29 September 2015

[Resensi] The World Where Helen Keller Lived in

Judul: Aku dan Duniaku
Penulis: Helen Keller
Penerjemah: Dita Sylvana
Penerbit: Dolphin
Cetakan: I, 2014
Tebal: 188 halaman
ISBN: 978-979-1701-03-7
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 4/5

Behind The Pages


Aku dan Duniaku diterjemahkan dari The World I Live In, karya Helen Keller dari Project Gutenberg Etext tahun 2009. Sebelumnya, buku ini pernah terbit dengan judul Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi pada Oktober 2010. 

Barangkali saya adalah orang terkuper sedunia, karena ini pertama kalinya saya membaca secara langsung biografi wanita buta-tuli yang luar biasa ini. Sebelumnya, saya malah lebih familiar dengan kisah gurunya, Anne Sullivan, yang berkatnya Helen Keller bisa bangkit dari keterpurukan.

Ketika lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, AS, Helen Keller bisa mendengar dan melihat. Namun, 19 bulan kemudian, sebuah penyakit menyerangnya dan membuat dunianya gelap dan tanpa suara selamanya.

Melalui buku ini, Helen Keller menuangkan pergulatan batinnya, bagaimana ia memaknai dunianya yang sering dianggap oleh orang normal sebagai dunia yang "terasing sepenuhnya dari hal-hal yang hanya bisa dinikmati melalui penglihatan dan suara" (hal. 46). Berulang kali ia mengungkapkan bahwa imajinasi, kenyataan, dan perenungan spiritual membuatnya lebih kaya dibandingkan orang normal yang cenderung mengagungkan realitas fisik yang hanya terlihat oleh mata.


The World She Lived in


Jika boleh, saya ingin membagi 15 bab dalam buku ini menjadi beberapa bagian:

Bagian pertama - tentang rahasia indra peraba


Di bagian ini Helen menceritakan betapa tangan, sentuhan, berperan sebagai indra penglihatan dan pendengaran baginya. Ia menyentuh suatu benda secara menyeluruh, kemudian otaknya menggabungkan tiap kesan sentuhan menjadi bentuk utuh. Menurutnya, tangan orang mampu menunjukkan gairah, energi, dan kehidupan itu sendiri. Kebiasaannya menyentuh dan "membaca" tangan orang lain menjadikan Helen bisa mengetahui ekspresi orang yang ingin disembunyikan dari wajahnya, tapi nampak dari tangannya.

"Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah, tapi bahkan mengungkapkan rahasianya secara lebih terbuka dan tanpa disadari." (hal. 30)

Lebih jauh lagi, awalnya Helen bisa merasakan getaran lewat sentuhannya, hingga lama-lama ia menjadi terbiasa dan tubuhnya mampu mendeteksi getaran, yang secara tak langsung membantunya untuk "mendengar". Getaran piano, suara peluit penanda kabut, langkah kaki orang, dsb. Dibantu dengan indra penciuman, ia bisa mendapatkan gambaran akan sesuatu yang sedang terjadi. Yang paling menarik menurut saya di bagian ini adalah kajian Helen akan pembentukan kata-kata yang berakar dari kata "hand"; karya Shakespeare yang berhubungan dengan tangan; bahkan sampai "keagungan" tangan dalam Alkitab.

"Dengan tangan, kuraih dan kugenggam segala yang dapat kutemukan pada tiga dunia: fisik, intelektual, dan spiritual." (hal. 38)

Bagian kedua - tentang indra penciuman


Helen menyebut indra penciuman sebagai "the fallen angel" dan "penyihir sakti". Ia sering dianaktirikan dibandingkan indra-indra yang lain, padahal banyak hal yang bisa ia ungkapkan. Misalnya, ketika saya mencium bau tanah setelah hujan, ingatan saya melayang ke masa kecil di kampung halaman, ketika saya suka hujan-hujanan. Bau khas buku dan lem penjilidnya, meski membuat saya bersin-bersin, selalu membuat saya bergairah. Ada juga bau yang sering dikira rasa, seperti bau bawang. Bahkan, Helen bisa merasakan akan adanya badai berkat indra penciumannya.

Dalam dunia penulisan fiksi, dikenal istilah verisimilitude, yaitu kemampuan tulisan untuk bisa menggambarkan cerita senyata mungkin tanpa kehilangan imajinasinya. Salah satu cara untuk menciptakannya adalah menggunakan kelima indra. Dan, seperti kita semua bisa menebaknya, sebagian penulis terlalu mengeksploitasi indra penglihatan, dan melupakan indra penciuman. Padahal, kesan yang ditimbulkan oleh bau sangat kuat, seperti menurut pengalaman Dee ketika menulis Madre.

"Sensasi sentuhan bersifat abadi dan pasti. Sementara itu, bau berubah, mengelak, berganti nuansa, tingkatan, dan lokasinya. [...] Indra penciuman memberiku ide-ide yang lebih berarti daripada indra sentuhan ataupun pengecap." (hal. 72)

Bagian ketiga - tentang indra manusia vs penglihatan batin


"Dunia yang dibangun oleh imajinasi dari pengalaman dan gagasan yang tak terhitung jumlahnya jauh lebih indah daripada dunia yang dapat diindra." (hal. 84)

Hanya memiliki tiga indra tidak menghalangi Helen untuk mengenal dunia. Kemampuan imajinasinya yang tinggi membantunya terbang mengatasi segala keterbatasan indrawi. Sesungguhnya, "sebagian besar dari pengetahuan dunia adalah konstruksi imajinasi" (hal. 89). Berbagai penemuan diawali dari imajinasi penemunya.

Imajinasi membantu mewarnai pikiran Helen yang diliputi kegelapan akibat kebutaan. Tiap-tiap warna memiliki representasi akan hal-hal abstrak, yang membantunya memahami dunia secara lengkap. Misalnya, warna putih menggambarkan keagungan dan kemurnian.

Dunia yang gelap dan sunyi membuat Helen lebih mendalami spiritualitas dan penglihatan batin. Bagaimana ia mengembangkan lanskap mentalnya untuk bisa melihat dunia. Sayang sekali, ada dua bab tentang hal ini yang beberapa halamannya kosong, sehingga saya tidak bisa membaca secara lengkap.

Bagian keempat - tentang pengalaman Helen dalam dunia mimpi


Objek-objek dalam mimpi mempunyai padanannya di dunia nyata. Oleh karena itu, para ilmuwan dan orang lain sering menanyai Helen tentang mimpinya. Mungkin mereka menduga bahwa orang buta tak bermimpi karena keterbatasan hal yang dapat dindranya lewat penglihatan. Sebelum bertemu dengan Anne Sullivan, Helen seperti hidup dalam mimpi. Ia tak pernah melakukan proses "berpikir". Namun, setelah pendidikannya dimulai, ia menyadari perbedaan antara dunia terjaga dan dunia mimpi. Juga, bahwa mimpinya tak banyak berbeda dengan mimpi orang yang memiliki lima indra. Helen juga menceritakan pengalamannya "bermimpi di alam jaga".



Last Thoughts


Secara keseluruhan, buku ini mampu memberikan pelajaran berharga bagi kita semua yang berindra lengkap, bahwa kita harus belajar menggunakan indra-indra lainnya juga dengan optimal, selain indra penglihatan. Helen juga menampar pembaca bahwa hal-hal material bukanlah yang terpenting di dunia ini. Ada imajinasi dan penglihatan batin yang sejatinya jauh lebih kaya dibandingkan dunia kasat mata semata. Sejak membaca buku ini, saya berusaha untuk menggunakan indra penciuman lebih sering lagi (pasalnya, selama ini saya jarang mengeksploitasinya, lantaran rhinitis dan alergi debu sering membutakan saraf-saraf olfaktori saya).

"Karenanya, supaya aku tahu bahwa diriku eksis, terpaksa kupakai cara pikir Descartes, 'Aku berpikir, maka aku ada.'" (hal. 46)

"Kalau aku menilai semua indra, mata yang paling dangkal; telinga yang paling membanggakan; bau yang lebih menggairahkan; rasa yang paling mendatangkan prasangka; sentuhan yang paling beragam, terdalam, dan hakiki." (Diderot, hal. 81)

"Yang berbeda (antara orang buta dan orang yang bisa melihat) adalah pada imajinasi dan keberanian yang kita gunakan untuk mencari pengetahuan yang melampaui indra kita." (hal. 85)

"Menjadi buta adalah bencana besar yang tak dapat diperbaiki, tapi itu bukan berarti kita juga kehilangan hal-hal yang berarti dalam hidup ini." (hal. 86)

"Kebutaan tidak membatasi visi mentalku. Cakrawala intelektualku tak terbatas luasnya. Semesta yang dilingkupinya tak terukur." (hal. 128)

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets