperti hanya memanfaatkan Reo sebagai pelampiasan setelah patah hati oleh sang mantan.

Selayaknya novel remaja, setting tempat yang digunakan berkisar antara sekolah (jarang, sih, adegan di sekolah); di rumah Reo, Vali, Faris, Zora; di Garasi; di beberapa panggung tempat The Black Kit tampil; dan tempat-tempat lain seperti rumah makan dan kafe. Sementara itu timeline berjalan dalam rentang cukup lebar, karena di bagian akhir tiba-tiba sudah berbulan-bulan sejak pertama kali Vali dan Reo berkenalan. Tahu-tahu, mereka telah melewati ulang tahun Vali, tahun baru, hari Valentine, sampai kelulusan SMA.

Ada juga tokoh Siska, teman Vali, yang juga adalah kakak kelas Reo waktu SMP. Cewek bertubuh besar itu berisik dan paling banyak menyumbang kelebayan, tapi selalu membawa keceriaan. Ia punya pengetahuan lengkap seputar tempat nongkrong di sekitar sekolah mereka. Pada skenario nomor 2, Siska menjadi salah satu teman curhat Reo, sebelum Reo sadar bahwa nasihat ibunya pasti lebih bisa dipercaya dibandingkan nasihat Siska yang suka ngawur.

Semua tokoh dalam novel ini adalah anak-anak borju. Bahkan anggota band The Black Kit, Mario, Angga, dan Zora, masing-masing punya mobil keren. Entah mengapa penulis membuatnya seperti itu. Saya awalnya juga agak pesimis dengan usaha Siska dan teman-teman seangkatannya untuk mengadakan pesta dansa gratis bagi para remaja yang tidak mampu dan kurang beruntung. Saya setuju dengan pemikiran Reo,
“Memang bagus, sih, ide mereka secara teori, tapi uang yang habis sepertinya sayang, padahal bisa langsung mereka sumbangkan saja. Jujur saja, kupikir acara ini memang agak sia-sia. Habis, nggak ada pengaruhnya dengan kehidupan anak-anak kurang beruntung ini, kan?” 
(hal. 167, 171)
Namun ternyata acara itu mendapat sambutan baik. Anak-anak yang kurang beruntung itu selama ini memang sudah banyak yang memberikan bantuan, tapi kebahagiaan mereka terlupakan. Nah, acara prom itu memberi kesempatan semalam untuk mereka berbahagia sebagai remaja apa adanya.

***

Ada beberapa kalimat yang kurang bisa saya pahami:
  1. “Aku tidak mengerti bagaimana dunia bekerja, tapi kadang-kadang ada orang yang sangat jelek dan ada juga yang sangat keren, meskipun cuma memakai kantong sampah hitam.” (hal. 13)
  2. “’Wow,’ sambut Nuri, tampak terkesan, menghiraukan kedua temannya yang salah usia, ‘hebat banget. Sudah berapa lama belajarnya?’” (hal. 39)

    “Aku menghela napas, menghiraukan Vali yang sedang menatapku dengan wajah penasaran.” (hal. 89)

    Penulis beberapa kali menggunakan kata “menghiraukan” yang seharusnya “tidak menghiraukan”. Di KBBI, arti kata itu adalah “
    memedulikan; mengacuhkan; mengindahkan; memperhatikan”.
  3. “Dia satu dari sekian cewek yang tidak kuketahui pernah jadian dengan Faris dan kenyataan bahwa dia menjadi salah satu cewek yang meminta bantuanku untuk balikan dengan Faris rasanya menohok.” (hal. 113) à seingat saya Vali tidak meminta bantuan Reo untuk balikan dengan Faris, deh.
  4. Takjubkan, meskipun dari tiga angkatan masing-masing perwakilan pengunjungnya tidak bisa dibilang sedikit, halaman rumah Ira belum juga meledak.” (hal. 147).

Untuk sekelas novel remaja, novel ini pantas dinikmati oleh pembaca segala umur karena ceritanya tidak cengeng dan menyampaikan pesan-pesan berharga, terutama tentang makna kebahagiaan dan skenario hidup.

“Itu yang bakal lo dapat dari bermusik. Kebahagiaan. Gue rasa, lo butuh itu. Yang paling penting dari hidup bukan tanggapan orang, bukan nama, bukan gengsi. Tapi, lo bahagia atau nggak.” 
(Faris, hal. 92)
“Some things are meant to be.” 
(Zora, hal. 104)
“Siapa sangka, ketika kita memberanikan diri menggunakan kesempatan, kesempatan itu akan membuka ratusan pintu lain dengan berbagai kesempatan lain yang lebih besar lagi.” 
(Reo, hal. 154)
“Hidup punya skenario. Skenario-Nya selalu misterius. Dan, sutradaranya adalah sutradara terbaik yang bisa kauharapkan: Tuhan.” 
(Reo, hal. 229)

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets